Cinta, Apakah Jodoh?

Aku berebut udara dengan malam. Semakin tinggi bulan merambat, makin tebuka lebar bola mataku yang hitam pekat. Napasku hidup dalam hening. Ia tidak, sama sekali tidak suka bising. Lalu menularkannya dalam bentuk kecintaanku pada hampa. Keramaian yang paling pas untuk kusapa hanyalah seraut wajah angin kosong dalam senja. Tak ada yang lain. Aku hanya suka yang itu. Tidak dengan lampu pijar, tidak juga dengan lalu-lalang, apalagi huru-hara.
Kau tahu betul, aku sudah menjabar diri terlampau panjang dan sering membuatmu jadi terkantuk-kantuk dengan kalimat yang itu-itu saja. Kamu tetap bersetia meski sebenarnya sudah hapal dengan baris yang sama. Tapi sempat aku berpikir, bagaimana kalau seandainya saja suatu saat aku bosan bercerita? Dan lebih memilih diam. Apa mampu kau memahamiku seperti saat ini?

Siapa yang berani berujar bahwa penulis adalah ia yang hatinya selembut sutra? Tak ada kurasa. Aku salah satu yang akan bilang tidak kalau memang ada yang begitu mengira. Dan kau pastilah orang pertama yang mengiyakan kilahanku. Sebab kau tahu aku tak seromantis tulisan-tulisanku. Aku sama sekali bukan wanita layaknya rima-rima yang menggantung penuh cinta pada tiap-tiap mata yang membaca.

more quote www.fasihrdn.tumblr.com

Ketimbang berbicara menyoal hati yang jatuh pada cinta, aku lebih suka disuguhi harapan yang diperjuangkan habis-habisan. Bahkan meski kehilangan adalah bayarannya. Aneh memang, akulah paradoks. Akrab disapa penulis cinta. Tapi bahkan  sepotong hati pun aku tak yakin seutuhnya punya.

Tempo hari kudengar ada yang berdecak kebingungan. Mengapa kau kutunjuk jadi satu-satunya yang mengisi sela-sela jemari. Padahal pernah kau remuk jantungku sampai nyaris tak mau lagi berdenyut. Padahal yang lain mengantre ingin aku tersenyum balik padanya, pertanda ada pintu baru yang membuka. Membolehkan diri masuk untuk sekadar menyapa, siapa tahu bisa sampai membangun cinta.

Kurinci satu sampai dua kalimat saja. Aku bisa dengan gamblang membaca setiap garis wajah sejak lama. Sejak umur masih belasan. Sejak kegiatan pramuka masih jadi kudapan. Atau meniup suling paduan suara adalah kegiatan luar biasa. Dan kawan masih mudah kali kugandeng tangannya. Tapi kau adalah yang pertama direkam oleh pijak mata yang pertama. Detik yang pertama. Aku masih bisa mengingatinya.

Pernahkah mendengar istilah cinta pada pandangan pertama? Omong kosong. Cinta selalu bertumbuh. Kalau datang sekejap pastilah lesap dengan begitu cepat. Tapi setelah retina berkenalan dengan cahaya di matanya, aku percaya bahwa setiap mata punya ketertarikannya sendiri pada kelopak yang dianggap pasangannya.

Atau pernahkah setelah kau selesai membincangkan seseorang dengan penciptanya, tiba-tiba ia datang dalam nyata? Membawakan segelas cokelat buatan tangannya? Padahal kau hanya berkisik dengan telingamu sendiri, tapi ia yang kau sebut-sebut ternyata mendengarnya? Aku masih suka heran sendiri siapalah ia sebenarnya. Untuk apa masih berkeliaran dalam jarak yang begitu panjang di hadapanku. Dalam medan waktu yang bergeser satu-dua detik dari jam dinding di ruangan tempatku berjejak mondar-mandir menagak rindu.

Aku berebut udara dengan malam. Semakin tinggi bulan merambat, makin tebuka lebar bola mataku yang hitam pekat. Napasku hidup dalam hening. Ia tidak, sama sekali tidak suka bising. Lalu menularkannya dalam bentuk kecintaanku pada hampa. Keramaian yang paling pas untuk kusapa hanyalah seraut wajah angin kosong dalam senja. Tak ada yang lain. Aku hanya suka yang itu. Tidak dengan lampu pijar, tidak juga dengan lalu-lalang, apalagi huru-hara.

Kau tahu betul, lebih dari yang lainnya. Lebih dari siapa saja. Kau adalah yang pertama setelah tembok-tembok pembatas tangis dengan tawa yang sudi kubagikan cerita dari sendok tua. Dengan cinta atau tanpanya, kau tetap saja sudah menawan seluruh trauma lama. Kau kembalikan dengan jenjam sahaja. Meski kadang erak malah membuatmu menjadikan aku amuk, lalu kita sama-sama muak di tempat. Maka diamlah di sana dengan doa yang tak pernah tutup dalam bicara. Agar bisa kau bawa aku keluar dari udara yang selalu sesak untuk kuirup lebih lama….

Walau tak satupun yang bisa menjamin, bahkan kau, apalagi aku. Siapalah masa depan.



040915~Bukan jodoh, bila hanya cinta yang menjadi tumpuannya. Tak akan berjodoh, bila tak ada usaha dengan doa sebagai pelengkapnya.

