Yogyakarta Tak Lagi Istimewa

  Ramai para penulis mengatakan, “Pergilah merantau, agar tahu untuk apa pulang.”   Bising aku kala itu, ketika Jogja mengkhianati, untuk bersegera pergi jauh darinya. Sesak aku tak mampu menyesap udaranya dalam-dalam. Lalu kutanam dengan cepat, Jogja bukan lagi tempat yang hening tuk ditinggali. Terlampau silau lampu mobil merengek di tengah jalan-jalan kecil. Terlalu rimbun kafe-kafe bertumbuh menghilangkan kesederhanaan warung ...

Read More »

Mengkhianati Jogja

Kini usang aku dibuat asing, kala udara tak lagi berembus semesra dahulu. Bukan lagi Engkau yang menyapa segaris senyum selepas duka. Namun bayang, berbekal isak dari tawa. Lama aku tak menuliskan keping wajahmu. Menyusun lipatan bersimbol masa depan. Digandeng langit seusai sabit memecah merah. Pula sumbang suara-suara masa silam nyaring tertangkap netra. Karenanya, silau siluet senja tak lagi bergaris nila. ...

Read More »

Idealisme Masa Silam

Hai, masa depan. Jangan bersembunyi di balik takdir orang. Patahkan segera bila memang tak tepat dalam naskahnya. Jangan takut aku menangis karenanya, aku tak akan malu menapakinya. Bukankah di depan Tuhanmu aku sudah mengakuinya? Masa depan, dulu aku mengira kau adalah rencana yang mesti disusun begitu sempurna. Dengan daya yang tak sedikit, dengan alir air mata yang tumpah menyangga luka, ...

Read More »

Melepas Doa

Siapa sebenarnya ia? Yang Kau pilih sebagai pembentuk rasa kangen tanpa perlu risaukan hujan dalam kemarau, penghasil kilat pembelah langit dan gemuruh petir menggaungi kuping. Mengajariku untuk terus menerus berbuah sujud dalam tengadah yang ia barengi dengan peluk pertanda dengannya, hidup memang untuk selalu menemui takdir demi takdir-Mu. Siapa kiranya yang sebetulnya Kau relakan melucuti pikiranku, mengalahkan semua rasa, menjadikan tubuh sebagai pengobat ngilunya ...

Read More »

Ajari Aku Mencintaimu dari Awal

Setelah khianat, kukira pemaafan adalah damai. Kupikir ikhlas bisa begitu mudah datang dengan sendirinya. Ternyata cinta tak bisa kembali sedia kala. Kau telah kehilangan aku, yang mencintaimu sejak tatapan pertama. Nafsu dunia ajarkan sesuatu yang nyata, sepersekian detik saja hasrat memeluk tubuh, air mata mesti bersiap melepaskan dirinya. Kehilangan dirimu dahulu hanya sebab mata batin yang terlalu unggul memilah raga ...

Read More »

Melupa Luka, Melawan Kenangan

www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn Rasa-rasanya rasa tak lagi terasa. Tinggal asa yang dipaksa bergelantungan tinggi-tinggi agar lengan tak bisa memecah rencana. Membelah harap yang diusung sejak lama. Tahukah kau bahwa dalam dada debar begitu kencang saling tikam angan dengan silam. Begitu sesaknya tak bisa kucapai meski dengan tengadah berlama-lama. Sebab hujan yang basah adalah perangaimu, begitu dibilang kosokbalen dari ...

Read More »

Bila Jodoh Berinisial Engkau

Lebur aku pada purnama di bulan ke sembilan, pada mata yang membulat di separuh petang lampu pijar. Petak yang tidak akan bisa dirujuk ulang. Angka demi angka dijejer beranak-pinak: merenggangkan ruang, mendekatkan bayang. Segala debur debar ubahnya jadi buih yang menjijikkan. Kita sama-sama tahu menyoal apa-apa yang tak kunjung selesai. Tapi tak lagi punya cara menghabiskanya. Sudah terlalu kenyang untuk ...

Read More »

Ketidaktahuanku adalah Engkau

Gampang bagimu, gamang untukku.Kekanakan bagimu, kejam untukku. Bahasaku tak cukup sederhana, tenang yang kau minta tak akan tiba. Barangkali pil paradoks memenuhi ambang batas puji dan caci, cinta dan benci, pulang dan pergi, kau dan aku. Seperti drama, katamu dahulu. Dan perangaiku perang dalam damaimu. Tapi keangkuhan mengetuk matamu, memeluk bisuku. Bukan aku yang tidak mengerti dampak dari ketidakpahamanmu atas ...

Read More »

Tidak Ada Jogja Hari Ini (AADC 2 Syndrome)

Jogja terlalu bising untuk kusambati dengan kantung mata yang menebal, dan hitam ramai melukis garis senyumku. Membuat dua puluh seperti empat yang bergelantungan diujung telunjuk, tak mengenal lagi diksi. Tak ada lagi rima. Ia terlalu jauh untuk diseret duduk berdampingan, terlalu dingin untuk dinikmati dengan bicara. Diam pun tak isyarat lega. Tidak kutemui Jogja merambah, kecuali marah yang diusung dengan ...

Read More »

Gamang

Tak kukira untuk menemuimu akan jadi hal yang paling berliku. Sedang aku telah mencanangkannya sejak tahunan lalu saat digit angka di depan ekornya berinisial satu. Tak kurasa bintang jatuh terlalu lambat tiba dengan gerak yang terlampau cepat. Tak kutahu, siapa sebenarnya ia. Kau. Perlukah untuk dihitung untung dan ruginya? Sanggupkah aku sesekali berubah menjadi akuntan yang siaga kala semestinya aku ...

Read More »