Baca saja, Seperti Aku Menulismu

Sebab aku tak mau kaumerayu yang selain aku. Tak suka mendengar kaumemuji yang selain aku. Tak bisa melihat kaumenatap yang selain aku.

Ada yang tak bisa kausentuh kecuali dengan hatimu, adalah hatiku dengan perasaan-perasaan yang mengitarinya. Tuan, coba jawab, sampai kapan aku harus menantimu memberiku satu kehidupan untuk bersama selamanya.

Kalau ada yang lebih menyakitkan, mungkin sebab kau tak pernah mencoba membacaku lebih dalam. Atau aku yang terlalu betah menuliskan semuamu?

Mungkin aku yang terlalu asyik dengan sendiri, aku yang terlampau angkuh merasa tak butuh siapapun menemani. Aku yang terbiasa dengan sepi. Hening yang mengantar jemari berepilog dengan puisi. Sajak yang tak ‘kan pernah berhenti menggigilkan sisi lain nurani. Aku hanya enggan melibatkan kau merentik dalam nyeri. Terus terang, sebenarnya diam-diam ada sejengkal harapan yang terbungkus rapi di sini, di hati yang tersembunyi. Tuan, mungkinkah kau bisa membuka tanpa merusaknya?
Sudah itu lalu bermukimlah di bagian yang membuatmu merasa tergenapi, yang membuatmu tak mau berlama-lama pergi. Kembali, dan menetap sampai fajar pecah dini hari. Sehingga aku terlengkapi.
280913~Semoga genap masih mampu melengkapi ganjil yang mulai lebih suka mengisi dirinya (sendiri) dengan membelah diri.

Published by

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *