Dariku yang Penuh Doa

Kali ini lupakan dulu menyoal rima, diksi, atau segala pelengkap sastra. Aku ingin bicara tanpa kalimat-kalimat mutiara. Biarkan aku menjabar kita layaknya puzzle yang sudah tergenapkan oleh keping terakhirnya.

source: www.fasihrdn.tumblr.com or tweet me @fasihdn
Boleh kumulai dari bagaimana aku rela menjatuhkan diri untuk bangkit bersamamu?
Kita berangkat dari dua sudut yang berlawanan, anggaplah kau dari sisi minus dan aku berjalan dari arah kanan: plus. Bukan tanpa sebab, aku meletakkanmu di sisi negatif karena kita bersua selepas kau goyah dan jelas saja akulah si positif, sebab aku tahu betul keahlianku mengendalikan diri. Kalau kubentangkan coretan panjang lalu kuberi angka nol tepat di tengahnya. Di situlah kita bertemu. Dalam himpunan titik yang membentuk sebuah garis. Ada benang merah yang tak akan bisa ditilik mata telanjang. Maka bisa dipastikan kau berjalan maju, sedang aku terseret mundur teratur. Masihkah mengenali bagian yang itu?
Kugambari kembali kalau begitu:

Tepat saat purnama selesai merayap di ujung gagang langit, kau masih sembilu sebab meski banyak hawa mencintaimu, kau tak bisa menunjuk salah satu. Di situ matamu beradu dengan sorot tegas milikku. Gamblang angin mencecarmu dengan luka yang sarat menyimpan harap sekaligus kekecewaan pada satu utas tali yang kau pikir hubungan sejati. Afiliasi abadi yang ternyata kerjasamanya tak cukup koheren. Bersamaan dengan itu, cahaya bulan yang jatuh tepat di retinaku angkuh menggeleng, mengasihanimu diam-diam. Wanita yang sedang ajek pada pendiriannya itu tak mungkin tertarik pada pria di hadapannya. Konsisten dengan hidup yang alirnya tak beriak. Senyumnya jelangak menertawai dalam hati, “hari begini, masih juga patah hati.”
Boleh kulanjutkan ke mana perginya kita setelah petak itu?
Kuakui dayamu begitu kuat, pembawaanmu begitu tenang. Barangkali, hanya aku yang mampu mengupas kulitmu sampai ke bagian terdalam. Ada kesedihan apa membekap tulangmu, lalu kau memaksanya untuk tetap bisa terayun dengan gagah perkasa. Bukankah begitu, Tuan?
Biar kutuliskan lagi dengan lebih teliti:

Muatan negatifmu menemukan energi baru, aku tak bisa mencegah eksitasinya memenuhi ruang tubuhku. Mendesak ingin bervalensi. Kalau elektron-elektronmu bertransisi untuk menyetimbangkan yang kurang. Bukankah semestinya milikku yang alih tempat? Bukankah kamu yang kekurangan? Ah, bagaimana bisa teorema beralih jadi aksioma ketika sudah ditawar-tawar oleh cinta. Kuperingatkan, bagiku tak ada pembenaran tanpa pembuktian.

Kalau sempat terbesit dalam benakku, kau adalah lelaki yang tak lebih tangguh dari paganku. Semestinya kuingati lekat-lekat bahwa aku tak lebih teliti darimu yang seorang adam. Partner is partner. Tak berlaku kasta di antara kau dan aku. Sudah lebur jadi kita. Tak lagi menyoal siapa wanita dan pria. Seperti tubuh yang kehilangan rusuknya. Kau sadarkan diri menemui belahan yang lainnya. Aku, katamu seperti berkaca di air sebening sungai nil. Persamaan-persamaan yang tak habis dibagi dua. Dan perbedaan-perbedaan yang dengan cepat saling jadi pelengkap.
Boleh kuberhentikan sekarang juga?
Lauh mahfuzh tak pernah ingkar janji. Kitab yang di dalamnya memangku rahasia bumi dan langit. Bagaimana mungkin ia yang disebut sebanyak 13 kali dalam kitab pedoman manusia bisa salah mencatat skenario?
Kuharap kembali dengan doa tengadah bertubi-tubi:

Apakah intuisiku hanyalah rekaan jin semata? Menggodaku agar bermain-main dengan suratan. Bagaimana mungkin aku justru menggagas hal yang bukan berfokus pada derma kalau memang demi wewangian seistimewa firdaus? Atau ini hanya serupa mata manusia yang melihat bintang jatuh lalu menyembah-nyembah agar makbul doanya. Padahal cahaya itu hanyalah semburan api terang yang dilempar penjaga lauh mahfuzh sebab kerahasiaan kodrat nyaris dicuri untuk digadai dengan perketuan setan.
Sayangnya, sudah kita lemparkan dadu bebarengan. Selesaikan sampai akhir perjalanan. Dengan bantuan pemilik takdir, kau dan aku pastilah selamat sampai tujuan. Kalau memang ia adalah singgasana sekekal surga.
Bukan lagi (hanya) Jogja, kita merebas dunia-baka.
19 Mei 2015.