Bila Cinta adalah Kata Hati, Biar Tuhan jadi Tuannya

Februari … Maret … April … Mei … Juni.
Bukankah waktu tak mengenal ampun? Ia bergerak tak peduli kau memintanya untuk tetap tinggal. Kalau kuhitung dengan jari telunjuk, ini adalah bulan ke lima kau dan aku menggantung jarak, meluapkan waktu. Baru sebentar ternyata. Apalagi jika diukur lebih detil beserta hari demi harinya. Tapi tidak hanya aku yang merasa sepertinya sudah tahunan lalu kita tak pernah menyapa wajah.
2013 … 2014 … 2015.
Bukankah waktu tak mau tahu? Ia berlari masa bodoh kau masih ingin diam. Sudah masuk dua kali tahun ajaran baru setelah aku memetik senyum dan tangis secara bebarengan. Mengenalmu, memperhatikanmu, menganalisis, memahamimu, mendalamimu sampai hapal kutaksir jumlah bulu-bulu halus yang bernapas di kulitmu. Tapi ternyata baru sebentar kuerat jemari agar benar-benar pas di genggammu. Seperti sudah kuhabiskan satu dekade kuderet lebih-kurangmu. Di mana celah untuk kuisi dan kapan kamu acap melengkapi.
——————————-
2013
Ingat?
Kamu pernah ungkap bahwa cinta tak perlu alasan sedang aku melengkapi persepsimu bahwa cinta memang datang tanpa alasan karena ia memilih dirinya jatuh melalui alam bawah sadar: nurani. Tetapi ia selalu melanjutkan diri untuk bangun melalui logika berpikir: akal sehat. Dan idealismeku tidak pernah kamu setujui. Cukup dari sana aku mengerti siapa kita. Bagaimana kita bisa bertemu dari arah yang berlawanan. Oposisi yang sering jadi asal muasal perdebatan justru jadi alat yang mengakurkan. Memasukkan angka di sela paragraf dan menyelipkan huruf dalam deret bilangan. Yang aku tahu, alam bawah sadar setiap manusia tak bersekat, ia menyatu satu dengan yang lain. Gelombangnya akan saling menemukan ketika berada pada frekuensi yang sama.
2014
Ingat?
Kita sempat dipisahkan “dinding” yang begitu dingin. Ia memperkenalkan diri sebagai khianat. Salamnya begitu bising di telinga. Masuk tanpa permisi. Menelusup sampai ke rongga dada. Ia mengubrak-abrik hampir ke seluruh bagian. Seperti pembunuh berdarah dingin. Terus menguliti hingga belulang. Mengacak-acak denyut jantung sampai alir nadi tak lagi berfungsi. Jejaknya tak pernah hilang. Merumah di batang tubuh. 
Saat ulur tangan berdatangan, aku berani sumpah tak akan ada yang mampu menarik lenganku untuk membujuknya bangkit. Kalaupun tak ada cara lain untuk pulih, satu-satunya yang akan menaruh obat merah di satu per satu lukaku hanyalah ia yang sedang berbahagia di tempat lain.
Lalu doa yang memenuhi langit menjadi purnama di sepanjang malam. Tangis dini hari jadi kekuatan cadangan sebelum akhirnya kamu pulang. Sesumbar membawa kabar dengan oleh-oleh berbingkis takdir. Doa jatuh kembali menjadi hujan yang membentuk setengah lingkar “mejikuhibiniu” yang membelah Jogja sebelum fajar pecah. Bukankah alam bawah sadar masih bekerja dengan posisi frekuensi yang tidak berubah? Benarkah sebenarnya cinta yang katamu tanpa alasan berbenah diri dalam sujud dengan kodrat Tuhan sebagai surat izinnya? Ataukah ilmu mantik yang kukombinasikan dengan intuisi adalah sebuah kesalahan besar? Sehingga sulit kali rasanya melupakan “dinding” itu?
Bahkan sampai Februari, Maret, April, Mei, mengantarkan kita ke bulan Juni….
2015
Bukan salahmu pada masa yang telah punah. Toh, pilihanku memaafkan ikhlas adalah pernyataan yang perlu dipertanggungjawabkan. Hatiku jelas tahu betul berbagai cara kau lakukan demi aku yang berbahagia. Kamu begitu sabar sampai ambyar pun sering kali membuatku ingin memaki-maki diri. Mengapa jadi sesulit ini? Padahal cinta begitu sederhana. Katamu, ia tanpa alasan. Tapi aku membuat logikanya jadi terlalu rumit. Merumuskan kejadian terlalu rinci. Membuat nurani jadi sulit sekali muncul ke permukaan. Karena sepersekian detik selalu hilang dilahap prinsip yang barangkali tidak tepat digunakan untuk perkara sesakral ini: cinta.
——————————
Tuhan
Beritahu aku, mana yang ia, mana yang pikir belaka. Sebab aku ingin mengikutinya: kata hati. Sebab Kau adalah ia bukan?


Salam,
Fasih Radiana
Sebab aku adalah si koleris, tentu saja butuh kamu yang plegmatis 🙂



Yogyakarta, 10 Juni 2015 – Bila hati adalah yang paling jujur, biarlah logika yang salah akan hancur….

Dariku yang Penuh Doa

Kali ini lupakan dulu menyoal rima, diksi, atau segala pelengkap sastra. Aku ingin bicara tanpa kalimat-kalimat mutiara. Biarkan aku menjabar kita layaknya puzzle yang sudah tergenapkan oleh keping terakhirnya.

source: www.fasihrdn.tumblr.com or tweet me @fasihdn
Boleh kumulai dari bagaimana aku rela menjatuhkan diri untuk bangkit bersamamu?
Kita berangkat dari dua sudut yang berlawanan, anggaplah kau dari sisi minus dan aku berjalan dari arah kanan: plus. Bukan tanpa sebab, aku meletakkanmu di sisi negatif karena kita bersua selepas kau goyah dan jelas saja akulah si positif, sebab aku tahu betul keahlianku mengendalikan diri. Kalau kubentangkan coretan panjang lalu kuberi angka nol tepat di tengahnya. Di situlah kita bertemu. Dalam himpunan titik yang membentuk sebuah garis. Ada benang merah yang tak akan bisa ditilik mata telanjang. Maka bisa dipastikan kau berjalan maju, sedang aku terseret mundur teratur. Masihkah mengenali bagian yang itu?
Kugambari kembali kalau begitu:

Tepat saat purnama selesai merayap di ujung gagang langit, kau masih sembilu sebab meski banyak hawa mencintaimu, kau tak bisa menunjuk salah satu. Di situ matamu beradu dengan sorot tegas milikku. Gamblang angin mencecarmu dengan luka yang sarat menyimpan harap sekaligus kekecewaan pada satu utas tali yang kau pikir hubungan sejati. Afiliasi abadi yang ternyata kerjasamanya tak cukup koheren. Bersamaan dengan itu, cahaya bulan yang jatuh tepat di retinaku angkuh menggeleng, mengasihanimu diam-diam. Wanita yang sedang ajek pada pendiriannya itu tak mungkin tertarik pada pria di hadapannya. Konsisten dengan hidup yang alirnya tak beriak. Senyumnya jelangak menertawai dalam hati, “hari begini, masih juga patah hati.”
Boleh kulanjutkan ke mana perginya kita setelah petak itu?
Kuakui dayamu begitu kuat, pembawaanmu begitu tenang. Barangkali, hanya aku yang mampu mengupas kulitmu sampai ke bagian terdalam. Ada kesedihan apa membekap tulangmu, lalu kau memaksanya untuk tetap bisa terayun dengan gagah perkasa. Bukankah begitu, Tuan?
Biar kutuliskan lagi dengan lebih teliti:

Muatan negatifmu menemukan energi baru, aku tak bisa mencegah eksitasinya memenuhi ruang tubuhku. Mendesak ingin bervalensi. Kalau elektron-elektronmu bertransisi untuk menyetimbangkan yang kurang. Bukankah semestinya milikku yang alih tempat? Bukankah kamu yang kekurangan? Ah, bagaimana bisa teorema beralih jadi aksioma ketika sudah ditawar-tawar oleh cinta. Kuperingatkan, bagiku tak ada pembenaran tanpa pembuktian.

Kalau sempat terbesit dalam benakku, kau adalah lelaki yang tak lebih tangguh dari paganku. Semestinya kuingati lekat-lekat bahwa aku tak lebih teliti darimu yang seorang adam. Partner is partner. Tak berlaku kasta di antara kau dan aku. Sudah lebur jadi kita. Tak lagi menyoal siapa wanita dan pria. Seperti tubuh yang kehilangan rusuknya. Kau sadarkan diri menemui belahan yang lainnya. Aku, katamu seperti berkaca di air sebening sungai nil. Persamaan-persamaan yang tak habis dibagi dua. Dan perbedaan-perbedaan yang dengan cepat saling jadi pelengkap.
Boleh kuberhentikan sekarang juga?
Lauh mahfuzh tak pernah ingkar janji. Kitab yang di dalamnya memangku rahasia bumi dan langit. Bagaimana mungkin ia yang disebut sebanyak 13 kali dalam kitab pedoman manusia bisa salah mencatat skenario?
Kuharap kembali dengan doa tengadah bertubi-tubi:

Apakah intuisiku hanyalah rekaan jin semata? Menggodaku agar bermain-main dengan suratan. Bagaimana mungkin aku justru menggagas hal yang bukan berfokus pada derma kalau memang demi wewangian seistimewa firdaus? Atau ini hanya serupa mata manusia yang melihat bintang jatuh lalu menyembah-nyembah agar makbul doanya. Padahal cahaya itu hanyalah semburan api terang yang dilempar penjaga lauh mahfuzh sebab kerahasiaan kodrat nyaris dicuri untuk digadai dengan perketuan setan.
Sayangnya, sudah kita lemparkan dadu bebarengan. Selesaikan sampai akhir perjalanan. Dengan bantuan pemilik takdir, kau dan aku pastilah selamat sampai tujuan. Kalau memang ia adalah singgasana sekekal surga.
Bukan lagi (hanya) Jogja, kita merebas dunia-baka.
19 Mei 2015.


