Bisakah Kau Menenangkan Hatiku?


Sebab gigiku gemeretak, jantungku dag-dig-dug lebih kencang, dan entah mengapa dadaku jadi begitu sesak….

Ada yang menyelingar dalam bahasa yang salah-kaprah. Aku dengan segala titik-koma dalam paragraf singkat yang terurai begitu panjang, melalui bibir yang terhalang gelap. Aku dengan suara-suara lain yang menyelinap lewat celah telingaku yang lain, atau aku dengan sengal napas yang terdengar begitu nyaring. Kau tahu sudah berapa lama aku tidak merasakan sakit singgah lalu menetap dan lama-lama mengendap? Kau tahu sudah berapa lama aku tidak merasakan apa yang kauberikan padaku saat ini, kau tahu….

Aku bahkan hampir lupa seperti apa rasanya galau, sebelum kaumasuki kehidupanku.

Bisa kau jelaskan, mengapa kau begitu mudah membuat perasaanku kacau? Aku takut rentetan kejadian yang tak terduga justru jadi katastrofe. Pernyataan rasa yang tak selaras dengan bicara. Apa ada cara lain untuk mencintaimu selain dengan menunggu? Kau biarkan jam dinding berdentang sampai fajar menjelang, dan mataku masih juga belum bisa terpejam. Menimang-nimang bayangmu yang terekam dalam benakku. Lalu sebagian hatiku yang lain berpretensi. Agaknya, aku mulai getas, merentik selira seperti semara. Ah, apa iya?


Kalau dengan mengenalmu, aku jauh lebih baik, lanjutkan. Atau kalau dengan berkawan denganku, kamu merasa jauh lebih baik, teruskan. Lalu bisakah kau membuatku lebih baik agar aku bisa terus mengenalmu lebih jauh? Dan atau sebaliknya. Apa mungkin kaumelihat apa yang kulihat? Kita.

Sebab banyak hal yang tak bisa kuungkap lewat suara. Hanya kata-kata yang mewakilinya. Pun itu tak seberapa. Aku percaya, semua terjadi atas kehendak Tuhan. Termasuk cinta yang memenuhi udara, lalu jatuh tepat di hatiku dan relungmu.

Tapi jangan sekali-kali menjadikan aku pilihan apalagi tempat persinggahan, atau tempat pelarian. Jadikan aku tujuan terakhirmu.

Jadikan aku orang yang paling rapuh saat bersamamu. Kau tahu? Jika aku bisa menjadi diriku yang paling lemah saat bersamamu, bukankah artinya kau begitu bisa kupercaya? Sebab ternyata, terkadang aku butuh waktu untuk melepas semua lelahku hanya dengan satu orang. Seseorang yang tak hanya memberi rasa aman tapi juga nyaman. Seseorang yang tak sekadar membuat pernyataan tapi juga pertanggungjawaban. Seseorang yang tak pernah berusaha mengubah aku menjadi diriku yang lain. Seseorang yang selalu membantuku untuk terus bergeser ke arah kanan.

Kamu?

Bisa kemari sebentar? Bisakah memeluk ketakutanku yang kian gemetar … Boleh aku mengeluhkan lelah yang menjarah seluruh dayaku? Atau merebahkan gundah di telingamu. Aku hanya ingin kamu mendengarnya. Bukan dengan telingamu, suaraku tak mungkin menggema melalui gendang telingamu. Tutup saja matamu, lalu rasakan rusukmu turun-naik. Mengembang lalu mengempis dengan sendirinya. 

Aku meminta Tuhan melindungi kau dan aku dari reruntuhan budaya. Deviasi yang sudah luwes dimainkan oleh anak muda. Seenaknya bertingkah, memberi acuan baru yang demagogis. Ah, atau bisakah kamu menolongku? Perkara hati yang gelisah tiba-tiba, mampukah kaumembuatnya tenang kembali seperti semula?


220913~Lalu aku tahu betul bahwa jika suatu waktu aku mencintaimu, itu hanya akan tersimpan rapi di hatiku. Semoga juga di hatimu.

Published by

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *