Yogyakarta Tak Lagi Istimewa

Ramai para penulis mengatakan, “Pergilah merantau, agar tahu untuk apa pulang.”

Bising aku kala itu, ketika Jogja mengkhianati, untuk bersegera pergi jauh darinya. Sesak aku tak mampu menyesap udaranya dalam-dalam. Lalu kutanam dengan cepat, Jogja bukan lagi tempat yang hening tuk ditinggali. Terlampau silau lampu mobil merengek di tengah jalan-jalan kecil. Terlalu rimbun kafe-kafe bertumbuh menghilangkan kesederhanaan warung lesehan-nya. Ah, Jogja yang kuhirup puluhan tahun bau humus selesai hujan deras menyapa tanah. Mengapa kini aku yang kau khianati, justru ingin berbalik badan, memelukmu?

Aku terbiasa sendiri, namun tidak selain di rumahmu: Jogja.

Ingatkah, telapak kakiku sering menjamah rumput di semak belukarmu? Dan kau yang mengotori sela jemari dibasuh nostalgia. Sempat rasanya aku muak padamu, yang tak mampu kueja keistimewaannya sebab mempersilakan ribuan kepala asing masuk tanpa permisi. Mengubrak-abrik keluguanmu.

Siapa sebenarnya, dirimu yang menolak ditinggalkan? Atau menghasut hati dibalut kalut saat pergi darimu.

Pernah aku melangkah mundur, membiarkan mereka saja yang berbahagia merasakanmu untuk tersenyum tanpa menghitung waktu. Dan aku yang merasa memilikimu, menggunting memoar di tepi sungai. Biar mengalir dibawa arus.

Ternyata para pujangga itu benar adanya, kekhusukan cinta dirasa ketika kepergian adalah jarak di antaranya. Merenggangkan tubuh, merapatkan doa. Meluaskan tatap, menyempitkan harap.

Lalu benar mengapa kau disebut-sebut sebagai bumi yang istimewa di negeri ini. Sebab sesakmu tetap dirindukan, yang kecewanya selalu mengikhlaskan. Jogja, kudengar kabar, kau pula merindukan aku?

Kapan kita bisa saling memecah rindu? Merengkuh bait puisi yang gelisahnya didekap doa, yang air matanya justru menjadi cinta bagi bola mata di lain kota.

Kapan kita kembali menghitung bintang dini hari? Mengucap tasbih pada “Tuan” yang sama. Menderet mimpi dari lirihnya sunyi.

Kutunggu, dengan tabah.

Kau yang tak hanya membuka bingkis memoar lalu membungkusnya kembali.

Kunanti, dengan sabar.

Kau yang bukan hanya menawar angan lalu melipatnya lagi dengan rapi.

Sebab kini aku telah menunjukmu, menjadi satu nama yang kuulang-ulang dalam kayuh doa.

Pulang.

Mengkhianati Jogja

Kini usang aku dibuat asing, kala udara tak lagi berembus semesra dahulu. Bukan lagi Engkau yang menyapa segaris senyum selepas duka. Namun bayang, berbekal isak dari tawa. Lama aku tak menuliskan keping wajahmu. Menyusun lipatan bersimbol masa depan. Digandeng langit seusai sabit memecah merah. Pula sumbang suara-suara masa silam nyaring tertangkap netra. Karenanya, silau siluet senja tak lagi bergaris nila. Hanya angin dibalut ringkuk punggung bertulang tajam, melepas petang ke tepian.

 

Apa kabar?

 

Hening yang dirindukan cahaya, sepanjang bumantara melesapkan angan-angan. Aku kah ia, gadis kecil yang menuliskan jingga? Anak perempuan yang sudah beranjak dewasa mencoba menghirup harap di sela jari manisnya. Masihkah dinding pembatas ruang mendengar desah air mata? Takdir mana yang dipetik ranting basah sisa hujan semalam?

Apakah Kau masih bisa menjawabnya, Jogja? Pertanyaan demi pertanyaan yang kian membingungkan. Setelah usai jabat jemari melunturkan tinta hitam pada daun gugur yang kucuri dari kampung sebelah. Kau yang menghilang bukan? Memilih untuk tak lagi sederhana. Bukan aku yang berkhianat. Menanggalkan kenangan yang tinggal sepah diisap kuning kunang-kunang.

 

Siapa sebenarnya, yang lebih luka. Ia yang meninggalkan atau ia yang ditinggalkan?

 

…meninggalkan sebab tak lagi mampu menggurat pertanyaan.

…ditinggalkan karena diamnya tak pernah menghadirkan jawaban.

 

Jadi, kau tahu siapa sebenarnya, yang lebih luka. Ia yang meninggalkan atau ia yang ditinggalkan?

 

Batam,

Fasih Radiana