Pergilah dari Jogja(ku)

more quote www.fasihrdn.tumblr.com | @fasihrdn
Mbak, barangkali kaulah mata pertama yang dapat mengartikan sekumpulan tulisan-tulisanku ini. Sebab kaulah yang paling tahu secarik kertas yang tak lagi suci ini kupersembahkan tanpa perangko tepat teruntuk dirimu yang masih juga lalu-lalang dalam jemariku. Surat-surat ini boleh dibaca siapapun. Kau pernah bilang, tidak suka aku menuliskan dirimu. Ah, siapa pula yang tahu yang kupanggili dengan sebutan “Mbak” adalah dirimu. Kini kutemui jawabannya. Kau begitu takut kekasih barumu tak sengaja menemukan abjad-abjadku menggantung di gemeretak giginya.
Mbak, hari Selasa, lewat tengah malam, kau nekat menghubungi seseorang yang dulu begitu kau cintai. Mungkin hati kecilmu pun masih merasakannya. Tahunanmu dengannya. Hanya karena kamu menemui kekasih barumu—yang ternyata berprofesi sebagai Angkatan Darat—mengonfirmasi permintaan pertemananku di salah satu jejaring sosial.

Boleh kudeskripsikan bagaimana ekspresi wajahmu, gelagat lakumu, sehingga kamu begitu kelimpungan dan “wadul” pada mantan lelakimu bahwa aku berkawan dengan kekasih barumu. Agar apa kiranya, Mbak? Padahal ia sudah lebih dulu tahu. Sebab aku tak pernah menyembunyikan apapun seperti kamu yang piawai bermain petak-umpet. Tapi tahukah bahwa akan ada satu titik pertemuan. Entah di dinding yang mana kamu akan ketahuan?
Lalu paginya kamu bertanya padaku. Apa yang harus kau lakukan agar aku berhenti mengusik hidupmu. Salahkah aku berteman baik dengan kekasih barumu seperti aku membolehkan kamu diam-diam “bersahabat” dengan mantan lelakimu dulu? Tidak. Kecuali kamu takut seluruh rahasia akan terbongkar begitu saja. Kamu salah besar jika berpikir aku akan banyak bicara demi membalaskan kesakitanku. Sebab Tuhan tak pernah mengizinkan aku untuk mendobrak apa yang telah kaususun dengan begitu rapi. Tuhan hanya membiarkan aku tahu. Cukup dengan itu.
Kujawab baik-baik pertanyaanmu. Aku ingin kamu pergi meninggalkan kotaku. Pergilah dari Jogjaku dan jangan pernah kembali meski satu detik saja. Pergi dan bawa seluruhmu. Atau perlukah aku mengadu pada Jogja agar ia sendiri yang akan membuatmu angkat kaki.
Tapi apa jawabanmu? Kamu tidak mau. Kamu tidak mampu.
Kalau begitu, bair waktu yang menentukan kapan semestinya kakimu tak lagi mampu berpijak seenaknya di sini, berkeliaran seperti milik sendiri. Biar ia yang memberitahu padamu, ada adat sekental apa di Jogja yang membesarkan tenang di puncak gunung sampai tepi lautnya.
Kuberi sedikit bocoran. Tak pernah ada “khianat” dalam langgamnya. Berhati-hatilah, berkawan dengan Jogja. Tentramnya hanya berlaku pada yang menenangkan.
Salam,
Dariku dan Jogja
12-14 Mei 2015

Surat Rahasia untuk Tuhan


Yogyakarta, 250415: 01.59
Allah. Semusim sudah semua yang dunia lemparkan di mukaku meluka. Semestinya sudah sembuh. Malah semakin parah. Seharusnya sudah tidak mengancam air mata meuncurkan diri. Malah menderas tiap kali, tanpa ingin kuingati. Wanita itu ternyata masih bersemayam membenamkan pundakku. Menenggelamkan kepalaku.

Tak bisa kusebutkan identitasnya dengan benar. Aku belum mampu mengungkap abjad-abjad lengkap yang menyusun namanya. Nciz. Entah, inspirasi dari mana, tapi begitulah pedengannya. Jangan bertanya siapa ia, bukannya aku tak bisa membeberkan secara rinci. Tapi tidak mau. Belum, barangkali. Kalau setiap pertanyaan selalu satu paket dengan jawaban, maka yang sanggup mempertemukan keduanya adalah waktu. Simpan dulu di kantongmu, seperti jabatan: semua ada tahapannya.

Nanti akan jatuh tempo giliranku mengagak-agihkan seluruhnya, dari ujung rambut sampai tepi kuku jemari kakinya. Bermula dari mana papilaku bisa mencecapi garis hidup wanita yang menyebut dirinya dengan, “Nyonya Besar”. Atau aku saja yang berlebihan menyebutkan titelnya.

Kalau kamu membaca tulisan—yang sudah mirip dengan manuskrip—sejarah ini, yang kau jejal di matamu barulah prolog. Mungkin jika huruf punya 26 abjad, ini baru satu tipe huruf “A”, padahal ada banyak jenis huruf “a”. Sedetil itu. Saking tekunnya aku meneliti renyutnya. Kalau yang lain berlomba-lomba dengan riset karya ilmiah, aku memilih menyelisik watak dari setiap gerigi ujung gigi yang tertata rapi. Saking seringnya, sampai-sampai aku hafal betul masing-masing batang tubuh punya kepiawaian sejak lahir untuk menggelapkan sisi yang mana dan menerangkan bagian yang apa. Secara kasatmata sama persis seperti guna shadding dan tintin—yang tak pernah absen di-request oleh wanita mutakhir abad ke-21 agar terlihat memiliki gagang hidung yang lebih menonjol seperti bule, atau tulang pipi yang lebih tinggi. Memainkan peran gelap dan terang demi tercapainya suatu keseimbangan dalam proporsi wajah yang bagi mereka banyak cacat di sana sini. Padahal justru jadi simbol kurang percaya diri. Mungkin, kurang percaya penciptanya, aku bilang mungkin. Tak terkecuali parasmu, lekukmu, lakumu, bahkan isi kepalamu yang kadang mondar-mandir atau beku, bahkan seringkali berjalan ke belakang, lama-lama hengkang.

