Sebuah Perjalanan Rahasia: Saya Membaca Karena Menulis (Bagian 1)

Tulisan kali ini saya persembahkan khusus untuk para pembaca. Sekaligus ucapan terima kasih. Dari kornea itu, sepanjang larik sederhana saya jadi manfaat. Lalu membuat saya haru—lebih tepat disebut cengeng—hanya karena sebuah tulisan yang kecil, begitu besar kegunaannya. Meski dengan mencuri-curi waktu, meski dengan tidur lebih malam, saya akan teruskan entah sampai kapan. Agar tak henti jadi kudapan bagi yang membutuhkan asupan.

Ampuni saya yang tidak bisa mencantumkan semua message.

Sudah lama sekali ingin membagi cerita ini. Jawaban—yang entah bisa menjawab atau tidak—dari setiap pertanyaan yang muncul ke permukaan. Sejak enam tahun yang lalu, blog ini saya buat. Dengan begitu sederhana. Bisa kau baca tulisan pertamaku. Tak lebih baik dari ocehan anak usia dini yang baru belajar berbicara. 

Mari mundur sejenak ke belakang, 2007 adalah awal mula saya mencoba membuka diri untuk mencintai puisi. Dua tahun sebelumnya, saya adalah murid kelas 5 SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta yang diberi tugas membuat puisi oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Aku sangat yakin, kau pasti lebih baik dari bait-bait ini.

Kasih Tulusmu

Sembilan bulan engkau mengandungku
sembilan bulan aku ikut merasakan detak jantungmu,
ikut mengalir dalam darahmu
berdenyut bersama nadimu
menjadi benalu!

Kasihmu tak berujung
doamu selalu mengiringi setiap langkahku
bimbinganmu selalu bersinar,
sinari hatiku

Kau selalu tebarkan senyum
Kau selalu curahkan segala perhatian
tanpa henti Kau sayangi aku
Kau didik aku selalu

Yogyakarta, 2005.
Saya hanya ingat, saya meminta bantuan pada Ayah untuk menambahkan (merevisi) kalimat dalam bait-bait yang begitu sederhana itu. Lalu saya juga mencari buku-buku dalam lemari dan menemukan buku karya Ratih Sang. Demi bisa memenuhi tugas tersebut. Tak ada yang istimewa. Hanya saja, kalau alam sadar saya masih bisa mengingat kronologinya, bahkan dengan jelas masih mengingat gerak, bicara, dan bagaimana saya menuliskannya pada waktu itu, pastilah kejadian itu adalah sesuatu yang memang—secara tidak sadar—sengaja saya rekam. Terlepas bahwa alam bawah sadar tak pernah bisa memilih memori yang mana yang ia simpan.


Setelah itu, tanggal 21 Februari 2006—saya masih punya berkasnya—puisi berjudul “Sahabat Abadi” jadi satu-satunya karya saya saat duduk di bangku kelas 6 SD.

Sahabat Abadi

Kau sahabat sejatiku
teman curhatku di setiap waktu

Setiap detik berlalu
Kau dengarkan ocehanku
tertulis isi hatiku
di lembaran-lembaran barumu

Kau menyimpan kenangan masa lalu
menyimpan semua rahasiaku
Kau akan terus mengalir bersama darahku
selalu hidup bersama jiwaku

Yogyakarta, 21 Februari 2006
Jangan pikir, saat aku menuliskan ini, aku sudah mencintai puisi. Aku baru tertarik. Karena pada zaman itu, buku diary adalah media anak-anak seusia saya untuk berbagi cerita tanpa diketahui siapapun. Padahal biasanya teman-teman sekelas saya yang juga punya buku kecil ber-cover cantik dan lucu itu saling membaca milik satu sama lain. Kecuali aku. Walaupun pernah suatu waktu ada salah satu yang membacanya diam-diam—buku itu selalu saya bawa di dalam tas—dan disebarluaskan. Sungguh, saya suka bergidik geli mengingat masa itu.
Seharusnya saya paham bahwa ketertarikan itu bukanlah suatu hal yang biasa. Karena mana mungkin sesuatu yang tidak spesial bisa—dengan sadar atau tidak, dengan sengaja atau tidak—diabadikan. Seolah-olah diri saya di masa lalu tahu bahwa hari ini karya itu akan saya jadikan sebuah perjalanan panjang. Tak ada yang kebetulan. Ini takdir. Yang barangkali, ikut saya upayakan.
Karena sejak tahun pertama saya menjadi murid SMP Negeri 9 Yogyakarta, pada 2007, saya mulai rajin ke perpustakaan. Bukan untuk membaca. Pun iya, saya pada saat itu tak benar-benar paham apa itu puisi. Otak saya tak cukup mampu mengartikan karya kenamaan Chairil Anwar berjudul “Aku”.
Kalau sering petanyaan-pertanyaan ini masuk melalui media apa saja, “buku apa yang kamu baca, Mbak? Bisa menulis sebegitu mengharukan?”, atau dengan pertanyaan sejenis ini, “bagaimana caranya menulis? Bisa ajari saya?”
Yang saya ingat, saya masuk-keluar perpustakaan hanya bermodalkan kertas dan pena. Bukan untuk menikmati isinya, tapi mencatat semua jenis kata yang tidak saya ketahui artinya. Lalu saya tulis di buku tulis khusus kosakata. Membentuk glosarium sendiri. Lebih detail, saya buat sesuai abjad. Bukan huruf paling depan, tapi paling belakang. Akhiran a, i, u, e, o. Sehingga mudah untuk saya mencipta rima yang pas. Dari setiap lirik lagu pada bungkus kaset-kaset milik Ibu dan Ayah di rumah, bahkan tak luput dari terjemahan kitab suci Al-Qur’an.
Tak cukup sampai di situ, Januari 2008 saya mulai menjadikan sastra sebagai obsesi—tanpa saya sadari. Setiap petang mulai membayang, diam-diam saya mulai menyusun kalimat dari kata demi kata yang sudah saya rangkum dari segala jenis buku. Satu hari, saya wajib setor minimal satu puisi. Lalu berlagak bodoh dihadapan Ayah dan Ibu, bila butuh tahu apa artinya kata ini dan itu tapi tak saya temui jawabannya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Lalu, dari mana gagasan tulisan-tulisan itu tercetus? Buah pikiran siapa?
Dari batu besar yang mulai berlubang. Dari senja yang menghitam tanpa tepian. Dari hujan yang jatuh tetes memecah tanah. Dari bau busuk sampah di selokan. Dari asap kendaraan yang mengeras di paru-paru. Darimu. Darinya. Dariku.

