Sebuah Perjalanan Rahasia: Saya Membaca Karena Menulis (Bagian 1)

Tulisan kali ini saya persembahkan khusus untuk para pembaca. Sekaligus ucapan terima kasih. Dari kornea itu, sepanjang larik sederhana saya jadi manfaat. Lalu membuat saya haru—lebih tepat disebut cengeng—hanya karena sebuah tulisan yang kecil, begitu besar kegunaannya. Meski dengan mencuri-curi waktu, meski dengan tidur lebih malam, saya akan teruskan entah sampai kapan. Agar tak henti jadi kudapan bagi yang membutuhkan asupan.

Ampuni saya yang tidak bisa mencantumkan semua message.

Sudah lama sekali ingin membagi cerita ini. Jawaban—yang entah bisa menjawab atau tidak—dari setiap pertanyaan yang muncul ke permukaan. Sejak enam tahun yang lalu, blog ini saya buat. Dengan begitu sederhana. Bisa kau baca tulisan pertamaku. Tak lebih baik dari ocehan anak usia dini yang baru belajar berbicara. 

Mari mundur sejenak ke belakang, 2007 adalah awal mula saya mencoba membuka diri untuk mencintai puisi. Dua tahun sebelumnya, saya adalah murid kelas 5 SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta yang diberi tugas membuat puisi oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Aku sangat yakin, kau pasti lebih baik dari bait-bait ini.

Kasih Tulusmu

Sembilan bulan engkau mengandungku
sembilan bulan aku ikut merasakan detak jantungmu,
ikut mengalir dalam darahmu
berdenyut bersama nadimu
menjadi benalu!

Kasihmu tak berujung
doamu selalu mengiringi setiap langkahku
bimbinganmu selalu bersinar,
sinari hatiku

Kau selalu tebarkan senyum
Kau selalu curahkan segala perhatian
tanpa henti Kau sayangi aku
Kau didik aku selalu

Yogyakarta, 2005.
Saya hanya ingat, saya meminta bantuan pada Ayah untuk menambahkan (merevisi) kalimat dalam bait-bait yang begitu sederhana itu. Lalu saya juga mencari buku-buku dalam lemari dan menemukan buku karya Ratih Sang. Demi bisa memenuhi tugas tersebut. Tak ada yang istimewa. Hanya saja, kalau alam sadar saya masih bisa mengingat kronologinya, bahkan dengan jelas masih mengingat gerak, bicara, dan bagaimana saya menuliskannya pada waktu itu, pastilah kejadian itu adalah sesuatu yang memang—secara tidak sadar—sengaja saya rekam. Terlepas bahwa alam bawah sadar tak pernah bisa memilih memori yang mana yang ia simpan.


Setelah itu, tanggal 21 Februari 2006—saya masih punya berkasnya—puisi berjudul “Sahabat Abadi” jadi satu-satunya karya saya saat duduk di bangku kelas 6 SD.

Sahabat Abadi

Kau sahabat sejatiku
teman curhatku di setiap waktu

Setiap detik berlalu
Kau dengarkan ocehanku
tertulis isi hatiku
di lembaran-lembaran barumu

Kau menyimpan kenangan masa lalu
menyimpan semua rahasiaku
Kau akan terus mengalir bersama darahku
selalu hidup bersama jiwaku

Yogyakarta, 21 Februari 2006
Jangan pikir, saat aku menuliskan ini, aku sudah mencintai puisi. Aku baru tertarik. Karena pada zaman itu, buku diary adalah media anak-anak seusia saya untuk berbagi cerita tanpa diketahui siapapun. Padahal biasanya teman-teman sekelas saya yang juga punya buku kecil ber-cover cantik dan lucu itu saling membaca milik satu sama lain. Kecuali aku. Walaupun pernah suatu waktu ada salah satu yang membacanya diam-diam—buku itu selalu saya bawa di dalam tas—dan disebarluaskan. Sungguh, saya suka bergidik geli mengingat masa itu.
Seharusnya saya paham bahwa ketertarikan itu bukanlah suatu hal yang biasa. Karena mana mungkin sesuatu yang tidak spesial bisa—dengan sadar atau tidak, dengan sengaja atau tidak—diabadikan. Seolah-olah diri saya di masa lalu tahu bahwa hari ini karya itu akan saya jadikan sebuah perjalanan panjang. Tak ada yang kebetulan. Ini takdir. Yang barangkali, ikut saya upayakan.
Karena sejak tahun pertama saya menjadi murid SMP Negeri 9 Yogyakarta, pada 2007, saya mulai rajin ke perpustakaan. Bukan untuk membaca. Pun iya, saya pada saat itu tak benar-benar paham apa itu puisi. Otak saya tak cukup mampu mengartikan karya kenamaan Chairil Anwar berjudul “Aku”.
Kalau sering petanyaan-pertanyaan ini masuk melalui media apa saja, “buku apa yang kamu baca, Mbak? Bisa menulis sebegitu mengharukan?”, atau dengan pertanyaan sejenis ini, “bagaimana caranya menulis? Bisa ajari saya?”
Yang saya ingat, saya masuk-keluar perpustakaan hanya bermodalkan kertas dan pena. Bukan untuk menikmati isinya, tapi mencatat semua jenis kata yang tidak saya ketahui artinya. Lalu saya tulis di buku tulis khusus kosakata. Membentuk glosarium sendiri. Lebih detail, saya buat sesuai abjad. Bukan huruf paling depan, tapi paling belakang. Akhiran a, i, u, e, o. Sehingga mudah untuk saya mencipta rima yang pas. Dari setiap lirik lagu pada bungkus kaset-kaset milik Ibu dan Ayah di rumah, bahkan tak luput dari terjemahan kitab suci Al-Qur’an.
Tak cukup sampai di situ, Januari 2008 saya mulai menjadikan sastra sebagai obsesi—tanpa saya sadari. Setiap petang mulai membayang, diam-diam saya mulai menyusun kalimat dari kata demi kata yang sudah saya rangkum dari segala jenis buku. Satu hari, saya wajib setor minimal satu puisi. Lalu berlagak bodoh dihadapan Ayah dan Ibu, bila butuh tahu apa artinya kata ini dan itu tapi tak saya temui jawabannya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Lalu, dari mana gagasan tulisan-tulisan itu tercetus? Buah pikiran siapa?
Dari batu besar yang mulai berlubang. Dari senja yang menghitam tanpa tepian. Dari hujan yang jatuh tetes memecah tanah. Dari bau busuk sampah di selokan. Dari asap kendaraan yang mengeras di paru-paru. Darimu. Darinya. Dariku.

