Idealisme Masa Silam

Hai, masa depan. Jangan bersembunyi di balik takdir orang. Patahkan segera bila memang tak tepat dalam naskahnya. Jangan takut aku menangis karenanya, aku tak akan malu menapakinya. Bukankah di depan Tuhanmu aku sudah mengakuinya?

Masa depan, dulu aku mengira kau adalah rencana yang mesti disusun begitu sempurna. Dengan daya yang tak sedikit, dengan alir air mata yang tumpah menyangga luka, dengan segala yang ternyata hanya dampak ketidakinginan mengulang kesalahan lama. Terlampau dalam aku menguburnya diam-diam, menjadikan harap pada yang tak sepatutnya diraih dengan cara berpunggungan dengan pemilik kuasa. Kini, cerita sudah diobrak-abrik penyesalan. Masihkah ada ruang perbaikan?

Sendiri adalah makanan sehari-hari. Aku tak pernah sudi menggantinya dengan ramai yang berduyun-duyun melamar kemari. Sadari sebenarnya ada satu angan rahasia sejak lama untuk memiliki rak sepatu, agar ada tempat menaruh dua kaki yang lesu. Lalu lemari besi untuk menggantung sendi-sendi yang terlalu sering dipaksa berlari tanpa henti. Lantai kayu untuk membaringkan tulang reyot di bawah atap yang bila malam menyoroti kantung mata dengan purnama. Tapi ternyata aku tak butuh itu semua. Cukup satu hati yang mengajak lelah berterus-terang ketika langit masih kelam, tapi bulan sudah samar menghilang. Dan tak satupun, termasuk segala ilmuku yang tahu, siapa ia. Di mana sedang berpijak. Atau kapan akan berjumpa.

Masa depan, bila bagimu aku terburu-buru, bila kau tahu niat itu bergeser terlalu jauh, beritahu aku. Tak apa, aku tak akan marah. Tegar sudah disiapkan untuk lebih tabah. Sebab tak lagi ada waktu untuk mengulang-ulang kepayahan diri membawa seluruh aku pada dunia yang semu.

Tolong, bantu katakan pada Tuanmu, hancurkan saja apapun yang tak Ia sukai. Bila memang harus, sakit separah apa, aku bersedia. Bunuh saja.

©Fasih Radiana

Melupa Luka, Melawan Kenangan

www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn
Rasa-rasanya rasa tak lagi terasa. Tinggal asa yang dipaksa bergelantungan tinggi-tinggi agar lengan tak bisa memecah rencana. Membelah harap yang diusung sejak lama. Tahukah kau bahwa dalam dada debar begitu kencang saling tikam angan dengan silam. Begitu sesaknya tak bisa kucapai meski dengan tengadah berlama-lama. Sebab hujan yang basah adalah perangaimu, begitu dibilang kosokbalen dari daun gugur di musim kemarauku.

Kita adalah dua yang terlampau beda dari ujung kaki sampai kepala.
Bukan telak karenanya, tapi fatalmu yang terlalu berisik mengobrak-abrik sahaja. Tahunan dua dinding saling tikai, baku hantam dalam diam-diam menyusun dendam. Aku yang tak betah berlama-lama tanpa damai pula tak mampu memasung luka. Ruam-ruam bekas angka dua telah menjalari bahagia, merobek-robek cita-cita. Kau pun tak sanggup jadi benang jahit pasca operasi sesar. Apalagi ia, anggak-agul, angkuh kali padahal sudah jelas jadi tersangka. Bila saja melupa tak sesulit si buntung meraih bintang, sudah pejam segala dari ingatan.
Kau.
Dia.
Dirinya.
Semula kukira, melupa luka tak harus dengan cara membenci kenangan. Tapi ternyata, kita mesti siap jadi prajurit di garis paling depan. Melawan apapun yang menghambat masa depan.

Sebuah Perjalanan Rahasia: Saya Membaca Karena Menulis (Bagian 1)

Tulisan kali ini saya persembahkan khusus untuk para pembaca. Sekaligus ucapan terima kasih. Dari kornea itu, sepanjang larik sederhana saya jadi manfaat. Lalu membuat saya haru—lebih tepat disebut cengeng—hanya karena sebuah tulisan yang kecil, begitu besar kegunaannya. Meski dengan mencuri-curi waktu, meski dengan tidur lebih malam, saya akan teruskan entah sampai kapan. Agar tak henti jadi kudapan bagi yang membutuhkan asupan.

Ampuni saya yang tidak bisa mencantumkan semua message.

Sudah lama sekali ingin membagi cerita ini. Jawaban—yang entah bisa menjawab atau tidak—dari setiap pertanyaan yang muncul ke permukaan. Sejak enam tahun yang lalu, blog ini saya buat. Dengan begitu sederhana. Bisa kau baca tulisan pertamaku. Tak lebih baik dari ocehan anak usia dini yang baru belajar berbicara. 