www.fasihrdn.tumblr.com


Allah. Engkau Maha Tahu terdiri dari potongan apa saja yang sampai saat ini menguasai hati. Bukan hati yang  terletak dalam rongga perut sebelah kanan atau lebih tepatnya di bawah diafragma. Tapi serepih hati di dalam dada. Dalam ejaan arab ia bernama qalbu (khalbu), tapi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ia disebut dengan kalbu: pangkal perasaan batin; hati yang suci. Suci sendiri artinya adalah bersih; bebas dari cela; bebas dari noda; bebas dari dosa. Tapi Allah, aku bukan para nabi yang maksum. Bisa kiranya Kau toleransi kepayahanku dalam hal mengendalikan? Ah, Kau pastilah tenggang rasa atas kecengenganku dalam mewaspadainya: ia yang membawaku jatuh dalam kebobrokan iman. Plongah-plongoh menanggapi qada dan qadar.

Kalau kuhitung hanya dengan deret nomor bagian akhir menurut perhitungan matahari dalam penanggalan Anno Domini atau yang lazim disebut kalender Masehi, sudah bergeser dua digit. Atau boleh jadi, memang baru dua angka. Sederhananya, sejak tahun 2013. Dua tahun, kuulang, jika hanya kutaksir dari dua bilangan akhir. Tanpa bulan, tanpa tanggal. Iya, dua tahun, perlu berapa puluh kali kujabar dengan sabar. Kalau menyenangkan pastilah kuujar lebar-lebar dengan penegasan kata “baru”, bukannya “sudah”. Bisalah kau tebak-tebak sendiri, apa kiranya yang kurasakan selama dua tahun belakangan ini. Hidup yang menyedihkan. Seperti tanpa Tuhan. Sepi, senyap, seperti raga tanpa roh.

Aku sudah keluar orbit. Tanpa sadar. Atau pura-pura tidak sadar. Tidak lagi berotasi di jalur lintasan yang dibuat Tuhan sebagai acuan. Aku memecuti kudaku tanpa rute. Buta arah. Menyalahi Peraturan Baris-Berbaris, banjarku mencong sana-sini. Menjengul begitu saja dari shaf solat berjamaah di masjid sebelum salam terakhir. Bagaimana mungkin bisa terjadi revolusi mundur?

Bukankah jauh lebih terhormat menjadi mantan pembunuh berdarah dingin ketimbang mantan kyai besar yang diagung-agungkan? Tapi lihat baik-baik, jangan seperti aku. Lahir dengan kulit kuning langsat, lalu tumbuh dengan wajah kusam, nyaris pucat pasi. Mau berfoto dengan ekspresi apapun juga tetap tampak buruk rupa dalam lensa, lensa mata maupun kamera.

Kalau harus kurunut dengan cermat, tak kan habis kaupahami hanya dalam waktu satu-dua pekan, triwulan, caturwulan … bahkan sampai pancaroba membuat resistensimu melemahkan tubuh, mengeluarkan cairan lengket berwarna hijau—ingus—sekaligus meriang sambil batuk-batuk nyaris kanker paru-paru pun tetap saja tak akan katam. Bagaimana mungkin? Kujejaki bumi sejak 20 tahun silam dan mau kauselami hanya dalam semalam. Yang benar saja. Mungkin aku butuh kertas berlembar-lembar dan kau mesti berbetah-betah mengkhidmatinya. Atau aku perlu membuat novel sekuel seperti milik Dewi Lestari “Supernova” agar sampai diangkat ke layar lebar menandingi film fenomenal “Harry Potter”—seri satu sampai tujuh—mahakarya J.K. Rowling.

Allah. Maafkan hamba yang sudah berceletuk ngalor-ngidul tanpa alur sampai subuh membangunkan dengkur. Allah, aku sakit parah. Parahnya lagi aku justru ingin ada virus yang menyerang serebrum sampai masuk menggerogoti memoar yang semakin hari semakin tak pantas untuk diingati. Biar amnesia sekalian. Dan aku bebas dari kenangan. Kenangan inferior yang mutunya benar-benar rendahan. Persembahan dari nyonya besar untuk perjamuan (tiap) makan malam. 

Pantas saja aku selalu kekenyangan bahkan tanpa karbohidrat sehat semacam umbi-umbian.

Allah. Tubuh yang menyatu dengan tanah dan dahi beserta tujuh anggota lain yang menyentuh bumi jadi saksi. Bahwa aku memang nyata-nyata Kausayangi. Dan bertatap kata denganmu di satu pertiga menuju fajar adalah kesempatan yang tak pernah ingin kulewatkan. Aku tak perlu membeli perangko agar suratku sampai tepat waktu. Sebab surat ini akan Kaujawab lebih dulu dari surat lain yang diantar lewat kantor pos. Kumohon, percepat tenggatnya untuk melupakan nama yang justru lebih fasih kueja ketimbang namaku sendiri.

