Cinta, Tunggulah Sebentar Lagi

Cinta. Aku tahu kau sudah bosan melumatnya. Membaca kalimat yang itu-itu saja. Tapi mereka yang membenci cinta hanya ada dua alasan yang masuk akal: Ia tak pernah merasakan cinta, atau ia terlalu sering merasakannya. Dan aku tak perlu tahu kau termasuk yang mana.

Cinta. Kau mungkin sedang jatuh di dalamnya. Mungkin juga baru saja dipatahkan olehnya. Kita tak pernah tahu kapan rasa itu bermula, tak pernah mengira di mana bertemu, dan bagaimana bisa begitu cepat tumbuh dan merangsuk makin dalam. Kita tak pernah diberitahu, kita tak pernah diberi peringatan untuk menamainya cinta.

Cinta. Itukah kamu? Itukah kamu yang kupandangi dari jauh. Itukah kamu yang kudengar padahal kau tak berbicara apa-apa. Itukah kamu yang aku tak tahu seperti apa bentuknya. Itukah kamu yang akan jadi jawaban dari segala tanda tanya?

follow me @fasihrdn

Cinta. Aku tak pernah berani menyebut apa yang menggelitik ini dengan sebutan sakral. Kita hanya bisa merasakan tanpa perlu pernyataan. Rindu yang tentu saja teruntuk kamu, apa perlu kuyakinkan kembali?

 Aku bahkan tak punya cukup nyali untuk memberi kabar tentang hatiku yang selalu berharap kaulah orangnya. Yang kehilangan separuh rusuk dan ternyata akulah pelakunya. Akulah yang hilang selama ini dari tubuhmu; yang sampai detik ini tak kutahu berada di mana.

Cinta. Ingin kukutuk kau yang membuatku begitu lama menunggu. Ingin kuamuk kau yang membuatku tetap saja menunggu meski sudah dirundung kantuk. Ingin kucambuk kau yang membuatku harus puas hanya dengan mengajuk. Kau tak tahu kan betapa lama aku terantung-antung?

Cinta. Mungkin saat ini kita hanya saling diam, biarkan saja bahasa yang bersuara. Sebab kau dan aku tak punya hak untuk mengabarkan yang masih sama-sama baru jadi pengharapan. Aku tetap memilih untuk sendiri sebab tak ingin kau tersakiti atau menyiksa diri. Kalau-kalau ternyata kita salah menilai situasi. Kalau-kalau ternyata kita salah naluri.

Cinta. Tak perlu buru-buru kemari. Tak usah memaksa diri datang ke sini. Aku tetap menanti sampai alam pun ikut jadi saksi; kau dan aku yang mengucap janji dalam akad suci. Mungkin, suatu saat nanti.

“Apa perlu kau tanyakan untuk siapa aku menunggu?” –  Fasih Radiana

Kepada Hati; Bersabarlah Menanti


Apa tak ingin kau tanyakan, mengapa jatuh cintaku kali ini tak menghias sembilu? Tak tampak seantusias biasanya? Sebab aku enggan membangatkan apa yang belum jadi keputusan Tuhan.

Apa tak bisa kau dengar? Dung, degung, dekung, debung suara jantungku. Apa tak berdesing di telingamu? Cungap-cangip mulutku mengap-mengap. Lagi-lagi untuk menahan yang bercadung makin dalam. Semakin dalam….

Tapi bukankah sebaiknya kita tetap dalam keadaan diam? Sampai belambang mengikat kuat. Tak perlu mengungkat perkara; soal kau dan aku yang sama-sama sedang jatuh pada satu peraduan. Sebab barangkali, Tuhan sedang menguji kesabaran kan?

follow me @fasihrdn

Aku tahu kau tak akan mengasungku; menghasut mengikuti galur lekukmu yang mungkin saja kuikuti kemana pun arahmu melaju. Tapi kau tak kan mengunggut sesuatu yang belum boleh kau pungut bukan? Aku tahu betul kau bukan semacam cecunguk yang liar bermain tanpa aturan Tuhan. Dalam cinta, ada juga tahapan alur dan tatanannya. Semestinya kau dan aku tahu itu.




Kau pasti sudah bisa menyimpulkan kita. Yang seperti berungkuran; saling membelakangi. Bukan karena enggan mengikat janji lebih dini. Hanya tak ingin mendahului secarik kertas yang masih belum kita temui; sebut saja dia takdir.

Kalau kata mereka—sepasang kekasih yang sedang dicumbu asmara—pengorbanan adalah tanda cinta, mungkin penantian panjang termasuk di dalamnya. Pun begitu caraku menyimpan cinta dalam temperatur sewajarnya. Begitu pula bagimu dan aku yang ingin menjadi kita. Menunggu sampai waktu, aku, dan kamu berada dalam satu garis lurus. Kita ini hanya manusia yang bisa berupaya bukan?

Pun semestinya kau juga percaya, semakin panjang jarak yang menghalangi suatu pertemuan maka semakin dalam potensi cinta yang dimiliki. Sebab semakin lebar satuan jarak memisahkan, kita yang saling ingin mempertahankan akan menguatkan lagi cintanya. Dengan rindu yang dititipkan lewat Tuhan, misalnya. Begitu kita menyimpan cinta yang sepatutnya. Itu pula sebab tak terjadi guratan luka seperti yang lumrah dirasa anak muda.

Kita ini seperti alung yang dilempar ke laut lepas. Mencari tempat pemberhentian paling pas. Boleh jadi, kan kita temui masing-masing di sana. Di tempat pertama kita saling bertatap muka; saat waktu belum memperkenalkan kau dan aku. Saat kita masih jadi sesuatu yang asing.


220413~Kepada hati yang kita belum tahu kan bermuara di mana, kita hanya sama-sama bisa berusaha bukan?

Rindu Hujan Masa Kecil

Siapa yang tidak merindukan dirinya di waktu lalu? Membuka lembaran-lembaran yang usang penuh dengan tawa lepas dari seorang anak kecil. Melihat dirinya bermain-main dengan hujan, menari di bawah guyuran hujan. Aku selalu suka dengan hujan. Ayah selalu mengajakku menunggu pelangi datang setelah hujan.


         “Aaaaaa aaaaa! Aaaaaa!” Aku berteriak-teriak saat Ayah menyiprati air hujan ke muka polosku.