Sungguh, kemampuan saya mengabadikan tak seberapa, maafkan saya.
Menulis pun tak lepas dari ilmu psikologi. Tanpa tahu karakter pembaca, mana bisa menghasilkan sejajaran paragraf yang jika dibaca, maka mereka akan bilang, “ini pernah saya alami.” atau, “ini yang saya rasakan sekarang.” atau bahkan, “membaca ini seperti mendongengkan kisah hidup saya.” Saya masih percaya bahwa tak ada yang kebetulan, sejak Sekolah Menengah Pertama pula saya mulai tertarik membaca perilaku sesama.
Saya mulai dengan anak laki-laki bernama Rendi, sebut saja begitu. Kalau kau adalah teman satu SMP dengan saya, maka kau tak mungkin lupa siapa laki-laki itu. Yang sudah harus drop out di tahun pertama. Berandalan yang tak punya kawan main. Tak ada yang berani duduk sebangku keculai dipaksa. Tak ada yang mau beramah-tamah karena sudah ngeri lebih dulu menatap wajahnya yang kusam dan bengis. Ia tak takut pada kakak-kakak kelas yang bertugas pada Masa Orientasi Sekolah. Ia tak pernah takut dihukum berdiri di depan kelas, atau bahkan membantah guru.
Siapa yang peduli bahwa anak laki-laki itu sedang mengalami depresi akut? Siapa yang mau menilik lebih dalam apa yang membuat ia jadi seperti itu? Siapa yang sudah mencoba mendekatinya lalu bertanya ada apa? Anak sebengal itu bisa membuat kaca dalam bola matanya saat bercerita sesakit apa hatinya pada hidup. Anak yang dianggap tidak tahu diri itu meneteskan air mata—yang hanya bisa saya lihat—di hadapan saya saat membeberkan semua masalah-masalahnya? Lalu, pertanyaan saya, siapa yang salah di sini? Anak itu, atau mereka yang tidak pernah mau tahu. Itu baru satu dari sekian banyak permasalahan hidup yang banyak orang tak acuh. Hanya melihat permukaannya saja. Kalau berjerawat, pastilah ia buruk rupa.
Sudah 7 tahun ini saya menerapkan pola semacam itu untuk berkarya, lalu bahan-bahan yang masih mentah saya racik dengan bumbu-bumbu majas dan pilihan kata yang tepat. Semua kegelisahan yang saya bungkus begitu rapi dengan eufemisme. Saya mengambil bahan limbah untuk saya olah kembali dalam bahasa yang lebih anggun dan enak dibaca. Biar merangsuk ke hati siapa saja, bahkan bagi yang tak pernah merasakannya. Tak pernah mengalaminya.
Bukan dari antologi puisi lalu saya daur ulang kalimatnya. Bukan juga dari hasil membaca ensiklopedia. Hanya cukup dengan membaca matamu saja bisa kutulis seribu abjad yang bahkan kau tak tahu bagaimana bisa aku lebih memahami dirimu ketimbang engkau sendiri.

Terima kasih, kalianlah inspirasi saya.
Tapi tidak sesederhana tulisan ini….
Semua berproses. Lama. Bahkan untuk saya ini semua teramat lama. Karena delapan tahun mengaku mencintai sastra tapi tak punya satu pun karya yang dijilid menjadi sebuah buku. Seseorang yang bahkan terlalu udik untuk mengirimkan tulisan-tulisannya pada koran, majalah, dan mengikuti kompetisi jenis apapun dalam bidang tulis-menulis. Awal tahun 2009 baru saya sadari bahwa menulis bukan lagi obsesi, tapi kebutuhan. Darinya kutemukan oksigen. Masih dengan diam-diam. Masih dengan ketidakwarasan menoreh tinta dini hari hanya dengan penerang lampu ponsel. Dan tak terasa, ratusan judul dimuat dalam binder-ku, dengan beberapa puisi yang ditepuktangani oleh teman-teman sekelas saat mata pelajaran Bahasa Indonesia. Angka 8,00 yang kudapat dari Bapak Rudjito, S.Pd. Lalu berlanjut di tingkat setelahnya. Angka 9,40 dari guru luar—yang aku yakin tetaplah bukan suatu kebetulan kelas saya yang dipilih—yang mengajarkan bab “Puisi”. Saat itu, ada tiga juara. Yang pertama adalah saya. Lalu ketiganya harus membacakan karya masing-masing di depan kelas. Tak perlu ditebak, saya bukan pembicara yang baik.
Sampailah pada mata pelajaran TIK. Lalu saya dipertemukan dengan blog—platform atau layanan blogging milik googleYang lalu saya beri nama “Tepi Selendang Jingga.” dengan filosofi saya selalu menulis ketika senja tiba. Kali pertama saya memberanikan diri mem-publish tulisan tersembunyi saya dengan judul “Menjauh Berlalu”. Sejak saat itu pula, saya berhenti menulis dengan arti sesungguhnya, pada kertas-kertas yang bersetia membangun intuisi dari nol.
Tidak lama, sekaligus dua puisi saya terpilih menjadi penyelip kata pada buku antologi puisi yang dibuat oleh PPL-UNY pada masanya, yang diambil dari seluruh murid di sekolah saya. Bukan suatu hal yang membanggakan memang, tapi cukuplah untuk mengukir nama di perpustakaan sekolah yang menjadi salah satu media berjasa pada saya. 
Lulus dari SMP, saya tak punya keinginan seperti layaknya teman-teman saya yang dalam doanya selalu menyebut-nyebut nama sekolah impian mereka. Saya diberi kebebasan memilih sekolah apa saja, tapi dalam jenjang Sekolah Menengah Kejuruan. Maka saya tak tahu harus ke mana. Sedang saya tak berkeinginan di mana-mana. Yang saya tahu, saya cukup dengan nilai UNAS rata-rata 9. Tentu saja, Allah sebaik prasangka hamba-Nya. Saya mendapatkan apa yang saya mau.
Dengan total nilai 36.00 pada masa itu, saya yang tadinya menimbang-nimbang untuk memasuki jurusan tata busana mengurungkan niat itu. Pertama, saya tidak pintar menggambar. Kedua, saya kurang teliti. Ketiga, teman-teman dengan NEM yang hampir sama menyarankan saya untuk memasuki jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, di Sekolah Menengah Teknik Pembangunan, Sleman, Yogyakarta. STM terbaik pertama di DIY. Tapi sayang sekali, tinggi yang saat itu tidak sampai 150 sentimeter membuat saya harus mengurungkan diri. Sebenarnya, kalau saya ngeyel sedikit saja, bisa beralasan bahwa saya masih dalam masa pertumbuhan. Toh, kurang 3 sentimeter saja. Tapi sekali lagi, atau mungkin terus-terusan saya tekankan bahwa tidak ada yang kebetulan … saya sudah mengundurkan diri pada waktu mengisi formulir. Tidak jadi saya serahkan pada petugas. Saya beralih ke Sekolah Teknik Menengah terbaik setelahnya, yaitu STM 1 Yogyakarta (STM Jetis) atau sudah berubah nama menjadi SMK Negeri 2 Yogyakarta.
Tanpa pikir panjang dan tahu-menahu apa itu jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, takdir membawa saya kepadanya. Takdir mempertemukan saya dengan dunia baru. Dunia antah-berantah. Saya yang kolotnya minta ampun, diterima menjadi penghuni baru Teknik Informatika. Welcome to the jungle part one.
Lalu bagaimana bisa saya menjadi seorang penulis kalau saya justru berbelok menjadi manusia dengan tangan kanan dan kiri penuh alat-alat semacam solder, tang crimping, cron, kabel,….