Hambamu yang penuh dosa,
Fasih Radiana

Biar Bukti yang Membangun Cinta

Lelehan air mata yang suka tiba-tiba menderas begitu saja adalah bukti bahwa luka itu masih juga menertawakan kepayahanku menerima takdir Tuhan. Mengikhlaskan satu masa yang direnggut tepian jingga, menggenangkan sisa hujan berbayang petang. Dan kesulitanku dalam memaafkan diri atas ingata-ingatan tentang satu ruang yang kauabaikan, yang kaudustai, yang sudah bisa disebut khianat oleh alam. Perlukah aku menceritakan ulang episode yang itu?
Baru saja, aku membaca tulisan panjang berjudul, “Aku Memilih Pergi karena Aku Mencintaimu.” Dan berhasil membuat bulu-kudukku merinding sembari gemeretak gigiku makin kacau. Pernah aku menyuruhmu pergi untuk kembali pada wanita yang sudah lama bermain-main takdir di hatimu. Jauh sebelum aku menemukan bola matamu kosong di remang purnama malam itu. (170913)
Aku sudah melipat-lipat kenangan dengan begitu rapi, tapi memoar memaksa diri untuk bermunculan keluar dari sarang, membobol besi-besi yang susah payah kupasang di setiap celah dengan parang. Sudah itu lalu aku bisa apa?
www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn

Itulah jawaban mengapa kala itu bukan aku yang meninggalkanmu hanya sebab aku merasa kau cabik-cabik harga dirinya dengan menyimpan dua nama di hatimu. Aku mempersilakan derapmu bepergian untuk menuju yang sehati-sejati, berlarian mencari sampai lelah sendiri. “Aku mencintaimu” hanyalah pernyataan simbol kepedulian tak terbatas. Patutkah aku menahanmu di sela-sela jemariku yang ternyata bagimu tak begitu pas untuk ukuran tanganmu. 
Saat itulah waktu yang tepat untuk mengajakmu memainkan puzzle. Kalau kamu terlalu lamban memutuskan maka aku berhak memberimu jangka waktu kan? Karena membiarkanmu memilih sendiri siapa yang akan kamu tuju di saat kamu semestinya menjaga kesucian janji justru seperti menggantung diri. Aku seperti sedang bunuh diri. Tapi aku sudi menanti keputusan yang sudah kutahui sahutannya sejak dini. Karena aku telah memastikan segalanya berputar sesuai poros. Akan ada penjelasan atas apa yang tidak bisa kuselesaikan sendiri. Ada Tuhan yang menggerakkan tangan, kaki, juga hati. Ada doa yang begitu hebat menjalar sampai ke nadi. Selanjutnya biar suratan yang membawamu kembali kemari, kalau memang akulah yang paling tepat melengkapi, kalau kitalah yang ditunjuk Tuhan saling menggenapi.
Ya, setidaknya (dulu) aku tahu persis seberapa seluruhku merelakanmu meski dengan layuh-luyu.
Sudah ingat bagian yang itu? Sudah coba kau ubrak-abrik dengan jeli satu adegan yang singkat tetapi begitu lama untuk digentaskan. Bagimana kamu diam-diam menggandeng yang lain, betapa lihainya bermain petak-umpet denganku. Dan tidak hanya satu-dua kali kau meminta maafku, berkali-kali pula kumaafkan. Tapi bahkan maaf tak akan pernah sanggup mendaur ulang perasaan. Sekalipun maaf dibicarakan dengan air mata, tak pernah bisa mengubah satu babak yang telanjur usang.
Tidak, Sayang. Aku tidak sedang menukasmu dengan tuduhan lawas menyoal itu-itu saja. Masih juga perkara serupa. Masih sebab angka dua. Bukankah suatu kesalahan besar selama ini aku berusaha mensutradarai bilangan Tuhan? Membaginya dengan nomor ganjil. Memangkas habis semua upayamu mengganjar kesalahan di masa silam. Bukankah semestinya aku berhenti saja di putaran ini? Tapi ikhlas belum juga menemuiku seperti janjinya. Atau aku saja yang tidak menyadari ternyata ia sudah sering mencoba menyapaku tempo hari, tetapi aku terus menyangkalnya. Aku menepis, melempar, mendorongnya hingga jatuh berserak.
www.fasihrdn.tumblr.com
Tolong, jangan membacanya mentah-mentah. Ini bukan somasi untuk bersegera meminang, meski memang semestinya menyegerakan menghalalkan yang dibilang itu cinta. Tapi yang lebih mendalam dari semua itu adalah kesiapan. Coba uraikan per kata, terselip apa di balik biji di setiap kata. Sudahkah cawis menghalau curiga. Sudahkah katam saling pahami sampai ke tapak hati. Sudahkah tanggap menyeka air mata, atau sudahkah benar-benar satu-satunya di setiap detak detik bahkan di tempat yang paling redam diam dan tersembunyi. Sudah aku sajakah? Sudah kita sajakah?
Jingga tak pernah muncul lagi setelah Jogja kehilangan muara langit. Setelah air mata satu tahun yang lalu tak juga kembali pada sangkarnya. Senyum membeku di sudut bibir dan aku seperti memainkan peran ganda. Mencintaimu dengan luka yang mengendap senyap. Tak juga lenyap. Tak pernah bisa enyah. Justru semakin menganga, semakin meradangi gelap-terang jatuh menampar-nampar muka.
Betapa kerasnya aku mencoba melupa, tapi bulir-bulir keringat menolaknya. Memuntahkan seluruh isi kepala. Bisa kau bayangkan ia membusuk di setiap sekat tulangku. Pula kurasakan nyaringnya telingamu pada gaung jejas yang menggema. Kita sama-sama sedang butuh perekat yang lebih erat dari sebuah genggam. Tuhan.




250215~Apa tak bisa kita mulai saja kembali dari awal? Biar kubukakan lewat pintu yang lain. Biar kembali pada purnama yang baru. Seolah-olah tak pernah ada kita sedari dulu.