Lalu Ibu menyiapkan teh hangat dan pisang goreng yang selalu kumakan dengan olesan madu. Kata Ibu, begitu caranya makan pisang goreng yang enak. Tadinya kupikir rasanya akan aneh, tapi setelah Ibu menyuapiku, aku jadi ketagihan dan terus meminta digorengkan pisang setiap hujan turun. Jingga memang tak ada habisnya untuk diceritakan. Selalu menyelipkan tawa renyah seorang bocah.

follow me @fasihrdn
Aku membuka lembar berikutnya, ada wajah lugu yang memamerkan deretan giginya yang rapi dengan dua pita di rambutnya. Memakai rok bewarna merah kesukaannya. Rok yang hanya ia gunakan di saat-saat tertentu saja. Katanya, kalau memakai baju harus urut dari yang paling jelek sampai yang paling bagus. Sampai akhirnya rok dengan pita-pita di bagian depan itu selalu tertindih baju-baju yang lain. Jadi lupa untuk dipakai. Aku tersenyum konyol, mengingat pikiran anak kecil memang sederhana.



Aku rindu hujan masa kecil, saat semua yang kutertawakan hanya badut-badut yang memainkan bola-bola di tangannya. Saat yang kutangisi hanya karena tidak dibelikan permen atau boneka. Saat semua yang lalu-lalang di benak hanya sesuatu yang sederhana. Bukan hal-hal yang perlu menyeka air mata lebih dalam, atau luka yang ditorehkan dengan sengaja. Aku selalu suka hujan masa kecil, saat aku berlarian di bawahnya lalu beringsut kaget saat petir menyambar-nyambar. Bukan hujan yang merintik pelan dengan hujatan masa kini. Atau hujan dengan tiupan angin yang begitu kencang, membawa luka yang mengendap di sekujur tubuh; meliarkan air mata yang tak ada habisnya. Sebab kehidupan ternyata jauh lebih kejam ketika aku tahu banyak hal.


Itu alasan mengapa aku tidak mau menjadi besar. Aku hanya ingin melakoni kehidupan anak kecil yang begitu jujur. Bermain karena ingin, tersenyum karena ingin, tertawa karena  ingin … saat semua terasa begitu mudah untuk dilangkahi. Saat yang ia tahu di dunia ini hanya ada orang-orang yang selalu menyayangi, bukan membenci.

Sebab terkadang yang paling membahagiakan memang ketika seseorang tidak tahu apa-apa.

250413 – Jogja, kota yang penuh kehangatan sebelum preman-preman menyerang. #loh #nggak #nyambung :p

Di Balik Topeng


Ternyata kamu palsu. Aku baru tahu, perasaan yang selama ini mengendap di tubuhku; akibat pelukmu. Ternyata semua yang merdu itu semu. Kamu tidak lebih dari sekadar khayal dalam bunga tidurku.
Kamu bukan yang ingin bertahan dalam dekapan. Kamu hanya sekadar kalimat dalam bualan. Membuatku bimbang sendirian. Aku pikir, ini cerita tentang kita. Aku kira kita adalah bagian dari kisahmu juga. Ternyata kamu sama hebatnya dengan sembarang lelaki; tak lebih dari imajinasi. Mengembangkan puisi menjadi prosa, seolah-olah cinta yang kau tawar adalah yang paling dalam maknanya. Padahal di balik kalmatmu ternyata ilusi belaka.
“Aku masih ingin di sini,” katamu sambil mengecup ujung kepalaku.
Aku diam tak mau berbahasa, sudah bosan dengar lidahmu menjulurkan kata-kata yang sama. Aku sudah bisa menebak kalimat setelahnya.
“Tapi waktu bukan lagi milik kita.”
Aku masih diam. Tak perlu banyak bicara; menikmati guyuran hujan yang merintik pelan. Aroma humus mengendus, membuatku mengembuskan napas panjang. Mencoba menenangkan diri saat masih dalam genggamanmu. Sebab sebarapa kuat jemari mengerat di sela jarimu, kamu tetap akan meninggalkanku juga.
“Mengapa hanya diam?” Tanyamu dengan raut kebingungan.
Seketika resah bergelayutan, melahirkan pertanyaan yang berlainan. Mengapa tak coba kamu jelaskan tentang rencana yang mungkin saja kamu sembunyikan. Aku yakin, kamu paham betul isi di hatiku. Sudah lama mengeja huruf-huruf yang menggantung di dalamnya. Sudah hafal keluh kesahku, tahu benar bagaimana caraku menahanmu setiap malam. Agar kamu tetap tinggal di sini; menenangkan riuh pikiranku.
“Kamu baik-baik saja, kan?” Tanyamu lagi dengan genggaman yang lebih erat.
Apa katamu? Baik-baik saja? Tentu saja akan selalu begitu sampai kau berlalu. Di hadapanmu saja aku bisa merasa tidak pernah ada luka di antaranya. Di antara aku dan kamu yang bagimu tak akan pernah menjadi kita. Tapi selalu kau teruskan dengan cinta yang makin dalam; keterlaluan. Bagiku kamu lebih bejat dari binatang jalang, hanya saja kamu mengemasnya dengan rapi; celah keburukan yang tak tampak kasatmata. Atau perasaanku saja yang berlebihan?