Lalu bagaimana mungkin saya bisa menambahkan kosakata baru kalau harus berkutat pada bilangan biner, pengetahuan elektronika, subnettingtroubleshooting, Local Area Network (LAN), Wide Area Network (WAN), atau harus menjejalkan diri ke dalam sistem BIOS, atau menghapal dan mendalami tujuh layer OSI, atau memanjat tower setinggi 16 meter? Saya bahkan bisa melihat dengan jelas bagaimana proses daun bergerak mengikuti angin yang akan menjatuhkannya dengan segera. Hidup ini mengasyikkan, bila kita percayakan segalanya pada-Nya.



Bersambung…….
Salam,
Fasih Radiana

Tak Ada Namamu dalam Tulisanku

Kupikir mudah melesapkan dusta dalam luka. Kurasa sebenarnya mudah saja segala kembali seperti semula, seperti sedia kala: waktu hujan bukan disebut-sebut sebagai bisik kenangan atau pelangi yang dianggap sebagai bias ingatan. Hanya terkadang aku menoleh, lalu mengangguk menyanggupi memoar menari-nari di perutku. Mendesak sampai ginjal berhenti melumat kunyahanku. Aku terbawa arus alir nadi, darah tak lagi bebas membersihkan diri. Aku kalap. Hilang sudah detak dalam jantung. Berubah jadi gemetar. Menubruk sampai sumsumku ambruk, pecah satu per satu segala tenang dalam dadaku. Aku hilang. Tak peduli kau sedang apa. Tak mau peduli kau sedang apa. Tak benar-benar peduli kita ini siapa.
Kupikir bukan hal rumit memaafkan ketidaktepatan jarum waktu mempertemukan kau dan aku. Kurasa sebenarnya tidak sulit menghitung kembali dari titik nol, bahkan bukan tidak mungkin kita menitinya melalui sepanjang garis minus.
Toh, kau dan aku telah lebur menjadi kita. Toh, semua luka sudah kita habisi bersama-sama. Dengan air mata lalu tawa yang kembali lagi menjadi cinta.

Perasaan itu begitu sederhana. Saking sederhananya, kau tak akan pernah sanggup menjabar dengan bukti yang berjejer-jejer sekalipun. Perasaan itu begitu sederhana. Sampai aku tak akan pernah mampu mengurainya, bahkan dengan abjad yang kuciptakan sendiri. 
Sesederhana ketidakingintahuanku pada alasan sebab mengapa aku seperti ruji yang terpasang melingkar begitu rapi pada roda yang terkadang membawanya terlalu cepat melaju, atau terlalu lamban bergerak, atau justru diam begitu saja di satu petak. Bahkan tak bisa ditolak oleh siapapun, perkara apa cinta tak pernah punah dibahasakan dengan ‘cinta’, mengapa tak bosan bicara menyoal cinta padahal jelas-jelas tahu tak ada satu orang pun yang akan mampu menemukan di mana batasan cinta, dengan cara apa sebenarnya hati menyusun perasaannya hingga ia bisa disebut dengan cinta.
Sesederhana sepanjang larik dalam lirikku, tak akan kau temui namamu di dalam barisnya, pada setiap kalimatnya. Tak akan kaubaca namamu dari ujung kata sampai titik menghabisi setiap baidnya. Tapi kau tahu, kau tahu semua ini teruntuk siapa.

Jarak yang Kubawa Pulang

Bu.
Apa kabar?

Lama kupikir aku adalah yang paling kuat.
Lama kukira aku adalah yang paling sabar.
Lama kurasa akulah yang tiada.

Ayah.
Sedang apa?

Belum lama sepertinya, aku diberi selembar hitam-putih berukuran 3×4; usang, robek separuhnya.
Belum lama kiranya, aku sombong tak akan pernah bertanya mengapa kau di sana; entah, di mana.
Belum lama ternyata, aku tak kuasa ingin mengubah segumpal darah dalam dagingku.

Tapi tak bisa, batinku.
Tapi tak mungkin, lirihku.
Tapi tak boleh, kata-Nya.

Barangkali, jarak yang kubawa pulang tak sampai waktu untuk menemuinya kembali.
Barangkali, sudah kosong sampai tujuan.
Barangkali.


Kali ini aku ingin mengulang segala dari nol. Lalu bertanya bagaimana caranya.
Aku ingin terbang ke masa yang sudah lama kutinggalkan sendirian. Tapi tak bisa kan?
Seandainya saja, seandainya saja.

Segala fiksi jadi tampak begitu nyata mengambang begitu saja di permukaan. Atau justru realita mengumpat layaknya khayal yang semu.

Seandainya jarak tak pernah punya ukuran waktu untuk sampai pada pertemuan di titik yang kita inginkan. Mungkin saat ini aku memilih untuk tidak mengenali siapalah diri yang dikalahkan oleh takdir. Sebab aku tahu, aku tahu itu aku.

Di persimpangan waktu, 2014

Denganmu, Kita Baik-Baik Saja Kan?