Tak Ada Namamu dalam Tulisanku

Kupikir mudah melesapkan dusta dalam luka. Kurasa sebenarnya mudah saja segala kembali seperti semula, seperti sedia kala: waktu hujan bukan disebut-sebut sebagai bisik kenangan atau pelangi yang dianggap sebagai bias ingatan. Hanya terkadang aku menoleh, lalu mengangguk menyanggupi memoar menari-nari di perutku. Mendesak sampai ginjal berhenti melumat kunyahanku. Aku terbawa arus alir nadi, darah tak lagi bebas membersihkan diri. Aku kalap. Hilang sudah detak dalam jantung. Berubah jadi gemetar. Menubruk sampai sumsumku ambruk, pecah satu per satu segala tenang dalam dadaku. Aku hilang. Tak peduli kau sedang apa. Tak mau peduli kau sedang apa. Tak benar-benar peduli kita ini siapa.
Kupikir bukan hal rumit memaafkan ketidaktepatan jarum waktu mempertemukan kau dan aku. Kurasa sebenarnya tidak sulit menghitung kembali dari titik nol, bahkan bukan tidak mungkin kita menitinya melalui sepanjang garis minus.
Toh, kau dan aku telah lebur menjadi kita. Toh, semua luka sudah kita habisi bersama-sama. Dengan air mata lalu tawa yang kembali lagi menjadi cinta.

Perasaan itu begitu sederhana. Saking sederhananya, kau tak akan pernah sanggup menjabar dengan bukti yang berjejer-jejer sekalipun. Perasaan itu begitu sederhana. Sampai aku tak akan pernah mampu mengurainya, bahkan dengan abjad yang kuciptakan sendiri. 
Sesederhana ketidakingintahuanku pada alasan sebab mengapa aku seperti ruji yang terpasang melingkar begitu rapi pada roda yang terkadang membawanya terlalu cepat melaju, atau terlalu lamban bergerak, atau justru diam begitu saja di satu petak. Bahkan tak bisa ditolak oleh siapapun, perkara apa cinta tak pernah punah dibahasakan dengan ‘cinta’, mengapa tak bosan bicara menyoal cinta padahal jelas-jelas tahu tak ada satu orang pun yang akan mampu menemukan di mana batasan cinta, dengan cara apa sebenarnya hati menyusun perasaannya hingga ia bisa disebut dengan cinta.
Sesederhana sepanjang larik dalam lirikku, tak akan kau temui namamu di dalam barisnya, pada setiap kalimatnya. Tak akan kaubaca namamu dari ujung kata sampai titik menghabisi setiap baidnya. Tapi kau tahu, kau tahu semua ini teruntuk siapa.

Yogyakarta

Ah, Jogja. Hanya di kota ini aku bisa menuang rindu lewat sederet kata. Meski bukan kau yang jadi bahan bicaraku, tapi kau adalah tempatku pulang. Meski aku sangsi apa yang harus kuketikkan seluruhnya di sini agar bisa kaujamahi riwayatku. Atas apa yang belasan tahun suguhkan bersamaan dengan menuanya kotaku.

more quote www.fasihrdn.tumblr.com
Entah, Jogja yang mengenalkan aku padamu. Atau kau yang memperkenalkan padaku, siapa Jogja. Kota yang sudah berusia 258 tahun, tetapi selalu menyuguhkan cerita baru dalam memoar lawasku. Ah, seberapa dalam sebenarnya aku memahamimu? Adalah aku yang terlalu miskin bahasa. Tak punya banyak perbendaharaan kata. Bukankah kita lahir di bulan serupa? Oktober. Bukankah semestinya aku begitu dekat di seluruhmu, Jogja? Lalu ke mana sajakah aku selama ini? Aku yang terlalu angkuh, rapuh, atau tak acuh atas keberadaanku menapakimu belasan tahun….


Sayang, berapa lama kiranya kau menggandeng wanitamu untuk sampai ke kotaku? Lalu, boleh kutebak seberapa sering kamu mengucap puitis teruntuk dirinya (dulu) di sepanjang jalan Jogjaku? Sebaik apa kamu menghapal jalan-jalan tikus untuk sampai tujuanmu jika kotaku sedang dilanda macet, atau sebanyak apa tempat yang kausinggahi bersamanya hanya dalam kurun waktu beberapa tahun saja. Lalu aku masih diam di tempat. Aku masih mengurung diri di dalam jendela yang kubiarkan tirainya setengah terbuka. Sampai usang di makan rayap. Aku masih terus gagap.

Pernah kau mendengar dari bibirku, “Aku ingin pindah.” Lalu kau selalu mengulang tanya selagu “mengapa?”. Apa yang membuatku ingin pergi dari kota yang semua orang ingin singgah dan menetap berlama-lama menikmati keindahannya? Kau. Ya, kau membuat aku cemburu buta. Tanpa permisi membawa diri mengelilingi sudut kotaku. Bersamanya. Masih perlu kuulang kembali landasan apa kiranya yang paling sering membuat kakiku ingin segera lari dari kotaku sendiri? Sebab aku tak sudi menjejak di bekas tapak jemari lain.
tweet me @fasihrdn
Jogja, kau jadi saksi selain purnama. Tengadahku dalam doa dijemput seorang pria tanpa nama. Membawaku mencari satu rahasia yang tak juga terungkap keberadaannya. Benarkah ia yang sering kulupa seraut wajahnya menjadi penghubung antara aku dengannya? Pria tanpa rupa.
Jogja, beritahu aku isyarat Tuhan. Agar aku tak salah jalan menuju gang pemberhentian. Dan kau, beri aku pemahaman dari separuh kepercayaan yang belum jadi sebuah perjanjian. Untuk apa aku bertahan dan tetap menjadikan Jogja tempatku berpulang.
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgia
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu….

Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati

Kau bilang, aku gagal menjadi pemilik Jogja. Tentu saja, sebab kau jauh lebih dulu lancar menghapal ejaan hurufnya. Meski aku yang nyata-nyata lebih dini menjabat tangannya. Kau bilang, aku tidak berhasil menjadi bagian dari Jogja. Tentu saja, sebab kau lebih dulu mengelilinginya saat aku masih berusaha memutari diriku. Kini, ajak aku mengelilingi Jogja. Kubawa kau memasuki dirimu.

180814~Bila aku seistimewa Jogja, pelukanmu tentu senyaman ia: Yogyakarta.

Cermin(ku)



Boleh, aku bercerita sebelum kututup dengan catatan akhir tahun? Sedikit saja, soal hatiku yang terus saja mengeja kata rindu padahal setiap hari bertemu. Apa sebenarnya yang memikat darimu? Mungkin, aku tak butuh sesuatu yang membuatku terpikat, sebab berkali-kali kulihat, kulekati lakumu, aku selalu saja bertanya, apa seperti itu diriku?

Pernah aku tercenung sendiri, aku seperti penonton yang menunggu-nunggu tirai teateryang masih tertutup itu dibuka dan menyaksikan apa yang kunanti-nanti. Drama dengan ending yang memukau.
Dulu, ah, tidak, sering kali, aku membayangkan ada seseorang yang membawaku keliling Kota Yogyakarta. Sederhana saja, aku hanya ingin memutarinya bersama entah siapa. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu….

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku menginginkan ada seseorang yang mengajakku mencumbu alam. Menciumi embun yang jatuh membasahi dedaunan, memeluk udara dalam-dalam, merasakan betapa nikmat Tuhan begitu menyuguhkan ketenangan. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu….

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku mendambakan seseorang yang memberitahuku betapa dunia nyata begitu nikmat untuk kusantapi bersamanya. Bukan aku yang melulu pada maya. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu….

Dulu, ah, tidak, sering kali aku bertanya. Apa aku tak mau mencicipi rasanya menjadi wanita yang begitu takut kehilangan orang yang ia cintai? Apa betul, aku tak tertarik menjadi wanita yang selalu ingin tahu keadaan seseorang yang penting baginya? Apa hanya akan terus menjadi wanita yang acuh-tak-acuh pada cinta hanya sebab begitu mudah baginya menunjuk yang baru. Tapi yang lebih membuatku takut dan menuliskan satu tanda tanya besar : Apa tidak ada seseorang yang bisa membuatku merasa bergantung padanya, membutuhkan bantuannya untuk menelan rindu bersama, atau mengeja lelah lalu merebah di bahunya. Apa tak ada yang bisa membuatku merasa harus menjadi wanita seperti pada umumnya, bukan yang bisa melakukan segalanya dengan dirinya sendiri. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu….

Dulu, ah, tidak, sering kali aku berdoa menemui sosok seperti ayah dalam diri seseorang. Seseorang yang akan menggantikan peran ayah nantinya. Seseorang yang layak kuhormati, kuikuti jejaknya, kurapalkan doa-doa untuknya. Seseorang yang bisa menjadi siapapun dalam waktu apapun. Bukankah pasangan yang baik adalah yang bisa menjadi sahabat, guru, kekasih, dan bisa menempatkan diri dalam berbagai situasi. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu….

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku berkhayal bisa membelah diri. Lalu kupacari diriku sendiri, sebab tak pernah kujumpai jemari yang begitu pas kecuali jariku sendiri. Bukankah tak ada yang bisa memahami kita, kecuali kita sendiri? Bukankah sebaik-baik pendengar adalah telingamu sendiri? Jadi, aku ingin membersamai diriku sendiri. Aku yang begitu sulit dipahami, aku yang terlalu sibuk dengan duniaku sendiri, aku yang meletakkan harga diri di tingkat paling tinggi, aku yang katanya wanita tapi lebih sering mengisyaratkan hati dengan logika bukan perasaan, dan segalaku yang tak kan pernah bisa begitu mudah didalami. Jadi, kupikir, begitu mengasyikkan jika aku membersamai diriku sendiri. Kupikir tak kan pernah terjadi, sebelummu….

Menjadi seperti anak kecil itu mengasyikkan, bukan?
Mungkin, setiap tulisankuyang katanyamenjadi satu celah inspirasi bagi para pembaca setiaku, membuat sebagian orang berpikir ini-itu soal diriku. Tapi denganmu, seperti yang pernah kukatakan sebelum hari ini … biarkan aku menjadi diriku yang lain, yang hanya bisa kuubah saat sedang bersamamu. Aku yang terlihat angkuh, tapi ternyata begitu rapuh. Pola pikir yang bijak tapi ternyata begitu sulit memecahkan masalahnya sendiri. Langkahku yang begitu kokoh, tapi ternyata jejaknya begitu lelah. Senyum yang berjejer rapi tapi ternyata menawan tetes air mata di pipi. Semua itu, aku yakin terkadang kamu pun merasakannya. Dan jadilah apa yang kau mau di hadapku sebab aku tahu betapa lelahnya menjaga figurmu. Bersamaku, kamu bebas menjadi semaumu.
Setuju?
311213~Coba tanyakan lagi pada dirimu, Sayang. Mengapa aku begitu mudah memaklumi lakumu? Sebab aku pernah berada di posisimu. Sebab aku pernah menjadi semuamu. Aku pernah.

Kau; Jadilah Teman Hidupku

Apa berlebihan bila aku merindumu setiap waktu?

Baru sehari aku tanpamu, sudah merasa jadi orang yang paling awam soalmu. Jujur saja, aku justru takut jadi pecandumu. Aku begitu takut tak bersinggungan dengan pelukmu. Aku tahu, Aku betul-betu tahu sedalam apa aku jatuh di sudut hatimu. Di sana, aku tak bisa bertahan sendirian. Aku yang tiba-tiba jadi begitu lemah tanpa genggammu, aku yang jadi lelah bila melangkah tak di jejakmu.