Salam,
Dariku yang penuh doa.

Surat Rahasia untuk Tuhan


Yogyakarta, 250415: 01.59
Allah. Semusim sudah semua yang dunia lemparkan di mukaku meluka. Semestinya sudah sembuh. Malah semakin parah. Seharusnya sudah tidak mengancam air mata meuncurkan diri. Malah menderas tiap kali, tanpa ingin kuingati. Wanita itu ternyata masih bersemayam membenamkan pundakku. Menenggelamkan kepalaku.

Tak bisa kusebutkan identitasnya dengan benar. Aku belum mampu mengungkap abjad-abjad lengkap yang menyusun namanya. Nciz. Entah, inspirasi dari mana, tapi begitulah pedengannya. Jangan bertanya siapa ia, bukannya aku tak bisa membeberkan secara rinci. Tapi tidak mau. Belum, barangkali. Kalau setiap pertanyaan selalu satu paket dengan jawaban, maka yang sanggup mempertemukan keduanya adalah waktu. Simpan dulu di kantongmu, seperti jabatan: semua ada tahapannya.

Nanti akan jatuh tempo giliranku mengagak-agihkan seluruhnya, dari ujung rambut sampai tepi kuku jemari kakinya. Bermula dari mana papilaku bisa mencecapi garis hidup wanita yang menyebut dirinya dengan, “Nyonya Besar”. Atau aku saja yang berlebihan menyebutkan titelnya.

Kalau kamu membaca tulisan—yang sudah mirip dengan manuskrip—sejarah ini, yang kau jejal di matamu barulah prolog. Mungkin jika huruf punya 26 abjad, ini baru satu tipe huruf “A”, padahal ada banyak jenis huruf “a”. Sedetil itu. Saking tekunnya aku meneliti renyutnya. Kalau yang lain berlomba-lomba dengan riset karya ilmiah, aku memilih menyelisik watak dari setiap gerigi ujung gigi yang tertata rapi. Saking seringnya, sampai-sampai aku hafal betul masing-masing batang tubuh punya kepiawaian sejak lahir untuk menggelapkan sisi yang mana dan menerangkan bagian yang apa. Secara kasatmata sama persis seperti guna shadding dan tintin—yang tak pernah absen di-request oleh wanita mutakhir abad ke-21 agar terlihat memiliki gagang hidung yang lebih menonjol seperti bule, atau tulang pipi yang lebih tinggi. Memainkan peran gelap dan terang demi tercapainya suatu keseimbangan dalam proporsi wajah yang bagi mereka banyak cacat di sana sini. Padahal justru jadi simbol kurang percaya diri. Mungkin, kurang percaya penciptanya, aku bilang mungkin. Tak terkecuali parasmu, lekukmu, lakumu, bahkan isi kepalamu yang kadang mondar-mandir atau beku, bahkan seringkali berjalan ke belakang, lama-lama hengkang.

www.fasihrdn.tumblr.com


Allah. Engkau Maha Tahu terdiri dari potongan apa saja yang sampai saat ini menguasai hati. Bukan hati yang  terletak dalam rongga perut sebelah kanan atau lebih tepatnya di bawah diafragma. Tapi serepih hati di dalam dada. Dalam ejaan arab ia bernama qalbu (khalbu), tapi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ia disebut dengan kalbu: pangkal perasaan batin; hati yang suci. Suci sendiri artinya adalah bersih; bebas dari cela; bebas dari noda; bebas dari dosa. Tapi Allah, aku bukan para nabi yang maksum. Bisa kiranya Kau toleransi kepayahanku dalam hal mengendalikan? Ah, Kau pastilah tenggang rasa atas kecengenganku dalam mewaspadainya: ia yang membawaku jatuh dalam kebobrokan iman. Plongah-plongoh menanggapi qada dan qadar.

Kalau kuhitung hanya dengan deret nomor bagian akhir menurut perhitungan matahari dalam penanggalan Anno Domini atau yang lazim disebut kalender Masehi, sudah bergeser dua digit. Atau boleh jadi, memang baru dua angka. Sederhananya, sejak tahun 2013. Dua tahun, kuulang, jika hanya kutaksir dari dua bilangan akhir. Tanpa bulan, tanpa tanggal. Iya, dua tahun, perlu berapa puluh kali kujabar dengan sabar. Kalau menyenangkan pastilah kuujar lebar-lebar dengan penegasan kata “baru”, bukannya “sudah”. Bisalah kau tebak-tebak sendiri, apa kiranya yang kurasakan selama dua tahun belakangan ini. Hidup yang menyedihkan. Seperti tanpa Tuhan. Sepi, senyap, seperti raga tanpa roh.

