Idealisme Masa Silam

Hai, masa depan. Jangan bersembunyi di balik takdir orang. Patahkan segera bila memang tak tepat dalam naskahnya. Jangan takut aku menangis karenanya, aku tak akan malu menapakinya. Bukankah di depan Tuhanmu aku sudah mengakuinya?

Masa depan, dulu aku mengira kau adalah rencana yang mesti disusun begitu sempurna. Dengan daya yang tak sedikit, dengan alir air mata yang tumpah menyangga luka, dengan segala yang ternyata hanya dampak ketidakinginan mengulang kesalahan lama. Terlampau dalam aku menguburnya diam-diam, menjadikan harap pada yang tak sepatutnya diraih dengan cara berpunggungan dengan pemilik kuasa. Kini, cerita sudah diobrak-abrik penyesalan. Masihkah ada ruang perbaikan?

Sendiri adalah makanan sehari-hari. Aku tak pernah sudi menggantinya dengan ramai yang berduyun-duyun melamar kemari. Sadari sebenarnya ada satu angan rahasia sejak lama untuk memiliki rak sepatu, agar ada tempat menaruh dua kaki yang lesu. Lalu lemari besi untuk menggantung sendi-sendi yang terlalu sering dipaksa berlari tanpa henti. Lantai kayu untuk membaringkan tulang reyot di bawah atap yang bila malam menyoroti kantung mata dengan purnama. Tapi ternyata aku tak butuh itu semua. Cukup satu hati yang mengajak lelah berterus-terang ketika langit masih kelam, tapi bulan sudah samar menghilang. Dan tak satupun, termasuk segala ilmuku yang tahu, siapa ia. Di mana sedang berpijak. Atau kapan akan berjumpa.

Masa depan, bila bagimu aku terburu-buru, bila kau tahu niat itu bergeser terlalu jauh, beritahu aku. Tak apa, aku tak akan marah. Tegar sudah disiapkan untuk lebih tabah. Sebab tak lagi ada waktu untuk mengulang-ulang kepayahan diri membawa seluruh aku pada dunia yang semu.

Tolong, bantu katakan pada Tuanmu, hancurkan saja apapun yang tak Ia sukai. Bila memang harus, sakit separah apa, aku bersedia. Bunuh saja.

©Fasih Radiana

Melepas Doa

Siapa sebenarnya ia? Yang Kau pilih sebagai pembentuk rasa kangen tanpa perlu risaukan hujan dalam kemarau, penghasil kilat pembelah langit dan gemuruh petir menggaungi kuping. Mengajariku untuk terus menerus berbuah sujud dalam tengadah yang ia barengi dengan peluk pertanda dengannya, hidup memang untuk selalu menemui takdir demi takdir-Mu. Siapa kiranya yang sebetulnya Kau relakan melucuti pikiranku, mengalahkan semua rasa, menjadikan tubuh sebagai pengobat ngilunya masa yang sudah punah.

Membentuk nasibnya sendiri serupa dalam firman-Mu bahwa tiada perubahan tanpa diri yang berevolusi. Tapi luput menilik perkataan-Mu yang lain. Tapi lupa banyaknya ceceran khianat dan dosa berserak tak acuh pada kematian yang bisa saja datang lebih dulu. Tahunan kucari dinding pembatas antara sadar dan harapan yang besar. Berkali-kali mencoba memendekkan lagi jarak sujud dengan doa. Tapi ternyata, tanpa rela membuka genggam, seseorang tak akan pernah bisa menerima bingkisan rahasia selanjutnya.

Tadinya kukira, jalan liku penuh tanjakan sudah benar diupayakan. Kemarin kupikir, langkah kaki yang derapnya makin bising sudah sampai di depan pintu kaca, sudah kupegang gagangnya, tinggal kugeser saja engselnya. Tiba-tiba kurasa, Tuhan datang menghadiahkan kemampuan meluruhkan diri; mengasingkan hati dengan luka-luka yang mesti diselesaikan tanpa melipat apa yang ada di hadapan.
Sebuah tanda tanya besar tergantung pada celah jendela besi. Dalam ruang yang minim sinar matahari. Tirai yang tak pernah diganti, dan nyaringnya udara dari kipas di atas meja usang penuh debu. Sebuah pernyataan melibatkan kekhusukan pengakuan dalam rembesan air mata yang membisukan puluhan tahun sebelumnya. Yang sabarnya kian gusar, yang nalarnya sudah nanar.
Darimana kau tahu ini hanyalah drama di musim semi? Padahal nyata-nyata panasnya menyayat-nyayat ingatan. Lalu gemingnya malah hasilkan hujan di awal bulan. Siapa yang memberitahu ada serentetan apa di antara kau dan aku. Di antara diam dengan diam; tawa berlanjut tawa; waktu demi waktu.
Bila mimpi menyimpan pertanda, biar Ia yang sibak untuk apa segala. Empat musim tumpah di kota penuh tanya. Melemahkan tempurung kaki yang terlampau jauh diajak pergi. Menguliti kelopak mata yang terlalu sedikit dalam pejam. Melumpuhkan jemari yang terlalu banyak menyusun abjad.
Aku dipaksa menempuh gurun salju di tanah gersang, tanpa boots, tanpa jaket kulit setebal bed cover, tidak juga dengan sarung tangan bludru motif macan tutul. Melewati sisa daun gugur yang mulai hijau kembali, tapi patah uratnya diinjak kaki. Sampai tak dapat dibedakan lagi, menuju atau melarikan diri.
Kata ilmuwan agama, jika ada bimbang menelisip di lipatan kulit, jangan semakin dijepit. Lepaskan. Bukan mengablur nama, bukan juga meretas rasa. Tapi pergilah, jauh, sendiri. Bila jauh berarti jarak tempuh, kita pasti tak satu alur pikir. Jauh tak mesti menyoal kilometer. Jauh itu sebuah kedalaman, hati dan jiwa saja yang paham lewat manakah akal membuka pikirannya, memasuki alam bawah sadarnya. Lalu ikhlas menjatuhkan diri.
Pertanyaan semudah, “siapa sebenarnya ia? Yang Kau pilih sebagai pembentuk rasa kangen tanpa perlu risaukan hujan dalam kemarau, penghasil kilat pembelah langit dan gemuruh petir menggaungi kuping. Mengajariku untuk terus menerus berbuah sujud dalam tengadah…” dijawab gugusannya sendiri.
Kau tahu?
Apa yang jauh dari kata adalah rindu yang membumbung sampai ke langit ke tujuh. Menubuh dalam doa yang utuh.

Kau mau tahu?
Diamlah di sana sampai Allah menghampirimu. Dalam sabar,
pada doa.

©Fasih Radiana, self reminder di atas tanah Jawa berinisial Yogyakarta, 06 Oktober 2016

Ajari Aku Mencintaimu dari Awal

Setelah khianat, kukira pemaafan adalah damai. Kupikir ikhlas bisa begitu mudah datang dengan sendirinya. Ternyata cinta tak bisa kembali sedia kala. Kau telah kehilangan aku, yang mencintaimu sejak tatapan pertama.


Nafsu dunia ajarkan sesuatu yang nyata, sepersekian detik saja hasrat memeluk tubuh, air mata mesti bersiap melepaskan dirinya. Kehilangan dirimu dahulu hanya sebab mata batin yang terlalu unggul memilah raga adalah penghinaan, bagi wanita muda yang terbiasa tanpa siapa-siapa. Kini, setelah kabar lamar dalam genggam dunia, akhirat jadi patokan. Tak kubiarkan sedikit pun udara menguasai perasaan bahwa pasti adalah kita. Masih ada kemungkinan-kemungkinan patahnya takdir bila tak cukup ajek menggema.