Ternyata ada rindu yang datangnya setiap hari; ingin denganmu setiap waktu. Lalu dengan cara apa lagi melunasinya, sebab pun kuhabiskan seharian bersamamu tak juga membuat rindunya luruh dalam ruang yang sama. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa berjarak, sedang renjana mengutuk purnama bila tak terang di rengkuhku. Ah, lalu bagaimana caranya aku mengisi sepi saat diam-diam kau menggeser langkahmu menjauhiku. Untuk alasan apapun, Sayang … jangan menoleh ke arah manapun kecuali kembali menatapku.
www.fasihrr.tumblr.com

Pernahkah sejenak saja kau renungkan betapa aku gelisah menunggumu menjadi yang sah untuk kucintai sejak pagi sampai dini hari? Katamu dalam lirik lagu, kan kaujelang bahagia bersamaku. Tapi bisakah barang sebentar, kau coba yakinkan aku ketika ragu tiba-tiba mengganggu? Maukah memaklumiku yang sewaktu-waktu mengais-ngais masa lalumu, sebab terkadang ada luka menyayat-nyayat dadaku mengingat-ingat dirimu yang dulu.
Tak perlu berjanji untuk menetap di sisi. Aku sadar betul kau tetap manusia biasa. Kita hanya bisa berencana, selebihnya kuasa Tuhan yang berbicara. Aku sadar betul, berkali-kali kuingatkan pada hatiku untuk tidak terlalu bergantung di jarimu. Hanya saja ternyata sulit bagiku tak berada di dekatmu. Pun semisal jarak dibentang, lalu kita bersebrangan, jangan pernah jauhkan juga hatimu. Jadi, jangan pernah hentikan hal-hal kecil yang kau lakukan denganku. Sebab yang sederhana itu … awal mula dari “kita”.

111213 : 03.33 ~Aku masih mengingatnya; katamu, jangan pernah tinggalkan aku meski ternyata aku tak seperti yang kau mau. Sebab (jika pun) kecewa bukan alasan untuk meninggalkan, bukan?

PARANOID

Tentu, aku begitu takut tentang apa yang tidak kuketahui sebelumku. Atau sesudah kita nantinya. Andai saja, cinta tak pernah mampir kemari, mungkin saja tak ‘kan ada ketakutan yang bermunculan. Menekan-nekan hatiku. Sungguh, saat ini aku merasakan kau remat-remat hatiku dengan tangan orang lain. Sungguh, saat ini aku sedang menahan-nahan dan mengendalikan diri dari sakit yang tak bisa kumungkiri.
Jadi, sebenarnya apa yang kau mau dari perempuan sepertiku, Tuan?
Kalau luka, aku sudah melumatnya. Kalau cinta, aku sudah jatuh di dalamnya. Apalagi? Aku hanya berusaha meredam apa yang semestinya tidak perlu kutakutkan. Tapi, toh, nyatanya perasaan itu terus saja melingkari pikiran. Berjalan-jalan merayap di atap-atap hati, membawa jarum yang begitu runcing. Tusukkan di jantungku, Sayang. Hancurkan aku sekalian!
Mungkin bukan kamu pelakunya, tapi kamu terlibat di dalamnya. Kamu tokoh utamanya kan? Mengapa tak kauakhiri dulu kisahmu yang dulu, baru kau memulainya denganku. Mengapa tak kau katakan padanya tentang hatimu baru kaunyatakan perasaanmu padaku? Mengapa menciptakan garis-garis yang meretak dalam luka sukma….

Coba tanyakan lagi pada hatimu, Tuan. Mungkinkah masih terselip masamu yang lalu? Coba rasakan kembali dalam hatimu, adakah kau ingin memutari kembali hatimu yang dulu-dulu? Kalau iya, katakan padaku, Tuan. Sekarang juga, sebab semakin kautunda maka aku akan semakin terluka. Atau mungkin kau memang sengaja melakukannya? Sungguh, pun begitu, aku tak ‘kan marah, tak akan jengah menghadapi remahmu. Tak ‘kan pulang hanya karena itu. Meski aku harus menangisi diriku, aku tak mungkin menyalahkan waktu. Tak mungkin menyalahkan pertemuan itu. Sebab kau dan aku tak pernah berencana berada dalam satu titik temu.

Lalu kamu, yang mengakui mencintai Tuanku. Masih mengharapkannya kembali padamu?
Kalau alasannya adalah waktu, aku kalah telak, kau mengenalnya lebih dulu. Tanpa perlu kau umbar pun aku tentu sudah tahu lebih dulu bahwa kamu sudah banyak melewati pahit-manis bersamanya. Sungguh, tak perlu kautuliskan dalam lini waktumu. Aku sudah bisa mengiranya, kau memang lebih dulu mendapatkan semua sebelum seluruhku. Kalau biar luka mencabik-cabik kalbu, sudah. Kau berhasil membuatku merasa kesakitannya bertumbuh berkali lipat mengerat air mataku. Iya, aku jelas terluka membaca kalimat-kalimatmu. Iya, aku jelas bukan apa-apa bila dibandingkan dengan kamu.  Tapi tak mungkin membuat perasaan yang tak pernah kuminta memenuhi nebulaku habis begitu saja.
Kalau kau merasa mampu, kau bisa mengajaknya kembali denganmu. Kalau ia merasa lebih bahagia, lakukan saja selagi aku belum absah menjadi miliknya.
031113~Ini hanya ketakutan seorang wanita yang sudah diambil hatinya lalu disakiti begitu enaknya … Berlebihankah? Dan sebenarnya aku tak pernah berhenti sampai di sini, pun nantinya kau berakhir dengannya aku tak kan menyesal pernah membagi waktu denganmu.