more quote www.fasihrdn.tumblr.com
Tak perlu kau minta, aku akan selalu melakukannya. Merevisi diri berkali-kali. Demi napasmu yang memenuhi seluruh ruang di hati. Meski tahu betul ada yang tak setuju dengan lekatnya jemari kelingking mencecap janji (lagi). Bisakah gelas pecah itu utuh kembali? Sanggupkah kita baik-baik saja sampai semua selesai?
Kali ketiga aku memberimu gagang pintu tanpa kunci. Masuklah. Barangkali kau lebih paham bagian mana yang perlu direnovasi. Kusebut waktu ini kesempatan terakhir sebelum akhirnya kita sama-sama tahu, sejatikah? Masih sejauh mana aku menggandeng kegelisahanku untuk kulumat bersamamu. Kau ganti yang perlu diperbaiki dengan doa yang kembali berujar dari setiap putaran tasbihku. Maka berdoalah pula sesering mungkin, berusahalah sebanyak mungkin. Meski tak selalu tampak di matamu, aku tak pernah hilang meski dalam bayang.
Aku ingin menangis, ah, setiap aku ingin menangis … bolehkah berhambur ke dalam pelukmu?
Sehangat apa dekapmu membasuh peluhku. Bosankah dengan ceritaku yang menggebu dengan kalimat itu-itu lagi. Sayang, jangan pernah beritahu mereka selemah apa ketika aku denganmu. Meski aku kerap berbalik badan memutar-mutar lagi kisah lama seperti kaset rusak. Tapi tak pernah terbesit untuk bepergian mencari yang lain, atau berbalas luka denganmu.
tweet me @fasihrdn
Lebihkan sabarmu dalam menasihati(ku). Jangan lelah seperti aku tak pernah kehabisan daya saat menanti(mu). Kau tahu, terkadang aku lelah, ingin sendiri, meski kini bagiku sendiri adalah bebarengan denganmu. Lalu biarkan aku berteriak pada Jogja, kubilang, “Usir aku, Jogja!”. Sebab masih saja sering digentayangi masamu yang telah usai. Yang nyatanya lebih hapal jalan menuju tempat-tempat yang asik untuk diduduki berdua saja. Sumpah, aku ingin melupa. Tentang satu nama yang tak juga hilang dari kepala. Aku ingin bebas dari hati yang tak juga lepas. Aku tahu, semestinya sebaik mungkin mempersiapkan masa depan, bukan malah mundur ke belakang; mengingat yang menyakitkan. Tapi lagi-lagi, kutemui diri dalam dilema. Bagaimana lagi caranya agar tenang tanpa takut kehilangan. Perlukah aku mundur perlahan? Lalu meninggalkan hati untuk diganti dengan yang lebih baik membersamai(mu). Tidak, kau juga bilang tidak kan?
Tuan, coba baca segalaku dengan saksama. Adakah keikhlasan dari ketulusanku masih juga belum cukup sempurna? Baiknya kau lengkapi ruh dari seluruh raganya.
Pernahkah kau perhatikan kerut di keningku? Terkadang ia lelah membuatmu marah. Sempatkah memperhatikan bekas sembab di mataku? Melingkari bola mata. Ia sering meminta satu kecup pertanda kau akan menjaga segala tetap baik-baik saja. Lengan yang tak akan lepas mengerat, jemari yang semakin kuat menggenggam. Lalu kukatakan, aku bersedia menjadi rumah tempatmu merebah resah.
310814~Kalau sampai pada waktunya kita bertemu dengan sesuatu yang menyulitkan diri, menggelisahkan jiwa … jangan berhenti. Kau dan aku tahu apa yang tak mudah diraih adalah yang akan mengubah dirinya jadi paling indah. Fighting! 

Kau Tahu Mengapa Aku Tak Suka Kenangan

Ia kejam. Bila kau tak benar-benar paham cara mengingatinya.

Pada daun yang gugur di musim hujan, ada jalan memutar untuk lebih dekat menuju rumah singgah. Agar terlindung dari gigil gemetar sebab tetesnya makin deras mengguyur mata kaki. Kau tahu mengapa aku lebih memilih melaju sampai menemui rumah singgah berikutnya. Karena aku tak pernah punya waktu menoleh ke arahmu, masa yang telah kutinggali.
Pada mata sendu yang mengaku sudah berlayar jauh dari waktu, aku melihat diri dalam diri yang lain. Tersenyum, tapi air matanya bercerita. Mengisah soal hidup yang angker pada suatu masa, di langit dari jari telunjuk pada senja dalam jingganya. Tapi menikmati malam jadi pilihan untuk menghitung bintang yang berjejer dengan kemungkinan-kemungkinan untuk bersegera menjadi pagi. Kau tahu mengapa aku lebih suka menyuguhkan tatap tegas tanpa pengulangan. Ia jelas. Ia tak pernah membiarkan bola matanya mengubrak-abrik air mata yang telah membeku. Ia tak pernah patuh pada semu. Ia tak pernah suka merindu.
Padanya, diriku yang sudah jatuh tempo. Aku tak pernah menggali memori untuk kukhidmati kembali masaku yang telah habis. Karena ia begitu suci. Bukan untuk kutawar berkali-kali. Bukan untuk kurangkum menjadi suatu kisah lama yang terungkap begitu saja. Biar menguap, menjadi asap dari kayu-kayu pada batang yang rapuh, tumbang tahunan lalu. Kau tahu mengapa aku memperbarui mula dari setiap kata. Memperbaiki akhir dari setiap paragraf.
www.fasihrdn.tumblr.com
Padamu, aku tak suka. Kau tahu mengapa.

Jemarimu menyeretku pada jarum jam di putaran yang tak kutahu kapan pernah bertemu. Diksi baru dari gaya bahasa lama. Mengajakku mengukur petak dengan berjalan mundur. Memanggili kenanganmu sendiri. Jemu aku pada polahmu. Padamu, kau tahu mengapa aku tak sudi menoleh ke belakang, berbalik badan.
Kenangan bukan untuk kaulumat bersama masa depan. Bukan untuk kausuap dengan sendok tua dari masa silam. Kau tahu mengapa aku tak pernah mengajarkan padanya—hati yang leleh dalam darah—untuk mengaduk-aduk yang pernah jadi kudapan. Sebab ia bisa mengubah sederhana menjadi begitu rumit. Jejak rapat yang merenggang. Kau tahu mengapa, aku tak suka padamu, bunga kata dari percakapan satu abad yang lalu.
Aku mengingat dan kamu mengenang. Tolong, bedakan.

Maka kuingatkan kembali. Kamu salah bila menjadikannya ruang untuk berbenah. Ia tak pernah memberi jalan untuk pulang, jaraknya terlalu panjang. Kalau kau bilang ia penghantar kebaikan, omong kosong. Sebab ia bukan tempat untukmu belajar. 

Lalu jika nanti kau dan aku adalah bagian dari kenangan, jangan pernah mengingat-ingat aku, meski barang sebentar. Sebab sudah kuberitahu padamu, mengapa aku tak suka kenangan. 
180714~Aku tak perlu menjadi bayang-bayangmu kan, kenangan? Aku memilih undur diri bila itu terjadi.