Aku tersenyum, menatap matamu lekat-lekat. Tanpa bisa kamu lihat keadaan di baliknya; retakan panjang di setiap rusuknya. Senyumku makin lebar berjajar, padahal susah payah aku menahan gemetar di dadaku. Sakitnya menjalar merambat ke celah-celah bibirku yang mulai pecah-pecah. Aku masih membariskan senyum paling rekah; biar lelahmu tak berubah jadi gundah. Sebab seberapa dalam luka yang kautoreh tepat di jantungku, aku tetap akan yang paling sering menjaga hatimu.
Kamu membaringkan tubuh jangkungmu, meluruskan tulang yang sepertinya sudah mulai bengkok. Wajah tampan yang dipermanis dengan tahi lalat di ujung hidungmu tampak makin memesona, sebegitu lamakah aku tak bisa meraba air mukamu? Aku tak mau mengganggu lelahmu dengan kegelisahan yang makin ramai menyelap jantungku. Lebih baik kupendam saja, daripada harus menambah lagi beban yang sepertinya makin menumpuk di pundakmu. Aku takut kamu tak kembali lagi setelah pergi berhari-hari. Aku jauh lebih takut kamu pergi lagi dan tak mau kembali. Itu sebab mengapa kubiarkan kamu memperlakukanku sesuka hatimu. Tak peduli sepahit apa yang kusesap, indra pengecapku sudah kebal dengan berbagai macam rasa yang kaubawa pulang saat petang menjelang.
Kamu terbangun; membenahi posisi tidurmu. Dari jauh aku memerhatikanmu mengambil posisi duduk, memegangi kepalamu. Satu menit, dua menit, tiga menit … baru saja aku mau memberimu obat sakit kepala, kamu sudah kadung jatuh pingsan. Aku setengah berlari menghampirimu. Belum sampai menyentuhmu, kakiku dipaksa melangkah mundur teratur. Sudah ada yang menangkapmu sebelum kamu benar-benar jatuh ke lantai. Perempuanmu yang lain sudah lebih dulu mencium keningmu. Seperti dalam dongeng, kamu langsung tersadar. Aku lega, pikiran-pikiran buruk yang sedari tadi memenuhi sudah menepi. Tapi mengapa jadi susah menghela napas? Mengapa rusukku naik turun tak keruan? Aku membalikkan tubuh, buru-buru pergi jauh. Sebab ternyata air mata menderas di pipiku. Baru benar-benar sadar kalau aku tak ada gunanya, aku hanya si nomor dua. Cadangan saat persediaan sudah habis, atau saat kamu bosan menikmati hidup yang begini-begini saja. Tapi buat apa lagi? Sudah ada dia yang melengkapi, menggenapi. Buat apa lagi di sini?
Seberapa keras aku meyakinkan diri bahwa kamu tak layak mendapat perhatian dariku, aku tahu aku tetap tak ‘kan sanggup membiarkanmu sendiri. Aku takut seandainya kejadian seperti tadi terjadi saat tak ada siapapun di sampingmu. Aku tahu, aku bodoh. Cinta mematikan logika. Padahal aku korban dari keserakahanmu. Padahal nyata-nyata ketidakpastian yang selalu saja kausuguhkan.
Aku mengemasi barang-barang. Menata perasaan yang terlanjur berantakan. Mengusap sendiri air mata yang berjatuhan. Lebih baik aku pulang, aku sudah tidak tahan.
“Mau ke mana?” Tangan hangatmu menahan langkahku. Aku menoleh, bersinggungan dengan tatapmu. Aku diam; menahan jangan sampai air mata meliar di hadapanmu.
“Pulang,” kataku singkat. Aku mencoba melepas jerat tanganmu yang kian kuat.
“Biar kuantar,” katamu masih dengan memegangi lenganku. Kali ini dengan kelembutan.
“Cukup, berkali-kali kamu mengantar kepergian. Tak perlu lagi kalau hanya untuk menyisakan kenangan yang lebih dalam. Biar aku sendiri saja.”
Sudah berkali-kali aku beranjak pergi, tapi baru sampai di ujung pintu aku pasti kembali lagi. Tak pernah bisa benar-benar meninggalkanmu sendiri. Padahal sudah ada dia yang menemani. Padahal aku ini hanya tempat peristirahatan; tempatmu bersinggah saat kamu sedang jengah. Aku bahkan lebih dari terluka, tapi aku memang tak punya daya. Aku lemah melihat lelahmu tak benar-benar ada yang menjaga.
“Ada apa denganmu? Tak seperti biasanya.”
“Aku lelah bersandiwara seolah-olah semua masih dalam keadaan sempurna.”
“Maaf, aku tahu kamu pasti membenciku. Tapi sungguh aku…”
“Cukup, biar aku yang melanjutkan apa yang ingin aku dengarkan. Kamu mencintaiku, kamu bahkan selalu menyebutkan namaku di urutan ke-3 setelah nama Ibu dan Ayahmu dalam daftar orang yang kau sayangi.” Air mataku sudah di tepi sangkar, nyaris menyebar. Sekarang berjatuhan….
“Lalu, apa yang membuatmu menangis?”
Kamu mengusap lembut air mataku. Memelukku lebih erat dari pelukan pertamamu, dulu. Jauh lebih hangat dari dekapanmu, saat dulu kau bilang kita tak akan pernah menjadi kita. Aku tahu ini kesalahanku, meneruskan cinta terlarang. Padahal sudah jelas kau katakan bahwa tak akan ada kita dalam aku dan kamu. Tapi bukankah kamu juga bersalah? Tak pernah benar-benar menyebutkan kepastian di masa mendatang. Akan meninggalkanku atau lebih memilihku ketimbang perempuan yang katamu hanya dijodohkan oleh Ibumu.
“Sebab seberapa besar pun cinta yang sering kau ucapkan, akhirnya tetap akan jadi yang kautinggalkan. Begitu kan? Jadi, biarkan aku saja yang pergi sekarang.” Air mataku kini sudah bercampur amarah, kecewa yang sudah begitu lama kupendam, kutahan sendirian.
“Kalau saja waktu bisa kuputar, Dik.”
Kamu melepasnya; genggam dari jemari-jemari lentik yang biasanya memetik gitar setiap malam. Mengisi kosong dalam penghabisan. Kamu melepasnya tanpa keraguan, genggam dari sela-sela ibu jari yang biasa kau manjakan. Kamu melepasnya; yang kau bilang sulit kau lupakan, susah kau relakan. Padahal nyata-nyata kesengajaan yang kau susun rapi dengan kepura-puraan.
Aku tahu itu sejak awal, tetapi terlalu rapuh untuk mengaku paham soal hal-hal yang selama ini janggal, perpisahan yang seolah-olah bukan kamu yang menginginkan.
Kamu terpaku di sudut ruangan. Aku menoleh untuk terakhir kali, “Katamu, ini takdir Tuhan, bukan?”
Aku pergi dengan luka yang masih kusembunyikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak akan pernah kutemui jawabannya; persaanmu yang sesungguhnya.

