Cinta, Apakah Jodoh?

Aku berebut udara dengan malam. Semakin tinggi bulan merambat, makin tebuka lebar bola mataku yang hitam pekat. Napasku hidup dalam hening. Ia tidak, sama sekali tidak suka bising. Lalu menularkannya dalam bentuk kecintaanku pada hampa. Keramaian yang paling pas untuk kusapa hanyalah seraut wajah angin kosong dalam senja. Tak ada yang lain. Aku hanya suka yang itu. Tidak dengan lampu pijar, tidak juga dengan lalu-lalang, apalagi huru-hara.
Kau tahu betul, aku sudah menjabar diri terlampau panjang dan sering membuatmu jadi terkantuk-kantuk dengan kalimat yang itu-itu saja. Kamu tetap bersetia meski sebenarnya sudah hapal dengan baris yang sama. Tapi sempat aku berpikir, bagaimana kalau seandainya saja suatu saat aku bosan bercerita? Dan lebih memilih diam. Apa mampu kau memahamiku seperti saat ini?

Siapa yang berani berujar bahwa penulis adalah ia yang hatinya selembut sutra? Tak ada kurasa. Aku salah satu yang akan bilang tidak kalau memang ada yang begitu mengira. Dan kau pastilah orang pertama yang mengiyakan kilahanku. Sebab kau tahu aku tak seromantis tulisan-tulisanku. Aku sama sekali bukan wanita layaknya rima-rima yang menggantung penuh cinta pada tiap-tiap mata yang membaca.

more quote www.fasihrdn.tumblr.com

Ketimbang berbicara menyoal hati yang jatuh pada cinta, aku lebih suka disuguhi harapan yang diperjuangkan habis-habisan. Bahkan meski kehilangan adalah bayarannya. Aneh memang, akulah paradoks. Akrab disapa penulis cinta. Tapi bahkan  sepotong hati pun aku tak yakin seutuhnya punya.

Tempo hari kudengar ada yang berdecak kebingungan. Mengapa kau kutunjuk jadi satu-satunya yang mengisi sela-sela jemari. Padahal pernah kau remuk jantungku sampai nyaris tak mau lagi berdenyut. Padahal yang lain mengantre ingin aku tersenyum balik padanya, pertanda ada pintu baru yang membuka. Membolehkan diri masuk untuk sekadar menyapa, siapa tahu bisa sampai membangun cinta.

Kurinci satu sampai dua kalimat saja. Aku bisa dengan gamblang membaca setiap garis wajah sejak lama. Sejak umur masih belasan. Sejak kegiatan pramuka masih jadi kudapan. Atau meniup suling paduan suara adalah kegiatan luar biasa. Dan kawan masih mudah kali kugandeng tangannya. Tapi kau adalah yang pertama direkam oleh pijak mata yang pertama. Detik yang pertama. Aku masih bisa mengingatinya.

Pernahkah mendengar istilah cinta pada pandangan pertama? Omong kosong. Cinta selalu bertumbuh. Kalau datang sekejap pastilah lesap dengan begitu cepat. Tapi setelah retina berkenalan dengan cahaya di matanya, aku percaya bahwa setiap mata punya ketertarikannya sendiri pada kelopak yang dianggap pasangannya.

Atau pernahkah setelah kau selesai membincangkan seseorang dengan penciptanya, tiba-tiba ia datang dalam nyata? Membawakan segelas cokelat buatan tangannya? Padahal kau hanya berkisik dengan telingamu sendiri, tapi ia yang kau sebut-sebut ternyata mendengarnya? Aku masih suka heran sendiri siapalah ia sebenarnya. Untuk apa masih berkeliaran dalam jarak yang begitu panjang di hadapanku. Dalam medan waktu yang bergeser satu-dua detik dari jam dinding di ruangan tempatku berjejak mondar-mandir menagak rindu.

Aku berebut udara dengan malam. Semakin tinggi bulan merambat, makin tebuka lebar bola mataku yang hitam pekat. Napasku hidup dalam hening. Ia tidak, sama sekali tidak suka bising. Lalu menularkannya dalam bentuk kecintaanku pada hampa. Keramaian yang paling pas untuk kusapa hanyalah seraut wajah angin kosong dalam senja. Tak ada yang lain. Aku hanya suka yang itu. Tidak dengan lampu pijar, tidak juga dengan lalu-lalang, apalagi huru-hara.

Kau tahu betul, lebih dari yang lainnya. Lebih dari siapa saja. Kau adalah yang pertama setelah tembok-tembok pembatas tangis dengan tawa yang sudi kubagikan cerita dari sendok tua. Dengan cinta atau tanpanya, kau tetap saja sudah menawan seluruh trauma lama. Kau kembalikan dengan jenjam sahaja. Meski kadang erak malah membuatmu menjadikan aku amuk, lalu kita sama-sama muak di tempat. Maka diamlah di sana dengan doa yang tak pernah tutup dalam bicara. Agar bisa kau bawa aku keluar dari udara yang selalu sesak untuk kuirup lebih lama….