Bila saja, persis aku adalah rusukmu yang hilang, biar seluruhnya geladir sampai sah dibuat galir lincir ijab-kabul.

Setelahnya, boleh kiranya kau mulai ajari aku mencintaimu dari mula. Mengembalikan yang pernah kau paksa pangkas rata. Habis tak tersisa, kecuali geram merungus dendam yang tak ada puasnya. Ajari aku mengampuni impresi jejas yang tak juga reda. Ajari aku mengenalimu sebagai wajah anyar yang mengeratku sampai ke surga, bukan sekadar lelaki muda yang sedang dimabuk asmara, buta tujuan, dan tak punya cara membangun bahagia. Sungguh, ingin kulihat sendiri, seperti apa sesal menggugah seseorang menjadi sahaja.

Ajari aku membawa diri hijrah dari luka sukma,
memaafkan memar memoar,
melupakan engkau yang dahulu.

Melupa Luka, Melawan Kenangan

www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn
Rasa-rasanya rasa tak lagi terasa. Tinggal asa yang dipaksa bergelantungan tinggi-tinggi agar lengan tak bisa memecah rencana. Membelah harap yang diusung sejak lama. Tahukah kau bahwa dalam dada debar begitu kencang saling tikam angan dengan silam. Begitu sesaknya tak bisa kucapai meski dengan tengadah berlama-lama. Sebab hujan yang basah adalah perangaimu, begitu dibilang kosokbalen dari daun gugur di musim kemarauku.

Kita adalah dua yang terlampau beda dari ujung kaki sampai kepala.
Bukan telak karenanya, tapi fatalmu yang terlalu berisik mengobrak-abrik sahaja. Tahunan dua dinding saling tikai, baku hantam dalam diam-diam menyusun dendam. Aku yang tak betah berlama-lama tanpa damai pula tak mampu memasung luka. Ruam-ruam bekas angka dua telah menjalari bahagia, merobek-robek cita-cita. Kau pun tak sanggup jadi benang jahit pasca operasi sesar. Apalagi ia, anggak-agul, angkuh kali padahal sudah jelas jadi tersangka. Bila saja melupa tak sesulit si buntung meraih bintang, sudah pejam segala dari ingatan.
Kau.
Dia.
Dirinya.
Semula kukira, melupa luka tak harus dengan cara membenci kenangan. Tapi ternyata, kita mesti siap jadi prajurit di garis paling depan. Melawan apapun yang menghambat masa depan.

Bila Jodoh Berinisial Engkau

Lebur aku pada purnama di bulan ke sembilan, pada mata yang membulat di separuh petang lampu pijar. Petak yang tidak akan bisa dirujuk ulang. Angka demi angka dijejer beranak-pinak: merenggangkan ruang, mendekatkan bayang. Segala debur debar ubahnya jadi buih yang menjijikkan. Kita sama-sama tahu menyoal apa-apa yang tak kunjung selesai. Tapi tak lagi punya cara menghabiskanya. Sudah terlalu kenyang untuk melumat paksa, tapi sayang bila dimuntahkan begitu saja.
Jarak tak bisa menaksir rindu yang luber menjadi deras hujan di sepanjang jalan. Yang bermunculan justru kenangan berbau amis dan secarik memoar berlapis tangis. Cinta, mengapa berlarian seperti kerumunan semut yang diguncang jemari keriput? Tapi sesendok gula tak ikut di-lap basah, dibiarkannya berserak seolah memang sengaja disiapkan untuk selalu dirubung lagi.
Waktu terlalu samar untuk bisa ditaksir kapan akan tiba semula, atau hilang tak berbekas. Aku selalu nihil dalam bermain dadu, kau pun tak punya daya mengocok kartu. Kita sama-sama dipaksa buta dalam satu waktu. Tapi cinta, apakah selalu harus terasa seperti kali pertama? Setelah seluruhku diisap harga dan kau tak pernah lunas membayarnya. Jika tak pernah ada jalan pintas menuju pulang, kita mesti patungan untuk sampai di pulau sebrang.
Semisal yang kusebut dengan “engkau” masih berinisial tanpa nama, apa mungkin aku kan lebur lagi pada purnama di bulan yang lain, di mata yang separuh menghilang pada pekat senja? Engkau, yang tak kutahu seberapa sering menyebut-nyebut namaku dalam doa. Aku, yang tak juga menemukan cinta menjadi seutuh purnama.

