Bila Jodoh Berinisial Engkau

Lebur aku pada purnama di bulan ke sembilan, pada mata yang membulat di separuh petang lampu pijar. Petak yang tidak akan bisa dirujuk ulang. Angka demi angka dijejer beranak-pinak: merenggangkan ruang, mendekatkan bayang. Segala debur debar ubahnya jadi buih yang menjijikkan. Kita sama-sama tahu menyoal apa-apa yang tak kunjung selesai. Tapi tak lagi punya cara menghabiskanya. Sudah terlalu kenyang untuk melumat paksa, tapi sayang bila dimuntahkan begitu saja.
Jarak tak bisa menaksir rindu yang luber menjadi deras hujan di sepanjang jalan. Yang bermunculan justru kenangan berbau amis dan secarik memoar berlapis tangis. Cinta, mengapa berlarian seperti kerumunan semut yang diguncang jemari keriput? Tapi sesendok gula tak ikut di-lap basah, dibiarkannya berserak seolah memang sengaja disiapkan untuk selalu dirubung lagi.
Waktu terlalu samar untuk bisa ditaksir kapan akan tiba semula, atau hilang tak berbekas. Aku selalu nihil dalam bermain dadu, kau pun tak punya daya mengocok kartu. Kita sama-sama dipaksa buta dalam satu waktu. Tapi cinta, apakah selalu harus terasa seperti kali pertama? Setelah seluruhku diisap harga dan kau tak pernah lunas membayarnya. Jika tak pernah ada jalan pintas menuju pulang, kita mesti patungan untuk sampai di pulau sebrang.
Semisal yang kusebut dengan “engkau” masih berinisial tanpa nama, apa mungkin aku kan lebur lagi pada purnama di bulan yang lain, di mata yang separuh menghilang pada pekat senja? Engkau, yang tak kutahu seberapa sering menyebut-nyebut namaku dalam doa. Aku, yang tak juga menemukan cinta menjadi seutuh purnama.

Yogyakarta, 24 Mei 2016
Fasih Radiana

Cinta, Apakah Jodoh?

Aku berebut udara dengan malam. Semakin tinggi bulan merambat, makin tebuka lebar bola mataku yang hitam pekat. Napasku hidup dalam hening. Ia tidak, sama sekali tidak suka bising. Lalu menularkannya dalam bentuk kecintaanku pada hampa. Keramaian yang paling pas untuk kusapa hanyalah seraut wajah angin kosong dalam senja. Tak ada yang lain. Aku hanya suka yang itu. Tidak dengan lampu pijar, tidak juga dengan lalu-lalang, apalagi huru-hara.
Kau tahu betul, aku sudah menjabar diri terlampau panjang dan sering membuatmu jadi terkantuk-kantuk dengan kalimat yang itu-itu saja. Kamu tetap bersetia meski sebenarnya sudah hapal dengan baris yang sama. Tapi sempat aku berpikir, bagaimana kalau seandainya saja suatu saat aku bosan bercerita? Dan lebih memilih diam. Apa mampu kau memahamiku seperti saat ini?

Siapa yang berani berujar bahwa penulis adalah ia yang hatinya selembut sutra? Tak ada kurasa. Aku salah satu yang akan bilang tidak kalau memang ada yang begitu mengira. Dan kau pastilah orang pertama yang mengiyakan kilahanku. Sebab kau tahu aku tak seromantis tulisan-tulisanku. Aku sama sekali bukan wanita layaknya rima-rima yang menggantung penuh cinta pada tiap-tiap mata yang membaca.

more quote www.fasihrdn.tumblr.com

Ketimbang berbicara menyoal hati yang jatuh pada cinta, aku lebih suka disuguhi harapan yang diperjuangkan habis-habisan. Bahkan meski kehilangan adalah bayarannya. Aneh memang, akulah paradoks. Akrab disapa penulis cinta. Tapi bahkan  sepotong hati pun aku tak yakin seutuhnya punya.

Tempo hari kudengar ada yang berdecak kebingungan. Mengapa kau kutunjuk jadi satu-satunya yang mengisi sela-sela jemari. Padahal pernah kau remuk jantungku sampai nyaris tak mau lagi berdenyut. Padahal yang lain mengantre ingin aku tersenyum balik padanya, pertanda ada pintu baru yang membuka. Membolehkan diri masuk untuk sekadar menyapa, siapa tahu bisa sampai membangun cinta.