Walau tak satupun yang bisa menjamin, bahkan kau, apalagi aku. Siapalah masa depan.



040915~Bukan jodoh, bila hanya cinta yang menjadi tumpuannya. Tak akan berjodoh, bila tak ada usaha dengan doa sebagai pelengkapnya.

Bila Cinta adalah Kata Hati, Biar Tuhan jadi Tuannya

Februari … Maret … April … Mei … Juni.
Bukankah waktu tak mengenal ampun? Ia bergerak tak peduli kau memintanya untuk tetap tinggal. Kalau kuhitung dengan jari telunjuk, ini adalah bulan ke lima kau dan aku menggantung jarak, meluapkan waktu. Baru sebentar ternyata. Apalagi jika diukur lebih detil beserta hari demi harinya. Tapi tidak hanya aku yang merasa sepertinya sudah tahunan lalu kita tak pernah menyapa wajah.
2013 … 2014 … 2015.
Bukankah waktu tak mau tahu? Ia berlari masa bodoh kau masih ingin diam. Sudah masuk dua kali tahun ajaran baru setelah aku memetik senyum dan tangis secara bebarengan. Mengenalmu, memperhatikanmu, menganalisis, memahamimu, mendalamimu sampai hapal kutaksir jumlah bulu-bulu halus yang bernapas di kulitmu. Tapi ternyata baru sebentar kuerat jemari agar benar-benar pas di genggammu. Seperti sudah kuhabiskan satu dekade kuderet lebih-kurangmu. Di mana celah untuk kuisi dan kapan kamu acap melengkapi.
——————————-
2013
Ingat?
Kamu pernah ungkap bahwa cinta tak perlu alasan sedang aku melengkapi persepsimu bahwa cinta memang datang tanpa alasan karena ia memilih dirinya jatuh melalui alam bawah sadar: nurani. Tetapi ia selalu melanjutkan diri untuk bangun melalui logika berpikir: akal sehat. Dan idealismeku tidak pernah kamu setujui. Cukup dari sana aku mengerti siapa kita. Bagaimana kita bisa bertemu dari arah yang berlawanan. Oposisi yang sering jadi asal muasal perdebatan justru jadi alat yang mengakurkan. Memasukkan angka di sela paragraf dan menyelipkan huruf dalam deret bilangan. Yang aku tahu, alam bawah sadar setiap manusia tak bersekat, ia menyatu satu dengan yang lain. Gelombangnya akan saling menemukan ketika berada pada frekuensi yang sama.
2014
Ingat?
Kita sempat dipisahkan “dinding” yang begitu dingin. Ia memperkenalkan diri sebagai khianat. Salamnya begitu bising di telinga. Masuk tanpa permisi. Menelusup sampai ke rongga dada. Ia mengubrak-abrik hampir ke seluruh bagian. Seperti pembunuh berdarah dingin. Terus menguliti hingga belulang. Mengacak-acak denyut jantung sampai alir nadi tak lagi berfungsi. Jejaknya tak pernah hilang. Merumah di batang tubuh. 
Saat ulur tangan berdatangan, aku berani sumpah tak akan ada yang mampu menarik lenganku untuk membujuknya bangkit. Kalaupun tak ada cara lain untuk pulih, satu-satunya yang akan menaruh obat merah di satu per satu lukaku hanyalah ia yang sedang berbahagia di tempat lain.
Lalu doa yang memenuhi langit menjadi purnama di sepanjang malam. Tangis dini hari jadi kekuatan cadangan sebelum akhirnya kamu pulang. Sesumbar membawa kabar dengan oleh-oleh berbingkis takdir. Doa jatuh kembali menjadi hujan yang membentuk setengah lingkar “mejikuhibiniu” yang membelah Jogja sebelum fajar pecah. Bukankah alam bawah sadar masih bekerja dengan posisi frekuensi yang tidak berubah? Benarkah sebenarnya cinta yang katamu tanpa alasan berbenah diri dalam sujud dengan kodrat Tuhan sebagai surat izinnya? Ataukah ilmu mantik yang kukombinasikan dengan intuisi adalah sebuah kesalahan besar? Sehingga sulit kali rasanya melupakan “dinding” itu?
Bahkan sampai Februari, Maret, April, Mei, mengantarkan kita ke bulan Juni….
2015
Bukan salahmu pada masa yang telah punah. Toh, pilihanku memaafkan ikhlas adalah pernyataan yang perlu dipertanggungjawabkan. Hatiku jelas tahu betul berbagai cara kau lakukan demi aku yang berbahagia. Kamu begitu sabar sampai ambyar pun sering kali membuatku ingin memaki-maki diri. Mengapa jadi sesulit ini? Padahal cinta begitu sederhana. Katamu, ia tanpa alasan. Tapi aku membuat logikanya jadi terlalu rumit. Merumuskan kejadian terlalu rinci. Membuat nurani jadi sulit sekali muncul ke permukaan. Karena sepersekian detik selalu hilang dilahap prinsip yang barangkali tidak tepat digunakan untuk perkara sesakral ini: cinta.
——————————
Tuhan
Beritahu aku, mana yang ia, mana yang pikir belaka. Sebab aku ingin mengikutinya: kata hati. Sebab Kau adalah ia bukan?