Sungguh, kemampuan saya mengabadikan tak seberapa, maafkan saya.
Menulis pun tak lepas dari ilmu psikologi. Tanpa tahu karakter pembaca, mana bisa menghasilkan sejajaran paragraf yang jika dibaca, maka mereka akan bilang, “ini pernah saya alami.” atau, “ini yang saya rasakan sekarang.” atau bahkan, “membaca ini seperti mendongengkan kisah hidup saya.” Saya masih percaya bahwa tak ada yang kebetulan, sejak Sekolah Menengah Pertama pula saya mulai tertarik membaca perilaku sesama.
Saya mulai dengan anak laki-laki bernama Rendi, sebut saja begitu. Kalau kau adalah teman satu SMP dengan saya, maka kau tak mungkin lupa siapa laki-laki itu. Yang sudah harus drop out di tahun pertama. Berandalan yang tak punya kawan main. Tak ada yang berani duduk sebangku keculai dipaksa. Tak ada yang mau beramah-tamah karena sudah ngeri lebih dulu menatap wajahnya yang kusam dan bengis. Ia tak takut pada kakak-kakak kelas yang bertugas pada Masa Orientasi Sekolah. Ia tak pernah takut dihukum berdiri di depan kelas, atau bahkan membantah guru.
Siapa yang peduli bahwa anak laki-laki itu sedang mengalami depresi akut? Siapa yang mau menilik lebih dalam apa yang membuat ia jadi seperti itu? Siapa yang sudah mencoba mendekatinya lalu bertanya ada apa? Anak sebengal itu bisa membuat kaca dalam bola matanya saat bercerita sesakit apa hatinya pada hidup. Anak yang dianggap tidak tahu diri itu meneteskan air mata—yang hanya bisa saya lihat—di hadapan saya saat membeberkan semua masalah-masalahnya? Lalu, pertanyaan saya, siapa yang salah di sini? Anak itu, atau mereka yang tidak pernah mau tahu. Itu baru satu dari sekian banyak permasalahan hidup yang banyak orang tak acuh. Hanya melihat permukaannya saja. Kalau berjerawat, pastilah ia buruk rupa.
Sudah 7 tahun ini saya menerapkan pola semacam itu untuk berkarya, lalu bahan-bahan yang masih mentah saya racik dengan bumbu-bumbu majas dan pilihan kata yang tepat. Semua kegelisahan yang saya bungkus begitu rapi dengan eufemisme. Saya mengambil bahan limbah untuk saya olah kembali dalam bahasa yang lebih anggun dan enak dibaca. Biar merangsuk ke hati siapa saja, bahkan bagi yang tak pernah merasakannya. Tak pernah mengalaminya.
Bukan dari antologi puisi lalu saya daur ulang kalimatnya. Bukan juga dari hasil membaca ensiklopedia. Hanya cukup dengan membaca matamu saja bisa kutulis seribu abjad yang bahkan kau tak tahu bagaimana bisa aku lebih memahami dirimu ketimbang engkau sendiri.

Terima kasih, kalianlah inspirasi saya.
Tapi tidak sesederhana tulisan ini….
Semua berproses. Lama. Bahkan untuk saya ini semua teramat lama. Karena delapan tahun mengaku mencintai sastra tapi tak punya satu pun karya yang dijilid menjadi sebuah buku. Seseorang yang bahkan terlalu udik untuk mengirimkan tulisan-tulisannya pada koran, majalah, dan mengikuti kompetisi jenis apapun dalam bidang tulis-menulis. Awal tahun 2009 baru saya sadari bahwa menulis bukan lagi obsesi, tapi kebutuhan. Darinya kutemukan oksigen. Masih dengan diam-diam. Masih dengan ketidakwarasan menoreh tinta dini hari hanya dengan penerang lampu ponsel. Dan tak terasa, ratusan judul dimuat dalam binder-ku, dengan beberapa puisi yang ditepuktangani oleh teman-teman sekelas saat mata pelajaran Bahasa Indonesia. Angka 8,00 yang kudapat dari Bapak Rudjito, S.Pd. Lalu berlanjut di tingkat setelahnya. Angka 9,40 dari guru luar—yang aku yakin tetaplah bukan suatu kebetulan kelas saya yang dipilih—yang mengajarkan bab “Puisi”. Saat itu, ada tiga juara. Yang pertama adalah saya. Lalu ketiganya harus membacakan karya masing-masing di depan kelas. Tak perlu ditebak, saya bukan pembicara yang baik.
Sampailah pada mata pelajaran TIK. Lalu saya dipertemukan dengan blog—platform atau layanan blogging milik googleYang lalu saya beri nama “Tepi Selendang Jingga.” dengan filosofi saya selalu menulis ketika senja tiba. Kali pertama saya memberanikan diri mem-publish tulisan tersembunyi saya dengan judul “Menjauh Berlalu”. Sejak saat itu pula, saya berhenti menulis dengan arti sesungguhnya, pada kertas-kertas yang bersetia membangun intuisi dari nol.
Tidak lama, sekaligus dua puisi saya terpilih menjadi penyelip kata pada buku antologi puisi yang dibuat oleh PPL-UNY pada masanya, yang diambil dari seluruh murid di sekolah saya. Bukan suatu hal yang membanggakan memang, tapi cukuplah untuk mengukir nama di perpustakaan sekolah yang menjadi salah satu media berjasa pada saya. 
Lulus dari SMP, saya tak punya keinginan seperti layaknya teman-teman saya yang dalam doanya selalu menyebut-nyebut nama sekolah impian mereka. Saya diberi kebebasan memilih sekolah apa saja, tapi dalam jenjang Sekolah Menengah Kejuruan. Maka saya tak tahu harus ke mana. Sedang saya tak berkeinginan di mana-mana. Yang saya tahu, saya cukup dengan nilai UNAS rata-rata 9. Tentu saja, Allah sebaik prasangka hamba-Nya. Saya mendapatkan apa yang saya mau.
Dengan total nilai 36.00 pada masa itu, saya yang tadinya menimbang-nimbang untuk memasuki jurusan tata busana mengurungkan niat itu. Pertama, saya tidak pintar menggambar. Kedua, saya kurang teliti. Ketiga, teman-teman dengan NEM yang hampir sama menyarankan saya untuk memasuki jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, di Sekolah Menengah Teknik Pembangunan, Sleman, Yogyakarta. STM terbaik pertama di DIY. Tapi sayang sekali, tinggi yang saat itu tidak sampai 150 sentimeter membuat saya harus mengurungkan diri. Sebenarnya, kalau saya ngeyel sedikit saja, bisa beralasan bahwa saya masih dalam masa pertumbuhan. Toh, kurang 3 sentimeter saja. Tapi sekali lagi, atau mungkin terus-terusan saya tekankan bahwa tidak ada yang kebetulan … saya sudah mengundurkan diri pada waktu mengisi formulir. Tidak jadi saya serahkan pada petugas. Saya beralih ke Sekolah Teknik Menengah terbaik setelahnya, yaitu STM 1 Yogyakarta (STM Jetis) atau sudah berubah nama menjadi SMK Negeri 2 Yogyakarta.
Tanpa pikir panjang dan tahu-menahu apa itu jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, takdir membawa saya kepadanya. Takdir mempertemukan saya dengan dunia baru. Dunia antah-berantah. Saya yang kolotnya minta ampun, diterima menjadi penghuni baru Teknik Informatika. Welcome to the jungle part one.
Lalu bagaimana bisa saya menjadi seorang penulis kalau saya justru berbelok menjadi manusia dengan tangan kanan dan kiri penuh alat-alat semacam solder, tang crimping, cron, kabel,….

Lalu bagaimana mungkin saya bisa menambahkan kosakata baru kalau harus berkutat pada bilangan biner, pengetahuan elektronika, subnettingtroubleshooting, Local Area Network (LAN), Wide Area Network (WAN), atau harus menjejalkan diri ke dalam sistem BIOS, atau menghapal dan mendalami tujuh layer OSI, atau memanjat tower setinggi 16 meter? Saya bahkan bisa melihat dengan jelas bagaimana proses daun bergerak mengikuti angin yang akan menjatuhkannya dengan segera. Hidup ini mengasyikkan, bila kita percayakan segalanya pada-Nya.



Bersambung…….
Salam,
Fasih Radiana

Menjinjing Takdir

Harusnya kuyakinkan diri seribu kali lebih aktif bahwa Kau telah mengemas takdir dalam lauh mahfuzh. Sempurna. Tak punya cacat di satu tanda baca pun. Aku saja yang mengabai. Aku saja yang tak pandai meneliti ada abjad apa yang kurang titik dan koma. Malah mengurusi hal-hal yang tidak patut dikunjungi berkali-kali. Harusnya aku jauh lebih paham, sebab dua puluh tahunku tak sesingkat kurun waktumu. Siapapun itu.
Dipersiapkan lebih hebat tapi malah berontak. Katanya tak kuat. Katanya tak ingin, tak sanggup, tak mau, tak … tak … tak … terlalu bising dengan kata tidak.
Lalu manusia macam apa yang tidak menuruti titah kitabnya. Kalau Allah mengikuti prasangka hamba-Nya, tak ingatkah nuranimu menginginkan sesuatu seberat apa tanggungannya dunia-akhirat? Katamu tempo hari, sejak masa masih dalam periode madya. Kau mengungguli waktu lebih dini. Menggauli hari lebih malam sampai habis datang pagi. Lalu, kau pikir bisa seenaknya sendiri? Kau kira tak ada uji materi? Kau anggap segala mudah begitu saja? Padahal nyata-nyata di depan sana lebih besar perkara akan menyapa, mengajakmu bicara, lalu mulai menampar-nampar sampai habis daya diganti air mata.

Mana mungkin menang dengan taktik serupa. Tak ada yang egaliter bila tujuannya adalah pembeda. Pasti yang lebih sahaja lebih pula panjang jarak langkah dengan capaiannya. Tak mungkin seia-sekata dengan yang ngorok lebih lama. Pastilah yang kokoh itu disusun dari beton dua puluh tujuh kali lipat lebih banyak ketimbang rumah reot di pinggir kali Jakarta. Mustahil hapal seisi Kamus Besar Bahasa Indonesia beserta sinonimnya kalau aku tak paksa mata menjejal kata per kata sampai mual dibuatnya. Sudah jelas kan mengapa “man jadda wa jadda” harus diikat kuat lima senti dari pelipismu? Biar dekat dengan otakmu, lalu sampai merangsuk ke hati melalui terjemahan jendelanya: sepasang kornea berpupil ras Asia.

www.fasihrdn.tumblr.com
Percayalah, Sayang. Mimpi yang kau cetak tebal di halaman depan buku catatanmu akan membawamu melesat sampai ke sana. Ke tempat yang ingin kau tuju. Maka salahkah bila Allah sokong IQ selevel Albert Einsten untuk mereka yang terobsesi pada inovasi tingkat mahir? Atau Allah modali panjang hati bagi ia yang bercita-cita menjadi Ibu asuh di panti? Mulai tahu kan mengapa banyak sengketa perihal ini dan itu ditaruh begitu saja di pundakmu? Menjeratmu pada pasal demi pasal yang berakhir di meja hijau buatan massa penganut hukum rimba.
Sudah ada gambar di tiap-tiap petak. Setiap ciptaan-Nya bebas mencomot salah satu atau lebih dari preferensi yang disuguhi. Tinggal bersungguh-sungguh atau tidak. Lalu seleksi alam menindak lanjuti gerak pada setiap babak. Percayalah, Sayang. Setiap fase punya hak kepemilikan. Tak perlu khawatirkan angin di pinggir pantai selagi masih menjejaki kaki bukit. Ada yang tidak perlu kau sambar dengan sesumbar, biar jam dinding putuskan kapan hujan menyudahi mendung pada senja. Lalu pelangi berbaris setengah melingkar dengan sendirinya, tanpa aba-aba.
Selalu ada waktu yang tepat untuk bertemu pada kelayakan yang sah. Biar mulut-mulut bercelutak semaunya dari pintu ke pintu, kalau Kun Fayakun sudah dijadikan sabda, maka membisulah satu kota.
Harusnya kuyakinkan diri seribu kali lebih aktif bahwa Kau telah mengemas takdir dalam lauh mahfuzh. Sempurna. Tak ada yang kebetulan. Semua serba magis di luar jangkauan logika manusia. Hanya keterbatasanku saja yang kian tampak mengambang di air muka. Maafkanlah hamba-Mu. Maafkanlah aku.
Bismillah jadi tanda dimulainya kembali perjanjian persetujuan beriktikad santun antara hati dengan mimpi. Yang sudah, biarlah jadi petuah. Jangan sampai dibawa ke masa depan. Bismillah….
140915, 00:29~Segala yang hebat berasal dari keberhasilannya menaklukkan rimbun takdir yang ia pikir mengikir, padahal membentuk otot-otot pondasi pola pikir. Percayalah, Sayang. Tak ada yang lebih baik dari percaya pada-Nya.


Salam,
Fasih Radiana

Cinta, Apakah Jodoh?

Aku berebut udara dengan malam. Semakin tinggi bulan merambat, makin tebuka lebar bola mataku yang hitam pekat. Napasku hidup dalam hening. Ia tidak, sama sekali tidak suka bising. Lalu menularkannya dalam bentuk kecintaanku pada hampa. Keramaian yang paling pas untuk kusapa hanyalah seraut wajah angin kosong dalam senja. Tak ada yang lain. Aku hanya suka yang itu. Tidak dengan lampu pijar, tidak juga dengan lalu-lalang, apalagi huru-hara.
Kau tahu betul, aku sudah menjabar diri terlampau panjang dan sering membuatmu jadi terkantuk-kantuk dengan kalimat yang itu-itu saja. Kamu tetap bersetia meski sebenarnya sudah hapal dengan baris yang sama. Tapi sempat aku berpikir, bagaimana kalau seandainya saja suatu saat aku bosan bercerita? Dan lebih memilih diam. Apa mampu kau memahamiku seperti saat ini?

Siapa yang berani berujar bahwa penulis adalah ia yang hatinya selembut sutra? Tak ada kurasa. Aku salah satu yang akan bilang tidak kalau memang ada yang begitu mengira. Dan kau pastilah orang pertama yang mengiyakan kilahanku. Sebab kau tahu aku tak seromantis tulisan-tulisanku. Aku sama sekali bukan wanita layaknya rima-rima yang menggantung penuh cinta pada tiap-tiap mata yang membaca.

more quote www.fasihrdn.tumblr.com

Ketimbang berbicara menyoal hati yang jatuh pada cinta, aku lebih suka disuguhi harapan yang diperjuangkan habis-habisan. Bahkan meski kehilangan adalah bayarannya. Aneh memang, akulah paradoks. Akrab disapa penulis cinta. Tapi bahkan  sepotong hati pun aku tak yakin seutuhnya punya.

Tempo hari kudengar ada yang berdecak kebingungan. Mengapa kau kutunjuk jadi satu-satunya yang mengisi sela-sela jemari. Padahal pernah kau remuk jantungku sampai nyaris tak mau lagi berdenyut. Padahal yang lain mengantre ingin aku tersenyum balik padanya, pertanda ada pintu baru yang membuka. Membolehkan diri masuk untuk sekadar menyapa, siapa tahu bisa sampai membangun cinta.

Kurinci satu sampai dua kalimat saja. Aku bisa dengan gamblang membaca setiap garis wajah sejak lama. Sejak umur masih belasan. Sejak kegiatan pramuka masih jadi kudapan. Atau meniup suling paduan suara adalah kegiatan luar biasa. Dan kawan masih mudah kali kugandeng tangannya. Tapi kau adalah yang pertama direkam oleh pijak mata yang pertama. Detik yang pertama. Aku masih bisa mengingatinya.

Pernahkah mendengar istilah cinta pada pandangan pertama? Omong kosong. Cinta selalu bertumbuh. Kalau datang sekejap pastilah lesap dengan begitu cepat. Tapi setelah retina berkenalan dengan cahaya di matanya, aku percaya bahwa setiap mata punya ketertarikannya sendiri pada kelopak yang dianggap pasangannya.

Atau pernahkah setelah kau selesai membincangkan seseorang dengan penciptanya, tiba-tiba ia datang dalam nyata? Membawakan segelas cokelat buatan tangannya? Padahal kau hanya berkisik dengan telingamu sendiri, tapi ia yang kau sebut-sebut ternyata mendengarnya? Aku masih suka heran sendiri siapalah ia sebenarnya. Untuk apa masih berkeliaran dalam jarak yang begitu panjang di hadapanku. Dalam medan waktu yang bergeser satu-dua detik dari jam dinding di ruangan tempatku berjejak mondar-mandir menagak rindu.