Surat Terbuka untuk Calon Presiden Rumah Tangga(ku)

Sungguhlah aku tak patut menuliskan suara hati ini teruntuk kau, yang belum kuketahui benar atau tidaknya akan menjadi masaku di waktu yang akan datang. Tapi izinkan aku menulis surat ini teruntuk engkau, sebagai seseorang yang kuperjuangkan, kuusahakan, dan kumasukkan dalam barisan doa di setiap malam nyaris menjadi pagi.
Bukan aku meragukanmu, Sayang. Ini hanya menyoal waktu untuk percaya pada apa yang pernah kau jadikan dusta. Mahluk berinisial “adam” yang konon katanya memang sulit sekali bersetia. Atau aku saja yang terlalu takut untuk seutuhnya kembali percaya.
Bukan aku mencurigaimu setiap waktu, Sayang. Ini hanya bagian dari ketakutanku atas memoarmu yang barangkali, masih kerap lalu-lalang di pikiranmu, di sengal napasmu, di jejakmu, di sudut hatimu yang tak kuketahui. Sungguh, aku tak bermaksud untuk mencemburui masamu yang telah lalu. Ini hanya perkara gelisah yang mestinya kau peluk erat-erat agar tak berlama-lama tunduk pada prasangka.
Bukan aku tak yakin pada kesungguhanmu saat ini, Sayang. Ini hanyalah debu sisa-sisa luka yang masih belum bersih juga. Bantulah aku, meniup serdak yang mulai mengkerak. Jangan biarkan aku menggigil sendirian pada harap yang masih separuh kugenggam.
Kau tahu, pada masamu yang telah lalu. Aku seperti orang asing yang dipungut lalu diasingkan kembali.
Bukan aku bermaksud selalu mengungkitnya kembali, bila aku mulai membicarakannya lagi. Tolong, pahamkan aku bahwa aku yang salah mengira. Aku yang salah menduga. Hanya aku yang berlebihan mengartikannya.
Jadi….
Bisakah bersetia pada satu nama dalam doamu, namaku saja. Meski sungguh, dalam doaku pun kuminta Allah selalu mendekapmu lebih erat dari cinta yang kupunya, lebih dekat pada perintah-Nya ketimbang padaku yang sebatas wanita biasa.
Dalam keterbatasanku, Mas, kuharap mampu memenuhi celahmu yang diam-diam ternyata rapuh juga dalam ketakutan melewati batasan waktu yang terus saja mengejarmu. Meski katamu, cinta tak pernah butuh alasan. Tapi pada alasan apapun itu, aku mencintaimu sebab kamulah alasanku.
Salam,
Fasih Radiana



010714~Ini bukan surat berisikan kegalauanku, Sayang. Ini surat teruntuk apa yang baru saja kukenali kembali, seluruhmu. Bantu aku.

Bila Cinta(mu) Tak Sempurna, Ajari Aku Bersetia

Jangan berbaik hati padaku, aku tak pandai berintuisi soal rasa yang mencuat-cuat kalang-kabut. Siapa kamu, berani-beraninya singgah dalam mimpiku. Bila cintaku padanya tak sempurna, aku tak berharap kamu melengkapinya. Berhentilah di tempatmu berdiri, jangan menjejakiku lagi. Aku bisa mengatasi kesakitanku sendiri.
Dan bagaimana bisa kau membiarkan aku dicintai lelaki lain di tempat yang tidak kauketahui?

Hingga letih sampai pada mataku, menjatuhkan peluh dalam tangis sembilu, kau masih juga enggan menilikku.

Kalau begitu, bukankah lebih baik aku bersamanya saja, Sayang? Ia melindungiku dari tangis yang mengiris-iris. Ia paham betul bagaimana caranya membuat tawaku jadi begitu renyah. Ia menjagaku dengan kepastian sedang kau masih juga betah memberiku keraguan. Bayang-bayang akan sebuah rencana kepergian. Jangan diam saja, beritahu aku, pantaskah aku bertahan atau memang jauh lebih baik kutinggalkan? Kau ingin aku berlaku seperti apa, Sayang?

Jangan coba-coba memainkan peran saat memang ada lowongan jadi pahlawan. Kau pikir semudah itu mencintaiku? Bila cintaku tak sempurna, aku tak ingin nantinya kau juga yang dilindas lara. Aku tetap tak sanggup mendua, meski nyatanya ada bayangmu lalu-lalang berlarian di pikiran.
Lagi pengen diromantisin! Bukan diduain.
Lalu bila cintanya utuh sempurna untukku, Sayang … apa yang akan kaulakukan?

Bila tak pernah kau buat aku percaya, sanggupkah aku terus meluka?

Bila segala lakuku sia-sia, bisakah aku terus menjaga?

Bila aku bukan satu-satunya, mampukah aku bersetia?

Bila saja aku bukan siapa-siapa, untuk apa ada kita?

Bila bukan aku tujuanmu, pergilah temui yang baru, yang memenuhimu.





060514~Bila cinta tak sempurna, akankah ada bilangan yang pecah menjadi dua?

Hari Ke-27: Biar Dia Memilih Akhir Ceritanya; Cinta

Cinta.
Apa betul kamu adalah dia?
Dia.
Apa mungkin, cinta?
Atau hanya nafsu hati atas rasa. Mana kiranya yang lebih baik, mencintai atau dicintai. Tak ada kurasa, kecuali segala bebarengan dengan saling menggenggam. Itulah dunia. Sesaat sesap sampai lesap. Di antara waktu yang pernah memecah di hela napasku, aku pernah berkawan dengan cinta yang penuh luka. Tapi ia selalu bersahaja dengan mengungkap bahagia. Begitulah dunia. Dustanya begitu jujur berbicara. Tak bisakah kau membedakan, mana yang mesti kautinggalkan dan mana yang perlu kau pertahankan?


Cinta.
Apa dia adalah kamu?
Dia.
Apa pasti, cinta?
Atau memang benar begitulah sebutannya. Mana kiranya yang lebih sempurna, berada di doa atau mendoa. Sebab dengan doa, siapapun tak akan sudi mendua. Adakah pihak ketiga yang lebih indah selain Tuhan? Tak ada kukira, kecuali ia adalah dirinya yang jatuh lagi dalam cinta yang sama. Itulah akhir dari dunia. Yang setia tulus meski telah pupus.
Cinta.
Benar atau salah, biarlah.
Dia.
Biarkan memilih sendiri cintanya.
270214~Tak ada yang bisa memaksa dia untuk tetap tinggal dengan cinta; cinta yang bukan pilihannya.

Hari Ke-4: Bayang

Aku benci membayangkannya
cinta yang dibicarakan di ruang bekas ucapanku

Aku benci membayangkannya
rindu yang kini jadi peluk di lingkar pinggangnya

Aku benci membayangkannya
helai rambutmu yang diusap-usap jemarinya

Aku benci membayangkannya
tempat tidur yang kaubagi dengannya

Aku benci membayangkannya
kau cumbui wanitamu setelah aku

Aku benci masih bisa membayangkannya
kamu dan aku yang masih menjadi kita

Semestinya kau menua bersamaku,
aku benci masih menginginkannya.