Salam,
Fasih Radiana
Sebab aku adalah si koleris, tentu saja butuh kamu yang plegmatis 🙂



Yogyakarta, 10 Juni 2015 – Bila hati adalah yang paling jujur, biarlah logika yang salah akan hancur….

Dariku yang Penuh Doa

Kali ini lupakan dulu menyoal rima, diksi, atau segala pelengkap sastra. Aku ingin bicara tanpa kalimat-kalimat mutiara. Biarkan aku menjabar kita layaknya puzzle yang sudah tergenapkan oleh keping terakhirnya.

source: www.fasihrdn.tumblr.com or tweet me @fasihdn
Boleh kumulai dari bagaimana aku rela menjatuhkan diri untuk bangkit bersamamu?
Kita berangkat dari dua sudut yang berlawanan, anggaplah kau dari sisi minus dan aku berjalan dari arah kanan: plus. Bukan tanpa sebab, aku meletakkanmu di sisi negatif karena kita bersua selepas kau goyah dan jelas saja akulah si positif, sebab aku tahu betul keahlianku mengendalikan diri. Kalau kubentangkan coretan panjang lalu kuberi angka nol tepat di tengahnya. Di situlah kita bertemu. Dalam himpunan titik yang membentuk sebuah garis. Ada benang merah yang tak akan bisa ditilik mata telanjang. Maka bisa dipastikan kau berjalan maju, sedang aku terseret mundur teratur. Masihkah mengenali bagian yang itu?
Kugambari kembali kalau begitu:

Tepat saat purnama selesai merayap di ujung gagang langit, kau masih sembilu sebab meski banyak hawa mencintaimu, kau tak bisa menunjuk salah satu. Di situ matamu beradu dengan sorot tegas milikku. Gamblang angin mencecarmu dengan luka yang sarat menyimpan harap sekaligus kekecewaan pada satu utas tali yang kau pikir hubungan sejati. Afiliasi abadi yang ternyata kerjasamanya tak cukup koheren. Bersamaan dengan itu, cahaya bulan yang jatuh tepat di retinaku angkuh menggeleng, mengasihanimu diam-diam. Wanita yang sedang ajek pada pendiriannya itu tak mungkin tertarik pada pria di hadapannya. Konsisten dengan hidup yang alirnya tak beriak. Senyumnya jelangak menertawai dalam hati, “hari begini, masih juga patah hati.”
Boleh kulanjutkan ke mana perginya kita setelah petak itu?
Kuakui dayamu begitu kuat, pembawaanmu begitu tenang. Barangkali, hanya aku yang mampu mengupas kulitmu sampai ke bagian terdalam. Ada kesedihan apa membekap tulangmu, lalu kau memaksanya untuk tetap bisa terayun dengan gagah perkasa. Bukankah begitu, Tuan?
Biar kutuliskan lagi dengan lebih teliti:

Muatan negatifmu menemukan energi baru, aku tak bisa mencegah eksitasinya memenuhi ruang tubuhku. Mendesak ingin bervalensi. Kalau elektron-elektronmu bertransisi untuk menyetimbangkan yang kurang. Bukankah semestinya milikku yang alih tempat? Bukankah kamu yang kekurangan? Ah, bagaimana bisa teorema beralih jadi aksioma ketika sudah ditawar-tawar oleh cinta. Kuperingatkan, bagiku tak ada pembenaran tanpa pembuktian.

Kalau sempat terbesit dalam benakku, kau adalah lelaki yang tak lebih tangguh dari paganku. Semestinya kuingati lekat-lekat bahwa aku tak lebih teliti darimu yang seorang adam. Partner is partner. Tak berlaku kasta di antara kau dan aku. Sudah lebur jadi kita. Tak lagi menyoal siapa wanita dan pria. Seperti tubuh yang kehilangan rusuknya. Kau sadarkan diri menemui belahan yang lainnya. Aku, katamu seperti berkaca di air sebening sungai nil. Persamaan-persamaan yang tak habis dibagi dua. Dan perbedaan-perbedaan yang dengan cepat saling jadi pelengkap.
Boleh kuberhentikan sekarang juga?
Lauh mahfuzh tak pernah ingkar janji. Kitab yang di dalamnya memangku rahasia bumi dan langit. Bagaimana mungkin ia yang disebut sebanyak 13 kali dalam kitab pedoman manusia bisa salah mencatat skenario?
Kuharap kembali dengan doa tengadah bertubi-tubi:

Apakah intuisiku hanyalah rekaan jin semata? Menggodaku agar bermain-main dengan suratan. Bagaimana mungkin aku justru menggagas hal yang bukan berfokus pada derma kalau memang demi wewangian seistimewa firdaus? Atau ini hanya serupa mata manusia yang melihat bintang jatuh lalu menyembah-nyembah agar makbul doanya. Padahal cahaya itu hanyalah semburan api terang yang dilempar penjaga lauh mahfuzh sebab kerahasiaan kodrat nyaris dicuri untuk digadai dengan perketuan setan.
Sayangnya, sudah kita lemparkan dadu bebarengan. Selesaikan sampai akhir perjalanan. Dengan bantuan pemilik takdir, kau dan aku pastilah selamat sampai tujuan. Kalau memang ia adalah singgasana sekekal surga.
Bukan lagi (hanya) Jogja, kita merebas dunia-baka.
19 Mei 2015.


Salam,
Dariku yang penuh doa.

Kosa Kata yang Hilang: Tulus

Sudah kutemukan. Sore ini. Memelas. Wajahnya menagih untuk bersegera dipungut dari perasingan. Di sepinggiran rerintik hujan. 
Yang lalu menderas, menggenang di ujung jalan berlubang. Bersama kenangan yang berenang-renang ke tepian. Padahal sudah lama sekali—mati-matian kugempur dengan segala cara. Tapi nihil. Aku selalu gagal dalam melangis tangis. Karenamu. Turunan hawa yang katanya paling subtil seantero jagad. Padahal lamat-lamat kutelanjangi seisi dadamu, sekujur tubuh tak akan luput dari segala sesuatu yang artifisial: ecek-ecek.

Sudah kutemukan. Semalam tadi. Garang. Raut rupanya membenarkan diri: siapalah ia sesungguhnya. Meminta dijumput dalam jingga kemerahan yang sudah lunas dilahap alam.


Aku terkekeh. Meski tak sampai bising di telingamu. Sambil memeluki lututku yang masih terus terguncang ledak tawa. Bukan karena kamu lucu. Bukan juga sebab aku mulai tidak waras. Tapi sudah satu setengah tahun takdir begitu menggelikan. Tapi bukan salah tulisan Tuhan, mana ada predestinasi yang meleset. Padahal sudah terang-terangan angin menjabar kabar. Aku saja yang terlalu bodoh berseloroh dengan seseorang yang cakap kali mengabai.

Kalau lelaki yang nyaris 1460 hari mencecapimu saja alpa mengenaimu, apalagi aku yang baru sekelap mata mengintaimu. Kupikir mulanya kau adalah bidadari jelmaan yang diturunkan dari asilium. Tapi lambat laun kau tak ubahnya seperti si kulit hitam yang memaksa diri suntik vitamin-C demi kulit kuning langsat bak putri keraton. Sudahlah. Apa bedanya dengan aku?

Jebolan Sekolah Teknik Menengah bertransformasi menjadi dara yang gemulai menunggangi heels belasan sentimeter, dengan seraut wajah yang sarat dengan bersolek: pipi ranum; bulu mata lentik; dan bibir seperti bekas menenggak anggur merah.

Tapi tidak, bantahnya—sorot mata lain di lintas jejak tapak.

Yang terlihat nyata muncul menyembul justru kulit kusam penuh noda, wajah pucat-pasi seperti pengidap kanker stadium akhir, dan  flat shoes yang terdengar setengah diseret.

“Itu kamu,” ujarnya sambil menyodorkan cermin besar berukuran pintu.

Sudah kutemukan. Baru saja. Polos. Paras lugunya ingin mengambil posisi semula. Berharap diperankan kembali menjadi tokoh utama. Merayu dengan tersipu, menawar-nawar ragu padaku.

Was-was kalau aku tak acuh padanya. Kalau aku tiba-tiba sengiang naik-pitam. Menghina kenaifan seseorang yang pernah dikhianati sejenisnya. Aku menghela napas panjang. Ke mana saja selama ini? Bukankah tak ada yang salah dengan luka. Tidak juga dengan menjadi cela karena tak mampu berbaik-baik saja pada kengawuran olah rasa. Aku rasa juga begitu.

Cinta mana bisa tanpa hitung-hitungan. Ia tetap baku pada logika. Ia tetap mesti selaras dengan gravitasi, menuju yang paling hakiki. Mana boleh dimaafkan tanpa perjanjian ulang. Dan mana kusangka, ternyata tak hanya perlu dengan satu faksi. Ia butuh kedua belah pihak untuk dimurnikan kembali kadarnya dengan media netral: keikhlasan. Kalau salah satunya tak terpenuhi, maka mushil direstorasi. Sedang kau enggan menyelesaikannya dengan kepala dingin. Padahal kau tahu betul lantaran siapa ia nekat berkelukur darah menyulut air mataku sampai beku.

At Loops Cafe Jogja dan “Filosofi Kopi” milik penulis kenamaan Dewi Lestari

Dan sudah kuhabiskan satu tempo sampai bosan dengan reaksionerku sendiri. Yang terus saja menolak hilang ingatan. Memori justru berjalan mundur. Semakin lama semakin menusuk sungsum.