Mari mundur sejenak ke belakang, 2007 adalah awal mula saya mencoba membuka diri untuk mencintai puisi. Dua tahun sebelumnya, saya adalah murid kelas 5 SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta yang diberi tugas membuat puisi oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Aku sangat yakin, kau pasti lebih baik dari bait-bait ini.

Kasih Tulusmu

Sembilan bulan engkau mengandungku
sembilan bulan aku ikut merasakan detak jantungmu,
ikut mengalir dalam darahmu
berdenyut bersama nadimu
menjadi benalu!

Kasihmu tak berujung
doamu selalu mengiringi setiap langkahku
bimbinganmu selalu bersinar,
sinari hatiku

Kau selalu tebarkan senyum
Kau selalu curahkan segala perhatian
tanpa henti Kau sayangi aku
Kau didik aku selalu

Yogyakarta, 2005.
Saya hanya ingat, saya meminta bantuan pada Ayah untuk menambahkan (merevisi) kalimat dalam bait-bait yang begitu sederhana itu. Lalu saya juga mencari buku-buku dalam lemari dan menemukan buku karya Ratih Sang. Demi bisa memenuhi tugas tersebut. Tak ada yang istimewa. Hanya saja, kalau alam sadar saya masih bisa mengingat kronologinya, bahkan dengan jelas masih mengingat gerak, bicara, dan bagaimana saya menuliskannya pada waktu itu, pastilah kejadian itu adalah sesuatu yang memang—secara tidak sadar—sengaja saya rekam. Terlepas bahwa alam bawah sadar tak pernah bisa memilih memori yang mana yang ia simpan.


Setelah itu, tanggal 21 Februari 2006—saya masih punya berkasnya—puisi berjudul “Sahabat Abadi” jadi satu-satunya karya saya saat duduk di bangku kelas 6 SD.

Sahabat Abadi

Kau sahabat sejatiku
teman curhatku di setiap waktu

Setiap detik berlalu
Kau dengarkan ocehanku
tertulis isi hatiku
di lembaran-lembaran barumu

Kau menyimpan kenangan masa lalu
menyimpan semua rahasiaku
Kau akan terus mengalir bersama darahku
selalu hidup bersama jiwaku

Yogyakarta, 21 Februari 2006
Jangan pikir, saat aku menuliskan ini, aku sudah mencintai puisi. Aku baru tertarik. Karena pada zaman itu, buku diary adalah media anak-anak seusia saya untuk berbagi cerita tanpa diketahui siapapun. Padahal biasanya teman-teman sekelas saya yang juga punya buku kecil ber-cover cantik dan lucu itu saling membaca milik satu sama lain. Kecuali aku. Walaupun pernah suatu waktu ada salah satu yang membacanya diam-diam—buku itu selalu saya bawa di dalam tas—dan disebarluaskan. Sungguh, saya suka bergidik geli mengingat masa itu.
Seharusnya saya paham bahwa ketertarikan itu bukanlah suatu hal yang biasa. Karena mana mungkin sesuatu yang tidak spesial bisa—dengan sadar atau tidak, dengan sengaja atau tidak—diabadikan. Seolah-olah diri saya di masa lalu tahu bahwa hari ini karya itu akan saya jadikan sebuah perjalanan panjang. Tak ada yang kebetulan. Ini takdir. Yang barangkali, ikut saya upayakan.
Karena sejak tahun pertama saya menjadi murid SMP Negeri 9 Yogyakarta, pada 2007, saya mulai rajin ke perpustakaan. Bukan untuk membaca. Pun iya, saya pada saat itu tak benar-benar paham apa itu puisi. Otak saya tak cukup mampu mengartikan karya kenamaan Chairil Anwar berjudul “Aku”.
Kalau sering petanyaan-pertanyaan ini masuk melalui media apa saja, “buku apa yang kamu baca, Mbak? Bisa menulis sebegitu mengharukan?”, atau dengan pertanyaan sejenis ini, “bagaimana caranya menulis? Bisa ajari saya?”
Yang saya ingat, saya masuk-keluar perpustakaan hanya bermodalkan kertas dan pena. Bukan untuk menikmati isinya, tapi mencatat semua jenis kata yang tidak saya ketahui artinya. Lalu saya tulis di buku tulis khusus kosakata. Membentuk glosarium sendiri. Lebih detail, saya buat sesuai abjad. Bukan huruf paling depan, tapi paling belakang. Akhiran a, i, u, e, o. Sehingga mudah untuk saya mencipta rima yang pas. Dari setiap lirik lagu pada bungkus kaset-kaset milik Ibu dan Ayah di rumah, bahkan tak luput dari terjemahan kitab suci Al-Qur’an.
Tak cukup sampai di situ, Januari 2008 saya mulai menjadikan sastra sebagai obsesi—tanpa saya sadari. Setiap petang mulai membayang, diam-diam saya mulai menyusun kalimat dari kata demi kata yang sudah saya rangkum dari segala jenis buku. Satu hari, saya wajib setor minimal satu puisi. Lalu berlagak bodoh dihadapan Ayah dan Ibu, bila butuh tahu apa artinya kata ini dan itu tapi tak saya temui jawabannya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Lalu, dari mana gagasan tulisan-tulisan itu tercetus? Buah pikiran siapa?
Dari batu besar yang mulai berlubang. Dari senja yang menghitam tanpa tepian. Dari hujan yang jatuh tetes memecah tanah. Dari bau busuk sampah di selokan. Dari asap kendaraan yang mengeras di paru-paru. Darimu. Darinya. Dariku.

Sungguh, kemampuan saya mengabadikan tak seberapa, maafkan saya.
Menulis pun tak lepas dari ilmu psikologi. Tanpa tahu karakter pembaca, mana bisa menghasilkan sejajaran paragraf yang jika dibaca, maka mereka akan bilang, “ini pernah saya alami.” atau, “ini yang saya rasakan sekarang.” atau bahkan, “membaca ini seperti mendongengkan kisah hidup saya.” Saya masih percaya bahwa tak ada yang kebetulan, sejak Sekolah Menengah Pertama pula saya mulai tertarik membaca perilaku sesama.
Saya mulai dengan anak laki-laki bernama Rendi, sebut saja begitu. Kalau kau adalah teman satu SMP dengan saya, maka kau tak mungkin lupa siapa laki-laki itu. Yang sudah harus drop out di tahun pertama. Berandalan yang tak punya kawan main. Tak ada yang berani duduk sebangku keculai dipaksa. Tak ada yang mau beramah-tamah karena sudah ngeri lebih dulu menatap wajahnya yang kusam dan bengis. Ia tak takut pada kakak-kakak kelas yang bertugas pada Masa Orientasi Sekolah. Ia tak pernah takut dihukum berdiri di depan kelas, atau bahkan membantah guru.
Siapa yang peduli bahwa anak laki-laki itu sedang mengalami depresi akut? Siapa yang mau menilik lebih dalam apa yang membuat ia jadi seperti itu? Siapa yang sudah mencoba mendekatinya lalu bertanya ada apa? Anak sebengal itu bisa membuat kaca dalam bola matanya saat bercerita sesakit apa hatinya pada hidup. Anak yang dianggap tidak tahu diri itu meneteskan air mata—yang hanya bisa saya lihat—di hadapan saya saat membeberkan semua masalah-masalahnya? Lalu, pertanyaan saya, siapa yang salah di sini? Anak itu, atau mereka yang tidak pernah mau tahu. Itu baru satu dari sekian banyak permasalahan hidup yang banyak orang tak acuh. Hanya melihat permukaannya saja. Kalau berjerawat, pastilah ia buruk rupa.
Sudah 7 tahun ini saya menerapkan pola semacam itu untuk berkarya, lalu bahan-bahan yang masih mentah saya racik dengan bumbu-bumbu majas dan pilihan kata yang tepat. Semua kegelisahan yang saya bungkus begitu rapi dengan eufemisme. Saya mengambil bahan limbah untuk saya olah kembali dalam bahasa yang lebih anggun dan enak dibaca. Biar merangsuk ke hati siapa saja, bahkan bagi yang tak pernah merasakannya. Tak pernah mengalaminya.
Bukan dari antologi puisi lalu saya daur ulang kalimatnya. Bukan juga dari hasil membaca ensiklopedia. Hanya cukup dengan membaca matamu saja bisa kutulis seribu abjad yang bahkan kau tak tahu bagaimana bisa aku lebih memahami dirimu ketimbang engkau sendiri.