Aku Baik-Baik Saja #Akurapopo Part 4

Setelah aku sendiri.
Aku tak punya cara membunuh waktu yang semakin hari terasa begitu lama.
Setelah aku sendiri.
Aku bisa tak bicara satu patah kata pun.
Setelah aku sendiri.
Aku hanya hidup saat azan berkumandang, membaca kitab suci, lalu mati kembali.
Setelah aku sendiri.
Aku tak takut lagi kehilangan apapun, sebab kamulah hal terakhir yang kumiliki.
Aku (bukan tidak) baik-baik saja karena sendiri. Tapi sebab aku tak punya cara untuk hidup setelah ini, bahkan meski dengan yang lain.

Kau tahu, aku baik-baik saja (290114)
Aku berjalan menuju halte Trans Jogja. Aku jadi ingat, kamu pernah memintaku menemanimu mengelilingi Jogja dengan itu. Tapi aku lupa sebab apa, kita batalkan dan menggantinya dengan yang lain. Kemarin, setelah sekian lama … aku memilih untuk menunggangi bus ketimbang naik motor. Aku menitipkan motor di rumah sahabat, lalu berjalan dua kilometer menuju halte.
“Mau kemana, Mbak?”
“Prambanan.”
“Jalur 3A, JEC oper 1A.”
Aku mengangguk. Prambanan?
Pukul 08.33, bus datang. Untung dapat tempat duduk. Aku benar-benar rindu masa sekolah. Di mana cinta bagiku hanya hiasan, yang jika tak ada tak mengapa. Kalau ada, lebih baik. Bukan seperti sekarang, mungkin, bukan cinta yang membuatku kehilangan akal sehat, tapi aku yang menganggapmu begitu serius sehingga aku merasa tak perlu bersiap-siap kehilanganmu. Bodoh. Aku tersenyum, tidak yakin ingin ke Prambanan sendiri dan sepagi ini. Apa lebih baik aku putari dulu Jogja?
“Mas, ke Prambanan turun di mana ya?”
“JEC, ganti 1A, Mbak.”
Ah, sepertinya Tuhan memang menyuruhku menenangkan diri di sana. Mbak-mbak di sampingku juga menuju Prambanan. Ya sudah, kupikir, aku memang tidak sendiri. Entah mengapa, perjalanan menuju Prambanan terasa begitu cepat, aku segera turun. Dan tak tahu berada di mana. Aku juga tak berminat bertanya di mana Candi Prambanan. Aku mengikuti mbak-mbak yang ternyata ada 4 orang itu. Menyebrangi jalan besar.
“Ojek-ojek, Mbak. Candinya masih 1,5 kilometer lagi.”
Aku berjalan mengikuti mbak-mbak yang dari logat bicaranya adalah wisatawan dari Jakarta. Tapi apalah daya, jalanku mungkin yang terlalu cepat dan mendahului mereka. Aku mencari sendiri di mana pintu masuknya. Takut salah, aku mencoba menelepon temanku.
“Assalamualaikum, pintu masuk candi itu pertigaan besar belok kiri kan?”
“Iya, kayaknya ada tulisannya kok.”
“Ah, iya udah ketemu. Makasih, ya.”
“Dasar, mbojo wae!”
Apa? Mbojo? Mbojo dalam kamus remaja Jogja adalah pacaran. Yaaaaah, pacaran dengan diriku sendiri adalah kenikmatan yang tak bisa dimungkiri.
“Monggo, Pak.”
Aku sedikit malu, bapak-bapak tukang parkir melihatku dari atas sampai bawah, lalu melihat ke sekitarku tak ada orang. Iya, aku sendiri, batinku. Aku membeli tiket, untuk Prambanan saja 30.000 sedangkan paket Candi Boko 45.000. Aku kemari bukan untuk berwisata, aku membeli tiket prambanan saja.
Masih begitu sepi. Untuk naik ke candi, diberi kain semacam batik dengan gambar candi prambanan.
“Bisa cara pakainya, Mbak?”
“Nggak, hehe.”
“Mari, biar saya pakaikan.”
“Sendiri, Mbak? Dari mana?”

“Iya, Jogja aja….”

Dan bla-bla-bla, percakapan yang kupikir semakin membuatku merasa bodoh karena datang kemari sendirian. Aku tidak ingin melihat candi. Sudah kubilang, aku kemari hanya untuk duduk dan diam. Itu saja. Aku menemukan tempat duduk di bawah pohon rindang. Di sudut candi. Hanya sedikit saja yang lalu-lalang melewati tempat ini. Dan semua bayang-bayang bermunculan seketika. Dua jam menikmati angin di atas candi, aku memilih turun karena azan zuhur sudah memanggili hamba Tuhan untuk segera menunaikan ibadah. Tapi kursi-kursi yang berjejer di bawah pohon-pohon besar yang menghadap ke arah candi, membuatku tertarik mencicipinya. Ada musik gamelan menemani daun-daun yang jatuh berguguran, bersamaan air mataku yang tumpah bercucuran. Aku mengenakan masker untuk menutupi wajahku, jaga-jaga saja, siapa tahu ada yang mengenalku.
Mikirke opo to, Mbak … Mbak … dewekan, koyo wong ilang. Yo, melu aku wae.” Diikuti tawa kecil dari ibu-ibu rombongan lain. Bapak-bapak berbaju merah itu rupanya sudah melihatku sejak di atas candi tadi.
Pukul 12.57, aku melangkah mencari musola, tapi lagi-lagi aku ingin mencicipi kursi yang lain. Aku bisa melihat dengan jelas candi itu berdidi kokoh dan gagah. Dikelilingi rumput dan pepohonan yang meneduhkan lamunanku.
“Alah-alah, Mbak … tak fotone kene, dicopot kui masker e, tak unggah, lebokke majalah.”
Aku hanya tersenyum di balik maskerku. Mengapa bisa bertemu bapak-bapak ini lagi.
Keluar dari Candi Prambanan, aku menuju masjid besar di sebrang jalan. Semestinya aku tenang, aku melupakanmu dengan solat dan tadarus. Tapi, nyatanya satu jam mencumbui ayat-ayat suci, justru semakin membuatku meneteskan air mata dan merasakan luka yang lebih dalam. Semestinya aku menguatkanmu yang sedang bersedih atas sakitnya nenekmu kan? Tapi aku malah mengasingkan diri di tempat ini. Andai aku punya uang lebih, sudah kulanjutkan sampai ke Solo. Aku benar-benar ingin melarikan diri.
Aku berjalan kembali ke halte. Langkah kaki yang kuperkecil tidak juga membuat waktu berjalan dengan cepat. Langit yang mendung tidak juga meneteskan hujan. Padahal aku ingin hari cepat selesai dan hujan membaur bersama air mataku. Tepat saat aku masuk ke dalam bus, hujan deras mengguyur tanpa malu-malu. Mengapa tidak sedari tadi saat aku berjalan? Bukankah aku menempuhi 1,5 kilometer untuk sampai di sini?
“Aku di depan rumahmu. Mau ambil motor.”
Tak banyak bicara, aku mengambil motor yang kutitipkan tadi pagi. Kupikir, kembali ke Jogja sudah akan segera berganti hari. Tapi sekarang rupanya senja saja belum turun. Mengapa waktu seperti tak bergerak, Tuhan?
Aku memilih kembali ke rumah. Dan iseng-iseng membuka jejaring sosial. Melihat status terbaru wanita itu. Aku tahu, saat ini yang kau tahu hanyalah kebahagiaanmu sendiri. Aku tahu, umur tidak pernah menjadi jaminan untuk lebih peka dengan apa yang tersembunyi di balik sebuah kejadian. Seketika itu aku mengerang kesakitan, aku kembali sakau. Aku menangisi diriku sendiri. Aku tak sanggup lagi merasakan luka yang terus saja disiram dengan air garam. Luka yang menjadi bahan bakar cinta di tempat lain….