Salam,
Dariku yang penuh doa.

Surat Rahasia untuk Tuhan


Yogyakarta, 250415: 01.59
Allah. Semusim sudah semua yang dunia lemparkan di mukaku meluka. Semestinya sudah sembuh. Malah semakin parah. Seharusnya sudah tidak mengancam air mata meuncurkan diri. Malah menderas tiap kali, tanpa ingin kuingati. Wanita itu ternyata masih bersemayam membenamkan pundakku. Menenggelamkan kepalaku.

Tak bisa kusebutkan identitasnya dengan benar. Aku belum mampu mengungkap abjad-abjad lengkap yang menyusun namanya. Nciz. Entah, inspirasi dari mana, tapi begitulah pedengannya. Jangan bertanya siapa ia, bukannya aku tak bisa membeberkan secara rinci. Tapi tidak mau. Belum, barangkali. Kalau setiap pertanyaan selalu satu paket dengan jawaban, maka yang sanggup mempertemukan keduanya adalah waktu. Simpan dulu di kantongmu, seperti jabatan: semua ada tahapannya.

Nanti akan jatuh tempo giliranku mengagak-agihkan seluruhnya, dari ujung rambut sampai tepi kuku jemari kakinya. Bermula dari mana papilaku bisa mencecapi garis hidup wanita yang menyebut dirinya dengan, “Nyonya Besar”. Atau aku saja yang berlebihan menyebutkan titelnya.

Kalau kamu membaca tulisan—yang sudah mirip dengan manuskrip—sejarah ini, yang kau jejal di matamu barulah prolog. Mungkin jika huruf punya 26 abjad, ini baru satu tipe huruf “A”, padahal ada banyak jenis huruf “a”. Sedetil itu. Saking tekunnya aku meneliti renyutnya. Kalau yang lain berlomba-lomba dengan riset karya ilmiah, aku memilih menyelisik watak dari setiap gerigi ujung gigi yang tertata rapi. Saking seringnya, sampai-sampai aku hafal betul masing-masing batang tubuh punya kepiawaian sejak lahir untuk menggelapkan sisi yang mana dan menerangkan bagian yang apa. Secara kasatmata sama persis seperti guna shadding dan tintin—yang tak pernah absen di-request oleh wanita mutakhir abad ke-21 agar terlihat memiliki gagang hidung yang lebih menonjol seperti bule, atau tulang pipi yang lebih tinggi. Memainkan peran gelap dan terang demi tercapainya suatu keseimbangan dalam proporsi wajah yang bagi mereka banyak cacat di sana sini. Padahal justru jadi simbol kurang percaya diri. Mungkin, kurang percaya penciptanya, aku bilang mungkin. Tak terkecuali parasmu, lekukmu, lakumu, bahkan isi kepalamu yang kadang mondar-mandir atau beku, bahkan seringkali berjalan ke belakang, lama-lama hengkang.

www.fasihrdn.tumblr.com


Allah. Engkau Maha Tahu terdiri dari potongan apa saja yang sampai saat ini menguasai hati. Bukan hati yang  terletak dalam rongga perut sebelah kanan atau lebih tepatnya di bawah diafragma. Tapi serepih hati di dalam dada. Dalam ejaan arab ia bernama qalbu (khalbu), tapi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ia disebut dengan kalbu: pangkal perasaan batin; hati yang suci. Suci sendiri artinya adalah bersih; bebas dari cela; bebas dari noda; bebas dari dosa. Tapi Allah, aku bukan para nabi yang maksum. Bisa kiranya Kau toleransi kepayahanku dalam hal mengendalikan? Ah, Kau pastilah tenggang rasa atas kecengenganku dalam mewaspadainya: ia yang membawaku jatuh dalam kebobrokan iman. Plongah-plongoh menanggapi qada dan qadar.

Kalau kuhitung hanya dengan deret nomor bagian akhir menurut perhitungan matahari dalam penanggalan Anno Domini atau yang lazim disebut kalender Masehi, sudah bergeser dua digit. Atau boleh jadi, memang baru dua angka. Sederhananya, sejak tahun 2013. Dua tahun, kuulang, jika hanya kutaksir dari dua bilangan akhir. Tanpa bulan, tanpa tanggal. Iya, dua tahun, perlu berapa puluh kali kujabar dengan sabar. Kalau menyenangkan pastilah kuujar lebar-lebar dengan penegasan kata “baru”, bukannya “sudah”. Bisalah kau tebak-tebak sendiri, apa kiranya yang kurasakan selama dua tahun belakangan ini. Hidup yang menyedihkan. Seperti tanpa Tuhan. Sepi, senyap, seperti raga tanpa roh.

Aku sudah keluar orbit. Tanpa sadar. Atau pura-pura tidak sadar. Tidak lagi berotasi di jalur lintasan yang dibuat Tuhan sebagai acuan. Aku memecuti kudaku tanpa rute. Buta arah. Menyalahi Peraturan Baris-Berbaris, banjarku mencong sana-sini. Menjengul begitu saja dari shaf solat berjamaah di masjid sebelum salam terakhir. Bagaimana mungkin bisa terjadi revolusi mundur?

Bukankah jauh lebih terhormat menjadi mantan pembunuh berdarah dingin ketimbang mantan kyai besar yang diagung-agungkan? Tapi lihat baik-baik, jangan seperti aku. Lahir dengan kulit kuning langsat, lalu tumbuh dengan wajah kusam, nyaris pucat pasi. Mau berfoto dengan ekspresi apapun juga tetap tampak buruk rupa dalam lensa, lensa mata maupun kamera.

Kalau harus kurunut dengan cermat, tak kan habis kaupahami hanya dalam waktu satu-dua pekan, triwulan, caturwulan … bahkan sampai pancaroba membuat resistensimu melemahkan tubuh, mengeluarkan cairan lengket berwarna hijau—ingus—sekaligus meriang sambil batuk-batuk nyaris kanker paru-paru pun tetap saja tak akan katam. Bagaimana mungkin? Kujejaki bumi sejak 20 tahun silam dan mau kauselami hanya dalam semalam. Yang benar saja. Mungkin aku butuh kertas berlembar-lembar dan kau mesti berbetah-betah mengkhidmatinya. Atau aku perlu membuat novel sekuel seperti milik Dewi Lestari “Supernova” agar sampai diangkat ke layar lebar menandingi film fenomenal “Harry Potter”—seri satu sampai tujuh—mahakarya J.K. Rowling.