Kurinci satu sampai dua kalimat saja. Aku bisa dengan gamblang membaca setiap garis wajah sejak lama. Sejak umur masih belasan. Sejak kegiatan pramuka masih jadi kudapan. Atau meniup suling paduan suara adalah kegiatan luar biasa. Dan kawan masih mudah kali kugandeng tangannya. Tapi kau adalah yang pertama direkam oleh pijak mata yang pertama. Detik yang pertama. Aku masih bisa mengingatinya.

Pernahkah mendengar istilah cinta pada pandangan pertama? Omong kosong. Cinta selalu bertumbuh. Kalau datang sekejap pastilah lesap dengan begitu cepat. Tapi setelah retina berkenalan dengan cahaya di matanya, aku percaya bahwa setiap mata punya ketertarikannya sendiri pada kelopak yang dianggap pasangannya.

Atau pernahkah setelah kau selesai membincangkan seseorang dengan penciptanya, tiba-tiba ia datang dalam nyata? Membawakan segelas cokelat buatan tangannya? Padahal kau hanya berkisik dengan telingamu sendiri, tapi ia yang kau sebut-sebut ternyata mendengarnya? Aku masih suka heran sendiri siapalah ia sebenarnya. Untuk apa masih berkeliaran dalam jarak yang begitu panjang di hadapanku. Dalam medan waktu yang bergeser satu-dua detik dari jam dinding di ruangan tempatku berjejak mondar-mandir menagak rindu.

Aku berebut udara dengan malam. Semakin tinggi bulan merambat, makin tebuka lebar bola mataku yang hitam pekat. Napasku hidup dalam hening. Ia tidak, sama sekali tidak suka bising. Lalu menularkannya dalam bentuk kecintaanku pada hampa. Keramaian yang paling pas untuk kusapa hanyalah seraut wajah angin kosong dalam senja. Tak ada yang lain. Aku hanya suka yang itu. Tidak dengan lampu pijar, tidak juga dengan lalu-lalang, apalagi huru-hara.

Kau tahu betul, lebih dari yang lainnya. Lebih dari siapa saja. Kau adalah yang pertama setelah tembok-tembok pembatas tangis dengan tawa yang sudi kubagikan cerita dari sendok tua. Dengan cinta atau tanpanya, kau tetap saja sudah menawan seluruh trauma lama. Kau kembalikan dengan jenjam sahaja. Meski kadang erak malah membuatmu menjadikan aku amuk, lalu kita sama-sama muak di tempat. Maka diamlah di sana dengan doa yang tak pernah tutup dalam bicara. Agar bisa kau bawa aku keluar dari udara yang selalu sesak untuk kuirup lebih lama….

Walau tak satupun yang bisa menjamin, bahkan kau, apalagi aku. Siapalah masa depan.



040915~Bukan jodoh, bila hanya cinta yang menjadi tumpuannya. Tak akan berjodoh, bila tak ada usaha dengan doa sebagai pelengkapnya.

