Aku Baik-Baik Saja #akurapopo Part 3

3 views
Kamu. Lelaki itu....
Seseorang yang kuperjuangkan mati-matian di hadapan Ibu. Lelaki yang kubangga-banggakan pada semua orang. Dan yang kuhormati layaknya pengganti Ayah. Khianati segala yang kauucap. Abaikan sakit hati yang merumah di dadaku. Acuh-tak-acuh dengan semua yang kaulakukan. Berbahagialah dengan yang kaumau.
Kamu. Perempuan itu....
Kau tahu mengapa kamu tidak paham dengan apa yang terjadi selama ini? Kamu mau tahu mengapa kamu bahkan tidak sadar setelah ia kembali padamu pun, banyak hal yang tak tampak di matamu terjadi saling menyakiti. Kamu mau tahu mengapa kamu tidak juga tahu ini semua terjadi?
Sebab kamu terlalu memikirkan hidupmu. Kamu hanya peduli dengan apa yang terjadi padamu. Kamu hanya mau mengerti dengan apa yang menimpamu. Tanpa mencoba memposisikan diri menjadi orang lain. Kamu hanya melihat apa yang mau kaulihat. Kamu hanya mendengar apa yang ingin kaudengar. Tanpa berusaha memahami dari segala sudut pandang. Kamu tak pernah ingin tahu rasanya jadi ia yang terluka, yang barangkali, sebabmu juga. Iya, kamu bahkan tidak paham bahwa ada seseorang yang terluka karenamu. Kamu terlalu mementingkan apa yang kauinginkan. Kamu hanya melekati bahagiamu sendiri, dan meratapi sedihmu sendiri. Tanpa memikirkan dalam waktu bersamaan, ada orang lain jatuh-bangun berusaha untuk berdiri. Tanpa pernah menilik lebih dalam adakah yang menangis tersengal-sengal di balik semua itu. Bahkan, kamu tak sedikitpun memahami luka yang meradang di jantung orang yang kaubilang, kamu mencintainya.
Tak pernah terpikirkan olehmu kan? Tak pernah terbesit dalam benakmu kan? Tak pernah kaucoba cari tahu apa yang ia rasakan dan apa yang terjadi padanya?
Sebab itu kau tak pernah tahu. Boleh jadi, yang kaupikir segalanya sudah baik-baik saja ini ... justru semakin terpuruk di belakangmu.
Kau boleh saja menyakitiku. Boleh saja menghabisi mimpiku. Kau boleh ambil semuaku. Tapi, tidakkah kamu mau mencoba sedikit saja bertanya, apa yang ia—lelaki yang kau bilang, kau mencintainyarasakan...

Sadarkah, kamu hanya meletakkan kesalahan padanya. Tanpa mau memutari waktu lalu, dan mencoba membuat kesalahan-kesalahan yang menyebabkan luka itu ternyata bukan hanya saja kesalahan satu orang. Sebab kamu hanya menjadikan dirimu sebagai orang yang paling bersedih, paling pedih hatinya.
Ternyata ada, yang menganggap segalanya baik-baik saja saat ia merasa sudah membaik, meski untuk dirinya sendiri.
Maki aku sepuasmu. Hancurkan aku semaumu. Tapi, tanpa kausadari, kaurusak segalanya, perlahan tapi pasti....
Aku.
Meminta pertolongan-lah pada Allah. Menangislah sesukamu, lalu diamlah sejenak. Tetaplah berdoa.
Itu saja ... Apa kau mengerti?



300114~Tersenyum dan berusahalah menyusun kepinganmu yang hancur menjadi utuh kembali, sendiri. Aku tahu, tak bisa. Setidaknya, tersenyumlah pada lukamu. Biar ia tak terus menjalari nadimu.