Aku berebut udara dengan malam. Semakin tinggi bulan merambat, makin tebuka lebar bola mataku yang hitam pekat. Napasku hidup dalam hening. Ia tidak, sama sekali tidak suka bising. Lalu menularkannya dalam bentuk kecintaanku pada hampa. Keramaian yang paling pas untuk kusapa hanyalah seraut wajah angin kosong dalam senja. Tak ada yang lain. Aku hanya suka yang itu. Tidak dengan lampu pijar, tidak juga dengan lalu-lalang, apalagi huru-hara.

Kau tahu betul, lebih dari yang lainnya. Lebih dari siapa saja. Kau adalah yang pertama setelah tembok-tembok pembatas tangis dengan tawa yang sudi kubagikan cerita dari sendok tua. Dengan cinta atau tanpanya, kau tetap saja sudah menawan seluruh trauma lama. Kau kembalikan dengan jenjam sahaja. Meski kadang erak malah membuatmu menjadikan aku amuk, lalu kita sama-sama muak di tempat. Maka diamlah di sana dengan doa yang tak pernah tutup dalam bicara. Agar bisa kau bawa aku keluar dari udara yang selalu sesak untuk kuirup lebih lama….

Walau tak satupun yang bisa menjamin, bahkan kau, apalagi aku. Siapalah masa depan.



040915~Bukan jodoh, bila hanya cinta yang menjadi tumpuannya. Tak akan berjodoh, bila tak ada usaha dengan doa sebagai pelengkapnya.

Perlukah Belajar Menjadi Orang Tua atau Sudah Alamiah Pasti Bisa?


Kali ini izinkan saya berbagi sedikit cerita. Tulisan yang sebenarnya amat kompleks, tetapi saya sederhanakan. Ya … sederhana saja sudah begitu panjang. Tulisan ini alarm bagi saya sendiri. Yang begitu berambisi menjadi orang tua teladan. Bisakah? Entahlah, saya pun masih dalam proses belajar. Mengajari diri saya sendiri untuk disiapkan menjadi pendidik anak-anak titipan Tuhan.

Saya anak tunggal, tidak pernah mengenal anak kecil, tidak pernah menyentuh anak kecil, tidak pernah bersama anak kecil. Jujur saja saya memang terlalu kaku kalau disuruh bermain dan berpura-pura menanggapi anak-anak tertawa, tersenyum, atau seperti layaknya guru TK yang pandai bermain dengan anak kecil. Tapi saya tahu persis bahwa saya termasuk pengamat yang cermat. 
Saya punya keponakan perempuan umur lima tahun. Saya amati perkembangannya … yang mencolok adalah semakin seringnya ia berbohong. Semakin saya perhatikan, lama-lama saya paham bahwa anak ini sering dimarahi ketika berbuat salah tanpa diberitahu bagaimana cara membenarkannya. Atau jarangnya anak tersebut diberi ruang dan waktu untuk menyampaikan pendapat dan uneg-unegnya. Karena seringkali, ketika ia berbuat suatu kesalahan, anak ini menutupinya. Takut jujur. Kalau bisa barang bukti ia buang, maka ia buang. Kalau bisa orang lain tidak tahu, bagaimana caranya ia akan tutupi dengan akal pikir sesuai usianya. Ah, tidak. Malahan lebih canggih dari anak seusianya. Beberapa kali saya memergokinya. Dan berkali-kali itu pula ia memohon pada saya untuk tidak memberi tahu orang tuanya. 
Sore ini, saya lagi-lagi ditinggal berdua. Lalu tiba-tiba ia menghampiri saya yang sedang mumet mengurus surat-surat proyek akhir, keponakan saya bilang, “Mbak, air putihnya tumpah, aku nggak tahu….” dan blablabla berbagai macam alasannya. Barusan saya memang mendengar pintu dapur dibuka, mungkin anak ini mencari serbet, tapi tidak ketemu. Karena air yang tumpah banyak sekaligus tepat di depan televisi. Mau tidak mau, saya pasti tahu. Makanya ia bilang pada saya sebelum saya tahu lebih dulu.
Saya segera mengambil kain lap lalu membersihkan air yang tumpah cukup banyak itu. Setelah setengah kering, saya mengambil kain lap yang baru. Saya berikan pada ponakan saya ini. Saya menyuruhnya mengelap lantai yang sebenarnya sudah nyaris kering. Ia agak terkejut, tapi tetap melaksanakannya dengan gestur tubuh yang ogah-ogahan. Saya menungguinya sampai selesai.
Sepele mungkin, tapi sadar atau tidak, banyak orang tua yang jika menemui hal semacam ini hanya bisa mengomeli anaknya. Dengan omelan yang lebih panjang dari rel kereta, sambil orang tua itu sendiri yang membersihkan/membenarkan apa yang salah dilakukan anaknya, entah karena merasa anaknya belum bisa mengatasinya atau malas kalau anaknya yang membersihkan nanti malah tambah kotor ke mana-mana.
Lalu bagian mana yang mendidik? Mengajarinya perkara tanggung jawab? Lalu siapa yang malas kalau begini? Si anak atau orang tua yang suka mengomel tanpa benar-benar mengajarinya segala sesuatu yang benar. Yang ada, anak yang sering diomeli saja bukannya tahu di mana letak kesalahan dan cara membenahi, malah bosan mendengar ocehan orang tuanya. Ia tidak benar-benar tahu mengapa ia dimarahi. Namanya juga anak-anak. Bahkan umur lima tahun pun karakter sudah mulai terbentuk. Tapi masih cukup mudah untuk diubah ketimbang saya yang sudah berkepala dua. Nanti, kalau anak sudah tumbuh dewasa lalu menjadi anak yang tidak sesuai dengan ekspetasi orang tua, anak lagi yang salah. Pernahkah kita yang dewasa introspeksi diri, merefleksikan diri sudahkah menjadi teladan bagi yang lebih muda?
Maka saya rasa, perlunya belajar menjadi orang tua. Pelajaran yang tidak akan pernah kita temui di bangku sekolah manapun. Padahal sering kali kita pikir, kita ini hebat, kita rajin, kita ini pintar, kita berprestasi, kita soleh/ah ahli ibadah … ternyata sering luput dengan masalah yang tidak sepele tapi sering kali disepelekan, pelajaran yang tidak pernah ada, perkara yang dianggap enteng: belajar menjadi orang tua. 
Ini jadi salah satu alasan saya ingin menikah muda. Bukan perkara menikahnya, tapi hidup yang sesungguhnya.  Di saat kitalah yang membuat kesepakatan aturan-aturan yang berlaku di rumah yang kita sendiri kepala keluarganya. Apa yang kurang baik saat kita menjadi anak, tinggalkan. Apa-apa yang baik saat kita menjadi anak, lanjutkan dan terapkan kembali ke generasi selanjutnya. Karena ketika ada sesuatu yang tidak pas, maka pembuat aturan yang mungkin saja kurang tepat dalam membuat aturan, atau bisa jadi kurang konsisten menerapkan aturannya.

Berkali-kali kepada banyak sekali anak muda usia kisaran 17 tahun sampai 27 tahun yang saya introgasi, belum siap menikah karena urusan finansial. Atau masih belum siap melepas masa lajang yang bebas tanpa larangan adat-istiadat. Banyak juga yang mengaku sering melihat perkara-perkara rumah tangga yang membuat mereka takut berkeluarga sendiri. Padahal kalau mau ditanya, sampai kapanpun, saya rasa kalau tidak segera dipelajari dan disiapkan maka tidak akan pernah ada manusia yang siap. Sayangnya, anak muda zaman modern ini hanya berkutat pada urusan ekonomi. Pergi pagi pulang pagi demi materi untuk memenuhi pesta pernikahan semalam, sehari. Tapi lupa mempersiapkan diri menjadi istri, menjadi suami, menjadi orang tua bagi turunannya nanti.

Lain waktu, saya akan tuliskan lebih rinci permasalahan-permasalahan yang jarang ditilik para calon orang tua dan barangkali yang sudah jadi orang tua. Kalau kita terlambat memperbaiki diri untuk menjadi anak-anak yang unggul dalam prestasi maupun olah pribadi, setidaknya kita masih punya peran penting untuk menjadi pemutus generasi yang lemah karakter.

Yogyakarta, 12082015
Fasih Radiana

Bila Cinta adalah Kata Hati, Biar Tuhan jadi Tuannya

Februari … Maret … April … Mei … Juni.
Bukankah waktu tak mengenal ampun? Ia bergerak tak peduli kau memintanya untuk tetap tinggal. Kalau kuhitung dengan jari telunjuk, ini adalah bulan ke lima kau dan aku menggantung jarak, meluapkan waktu. Baru sebentar ternyata. Apalagi jika diukur lebih detil beserta hari demi harinya. Tapi tidak hanya aku yang merasa sepertinya sudah tahunan lalu kita tak pernah menyapa wajah.
2013 … 2014 … 2015.
Bukankah waktu tak mau tahu? Ia berlari masa bodoh kau masih ingin diam. Sudah masuk dua kali tahun ajaran baru setelah aku memetik senyum dan tangis secara bebarengan. Mengenalmu, memperhatikanmu, menganalisis, memahamimu, mendalamimu sampai hapal kutaksir jumlah bulu-bulu halus yang bernapas di kulitmu. Tapi ternyata baru sebentar kuerat jemari agar benar-benar pas di genggammu. Seperti sudah kuhabiskan satu dekade kuderet lebih-kurangmu. Di mana celah untuk kuisi dan kapan kamu acap melengkapi.
——————————-
2013
Ingat?
Kamu pernah ungkap bahwa cinta tak perlu alasan sedang aku melengkapi persepsimu bahwa cinta memang datang tanpa alasan karena ia memilih dirinya jatuh melalui alam bawah sadar: nurani. Tetapi ia selalu melanjutkan diri untuk bangun melalui logika berpikir: akal sehat. Dan idealismeku tidak pernah kamu setujui. Cukup dari sana aku mengerti siapa kita. Bagaimana kita bisa bertemu dari arah yang berlawanan. Oposisi yang sering jadi asal muasal perdebatan justru jadi alat yang mengakurkan. Memasukkan angka di sela paragraf dan menyelipkan huruf dalam deret bilangan. Yang aku tahu, alam bawah sadar setiap manusia tak bersekat, ia menyatu satu dengan yang lain. Gelombangnya akan saling menemukan ketika berada pada frekuensi yang sama.
2014
Ingat?
Kita sempat dipisahkan “dinding” yang begitu dingin. Ia memperkenalkan diri sebagai khianat. Salamnya begitu bising di telinga. Masuk tanpa permisi. Menelusup sampai ke rongga dada. Ia mengubrak-abrik hampir ke seluruh bagian. Seperti pembunuh berdarah dingin. Terus menguliti hingga belulang. Mengacak-acak denyut jantung sampai alir nadi tak lagi berfungsi. Jejaknya tak pernah hilang. Merumah di batang tubuh. 
Saat ulur tangan berdatangan, aku berani sumpah tak akan ada yang mampu menarik lenganku untuk membujuknya bangkit. Kalaupun tak ada cara lain untuk pulih, satu-satunya yang akan menaruh obat merah di satu per satu lukaku hanyalah ia yang sedang berbahagia di tempat lain.
Lalu doa yang memenuhi langit menjadi purnama di sepanjang malam. Tangis dini hari jadi kekuatan cadangan sebelum akhirnya kamu pulang. Sesumbar membawa kabar dengan oleh-oleh berbingkis takdir. Doa jatuh kembali menjadi hujan yang membentuk setengah lingkar “mejikuhibiniu” yang membelah Jogja sebelum fajar pecah. Bukankah alam bawah sadar masih bekerja dengan posisi frekuensi yang tidak berubah? Benarkah sebenarnya cinta yang katamu tanpa alasan berbenah diri dalam sujud dengan kodrat Tuhan sebagai surat izinnya? Ataukah ilmu mantik yang kukombinasikan dengan intuisi adalah sebuah kesalahan besar? Sehingga sulit kali rasanya melupakan “dinding” itu?
Bahkan sampai Februari, Maret, April, Mei, mengantarkan kita ke bulan Juni….
2015
Bukan salahmu pada masa yang telah punah. Toh, pilihanku memaafkan ikhlas adalah pernyataan yang perlu dipertanggungjawabkan. Hatiku jelas tahu betul berbagai cara kau lakukan demi aku yang berbahagia. Kamu begitu sabar sampai ambyar pun sering kali membuatku ingin memaki-maki diri. Mengapa jadi sesulit ini? Padahal cinta begitu sederhana. Katamu, ia tanpa alasan. Tapi aku membuat logikanya jadi terlalu rumit. Merumuskan kejadian terlalu rinci. Membuat nurani jadi sulit sekali muncul ke permukaan. Karena sepersekian detik selalu hilang dilahap prinsip yang barangkali tidak tepat digunakan untuk perkara sesakral ini: cinta.
——————————
Tuhan
Beritahu aku, mana yang ia, mana yang pikir belaka. Sebab aku ingin mengikutinya: kata hati. Sebab Kau adalah ia bukan?


Salam,
Fasih Radiana
Sebab aku adalah si koleris, tentu saja butuh kamu yang plegmatis 🙂



Yogyakarta, 10 Juni 2015 – Bila hati adalah yang paling jujur, biarlah logika yang salah akan hancur….

Dariku yang Penuh Doa

Kali ini lupakan dulu menyoal rima, diksi, atau segala pelengkap sastra. Aku ingin bicara tanpa kalimat-kalimat mutiara. Biarkan aku menjabar kita layaknya puzzle yang sudah tergenapkan oleh keping terakhirnya.

source: www.fasihrdn.tumblr.com or tweet me @fasihdn
Boleh kumulai dari bagaimana aku rela menjatuhkan diri untuk bangkit bersamamu?
Kita berangkat dari dua sudut yang berlawanan, anggaplah kau dari sisi minus dan aku berjalan dari arah kanan: plus. Bukan tanpa sebab, aku meletakkanmu di sisi negatif karena kita bersua selepas kau goyah dan jelas saja akulah si positif, sebab aku tahu betul keahlianku mengendalikan diri. Kalau kubentangkan coretan panjang lalu kuberi angka nol tepat di tengahnya. Di situlah kita bertemu. Dalam himpunan titik yang membentuk sebuah garis. Ada benang merah yang tak akan bisa ditilik mata telanjang. Maka bisa dipastikan kau berjalan maju, sedang aku terseret mundur teratur. Masihkah mengenali bagian yang itu?
Kugambari kembali kalau begitu:

Tepat saat purnama selesai merayap di ujung gagang langit, kau masih sembilu sebab meski banyak hawa mencintaimu, kau tak bisa menunjuk salah satu. Di situ matamu beradu dengan sorot tegas milikku. Gamblang angin mencecarmu dengan luka yang sarat menyimpan harap sekaligus kekecewaan pada satu utas tali yang kau pikir hubungan sejati. Afiliasi abadi yang ternyata kerjasamanya tak cukup koheren. Bersamaan dengan itu, cahaya bulan yang jatuh tepat di retinaku angkuh menggeleng, mengasihanimu diam-diam. Wanita yang sedang ajek pada pendiriannya itu tak mungkin tertarik pada pria di hadapannya. Konsisten dengan hidup yang alirnya tak beriak. Senyumnya jelangak menertawai dalam hati, “hari begini, masih juga patah hati.”
Boleh kulanjutkan ke mana perginya kita setelah petak itu?
Kuakui dayamu begitu kuat, pembawaanmu begitu tenang. Barangkali, hanya aku yang mampu mengupas kulitmu sampai ke bagian terdalam. Ada kesedihan apa membekap tulangmu, lalu kau memaksanya untuk tetap bisa terayun dengan gagah perkasa. Bukankah begitu, Tuan?
Biar kutuliskan lagi dengan lebih teliti:

Muatan negatifmu menemukan energi baru, aku tak bisa mencegah eksitasinya memenuhi ruang tubuhku. Mendesak ingin bervalensi. Kalau elektron-elektronmu bertransisi untuk menyetimbangkan yang kurang. Bukankah semestinya milikku yang alih tempat? Bukankah kamu yang kekurangan? Ah, bagaimana bisa teorema beralih jadi aksioma ketika sudah ditawar-tawar oleh cinta. Kuperingatkan, bagiku tak ada pembenaran tanpa pembuktian.