Terima kasih, kalianlah inspirasi saya.
Tapi tidak sesederhana tulisan ini….
Semua berproses. Lama. Bahkan untuk saya ini semua teramat lama. Karena delapan tahun mengaku mencintai sastra tapi tak punya satu pun karya yang dijilid menjadi sebuah buku. Seseorang yang bahkan terlalu udik untuk mengirimkan tulisan-tulisannya pada koran, majalah, dan mengikuti kompetisi jenis apapun dalam bidang tulis-menulis. Awal tahun 2009 baru saya sadari bahwa menulis bukan lagi obsesi, tapi kebutuhan. Darinya kutemukan oksigen. Masih dengan diam-diam. Masih dengan ketidakwarasan menoreh tinta dini hari hanya dengan penerang lampu ponsel. Dan tak terasa, ratusan judul dimuat dalam binder-ku, dengan beberapa puisi yang ditepuktangani oleh teman-teman sekelas saat mata pelajaran Bahasa Indonesia. Angka 8,00 yang kudapat dari Bapak Rudjito, S.Pd. Lalu berlanjut di tingkat setelahnya. Angka 9,40 dari guru luar—yang aku yakin tetaplah bukan suatu kebetulan kelas saya yang dipilih—yang mengajarkan bab “Puisi”. Saat itu, ada tiga juara. Yang pertama adalah saya. Lalu ketiganya harus membacakan karya masing-masing di depan kelas. Tak perlu ditebak, saya bukan pembicara yang baik.
Sampailah pada mata pelajaran TIK. Lalu saya dipertemukan dengan blog—platform atau layanan blogging milik googleYang lalu saya beri nama “Tepi Selendang Jingga.” dengan filosofi saya selalu menulis ketika senja tiba. Kali pertama saya memberanikan diri mem-publish tulisan tersembunyi saya dengan judul “Menjauh Berlalu”. Sejak saat itu pula, saya berhenti menulis dengan arti sesungguhnya, pada kertas-kertas yang bersetia membangun intuisi dari nol.
Tidak lama, sekaligus dua puisi saya terpilih menjadi penyelip kata pada buku antologi puisi yang dibuat oleh PPL-UNY pada masanya, yang diambil dari seluruh murid di sekolah saya. Bukan suatu hal yang membanggakan memang, tapi cukuplah untuk mengukir nama di perpustakaan sekolah yang menjadi salah satu media berjasa pada saya. 
Lulus dari SMP, saya tak punya keinginan seperti layaknya teman-teman saya yang dalam doanya selalu menyebut-nyebut nama sekolah impian mereka. Saya diberi kebebasan memilih sekolah apa saja, tapi dalam jenjang Sekolah Menengah Kejuruan. Maka saya tak tahu harus ke mana. Sedang saya tak berkeinginan di mana-mana. Yang saya tahu, saya cukup dengan nilai UNAS rata-rata 9. Tentu saja, Allah sebaik prasangka hamba-Nya. Saya mendapatkan apa yang saya mau.
Dengan total nilai 36.00 pada masa itu, saya yang tadinya menimbang-nimbang untuk memasuki jurusan tata busana mengurungkan niat itu. Pertama, saya tidak pintar menggambar. Kedua, saya kurang teliti. Ketiga, teman-teman dengan NEM yang hampir sama menyarankan saya untuk memasuki jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, di Sekolah Menengah Teknik Pembangunan, Sleman, Yogyakarta. STM terbaik pertama di DIY. Tapi sayang sekali, tinggi yang saat itu tidak sampai 150 sentimeter membuat saya harus mengurungkan diri. Sebenarnya, kalau saya ngeyel sedikit saja, bisa beralasan bahwa saya masih dalam masa pertumbuhan. Toh, kurang 3 sentimeter saja. Tapi sekali lagi, atau mungkin terus-terusan saya tekankan bahwa tidak ada yang kebetulan … saya sudah mengundurkan diri pada waktu mengisi formulir. Tidak jadi saya serahkan pada petugas. Saya beralih ke Sekolah Teknik Menengah terbaik setelahnya, yaitu STM 1 Yogyakarta (STM Jetis) atau sudah berubah nama menjadi SMK Negeri 2 Yogyakarta.
Tanpa pikir panjang dan tahu-menahu apa itu jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, takdir membawa saya kepadanya. Takdir mempertemukan saya dengan dunia baru. Dunia antah-berantah. Saya yang kolotnya minta ampun, diterima menjadi penghuni baru Teknik Informatika. Welcome to the jungle part one.
Lalu bagaimana bisa saya menjadi seorang penulis kalau saya justru berbelok menjadi manusia dengan tangan kanan dan kiri penuh alat-alat semacam solder, tang crimping, cron, kabel,….

Lalu bagaimana mungkin saya bisa menambahkan kosakata baru kalau harus berkutat pada bilangan biner, pengetahuan elektronika, subnettingtroubleshooting, Local Area Network (LAN), Wide Area Network (WAN), atau harus menjejalkan diri ke dalam sistem BIOS, atau menghapal dan mendalami tujuh layer OSI, atau memanjat tower setinggi 16 meter? Saya bahkan bisa melihat dengan jelas bagaimana proses daun bergerak mengikuti angin yang akan menjatuhkannya dengan segera. Hidup ini mengasyikkan, bila kita percayakan segalanya pada-Nya.



Bersambung…….
Salam,
Fasih Radiana