Bisakah Kau Kembalikan Hatiku?

Dan aku tak sanggup menyelesaikan ini sendirian. Perasaan yang menggantung di sengal napasku. Aku tak tahu caranya menyelesaikan perasaan yang tumbuh begitu cepat. Pun aku tak mampu memeliharanya dengan tanganku sendiri. Bukankah butuh sentuhanmu juga?

Ah, sudahlah!
Ingin kuakhiri segera apa yang tak berprogres dengan baik. Ingin kuubah koma menjadi titik. Atau tanda tanya yang semakin sering jadi tanda baca dalam tulisanku, sebaiknya kuganti dengan tanda seru. Siapa bilang aku galau? Kalaupun begitu, bukankah tidak merebut jalur udaramu? Tidak merenggut arah pandangmu? Lalu, boleh-boleh saja kan kurasakan sendiri segala yang membangar makin sangar. Toh, apa pedulimu soal hatiku yang meruam kebiruan? Saking dinginnya melebam di dada.
Padahal sudah kuajak kau untuk berbalik badan dan membuang segala resah, tapi sepertinya kau malah suka melihatku dirundung gelisah. Sudah kuisyaratkan lukanya tak bisa kukendalikan, tapi kau justru senang menatapku yang makin sering kesakitan. Hanya itukah cara yang kau tahu untuk menjamuku, Tuan?
Sakit, kau tak pernah tahu, kau tak pernah mau tahu keadaan yang bersembunyi di balik punggungku. Yang serupa deret senyum itu menyamarkan air mata yang nyaris tumpah ruah. Betapa aku menahannya mati-matian. Bukankah sudah kubilang, aku baik-baik saja, meski tak digenggam siapapun juga?
Kubiarkan sakitnya menjalar sesuka hati. Biar aku saja yang menangis sendiri. Sebab aku tahu kau tak mungkin mau menangis bersamaku kan? Tak sudi mendengar rintih-pedih dalam lirihku. Katanya, memang lebih baik kujaga saja rasa yang tumbuh tak beraturan, meliar seperti ilalang. Biar tak semakin liar menjalang.
Sebaiknya kukembalikan milikmu, tapi, bisa kauputar roda waktu dan mengembalikan juga semuaku? Termasuk separuh hati yang tertawan pelan-pelan, menjadi rindu yang mengendap diam-diam, yang tertinggal di matamu dan tak mau lagi kembali padaku. Lalu, kukembalikan milikmu sampai habis tak tersisa.

www.fasihrr.tumblr.com
Lalu bagaimana mungkin aku menghapusmu jika tak kaubiarkan aku lepas dari ingatanku. Terus-menerus dalam medan magnetmu. Sedang kau bermain-main dengan arusmu, tanpa aku. Aku hanya bisa mengitarimu di sela semak belukar, terjatuh sendiri, bangkit lagi, lalu kautiupkan angin dari arah manapun yang kau mau, membuatku tersungkur lagi dan terus begitu kauulangi. Ah, lalu bagaimana bisa aku pergi jauh darimu sedang ada bagianmu menyelip disakuku. Ada yang bergetar-getar menggoda jemariku untuk meraba apa yang sebenarnya tak ingin kubaca. Tapi tetap saja membuatku terus meneliti dengan begitu hati-hati sampai ke ujung layar, ada siapa di dalamnya.
Bukankah lebih baik aku meletakkannya kembali digenggammu, biar kausimpan untuk yang lain. Biar tak lagi ada kamu dalam benakku. Biar tak bisa lagi kuingat namamu. Biar tak ada alasan untukku menunggumu.
09-10 Oktober 2013~Bukankah lebih bijak kauurus dulu hidupmu, baru kaumenawarkan diri untuk mangasuh hatiku? Meski jujur saja, tak bisa kubantah hatiku berbisik menginginkanmu.

9 comments

  1. kok ra ono iklan e ? hohoho XD

  2. Luar biasa.. keren..
    Ajari aku dong…

  3. bagus bgt…cair dan mengalir.salut

  4. Pecah…semua rasa terwakilkan kata kata

  5. Pecah…semua rasa terwakilkan kata kata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*