Kalau sempat terbesit dalam benakku, kau adalah lelaki yang tak lebih tangguh dari paganku. Semestinya kuingati lekat-lekat bahwa aku tak lebih teliti darimu yang seorang adam. Partner is partner. Tak berlaku kasta di antara kau dan aku. Sudah lebur jadi kita. Tak lagi menyoal siapa wanita dan pria. Seperti tubuh yang kehilangan rusuknya. Kau sadarkan diri menemui belahan yang lainnya. Aku, katamu seperti berkaca di air sebening sungai nil. Persamaan-persamaan yang tak habis dibagi dua. Dan perbedaan-perbedaan yang dengan cepat saling jadi pelengkap.
Boleh kuberhentikan sekarang juga?
Lauh mahfuzh tak pernah ingkar janji. Kitab yang di dalamnya memangku rahasia bumi dan langit. Bagaimana mungkin ia yang disebut sebanyak 13 kali dalam kitab pedoman manusia bisa salah mencatat skenario?
Kuharap kembali dengan doa tengadah bertubi-tubi:

Apakah intuisiku hanyalah rekaan jin semata? Menggodaku agar bermain-main dengan suratan. Bagaimana mungkin aku justru menggagas hal yang bukan berfokus pada derma kalau memang demi wewangian seistimewa firdaus? Atau ini hanya serupa mata manusia yang melihat bintang jatuh lalu menyembah-nyembah agar makbul doanya. Padahal cahaya itu hanyalah semburan api terang yang dilempar penjaga lauh mahfuzh sebab kerahasiaan kodrat nyaris dicuri untuk digadai dengan perketuan setan.
Sayangnya, sudah kita lemparkan dadu bebarengan. Selesaikan sampai akhir perjalanan. Dengan bantuan pemilik takdir, kau dan aku pastilah selamat sampai tujuan. Kalau memang ia adalah singgasana sekekal surga.
Bukan lagi (hanya) Jogja, kita merebas dunia-baka.
19 Mei 2015.


Salam,
Dariku yang penuh doa.

Pergilah dari Jogja(ku)

more quote www.fasihrdn.tumblr.com | @fasihrdn
Mbak, barangkali kaulah mata pertama yang dapat mengartikan sekumpulan tulisan-tulisanku ini. Sebab kaulah yang paling tahu secarik kertas yang tak lagi suci ini kupersembahkan tanpa perangko tepat teruntuk dirimu yang masih juga lalu-lalang dalam jemariku. Surat-surat ini boleh dibaca siapapun. Kau pernah bilang, tidak suka aku menuliskan dirimu. Ah, siapa pula yang tahu yang kupanggili dengan sebutan “Mbak” adalah dirimu. Kini kutemui jawabannya. Kau begitu takut kekasih barumu tak sengaja menemukan abjad-abjadku menggantung di gemeretak giginya.
Mbak, hari Selasa, lewat tengah malam, kau nekat menghubungi seseorang yang dulu begitu kau cintai. Mungkin hati kecilmu pun masih merasakannya. Tahunanmu dengannya. Hanya karena kamu menemui kekasih barumu—yang ternyata berprofesi sebagai Angkatan Darat—mengonfirmasi permintaan pertemananku di salah satu jejaring sosial.

Boleh kudeskripsikan bagaimana ekspresi wajahmu, gelagat lakumu, sehingga kamu begitu kelimpungan dan “wadul” pada mantan lelakimu bahwa aku berkawan dengan kekasih barumu. Agar apa kiranya, Mbak? Padahal ia sudah lebih dulu tahu. Sebab aku tak pernah menyembunyikan apapun seperti kamu yang piawai bermain petak-umpet. Tapi tahukah bahwa akan ada satu titik pertemuan. Entah di dinding yang mana kamu akan ketahuan?
Lalu paginya kamu bertanya padaku. Apa yang harus kau lakukan agar aku berhenti mengusik hidupmu. Salahkah aku berteman baik dengan kekasih barumu seperti aku membolehkan kamu diam-diam “bersahabat” dengan mantan lelakimu dulu? Tidak. Kecuali kamu takut seluruh rahasia akan terbongkar begitu saja. Kamu salah besar jika berpikir aku akan banyak bicara demi membalaskan kesakitanku. Sebab Tuhan tak pernah mengizinkan aku untuk mendobrak apa yang telah kaususun dengan begitu rapi. Tuhan hanya membiarkan aku tahu. Cukup dengan itu.
Kujawab baik-baik pertanyaanmu. Aku ingin kamu pergi meninggalkan kotaku. Pergilah dari Jogjaku dan jangan pernah kembali meski satu detik saja. Pergi dan bawa seluruhmu. Atau perlukah aku mengadu pada Jogja agar ia sendiri yang akan membuatmu angkat kaki.
Tapi apa jawabanmu? Kamu tidak mau. Kamu tidak mampu.
Kalau begitu, bair waktu yang menentukan kapan semestinya kakimu tak lagi mampu berpijak seenaknya di sini, berkeliaran seperti milik sendiri. Biar ia yang memberitahu padamu, ada adat sekental apa di Jogja yang membesarkan tenang di puncak gunung sampai tepi lautnya.
Kuberi sedikit bocoran. Tak pernah ada “khianat” dalam langgamnya. Berhati-hatilah, berkawan dengan Jogja. Tentramnya hanya berlaku pada yang menenangkan.
Salam,
Dariku dan Jogja
12-14 Mei 2015

Surat Rahasia untuk Tuhan


Yogyakarta, 250415: 01.59
Allah. Semusim sudah semua yang dunia lemparkan di mukaku meluka. Semestinya sudah sembuh. Malah semakin parah. Seharusnya sudah tidak mengancam air mata meuncurkan diri. Malah menderas tiap kali, tanpa ingin kuingati. Wanita itu ternyata masih bersemayam membenamkan pundakku. Menenggelamkan kepalaku.

Tak bisa kusebutkan identitasnya dengan benar. Aku belum mampu mengungkap abjad-abjad lengkap yang menyusun namanya. Nciz. Entah, inspirasi dari mana, tapi begitulah pedengannya. Jangan bertanya siapa ia, bukannya aku tak bisa membeberkan secara rinci. Tapi tidak mau. Belum, barangkali. Kalau setiap pertanyaan selalu satu paket dengan jawaban, maka yang sanggup mempertemukan keduanya adalah waktu. Simpan dulu di kantongmu, seperti jabatan: semua ada tahapannya.

Nanti akan jatuh tempo giliranku mengagak-agihkan seluruhnya, dari ujung rambut sampai tepi kuku jemari kakinya. Bermula dari mana papilaku bisa mencecapi garis hidup wanita yang menyebut dirinya dengan, “Nyonya Besar”. Atau aku saja yang berlebihan menyebutkan titelnya.