Aku sudah keluar orbit. Tanpa sadar. Atau pura-pura tidak sadar. Tidak lagi berotasi di jalur lintasan yang dibuat Tuhan sebagai acuan. Aku memecuti kudaku tanpa rute. Buta arah. Menyalahi Peraturan Baris-Berbaris, banjarku mencong sana-sini. Menjengul begitu saja dari shaf solat berjamaah di masjid sebelum salam terakhir. Bagaimana mungkin bisa terjadi revolusi mundur?

Bukankah jauh lebih terhormat menjadi mantan pembunuh berdarah dingin ketimbang mantan kyai besar yang diagung-agungkan? Tapi lihat baik-baik, jangan seperti aku. Lahir dengan kulit kuning langsat, lalu tumbuh dengan wajah kusam, nyaris pucat pasi. Mau berfoto dengan ekspresi apapun juga tetap tampak buruk rupa dalam lensa, lensa mata maupun kamera.

Kalau harus kurunut dengan cermat, tak kan habis kaupahami hanya dalam waktu satu-dua pekan, triwulan, caturwulan … bahkan sampai pancaroba membuat resistensimu melemahkan tubuh, mengeluarkan cairan lengket berwarna hijau—ingus—sekaligus meriang sambil batuk-batuk nyaris kanker paru-paru pun tetap saja tak akan katam. Bagaimana mungkin? Kujejaki bumi sejak 20 tahun silam dan mau kauselami hanya dalam semalam. Yang benar saja. Mungkin aku butuh kertas berlembar-lembar dan kau mesti berbetah-betah mengkhidmatinya. Atau aku perlu membuat novel sekuel seperti milik Dewi Lestari “Supernova” agar sampai diangkat ke layar lebar menandingi film fenomenal “Harry Potter”—seri satu sampai tujuh—mahakarya J.K. Rowling.

Allah. Maafkan hamba yang sudah berceletuk ngalor-ngidul tanpa alur sampai subuh membangunkan dengkur. Allah, aku sakit parah. Parahnya lagi aku justru ingin ada virus yang menyerang serebrum sampai masuk menggerogoti memoar yang semakin hari semakin tak pantas untuk diingati. Biar amnesia sekalian. Dan aku bebas dari kenangan. Kenangan inferior yang mutunya benar-benar rendahan. Persembahan dari nyonya besar untuk perjamuan (tiap) makan malam. 

Pantas saja aku selalu kekenyangan bahkan tanpa karbohidrat sehat semacam umbi-umbian.

Allah. Tubuh yang menyatu dengan tanah dan dahi beserta tujuh anggota lain yang menyentuh bumi jadi saksi. Bahwa aku memang nyata-nyata Kausayangi. Dan bertatap kata denganmu di satu pertiga menuju fajar adalah kesempatan yang tak pernah ingin kulewatkan. Aku tak perlu membeli perangko agar suratku sampai tepat waktu. Sebab surat ini akan Kaujawab lebih dulu dari surat lain yang diantar lewat kantor pos. Kumohon, percepat tenggatnya untuk melupakan nama yang justru lebih fasih kueja ketimbang namaku sendiri.

Hambamu yang penuh dosa,
Fasih Radiana

Sekantong Rindu Terakhir

Ada sekantong rindu yang kumasukkan dalam lemari. Kusimpan di sudut paling dalam. Tapi masih juga mengintip dari celah-celah gagang pintu. Ternyata rindu itu bukan sebab kamu jauh dariku, Sayang. Tapi karena aku yang terbiasa denganmu. Lalu tiba-tiba aku mesti melakukan segalanya sendiri. Ah, padahal sebelum datang tatapmu di wajahku, aku sudah melakukan semuanya sendiri. Jadi, kamu yang membuatku tak bisa mandiri … merasa membutuhkan seseorang terkadang menyakitkan. Sebab ada ketakutan yang menyelip kalau-kalau aku tak bisa lagi di rengkuhmu. Aku tak bisa lagi memanggilmu. Aku tak bisa lagi memintamu datang memelukku.
Ada sekantong rindu yang kuambil dari lemari. Biar menemani sepi saat kamu pergi. Tapi, toh, saat kamu tak berjarak denganku, aku tetap merasakan rindunya mengitari hati. Bisa begitu ya?
Sekantong rindu itu kusebar di langit-langit kamar. Biar saat aku tertidur, rindu itu mengajakku menujumu. Lalu kubagikan serpihannya pada angin, biar tertiup sampai ke relungmu. Kutitipkan pada bintang, lalu tunjuklah dengan jemarimu. Ada rinduku tergantung di sana. Masih ingat, ada malam yang begitu indah saat hati kita belum membuka dirinya? Di sana aku hanya bisa memandangi lekatmu dalam pekat dan matamu menjawab sedikit tanda tanya. Intuisi yang kukira sekejap mata. Ah, bisa kau ingat-ingat lagi yang itu? Yang tak bisa kujejerkan dengan kata. Kalau suatu saat, rasa cintamu hilang, Sayang … ingat-ingat lagi bagaimana cinta itu datang. Jangan biarkan siapapun menghapusnya, menghasutnya sampai tumbang. Jangan biarkan satu pun alasan jadi sebab perpisahan.
Kali ini, sekantong rindu kutukar dengan doa. Sebab aku tak ingin rindu ini nantinya tak berasal dari dua arah. Sebab aku ingin rindu ini yang terakhir meresapi jemariku. Sekantong rindu terakhir dariku untukmu. Sebab aku mau akulah orangnya. Sejatimu.



051113~Soal jodoh, siapa yang bisa menduga-duga? Tapi kalau jodoh bisa diperjuangkan, saya perjuangkan kamu saja. Cukup.

Jejak Rekam Bulan Oktober

Sebenernya nggak bisa nulis apa-apa lagi … sudah terekam dalam pikiran dan hati, sudah melekat dan membuat segala abjad membeku di sangkarnya. Oktober; selalu jadi bulan yang kunanti-nanti. Bukan sebab ada satu tanggal istimewa dalam hidupku. Tapi karena aku memang selalu berharap Oktober jadi pengikat waktu yang haru. Dan 2013 menyuguhiku Oktober yang begitu sempurna….
5-6 Oktober 2013 (Sabtu, 5 Oktober 2013 – Bintang jatuh, Merbabu Mount)
Untuk pertama kalinya aku menapaki jalan mendaki dalam denotasi. Untuk pertama kalinya aku benar-benar melakukan apa yang pernah jadi keinginan. Untuk pertama kalinya aku merasakan alam memelukku begitu erat, begitu dekat. Untuk pertama kalinya, menjadi awal mula Oktober membuatku jatuh cinta padanya. Oktober yang diam-diam memberiku satu kecupan yang menenangkan. Meski aku tak punya cinta di dunia nyata. Meski aku terusik olehnya; hati-hati lain yang menggema, memekak di telinga. Aku masih bisa mengingatnya, aku sempat terluka di sana. Tapi di titik itu pula, aku merasa Tuhan menghadirkan satu masa yang berbeda. Menghela napas panjang, lalu meniupkan semua resah di atas awan. Membiarkannya berubah jadi embun yang membawa bahagia. Merbabu.
18-19 Oktober 2013 (Jum’at, 18 Oktober 2013; 23:58 – Purnama, Poktunggal Beach)
Lalu hari-hari sebelum ini … ada yang menelusup ingin menetap di sela-sela hati. Tapi kubiarkan beterbangan, kubiarkan dulu sampai tepat waktu. Dan (lagi), untuk pertama kalinya aku bermalam di tepi pantai. Berbaur dengan garis cakrawala. Menikmati desir ombak di bawah purnama, memaknai angin malam sampai datang fajar dini hari. Ada petikan nada yang mendawai sampai ke hati. Ada lagu-lagu yang membuatku rindu cahaya terang padahal malam semestinya semakin petang. Aku yang merebahkan lelah tepat di bawah langit jingga yang tercipta dari semburat emas mahkota bulan, memandangi ujung langit yang ternyata tak punya tepian. Meresapi air garam yang jadi begitu manis saat menyentuh jemari kakiku. Melintasi tebing curam dan merekam segala kejadian di sana. Menghembuskan napas panjang, lalu kali ini kumainkan senyum kecil isyarat denganmu aku tenang. Betapa tanpa sebuah genggam pun aku merasa lekat di jarimu. Gulungan ombak yang menghanyutkan satu tempat untuk berpijak. Kau tahu mengapa mesti hilang terbawa arus? Sebab kau tak perlu keduanya, bukankah sudah kautemukan agar jadi sepasang? Seperti gunung, pantai jadi daratan yang penuh kenangan. Poktunggal.