Delusi (Part II – End)

            Cerita Sebelumnya….
            Mencipta gerak sesumbar pada mekar bunga mawar, ballerina flats hijau tosca bersilangan di sela rerumputan. Rambut hitam lurus panjang yang baru saja ku ganti dengan cornrows berwarna pirang, membuat semua mata langsung menatap ke arahku. Aku tak peduli, sudah biasa menjadi pusat perhatian. Mataku berkeliaran mencari mangsa, sedari tadi penghuni perutku sudah demo minta diberi asupan gizi. Dae Jang Geum, membacanya saja sudah seperti masuk ke dalam istana Gyeongbok apalagi mengingat masakan-masakan ala Korea seperti yang ada dalam serial drama korea yang sering diputar di salah satu stasiun televisi swasta. Restoran yang sengaja khusus di desain seperti bangunan khas  Korea yang beratap susun seperti kuil dan berdinding batu ini membuatku ingin segera mencicipi kimchi dan bulgogi yang sedang marak diminati penikmat masakan negara gingseng itu. Dengan t-shirt berwarna biru terang dipadu cardigan senada dan long shorts berbahan jeans membuat pelayan-pelayan cantik berwajah oriental yang menggunakan hanbok memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kaki lalu menerka-nerka siapa perempuan yang seperti familiar di mata mereka.
            “Annyeong haseyo,” pelayan-pelayan ramah itu membungkukkan badannya sebagai salam hormat.
            Aku hanya tersenyum. Tiba-tiba salah seorang perempuan cantik bertubuh mungil menghampiriku.
            “Boleh foto bareng?”tanya perempuan dengan hanbok berwarna peachpuff dengan motif garis-garis berwarna fuchsia.
            “Boleh, silakan,”kataku merekahkan senyum.
            “Ganti style rambut, mbak?”
            “Oh, iseng aja.”
            “Kalau sudah dasarnya cantik, mau bergaya dengan style apa saja pasti tetap terlihat anggun,” katanya sambil menyuruhku mengikutinya menuju tempat duduk.
            “Mau yang VIP atau di ruang terbuka saja, Mbak?” tanya perempuan dengan id-cardbertuliskan Gladis di dada sebelah kirinya.
            “Di sana saja,” Aku menunjuk tempat duduk di sudut ruangan.
            Desain interior yang menonjolkan pengulangan bentuk seperti garis-garis pada dinding partisi atau perabot berbentuk persegi dan lingkaran; menggambarkan keseimbangan.
            “Mau pesan apa?”
            “Gimbab, bulgogi, kimchi, dan ddeokbokki,” kataku sambil membayangkan makanan-makanan yang sepertinya sudah lama sekali tak ku santap.
            “Minumnya?”
            “Seperti biasa.”
            “Hyeonmi,” kata perempuan yang masih lekat dengan cengkok melayunya.
            Dulu, aku sering mampir kemari. Bersama lelaki yang tak pernah absen menemaniku menari.
Katanya, aku terlihat makin cantik setiap hari. Nyanyian-nyanyian berisi pujian yang tak henti-hentinya mengelilingi. Aku dengan segala kekurangan yang tak ada habisnya. Tapi bagi laki-laki yang terbiasa berhadapan dengan laptop di ruangan sunyi, perempuan sepertiku yang tanpa riasan dengan kaos dan rambut acak-acakan saja sudah sangat menarik. Dia tidak peduli perutku makin buncit atau kulitku menghitam terkena sinar matahari. Baginya, senyumku adalah udara yang hangat saat napasnya mulai tersengal-sengal; kelelahan.
            “Masitge deuseyo,” selamat menikmati katanya dengan senyum yang renyah.
            “Jal meokgessseumnida,” jawabku sebisanya.
            Aku masih samar-samar ingat, saat lelaki—yang entah milikku atau bukan—menggunakan bahasa Korea saat makan di tempat ini. Makanan-makanan yang ku pesan tadi bukan makanan kesukaanku, melainkan hidangan “wajib” yang ia pesan dulu. Aku menyedu teh dari beras yang dipanggang, begitu dulu ia menjelaskan teh favoritnya padaku. Ada kehangatan yang menyeruak saat menikmatinya, seperti ada lelaki itu di sekitaranku.
            ***
            “Ada apa ini? Apa gempa?” aku mulai bermonolog.
            Dunia seperti berputar-putar. Merayang tak keruan. Tiba-tiba degup jantungku makin cepat, seperti dikejar malaikat maut. Ah, ada apa ini. Aku bisa merasakan, perlahan-lahan tubuhku merangup; jatuh ke lantai. Tergeletak, menunggu seseorang datang mengulurkan tangannya. Membopong tubuhku yang beringsut mengkerut.
“Hey, kalian mau kemana? Tolong, aku benar-benar tidak bisa bangun.” aku meminta bantuan pada mereka—dua insan yang kerap menyuguhiku dengan pemandangan penuh cinta—tapi mereka tak menoleh sedikit pun, pergi begitu saja; acuh tak acuh.
Sudah dua hari aku masih saja di sini, tak punya daya untuk berpindah tempat; bergerak. Di petak yang sama, marmer berwarna merah bata dengan aksen garis berwarna gelap. Aku bisa merasakan dinginnya menyelap senyar. Kemana perginya orang-orang? Mengapa tak satu orang pun menolongku atau setidaknya membenahi posisiku. Sebegitukah mereka tak peduli lagi padaku? Kemana perginya penggemar-penggemarku yang selalu antre hanya untuk mendapatkan tanda tangan berbentuk benang kusut dari goresan tangan seorang yang kidal. Kemana saja yang mengaku mencintaiku? Menggilaiku? Begini ya, begini ternyata kehidupan yang sebenarnya. Penuh dusta; sandiwara.
“Anda menderita gangguan delusi.” Dokter muda berambut keriting itu membuatku terenyak. Apa lagi itu, delusi?
“Delusi?”
“Iya, semacam pikiran yang biasanya ditimbulkan oleh pangalaman-pangalaman masa lalu yang diliputi perasaan-perasaan berdosa dan bersalah, serta harapan-harapan yang belum tercapai,” dokter memberiku penjelasan.
Harapan-harapan yang belum tercapai, mengaung keras memecah kepalaku. Mengaung tak henti-henti.
“Tidak mungkin, Dok. Saya tidak suka berhalusinasi,” aku menyangkal, mana mungkin seorang perempuan super sibuk sepertiku yang memiliki segalanya bisa menciptakan fantasi. Aku tidak punya waktu untuk berkhayal.
“Sebaiknya Anda beristirahat total, menenangkan pikiran, atau lebih bagus lagi untuk merelakan seseorang yang Anda cintai.”
“Maaf Dok, tapi saya kemari bukan untuk menyuruh dokter mengurusi kehidupan pribadi saya, terimakasih. Permisi,” aku sedikit geram, tidak mengerti apa maksud perkataan dokter itu. Sok tahu.
Sepanjang jalan, kalimat terakhir dokter berkulit coklat terang itu masih memutari otakku. Apa mungkin yang selama ini ku lihat adalah bayanganku sendiri bersamanya—lelaki yang meninggalkanku pada suatu malam di musim hujan—mustahil, batinku.
Aku mengucek-ucek mataku, masih tidak percaya bayangan itu muncul lagi. Lelaki idaman dengan wajah yang makin tampan menggandeng mesra perempuan di sampingnya. Tapi mengapa perempuannya tidak seperti yang biasa, bukan seperti wajahku dulu. Hidungnya mancung dipertegas mata bulat berwarna hitam. Tidak asing, tapi sudah berkali-kali ku perhatikan tetap saja bukan seperti gambaran diriku seperti biasanya. Memori-memori itu mencuat bermunculan; masaku dulu bersama lelaki itu. Aku mencubit lengan kananku, berharap bayangannya cepat-cepat menghilang. Semakin dekat, lelaki yang kini tampak lebih berisi dengan dada tegap makin jelas terlihat di pelupuk mataku.
“Fara, lama nggak ketemu,” bayangan itu menjulurkan tangannya, hendak bersalaman denganku.
Ah, delusi macam apa lagi yang bahkan bisa menyapaku. Tampak seperti benar-benar nyata. Aku yang gila atau sedang terjadi apa sebenarnya? Aku megikuti arus angin, tersenyum membalas sapaannya dengan batas pandang yang makin dekat.
“Oh, iya, ini istriku,” katanya sambil memberi kode pada perempuan di sebelahnya.
“Gladis,” perempuan itu mengulurkan tangannya.
Aku tercengang, selingar terdiam. Berharap dokter itu benar, yang kali ini memang benar-benar hanya delusi.