Yogyakarta, 24 Mei 2016
Fasih Radiana

Ketidaktahuanku adalah Engkau

Gampang bagimu, gamang untukku.
Kekanakan bagimu, kejam untukku.

Bahasaku tak cukup sederhana, tenang yang kau minta tak akan tiba. Barangkali pil paradoks memenuhi ambang batas puji dan caci, cinta dan benci, pulang dan pergi, kau dan aku. Seperti drama, katamu dahulu. Dan perangaiku perang dalam damaimu. Tapi keangkuhan mengetuk matamu, memeluk bisuku. Bukan aku yang tidak mengerti dampak dari ketidakpahamanmu atas hati. Hanya saja pantomimmu gagal kujabar. Hingga kini. 
Paksa adalah jalan pintas.
Bagimu, mudah untuk terbang dari satu tapak bekas musim dingin menuju daun gugur.
Mengiyakan adalah luruh; jadi aku di tepi udara sesakmu. Tapi tak cukup tegar dalam tegas, basah dalam kemarau.
Kau dan aku bukan lagi.

Sepanjang apa puisi yang mau kau baca. Selagi jemari masih bisa menulis engkau. Sekeras apa ingin kudengar, gigilmu dalam gemeretak gigi yang berjajar rapi. Meski tampaknya usai kini aku menatap. Diammu adalah tanda tanya. Tapi jawab bagimu. Selesaikan diriku dengan jamuan rupa baru yang terpotret di beda bilang.
Sebab apa yang kau tangkap, adalah apa yang tidak pernah aku lempar.
Siapa yang kudekap, adalah engkau yang menghilang.
Karena ketidaktahuanmu adalah aku.
Yogyakarta, 4 Mei 2016.

Tidak Ada Jogja Hari Ini (AADC 2 Syndrome)

Jogja terlalu bising untuk kusambati dengan kantung mata yang menebal, dan hitam ramai melukis garis senyumku. Membuat dua puluh seperti empat yang bergelantungan diujung telunjuk, tak mengenal lagi diksi. Tak ada lagi rima. Ia terlalu jauh untuk diseret duduk berdampingan, terlalu dingin untuk dinikmati dengan bicara. Diam pun tak isyarat lega.
Tidak kutemui Jogja merambah, kecuali marah yang diusung dengan ramah. Tanpa sepatu baru kita berjalan dengan batas. Antarruang; antarwaktu. Tak ada larik puisi yang dicicip sebelum matang, atau prosa yang tampak jadi begitu panjang untuk dikenang. Begitu segala mengambang, membayang dalam separuh wajah yang terlupa.
Hari ini tak lagi mampu menjadi Jogja. Terlalu asing untuk menjadi biasa. Canggung. Mungkin perlu jabat baru atau biarkan saja seperti tahun-tahun sebelum tidur masih bersetia pada bulan. Bias terik yang terlampau kencang untuk terhalau mendung petang. Ubahku tak mungkin membawa kembali Jogja, apakah kita bisa lagi menjadi lampu taman kota? Yang kini kedipnya saja surut diisap gemerlap kemacetan pendatang. Mengusir hening. Mengusir seluruhku. Sesal atas sadar, keterlambatan menaiki kereta menuju pulang.
Senyum khasmu terlalu dalam, aku tetap tak bisa lupa. Bila saja tak lagi ada Jogja, biar ia melebur menjadi kebahagiaan yang dilempar ke tempat lain. Bukankah kau pernah mengajariku untuk tabah menunggui ikhlas? Di sini, Jogja membawa kita berpapasan dalam suatu kebetulan yang disengaja Tuhan. Mungkin bukan untuk apa, tak akan menjadi siapa.
Salam,
Dari Yogyakarta,
Fasih Radiana.