Kalau kamu membaca tulisan—yang sudah mirip dengan manuskrip—sejarah ini, yang kau jejal di matamu barulah prolog. Mungkin jika huruf punya 26 abjad, ini baru satu tipe huruf “A”, padahal ada banyak jenis huruf “a”. Sedetil itu. Saking tekunnya aku meneliti renyutnya. Kalau yang lain berlomba-lomba dengan riset karya ilmiah, aku memilih menyelisik watak dari setiap gerigi ujung gigi yang tertata rapi. Saking seringnya, sampai-sampai aku hafal betul masing-masing batang tubuh punya kepiawaian sejak lahir untuk menggelapkan sisi yang mana dan menerangkan bagian yang apa. Secara kasatmata sama persis seperti guna shadding dan tintin—yang tak pernah absen di-request oleh wanita mutakhir abad ke-21 agar terlihat memiliki gagang hidung yang lebih menonjol seperti bule, atau tulang pipi yang lebih tinggi. Memainkan peran gelap dan terang demi tercapainya suatu keseimbangan dalam proporsi wajah yang bagi mereka banyak cacat di sana sini. Padahal justru jadi simbol kurang percaya diri. Mungkin, kurang percaya penciptanya, aku bilang mungkin. Tak terkecuali parasmu, lekukmu, lakumu, bahkan isi kepalamu yang kadang mondar-mandir atau beku, bahkan seringkali berjalan ke belakang, lama-lama hengkang.

www.fasihrdn.tumblr.com


Allah. Engkau Maha Tahu terdiri dari potongan apa saja yang sampai saat ini menguasai hati. Bukan hati yang  terletak dalam rongga perut sebelah kanan atau lebih tepatnya di bawah diafragma. Tapi serepih hati di dalam dada. Dalam ejaan arab ia bernama qalbu (khalbu), tapi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ia disebut dengan kalbu: pangkal perasaan batin; hati yang suci. Suci sendiri artinya adalah bersih; bebas dari cela; bebas dari noda; bebas dari dosa. Tapi Allah, aku bukan para nabi yang maksum. Bisa kiranya Kau toleransi kepayahanku dalam hal mengendalikan? Ah, Kau pastilah tenggang rasa atas kecengenganku dalam mewaspadainya: ia yang membawaku jatuh dalam kebobrokan iman. Plongah-plongoh menanggapi qada dan qadar.

Kalau kuhitung hanya dengan deret nomor bagian akhir menurut perhitungan matahari dalam penanggalan Anno Domini atau yang lazim disebut kalender Masehi, sudah bergeser dua digit. Atau boleh jadi, memang baru dua angka. Sederhananya, sejak tahun 2013. Dua tahun, kuulang, jika hanya kutaksir dari dua bilangan akhir. Tanpa bulan, tanpa tanggal. Iya, dua tahun, perlu berapa puluh kali kujabar dengan sabar. Kalau menyenangkan pastilah kuujar lebar-lebar dengan penegasan kata “baru”, bukannya “sudah”. Bisalah kau tebak-tebak sendiri, apa kiranya yang kurasakan selama dua tahun belakangan ini. Hidup yang menyedihkan. Seperti tanpa Tuhan. Sepi, senyap, seperti raga tanpa roh.

Aku sudah keluar orbit. Tanpa sadar. Atau pura-pura tidak sadar. Tidak lagi berotasi di jalur lintasan yang dibuat Tuhan sebagai acuan. Aku memecuti kudaku tanpa rute. Buta arah. Menyalahi Peraturan Baris-Berbaris, banjarku mencong sana-sini. Menjengul begitu saja dari shaf solat berjamaah di masjid sebelum salam terakhir. Bagaimana mungkin bisa terjadi revolusi mundur?

Bukankah jauh lebih terhormat menjadi mantan pembunuh berdarah dingin ketimbang mantan kyai besar yang diagung-agungkan? Tapi lihat baik-baik, jangan seperti aku. Lahir dengan kulit kuning langsat, lalu tumbuh dengan wajah kusam, nyaris pucat pasi. Mau berfoto dengan ekspresi apapun juga tetap tampak buruk rupa dalam lensa, lensa mata maupun kamera.

Kalau harus kurunut dengan cermat, tak kan habis kaupahami hanya dalam waktu satu-dua pekan, triwulan, caturwulan … bahkan sampai pancaroba membuat resistensimu melemahkan tubuh, mengeluarkan cairan lengket berwarna hijau—ingus—sekaligus meriang sambil batuk-batuk nyaris kanker paru-paru pun tetap saja tak akan katam. Bagaimana mungkin? Kujejaki bumi sejak 20 tahun silam dan mau kauselami hanya dalam semalam. Yang benar saja. Mungkin aku butuh kertas berlembar-lembar dan kau mesti berbetah-betah mengkhidmatinya. Atau aku perlu membuat novel sekuel seperti milik Dewi Lestari “Supernova” agar sampai diangkat ke layar lebar menandingi film fenomenal “Harry Potter”—seri satu sampai tujuh—mahakarya J.K. Rowling.

Allah. Maafkan hamba yang sudah berceletuk ngalor-ngidul tanpa alur sampai subuh membangunkan dengkur. Allah, aku sakit parah. Parahnya lagi aku justru ingin ada virus yang menyerang serebrum sampai masuk menggerogoti memoar yang semakin hari semakin tak pantas untuk diingati. Biar amnesia sekalian. Dan aku bebas dari kenangan. Kenangan inferior yang mutunya benar-benar rendahan. Persembahan dari nyonya besar untuk perjamuan (tiap) makan malam. 

Pantas saja aku selalu kekenyangan bahkan tanpa karbohidrat sehat semacam umbi-umbian.

Allah. Tubuh yang menyatu dengan tanah dan dahi beserta tujuh anggota lain yang menyentuh bumi jadi saksi. Bahwa aku memang nyata-nyata Kausayangi. Dan bertatap kata denganmu di satu pertiga menuju fajar adalah kesempatan yang tak pernah ingin kulewatkan. Aku tak perlu membeli perangko agar suratku sampai tepat waktu. Sebab surat ini akan Kaujawab lebih dulu dari surat lain yang diantar lewat kantor pos. Kumohon, percepat tenggatnya untuk melupakan nama yang justru lebih fasih kueja ketimbang namaku sendiri.

Hambamu yang penuh dosa,
Fasih Radiana

Kosa Kata yang Hilang: Tulus

Sudah kutemukan. Sore ini. Memelas. Wajahnya menagih untuk bersegera dipungut dari perasingan. Di sepinggiran rerintik hujan. 
Yang lalu menderas, menggenang di ujung jalan berlubang. Bersama kenangan yang berenang-renang ke tepian. Padahal sudah lama sekali—mati-matian kugempur dengan segala cara. Tapi nihil. Aku selalu gagal dalam melangis tangis. Karenamu. Turunan hawa yang katanya paling subtil seantero jagad. Padahal lamat-lamat kutelanjangi seisi dadamu, sekujur tubuh tak akan luput dari segala sesuatu yang artifisial: ecek-ecek.

Sudah kutemukan. Semalam tadi. Garang. Raut rupanya membenarkan diri: siapalah ia sesungguhnya. Meminta dijumput dalam jingga kemerahan yang sudah lunas dilahap alam.


Aku terkekeh. Meski tak sampai bising di telingamu. Sambil memeluki lututku yang masih terus terguncang ledak tawa. Bukan karena kamu lucu. Bukan juga sebab aku mulai tidak waras. Tapi sudah satu setengah tahun takdir begitu menggelikan. Tapi bukan salah tulisan Tuhan, mana ada predestinasi yang meleset. Padahal sudah terang-terangan angin menjabar kabar. Aku saja yang terlalu bodoh berseloroh dengan seseorang yang cakap kali mengabai.

Kalau lelaki yang nyaris 1460 hari mencecapimu saja alpa mengenaimu, apalagi aku yang baru sekelap mata mengintaimu. Kupikir mulanya kau adalah bidadari jelmaan yang diturunkan dari asilium. Tapi lambat laun kau tak ubahnya seperti si kulit hitam yang memaksa diri suntik vitamin-C demi kulit kuning langsat bak putri keraton. Sudahlah. Apa bedanya dengan aku?