Jejak Rekam Bulan Oktober

Sebenernya nggak bisa nulis apa-apa lagi … sudah terekam dalam pikiran dan hati, sudah melekat dan membuat segala abjad membeku di sangkarnya. Oktober; selalu jadi bulan yang kunanti-nanti. Bukan sebab ada satu tanggal istimewa dalam hidupku. Tapi karena aku memang selalu berharap Oktober jadi pengikat waktu yang haru. Dan 2013 menyuguhiku Oktober yang begitu sempurna….
5-6 Oktober 2013 (Sabtu, 5 Oktober 2013 – Bintang jatuh, Merbabu Mount)
Untuk pertama kalinya aku menapaki jalan mendaki dalam denotasi. Untuk pertama kalinya aku benar-benar melakukan apa yang pernah jadi keinginan. Untuk pertama kalinya aku merasakan alam memelukku begitu erat, begitu dekat. Untuk pertama kalinya, menjadi awal mula Oktober membuatku jatuh cinta padanya. Oktober yang diam-diam memberiku satu kecupan yang menenangkan. Meski aku tak punya cinta di dunia nyata. Meski aku terusik olehnya; hati-hati lain yang menggema, memekak di telinga. Aku masih bisa mengingatnya, aku sempat terluka di sana. Tapi di titik itu pula, aku merasa Tuhan menghadirkan satu masa yang berbeda. Menghela napas panjang, lalu meniupkan semua resah di atas awan. Membiarkannya berubah jadi embun yang membawa bahagia. Merbabu.
18-19 Oktober 2013 (Jum’at, 18 Oktober 2013; 23:58 – Purnama, Poktunggal Beach)
Lalu hari-hari sebelum ini … ada yang menelusup ingin menetap di sela-sela hati. Tapi kubiarkan beterbangan, kubiarkan dulu sampai tepat waktu. Dan (lagi), untuk pertama kalinya aku bermalam di tepi pantai. Berbaur dengan garis cakrawala. Menikmati desir ombak di bawah purnama, memaknai angin malam sampai datang fajar dini hari. Ada petikan nada yang mendawai sampai ke hati. Ada lagu-lagu yang membuatku rindu cahaya terang padahal malam semestinya semakin petang. Aku yang merebahkan lelah tepat di bawah langit jingga yang tercipta dari semburat emas mahkota bulan, memandangi ujung langit yang ternyata tak punya tepian. Meresapi air garam yang jadi begitu manis saat menyentuh jemari kakiku. Melintasi tebing curam dan merekam segala kejadian di sana. Menghembuskan napas panjang, lalu kali ini kumainkan senyum kecil isyarat denganmu aku tenang. Betapa tanpa sebuah genggam pun aku merasa lekat di jarimu. Gulungan ombak yang menghanyutkan satu tempat untuk berpijak. Kau tahu mengapa mesti hilang terbawa arus? Sebab kau tak perlu keduanya, bukankah sudah kautemukan agar jadi sepasang? Seperti gunung, pantai jadi daratan yang penuh kenangan. Poktunggal.


23-26 Oktober 2013 (Sabtu, 26 Oktober 2013 – Kurangkum jadi satu; Personal Blog)
23 Oktober 2013
Ada sebaris senyum yang berjejer lalu berganti tawa renyah setelah tatap yang saling mengikat. Ada suara-suara dalam baid puisi yang jadi latar tempatku bercerita. Lalu sesekali jadi hening, mungkin, aku bilang mungkin, terlintas tahunan yang lalu. Saat melakukan hal yang serupa, mungkin. Ah, kubuang jauh-jauh ia dalam kenanganmu. Kubantu hapuskan ia dari lini waktumu. Tak seberapa, pikiran itu hanya seperti ruang kecil yang kadang saja mencuri bunga khayalku. Kulanjutkan lagi mendengar kepayahanmu yang membuatku candu, yang sering jadi sebab pilu di hatiku. Sebab aku—yang terbiasa melakukan segalanya sendiri sejak dulu, bahkan meski saat ada yang selalu siap menolongku—sekarang, jadi tak mau lagi melakukan apapun jika tanpamu. Dasar, payah.
Jadi, ada apa lagi setelah hari ini? Selalu ada cerita dalam petak. Meski ada kisah yang pernah dilewati sebelum aku, sebelum kamu. Sebelum Oktober memelukku. Kupikir, sebaiknya bersamalah ia yang tak membuatmu menjadi dirimu yang lain. Jadilah kamu yang seperti itu, yang begitu saja….
Tentu saja, aku ketakutan setengah mati. Memulai bukan keahlianku. Tapi mengakhiri jadi sesuatu yang begitu lumrah keluar dari bibirku. Entah, aku yang salah atau hanya belum bertemu dengan yang sejati saja. Jadi, bagaimana mungkin aku tidak takut kalau-kalau semua hanya jadi luka. Jadi linglung saat semua kautanyakan padaku, harus kujawab dengan kalimat yang seperti apa. Tapi percayalah, siapa yang tak lelah terus-terusan ditemukan lalu dipisahkan kembali. Bisa, biarkan aku berhenti di sini saja? Aku juga bicara pada Tuhan, tolong, kakiku sudah tak bisa lagi mengikuti jejak-jejak yang tak bisa membuatku tenang. Sudah enggan menuliskan cinta baru, sudah tak ingin menyusun puisi dalam baid-baid yang selalu baru. Sudah cukup, akhiri sampai di sini saja, ya, Tuhan? Sebab sudah kudapati tenang dalam terang. Sudah enggan menggantinya dengan satuan lain. Sudah lelah bila harus menjalaninya dengan yang lain. Sudah kadung jatuh dan kubiarkan ia yang mengulurkan tangan dan membantuku berdiri. Tapi, aku membutuhkan satu restu dari-Mu. Kau pasti sudah hafal betul, berapa kali aku bilang ingin yang terakhir. Tapi selalu ada jarak dalam setiap jengkal, membuatku terjungkal. Jangan lagi, kali ini.
Bukankah ketika “cukup” kujadikan patokan maka segalanya bisa dibilang lengkap? Bukankah Kau melihatnya, ia memenuhi segalaku. Bukankah Kau pula yang membawakumalam itumenuju tempat yang tak pernah kurencanakan untuk kudatangi? Lalu terjadi pertemuan yang tak pernah kubayangkan, tak pernah ingin kutemui sebelumnya. Dan bukankah semestinya aku berhenti mencipta sajak kosong dalam maya….
Jadi? Bismillah saja, ya 🙂
25 Oktober 2013 – saat matahari terbit