Sudah kutemukan. Di batas waktu. Diriku sendiri. Penat-tenat dengan segala yang memutari medan yang itu-itu lagi. Meminta tolong dengan bersujud-sujud di pangkuan hujan. Memohon lepas dari masa silam. Kau, pergilah. Aku sudah jengah mengupayakan hati untuk patos-asih pada laku yang tak tahu diri.
Terduduk di sudut kafe dengan gerimis yang tak lagi bisa disebut rerintik, membuatku mulai mengerti. Bahwa lebih baik tulus dalam membenci ketimbang berpura-pura mengasihi: padanya yang lalai pada hak orang lain. Apalagi dalam konstelasi cinta. Dan angka dua—sebut saja khianat—serta orang ketiga—sebut juga penggoda—tidak lagi punya kelayakan atas keutuhan afeksi yang murni.
Maka jika kuingat kembali rumus fisika sederhana bahwa aksi sama dengan re-aksi. Sekarang, aku tak mengapa bilasaja memang harus ada satu jiwa yang beroposisi denganku. Aku tak lagi kudu berfilantropis padamu, kan?



Karena membenci tanpa ketulusan hanya akan membuat seseorang memakan kebenciannya sendiri. Biar deras hujan yang mengguyur perlahan….



Dariku,
Yang berusaha mengikhlaskan kekhilafanku sendiri.
31 Maret 2014


Pembacaan puisi : My Soundcloud – @Fasihrdn

Dan Bila Kau adalah Keseimbangan

Aku masih bisa merasakannya. Masih mengingati diri penuh air mata mendoa(mu) dari sini; dalam teduhnya sujud dini hari.
Aku tak pernah senang hiruk-pikuk keramaian kota, kecuali memutarinya bersamamu.
Aku tak pernah suka bising dunia nyata, kecuali mendengarnya denganmu.
Aku tak pernah bisa bercerita menyoal kerapuhan yang berdiam di dadaku, kecuali dengan bola matamu.
Entah, sebab kau memang bagian dari doa yang makbul ataukah hanya aku yang memaksakan kamulah orang itu—seseorang yang memang Tuhan izinkan berbagi bagian dari tubuhnya untuk menjadi separuhku.

Sudah lama kiranya, aku mengacak-abul kosa-kata. Kujadikan serangkaian kalimat cinta. Kujabar dengan begitu sempurna. Sejak tahunan lalu, sebenarnya aku tak pernah mengerti aku ini bicara apa. Semua hanya seperti kutipan film “Supernova” karya penulis kenamaan Dewi ‘dee’ Lestari yang sedang gencar ingin ditonton jutaan orang. Meski aku terlihat berada dalam batas ekuilibrium atau keseimbangan yang begitu baik-baik saja, nyatanya selalu dibersamai dua sisi koin yang bersebrangan.


Terkadang aku ada tetapi meniada. Sering kali aku tiada tapi begitu lekat dirasa. Kau tak akan pernah mampu menembus batas langit untuk menemui “bintang jatuh” ketika tak berada dalam frekuensi yang pas. Jatah pikir paling tinggi yang akan membuat logikamu jungkir-balik. Entah mana yang perlu didahulukan; dicintai atau mencintai. Kurasa, perlu keduanya sekaligus bebarengan.

Aku pernah begitu tegar dalam sendiri yang sabar, sebelum engkau menjamuku dengan peluk berjam-jam.
Aku pernah begitu tabah pada biasa yang jengah, sebelum engkau meramu rindu dalam jarak satu-dua mili.
Aku pernah begitu enggan ditemani sesiapa, sebelum engkau melucuti hatiku, tubuhku, segalaku pelan-pelan.

Sampai tiba aku bertanya:
Engkaukah?

151214~Lalu siapa yang sanggup menjawab….

Ajari Aku Membahagiakan Kita

Salah.
Kalau aku mengira dengan cinta, kau akan begitu saja percaya.
Lalu berbahagia.

Salah.
Kalau aku berpikir dengan setiaku, kau akan begitu saja percaya.
Lalu berbahagia.

Salah.
Kalau aku merasa dengan kesalahan masa silam, kau tak bisa begitu saja kupercaya.
Lalu tak pernah berbahagia.
more quote www.fasihrdn.tumblr.com
Sudah sejauh ini, Sayang. Tapi ragu masih kerap lalu-lalang di antara kau dan aku. Sebab yang itu-itu lagi: masa lalumu, atau lakuku yang bagimu ternyata pilu. Aku lupa, kapan terakhir aku merajuk. Ingatkah kapan terakhir kali kau tiba-tiba diam dan aku pulang dengan kita yang terlibat dalam prasangka. Kita yang menyimpan amarah. Kita yang menyembunyikan kecemburuan, atau kita yang tetiba jadi saling mengasing.
Tak bahagiakah denganku, Sayang?