Delusi (Part I)


            Pada kaki-kaki langit, aku menatap di balik jaring-jaring penghalang. Duduk menjuntai dengan bola mata yang mondar-mandir mencari muara. Penghalang besi yang tidak bisa ku tembus meski sudah ratusan kali ku pukul dengan palu besar. Maka begini saja, caraku melihat rintik hujan yang meruncing. Menjatuhkan ujungnya pada tanah yang mulai basah. Beberapa menit kemudaian warna ungu menggenapi riasannya sendiri. Senyumku pecah, aku selalu suka saat jingga menyuguhkan warna baru di tengah-tengahnya. Pelangi.
            Masih lekat dengan sosok yang melangkahkan kaki pada tarian dengan gerak sunyi di bawah guyuran hujan. Melambai lemah gemulai, dengan decak-decak di atas dedaunan yang gugur lebih dulu. Desir angin menyempurnakan melodi yang sedari tadi meniupkan alunan di antara awan-awan hitam yang tampak mulai terang. Gerakannya mulai diperlambat memutari kerikil-kerikil yang sepertinya sengaja sudah di susun rapi. Menapak pada raut muka seorang yang lain, meneteskan gelombang pada butiran hujan yang terlambat datang.
            “Awas, ada petir! Jangan terlalu jauh.”
            Samar-samar ada suara yang menggema. Jari-jari kecil itu membalikkan derap langkahnya, menuju sisa-sisa suara tadi. Gigi-giginya yang berantakan sudah gemetar menggigit bibirnya sendiri. Kedinginan.
            “….”
            Tak terdengar. Saking derasnya butiran air yang tumpah ruah. Aku mencoba menengok lebih dalam, merapatkan gendang telinga agar bisa mendengar jeritan yang melengking terlalu keras. Justru tak terdengar apa-apa.
            “….”
            “Ha?”
            Aku terkesiap, jelaga mengabutkan pandangan yang susah payah ku intai dari sela-sela semak. Gagap gelagapan, berantakan.
            ***
            Lekuk tubuh “gitar spanyol” dalam cermin berkanvas emas. Bulu mata lentik, dipercantik riasan eye shadow berwarna dark silver. Gaun dengan warna senada dilengkapi berlian melingkar di leher panjang dipenuhi sparkle berwarna keemasan, wanita dengan rambut hitam panjang tergerai.
            “Sempurna!”
            Aku tersenyum. Siapa yang tidak terpesona melihat keanggunan seorang wanita bermata coklat keemasan. Lelaki mana yang tak tergoda dengan aroma vanilla di sekujur tubuh langsing dengan senyum di sepanjang bibir merahnya. Sempurna.
            Malam dengan lampu-lampu terang di sepanjang jalan setapak. Melangkah dengan keangkuhan yang tersembunyi di balik sederet senyum manis yang memusatkan setiap sudut pandang. Karpet merah terlihat lebih meriah, di lalui d’orsay dengan bunga berwarna putih menutupi mata kaki seorang putri yang melambaikan tangannya pada rupa-rupa manusia yang haus akan keindahan.
            “Terimakasih,” kataku lembut pada seorang pria dengan tuxedo jacket berwarna putih yang memberanikan diri memberi satu bucket mawar merah.
            Malam dengan sederet pujian panjang, sebelum kembali datang hujan. Aku kembali, duduk berjuntai. Kali ini dengan cemilan yang baru saja ku beli di mini market dekat rumah. Ada bintang yang sedang bersapaan dengan bulan. Lalu yang lain bersenda-gurau membarengi dentang jam yang berbunyi setiap satu jam sekali. Musik klasik sedari tadi menghasilkan bunyi-bunyian berirama andante, padahal biolanya tak berdawai. Bagaimana mungkin bisa mencipta suara yang mengelok di telinga?
            Aku menuju ruang tengah. Duduk di tepi ruangan, aku memang lebih suka menepi. Ada jemari-jemari lembut yang membelai wajah satu sama lain. Tangan yang lain saling erat menggenggam dalam dekapan. Pelukan panjang yang hanya bisa ku rasakan dengan mata yang memandang, meliar sendirian.
            Sebegitu kejamnya kehidupan sampai tak mengijinkan aku yang berada di sana. Seperti mereka yang sedang bermesraan dengan alasan yang sama, cinta. Aku masih memperhatikan, dua anak adam yang meredam bahasa. Cukup dengan satu tatap mata saja semua juga paham. Ada cinta yang meraung-raung di antaranya. Bahagia, seperti tak lagi peduli ada masalah-masalah besar di luar sana. Tak peduli lagi petir menyambar-nyambar. Sudah larut malam, bukankah seharusnya segera pulang?
            Aku kembali ke kamar. Butuh istirahat panjang, aku lelah. Tapi malam terlalu dingin tanpa secangkir kopi hangat. Sepertinya aku masih punya sebungkus kopi oleh-oleh dari Toraja bulan lalu. Kopi hitam pekat tanpa gula, sempurna. Seperti menikmati hidup mewah tanpa cinta, terlalu sempurna mungkin.
            “Sudah malam, sayang. Istirahat lah.”
            Aku nyaris tersedak. Masih bisa menyuguhkan kalimat-kalimat semacam itu tengah malam begini.
            “Iya, aku juga akan tidur kalau kamu tidur.”
            Rasanya ingin ku rebut handphone yang menempel di telinganya. Ingin ku ambil paksa dari genggaman tangannya. Mengganggu pikiranku saja, batinku. Apa masih jaman, bermesraan tengah malam? Apa masih jaman, mengingatkan seseorang untuk segera tidur?
            Aku menelan ludah. Meninggalkan secangkir kopi yang masih mengebulkan aroma pekat di atas meja. Tidak perlu lagi kopi untuk menghangatkan, sudah panas sendiri dibuatnya. Aku masih bergidik geli mengingat suara-suara tadi. Kantuk tiba-tiba hilang, aku memilih untuk keluar. Menghela napas panjang, menari di antara udara yang bebas ku hisap tanpa berebut dengan siapapun. Semua sudah masuk ke alam bawah sadar, tinggal aku yang terjaga. Terjaga dari kerinduan atas belaian, kasih sayang yang tidak pernah bisa ku sentuh dengan ketulusan.