Jebolan Sekolah Teknik Menengah bertransformasi menjadi dara yang gemulai menunggangi heels belasan sentimeter, dengan seraut wajah yang sarat dengan bersolek: pipi ranum; bulu mata lentik; dan bibir seperti bekas menenggak anggur merah.

Tapi tidak, bantahnya—sorot mata lain di lintas jejak tapak.

Yang terlihat nyata muncul menyembul justru kulit kusam penuh noda, wajah pucat-pasi seperti pengidap kanker stadium akhir, dan  flat shoes yang terdengar setengah diseret.

“Itu kamu,” ujarnya sambil menyodorkan cermin besar berukuran pintu.

Sudah kutemukan. Baru saja. Polos. Paras lugunya ingin mengambil posisi semula. Berharap diperankan kembali menjadi tokoh utama. Merayu dengan tersipu, menawar-nawar ragu padaku.

Was-was kalau aku tak acuh padanya. Kalau aku tiba-tiba sengiang naik-pitam. Menghina kenaifan seseorang yang pernah dikhianati sejenisnya. Aku menghela napas panjang. Ke mana saja selama ini? Bukankah tak ada yang salah dengan luka. Tidak juga dengan menjadi cela karena tak mampu berbaik-baik saja pada kengawuran olah rasa. Aku rasa juga begitu.

Cinta mana bisa tanpa hitung-hitungan. Ia tetap baku pada logika. Ia tetap mesti selaras dengan gravitasi, menuju yang paling hakiki. Mana boleh dimaafkan tanpa perjanjian ulang. Dan mana kusangka, ternyata tak hanya perlu dengan satu faksi. Ia butuh kedua belah pihak untuk dimurnikan kembali kadarnya dengan media netral: keikhlasan. Kalau salah satunya tak terpenuhi, maka mushil direstorasi. Sedang kau enggan menyelesaikannya dengan kepala dingin. Padahal kau tahu betul lantaran siapa ia nekat berkelukur darah menyulut air mataku sampai beku.

At Loops Cafe Jogja dan “Filosofi Kopi” milik penulis kenamaan Dewi Lestari

Dan sudah kuhabiskan satu tempo sampai bosan dengan reaksionerku sendiri. Yang terus saja menolak hilang ingatan. Memori justru berjalan mundur. Semakin lama semakin menusuk sungsum.

Sudah kutemukan. Di batas waktu. Diriku sendiri. Penat-tenat dengan segala yang memutari medan yang itu-itu lagi. Meminta tolong dengan bersujud-sujud di pangkuan hujan. Memohon lepas dari masa silam. Kau, pergilah. Aku sudah jengah mengupayakan hati untuk patos-asih pada laku yang tak tahu diri.
Terduduk di sudut kafe dengan gerimis yang tak lagi bisa disebut rerintik, membuatku mulai mengerti. Bahwa lebih baik tulus dalam membenci ketimbang berpura-pura mengasihi: padanya yang lalai pada hak orang lain. Apalagi dalam konstelasi cinta. Dan angka dua—sebut saja khianat—serta orang ketiga—sebut juga penggoda—tidak lagi punya kelayakan atas keutuhan afeksi yang murni.
Maka jika kuingat kembali rumus fisika sederhana bahwa aksi sama dengan re-aksi. Sekarang, aku tak mengapa bilasaja memang harus ada satu jiwa yang beroposisi denganku. Aku tak lagi kudu berfilantropis padamu, kan?



Karena membenci tanpa ketulusan hanya akan membuat seseorang memakan kebenciannya sendiri. Biar deras hujan yang mengguyur perlahan….



Dariku,
Yang berusaha mengikhlaskan kekhilafanku sendiri.
31 Maret 2014


Pembacaan puisi : My Soundcloud – @Fasihrdn

Profesi Ibu Rumah Tangga, Sederhanakah Ia?



Keinginan saya memang menjadi ibu rumah tangga. Karena saya begitu tahu bahwa bekerja di luar rumah tak pernah bisa disambi dengan mengurus semua urusan rumah, tidak sama, berbeda pola. Pikiran-pikiran itu memenuhi saya sudah cukup lama. Sudah sejak Saya masih dikategorikan sebagai remaja.  Dengan pendidikan yang tetap mumpuni karena untuk mencetak penerus yang baik pun butuh andil seorang Ibu yang cerdas. Ibu rumah tangga harus multitalent kan? Lalu ada yang salah dari saya yang sekolah di beda-beda jurusan? Hehe, abaikan kalimat terakhir.
Dari dini hari sampai pagi lagi, bukankah harus ada satu orang yang memimpin seisi rumah agar tetap teratur? Bagaimana jika sistem itu cacat sedikit saja? Kira-kira siapakah korbannya? Siapa yang akan dirugikan di sana? Berhasilkah saya, jika saya adalah “orang besar” yang dihormati dan dibanggakan di mana-mana, tetapi keluarga kecil saya ternyata tidak bisa memaknai hakikat “keluarga” yang seutuhnya? Sederhanakah tugas seorang Ibu Rumah Tangga? Sesederhana setiap mata yang mencela prodi Tata Rias dan Kecantikan, katanya, kuliah hanya datang lalu praktik make up. Tanpa profesi Ibu rumah tangga, saya rasa sistem di dalam rumah tidak akan berjalan dengan baik. Pun ada, hanyalah sekian persen saja. Bisa dihitung dengan jari telunjuk.
Masih salahkah? Apa? Uang?

Saya tidak naif dan munafik. Saya dan keluarga kecil saya nanti butuh dana ini dan itu. Dari papan, sandang, lan pangan, lalu belum lagi pendidikan sampai urusan kesehatan.
Saya rasa hanya pecundang yang takut kekurangan biaya hidup. Pun nanti jika gaji suami saya pas-pasan, bisakah mencari uang tambahan di luar kantor? Tak bisakah saya mengerjakan sesuatu di rumah yang menghasilkan pundi-pundi uang? Tak bisakah saya berdoa, bersujud siang-malam, meminta Allah memperlancar rezeki keluarga kami? Bisa. Sangat bisa.
Hanya orang-orang yang tidak percaya pada keajaiban, ketangguhan, kebesaran, keadilan, kasih-sayang, dan kesempurnaan Allah yang bilang bahwa dengan menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah kesalahan. Apalagi jikalau hanya menyangkut urusan finansial.
Mari saya tunjukkan contoh kecil. Adakah suami-istri yang bekerja dan kedua-duanya mempunyai penghasilan besar tetapi tetap kekurangan? Banyak. Tapi adakah hanya bekerja serabutan tapi ternyata serba kecukupan? Ada. 
Bolehkah Saya simpulkan?
“Cukup” hanya akan ada di hati orang-orang yang bersyukur dan pada mereka yang dekat dengan Allah. Yang jauh dari keduniawian. Yang percaya bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang mampu mengurus segala kehidupan.
Lalu pedulikah saya atas perkataan orang yang bilang bahwa cita-cita saya HANYA seperti itu?
Saya tidak punya keinginan yang dilihat secara garis vertikal. Tidak begitu tertarik memiliki jabatan, pangkat, eksistensi tinggi, atau segala jenis ke arah atas. Kalaupun saya punya keinginan lebih dari seorang Ibu rumah tangga, adalah motivator. Lewat apa saja, bahkan sekadar coretan di facebook saja asal manfaat akan saya lakukan berulang-ulang, akan saya teruskan sampai ke mana-mana. Karena senyum lega pembaca adalah salah satu bagian dari kebahagiaan yang entah didatangkan Allah lewat angin apa. Saya ingin bermanfaat, meski kecil, meski sedikit, meski hanya dengan kata-kata usang semacam ini. Semua boleh berpendapat. Semua boleh menyanggah. Beginilah saya ingin hidup. Beginilah cara saya bersyukur. Beginilah cara saya memandang hidup melalui garis horizontal yang saya harap bisa merengkuh dunia-akhirat.
Catatan Kecil, Fasih Radiana, 11 Maret 2015.