Terlalu dini menyampaikan ini. Bahwa sebenarnya aku benci mengatakannya. Mencintaimu. Yang awalnya kupikir hanya egoku membahagiakan diri. Nyatanya aku tak perlu kamu memberiku bahagia, terlalu pedih merasakanmu terluka dan sering aku tak mampu mengartikannya. Yang mulanya kukira hanya hatiku yang begitu rapuh tanpamu. Nyatanya aku bisa jadi begitu ampuh saat kau sedang jatuh. Aku paham, Sayang. Kita sedang berusaha menyatukan dua kebiasaan yang berbeda. Kita sedang mencoba menyelipkan jemari yang berukuran beda, meletakkannya pada genggam yang tak kan bisa dilepaskan oleh apapun; siapapun. Kau tahu, Sayang? Memang tak mudah untuk dua kepala, dua hati, dua raga, dua pola, dan segala yang dua untuk melebur dalam satu jiwa.
Tapi sekali lagi, ingatkah bahwa perlahan ada yang samar-samar mulai tak lagi tampak di permukaan? Aku tak lagi amuk bepergian sendiri. Kau tak lagi sesering dulu meredam ribut di dadamu.
Tak bahagiakah denganku, Sayang?
Aku takut mendengarnya. Karena pernyataan sebelum ini sudah menjadi jawaban bagiku. Bukankah sebenarnya mudah bagi kita memahami tanpa berbicara secara rinci? Sebab kau sendiri yang bilang, ada bagian yang sama persis. Meski nyatanya kita tetap sama-sama butuh pengulangan kata yang tegas. Agar tak salah mengira-ngira. Agar tak salah tuduh rasa. Agar lebih mudah membahasakan kekecewaan. 
Kalau begitu maki aku sepuasmu, Sayang. Sekarang juga. Sampai remah-remah amarah tak lagi merumah. Biar aku meramah. Biar aku bisa memelukmu erat-erat. Biar aku juga merasakan degup yang terdengar begitu kencang meski hanya dengan membacamu. Biar kau tahu, seberapa dalam aku mencintaimu.
Lalu, tak bahagiakah aku denganmu, Sayang?
Meski kerap kali kupertanyakan mengapa dulu kaulakukan: menghabisi air mataku. Meski masih sering kujumput lagi kisah bekas luka lama, sampai bosan membumbung di gendang telingamu. Butuhkah jawaban dariku. Berbahagiakah aku denganmu?
Ajari aku cara yang paling pas untuk meyakinimu. Maka ajari aku memasuki tulangmu. Merangsuk ke sumsummu. Ajari aku membahagiakan kata ganti dari kau dan aku: kita.


131014~Maka kuajari kau caranya membahagiakan aku: cintai saja, seperti tak pernah kaukenali wanita selain aku.

Surat Terbuka untuk Calon Presiden Rumah Tangga(ku)

Sungguhlah aku tak patut menuliskan suara hati ini teruntuk kau, yang belum kuketahui benar atau tidaknya akan menjadi masaku di waktu yang akan datang. Tapi izinkan aku menulis surat ini teruntuk engkau, sebagai seseorang yang kuperjuangkan, kuusahakan, dan kumasukkan dalam barisan doa di setiap malam nyaris menjadi pagi.
Bukan aku meragukanmu, Sayang. Ini hanya menyoal waktu untuk percaya pada apa yang pernah kau jadikan dusta. Mahluk berinisial “adam” yang konon katanya memang sulit sekali bersetia. Atau aku saja yang terlalu takut untuk seutuhnya kembali percaya.
Bukan aku mencurigaimu setiap waktu, Sayang. Ini hanya bagian dari ketakutanku atas memoarmu yang barangkali, masih kerap lalu-lalang di pikiranmu, di sengal napasmu, di jejakmu, di sudut hatimu yang tak kuketahui. Sungguh, aku tak bermaksud untuk mencemburui masamu yang telah lalu. Ini hanya perkara gelisah yang mestinya kau peluk erat-erat agar tak berlama-lama tunduk pada prasangka.
Bukan aku tak yakin pada kesungguhanmu saat ini, Sayang. Ini hanyalah debu sisa-sisa luka yang masih belum bersih juga. Bantulah aku, meniup serdak yang mulai mengkerak. Jangan biarkan aku menggigil sendirian pada harap yang masih separuh kugenggam.
Kau tahu, pada masamu yang telah lalu. Aku seperti orang asing yang dipungut lalu diasingkan kembali.
Bukan aku bermaksud selalu mengungkitnya kembali, bila aku mulai membicarakannya lagi. Tolong, pahamkan aku bahwa aku yang salah mengira. Aku yang salah menduga. Hanya aku yang berlebihan mengartikannya.
Jadi….
Bisakah bersetia pada satu nama dalam doamu, namaku saja. Meski sungguh, dalam doaku pun kuminta Allah selalu mendekapmu lebih erat dari cinta yang kupunya, lebih dekat pada perintah-Nya ketimbang padaku yang sebatas wanita biasa.
Dalam keterbatasanku, Mas, kuharap mampu memenuhi celahmu yang diam-diam ternyata rapuh juga dalam ketakutan melewati batasan waktu yang terus saja mengejarmu. Meski katamu, cinta tak pernah butuh alasan. Tapi pada alasan apapun itu, aku mencintaimu sebab kamulah alasanku.
Salam,
Fasih Radiana



010714~Ini bukan surat berisikan kegalauanku, Sayang. Ini surat teruntuk apa yang baru saja kukenali kembali, seluruhmu. Bantu aku.

