Biar Bukti yang Membangun Cinta

Lelehan air mata yang suka tiba-tiba menderas begitu saja adalah bukti bahwa luka itu masih juga menertawakan kepayahanku menerima takdir Tuhan. Mengikhlaskan satu masa yang direnggut tepian jingga, menggenangkan sisa hujan berbayang petang. Dan kesulitanku dalam memaafkan diri atas ingata-ingatan tentang satu ruang yang kauabaikan, yang kaudustai, yang sudah bisa disebut khianat oleh alam. Perlukah aku menceritakan ulang episode yang itu?
Baru saja, aku membaca tulisan panjang berjudul, “Aku Memilih Pergi karena Aku Mencintaimu.” Dan berhasil membuat bulu-kudukku merinding sembari gemeretak gigiku makin kacau. Pernah aku menyuruhmu pergi untuk kembali pada wanita yang sudah lama bermain-main takdir di hatimu. Jauh sebelum aku menemukan bola matamu kosong di remang purnama malam itu. (170913)
Aku sudah melipat-lipat kenangan dengan begitu rapi, tapi memoar memaksa diri untuk bermunculan keluar dari sarang, membobol besi-besi yang susah payah kupasang di setiap celah dengan parang. Sudah itu lalu aku bisa apa?
www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn

Itulah jawaban mengapa kala itu bukan aku yang meninggalkanmu hanya sebab aku merasa kau cabik-cabik harga dirinya dengan menyimpan dua nama di hatimu. Aku mempersilakan derapmu bepergian untuk menuju yang sehati-sejati, berlarian mencari sampai lelah sendiri. “Aku mencintaimu” hanyalah pernyataan simbol kepedulian tak terbatas. Patutkah aku menahanmu di sela-sela jemariku yang ternyata bagimu tak begitu pas untuk ukuran tanganmu. 
Saat itulah waktu yang tepat untuk mengajakmu memainkan puzzle. Kalau kamu terlalu lamban memutuskan maka aku berhak memberimu jangka waktu kan? Karena membiarkanmu memilih sendiri siapa yang akan kamu tuju di saat kamu semestinya menjaga kesucian janji justru seperti menggantung diri. Aku seperti sedang bunuh diri. Tapi aku sudi menanti keputusan yang sudah kutahui sahutannya sejak dini. Karena aku telah memastikan segalanya berputar sesuai poros. Akan ada penjelasan atas apa yang tidak bisa kuselesaikan sendiri. Ada Tuhan yang menggerakkan tangan, kaki, juga hati. Ada doa yang begitu hebat menjalar sampai ke nadi. Selanjutnya biar suratan yang membawamu kembali kemari, kalau memang akulah yang paling tepat melengkapi, kalau kitalah yang ditunjuk Tuhan saling menggenapi.
Ya, setidaknya (dulu) aku tahu persis seberapa seluruhku merelakanmu meski dengan layuh-luyu.
Sudah ingat bagian yang itu? Sudah coba kau ubrak-abrik dengan jeli satu adegan yang singkat tetapi begitu lama untuk digentaskan. Bagimana kamu diam-diam menggandeng yang lain, betapa lihainya bermain petak-umpet denganku. Dan tidak hanya satu-dua kali kau meminta maafku, berkali-kali pula kumaafkan. Tapi bahkan maaf tak akan pernah sanggup mendaur ulang perasaan. Sekalipun maaf dibicarakan dengan air mata, tak pernah bisa mengubah satu babak yang telanjur usang.
Tidak, Sayang. Aku tidak sedang menukasmu dengan tuduhan lawas menyoal itu-itu saja. Masih juga perkara serupa. Masih sebab angka dua. Bukankah suatu kesalahan besar selama ini aku berusaha mensutradarai bilangan Tuhan? Membaginya dengan nomor ganjil. Memangkas habis semua upayamu mengganjar kesalahan di masa silam. Bukankah semestinya aku berhenti saja di putaran ini? Tapi ikhlas belum juga menemuiku seperti janjinya. Atau aku saja yang tidak menyadari ternyata ia sudah sering mencoba menyapaku tempo hari, tetapi aku terus menyangkalnya. Aku menepis, melempar, mendorongnya hingga jatuh berserak.
www.fasihrdn.tumblr.com
Tolong, jangan membacanya mentah-mentah. Ini bukan somasi untuk bersegera meminang, meski memang semestinya menyegerakan menghalalkan yang dibilang itu cinta. Tapi yang lebih mendalam dari semua itu adalah kesiapan. Coba uraikan per kata, terselip apa di balik biji di setiap kata. Sudahkah cawis menghalau curiga. Sudahkah katam saling pahami sampai ke tapak hati. Sudahkah tanggap menyeka air mata, atau sudahkah benar-benar satu-satunya di setiap detak detik bahkan di tempat yang paling redam diam dan tersembunyi. Sudah aku sajakah? Sudah kita sajakah?
Jingga tak pernah muncul lagi setelah Jogja kehilangan muara langit. Setelah air mata satu tahun yang lalu tak juga kembali pada sangkarnya. Senyum membeku di sudut bibir dan aku seperti memainkan peran ganda. Mencintaimu dengan luka yang mengendap senyap. Tak juga lenyap. Tak pernah bisa enyah. Justru semakin menganga, semakin meradangi gelap-terang jatuh menampar-nampar muka.
Betapa kerasnya aku mencoba melupa, tapi bulir-bulir keringat menolaknya. Memuntahkan seluruh isi kepala. Bisa kau bayangkan ia membusuk di setiap sekat tulangku. Pula kurasakan nyaringnya telingamu pada gaung jejas yang menggema. Kita sama-sama sedang butuh perekat yang lebih erat dari sebuah genggam. Tuhan.




250215~Apa tak bisa kita mulai saja kembali dari awal? Biar kubukakan lewat pintu yang lain. Biar kembali pada purnama yang baru. Seolah-olah tak pernah ada kita sedari dulu.

Published by

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *