Idealisme Masa Silam

Hai, masa depan. Jangan bersembunyi di balik takdir orang. Patahkan segera bila memang tak tepat dalam naskahnya. Jangan takut aku menangis karenanya, aku tak akan malu menapakinya. Bukankah di depan Tuhanmu aku sudah mengakuinya?

Masa depan, dulu aku mengira kau adalah rencana yang mesti disusun begitu sempurna. Dengan daya yang tak sedikit, dengan alir air mata yang tumpah menyangga luka, dengan segala yang ternyata hanya dampak ketidakinginan mengulang kesalahan lama. Terlampau dalam aku menguburnya diam-diam, menjadikan harap pada yang tak sepatutnya diraih dengan cara berpunggungan dengan pemilik kuasa. Kini, cerita sudah diobrak-abrik penyesalan. Masihkah ada ruang perbaikan?

Sendiri adalah makanan sehari-hari. Aku tak pernah sudi menggantinya dengan ramai yang berduyun-duyun melamar kemari. Sadari sebenarnya ada satu angan rahasia sejak lama untuk memiliki rak sepatu, agar ada tempat menaruh dua kaki yang lesu. Lalu lemari besi untuk menggantung sendi-sendi yang terlalu sering dipaksa berlari tanpa henti. Lantai kayu untuk membaringkan tulang reyot di bawah atap yang bila malam menyoroti kantung mata dengan purnama. Tapi ternyata aku tak butuh itu semua. Cukup satu hati yang mengajak lelah berterus-terang ketika langit masih kelam, tapi bulan sudah samar menghilang. Dan tak satupun, termasuk segala ilmuku yang tahu, siapa ia. Di mana sedang berpijak. Atau kapan akan berjumpa.

Masa depan, bila bagimu aku terburu-buru, bila kau tahu niat itu bergeser terlalu jauh, beritahu aku. Tak apa, aku tak akan marah. Tegar sudah disiapkan untuk lebih tabah. Sebab tak lagi ada waktu untuk mengulang-ulang kepayahan diri membawa seluruh aku pada dunia yang semu.

Tolong, bantu katakan pada Tuanmu, hancurkan saja apapun yang tak Ia sukai. Bila memang harus, sakit separah apa, aku bersedia. Bunuh saja.

©Fasih Radiana

Melepas Doa

Siapa sebenarnya ia? Yang Kau pilih sebagai pembentuk rasa kangen tanpa perlu risaukan hujan dalam kemarau, penghasil kilat pembelah langit dan gemuruh petir menggaungi kuping. Mengajariku untuk terus menerus berbuah sujud dalam tengadah yang ia barengi dengan peluk pertanda dengannya, hidup memang untuk selalu menemui takdir demi takdir-Mu. Siapa kiranya yang sebetulnya Kau relakan melucuti pikiranku, mengalahkan semua rasa, menjadikan tubuh sebagai pengobat ngilunya masa yang sudah punah.

Membentuk nasibnya sendiri serupa dalam firman-Mu bahwa tiada perubahan tanpa diri yang berevolusi. Tapi luput menilik perkataan-Mu yang lain. Tapi lupa banyaknya ceceran khianat dan dosa berserak tak acuh pada kematian yang bisa saja datang lebih dulu. Tahunan kucari dinding pembatas antara sadar dan harapan yang besar. Berkali-kali mencoba memendekkan lagi jarak sujud dengan doa. Tapi ternyata, tanpa rela membuka genggam, seseorang tak akan pernah bisa menerima bingkisan rahasia selanjutnya.

Tadinya kukira, jalan liku penuh tanjakan sudah benar diupayakan. Kemarin kupikir, langkah kaki yang derapnya makin bising sudah sampai di depan pintu kaca, sudah kupegang gagangnya, tinggal kugeser saja engselnya. Tiba-tiba kurasa, Tuhan datang menghadiahkan kemampuan meluruhkan diri; mengasingkan hati dengan luka-luka yang mesti diselesaikan tanpa melipat apa yang ada di hadapan.
Sebuah tanda tanya besar tergantung pada celah jendela besi. Dalam ruang yang minim sinar matahari. Tirai yang tak pernah diganti, dan nyaringnya udara dari kipas di atas meja usang penuh debu. Sebuah pernyataan melibatkan kekhusukan pengakuan dalam rembesan air mata yang membisukan puluhan tahun sebelumnya. Yang sabarnya kian gusar, yang nalarnya sudah nanar.
Darimana kau tahu ini hanyalah drama di musim semi? Padahal nyata-nyata panasnya menyayat-nyayat ingatan. Lalu gemingnya malah hasilkan hujan di awal bulan. Siapa yang memberitahu ada serentetan apa di antara kau dan aku. Di antara diam dengan diam; tawa berlanjut tawa; waktu demi waktu.
Bila mimpi menyimpan pertanda, biar Ia yang sibak untuk apa segala. Empat musim tumpah di kota penuh tanya. Melemahkan tempurung kaki yang terlampau jauh diajak pergi. Menguliti kelopak mata yang terlalu sedikit dalam pejam. Melumpuhkan jemari yang terlalu banyak menyusun abjad.
Aku dipaksa menempuh gurun salju di tanah gersang, tanpa boots, tanpa jaket kulit setebal bed cover, tidak juga dengan sarung tangan bludru motif macan tutul. Melewati sisa daun gugur yang mulai hijau kembali, tapi patah uratnya diinjak kaki. Sampai tak dapat dibedakan lagi, menuju atau melarikan diri.
Kata ilmuwan agama, jika ada bimbang menelisip di lipatan kulit, jangan semakin dijepit. Lepaskan. Bukan mengablur nama, bukan juga meretas rasa. Tapi pergilah, jauh, sendiri. Bila jauh berarti jarak tempuh, kita pasti tak satu alur pikir. Jauh tak mesti menyoal kilometer. Jauh itu sebuah kedalaman, hati dan jiwa saja yang paham lewat manakah akal membuka pikirannya, memasuki alam bawah sadarnya. Lalu ikhlas menjatuhkan diri.
Pertanyaan semudah, “siapa sebenarnya ia? Yang Kau pilih sebagai pembentuk rasa kangen tanpa perlu risaukan hujan dalam kemarau, penghasil kilat pembelah langit dan gemuruh petir menggaungi kuping. Mengajariku untuk terus menerus berbuah sujud dalam tengadah…” dijawab gugusannya sendiri.
Kau tahu?
Apa yang jauh dari kata adalah rindu yang membumbung sampai ke langit ke tujuh. Menubuh dalam doa yang utuh.

Kau mau tahu?
Diamlah di sana sampai Allah menghampirimu. Dalam sabar,
pada doa.

©Fasih Radiana, self reminder di atas tanah Jawa berinisial Yogyakarta, 06 Oktober 2016