Berhenti Mencari Cinta

Aku mencari-cari cinta, di tempat yang sama, di waktu yang berbeda. Padamu jua aku kembali, pun aku masih meragukan kesungguhanmu. Tapi aku selalu berusaha menyelami matamu. Adakah dusta masih bergelayutan di pelupuknya, Sayang?
Aku mencari-cari diriku, di sana. Di tempat yang kau jadikan bahan untuk berdusta. Di waktu yang tidak tepat, barangkali, aku masih begitu mencintaimu, Sayang. Atau enggan mengucap selamat tinggal, meski begitu ingin. Sungguh, aku tak bisa memalingkan diri dari keganjilanmu yang tak juga seutuhnya menggenapiku. Berjanjilah, kali ini tak akan pernah terjadi perpisahan meski wanita yang pernah kauletakkan di pelipismu itu kembali kepadamu. Atau lebih baik kita sudahi saja, sebelum kau lagi-lagi menjalin di belakangku. Sebelum aku menemui kamu yang mengulang perkara itu. Soal cinta lama yang bisa saja bersemi kembali suatu saat nanti. Apa betul kau tak akan lagi menoleh ke belakang?
more quote www.fasihrr.tumblr.com or follow me @fasihrdn
Aku mencari-cari, siapalah sebenarnya yang perlu kulengkapi. Engkaukah? Bisa kaurasakan ketakutanku menjalar jadi gusar yang tak kunjung selesai. Maka jangan berhenti meyakinkan aku, Sayang. Demi Tuhan, gelisah masih kerap mengundang air mata. Mengajaknya meluncur jadi bulir yang mengisyaratkan luka. Sungguh, aku ingin mengikatmu di sela jemariku agar tak bepergian lagi dengan yang lainnya. Bisa kaujabarkan bagaimana ketakutanku ini begitu mengganggu, jadi, izinkan aku untuk memintamu terus-menerus menjejaliku dengan cinta yang membuatku percaya. Akulah satu-satunya.
Aku berhenti mencari. Meski belum sepenuhnya kutemui diriku memenuhi seluruh ruang di hatimu. Lalu pergilah, bila memang tak kautemukan sejatimu bersamaku. Aku rela melepasmu dengan doa….


280614~Berhentilah, di tempat yang ingin kaudiami selamanya. Dan pergilah, jika bukan aku yang ingin kaujadikan tempatmu berpulang.

(Menuju) Tujuh Belas; Membilang Ulang atau Berpulang

17.
Jadi angka yang paling dinanti tuan dan putri. Mereka yang katanya disebut dewasa di angka tujuh belas. Katanya, sudah layak menjadi alamas. Tapi mengapa mesti tujuh belas?
17.
Ingatkah ada pertemuan yang katanya bukan sebuah kebetulan pada Selasa malam di bulan ke sembilan? Bisa kurunut kembali, kronologi jejak remang di halaman luas salah satu gedung universitas itu bukanlah suatu permintaan atas kedatangan satu sama lain, tetapi menjadi waktu yang pas untuk awal mula sederet kejadian.
17.
Aku yang langguk soal hati dalam garis stabil, kukuh kali bilang tak akan jatuh dalam cinta. Kontras dengan lelaki yang samar parasnya dibias bulan, sedang mencari-cari pintu keluar dari masanya yang telah lalu. Kau yang barangkali kadung duka bicara hubungan dan aku yang teguh pada kesetimbangan. Perasaan bukan lagi perkara sepele ketika Tuhan membuka jalan, membatasi perkiraan, atau menggeser angan jadi bungkus kebimbangan. Bulan yang merayap diam-diam, seketika jadi bising hujan.
17.
Sehabis malam itu pagiku direnggut kelut-kemelut. Tujuh belas jadi jejeran angka yang selalu ingin kutemui di tempat serupa, pada waktu yang sama, dalam lingkar senada. Agar bisa kuambil kembali yang dirampas paksa, segala yang baik-baik saja sudah tak lagi ada di sana. Mengapa kau tega menukar teduhku dengan gaduhmu?
17.
Lalu jadi deretan bilangan yang tak berumus: 17, 5, 6, 19, 20, 25…
17.
Aku masih bisa mengurai satu persatu kausa semara. Sampai kata membujur sajak-sajak tak berima. Sudah lelah dalam lengah. Jenuh melenguh keluh, kau dan aku jadi sama-sana membuhul kelukur. Jauh lebih santun aku membisu; undur diri dari hadapanmu. Biar tulus yang menjawab waktu.
17.
Pertemuan itu bukan suatu kebetulan, katamu berkali-kali. Juga saat ber(p)ulang di pertemuan pertama setelah suatu perpisahan yang tidak lama. Tujuh belas jadi angka lawas yang diperbarui. Kala janji tanpa bukti mendadur mimpi, aku jadi sedikit takut kalau-kalau kau membawaku pada setia yang salah lagi. Tapi rupanya kau hebat membangat hati, memasuki rongga sukma yang mulai meruam kebiruan. Lebam kedinginan.
17.
Apa masih kurang? Yang kemarin, apa masih kurang? Nyaris menuju tujuh belas yang kesekian … dan kau masih juga tak memberi kepastian di masa mendatang. Kau, masih saja memberiku ruang untuk bertanya ada apa di masa silam.
Iya atau tidak, begitu sederhana mengapa mesti menunggu aku merebas air mata….


