Menjinjing Takdir

Harusnya kuyakinkan diri seribu kali lebih aktif bahwa Kau telah mengemas takdir dalam lauh mahfuzh. Sempurna. Tak punya cacat di satu tanda baca pun. Aku saja yang mengabai. Aku saja yang tak pandai meneliti ada abjad apa yang kurang titik dan koma. Malah mengurusi hal-hal yang tidak patut dikunjungi berkali-kali. Harusnya aku jauh lebih paham, sebab dua puluh tahunku tak sesingkat kurun waktumu. Siapapun itu.
Dipersiapkan lebih hebat tapi malah berontak. Katanya tak kuat. Katanya tak ingin, tak sanggup, tak mau, tak … tak … tak … terlalu bising dengan kata tidak.
Lalu manusia macam apa yang tidak menuruti titah kitabnya. Kalau Allah mengikuti prasangka hamba-Nya, tak ingatkah nuranimu menginginkan sesuatu seberat apa tanggungannya dunia-akhirat? Katamu tempo hari, sejak masa masih dalam periode madya. Kau mengungguli waktu lebih dini. Menggauli hari lebih malam sampai habis datang pagi. Lalu, kau pikir bisa seenaknya sendiri? Kau kira tak ada uji materi? Kau anggap segala mudah begitu saja? Padahal nyata-nyata di depan sana lebih besar perkara akan menyapa, mengajakmu bicara, lalu mulai menampar-nampar sampai habis daya diganti air mata.

Mana mungkin menang dengan taktik serupa. Tak ada yang egaliter bila tujuannya adalah pembeda. Pasti yang lebih sahaja lebih pula panjang jarak langkah dengan capaiannya. Tak mungkin seia-sekata dengan yang ngorok lebih lama. Pastilah yang kokoh itu disusun dari beton dua puluh tujuh kali lipat lebih banyak ketimbang rumah reot di pinggir kali Jakarta. Mustahil hapal seisi Kamus Besar Bahasa Indonesia beserta sinonimnya kalau aku tak paksa mata menjejal kata per kata sampai mual dibuatnya. Sudah jelas kan mengapa “man jadda wa jadda” harus diikat kuat lima senti dari pelipismu? Biar dekat dengan otakmu, lalu sampai merangsuk ke hati melalui terjemahan jendelanya: sepasang kornea berpupil ras Asia.

www.fasihrdn.tumblr.com
Percayalah, Sayang. Mimpi yang kau cetak tebal di halaman depan buku catatanmu akan membawamu melesat sampai ke sana. Ke tempat yang ingin kau tuju. Maka salahkah bila Allah sokong IQ selevel Albert Einsten untuk mereka yang terobsesi pada inovasi tingkat mahir? Atau Allah modali panjang hati bagi ia yang bercita-cita menjadi Ibu asuh di panti? Mulai tahu kan mengapa banyak sengketa perihal ini dan itu ditaruh begitu saja di pundakmu? Menjeratmu pada pasal demi pasal yang berakhir di meja hijau buatan massa penganut hukum rimba.
Sudah ada gambar di tiap-tiap petak. Setiap ciptaan-Nya bebas mencomot salah satu atau lebih dari preferensi yang disuguhi. Tinggal bersungguh-sungguh atau tidak. Lalu seleksi alam menindak lanjuti gerak pada setiap babak. Percayalah, Sayang. Setiap fase punya hak kepemilikan. Tak perlu khawatirkan angin di pinggir pantai selagi masih menjejaki kaki bukit. Ada yang tidak perlu kau sambar dengan sesumbar, biar jam dinding putuskan kapan hujan menyudahi mendung pada senja. Lalu pelangi berbaris setengah melingkar dengan sendirinya, tanpa aba-aba.
Selalu ada waktu yang tepat untuk bertemu pada kelayakan yang sah. Biar mulut-mulut bercelutak semaunya dari pintu ke pintu, kalau Kun Fayakun sudah dijadikan sabda, maka membisulah satu kota.
Harusnya kuyakinkan diri seribu kali lebih aktif bahwa Kau telah mengemas takdir dalam lauh mahfuzh. Sempurna. Tak ada yang kebetulan. Semua serba magis di luar jangkauan logika manusia. Hanya keterbatasanku saja yang kian tampak mengambang di air muka. Maafkanlah hamba-Mu. Maafkanlah aku.
Bismillah jadi tanda dimulainya kembali perjanjian persetujuan beriktikad santun antara hati dengan mimpi. Yang sudah, biarlah jadi petuah. Jangan sampai dibawa ke masa depan. Bismillah….
140915, 00:29~Segala yang hebat berasal dari keberhasilannya menaklukkan rimbun takdir yang ia pikir mengikir, padahal membentuk otot-otot pondasi pola pikir. Percayalah, Sayang. Tak ada yang lebih baik dari percaya pada-Nya.