23-26 Oktober 2013 (Sabtu, 26 Oktober 2013 – Kurangkum jadi satu; Personal Blog)
23 Oktober 2013
Ada sebaris senyum yang berjejer lalu berganti tawa renyah setelah tatap yang saling mengikat. Ada suara-suara dalam baid puisi yang jadi latar tempatku bercerita. Lalu sesekali jadi hening, mungkin, aku bilang mungkin, terlintas tahunan yang lalu. Saat melakukan hal yang serupa, mungkin. Ah, kubuang jauh-jauh ia dalam kenanganmu. Kubantu hapuskan ia dari lini waktumu. Tak seberapa, pikiran itu hanya seperti ruang kecil yang kadang saja mencuri bunga khayalku. Kulanjutkan lagi mendengar kepayahanmu yang membuatku candu, yang sering jadi sebab pilu di hatiku. Sebab aku—yang terbiasa melakukan segalanya sendiri sejak dulu, bahkan meski saat ada yang selalu siap menolongku—sekarang, jadi tak mau lagi melakukan apapun jika tanpamu. Dasar, payah.
Jadi, ada apa lagi setelah hari ini? Selalu ada cerita dalam petak. Meski ada kisah yang pernah dilewati sebelum aku, sebelum kamu. Sebelum Oktober memelukku. Kupikir, sebaiknya bersamalah ia yang tak membuatmu menjadi dirimu yang lain. Jadilah kamu yang seperti itu, yang begitu saja….
Tentu saja, aku ketakutan setengah mati. Memulai bukan keahlianku. Tapi mengakhiri jadi sesuatu yang begitu lumrah keluar dari bibirku. Entah, aku yang salah atau hanya belum bertemu dengan yang sejati saja. Jadi, bagaimana mungkin aku tidak takut kalau-kalau semua hanya jadi luka. Jadi linglung saat semua kautanyakan padaku, harus kujawab dengan kalimat yang seperti apa. Tapi percayalah, siapa yang tak lelah terus-terusan ditemukan lalu dipisahkan kembali. Bisa, biarkan aku berhenti di sini saja? Aku juga bicara pada Tuhan, tolong, kakiku sudah tak bisa lagi mengikuti jejak-jejak yang tak bisa membuatku tenang. Sudah enggan menuliskan cinta baru, sudah tak ingin menyusun puisi dalam baid-baid yang selalu baru. Sudah cukup, akhiri sampai di sini saja, ya, Tuhan? Sebab sudah kudapati tenang dalam terang. Sudah enggan menggantinya dengan satuan lain. Sudah lelah bila harus menjalaninya dengan yang lain. Sudah kadung jatuh dan kubiarkan ia yang mengulurkan tangan dan membantuku berdiri. Tapi, aku membutuhkan satu restu dari-Mu. Kau pasti sudah hafal betul, berapa kali aku bilang ingin yang terakhir. Tapi selalu ada jarak dalam setiap jengkal, membuatku terjungkal. Jangan lagi, kali ini.
Bukankah ketika “cukup” kujadikan patokan maka segalanya bisa dibilang lengkap? Bukankah Kau melihatnya, ia memenuhi segalaku. Bukankah Kau pula yang membawakumalam itumenuju tempat yang tak pernah kurencanakan untuk kudatangi? Lalu terjadi pertemuan yang tak pernah kubayangkan, tak pernah ingin kutemui sebelumnya. Dan bukankah semestinya aku berhenti mencipta sajak kosong dalam maya….
Jadi? Bismillah saja, ya 🙂
25 Oktober 2013 – saat matahari terbit

Lalu kamu datang dengan membawa apa yang pernah terbesit dalam benakku. Sudah beberapa kali, aku berbicara begitu lirih di dalam hati, Tuhan seperti mengirimkan pesan untukmu lalu kamu datang kepadaku dengan apa yang kubisikkan di telingaku sendiri.

Wherever You Are – One Ok Rock

I’m telling you
I softly whisper
Tonight tonight
You are my angel
Tonight tonight

I just say…
Aishiteru yo
Futari wa hitotsu ni
Tonight … tonight…
I just say…

Wherever you are, I always make you smile
Wherever you are, I’m always by your side
Whatever you say, kimi wo omou kimochi
I promise you “forever” right now~

Sekali lagi, mungkin memang perlu berkali-kali kuulangi. Kumohon jadilah yang terakhir, jangan pernah biarkan semua cerita berakhir.

261013~Dan Oktober; sanggupkah membuatku bahagia selamanya? 

Salam,
Fasih Radiana

Catatan Kenangan di Bawah Purnama

Bintang Jatuh di Mataku

Aku selalu suka dengan bulan
merayap dari balik bukit
yang samar-samar cahayanya terhalang dedaunan

Aku mengkhidmatinya;
suara angin yang mencuri sedikit kehangatan di wajahku
Aku menikmatinya;
semburat serbuk emas yang mengambang di atas awan
Berlarian, serupa kau yang jatuh tepat di mataku

Lalu di seberang mataku ada bintang
yang mekar sendirian
membelah separuh mega yang mulai petang

Sepanjang jalan yang muaranya adalah purnama
melambai-lambai di jariku
katanya, bahagia itu begitu sederhana
Sepanjang jalan yang muaranya adalah kamu
mengayun-ayun pada lembayung
aku tahu, jawabku
dalam hening yang berisik, diam yang berbisik

Sebab bulan mengikutiku, membuat bola mataku balik mengikutinya
Sebab bintang memperhatikan gerak tubuhku, menyambutku tersipu
Sebab kau menjagaku; melekati seluruhmu.