Waktu, Aku dan Kamu

Entah, besok atau lusa. Aku hanya mau berada paling dekat denganmu. Meski kamu kerap membelokkan pembicaraan ke arah kematian, tapi aku tetap akan terus begini sampai waktu menjemput salah satu di antara kita.
Aku bukan pengiring kepergian yang baik. Sebab sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa rela menghela napas tanpa udara di sekitarmu. 
Berkali-kali uluran tangan seseorang datang memelukku. Membantuku berdiri tanpamu, menoleh ke arah yang lain. Tapi yang ada justru luka yang mengingatkan aku pada satuan terkecil tentang cinta. Seandainya tidak pernah terjadi, seandainya aku dan kamu tidak pernah dilengkungkan dalam satu titik pertemuan yang mengakibatkan lara di jiwa. Seandainya saja….
Seperti inikah? Kamu bilang tak akan pernah menjadi satu yang beradu padu. Antara hatiku dengan degup jantungmu, tak ‘kan menjadi denyut yang berpaud menyatu. Padahal, nyatanya aku selalu bisa merasakan sengal napas yang membuatmu terkadang enggan lagi melakukannya. 
Matamu masih sayu, masih sama seperti pertama bertemu. Masih seperti itu juga aku membaca mimik mukamu. Mengapa masih saja menyisakan rasa yang tanpa tepian? Bahkan yang berakhir menjadi suatu perpisahan pun tak benar-benar kunjung datang. Kamu selalu datang saat aku mulai tersesat. Saat aku mencari pintu keluar, kamu seperti menguncinya rapat-rapat.
Seperti itukah waktu berputar hanya untuk menjatuhkan luka yang mengakar? Hanya untuk membicarakan tentang kematian atau perpisahan. Bagiku waktu adalah siksa, sebab waktu menjadi jarak yang tak bisa menahan satu pelukan panjang. Selalu berkahir pada genggam yang saling melepaskan.
Seperti itukah waktu berputar hanya untuk meninggalkan tangis yang gemetar? Hanya untuk menunjukkan betapa hebat jarumnya menusuk-nusuk rusuk. Memberi lubang besar yang menyuarakan sisa-sisa kerapuhan. 
Seperti itukah waktu berputar hanya untuk membuat cinta makin lebar menyebar? Lalu seenaknya ditabrakkan pada alasan yang mengharuskan seseorang untuk meninggalkan dan ditinggalkan. Seperti itukah hakikat kehidupan? Seperti itukah waktu begitu kejam melambaikan keterbatasan? Antara aku dengan kehidupan pada zaman sebelumnya, mengapa mesti dipisahkan dengan berbagai macam alasan? Mengapa melulu mesti soal waktu?
Lalu bagiku, waktu bukan lagi penghitung masa lalu. Bukan lagi pengingat masa depan. Bukan lagi teman masa kini. Waktu, aku, dan kamu adalah yang tak bisa berkawan. Aku dan kamu yang tak ‘kan bisa melawan waktu kecuali dengan keajaiban. Bukankah begitu pula bagimu?

Mengeja Nama yang Sama, Luka.

Kita saling menularkan rasa. Kita saling menggenapkan hampa. Kita jujur tetapi saling menutupi. Tanpa aku dan kamu sadari, sebenarnya kita saling menyakiti. 
Senja menjelma belantara porakporanda. Selalu bermuara pada air mata yang menyeka abjad luka. Aroma duka menyengat, meraba dusta pesona yang tak juga mereda. Kau membuatku melalang buana, mengembara pendar yang masih saja samar-samar.
Lalu bimbang pulang mengulang-ulang lagi sajaknya. Aku yang masih saja bersandiwara seolah semua baik-baik saja. Menggunakan bahasa yang tak ada bedanya dengan kemarin lusa. Meski kadang kosong menerobos masuk dalam lorong-lorong, mengembangkan sendiri ceritanya. Kisah tanpa tepian.
Ternyata cinta juga bisa jadi garang. Menyerang bagian terdalam ketulusan. Terkadang jadi rancu membisu. Kalau saja bisa, aku mau berhenti bergantung pada lengkung yang tak kunjung bersenandung. Yang ada aku justru tersandung, terasing merenung bersamaan dengan luka yang melambung.
Aku benci pada mendung yang menutupi kilat jingga senja kala. Lalu air merintik melelehkan hujan yang sudah lama tertawan. Menyinggung di petang, sesekali mengerang tak tahan merasakan lengang. Aku merasakan gejolak menghantam sepersekian detik lalu terjungkal, menjatuhkan lagi separuh lara yang tersisa. 
Berebut kilau bintang yang sempat temaram. Aku dan kamu seperti sisa-sisa hujan yang bergutasi pada dedaunan. Penuh perjuangan manahan diri agar tidak jatuh menembus bau humus. Berulang kali aku mengadu pada gaduh yang cukup angkuh. Aku lelah menahan gerah yang masih seperti itu-itu saja. 
Berpelik menukik setiap jengkal pita suara. Rasanya ingin ku tumpahkan segala penat yang mulai jadi pekat mencekat. Di bahumu aku menangis tersedu, di pelukmu aku mau begitu.
Sayang, aku bukan yang akan meminta terlalu banyak penjelasan pada rintik hujan. Mengapa meruncing meneteskan kegelisahan. Mengapa menyebabkan peraduan pelangi padahal senja mulai menjelang. Padahal aku melajang tapi kau mengubah rasanya jadi tenang. Seperti sedang berada pada hubungan yang nyatanya hanya akan meremang, terbuang.
Kamu menjadikan waktu sebagai bagian dari alasan yang menyebabkan perpisahan. Padahal aku mengira waktu lah yang menjadi alasan sebuah pertemuan. Maka berhentilah beralasan sebab meninggalkan tak butuh penjelasan seperti cinta yang tiba-tiba datang, tak pernah punya alasan.
follow me @fasihrdn