Gamang

Tak kukira untuk menemuimu akan jadi hal yang paling berliku. Sedang aku telah mencanangkannya sejak tahunan lalu saat digit angka di depan ekornya berinisial satu. Tak kurasa bintang jatuh terlalu lambat tiba dengan gerak yang terlampau cepat. Tak kutahu, siapa sebenarnya ia.
Kau. Perlukah untuk dihitung untung dan ruginya? Sanggupkah aku sesekali berubah menjadi akuntan yang siaga kala semestinya aku bermain-main dengan kata. Sedang bianglala tak pernah bersedia berhenti di putaran yang sama, ia selalu kalah dengan angin yang berganti lajur keloknya. Kini bukankah sudah memasuki musim hujan gersang? Terlalu pongah untuk berkata aku sudah lelah, tapi rangah terlalu kuat mengikat jengah. Kau. Mengapa tak juga menampakkan diri menjadi yang tak hanya tabah, tetapi juga sah. Siapa sebenarnya ia, ditunjuk untuk merobohkan keanggunan dalam polaritas yang membingungkan.
Kalau saja rangka bisa dirangkai ulang, aku pasti sudah alih bentuk mengonversi jati diri. Sebab keabsolutannya terlalu teguh untuk jadi seorang wanita lemah lembut. Pengukuhan resistansi atas suatu tindak yang tidak juga diakui, barangkali memaksa takdir mengulur waktu. Untuk memberitahu komplemen jempolan tidak begitu saja disetujui dengan mudah, ia dituntut betah berlama-lama dalam amarah yang ternyata bisa berfungsi sebagai trampolin.

more quotes www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn

Lalu bagaimana bila urusan memilah jadi semakin runyam hanya karena jarum jam tak juga datang? Sedang seorang koleris tak pernah punya kuasa untuk menunggu. Ia terlalu dinamis, berbanding terbalik dengan si pecinta damai yang lamban dalam gerak. Sisi melankolisku tak kan cukup mampu mengapresiasi bab lelucon yang sering dilontar saat tak tepat waktu. Bukankah jurangnya terlalu dalam dan kakiku terlalu pendek untuk meloncat ke sana, pun tubuhnya tak cukup jenjang untuk melompat kemari. Kecuali kami cukup berani untuk beradu di titik tumpu, di tengah-tengah arus sungai yang bila tak punya cukup perhitungan, maka habislah segala.
Atau lebih baik untuk mundur sekarang juga, tidakkah terlalu pengecut untuk berbalik badan. Bukankah begitu jejap memuntahkan apa yang sudah dilumat cukup lama? Mau sampai kapan membiarkan resesi berkeliaran padahal aku tidak sedang berdagang. Adakah jalan pintas bagiku untuk pulang sebagai pemenang dan kau pun kembali dengan tenang. Mengikhlaskan tapak demi tapaknya berdecat melalui dua gang bertolak belakang. Entah dengan sendirian, atau bersama-sama.
Kita lihat saja, doa siapa yang cukup kuat untuk lebih dulu sampai ke langit.