Allah. Maafkan hamba yang sudah berceletuk ngalor-ngidul tanpa alur sampai subuh membangunkan dengkur. Allah, aku sakit parah. Parahnya lagi aku justru ingin ada virus yang menyerang serebrum sampai masuk menggerogoti memoar yang semakin hari semakin tak pantas untuk diingati. Biar amnesia sekalian. Dan aku bebas dari kenangan. Kenangan inferior yang mutunya benar-benar rendahan. Persembahan dari nyonya besar untuk perjamuan (tiap) makan malam. 

Pantas saja aku selalu kekenyangan bahkan tanpa karbohidrat sehat semacam umbi-umbian.

Allah. Tubuh yang menyatu dengan tanah dan dahi beserta tujuh anggota lain yang menyentuh bumi jadi saksi. Bahwa aku memang nyata-nyata Kausayangi. Dan bertatap kata denganmu di satu pertiga menuju fajar adalah kesempatan yang tak pernah ingin kulewatkan. Aku tak perlu membeli perangko agar suratku sampai tepat waktu. Sebab surat ini akan Kaujawab lebih dulu dari surat lain yang diantar lewat kantor pos. Kumohon, percepat tenggatnya untuk melupakan nama yang justru lebih fasih kueja ketimbang namaku sendiri.

Hambamu yang penuh dosa,
Fasih Radiana

Biar Bukti yang Membangun Cinta

Lelehan air mata yang suka tiba-tiba menderas begitu saja adalah bukti bahwa luka itu masih juga menertawakan kepayahanku menerima takdir Tuhan. Mengikhlaskan satu masa yang direnggut tepian jingga, menggenangkan sisa hujan berbayang petang. Dan kesulitanku dalam memaafkan diri atas ingata-ingatan tentang satu ruang yang kauabaikan, yang kaudustai, yang sudah bisa disebut khianat oleh alam. Perlukah aku menceritakan ulang episode yang itu?
Baru saja, aku membaca tulisan panjang berjudul, “Aku Memilih Pergi karena Aku Mencintaimu.” Dan berhasil membuat bulu-kudukku merinding sembari gemeretak gigiku makin kacau. Pernah aku menyuruhmu pergi untuk kembali pada wanita yang sudah lama bermain-main takdir di hatimu. Jauh sebelum aku menemukan bola matamu kosong di remang purnama malam itu. (170913)
Aku sudah melipat-lipat kenangan dengan begitu rapi, tapi memoar memaksa diri untuk bermunculan keluar dari sarang, membobol besi-besi yang susah payah kupasang di setiap celah dengan parang. Sudah itu lalu aku bisa apa?
www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn

Itulah jawaban mengapa kala itu bukan aku yang meninggalkanmu hanya sebab aku merasa kau cabik-cabik harga dirinya dengan menyimpan dua nama di hatimu. Aku mempersilakan derapmu bepergian untuk menuju yang sehati-sejati, berlarian mencari sampai lelah sendiri. “Aku mencintaimu” hanyalah pernyataan simbol kepedulian tak terbatas. Patutkah aku menahanmu di sela-sela jemariku yang ternyata bagimu tak begitu pas untuk ukuran tanganmu. 
Saat itulah waktu yang tepat untuk mengajakmu memainkan puzzle. Kalau kamu terlalu lamban memutuskan maka aku berhak memberimu jangka waktu kan? Karena membiarkanmu memilih sendiri siapa yang akan kamu tuju di saat kamu semestinya menjaga kesucian janji justru seperti menggantung diri. Aku seperti sedang bunuh diri. Tapi aku sudi menanti keputusan yang sudah kutahui sahutannya sejak dini. Karena aku telah memastikan segalanya berputar sesuai poros. Akan ada penjelasan atas apa yang tidak bisa kuselesaikan sendiri. Ada Tuhan yang menggerakkan tangan, kaki, juga hati. Ada doa yang begitu hebat menjalar sampai ke nadi. Selanjutnya biar suratan yang membawamu kembali kemari, kalau memang akulah yang paling tepat melengkapi, kalau kitalah yang ditunjuk Tuhan saling menggenapi.
Ya, setidaknya (dulu) aku tahu persis seberapa seluruhku merelakanmu meski dengan layuh-luyu.
Sudah ingat bagian yang itu? Sudah coba kau ubrak-abrik dengan jeli satu adegan yang singkat tetapi begitu lama untuk digentaskan. Bagimana kamu diam-diam menggandeng yang lain, betapa lihainya bermain petak-umpet denganku. Dan tidak hanya satu-dua kali kau meminta maafku, berkali-kali pula kumaafkan. Tapi bahkan maaf tak akan pernah sanggup mendaur ulang perasaan. Sekalipun maaf dibicarakan dengan air mata, tak pernah bisa mengubah satu babak yang telanjur usang.
Tidak, Sayang. Aku tidak sedang menukasmu dengan tuduhan lawas menyoal itu-itu saja. Masih juga perkara serupa. Masih sebab angka dua. Bukankah suatu kesalahan besar selama ini aku berusaha mensutradarai bilangan Tuhan? Membaginya dengan nomor ganjil. Memangkas habis semua upayamu mengganjar kesalahan di masa silam. Bukankah semestinya aku berhenti saja di putaran ini? Tapi ikhlas belum juga menemuiku seperti janjinya. Atau aku saja yang tidak menyadari ternyata ia sudah sering mencoba menyapaku tempo hari, tetapi aku terus menyangkalnya. Aku menepis, melempar, mendorongnya hingga jatuh berserak.
www.fasihrdn.tumblr.com
Tolong, jangan membacanya mentah-mentah. Ini bukan somasi untuk bersegera meminang, meski memang semestinya menyegerakan menghalalkan yang dibilang itu cinta. Tapi yang lebih mendalam dari semua itu adalah kesiapan. Coba uraikan per kata, terselip apa di balik biji di setiap kata. Sudahkah cawis menghalau curiga. Sudahkah katam saling pahami sampai ke tapak hati. Sudahkah tanggap menyeka air mata, atau sudahkah benar-benar satu-satunya di setiap detak detik bahkan di tempat yang paling redam diam dan tersembunyi. Sudah aku sajakah? Sudah kita sajakah?
Jingga tak pernah muncul lagi setelah Jogja kehilangan muara langit. Setelah air mata satu tahun yang lalu tak juga kembali pada sangkarnya. Senyum membeku di sudut bibir dan aku seperti memainkan peran ganda. Mencintaimu dengan luka yang mengendap senyap. Tak juga lenyap. Tak pernah bisa enyah. Justru semakin menganga, semakin meradangi gelap-terang jatuh menampar-nampar muka.
Betapa kerasnya aku mencoba melupa, tapi bulir-bulir keringat menolaknya. Memuntahkan seluruh isi kepala. Bisa kau bayangkan ia membusuk di setiap sekat tulangku. Pula kurasakan nyaringnya telingamu pada gaung jejas yang menggema. Kita sama-sama sedang butuh perekat yang lebih erat dari sebuah genggam. Tuhan.




250215~Apa tak bisa kita mulai saja kembali dari awal? Biar kubukakan lewat pintu yang lain. Biar kembali pada purnama yang baru. Seolah-olah tak pernah ada kita sedari dulu.