Kuberanikan diri menghubungimu.

“Mas balik Jogja masih besok kan?”
“Iya, kenapa dek?”
“Pinjem kosnya sebentar, boleh?”
“Iya boleh, tapi maaf tulisanmu udah kucopot karena tiap solat pikirannya malah nggak keruan.”
Aku tahu betul kamu bohong. Alasan sesungguhnya, hanya sebab enggan wanita itu melihatnya. Aku tahu betul, apa yang ada di pikiranmu. Aku bisa menebak bahwa semuaku di sana sudah kauhabisi. Sudah kausimpan dan kau bawa pergi jauh. Jangan coba-coba kaubohongi aku. Aku memang (begitu) mencintaimu, tapi tidak sebodoh yang ada dipikiranmu….
Aku pinjam sebentar kamar itu untuk menangis sepuasku. Kuambil bajumu dari lemariku, dan video yang kupikir awal dari harga sebuah keseriusan. Aku tak sanggup bernapas bersama cinta yang menyebar di kamarku. Aku tak sanggup menyimpan semua di sini. Aku tak ingin ayah-ibu melihatku menangis, dan aku tak ingin menangis di hadapan siapapun juga. Aku tak punya tempat paling baik untuk menikmati rasa sakit yang menggerogoti tulangku kecuali kamarmu.
Kupikir hanya terjadi di serial FTV, tapi ternyata terjadi juga di dunia nyata. Hujan yang begitu deras mengguyur Jogja tak membuatku menghentikan semuanya. Aku tak peduli harus basah-kuyup, toh, hujan memang jadi teman paling baik untuk menangis. Sudah lama tak kurasakan menangis seperti anak kecil yang tidak dituruti keinginannya.

Dan aku tak percaya. Air mata justru makin merembes saat kubuka pintu kamarmu. Aku terduduk tak peduli keadaan bajuku membasahi seisi kamarmu. Semua hal tentangku sudah kaubuang jauh-jauh. Semestinya aku sadar bahwa aku tak pernah sedikit pun ada artinya di hidupmu. Aku hanya kerikil kecil dalam hidupmu, yang tersapu oleh hujan.

Sampai aku menulis kisah ini pun, aku masih sanggup merasakan waktu itu, waktu aku betul-betul menggigil kedinginan merasakan tetesan hujan merangsup sampai ke ubun-ubun. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku hilang akal. Aku mengambil pena dan buku kecilmu. Kutulis apa yang tak sanggup kuucap lewat suara. Segala yang begitu menyesak di jiwa. Aku betul-betul kehilangan separuh diriku. Tega, batinku.

Aku membuka laptopmu. Mengais-ngais yang tersisa di sana. Ada tulisan yang pernah kaukirim padaku. Hati Terakhir. Aku tahu, membacanya kembali hanya akan membuatku menangis lagi, tak kan pernah berhenti.

Kalo mas besok jadi berangkat, mas blas belum packing dek. Padahal besok pagi harus berangkat ambil mobil. Minta tolong pilihin baju atau kaos yang di lemari coklat, buat 4 hari kira-kira bawa berapa? ….

Aku tak sampai membaca pesan singkatmu yang begitu panjang bagiku. Rasanya begitu menusuk-nusuk, aku tak sanggup lagi membacanya. Aku menghapus air mata yang tak henti-hentinya membanjiri pipiku. Aku membuka lemarimu, berantakan. Kuambil semua baju yang ada lalu kupilih beberapa, kukembalikan lagi sisanya. Aku senang membantumu, walaupun rasa yang kudapat sekaligus sakit yang melilit-lilit. Meski sebenarnya aku tak tahu maksudmu menyuruhku membereskan bajumu, barangkali, kamu malah menggantinya dan menyusun bajumu sendiri. Sebab aku tak menemukan baju-baju yang sering kamu kenakan. Apapun alasanmu, aku hanya melakukan apa yang kamu minta. Mungkin, aku memang tidak pantas untuk dihargai meski sedikit. Dan aku betul-betul merasakan seperti apa sakitnya pecandu yang tak bisa mengkonsumsi narkoba. Menyetrika bajumu mungkin akan jadi hal pertama dan terakhir kali kulakukan. Aku menangis lagi. Air mata itu benar-benar menggila. Aku tak sanggup lagi merasakan betapa hancurnya aku.

Azan magrib. Aku solat dan mengaji, berdoa untuk kesembuhan nenekmu. Lalu menatapi sekali lagi ruangan kecil yang bukan lagi jadi bagianku. Aku tersenyum sendiri, menangis sekali lagi. Aku meringkik di kasurmu, mungkin untuk terakhir kali.

Di luar masih hujan, aku memilih pulang dan meninggalkan kamarmu secepatnya. Sebab aku benar-benar tak sanggup lagi bernapas di tempat itu. Tangisku tumpah ruah, aku berteriak dan terisak sekencang-kencangnya. Aku tak peduli semua mata melihatku. Jantungku benar-benar tak lagi mampu menyimpan segala degup dengan udara yang mengendap di dalamnya. Aku mengerang kesakitan.

“Ampun ya Allah, ampuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuun! Berhenti, cukup……..” Berkali-kali sepanjang jalan, lewat hujan aku berbicara.

Aku masih bisa merasakannya, masih bisa mengingatnya. Aku masih menangisi sore itu. Bahkan sampai detik ini, aku masih menangis karena itu.

Kau tahu, aku baik-baik saja(300114)
Aku terbangun. Pukul 02.00 dini hari. Mungkin Allah menyuruhku untuk tahajud, tapi entah, badanku merinding ketakutan. Aku tak bisa bergerak, aku tak sanggup berdiri. Aku memilih untuk kembali bermimpi. Setidaknya, dengan tidur aku tak akan menangis. Meski dalam mimpi pun segalanya terasa begitu suram.