Epilog

Izinkan aku menulis tanpa engkau ketahui bahwa setiap rimanya tak sedangkal huruf-huruf yang tersusun secara acak. Tak hanya engkau, tiap-tiap mata tak kuberikan kesempatan menguliti setiap abjadnya. Izinkan aku menyampaikan perasaan terima kasih ini melalui pesan yang tak akan bisa kuselesaikan kalimatnya dengan bicara.
Aku tak ingat seperti apa bola mata itu bergerak dalam pertemuan pertama dulu, tapi aku mengingati semuanya seiring waktu yang tak kunjung membuat kita banyak bicara satu sama lain. Yang aku rasa, gurat wajahmu menyimpan lelah. Tatapanmu keras dipandangan siapa saja. Kau pun tahu betul itu. Tapi bagiku di dalamnya begitu panjang kau sembunyikan yang entah apa. Begitu rapi sehingga tak satupun mampu mengendus embusmu. Aku hanya sampai melihat keteduhan itu bersarang begitu pekat dalam tatap. Begitu teratur sepaket dengan ketidaklenturanmu pada air yang jatuh tetes.
Kalau di tiap-tiap fase selalu ada sisi benar dan salah, maka aku tak ingin membahasnya sampai kapanpun. Sebab aku tak lagi butuh pembenaran, aku hanya percaya akan ada seseorang yang tegarnya melampaui kesakitanku, kekuatannya melebihi atensiku dalam antusiasme yang terkadang bergeser jadi keduniawian. Kini, aku tahu mengapa aku berada di sini. Kini, akhirnya Tuhan beri jawaban setelah penantian yang begitu panjang ada apa di balik langkah yang memutar terlalu jauh, mengapa dalam istikharah kutemui ketetapan hati yang tak satupun orang sangka-sangka. Belum sampai tiga tahun yang lalu, aku menjejaki alam yang katanya lebih kejam. Detik ini, semua nyaris berakhir menuju satu derap yang akan lebih berat. Lebih jauh. Lebih panjang. Lebih melelahkan.
Kalau di dunia ini manusia digolongkan ke dalam empat jenis golongan besar (koleris, sanguinis, plegmatis, melankolis) dalam tipe kepribadiannya. Maka tanpa kesepakatan bersama, kita sama-sama tahu kita termasuk yang mana. Barangkali salah satu dari banyak penyebab ini adalah kesamaan secara umum sehingga mudah menyamakan frekuensi. Setidaknya, bagiku yang tak percaya kepada siapa-siapa. Kecuali Tuhan yang bahkan tak jarang kutanyai “mengapa”.
Kalimatmu singkat, tapi membuat hidup seseorang jadi lebih panjang dari keputusannya yang nyaris ingin penyelesaian cepat secara paksa. Kalimatmu singkat, tapi pupil yang jatuh tepat di retinaku itu terekam begitu dalam di alam bawah sadar. Tak banyak yang kutangkap, tak juga perlu kata bijak berjajar menghajarku. Semua penghayatan sudah sampai dengan selamat. Aku tidak hanya sedang bersama Tuhan saja. Ada juga yang lain yang sedang mengupayakan kembalinya sebuah keadilan. Ada juga yang sedang mati-matian menggeser kembali prinsip keislaman tak hanya secara teknis tapi juga secara mental. Psikis kebanyakan orang mulai terkikis dunia yang makin canggih, kiamat yang kian terasa akan sikap penyelamatan diri sendiri tanpa peduli lagi hak-hak orang lain. Kita tak lagi bisa membedakan mana yang haram mana yang halal. Kita nyaris tak mampu menilik siapa yang siapa, apa yang apa.
Terima kasih. Tak banyak yang bisa kukatakan. Bahkan terima kasih pun sulit dibiarkan begitu saja terlontar saking leganya hati mengetahui siapalah wanita di hadapanku yang telah ditunjuk Tuhan untuk turut memperbaiki. Meski terkadang mesti dengan mengorbankan dan membiarkan yang lain menyaktiti diri. Keikhlasan itu hadir tanpa permintaan, keyakinan jadi pendampingnya. Ternyata ia tak pernah butuh anggukan kepala setiap orang. Ia hanya butuh satu saja dari yang ia percaya. 
Seperti tempo hari dikatakan peribahasa islam, ambil yang kau butuhkan saja; pakai sesuai kebutuhan saja. Boleh pula kuanalogikan dengan kepercayaan yang kaitannya dengan sesama manusia? Biar mulut-mulut di luar sana bercelutak soal siapalah apa—apalah siapa, tak lagi jadi kebutuhan untuk menyampaikan. Terima kasih telah diizinkan terisak di sana, membuang pikiran dan perasaan tak baik atas siapapun juga.
Allah,
kunanti kembali rutinitas rahasia di antara kita. Setelah sekian lama aku kira Engkau hanya diam berlagak bijaksana. Ternyata akulah yang payah menjinakkan takdir-Mu. Tapi sungguh, terima kasihku ini atas satu pengenalan lebih dalam (lagi) dengan jiwa yang bisa dijadikan kekuatan selagi aku mencari-Mu akibat hilangnya aku di satu titik yang kupikir Engkau meninggalkan aku sendirian lagi.
Allah,
episode-Mu kali ini adalah yang tertinggi sepanjang 21 waktu. Kau ijabah doaku sepanjang hari yang ingin menanjaki gunung tergagah. Yang ini, sungguh lebih tinggi dari sekadar Everest. Kau kabul permintaanku menyelami samudera luas, sungguh kutemui tak hanya banyak jenis ikan tapi tumbuhan dan karang yang indah pun bisa menusukku begitu dalam bila aku tak teliti mengamati. Bila aku tak turuti nurani.
Dan Allah,
seseorang yang Kau kirim kali ini adalah yang pertama membuatku merasa sedang bercermin di hadapannya. Ia kah orangnya? Yang telah melewati naskah lebih banyak dariku tak hanya dari skala waktu?