Sebab sepertinya rima selalu akan mengurai peristiwa yang itu-itu saja. Sajak yang sama, masih menyebutkan nama serupa. Kamu.


031012~Andai menghapus jejakmu semudah menghapus bagian aku dalam dirimu. Andai aku sama sepertimu, mudah berlogika tanpa perlu terluka. Sepertimu, tanpa lara di dada.

Semalam Tadi Aku Menuliskan Luka

Semalam tadi aku mengutuk diri semalam suntuk. Berteriak tanpa suara. Mengerang menyudutkan kepala. Rasanya ingin kuhantam ke dinding, biar pecah sekalian. Napasku tersengal-sengal, risau berputar-putar menyesak di dada. Sakit sekali rasanya. Semalam tadi aku berjaga. Sudah tiga hari resah tak kunjung mereda. Tiga malam aku duduk bermanja pada kata. Sayangnya, mengapa selalu ada luka di antaranya?
Mungkin itu sebab mengapa aku lebih suka terluka. Karena Tuhan selalu menjatuhkan luka tanpa sisa.
Lihat saja mereka! Yang tidak punya uang untuk makan. Yang tiada daya karena tidak punya apa-apa selain nasi sisa-sisa. Apa mungkin nasi yang sudah mengering hanya akan dibiarkan saja, sedang perut mereka lapar luar biasa. Apa bisa bertahan tanpa menelan makanan?
Bukankah sama saja sepertiku? Luka seperti teman setiap malam, seperti bulan yang mendaki langit diam-diam. Bagaimana mungkin aku menghilangkan lara, sedang Tuhan terus saja menyuguhi hati dengan luka? Padahal jiwa tak mungkin bisa hidup tanpa rasa. Sedang aku hanya terbiasa punya luka. Lalu dengan apa lagi aku merasa kalau bukan dengan luka? Apa bedanya dengan dia yang makan nasi sisa-sisa? Bermula dari paksa menjadi yang terbiasa. Memang begini Tuhan mendidikku dengan luka sukma. Lalu siapa yang bersalah?
Aku bukan yang pandai membenci, bahkan yang pernah mengkhianati. Aku bukan yang mudah membenci, meski Tuhan setia memberi lara bertubi-tubi. Kalau pepatah bilang membenci adalah cara terbaik melupakan seseorang, mungkin aku tak akan pernah bisa melupakan.
Semalam tadi aku berdoa. Bersujud pada Tuhan, meminta pertolongan. Berkali-kali beberapa lelaki memintaku menggenapi, bahkan yang hatinya sudah dimiliki. Tapi aku pernah jadi yang paling angkuh berkata.

“Aku nggak akan pernah mencintai kekasih orang. Banyak lelaki di luar sana yang masih sendirian.”
Mungkin Tuhan ingin menjelaskan, rencana-Nya bukan yang bisa ditebak-tebak manusia. Semoga aku salah mengira, mungkin kamu juga yang pernah memuja kata setia. Tapi mungkin saja Tuhan juga sedang mempertemukanmu pada hampa, yang bilang bahwa takdir Tuhan memang menjadi yang tak terduga. Membelit hatimu, membuatnya jadi bergelut dalam kemelut. Seperti kau yang mulai memberiku penyakit akut.
Aku pernah merasakan kesakitan karena diduakan, tapi mengapa yang sekarang rasanya lebih menyakitkan? Bukankah seharusnya jauh lebih pahit diduakan daripada menjadi yang kedua? Mengapa dulu aku bisa memutar logika, membiarkan seseorang merebut apa yang menjadi hakku hanya karena Tuhan menyelipkan satu kalimat, “Mungkin perempuan itu jauh lebih sempurna.” Mengapa logika tidak berlaku lagi hari ini? 

Semalam tadi aku menghakimi. Kalau saja keputusan dibuat seperti pemilihan presiden, maka pasti pilihan suara berada pada dia, yang sudah menggenapi hatimu ratusan hari. Tapi kalau saja ketentuan ternyata berlaku seperti kematian, maka Tuhan yang mengaturnya. Siapa yang tahu, siapa yang akan menjadi siapa? Tapi, bukankah begitu hakikatnya? Hanya Tuhan yang tahu di mana separuh tulang rusukmu berada.
Semalam tadi aku menghabiskan waktu dengan menunggu. Menyiapkan diri sakit hati untuk kesekian kali. Kalau saja harus ada yang terluka, mungkin akulah orangnya. Begitu kan? Mungkin saja perempuanmu tidak siap menerima luka, sebab bertahun-tahun kau membiasakan hidupnya bahagia. Atau sebab Tuhan hanya mengajarinya padaku. Tuhan hanya menjejalkan rasa sakitnya pada perempuan itu, Aku.
Semalam tadi aku menangis tersedu-sedu. Bukan lagi sakit yang menusuk-nusuk rusuk. Aku hanya takut membuatmu juga ikut kalut. Berhenti, Mas. Berhenti menghiraukan tulisan-tulisanku yang tumpah dengan abjad pilu. Hentikan saja bacaanmu itu. Mungkin kamu sama seperti perempuan itu, tidak siap terluka. Jangan sampai merasakannya, karena luka itu kejam menerkam. Kalau belum terbiasa maka akan begitu memilukan. Rasanya… air mata saja tak ‘kan cukup menjabarkan betapa sakitnya. Cukup aku saja. Bersama Tuhan Aku baik-baik saja.
Kebetulan? Atau sengaja dipertemukan?