Hari Ke-22: Celengan Rindu

Ada waktu untuk dipersiapkan merindukanmu. Lalu jatuh tempo pada saat yang tidak kuketahui. Biar selama ini kautabung amarah dan kekecewaan pada setiap yang tak pernah bisa diucapkan, lalu kembali datang sehabis tenang berhasil kautaklukan. Seolah-olah semua baik-baik saja, padahal kamu hanya menabungnya di suatu tempat yang bahkan kamu lupa jalan kembali ke sana. Dan perlahan kamu melupakannya begitu saja. Tapi tidak lagi bisa kali ini. Kamu sudah bersama dengan keterbukaan yang mesti dipeluk erat-erat. Bersamaku, tak ada lagi tabungan yang hilang lalu suatu saat dibuka untuk dihitung kembali. Tidak ada.
Biar tuntas saat ini juga. Biar lunas sekarang juga. Aku mau kita tak menyimpan celengan usang untuk suatu yang bisa dijelaskan secepatnya. Boleh saja kamu bilang, begitulah caramu merenungkan diri. Introvert atau apalah sebutan untuk orang-orang yang tertutup. Tapi tidak. Kamu bukan orang yang semacam itu. Kamu hanya lupa siapa dirimu, seperti apa wujud aslinya, sampai kamu benar-benar lupa bahwa kamu memang sedang melupakan dirimu. Kamu hanya tidak sadar telah dibiasakan diam. Iya, dibiasakan untuk memendam demi tidak terjadinya pertikaian.
Padahal kamu ingin bicara, padahal kamu doyan bercerita, padahal kamu suka sekali tertawa. Jadilah yang seperti itu. Ikuti kata hatimu. Benarkah seperti ini yang kamu inginkan? Benarkah seperti itulah cara yang membuatmu nyaman? Bukankah berkali-kali kujabar bahwa denganku kamu bebas menjadi apapun, menjadi siapapun yang kau mau? Tak perlu kauumbar seperti apa tangis kecilmu, atau lelehan air mata yang tiba-tiba berjatuhan. Tak perlu kaukatakan pada yang lain dengan apa kamu membahasakan kesedihan. Tak juga perlu kautunjukkan sederet tawa yang tak juga bisa berhenti hanya karena lelucon garing. Menabunglah, Sayang. Tapi untuk sesuatu yang bisa membuatmu merasa menjadi manusia yang dimanusiakan. Yang bisa saja salah jalan. Yang bisa juga buta arah. Yang terkadang cemburu berlebihan, yang sering kali ingin diperhatikan.

Tahukah bahwa semuamu terlalu gamblang di ujung mataku. Tanpa indra peraba, aku bisa melihatnya dengan begitu jelas. Aku bisa menghitung jumlah setiap dengusanmu per detik, atau berapa kali kamu mengedipkan mata, tersenyum lalu tiba-tiba garis-garis di wajahmu berubah pucat pasi. Bahkan terlalu detail untuk seorang pemula yang baru hitungan satu-dua tahun menjamahi napasmu. Berbahagiakah selama ini? Sudahkah puas berteriak? Sudah legakah menangis? Sudahkah? Atau memang belum pernah kau jajal satu per satu rasanya.
Biarlah sesiapa bicara menyoal kita yang lebih kerap beradu ketimbang merindu. Apalah artinya bila kamu bahkan tak bisa tahu yang mana yang benar-benar dari hatimu, atau hanya bisik-bisik kecil logikamu. Aku rela mendengar amarahmu setiap hari hanya demi membentuk celengan yang baru. Mengeluarkan kita dari bayang-bayang perpisahan yang tertunda karena rajinnya setiap orang menabung rasa sakit. Yang sewaktu-waktu bisa pecah di satu titik temu yang melelahkan.
Sudah mengertikah mengapa aku masih juga giat memaksamu tergopoh menaiki posisi tertinggi? Sudah pahamkah mengapa aku tak juga berhenti membuatmu mencapai klimaks? Aku hanya ingin kamu marah. Aku hanya ingin kamu bicara. Aku hanya perlu kamu jujur bahwa beginilah adanya. Bahwa mungkin setelah Ibumu, akulah yang tidak akan pernah bisa kau bohongi begitu saja.
Bagaimana bisa kamu membahagiakan aku, sedang kamu saja bukan orang yang mudah memilih untuk berbahagia? Apa sebenarnya yang kamu tahu tentang kebahagiaan? Apa itu definisi bahagia bagimu? Jangan membual, aku tahu bahkan kamu bingung menjawab bahagia seperti apa yang kamu mau. Atau jangan-jangan, bahagia yang kamu tahu artinya itu hanyalah kebahagiaan bagi orang lain. Bukan kebahagiaan versi kalimatmu? Rasakan, Sayang. Barangkali, ada yang hilang bertahun-tahun ini….
www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn
Kini akan ada jarak yang begitu panjang memisahkan bola mata. Aku tak lagi bisa menjaga, seperti kamu yang tak lagi dapati aku mengetuk pintu. Tapi masih ada doa di setiap jengkal kepala yang merunduk pada tanah. Maka jarak yang tersisa di antara kita hanyalah Tuhan. Bukankah begitu dekat?
Seperti doa yang sampai pada langit lalu Tuhan menyampaikan kabar lewat udara. Kamu pasti tahu betul bisikku lebih merdu ketika Tuhan menggenapkan parau pita suara. Yang tak akan bisa disentuh angin sekalipun kuikuti arah lajunya. Maka bukankah satu-satunya cara menabung rindu setelah ini adalah dengan menyelaraskan frekuensi di antara kita? Peringatkan aku menyoal cinta yang setia, maka kutunjukkan padamu seperti apa kekuatan doa.
220215~ Coba pejamkan kelopak mata, biar giliran mata lain yang membuka dirinya: mata batin. Rasakan aku di sana sedalam udara yang tersesap, sepanjang embus yang terlepas.

Satu Tahun yang Lalu, Boleh Kutulis (lagi) Surat Untukmu?

Boleh kutulis surat (lagi) untukmu? Kiranya kau masih bisa mengingat ada apa satu tahun yang lalu. Tepat di tanggal dan bulan yang sama, aku menulis surat yang syarat akan luka sebab cinta. Padamu, masa lalu, kukirimkan kembali hari ini.

Meski masih kutunggui Tuhan mengabul doaku untuk bisa berjabat denganmu, saat ini aku tak benar-benar ingin menikam masa lalu kita. Iya, kita. Sebab meski kau bersikukuh tak pernah bersangkutan denganku, nyatanya kita tetap terhubung pada sehelai benang merah. Lalu Tuhan merekam segala kejadian. Kalau bisa kuminta satu saja adegan dari kita di beda ruang, maka kamu tak kan bisa mengelaknya. Kita adalah satu bagian dari ruang yang terpisah kala itu, saat lukaku terlalu pantas untuk dijadikan bahan tertawaan.
www.fasihrdn.tumblr.com | path: fasihradiana
“…maka jika ia bukan pemberani, jadilah kamu satria,” kataku tempo hari. Tapi nyatanya sulit sekali rasanya melupa. Berkali-kali kucoba untuk memaafkan tapi aku tak kunjung juga berhasil menjadi “Ksatria”.
Ini bukan menyoal siapa yang salah dan benar. Ini perkara damai yang masih juga mengambang di batas angan. Sedang kamu tetap juga tak mau menyelesaikannya dengan bicara. Padahal aku sudah bersiap lebih terluka dengan kenyataan dari mulutmu dengannya. Tapi sudahlah, Mbak.
Hanya aku saja yang belum mampu berbaik hati memaafkan diri. Dengan kerumitan yang memaksa kukhidmati perlahan, pelan-pelan. Terakhir kali, biarkan aku menuliskan syair yang pas untuk keangkuhanmu atas takdir dan kepayahanku menerimanya:
Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Bawalah rahasiamu yang tak ingin kutahui.
—Pergilah Kau, Sherina.

Biar aku belajar mengeja ikhlas dengan benar. Biar aku paham bahwa tak segala mesti kutahu. Ada hal-hal yang Tuhan tak izinkan seseorang untuk tahu, bukan sebab Tuhan merahasiakan kebenaran, tetapi justru karena Tuhan sengaja menahan kesakitan yang lebih dalam.
Biar Februari kali ini jadi penghabisan. Sampai ikhlas menemui sendiri tuannya. Akan kujaga dia—yang Tuhan titipkan padaku—yang pernah jadi seseorang terbaik mengisi kehidupanmu, melengkapi hatimu. Begitu?
Untuk segala yang masih membayang, barangkali aku lupa bahwa satu cara paling mujarab atas penyelesaian suatu perkara memang hanya mengembalikan segala pada pemilik tunggalnya: Allah. Dan aku menyerahkannya. Segala yang masih jadi tanda tanya. Segala yang masih abu-abu. Segalamu yang bisu. Kuucapkan terima kasih atas pertemuan tanpa tatap mata.
Salam,
Fasih Radiana

Tak Ada Namamu dalam Tulisanku

Kupikir mudah melesapkan dusta dalam luka. Kurasa sebenarnya mudah saja segala kembali seperti semula, seperti sedia kala: waktu hujan bukan disebut-sebut sebagai bisik kenangan atau pelangi yang dianggap sebagai bias ingatan. Hanya terkadang aku menoleh, lalu mengangguk menyanggupi memoar menari-nari di perutku. Mendesak sampai ginjal berhenti melumat kunyahanku. Aku terbawa arus alir nadi, darah tak lagi bebas membersihkan diri. Aku kalap. Hilang sudah detak dalam jantung. Berubah jadi gemetar. Menubruk sampai sumsumku ambruk, pecah satu per satu segala tenang dalam dadaku. Aku hilang. Tak peduli kau sedang apa. Tak mau peduli kau sedang apa. Tak benar-benar peduli kita ini siapa.
Kupikir bukan hal rumit memaafkan ketidaktepatan jarum waktu mempertemukan kau dan aku. Kurasa sebenarnya tidak sulit menghitung kembali dari titik nol, bahkan bukan tidak mungkin kita menitinya melalui sepanjang garis minus.
Toh, kau dan aku telah lebur menjadi kita. Toh, semua luka sudah kita habisi bersama-sama. Dengan air mata lalu tawa yang kembali lagi menjadi cinta.

Perasaan itu begitu sederhana. Saking sederhananya, kau tak akan pernah sanggup menjabar dengan bukti yang berjejer-jejer sekalipun. Perasaan itu begitu sederhana. Sampai aku tak akan pernah mampu mengurainya, bahkan dengan abjad yang kuciptakan sendiri. 
Sesederhana ketidakingintahuanku pada alasan sebab mengapa aku seperti ruji yang terpasang melingkar begitu rapi pada roda yang terkadang membawanya terlalu cepat melaju, atau terlalu lamban bergerak, atau justru diam begitu saja di satu petak. Bahkan tak bisa ditolak oleh siapapun, perkara apa cinta tak pernah punah dibahasakan dengan ‘cinta’, mengapa tak bosan bicara menyoal cinta padahal jelas-jelas tahu tak ada satu orang pun yang akan mampu menemukan di mana batasan cinta, dengan cara apa sebenarnya hati menyusun perasaannya hingga ia bisa disebut dengan cinta.
Sesederhana sepanjang larik dalam lirikku, tak akan kau temui namamu di dalam barisnya, pada setiap kalimatnya. Tak akan kaubaca namamu dari ujung kata sampai titik menghabisi setiap baidnya. Tapi kau tahu, kau tahu semua ini teruntuk siapa.

Bila Kau Bukan Takdirku

Dan sejauh ini aku bilang aku mencintaimu. Lalu dengan itu kau mengaku mencintai seluruhku. Sejatikah?
Ada ruang dalam rongga dadaku, ia bilang kau tidak.
Ada lubang dalam embus napasku, ia bilang kau tidak.
Ada belulang dalam tubuhku, ia pun bilang kau tidak.

Dan sejauh ini kuucap rindu berkali-kali, lalu dengan itu kau membubuh rindu ke segala pintu. Abadikah?

Masih ada ragu, kataku.
Masih juga menyimpan pilu, batinku.
Sayang.
Aku tak pernah suka mendengar sebutan itu membumbung sampai ke gendang telingaku. Skeptis bahwa itu salah satu bukti seseorang benar-benar merasakannya mengaliri rusuknya.
Tapi denganmu aku bersetia menunggu “sayang”-mu mencumbui pendengaranku.
I love you.
Aku jejap dengan kalimat yang katanya romantis. Aku geli dengan bualan yang terlalu dini untuk bisa dipercaya keberadaannya di dalam hati.
Tapi bersamamu aku selalu merindu “I love you“-mu menjejali gemeretak dalam gigilku.
Dan sejauh ini aku hanya ingin menapaki langkahmu sampai benar-benar berhenti di satu petak yang kusebut takdir. Meski jauh sebelum hari menjadi terlalu dingin, pertemuanku denganmu sudah kunikmati sebagai bagian dari takdir.
Ada bagian di semuaku meyakini seutuhmu. 
Di waktu bersamaan, aku was-was kalau saja ternyata segala milikku tak juga pas menggenapimu.
Sayang, dengarkan aku. Bila saja jodoh bukan di genggamku menyela jemarimu. Bila saja aku bukanlah akhiran dari bait puisimu, atau ternyata kita tak pernah dituliskan untuk menua di atap yang satu … bibirku akan semakin lihai mendoamu, lalu akan ada tangan yang semakin lama bertengadah sampai fajar nyaris pecah. Biar patah takdir-takdir yang barangkali salah.

Sebab setiap kali kauakhiri dialogku, kulumati kalimat-kalimat rindu sampai habis waktu menunjukkan pukul tujuh. Setiap kali kuakhiri ceritamu, kaukunyah kata demi kata cinta sampai habis ruang subuh.

041114~Kubuang jauh-jauh larik di awal tulisanku, bantu aku menghapusnya biar tak ada celah bagi yang lain memasuki kau dan aku. I Love you.



