Tidak Ada Jogja Hari Ini (AADC 2 Syndrome)

Jogja terlalu bising untuk kusambati dengan kantung mata yang menebal, dan hitam ramai melukis garis senyumku. Membuat dua puluh seperti empat yang bergelantungan diujung telunjuk, tak mengenal lagi diksi. Tak ada lagi rima. Ia terlalu jauh untuk diseret duduk berdampingan, terlalu dingin untuk dinikmati dengan bicara. Diam pun tak isyarat lega.
Tidak kutemui Jogja merambah, kecuali marah yang diusung dengan ramah. Tanpa sepatu baru kita berjalan dengan batas. Antarruang; antarwaktu. Tak ada larik puisi yang dicicip sebelum matang, atau prosa yang tampak jadi begitu panjang untuk dikenang. Begitu segala mengambang, membayang dalam separuh wajah yang terlupa.
Hari ini tak lagi mampu menjadi Jogja. Terlalu asing untuk menjadi biasa. Canggung. Mungkin perlu jabat baru atau biarkan saja seperti tahun-tahun sebelum tidur masih bersetia pada bulan. Bias terik yang terlampau kencang untuk terhalau mendung petang. Ubahku tak mungkin membawa kembali Jogja, apakah kita bisa lagi menjadi lampu taman kota? Yang kini kedipnya saja surut diisap gemerlap kemacetan pendatang. Mengusir hening. Mengusir seluruhku. Sesal atas sadar, keterlambatan menaiki kereta menuju pulang.
Senyum khasmu terlalu dalam, aku tetap tak bisa lupa. Bila saja tak lagi ada Jogja, biar ia melebur menjadi kebahagiaan yang dilempar ke tempat lain. Bukankah kau pernah mengajariku untuk tabah menunggui ikhlas? Di sini, Jogja membawa kita berpapasan dalam suatu kebetulan yang disengaja Tuhan. Mungkin bukan untuk apa, tak akan menjadi siapa.
Salam,
Dari Yogyakarta,
Fasih Radiana.

Catatan Kenangan di Bawah Purnama

Bintang Jatuh di Mataku

Aku selalu suka dengan bulan
merayap dari balik bukit
yang samar-samar cahayanya terhalang dedaunan

Aku mengkhidmatinya;
suara angin yang mencuri sedikit kehangatan di wajahku
Aku menikmatinya;
semburat serbuk emas yang mengambang di atas awan
Berlarian, serupa kau yang jatuh tepat di mataku

Lalu di seberang mataku ada bintang
yang mekar sendirian
membelah separuh mega yang mulai petang

Sepanjang jalan yang muaranya adalah purnama
melambai-lambai di jariku
katanya, bahagia itu begitu sederhana
Sepanjang jalan yang muaranya adalah kamu
mengayun-ayun pada lembayung
aku tahu, jawabku
dalam hening yang berisik, diam yang berbisik

Sebab bulan mengikutiku, membuat bola mataku balik mengikutinya
Sebab bintang memperhatikan gerak tubuhku, menyambutku tersipu
Sebab kau menjagaku; melekati seluruhmu.

18 Oktober 2013, menjelang petang, menuju poktunggal beach

Dan aku belum pernah melakukan hal-hal yang lebih gila dari ini. Belum pernah selepas ini, seperti merpati yang keluar dari sangkarnya. Yang sudah pensiun mengirimkan surat cinta orang-orang zaman dulu. Bawalah pergi cintaku, ajak kemana kau mau … jadikan temanmu, temanmu paling kau cinta~ *nyanyi dulu*

Pernah merasa pekatnya penat menampar-nampar wajahmu? Merasa apapun yang kaulakukan adalah kehampaan yang hakiki, pernah? Dan aku tak pernah menemui jawaban atas kekosongan di dadaku. Yang tak pernah bertemu belahannya, separuhnya … hanya kesalahan-kesalahan atas nama cinta, hanya percikan api sementara lalu habis begitu saja di makan waktu. Apa mungkin kamu … bisa? Ah, nggak yakin, coba yakinkan!




Ada Aku di Jejakmu

Di jejakmu ada air gemericik yang berbisik
menggelitik jemariku untuk menuliskan semuamu

Di jejakmu aku mendengar nada
irama gelombang yang buncah
berkejaran gulung-gemulung
berdesir mengurai derai dalam damai

Di jejakmu ada suara-suara yang meronta
membuat kakiku ikut mengembara
menerjang beriak yang memecah karang
lalu tenang tertuang di garis pantai
aku terbuai.