Pukul 05.00, solat subuh dan tadarus. Lalu tidur kembali. Menikmati matiku sendiri. Aku berharap tak pernah bangun kembali. Aku sempat melihat kamu berada di depan rumahku. Melambaikan tangan memintaku datang padamu. Lalu aku terbangun dan sudah pukul 07.00. Aku mengambil air wudlu untuk duha dan melanjutkan tadarus. Lalu tidur kembali.

Samar-samar aku mendengar ibu dan ayah berteriak dari ruang tengah. Tapi aku tak bisa mendengarnya dengan jelas. Walaupun aku tahu, mereka pasti bilang kalau yang kulakukan setiap hari hanya tidur di kamar. Ah, maafkan aku Pak, Bu….

Aku tidak jadi tidur lagi, bangun dan mengambil semua bajuku yang belum disetrika. Aku tersenyum dan ingat baru kemarin sore aku menyetrika bajumu.

Kamu meneleponku.

Dan segala hal yang kaukatakan, aku mendengarnya dengan jelas. Bersamaan dengan tanganku yang mengusap-usap air mata yang jatuh tetes. Aku tak banyak bicara. Aku hanya mengiyakan kata maaf dan terima kasihmu. Andai kata maaf mengembalikan segalanya…..

Pukul 09.00 aku membereskan semuanya. Lalu kembali masuk ke dalam mimpi. Aku tak punya cara lain menghabiskan waktu kecuali dengan tidur. Pukul 14.00. Aku bangun dan mengintip dari balik pintu kamar, ibu sudah siap-siap berangkat kerja. Aku pura-pura tidur sampai Ibu membangunkan aku untuk solat zuhur. Aku mengiyakan. Ibu keluar rumah dan aku masuk ke kamar mandi, mengambil air wudlu lalu solat. Tadarus dan … entahlah apa yang mesti kulakukan. Aku mulai menulis ini semua. Bukan untuk kaubaca, aku tak kan membaginya di jejaring sosial mana pun.

Ayo, ke Essens!

Mungkin aku memang harus mencoba keluar rumah. Aku mengiyakan ajakan teman SMP-ku. Datang ke kafe di dekat rumah. Kupikir ia sendiri, ternyata dengan tiga orang lainnya. Sesekali aku ikut tertawa dengan lelucon mereka. Meski aku sama sekali tak mendengarnya. Ternyata aku salah, pun sudah berusaha, pikiranku tak bisa lepas dari apa yang terjadi. Pukul 17.30, aku pulang melewati jalan terjauh menuju rumah. Aku sama sekali tidak sadar, sudah memutari jalan yang sama tiga kali. Barangkali, aku memang sudah gila. Aku ingat betul, terkahir kali aku mengajakmu bicara, aku bilang, “Apa kalau dengan perempuan itu tahu kamu denganku, dia akan mati? Atau hidup tapi gila?” Aku menangisi diriku lagi, aku yang ternyata hidup tapi gila. Aku sendiri ternyata yang hidup tapi seperti mati. Aku sendiri yang merasakannya…..

Tepat azan magrib, aku masuk kamar dan mengambil air wudlu lalu solat magrib, mengaji, lalu diam sejenak. Aku tahu, setiap aku diam, saat itu juga aku pasti menangis. Aku hanya menunggu isyak datang lalu mengerjakan ibadah solat isyak, tadarus, lalu tidur. Sudah kubilang, aku tak punya cara lain untuk hidup lebih baik kecuali menghabiskannya dengan tidur.

Pukul 22.30 aku terbangun. Sepersekian detik kemudian hujan deras jatuh di atap kamar. Begitu deras. Aku meringkuk, memeluk guling. Ada sesak yang begitu hebat menekan-nekan dadaku. Aku tak bisa bernapas dengan baik. Aku menggigil, dan merasakan sakit di sekujur tubuhku. Aku memegangi perut bawah sebelah kanan. Keringat-dingin. Apa-apaan ini … aku menangis dan istgifar sebanyak mungkin. Aku bersujud meminta ampun pada Tuhan. Apa yang mesti kulakukan, Tuhan? Aku mencoba memaksakan diri untuk terpejam lagi.

Kau tahu, aku baik-baik saja(310114)
Pukul 03.00, aku terbangun. Mungkin sudah waktunya tahajud. Tapi lagi-lagi aku merasakan hal yang sama. Dadaku sesak, tubuhku menggigil, aku bukan pecandu, Tuhan? Aku bukan pecandu, mana mungkin merasakan sakau….

Aku memegang erat-erat jendela kamar, berusaha mematikan semua rasa yang semakin tak keruan. Aku masih menyebut nama Allah, aku betul-betul ketakutan. Sudah satu jam, tapi gigil itu tak juga diam. Bibirku masih terus minta ampun pada-Nya. Aku masih merasakan gemeretak di gigiku. Aku melepaskan sengal napas, lalu menyesak lagi di dada. Aku menyerah. Ambil saja aku kalau memang tak bisa melanjutkan hidup dengan baik nantinya. Ambil saja….

Pukul 04.08, “Subuh….”

Tapi aku tidak sadar, aku tertidur setelah itu. Ayah membangunkan aku pukul lima lalu aku solat dua rakaat, aku kembali ke tempat tidur. Dan sempat membaca satu pesan singkatmu. “Sampun :)”. Memangnya aku mengirim apa? Bodoh. Aku betul-betul tidak sadar melakukan apa.

Aku menangis lagi. Memandangi langit-langit kamar, aku sudah tidak sanggup lagi. Bangun – melihat jam – tidur, dan begitu mau sampai kapan?

Ketua timku menelepon, SMS, berkali-kali sejak beberapa minggu lalu. Kuabaikan. Aku bilang, keluarkan aku dari tim, kalau memang bagimu aku tak sanggup mengemban amanah itu. Aku tak peduli, aku tidak pernah bermimpi sampai ke Korea dengan hati dan hidup yang begini. Kalau memang harus segalanya Tuhan ambil, ambillah….

Semakin kupikirkan, semakin aku merasa sakit jiwa. Sumpah, aku tak pernah membayangkan ini terjadi padaku. Tak pernah terbesit sedetik pun, hidup jadi begitu berantakan. Beginikah yang disebut baik-baik saja?

Beberapa jam yang lalu, entah mengapa, aku membuka jejaring sosialmu lewat akunmu. Aku melihat apa saja yang kamu lakukan dengan akunmu. Dan seketika itu juga, saat melihatnya … dengan cepat langsung kututup. Aku tahu bersamaan dengan itu, aku menangis lagi. Dan tak akan pernah berhenti.

Aku tidak akan menyusun kembali hatiku yang hancur. Aku tidak akan mencoba untuk membuat hidupku utuh lagi. Aku tahu, kali ini aku benar-benar sudah mati. Sudah.

29-310114~Berakhirnya Januari, berkahir juga aku. Selamat tinggal, hatiku, hidupku.