18 Oktober 2013, menjelang petang, menuju poktunggal beach

Dan aku belum pernah melakukan hal-hal yang lebih gila dari ini. Belum pernah selepas ini, seperti merpati yang keluar dari sangkarnya. Yang sudah pensiun mengirimkan surat cinta orang-orang zaman dulu. Bawalah pergi cintaku, ajak kemana kau mau … jadikan temanmu, temanmu paling kau cinta~ *nyanyi dulu*

Pernah merasa pekatnya penat menampar-nampar wajahmu? Merasa apapun yang kaulakukan adalah kehampaan yang hakiki, pernah? Dan aku tak pernah menemui jawaban atas kekosongan di dadaku. Yang tak pernah bertemu belahannya, separuhnya … hanya kesalahan-kesalahan atas nama cinta, hanya percikan api sementara lalu habis begitu saja di makan waktu. Apa mungkin kamu … bisa? Ah, nggak yakin, coba yakinkan!




Ada Aku di Jejakmu

Di jejakmu ada air gemericik yang berbisik
menggelitik jemariku untuk menuliskan semuamu

Di jejakmu aku mendengar nada
irama gelombang yang buncah
berkejaran gulung-gemulung
berdesir mengurai derai dalam damai

Di jejakmu ada suara-suara yang meronta
membuat kakiku ikut mengembara
menerjang beriak yang memecah karang
lalu tenang tertuang di garis pantai
aku terbuai.

Di jejakmu aku melihat tebing-tebing
dan angin yang membelai buih
mengantar ombak-ombak yang mulai lelah berkejaran
untuk pulang ke tepian
Di jejakmu pula aku …
mengikis semua pedih, menghapus semua letih

Dan di jejakmu aku membingkai pantai
merekam segala keindahan
tentang megahnya mega biru, langit dan laut berbaur satu padu
tentang serbuk pasir putih yang kumainkan di jemari
tentang cahaya kecil di ujung senja; menari-nari sendiri
tentang melodi-melodi yang kuresapi pada sunyi
tentang rembulan yang jadi penerang dini hari
tentang malam yang menjadi saksi; ada cinta yang mulai menampakkan diri

lalu pagi, dengan matahari kucipta puisi, 19 Oktober 2013


Jadilah Kau Segalaku, Bawa Aku Bersamamu

Dan aku hadir bukan untuk menggelisahkan hatimu. Pun kau datang bukan untuk menyakitiku kan? Untuk apa sebenarnya titik itu, yang kupijak tepat di hadapanmu. Yang ternyata menjadi awal mula segala rasa. Dan aku tak pernah mau mendalaminya. Tak pernah ingin memaknainya lebih teliti, aku tak pernah meminta kau membuka intuisi. Bisik kecil yang merambat ke segala arah, lalu ia mendiami ruang-ruang hampa dalam hatiku.
Tapi toh, nyatanya aku hanya bisa memandangi biasmu, membaca namamu di lini waktuku, dan mencoba mengingat-ingat wajahmu. Padahal di sana, kau tak pernah mencoba mengeja kembali abjad-abjad yang menyusun namaku. Meskipun kau dan aku masih dalam satu gerak laju, bertemu di ruang semu, tapi, aku tak pernah tahu dengan siapa lagi kau berbagi cerita. Membagiku….

Jujur saja, aku lelah jatuh cinta. Aku lelah mencintai yang salah. Aku lelah tak juga menemukan jemari yang pas dijariku. Aku lelah ditemukan oleh ia yang ternyata aku bukanlah rusuknya. Jadilah kau yang membuat semua lelahku berakhir. Jadilah kau seseorang yang membuatku berhenti di situ, berhenti di rengkuhmu. Punsemisal aku jatuh cinta lagilain waktu, itu hanya aku yang kembali mencintaimu. Dan terus begitu sampai berakhir waktuku. Jadikan aku yang paling pas di tulangmu. Sebab kecocokan hati tak pernah bisa dipelajari, tapi dipahami.
Kau melukis gradasi dalam hidupku, membelokkan cahayanya ke mataku, membuatnya jadi pelangi. Bersediakah kau … bersediakah menenangkan hatiku, berusaha memahamiku, menyambut kepedihanku, membuat sedihku luruh sebab kaumengubahnya jadi bahagia.

Lalu di tempat itu, kauhabisi rinduku dengan syahdu. Lagi, di tempat yang sama, kaulunasi senyumku dengan haru.


Andai ada mesin pendeteksi hati, mungkin kau bisa langsung mengerti betapa dalam benakku tak pernah lepas dari bayangmu. Betapa sulitnya aku menjinakkan hati yang mulai tak terkendali. Yang selalu ingin ada kamu mengitari semuaku, yang selalu saja menujumu. Yang enggan berjauh-jauh darimu, diam-diam menyimpan cemburu pada siapapun yang berada di sekelilingmu. Lalu egoku memainkan peran, memikirkan apa yang tidak perlu. Andai aku tahu isi di dalamnya; hatimu. Dan kemana pun langkahmu, aku menunggu. Mendoakanmu dari kejauhan. Aku menunggumu. Kembali pulang, membawa cinta baru.
Ajak aku bermesraan dengan alam, biar melebur pada kedamaian. Biar kusesapi sendiri cinta yang membuatku takut kalau-kalau ia semakin akut. Biar kucoba tenangkan riak gelombang di jantungku, yang gelisah tak tahu waktu. Ajak aku bergandengan dengan alam, biar kutarik dalam-dalam napas lewat udara yang membawa embun pagi. Bawa aku bersamamu, jangan pernah biarkan siapapun mencurinya darimu; hatiku.