Lalu kamu datang dengan membawa apa yang pernah terbesit dalam benakku. Sudah beberapa kali, aku berbicara begitu lirih di dalam hati, Tuhan seperti mengirimkan pesan untukmu lalu kamu datang kepadaku dengan apa yang kubisikkan di telingaku sendiri.

Wherever You Are – One Ok Rock

I’m telling you
I softly whisper
Tonight tonight
You are my angel
Tonight tonight

I just say…
Aishiteru yo
Futari wa hitotsu ni
Tonight … tonight…
I just say…

Wherever you are, I always make you smile
Wherever you are, I’m always by your side
Whatever you say, kimi wo omou kimochi
I promise you “forever” right now~

Sekali lagi, mungkin memang perlu berkali-kali kuulangi. Kumohon jadilah yang terakhir, jangan pernah biarkan semua cerita berakhir.

261013~Dan Oktober; sanggupkah membuatku bahagia selamanya? 

Salam,
Fasih Radiana

Bisakah Kau Menenangkan Hatiku?


Sebab gigiku gemeretak, jantungku dag-dig-dug lebih kencang, dan entah mengapa dadaku jadi begitu sesak….

Ada yang menyelingar dalam bahasa yang salah-kaprah. Aku dengan segala titik-koma dalam paragraf singkat yang terurai begitu panjang, melalui bibir yang terhalang gelap. Aku dengan suara-suara lain yang menyelinap lewat celah telingaku yang lain, atau aku dengan sengal napas yang terdengar begitu nyaring. Kau tahu sudah berapa lama aku tidak merasakan sakit singgah lalu menetap dan lama-lama mengendap? Kau tahu sudah berapa lama aku tidak merasakan apa yang kauberikan padaku saat ini, kau tahu….

Aku bahkan hampir lupa seperti apa rasanya galau, sebelum kaumasuki kehidupanku.

Bisa kau jelaskan, mengapa kau begitu mudah membuat perasaanku kacau? Aku takut rentetan kejadian yang tak terduga justru jadi katastrofe. Pernyataan rasa yang tak selaras dengan bicara. Apa ada cara lain untuk mencintaimu selain dengan menunggu? Kau biarkan jam dinding berdentang sampai fajar menjelang, dan mataku masih juga belum bisa terpejam. Menimang-nimang bayangmu yang terekam dalam benakku. Lalu sebagian hatiku yang lain berpretensi. Agaknya, aku mulai getas, merentik selira seperti semara. Ah, apa iya?


Kalau dengan mengenalmu, aku jauh lebih baik, lanjutkan. Atau kalau dengan berkawan denganku, kamu merasa jauh lebih baik, teruskan. Lalu bisakah kau membuatku lebih baik agar aku bisa terus mengenalmu lebih jauh? Dan atau sebaliknya. Apa mungkin kaumelihat apa yang kulihat? Kita.

Sebab banyak hal yang tak bisa kuungkap lewat suara. Hanya kata-kata yang mewakilinya. Pun itu tak seberapa. Aku percaya, semua terjadi atas kehendak Tuhan. Termasuk cinta yang memenuhi udara, lalu jatuh tepat di hatiku dan relungmu.

Tapi jangan sekali-kali menjadikan aku pilihan apalagi tempat persinggahan, atau tempat pelarian. Jadikan aku tujuan terakhirmu.

Jadikan aku orang yang paling rapuh saat bersamamu. Kau tahu? Jika aku bisa menjadi diriku yang paling lemah saat bersamamu, bukankah artinya kau begitu bisa kupercaya? Sebab ternyata, terkadang aku butuh waktu untuk melepas semua lelahku hanya dengan satu orang. Seseorang yang tak hanya memberi rasa aman tapi juga nyaman. Seseorang yang tak sekadar membuat pernyataan tapi juga pertanggungjawaban. Seseorang yang tak pernah berusaha mengubah aku menjadi diriku yang lain. Seseorang yang selalu membantuku untuk terus bergeser ke arah kanan.

Kamu?

Bisa kemari sebentar? Bisakah memeluk ketakutanku yang kian gemetar … Boleh aku mengeluhkan lelah yang menjarah seluruh dayaku? Atau merebahkan gundah di telingamu. Aku hanya ingin kamu mendengarnya. Bukan dengan telingamu, suaraku tak mungkin menggema melalui gendang telingamu. Tutup saja matamu, lalu rasakan rusukmu turun-naik. Mengembang lalu mengempis dengan sendirinya. 

Aku meminta Tuhan melindungi kau dan aku dari reruntuhan budaya. Deviasi yang sudah luwes dimainkan oleh anak muda. Seenaknya bertingkah, memberi acuan baru yang demagogis. Ah, atau bisakah kamu menolongku? Perkara hati yang gelisah tiba-tiba, mampukah kaumembuatnya tenang kembali seperti semula?


220913~Lalu aku tahu betul bahwa jika suatu waktu aku mencintaimu, itu hanya akan tersimpan rapi di hatiku. Semoga juga di hatimu.