Di jejakmu aku melihat tebing-tebing
dan angin yang membelai buih
mengantar ombak-ombak yang mulai lelah berkejaran
untuk pulang ke tepian
Di jejakmu pula aku …
mengikis semua pedih, menghapus semua letih

Dan di jejakmu aku membingkai pantai
merekam segala keindahan
tentang megahnya mega biru, langit dan laut berbaur satu padu
tentang serbuk pasir putih yang kumainkan di jemari
tentang cahaya kecil di ujung senja; menari-nari sendiri
tentang melodi-melodi yang kuresapi pada sunyi
tentang rembulan yang jadi penerang dini hari
tentang malam yang menjadi saksi; ada cinta yang mulai menampakkan diri

lalu pagi, dengan matahari kucipta puisi, 19 Oktober 2013


Cinta Sebelum Hari Ini

Bukankah sebelum hari ini kau bukan yang ramah menyapa? Bukankah sebelum hari ini kau bukan yang pandai memuji? Bukankah sebelum hari ini……..
Apa yang menarikmu datang kemari. Meraba abjad dalam kalimat. Mengubrak-abrik yang sudah kususun rapi. Bukankah sebelum hari ini aku berjanji, langkahku sudah berhenti mengikuti. Bukankah kau juga tahu itu, Sayang?
Lalu apa yang membuatmu mengumpulkan serpihan yang terluka? Seperti begitu bahagia membaca kesakitan seorang wanita.
Pekat bias dingin melengking membuat bibirku tak henti menggigil. Sengai menyenggak gemetar di dada. Aku tak sanggup berebut embun di pagi hari. Sisa-sisa suara tadi malam meraung-raung, menjalang lalu lalang di pikiran. Di lorong serupa kemarin kaumemungut belulang yang sengaja kubuang dalam petang. Bukankah sebelum hari ini kita bagian yang terasing? Bertarung di balik punggung.

Hay, strangers! Follow me @fasihrdn

Kau seperti mendesakku dalam ancaman mematikan. Menyandra cerita untuk kaunikmati majasnya. Membuka bingkisan dalam kiasan. Kaumemutari iringan yang kusembunyikan pada sebuah malam. Mengurai yang teruntai gemulai. Mengais-ngais rasa yang sudah menipis, kutepis dengan bengis. Padahal sebelum hari ini, bukankah seperti sengaja mengikis? Mengapa jadi seperti magis. Membuatku terkesiap tak siap bagaimana mesti bersikap. Tiba-tiba jadi lincah menyuarakan sederet rindu yang tumpah ruah.
Bukankah sebelum hari ini kita saling membuang tatap? Lalu sekarang aku dibuat gagap gelagapan, bisu mengantar sembilu. Bukankah sebelum hari ini aku menderu akan segera berlalu?
Beruntun Tuhan mendatangkan kejadian serupa keajaiban. Bukankah sebelum hari ini angin menjerit. Menukik sampai terik tak lagi berkutik. Dalam petang kaumenyusupkan kegaduhan. Dalam ruang yang terulang, tubuhku terguncang. Sejenak mengenang bimbang yang pernah kauselipkan diam-diam. Desah napas tersumbat, isyaratku disentuh saat tak lagi utuh. Bukankah sebelum hari ini engkau menebar jala api, untuk membakar yang mulai mengakar. Terpaut jarak terlampau jauh, lebih mudah untuk saling menuduh. Saling angkuh dalam gaduh. Berdebat dalam diam yang membunuh.
Bukankah jauh lebih nikmat mengikat lara? Kau dan aku mengudara, menancapkan gema yang menceritakan luka dalam butiran hujan. Bukankah sebelum hari ini kau meletakkan aku pada hujatan?
Menggertak ngeri, aku terperanjat dalam simpul belati. Merintih lirih berharap tak menggemakan ironi pada misteri yang makin mendaki, mencari tempat untuk bersembunyi. Gedebak-gedebuk jantungku sibuk berkecamuk. Berdegup mulai mengamuk. Rancau-kacau-balau. Bukankah sebelum senyummu melengkung, aku sudah tak lagi terkungkung?
Bukankah sebelum hari ini, aku sekedar menggambar tanpa sesumbar? Bukankah aku tak pernah bilang ingin membilang? Lalu kau tiba-tiba datang saat separuhnya sudah menghilang. Sudah kutebang agar tenang sendirian. Bukankah sebelum hari ini aku tak mau melanjutkan cinta terlarang? Cinta sebelum hari ini adalah luka esok hari. Atau luka sebelum hari ini ternyata cinta esok hari.
Siapa yang tahu terjadi apa esok pagi, lalu ada apa setelah hari ini?
120912~Kesakitan Seorang Wanita