Salam, 
Fasih Radiana

September – Non Fiksi

September bukan jadi waktu pilihanku untuk menemuimu. Ingatkah bagian itu?
Yang saat itu aku merasa begitu percaya diri tak mungkin jatuh cinta lagi. Apalagi dengan pria di hadapanku. 17 September 2013. Tepat hari Selasa pukul delapan malam aku menjejak dalam keraguan di tengah remang pada keramaian salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Kuterjemahkan air mancur di halaman Gedung Rektorat sebagai titik hatiku tanpa sadar luruh perlahan. Aku masih bisa merasakan purnama pertengahan bulan jadi saksi bisu atas jatuh temponya keangkuhanku.
“Halo? Kamu di mana? Sini dong, aku di depan air mancur, banyak orang nih aku nggak lihat kamu….” Sembari memarkir motor, aku menelepon salah satu teman yang katanya sudah berada di samping air mancur.
Namanya Elis. Satu kelas denganku. Sebenarnya aku enggan datang kemari, tapi gosip yang beredar, jika tidak mengikuti program School Development Program (SDP) maka sertifikat OSPEK tidak dikeluarkan. Apalah daya mahasiswa baru, dibohongi juga tak tahu. Dan derap langkahku berhenti pada satu titik. Cukup kaget karena ternyata yang hadir begitu sedikit.

“Nama saya Fasih Radiana, program studi ….” Baru saja duduk, sudah tiba giliranku memperkenalkan diri. Dengan percaya diri, aku banyak bicara soal diriku. Karena pemandu SDP kelompokku memang menyuruh kami bercerita bahkan sampai ke persoalan pribadi. “Alhamdulillah, saya nggak punya pacar dan nggak mau pacaran lagi,” kataku dengan tegas.

“Ya sekarang … nanti kalau sudah jalan kuliah sekian bulan pacaran lagi,” pemandu yang belum kutahu namanya itu menanggapi pernyataanku.

Tapi kujawab sekali lagi dengan begitu jelas bahwa aku tidak lagi tertarik pada urusan anak muda semacam cinta. Lalu dibantah lagi oleh lelaki itu, dia pikir aku trauma karena patah hati. Aku terkikih dalam hati. Belum pernah cinta merusak hidupku. Belum pernah cinta jadi tuanku. Belum pernah cinta mengusik jiwaku sampai seperti remaja lainnya yang bisa gila hanya karena ditinggal kekasihnya. Aku memang sedang dalam kondisi yang begitu stabil, mungkin lebih dari itu.


“Oke, berarti sekarang giliran saya yang memperkenalkan diri. Ada yang sudah tahu nama saya?” Tanya lelaki berjaket coklat yang berada tepat beberapa jengkal dariku. Ada salah satu anggota kelompok yang ternyata sudah tahu namanya. “Sebelumnya saya minta maaf karena kemarin ada acara di Lombok, jadi baru bisa mendampingi hari ini. Emm… digantikan siapa kemarin? Tapi sudah diberitahu kalau hari ini kumpul kan?” Lelaki itu melanjutkan.

Aku jadi ingat, kalau mbak-mbak pemandu kemarin semakin membuatku malas mengikuti program yang sampai sekarang aku masih juga tidak paham apa manfaatnya. Galak, ketus, dan perempuan. Hahaha. “Oke, ada yang tahu jabatan saya di BEM itu apa? Karena biasanya sih, pada nggak tahu.” Lelaki yang aku lupa namanya itu bertanya lagi. Penting ya aku tahu jabatanmu apa? Batinku. “Wakil Ketua,” jawab lelaki di sudut lain. Oh, My God. Sempat-sempatnya tahu-menahu perkara itu.

“Sebelum saya memberitahu tugasnya apa, ada yang mau ditanyakan dulu?”
“Apa penyebab putus? Kapan putus?” Tanyaku asal-asalan, daripada tidak bertanya sama sekali.
“Salah paham karena sama-sama lelah,” jawab lelaki yang ternyata baru putus lima bulan yang lalu. Klise, batinku. Dasar, anak muda.

Aku pulang dengan membawa tugas baru. Entah, aku tak begitu paham dengan tugasnya. Tugas dari dosen sudah menumpuk, masih harus ditambah dengan apalah ini namanya.

—————————————————————————————–
September bukan jadi waktu pilihanku untuk dipertemukan denganmu. Ingatkah bagian itu?

Bulan Maret aku berangan-angan merambati gunung di negeriku. Lalu seseorang yang tak kukenali siapa menawarkan pendakian yang sudah lama kunantikan. Tuhan, adakah jawaban dari sebuah keinginan melalui cara semacam ini?

22:01 17 Sep – fasihradiana: Maaf mas, mau tanya. Itu yang ndaki gunung pada angkatan atas ya?
22:04 17 Sep – Mas BEM: campuran kok, anak TI 2012 juga ada.
22:05 17 Sep – Mas BEM: kamu boleh kok ajak temen. Gimana? Boleh sama ortu?
22:05 17 Sep – Mas BEM: duuuh, dp nya promosi blog nih….
22:06 17 Sep – fasihradiana: Boleh sih, boleh, tapi cari temen dulu. Malu kalau sendiri, hehe. Hahahaha, yaudah ganti deh.
22:06 17 Sep – Mas BEM: itu si Elis diajak … haduh sensi.
22:08 17 Sep – fasihradiana: Haha, ya nanti. Nggak sensi kok.
22:09 17 Sep – Mas BEM: Sendiri juga gapapa nambah relasi….
22:09 17 Sep – fasihradiana: Ntar kaya orang ilang….
22:10 17 Sep – Mas BEM: yee… belum apa-apa udah pesimis.

Mengapa juga lelaki itu menyelipkan informasi tambahan setelah memberitahu tugas SDP, mengapa mesti gunung? Aku selalu bilang suka dengan gunung, tapi belum pernah menjamahinya sama sekali. Payah. Beruntung ada Whatsapp yang jadi media bersahabat, untungnya aku termasuk mudah bersosialisasi di dunia maya. Iya, bukan dunia nyata. Jadi, Tuhan, bolehkah aku menjejaki puncak merbabu? Ah, aku tak yakin ayah dan ibu mengizinkan, apalagi pergi bersama orang-orang yang belum kukenal dengan baik. Tapi aku ingin. Tapi terlalu banyak kata tapi yang menghambat lajuku. Kalau Tuhan ridho, pasti akan segera kucumbuhi kau, Merbabu.

16:18 18 Sep – Mas BEM: udah ke JEC nya?
16:21 18 Sep – fasihradiana: Udah mau pulang, mau hujan.
16:24 18 Sep – Mas BEM: Ini juga saya baru mau pulang dari MUGA. Ati2….
16:27 18 Sep – fasihradiana: sama2, enak ya pulang.
16:41 18 Sep – Mas BEM: ye, pulang dari SMK, tapi ke kampus lagi…
16:42 18 Sep – fasihradiana: Ngapain?
16:49 18 Sep – Mas BEM: Rapat Teknovest
16:54 18 Sep – fasihradiana: Oooo. flashdisknya diambil kapan?
16:56 18 Sep – Mas BEM: ya kapan bisa ketemu?
16:57 18 Sep – fasihradiana: Ya kapan ya. Emang rapat di mana?
16:59 18 Sep – Mas BEM: di BEM
17:01 18 Sep – fasihradiana: O
17:02 18 Sep – Mas BEM: a o a o
17:07 18 Sep – fasihradiana: Zzzzz aku di kampus kok. Kalau mau ambil, ambil aja, kalau nggak sempet ya kapan2, haha. Flasdisk-nya kupakai dulu.
17:09 18 Sep – Mas BEM: di mana kamu dek
17:09 18 Sep – fasihradiana: KPLT
17:09 18 Sep – Mas BEM: ada apa?
17:11 18 Sep – fasihradiana: Bikin tugas
17:14 18 Sep – Mas BEM: sampai jam? ya nanti tak ke sana…
17:15 18 Sep – fasihradiana: Sampai jam 7 kayaknya
17:17 18 Sep – Mas BEM: Ok

Entah bagaimana bisa bertepatan dengan temanku yang baru saja meminta ditemani ke pameran komputer di Jogja Expo Center, tapi yang jelas beberapa detik setelahnya lelaki yang aku lupa wajahnya itu mengirim pesan di whatsapp, “Hari terakhir pameran, ada yang mau ke sana?” Dari kalimatnya, siapapun tahu itu pesan broadcast, bukan yang hanya ditujukan untukku. Tapi pada akhirnya, akulah yang membantu mahasiswa tingkat akhir yang sedang melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta itu, begitu kan?