160414~Jelaskan saja apa yang mesti kuketahui secara rinci, sebab aku tak sudi kehilangan dua kali hanya karena membagi hati sekali lagi.

Hari Ke-28: Epilog (Surat Terakhir)


Apa beda mengharap dengan menyayang?
Boleh kudefinisikan masing-masing kata kerja yang ternyata begitu tipis perbedaannya itu. Bukankah mereka adalah dua yang berbeda? Tetapi bila disatukan, bisa membuat hati meronta-ronta. Sebab hati yang merasa luka memang selalu sebab harap yang tak kunjung bisa didekap. Begitu bukan? Tetapi cinta tak pernah merugi, ketika ia adalah pemberi. Ia tak pernah berharap diganti. Jadi, bisa kau bedakan sekarang?
Lalu apa beda aku kini dengan diriku dulu?
Bukankah tak ada bedanya? Tak perlu dipertanyakan lagi, berkali-kali pun hati sudah tahu pasti apa yang tersimpan begitu rapi. Tak perlu diucap kembali. Masih bisa kau rasa, senyum megah itu hanya berganti menjadi lebih sederhana, ia lebih berhati-hati menampakkan diri. Lebih santun untuk tidak berada di barisan paling depan, bukankah dulu, sebelumnya aku juga hanya jadi pendoa di posisi paling belakang. Di balik punggung. Tak pernah berani menyuarakan kekhawatiran.
Tuhan mengembalikan posisi sebab ternyata aku tak bisa menilik hati dengan baik. Tuhan mengambil apa yang ternyata belum pantas kujaga, mungkin saja Tuhan ingin aku mempersiapkan diri jauh lebih teliti.
Pergilah ke tempat yang kautuju. Dengan suasana yang lebih membuatmu haru. Suara ombak yang lebih merdu atau udara yang lebih harum untuk kaucumbu. Pergilah bersama hati yang bagimu lebih nikmat untuk diadu. Jangan hiraukan wanita sepertiku, meski hanya karena aku masih setia merindumu. Tak usah kau ragu, tinggalkan aku saja seperti maumu waktu itu, tak perlu membawa beban sebab takut aku mengidap kejiwaan akut. Rindu bukanlah alasan untuk menyeretmu kembali ke lingkar hati. Rasa yang tak kunjung pergi bukan dalih yang bisa membuatku merengek-rengek memintamu menemaniku sampai mati.
more quote www.fasihrr.tumblr.com
Kalau suatu waktu aku datang padamu dengan rupa lusuh tak tahu malu, apalagi berani mengantar rindu … abaikan saja seolah tak pernah mengenalku. Jangan biarkan aku mengganggumu. Biar aku belajar memosisikan diri, biar aku paham siapalah aku; jauh.
Februari nyaris habis. Mungkin ini surat terakhir untukmu dari seorang gadis (sepertiku). Terima kasih, Tuan. Kau izinkan aku mengirim rindu meski rindu sudah begitu banyak untukmu. Darinya, yang kau cintai. Darinya, yang kuharap sama tulusnya mencintaimu seperti kau yang melakukan segala hal untuk mendapatkannya kembali. Semoga Tuhan tak putus-putus memberimu bahagia dan membuang semua gelisah karenaku. Maafkan aku, Tuan. Terlalu banyak mengirimimu surat tak bermartabat seperti ini. Tak ada lagi lain kali. Berkahir sudah malam ini, malam yang tak pernah kubayangkan terjadi. Malam-malam selanjutnya, biarlah menjadi rahasia untuk sebuah takdir yang begitu indah, nantinya. 
Tak ada yang lebih baik dari sebuah perpisahan kecuali mengikhlaskan. Tak ada cinta yang lebih sempurna kecuali dengan mendoakan. Tak ada hidup yang lebih tenang kecuali dengan menerima takdir Tuhan. Ya kan?
280214~Sampai bertemu di lain waktu, siapa yang tahu aku berpapasan denganmu—lagi—di lain hari.