16-171013~Catatan rindu yang tak sempat kutulis di bukumu sudah lunas di ujung senja. Panggil aku jika kau merasa pilu mulai mengganggu, biar kuajari kau caranya mengubah hampa jadi tenang di dadamu.

Baca saja, Seperti Aku Menulismu

Sebab aku tak mau kaumerayu yang selain aku. Tak suka mendengar kaumemuji yang selain aku. Tak bisa melihat kaumenatap yang selain aku.

Ada yang tak bisa kausentuh kecuali dengan hatimu, adalah hatiku dengan perasaan-perasaan yang mengitarinya. Tuan, coba jawab, sampai kapan aku harus menantimu memberiku satu kehidupan untuk bersama selamanya.

Kalau ada yang lebih menyakitkan, mungkin sebab kau tak pernah mencoba membacaku lebih dalam. Atau aku yang terlalu betah menuliskan semuamu?

Mungkin aku yang terlalu asyik dengan sendiri, aku yang terlampau angkuh merasa tak butuh siapapun menemani. Aku yang terbiasa dengan sepi. Hening yang mengantar jemari berepilog dengan puisi. Sajak yang tak ‘kan pernah berhenti menggigilkan sisi lain nurani. Aku hanya enggan melibatkan kau merentik dalam nyeri. Terus terang, sebenarnya diam-diam ada sejengkal harapan yang terbungkus rapi di sini, di hati yang tersembunyi. Tuan, mungkinkah kau bisa membuka tanpa merusaknya?
Sudah itu lalu bermukimlah di bagian yang membuatmu merasa tergenapi, yang membuatmu tak mau berlama-lama pergi. Kembali, dan menetap sampai fajar pecah dini hari. Sehingga aku terlengkapi.
280913~Semoga genap masih mampu melengkapi ganjil yang mulai lebih suka mengisi dirinya (sendiri) dengan membelah diri.

Sophisticated; Friksi dalam Hati

Desakan dalam dada, katanya ingin cinta pergi saja. Tapi rupanya bagi hati, cinta adalah bonanza.

Kali ini aku takut kaumengerat apa yang belum boleh kuinjak. Aku takut perasaan yang memenuhi ruang di jiwa ternyata galat semata. Padahal serebrum sudah mati-matian mengatrisi perasaan yang mulai agitasi. Konvensi yang tak pernah jadi kesepakatan antara kau dan aku, ternyata bertemu dalam ekamatra.

Ah, betapa ramai sekali di hati menjabarkan esensi. Mengelaborasi satuan rasa yang membelah diri. Apa tidak salah menyerahkan naluri pada intuisi yang belum tentu tepat bidik? Apa pantas membiarkannya terus berkeliaran? Sedang aku tahu betul ada yang sedang membelungsing. Tak henti menginsinuasi gerak hati.

tweet me on @fasihrdn

Lalu dengan takzim aku memintanya undur diri dari sini; evokasi yang mulai membuatku takut sendiri. Kalau-kalau yang berani menelusup hati ternyata sekadar imitasi. Eklektik; masih memilih sana-sini. Atau barangkali, nomadik; berpindah kesana-kemari.

Sudah kutanyakan ini berkali-kali, tapi tak juga menghasilkan konklusi. Sebab sepertinya suatu hal yang muskil, mengeksekusi paksa rasa yang genjah; begitu mudah menyebar. Yang orang bilang itu cinta. Apa mungkin begitu saja akan abdikasi dari hati. Apa mungkin?

Sedari tadi aku bicara padamu tentang bisikan nurani. Aku memintamu tak lagi menggegai seperti anoksik yang makar; bertipu muslihat. Apa bicaraku sedari tadi terlalu rumit untuk kau pahami? Sebenarnya aku hanya takut mengakui; ternyata hati tak pernah bisa memilih pada siapa ia kalah, menyerahkan diri.

Lalu kecuali menunggu Tuhan merestui, apa lagi yang kucari?

Cinta, Tunggulah Sebentar Lagi

Cinta. Aku tahu kau sudah bosan melumatnya. Membaca kalimat yang itu-itu saja. Tapi mereka yang membenci cinta hanya ada dua alasan yang masuk akal: Ia tak pernah merasakan cinta, atau ia terlalu sering merasakannya. Dan aku tak perlu tahu kau termasuk yang mana.