Salam,
Fasih Radiana

Bila Kau Bukan Takdirku

Dan sejauh ini aku bilang aku mencintaimu. Lalu dengan itu kau mengaku mencintai seluruhku. Sejatikah?
Ada ruang dalam rongga dadaku, ia bilang kau tidak.
Ada lubang dalam embus napasku, ia bilang kau tidak.
Ada belulang dalam tubuhku, ia pun bilang kau tidak.

Dan sejauh ini kuucap rindu berkali-kali, lalu dengan itu kau membubuh rindu ke segala pintu. Abadikah?

Masih ada ragu, kataku.
Masih juga menyimpan pilu, batinku.
Sayang.
Aku tak pernah suka mendengar sebutan itu membumbung sampai ke gendang telingaku. Skeptis bahwa itu salah satu bukti seseorang benar-benar merasakannya mengaliri rusuknya.
Tapi denganmu aku bersetia menunggu “sayang”-mu mencumbui pendengaranku.
I love you.
Aku jejap dengan kalimat yang katanya romantis. Aku geli dengan bualan yang terlalu dini untuk bisa dipercaya keberadaannya di dalam hati.
Tapi bersamamu aku selalu merindu “I love you“-mu menjejali gemeretak dalam gigilku.
Dan sejauh ini aku hanya ingin menapaki langkahmu sampai benar-benar berhenti di satu petak yang kusebut takdir. Meski jauh sebelum hari menjadi terlalu dingin, pertemuanku denganmu sudah kunikmati sebagai bagian dari takdir.
Ada bagian di semuaku meyakini seutuhmu. 
Di waktu bersamaan, aku was-was kalau saja ternyata segala milikku tak juga pas menggenapimu.
Sayang, dengarkan aku. Bila saja jodoh bukan di genggamku menyela jemarimu. Bila saja aku bukanlah akhiran dari bait puisimu, atau ternyata kita tak pernah dituliskan untuk menua di atap yang satu … bibirku akan semakin lihai mendoamu, lalu akan ada tangan yang semakin lama bertengadah sampai fajar nyaris pecah. Biar patah takdir-takdir yang barangkali salah.

Sebab setiap kali kauakhiri dialogku, kulumati kalimat-kalimat rindu sampai habis waktu menunjukkan pukul tujuh. Setiap kali kuakhiri ceritamu, kaukunyah kata demi kata cinta sampai habis ruang subuh.

041114~Kubuang jauh-jauh larik di awal tulisanku, bantu aku menghapusnya biar tak ada celah bagi yang lain memasuki kau dan aku. I Love you.



Salam, 
Fasih Radiana

Pada Masa yang Lalu….

Tolong, berhenti mengikuti jejakku. Aku lelah menjadi bayangmu. Kau tahu, aku bukan pengingat memoar. Aku tak mungkin tinggal di situ, dalam sajak kenangan. Atau rintik hujan yang jadi nyanyian di pinggir kota.
Tolong, berhenti mengikuti jejakku. Kau tak pernah tahu dalamnya luka yang kurawat sendirian ini, melibatkan deras air mata, meski masih dipenuhi cinta. Aku bukan robot, Sayang. Ada bagian terkecil dari hati yang berisik berbisik, ia rapuh, ia begitu lemah, ia nyaris mati setelah dihancurkan berkali-kali.
Tolong, berhenti mengikuti jejakku. Berhentilah di sana, di tempat yang tak kuketahui. Aku enggan menemukan wajahmu menggurat lara di masaku yang akan datang. Padamu, masa yang telah lalu. Berhentilah mengejarku. Biarkan aku pergi, biarkan aku bepergian dari semua kenangan; darimu.