Surat Cinta Bulan Oktober: Jogja Tertinggal di Matamu


Jogja.
Aku masih punya sekepal dendam yang ingin kubenturkan pada waktu lalu. Biar pecah menyerak. Lalu dirubung rayap. Habis tak berjejak pada bekas tapak di tanah becek berbau humus sisa hujan tiap malam. Siapa pula yang suka di-ganduli kegelisahan penghasil obrolan bergolak uring-uringan. Memoar yang selalu menjadi Ifrit, berbisik nyaring di telinga mengajakku untuk selalu kembali pada kesalahan yang sudah aus tahunan lalu. Usang, tapi selalu saja diasah ulang. Lalu bagaimana bisa bentang masa depan kalau selalu sengaja dibayang-bayang? Sudah masanya singgah babak anyar malah ditarik paksa pulang ke pangkuan kausa. 
Siapa yang bisa disalahkan kalau sudah begini?
Oktober.
Dua ribu lima belas menjadi mangsa ketiga kau bersamai waktuku minus satu per satu. Angka di kartu identitasku berubah bilangan, dari belasan menjadi puluhan. Garis kerut memperjelas seraut wajah yang semakin reyot menebalkan cekung hitam di bawah mata yang kian tajam membulat. Kuajaki kau berjalan-jalan di seluruhku siang dan malam sampai sisa remah bulan purnama kau pikir petang senja. Tapi belum cukup waktumu memutari rongga dadaku, kau ketuk degup jantung, lalu bergelayutan di urat nadiku. Menyelami aliran darah sambil berebut udara di sela-sela rusukku. Kau mendesak lambung biar perihnya membukakan jalur pintas menuju hati. Tapi kau sadar betul tak semudah itu. Yang kautemui justru jalan buntu.
Tak ada gang di belakangmu. Pilihannya hanyalah diam di tempat atau maju perlahan dengan upah luka berceceran.
Kau.
Giliranmu sudah usai, biar impas kugambar bukan dengan kuas warna tapi sandi morse anak pramuka. Ada titik pendek bersama garis panjang yang merangkai sebuah kode. Setelahnya masih harus kau analogikan ke dalam bahasa. Kau mesti lihai banyak dialek. Akan kautemui berbagai isyarat tutur kata yang tak lumrah. Membentuk stereotipnya sendiri. Sebab letak kalbu seorang wanita yang merasa mampu tanpa siapapun harus dirobohkan dengan berbagai patois. Kalau kau beruntung, ia tak hanya tunduk tapi juga cinta.
Kuakui kehebatanmu bersabar mengalahkan diri demi bukti penyesalanmu, meski sering aku masih tak percaya. Memekakkan telingamu dengan tuduhan-tuduhan yang selalu sama.
Jarak.
Delapan bulan bukan waktu singkat untuk tatap mata yang saling lupa paras satu sama lain. Mimik muka yang dicuri letusan gunung Karakatau berabad lalu; kau tak lagi mampu menyentuh ujung kuku-ku di tanah Jawa. Aku hanya bisa meraba frekuensi pita suaramu dari gagang telepon genggam. Kau harus punya sayap untuk bisa menjamahku atau paling tidak butuh pesawat terbang untuk mendarat dengan selamat. Kita baru bisa saling menggenggam dengan berenang sampai di pertengahan selat Sunda. Minimal aku harus kuat berlama-lama duduk di kapal bersama ratusan kepala lainnya dengan ancaman muntah-muntah—mabuk laut—demi rindu yang sampai tepat waktu.
Tuhan menguji seberapa tabah aku menanti kabar dan kau betah bersetia pada pilihan yang tidak mudah.