Bila Cinta adalah Kata Hati, Biar Tuhan jadi Tuannya

Februari … Maret … April … Mei … Juni.
Bukankah waktu tak mengenal ampun? Ia bergerak tak peduli kau memintanya untuk tetap tinggal. Kalau kuhitung dengan jari telunjuk, ini adalah bulan ke lima kau dan aku menggantung jarak, meluapkan waktu. Baru sebentar ternyata. Apalagi jika diukur lebih detil beserta hari demi harinya. Tapi tidak hanya aku yang merasa sepertinya sudah tahunan lalu kita tak pernah menyapa wajah.
2013 … 2014 … 2015.
Bukankah waktu tak mau tahu? Ia berlari masa bodoh kau masih ingin diam. Sudah masuk dua kali tahun ajaran baru setelah aku memetik senyum dan tangis secara bebarengan. Mengenalmu, memperhatikanmu, menganalisis, memahamimu, mendalamimu sampai hapal kutaksir jumlah bulu-bulu halus yang bernapas di kulitmu. Tapi ternyata baru sebentar kuerat jemari agar benar-benar pas di genggammu. Seperti sudah kuhabiskan satu dekade kuderet lebih-kurangmu. Di mana celah untuk kuisi dan kapan kamu acap melengkapi.
——————————-
2013
Ingat?
Kamu pernah ungkap bahwa cinta tak perlu alasan sedang aku melengkapi persepsimu bahwa cinta memang datang tanpa alasan karena ia memilih dirinya jatuh melalui alam bawah sadar: nurani. Tetapi ia selalu melanjutkan diri untuk bangun melalui logika berpikir: akal sehat. Dan idealismeku tidak pernah kamu setujui. Cukup dari sana aku mengerti siapa kita. Bagaimana kita bisa bertemu dari arah yang berlawanan. Oposisi yang sering jadi asal muasal perdebatan justru jadi alat yang mengakurkan. Memasukkan angka di sela paragraf dan menyelipkan huruf dalam deret bilangan. Yang aku tahu, alam bawah sadar setiap manusia tak bersekat, ia menyatu satu dengan yang lain. Gelombangnya akan saling menemukan ketika berada pada frekuensi yang sama.
2014
Ingat?
Kita sempat dipisahkan “dinding” yang begitu dingin. Ia memperkenalkan diri sebagai khianat. Salamnya begitu bising di telinga. Masuk tanpa permisi. Menelusup sampai ke rongga dada. Ia mengubrak-abrik hampir ke seluruh bagian. Seperti pembunuh berdarah dingin. Terus menguliti hingga belulang. Mengacak-acak denyut jantung sampai alir nadi tak lagi berfungsi. Jejaknya tak pernah hilang. Merumah di batang tubuh. 
Saat ulur tangan berdatangan, aku berani sumpah tak akan ada yang mampu menarik lenganku untuk membujuknya bangkit. Kalaupun tak ada cara lain untuk pulih, satu-satunya yang akan menaruh obat merah di satu per satu lukaku hanyalah ia yang sedang berbahagia di tempat lain.
Lalu doa yang memenuhi langit menjadi purnama di sepanjang malam. Tangis dini hari jadi kekuatan cadangan sebelum akhirnya kamu pulang. Sesumbar membawa kabar dengan oleh-oleh berbingkis takdir. Doa jatuh kembali menjadi hujan yang membentuk setengah lingkar “mejikuhibiniu” yang membelah Jogja sebelum fajar pecah. Bukankah alam bawah sadar masih bekerja dengan posisi frekuensi yang tidak berubah? Benarkah sebenarnya cinta yang katamu tanpa alasan berbenah diri dalam sujud dengan kodrat Tuhan sebagai surat izinnya? Ataukah ilmu mantik yang kukombinasikan dengan intuisi adalah sebuah kesalahan besar? Sehingga sulit kali rasanya melupakan “dinding” itu?
Bahkan sampai Februari, Maret, April, Mei, mengantarkan kita ke bulan Juni….
2015
Bukan salahmu pada masa yang telah punah. Toh, pilihanku memaafkan ikhlas adalah pernyataan yang perlu dipertanggungjawabkan. Hatiku jelas tahu betul berbagai cara kau lakukan demi aku yang berbahagia. Kamu begitu sabar sampai ambyar pun sering kali membuatku ingin memaki-maki diri. Mengapa jadi sesulit ini? Padahal cinta begitu sederhana. Katamu, ia tanpa alasan. Tapi aku membuat logikanya jadi terlalu rumit. Merumuskan kejadian terlalu rinci. Membuat nurani jadi sulit sekali muncul ke permukaan. Karena sepersekian detik selalu hilang dilahap prinsip yang barangkali tidak tepat digunakan untuk perkara sesakral ini: cinta.
——————————
Tuhan
Beritahu aku, mana yang ia, mana yang pikir belaka. Sebab aku ingin mengikutinya: kata hati. Sebab Kau adalah ia bukan?


Salam,
Fasih Radiana
Sebab aku adalah si koleris, tentu saja butuh kamu yang plegmatis 🙂



Yogyakarta, 10 Juni 2015 – Bila hati adalah yang paling jujur, biarlah logika yang salah akan hancur….

Sekantong Rindu Terakhir

Ada sekantong rindu yang kumasukkan dalam lemari. Kusimpan di sudut paling dalam. Tapi masih juga mengintip dari celah-celah gagang pintu. Ternyata rindu itu bukan sebab kamu jauh dariku, Sayang. Tapi karena aku yang terbiasa denganmu. Lalu tiba-tiba aku mesti melakukan segalanya sendiri. Ah, padahal sebelum datang tatapmu di wajahku, aku sudah melakukan semuanya sendiri. Jadi, kamu yang membuatku tak bisa mandiri … merasa membutuhkan seseorang terkadang menyakitkan. Sebab ada ketakutan yang menyelip kalau-kalau aku tak bisa lagi di rengkuhmu. Aku tak bisa lagi memanggilmu. Aku tak bisa lagi memintamu datang memelukku.
Ada sekantong rindu yang kuambil dari lemari. Biar menemani sepi saat kamu pergi. Tapi, toh, saat kamu tak berjarak denganku, aku tetap merasakan rindunya mengitari hati. Bisa begitu ya?
Sekantong rindu itu kusebar di langit-langit kamar. Biar saat aku tertidur, rindu itu mengajakku menujumu. Lalu kubagikan serpihannya pada angin, biar tertiup sampai ke relungmu. Kutitipkan pada bintang, lalu tunjuklah dengan jemarimu. Ada rinduku tergantung di sana. Masih ingat, ada malam yang begitu indah saat hati kita belum membuka dirinya? Di sana aku hanya bisa memandangi lekatmu dalam pekat dan matamu menjawab sedikit tanda tanya. Intuisi yang kukira sekejap mata. Ah, bisa kau ingat-ingat lagi yang itu? Yang tak bisa kujejerkan dengan kata. Kalau suatu saat, rasa cintamu hilang, Sayang … ingat-ingat lagi bagaimana cinta itu datang. Jangan biarkan siapapun menghapusnya, menghasutnya sampai tumbang. Jangan biarkan satu pun alasan jadi sebab perpisahan.
Kali ini, sekantong rindu kutukar dengan doa. Sebab aku tak ingin rindu ini nantinya tak berasal dari dua arah. Sebab aku ingin rindu ini yang terakhir meresapi jemariku. Sekantong rindu terakhir dariku untukmu. Sebab aku mau akulah orangnya. Sejatimu.



051113~Soal jodoh, siapa yang bisa menduga-duga? Tapi kalau jodoh bisa diperjuangkan, saya perjuangkan kamu saja. Cukup.

Cinta, Tunggulah Sebentar Lagi

Cinta. Aku tahu kau sudah bosan melumatnya. Membaca kalimat yang itu-itu saja. Tapi mereka yang membenci cinta hanya ada dua alasan yang masuk akal: Ia tak pernah merasakan cinta, atau ia terlalu sering merasakannya. Dan aku tak perlu tahu kau termasuk yang mana.

Cinta. Kau mungkin sedang jatuh di dalamnya. Mungkin juga baru saja dipatahkan olehnya. Kita tak pernah tahu kapan rasa itu bermula, tak pernah mengira di mana bertemu, dan bagaimana bisa begitu cepat tumbuh dan merangsuk makin dalam. Kita tak pernah diberitahu, kita tak pernah diberi peringatan untuk menamainya cinta.

Cinta. Itukah kamu? Itukah kamu yang kupandangi dari jauh. Itukah kamu yang kudengar padahal kau tak berbicara apa-apa. Itukah kamu yang aku tak tahu seperti apa bentuknya. Itukah kamu yang akan jadi jawaban dari segala tanda tanya?

follow me @fasihrdn

Cinta. Aku tak pernah berani menyebut apa yang menggelitik ini dengan sebutan sakral. Kita hanya bisa merasakan tanpa perlu pernyataan. Rindu yang tentu saja teruntuk kamu, apa perlu kuyakinkan kembali?

 Aku bahkan tak punya cukup nyali untuk memberi kabar tentang hatiku yang selalu berharap kaulah orangnya. Yang kehilangan separuh rusuk dan ternyata akulah pelakunya. Akulah yang hilang selama ini dari tubuhmu; yang sampai detik ini tak kutahu berada di mana.

Cinta. Ingin kukutuk kau yang membuatku begitu lama menunggu. Ingin kuamuk kau yang membuatku tetap saja menunggu meski sudah dirundung kantuk. Ingin kucambuk kau yang membuatku harus puas hanya dengan mengajuk. Kau tak tahu kan betapa lama aku terantung-antung?

Cinta. Mungkin saat ini kita hanya saling diam, biarkan saja bahasa yang bersuara. Sebab kau dan aku tak punya hak untuk mengabarkan yang masih sama-sama baru jadi pengharapan. Aku tetap memilih untuk sendiri sebab tak ingin kau tersakiti atau menyiksa diri. Kalau-kalau ternyata kita salah menilai situasi. Kalau-kalau ternyata kita salah naluri.

Cinta. Tak perlu buru-buru kemari. Tak usah memaksa diri datang ke sini. Aku tetap menanti sampai alam pun ikut jadi saksi; kau dan aku yang mengucap janji dalam akad suci. Mungkin, suatu saat nanti.