18:30 18 Sep – Mas BEM: di sebelah mana?
18:34 18 Sep – Mas BEM: dek
18:34 18 Sep – fasihradiana: Di deket TV mas.

“Loh, kamu kok bisa kenal sama Mas itu?” Tanya Mbak Novi, kakak kelasku di sekolah. Yang kini jadi kakak tingkat satu fakultas, tetapi di jurusan yang berbeda.
“Pemandu SDP-ku, Mbak.” Jawabku singkat.
“Hati-hati, loh….” Perempuan berkacamata itu membuatku penasaran, what’s wrong? “Kenapa?” Aku ingin tahu.
“Mas itu lagi deket sama dua temen kelasku sekaligus. Tapi dua-duanya di PHP,” jelasnya.
“Oh, jadi dia Pemberi Harapan Palsu, to?” aku terkikih, “santai aja, Mbak. Cuma sebatas pemandu dan anak buah, nggak akan lebih. Nggak doyan, hahahaha,” lanjutku.

Jangan pikir aku awam menyoal kaum adam. Aku hapal betul tabiat berbagai macam jenis pria. Dan tak terbesit meski sedetik, untuk menengok barang sebentar siapa dia.

alamat TUMBLR ganti, www.fasihrdn.tumblr.com

Aku bukan mereka yang bisa kauambil begitu saja perasaannya. Hatiku tak selembut mereka untuk berpikir lebih keras ketimbang logika. Meski kamu tak bermaksud menjejaliku dengan berbagai macam modus anak muda, aku tetap mesti waspada. Jangan sampai pertahanan yang kususun begitu rapi selama ini hancur dengan mudah di tangan lelaki yang bisa menyakitiku kapan saja.

—————————————————————————-

17:04 20 Sep – Mas BEM: Assalamualaikum, bagaimana aktivitas hari ini?
17:09 20 Sep – fasihradiana: Waalaikumsalam. Alhamdulillah, capek.
17:25 20 Sep – Mas BEM: semangat buat yang mau makrab.
17:26 20 Sep – fasihradiana: wooo aku nggak ikut makrab
17:43 20 Sep – Mas BEM: loh, kenapa dek?

Kenapa? Karena ada acara penting yang harus kuhadiri hari itu juga. Aku tersenyum. Sudah paham mengapa bisa lelaki itu banyak menelan korban PHP. Oh, atau lebih bijaknya kusebut banyak wanita yang merasa diberi harapan palsu olehnya. Denganku yang baru tiga hari mengenal saja, sudah mulai intensif berkomunikasi meski hanya lewat media handphone. Apalagi yang sudah cukup lama mengenalnya. Untungnya aku lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) yang notabene muridnya adalah laki-laki. Sudah kenyang dengan hal-hal semacam ini.

Halo, para pria. Kuberi sedikit pemahaman menyoal hati wanita. Ia begitu rapuh dengan rayu. Ia akan jatuh karena waktu. Ia bisa luruh hanya sebab merasa nyaman dengan bicaramu. Iya, cukup dengan menaklukan pendengarannya, wanita bisa dengan mudah diluluhkan seluruhnya.

Halo, kaumku, para wanita yang begitu peka pada rasa. Kuberi sedikit penjelasan perkara watak pria. Jangan kira kebaikannya teruntukmu saja. Jangan pikir perhatiannya melibatkan rasa. Jangan salah meletakkan hati. Baik-baiklah menempatkan posisi atau kau akan merasa disakiti.

alamat TUMBLR ganti, www.fasihrdn.tumblr.com

18:27 22 Sep – fasihradiana: Mas, muncak enak pakai sepatu atau sendal gunung to?
19:13 22 Sep – Mas BEM: sendal gunung dek… tapi kalau km punyanya sepatu gunung dipake saja
19:19 22 Sep – fasihradiana: nggak punya dua-duanya
19:21 22 Sep – Mas BEM: ya pakai punya saya gapapa dek… pasti kebesaran.
19:23 22 Sep – fasihradiana: ya dikecilin
19:24 22 Sep – Mas BEM: sebentar, memang adek mau?
19:24 22 Sep – fasihradiana: heeee ya mana bisa dikecilin? Adekmu nambah satu to mas.
19:26 22 Sep – Mas BEM: bisa, kan ada talinya… em… nggak tahu Fasih… maaf
19:27 22 Sep – fasihradiana: hmmm, alas sandalnya kan gede to, Mas. Maaf apa ini?
19:28 22 Sep – Mas BEM: Kan talinya kuat… gapapa Fasih 🙂
19:28 22 Sep – fasihradiana: ya besok bawa, tak coba, haha.
19:29 22 Sep – Mas BEM: Ok, ya maaf kalau saya salah manggil dek ke kamu, Fasih….

Salah? Bagian mana yang salah? Bukankah aku memang lebih muda? Sangat wajar jika dipanggil “Dek”. Kecuali kuterjemahkan dalam arti yang berbeda. Dan aku merasa begitu beruntung, menjadi wanita yang lebih rasional ketimbang wanita pada umumnya. Aku tak begitu khawatir bila ada pria yang barangkali tak berniat mengganggu, tetapi ternyata tetap saja mengusik kalbu.
—————————————————————————–

September bukan jadi waktu pilihanku untuk menemukanmu, lalu ditemukan olehmu. Ingatkah bagian itu?

September 2013
September jadi saksi. Siapalah aku ini, tak berdaya jika Tuhan menginginkan aku mati di genggamnya dalam jemari. Seangkuh apa seorang wanita menutup diri, ia tetap akan membuka juga borgol tanpa kunci. September jadi pintu. Aku memasuki wilayahku sendiri. Terduduk setelah berlari dari risiko jatuh hati. Lalu September jadi ruang tunggu. Sanggupkah aku mengikhlaskan masamu yang lalu. Berkenalan kembali denganmu yang baru. September jadi era yang paling baik untuk merindu. Dan September kali ini adalah angka satu yang menggenapi 365 hariku, berlalu melecuti waktu untuk sampai pada haru.

Siapa yang tahu, masih ada aku di dekapmu. Masih ada kamu di ujung mataku. Jadi, kaulah awal dari segala. Kubilang, segala. Sebab luka dan cinta bermula darimu, September.

17 September 2014~Meski nyatanya tak segalanya beriringan dengan sempurna, tapi sampai saat ini masih bisa kau dan aku temui: Kita.