Ketidaktahuanku adalah Engkau

Gampang bagimu, gamang untukku.
Kekanakan bagimu, kejam untukku.

Bahasaku tak cukup sederhana, tenang yang kau minta tak akan tiba. Barangkali pil paradoks memenuhi ambang batas puji dan caci, cinta dan benci, pulang dan pergi, kau dan aku. Seperti drama, katamu dahulu. Dan perangaiku perang dalam damaimu. Tapi keangkuhan mengetuk matamu, memeluk bisuku. Bukan aku yang tidak mengerti dampak dari ketidakpahamanmu atas hati. Hanya saja pantomimmu gagal kujabar. Hingga kini. 
Paksa adalah jalan pintas.
Bagimu, mudah untuk terbang dari satu tapak bekas musim dingin menuju daun gugur.
Mengiyakan adalah luruh; jadi aku di tepi udara sesakmu. Tapi tak cukup tegar dalam tegas, basah dalam kemarau.
Kau dan aku bukan lagi.

Sepanjang apa puisi yang mau kau baca. Selagi jemari masih bisa menulis engkau. Sekeras apa ingin kudengar, gigilmu dalam gemeretak gigi yang berjajar rapi. Meski tampaknya usai kini aku menatap. Diammu adalah tanda tanya. Tapi jawab bagimu. Selesaikan diriku dengan jamuan rupa baru yang terpotret di beda bilang.
Sebab apa yang kau tangkap, adalah apa yang tidak pernah aku lempar.
Siapa yang kudekap, adalah engkau yang menghilang.
Karena ketidaktahuanmu adalah aku.
Yogyakarta, 4 Mei 2016.

Teruntuk Kamu; Lelakiku di Masa Depan

Kali ini Tuhan menjatuhkan cinta lewat sederet bahasa yang diam. Aku terperangah. Bingung, mau tersenyum atau menangis. Dan ternyata keduanya bebarengan menghias rupa. Di depan layar yang selalu membuatku meluncurkan nyanyian tanpa nada. Tapi berirama sama seperti bahagia. Hanya saja kau tak kan bisa melihatnya dengan kasatmata. Sebab bahagiaku ini jatuh tetes lewat air mata.

Ini cinta yang tak perlu jemari untuk menggenggamnya. Ini cinta yang tak meminta lengan memeluknya. Ini cinta yang tak menggunakan mata untuk menatap setiap gerak-geriknya. Ini cinta yang tak membuka mulut untuk menyuarakannya. Ini cinta yang tak menjanjikan ikatan selamanya. Sebab ini cinta yang merindu lewat doa. Ini cinta yang menunggu Tuhan menyatukannya. Ini cinta?

Sebab setiap lariknya kutulis dengan cinta yang kutahan mati-matian; pun seharusnya kau begitu pula bertahan dan kita saling mempertahankan. Mungkin jarak dan waktu membiarkan kau dan aku beradu dalam rindu yang sedikit lebih haru. Sebab selalu kusemat disepertiga waktu; sebelum dini hari. Aku enggan berbantah mulut, menepis cemburu yang tak semestinya melesap masuk ke rongga dada. Aku ini siapa?

Semoga kau bukan yang suka mencabar; menawar hati lewat puisi. Mencecar siapa saja dengan puji bertubi-tubi. Mengkoyak gejolak yang muncul di mana saja. Dengan mudah membawa nama Tuhan demi cinta yang hanya singgah sebentar; sanggrah. Bercelangap mengungkap rasa yang nyatanya langsung lesap sekejap. Kita bukan lagi anak muda yang kerap mengumbar rasa bukan?

Kau dan aku pasti punya sebingkis kisah masa lalu. Mungkin sebungkus rindu yang berujung pilu bertalu. Mungkin juga setumpuk cinta yang ternyata sesaat saja mendamba. Yang sejumput itu, tak akan terulang kembali pada kita kan?

Kau pasti mengerti betapa sulit aku menyusun denyut nadi agar kembali rapi. Kau mungkin juga paham betapa lama aku berdiri menstabilkan posisi. Dan aku juga tahu, kau tak akan menggoyahkan apa yang kadung rangup; aku yang tersaruk berantuk dengan hatimu.

Lalu kini jadi waktu yang tepat untuk mengasah rasa. Mengaduk-aduk yang buruk jangan sampai jadi ambruk. Lalu jangan lupa sertakan Tuhan dalam setiap rindu yang membukut kalbu. Sebab di antara kau dan aku perantaranya hanya Tuhan, bukan?

12:45 AM 220413~Teruntuk kamu, lelakiku di masa depan. Jangan pernah menoleh ke belakang. Lalu kamu yang menjatuhkan hatimu tepat di hatiku, teruskan cintamu memperjuangkan yang mungkin saja memang ditakdirkan menjadi milikmu.