Wanita Idaman(mu)

more quote www.fasihrr.tumblr.com
Aku tak punya daya lagi, semakin aku ingin melarikan diri semakin kau menyeretku kembali. Tapi aku lelah dianggap sampah. Meski nyatanya aku tetap saja berpegang pasrah kalau-kalau kau beracah-acah. Hhhh, aku bosan mendengar lenguh yang masih juga penuh keluh. Napas panjang yang lekat dengan gamang, gamblang kali meski kita antarruang; jauh tak tersentuh.
Katanya, kau sedang asyik bercumbu di tempat lain dengan seseorang berinisial wanita idaman(mu).
Untuk apa kiranya mulut-mulut itu berceletuk menyoal kau yang rajin mencelutak. Toh, aku hanya bisa manggut-manggut. Mau apa? Membelasut juga tak mungkin sanggup. Malah rangup jadi bujut seperti benang kusut. Jujur saja, nyaliku sudah ciut. Carut-marut. Lebih baik tak tahu-menahu siapa-siapa saja yang kau suguh dengan rayu.
Aku tak bermaksud ingin tahu wujud wanitamu itu, yang jelas pasti bukan badut.
Sebab mana mungkin yang seyogianya menggaris tawa malah sengaja membubut air mata. Sepantasnya saja, wanita itu pastilah sempurna. Tak ada bandingannya. Selayak kau jadikan bidadari surga. Sungguh, kalau memang iya, katakan saja terus terang agar aku tak lagi menunggumu. Sebaiknya perkenalkan wanita itu padaku, biar mudah bagiku beringsut mundur. Bicaralah keras-keras biar cintaku seketika kandas. Biar lepas….

190514~Biar tak lagi membayangimu, apalagi dengan tulisan-tulisanku.

Teruntuk Kamu, Lelaki Terhebat

Kalau selarik doa adalah wujud cinta, barangkali kata tak lagi ada gunanya. Sebab ia hanya seperti bunga yang dirangkai untuk menunggu kapan waktunya layu. Dan aku hanya dalam anganmu, dalam kalimatmu, dalam aksara-aksara yang sulit sekali kueja; aku hanya pengobat pilu. Bukan yang namanya kausebut dalam doa.
Sadari aku tak pernah benar-benar berada di hatimu. Malam ini aku membisu dan segala sesuatu yang mengarah padaku bukanlah perkara baru. Mata yang tak pernah punya waktu untuk berdusta, tak ada cinta dalam tatapnya. Mengapa tak kaukatakan saja sejak dulu, bahwa aku dan kamu hanyalah dua bahu yang saling berungkuran. Dekat tapi tak saling melihat. Dekap tapi tak pernah mengerat.
Pernah sesekali kautanyakan padaku, alasan aku tetap mendoamu padahal aku tahu betul rayumu hanyalah palsu. Bukan aku yang memaksa betah berlama-lama hanya untuk satu harap agar kau tetap dalam bahagia. Bukan pula aku yang meminta untuk tak bergeser, meski nyatanya gerak dalam air mata terus saja melaju cepat. Meneteskan perihnya berbicara tanpa telingamu, menjatuhkan sakitnya mendengar tanpa ucapmu.

more quote www.fasihrr.tumblr.com


Aku berhenti pada satu titik. Saat tanganku tak lagi mampu bertengadah, saat tahajjud tak lagi jadi penenang kala fajar pecah. Ingatkan aku, bahwa tak ada lagi kita di antara kau dan aku. Ingatkan aku, sebab aku masih sulit membeda antara sekarang dengan dulu.