“Apa perlu kau tanyakan untuk siapa aku menunggu?” –  Fasih Radiana

Just Tired

Kenapa gue suka nulis? Karena gue capek ngomong sama tembok. Oke, sekarang nggak perlu pake sastra-sastraan dulu. Gue mau numpahin uneg-uneg. Udah sesek aja bawaannya. Nyaris nggak bisa napas.
Barusan gue dapet makanan dari tante. Dan sekarang gue udah kenyang. #abaikan #nggakpenting
Gue dapet banyak omongan malem ini. Tentang apa? Apalagi sih yang dibahas remaja, kalau bukan lawan jenis. Tapi gue nggak lagi bahas, “You know who” lah ya…… capek banget lah kalo ngomongin yang satu itu. Udah lah, kalau jodoh ketemu lagi kok. Kalo nggak jodoh, ya berarti mau dijodohin sama yang lebih WOW. Amin.
Gue dapet banyak wejangan nih . Tadi tante banyak cerita tentang “jodoh”. Oke, gue emang masih yang berumur belasan tahun. Tapi entah kenapa suka banget ngomongin jodoh. Kalau nanti ketemu sama tuh jodoh, mau gue marah-marahin. Habis, udah belasan tahun nggak ketemu-ketemu  :p
Nggak tahu, sempet nyesek waktu denger ternyata tante pernah ditinggal nikah sampe stress mau bunuh diri segala. Nggak kebayang kalo gue ngalamin hal yang sama. Yang jelas gue percaya Tuhan selalu punya cara sendiri untuk mempertemukan elo sama jodoh lo. Dengan cara yang biasa maupun yang luar biasa, dengan cara yang lo duga atau yang nggak lo sangka-sangka. Dengan cara yang bahagia atau yang menyakitkan. Yah, itu rahasia Tuhan.

Nah, sebenernya gue mengutuk satu nama. Rasanya benci sama cinta udah nggak bisa dipisahin lagi. Selalu aja sedih kalo kebayang-bayang nama yang kalo gue boleh minta, tolong deh, HAPUS! Hapus dari hati gue. Gue tahu banget lah, jaman sekarang susah nemu laki-laki yang baik dan memberi kebaikan. Padahal sebenernya gue juga males ngomongin laki-laki. Tapi ya gimana, ini jari gue kaya gerak sendiri. Terserah deh, gue bebasin aja mau ngetik apaan. Gue, bingung. Bingung mau gimana. Bingung lagi ngerasain apa. Yang jelas, capek aja kalo gini terus.
Ada yang bilang, “You can close your eyes to things you don’t want to see, but you can’t close your heart for feelings you don’t want feel.”
Rasanya pengen banget mukul-mukul orang yang bikin gue jadi setengah gila. Pengen banget teriak-teriak di telinganya, biar telinganya berdenging kesakitan. Pengen banget membenci, gue pengen banget bener-bener bisa benci. Tapi Tuhan memberkati lo, karna gue kayaknya emang nggak akan dikasih kesempatan buat bisa benci sama lo.
Lo boleh ketawa terbahak-bahak di belakang gue. Ngerasa puas karna udah bikin gue jadi idiot kaya gini. Gue ngelakuin hal yang belum pernah gue lakuin. Tapi gue akuin sih, “You’re my Sunshine”. Gue bisa dengan sendirinya nurut aja gitu sama apa yang lo suruh. My Inspiration. Yes, you are. 

Gue juga bingung, ibarat gue anak SD yang terpikat sama mahasiswa. Logikanya, kalo gue jadi si mahasiswa yang disukai anak SD sih….dari pada ntar nangis gue kudu tanggungjawab malah repot. Mending gue tenangin gitu, dikasih permen kek, biar nggak sedih. Gue kan jadi aman tuh, anak SD nya nggak bikin susah terus gue juga masih bisa ngelanjutin hidup dengan dunia gue sendiri. Mungkin gitu sih, kronologinya.
Nah, sekarang kalo ternyata gue yang anak SD? 
Ya gue nggak bakalan ketipu lah sama modus-modus begituan. Palingan juga gue nangis doang, angguk-angguk dengerin dia ngomong padahal sebenernya mental pengen muntah. Saking sakitnya. Pengen nya sih, coba kita tuker posisi aja gimana sih? Biar lo aja yang meranin jadi anak SD. Gimana capeknya sandiwara dengan kepolosan yang ngebuat lo jijik sama diri sendiri.
Oke, ini terlalu jauh keluar dari lintasan. Gue juga bingung sebenernya ini ngomongin apaan. Too hard to understand, too hurt to be felt. Bahasa inggris gue jadi ngaco, tau deh salah juga bodo amat. Yang jelas gue nggak minta siapapun elo untuk paham maksud gue. Buat ngerti arti cerita absurd gue ini. Gue nggak minta lo buat BACA!


200912~ You know you’re in love when the hardest thing to say is GOODBYE! There never was anyone else. But I wish I could forget you.


@Fasihrdn