Semoga manfaatnya yang tak putus-putus menjadi amal jariyahmu.

Yogyakarta, 25 Oktober 2015.
Aku sangsi jika bukan denganmu aku bisa sebaik ini membiarkan diri dibawa laju waktu. Tanpa mengeluh aku bosan dengan antarruang yang terlalu panjang. Merentangkan rindu yang terlalu berisiko merenggangkan hubungan; memudarkan perasaan.
Kau acap sekali seperti mengabai usulanku padahal kaulah yang paling keras berupaya mengimbuh diri naik ke tingkat paling tinggi. Meski kau tak rajin menulisku, pun aku tak pernah mendengar kau asik bercerita panjang-lebar tentangku pada tiap-tiap kepala … tapi kesungguhanmu sampai di mata batinku.
Aku terlampau sering berlaku tak membutuhkanmu padahal doaku selalu berhilir menjamumu. Meski aku tak berkecenderungan mengharuskan Tuhan mengabul jodoh adalah Engkau … tapi intuisi nyalar membicarakanmu.
Kalau 2013 yang lalu Kau ujar dalam video hadiah ulang tahunku, “hadiah terbaik datang dari sebuah pemahaman” maka buku menjadi pembelajaran terbaik setelah pengalaman. Buku bukan lagi jendela dunia bagiku—kuharap begitu pula bagimu, sebab tiap kalimatnya membubuh laba tanpa modal—yang besar.
Surat yang sampai di tanganku seperti kangen yang diantar ke depan pintu. Aku tak perlu membayar grafolog untuk menjabar ketulusan dalam setiap abjadmu. Suaranya terlalu gamblang mengeras di gendang telinga. Menghadiahi santir rupamu yang tersenyum melelehkan air mata. Siluet kangen yang menubuh tumbuh begitu cepat melalui gerak bola mata. Aku tak kuasa menahannya, rindu yang hanya bisa diganjar dengan temu. Tapi lagi-lagi, masih menyoal waktu yang harus ditempuh agar kita bisa menjadi utuh. 
Tinggal doaku di sini, semoga sampai di seberang sana. Pun begitu sebaliknya. Kau mengoleh-olehi ketabahan menghadapi kota yang tak lagi bisa kunikmati sebagai Jogja sebab keistimewaannya turut kau bawa serta.
Yogyakarta, 28-29 Oktober 2015
Fasih Radiana