Kalau sulit bagimu bersabar dan melebihkan porsi memahami hati yang pernah kaulukai, mengapa dekati lagi? Lalu ketakutan atas kegagalan sebelum ini jadi alasan untuk undur diri begitu saja. Pergilah semaumu. Apa pernah aku menahanmu? Bahkan kubiarkan kamu mencari sejatimu, di manapun kau mau, bahkan pada masa lalu. Ingat?
Maafkan aku yang masih bisa mengingat dengan begitu detail setiap kalimat yang kaudustakan waktu itu, maafkan aku yang bisa tiba-tiba saja mengungkit apa yang semestinya tak lagi jadi bahan pembicaraan. Seharusnya bukan lagi memutari waktu lalu, tapi menjadikan pertemuan setelah ini sebagai jamuan baru. Seperti kita yang tak pernah mengenal lebih dulu. Begitu?
Tapi aku tak mampu bila menyusun yang telah runtuh itu dengan jemariku sendiri. Aku tak mampu membangun kembali yang telah roboh dengan kekuatanku sendiri. Aku tak sanggup jika tak dibarengi usahamu. Paham?

tweet me @fasihrdn

Berkali-kali aku marah sendiri, antara hati dengan harga diri yang sudah tak kukenali lagi. Sebabmu, aku meluruhkan seluruh ego. Tapi sungguh, sebenarnya akulah yang sudah mati. Sudah mati….

Coba ceritakan padaku sebelum berakhir seperti waktu itu. Alasan aku menginjakkan kaki di ruanganmu. Sebab apa kau berbaik hati padaku, memberi satu harap yang mungkin saja kau tak bermaksud untuk itu. Hanya aku yang mengartikannya kurang teliti. Coba jelaskan padaku, di bagian yang hilang itu … ada kisah apa yang mengantarmu kembali ke kotaku. Jogja. Padahal aku sudah ingin berjarak dari kota ini; kota yang terlalu banyak mencitrakan kedamaian, kota yang terlalu sering jadi tempat persinggahan, kota yang selalu memberi jejak kenangan. Tak bisakah kau menegaskan apa yang kaulakukan? Sekiranya menyimpan yang tak bisa disuratkan. Bicaralah, sebelum aku membawa kembali diri memasukimu terlalu jauh; aku takut kembali jatuh. (13April2014)
Tapi sekarang aku sudah kadung jatuh, tak bisa bangun. Tak sanggup berdiri. Sudah jatuh. Sudah itu lalu kamu pergi (lagi), seenaknya sendiri.



170514 – Teruntukmu, Mas. Terserah suka atau tidak, aku telanjur menuliskan namamu. Di sini, di seluruh sisi hati. Kau boleh muak karena sebelummu, aku sudah lebih dulu. Ini bukan untuk memakimu, bukan. Bukan agar semua orang tahu, kaulah pelaku yang menghancurkan hatiku. Tapi agar kamu tahu, betapa hebatnya kamu. Sungguh, kamu boleh membenciku. Pergilah ke tempat yang benar-benar kautuju.

Menjauhlah dariku, seperti maumu. Tapi tolong, mendekaplah lebih dekat pada-Nya, yang akan selalu ada untukmu.

Bepergianlah sesukamu, dengan siapapun inginmu. Tapi kumohon, pulanglah … pulanglah jika suara azan sudah terdengar memanggilimu.

Kamu boleh tidak mengingat aku, tapi kuharap tak sedetikpun kamu melupakan-Nya, yang memberimu kekuatan begitu dalam. Kekuatan yang sama besarnya diberikan untuk merasakan kamu.

Kuizinkan kamu menyakitiku, sesuka hatimu. Tapi kumohon untuk kesekian kali, jangan berhenti mencintai dhuhamu, jangan lupa bayar hutangmu, puasamu, sedekahmu … jangan bosan dengan tadarusmu, jangan pernah berhenti melakukan apapun untuk tujuan akhirmu: Surga.

“Broken Home” Bukan Alasan Mengabaikan Tuhan

Ada yang bilang menyimpang dari aturan adalah tuntutan kehidupan. Hidup yang katanya kejam, tidak menempatkan dirinya pada yang namanya keadilan. Bukankah memang begitu cara Tuhan menguji kesabaran dalam penantian?
“Ayah Ibuku sudah lama bercerai, aku hanya dihidupi oleh seorang Ibu yang harus mondar-mandir banting tulang sendirian.”
Alasan pertama membenci kehidupan. Membenci semua pria sebab ibunya ditinggalkan. Buat apa lagi lelaki menggenapi? Toh, nyatanya Ibuku bisa hidup sendiri.
“Ibuku berselingkuh sebab katanya Ayah tak bisa membuatnya bahagia.”