Sumpah serapah, aku bukan pengemis cinta. Aku bukan yang akan meminta-minta cinta. Bukankah aku pernah mengatakannya, aku hanya mencinta bukan untuk suatu imbalan serupa. Sebab kau juga pasti menyadarinya, bahwa cinta bukan yang mudah dimengerti artinya. Bisa tiba-tiba datang begitu saja. Bukan manusia yang mengendalikan, bukankah ada dzat penguasa hati? Bukankah masih ada Tuhan? Sudah tertulis rapi pada tinta milik langit. Terkadang membuat semua jadi semakin rumit bekerlit.

Semalam tadi aku membenahi hati, tak ingin menghalangi yang akan pergi. Sungguh, aku tak ingin kau merasakan apa yang menjadikannya luka. Sebab sedari tadi aku menuliskan luka, Mas. Aku mengurainya satu demi satu. Padahal bukan mauku, bukan….
Lalu semalam tadi aku terisak menyesak. Bukan untuk meminta belas kasihan. Jangan menghardik perempuan sepertiku. Sebenarnya aku tidak lebih kuat dari yang terlihat. Mungkin saja Tuhan ingin mengajariku menjadi perempuan bijaksana. Dengan merasakan engkau yang menancapkan gema yang meraung-raung menyakitiku. Mungkin kamu akan berkata akulah yang menyakiti diriku sendiri. Tapi jauh dibalik itu, mungkin ada yang terlupa. Mungkin ada yang tidak kau sadari. Kamulah yang memperjelas lukanya.
Lalu semalam tadi aku terisak menyesak. Bukan untuk meminta belas kasihan. Tidak apa-apa, Mas. Bukankah air mata hanya bahan bakar sederet tawa nantinya? Tidak apa-apa, Mas. Tersenyumlah seolah semua masih dalam keadaan sempurna, baik-baik saja. Tersenyumlah seolah semua baik-baik saja.


150912- 02.37~ Mengurai perasaan bukan untuk secuil belas kasihan! Sebab aku akan tetap baik-baik saja meski air mata meluncur tak tertahankan.

Cinta Sebelum Hari Ini

Bukankah sebelum hari ini kau bukan yang ramah menyapa? Bukankah sebelum hari ini kau bukan yang pandai memuji? Bukankah sebelum hari ini……..
Apa yang menarikmu datang kemari. Meraba abjad dalam kalimat. Mengubrak-abrik yang sudah kususun rapi. Bukankah sebelum hari ini aku berjanji, langkahku sudah berhenti mengikuti. Bukankah kau juga tahu itu, Sayang?
Lalu apa yang membuatmu mengumpulkan serpihan yang terluka? Seperti begitu bahagia membaca kesakitan seorang wanita.
Pekat bias dingin melengking membuat bibirku tak henti menggigil. Sengai menyenggak gemetar di dada. Aku tak sanggup berebut embun di pagi hari. Sisa-sisa suara tadi malam meraung-raung, menjalang lalu lalang di pikiran. Di lorong serupa kemarin kaumemungut belulang yang sengaja kubuang dalam petang. Bukankah sebelum hari ini kita bagian yang terasing? Bertarung di balik punggung.

Hay, strangers! Follow me @fasihrdn

Kau seperti mendesakku dalam ancaman mematikan. Menyandra cerita untuk kaunikmati majasnya. Membuka bingkisan dalam kiasan. Kaumemutari iringan yang kusembunyikan pada sebuah malam. Mengurai yang teruntai gemulai. Mengais-ngais rasa yang sudah menipis, kutepis dengan bengis. Padahal sebelum hari ini, bukankah seperti sengaja mengikis? Mengapa jadi seperti magis. Membuatku terkesiap tak siap bagaimana mesti bersikap. Tiba-tiba jadi lincah menyuarakan sederet rindu yang tumpah ruah.
Bukankah sebelum hari ini kita saling membuang tatap? Lalu sekarang aku dibuat gagap gelagapan, bisu mengantar sembilu. Bukankah sebelum hari ini aku menderu akan segera berlalu?
Beruntun Tuhan mendatangkan kejadian serupa keajaiban. Bukankah sebelum hari ini angin menjerit. Menukik sampai terik tak lagi berkutik. Dalam petang kaumenyusupkan kegaduhan. Dalam ruang yang terulang, tubuhku terguncang. Sejenak mengenang bimbang yang pernah kauselipkan diam-diam. Desah napas tersumbat, isyaratku disentuh saat tak lagi utuh. Bukankah sebelum hari ini engkau menebar jala api, untuk membakar yang mulai mengakar. Terpaut jarak terlampau jauh, lebih mudah untuk saling menuduh. Saling angkuh dalam gaduh. Berdebat dalam diam yang membunuh.
Bukankah jauh lebih nikmat mengikat lara? Kau dan aku mengudara, menancapkan gema yang menceritakan luka dalam butiran hujan. Bukankah sebelum hari ini kau meletakkan aku pada hujatan?
Menggertak ngeri, aku terperanjat dalam simpul belati. Merintih lirih berharap tak menggemakan ironi pada misteri yang makin mendaki, mencari tempat untuk bersembunyi. Gedebak-gedebuk jantungku sibuk berkecamuk. Berdegup mulai mengamuk. Rancau-kacau-balau. Bukankah sebelum senyummu melengkung, aku sudah tak lagi terkungkung?
Bukankah sebelum hari ini, aku sekedar menggambar tanpa sesumbar? Bukankah aku tak pernah bilang ingin membilang? Lalu kau tiba-tiba datang saat separuhnya sudah menghilang. Sudah kutebang agar tenang sendirian. Bukankah sebelum hari ini aku tak mau melanjutkan cinta terlarang? Cinta sebelum hari ini adalah luka esok hari. Atau luka sebelum hari ini ternyata cinta esok hari.
Siapa yang tahu terjadi apa esok pagi, lalu ada apa setelah hari ini?
120912~Kesakitan Seorang Wanita