Cinta. Kau mungkin sedang jatuh di dalamnya. Mungkin juga baru saja dipatahkan olehnya. Kita tak pernah tahu kapan rasa itu bermula, tak pernah mengira di mana bertemu, dan bagaimana bisa begitu cepat tumbuh dan merangsuk makin dalam. Kita tak pernah diberitahu, kita tak pernah diberi peringatan untuk menamainya cinta.

Cinta. Itukah kamu? Itukah kamu yang kupandangi dari jauh. Itukah kamu yang kudengar padahal kau tak berbicara apa-apa. Itukah kamu yang aku tak tahu seperti apa bentuknya. Itukah kamu yang akan jadi jawaban dari segala tanda tanya?

follow me @fasihrdn

Cinta. Aku tak pernah berani menyebut apa yang menggelitik ini dengan sebutan sakral. Kita hanya bisa merasakan tanpa perlu pernyataan. Rindu yang tentu saja teruntuk kamu, apa perlu kuyakinkan kembali?

 Aku bahkan tak punya cukup nyali untuk memberi kabar tentang hatiku yang selalu berharap kaulah orangnya. Yang kehilangan separuh rusuk dan ternyata akulah pelakunya. Akulah yang hilang selama ini dari tubuhmu; yang sampai detik ini tak kutahu berada di mana.

Cinta. Ingin kukutuk kau yang membuatku begitu lama menunggu. Ingin kuamuk kau yang membuatku tetap saja menunggu meski sudah dirundung kantuk. Ingin kucambuk kau yang membuatku harus puas hanya dengan mengajuk. Kau tak tahu kan betapa lama aku terantung-antung?

Cinta. Mungkin saat ini kita hanya saling diam, biarkan saja bahasa yang bersuara. Sebab kau dan aku tak punya hak untuk mengabarkan yang masih sama-sama baru jadi pengharapan. Aku tetap memilih untuk sendiri sebab tak ingin kau tersakiti atau menyiksa diri. Kalau-kalau ternyata kita salah menilai situasi. Kalau-kalau ternyata kita salah naluri.

Cinta. Tak perlu buru-buru kemari. Tak usah memaksa diri datang ke sini. Aku tetap menanti sampai alam pun ikut jadi saksi; kau dan aku yang mengucap janji dalam akad suci. Mungkin, suatu saat nanti.

“Apa perlu kau tanyakan untuk siapa aku menunggu?” –  Fasih Radiana

About Your Ex!

Kali ini (@fasihrdn) cuma mau curhat-curhat biasa aja, nggak pake unsur sastra di dalamnya.
Tentang mantan, apa sih mantan itu? Eh, siapa(?)  Mantan itu seseorang yang “pernah” jadi “sesuatu” di hidup kita. Kita fokuskan pada bentuk yang seperti mantan istri, mantan suami, mantan kekasih. Coba deh, aku mau mengurai definisi “mantan” yang barusan.
Mantan adalah seseorang yang pernah menjadi sesuatu di hidup kita.
Seseorang yang pernah menjadi sesuatu? Bisa diartikan “Siapa” yang pernah menjadi “Apa”(?) #NJLIMET! Yang jelas mantan itu bukti otentik bahwa kita pernah gagal menjalin suatu hubungan. 
Semakin banyak mantan, maka semakin tinggi tingkat kegagalan Anda.
Semakin tinggi tingkat kegagalanmu, maka pertanda kamu belum “professional” dalam menjaga dan mempertahankan sesuatu. Terkadang melihat masa lalu itu penting, untuk menjadikan kegagalan itu berubah menjadi sebuah keberhasilan. Itu kenapa diciptakan “Spion” pada kendaraan. Tapi Tuhan meletakkan mata kita di depan untuk melangkah lurus ke depan, bukan untuk “Galau” karena kamu terus menerus melihat “Spion”-mu.
Kadang kita yang menjadi “Korban” kegagalan, mungkin karena yang disebut selingkuh. This! Aku pernah merasakan angka dua menjadi angka paling buruk sepanjang zaman. Right, mendua lebih tepatnya. Tapi ternyata aku bisa kok mengikhlaskan itu. Tahu kenapa? Sebab mungkin ada yang lebih baik dan sempurna mencintai dan menyayangi dia dibanding aku. Begitu cara berpikir lebih rasional, bukan melulu menjalani dengan hati. Kadang hati itu membuat pikiran seseorang menjadi irasional dan nggak masuk akal. Mungkin saja Tuhan ingin mengajakmu untuk bertindak lebih dewasa, seperti lebih bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan.

Ketika yang dipertahankan bukan lagi sesuatu yang ingin dijaga lebih lama, maka yang paling baik adalah melepaskan. Sebab ketahuilah, Tuhan menariknya untuk diganti dengan yang lebih sempurna. So, berhentilah menangisi dia yang akan Tuhan ganti dengan yang jauuuuuuuh lebih hebat dari apa yang kamu sangka-sangka.

Salam,
Radiana, Fasih