Alasan mengapa aku mempermainkan keadaan. Memainkan peran untuk menggandeng jemari yang berbeda setiap hari. Aku bisa merengek kesana-kemari sesuka hati. Meminta ini-itu pada lelaki mana pun. Bukankah Ibu adalah panutan? Bukankah begitu yang Ibu ajarkan?
“Ayahku pemabuk berat, setiap hari memukuli Ibuku. Lebam di sekujur tubuhku pun jadi saksi bisu.”
Alasan sebatang rokok adalah penghilang pilu. Ada rasa yang melegakan di setiap hisapannya. Menghilangkan pekat yang membayangi setiap pukulan yang selalu berdentam-dentam di telingaku. Sabu-sabu jadi pilihan kedua, aku bisa menghirup ketenangan di balik kegetiran. Aku bisa merasakan kehidupan yang bebas tanpa masalah yang selalu saja jadi hidangan.
“Ayah dan Ibuku hanya seorang pemulung. Bisa apa untuk mencukupi kebutuhanku? Kami tinggal di gubuk kecil yang terbuat dari triplek, aku bahkan tak bisa meluruskan kakiku sendiri.”
Alasan aku lebih suka menepi, sendiri. Dicaci maki sudah jadi makanan sehari-hari hanya karena aku seorang yang fakir miskin. Begitu mudah semua menghina, melempariku dengan tatapan “jijik”. Aku benci orang tuaku, sebab mereka membuatku malu. Aku tidak layak belajar, aku juga tidak ingin belajar di sekolah. Aku tidak punya fasilitas seperti yang dimiliki teman-teman. Aku benci orang tuaku sebab mereka bukan yang pandai mencetak lembaran uang.
“Aku seorang penghuni panti asuhan, tak pernah mengenal kasih sayang orang tua,” atau “Orang tuaku pebisnis yang sukses, setiap hari bergelut dengan kehidupan yang bergelimang harta. Mencari uang adalah ambisi, lalu aku hanya disuguhi materi.”
Alasan mengapa aku mencari perhatian dari sana-sini. Dengan cara apapun akan kulakukan demi mendapatkan kasih sayang dari segala penjuru. Bahkan menjadi yang tak mengenal “adat-istiadat”. Aku tak peduli, yang penting aku bisa menjadi pusat perhatian.
Bagian yang mana ceritamu? Yang seperti apa kehidupan meletakkan kamu pada satu cerita yang bisa disebut “broken home”? Yang seperti apa kiranya? Seperti apa kamu menikmatinya?

Sudah retak tepiannya, kosong di tengah-tengahnya, apa masih juga hancur seluruhnya? Rusak bukan alasan untuk menghancurkan diri. 
Padahal Tuhan mengintai setiap tindakan yang tak terekam mata manusia. Bukan alasan, menyebut diri sendiri sebagai penyandang gelar “Broken Home” lalu bisa seenaknya menyilangkan aturan. Bukankah justru berbahagia? Tuhan mengajarimu menyandarkan tubuh hanya kepada-Nya. Bukankah seharusnya senang? Sebab hidup hanya sekadar pilihan dari tantangan Tuhan.
Bukan salah keadaan menempatkan kamu pada satuan, hanya kamu saja yang belum bisa mengendalikan. Tuhan hanya mengirim pesan sebagai sinyal menuju kebahagiaan. Kalau kamu bisa membaca pesan Tuhan dengan saksama, kalau kamu bisa melewatinya tanpa meninggalkan Tuhan.
Bukankah Tuhan adalah sutradara paling baik menuliskan skenario dengan ending tak terduga? Bahagia memang kerap muncul belakangan. Bersabarlah, maka Tuhan akan merengkuhmu dalam balutan doa-doa yang menjadi akhir penantian dari segala kesedihan.

#Tiba-tiba pengen nge-posting hasil pengamatan Saya yang sudah lama lalu-lalang di pikiran, semoga bisa sedikit membuka hati dan pikiran siapa saja yang membaca, ya 🙂


Salam,
Fasih Radiana