Delusi (Part I)


            Pada kaki-kaki langit, aku menatap di balik jaring-jaring penghalang. Duduk menjuntai dengan bola mata yang mondar-mandir mencari muara. Penghalang besi yang tidak bisa ku tembus meski sudah ratusan kali ku pukul dengan palu besar. Maka begini saja, caraku melihat rintik hujan yang meruncing. Menjatuhkan ujungnya pada tanah yang mulai basah. Beberapa menit kemudaian warna ungu menggenapi riasannya sendiri. Senyumku pecah, aku selalu suka saat jingga menyuguhkan warna baru di tengah-tengahnya. Pelangi.
            Masih lekat dengan sosok yang melangkahkan kaki pada tarian dengan gerak sunyi di bawah guyuran hujan. Melambai lemah gemulai, dengan decak-decak di atas dedaunan yang gugur lebih dulu. Desir angin menyempurnakan melodi yang sedari tadi meniupkan alunan di antara awan-awan hitam yang tampak mulai terang. Gerakannya mulai diperlambat memutari kerikil-kerikil yang sepertinya sengaja sudah di susun rapi. Menapak pada raut muka seorang yang lain, meneteskan gelombang pada butiran hujan yang terlambat datang.
            “Awas, ada petir! Jangan terlalu jauh.”
            Samar-samar ada suara yang menggema. Jari-jari kecil itu membalikkan derap langkahnya, menuju sisa-sisa suara tadi. Gigi-giginya yang berantakan sudah gemetar menggigit bibirnya sendiri. Kedinginan.
            “….”
            Tak terdengar. Saking derasnya butiran air yang tumpah ruah. Aku mencoba menengok lebih dalam, merapatkan gendang telinga agar bisa mendengar jeritan yang melengking terlalu keras. Justru tak terdengar apa-apa.
            “….”
            “Ha?”
            Aku terkesiap, jelaga mengabutkan pandangan yang susah payah ku intai dari sela-sela semak. Gagap gelagapan, berantakan.
            ***
            Lekuk tubuh “gitar spanyol” dalam cermin berkanvas emas. Bulu mata lentik, dipercantik riasan eye shadow berwarna dark silver. Gaun dengan warna senada dilengkapi berlian melingkar di leher panjang dipenuhi sparkle berwarna keemasan, wanita dengan rambut hitam panjang tergerai.
            “Sempurna!”
            Aku tersenyum. Siapa yang tidak terpesona melihat keanggunan seorang wanita bermata coklat keemasan. Lelaki mana yang tak tergoda dengan aroma vanilla di sekujur tubuh langsing dengan senyum di sepanjang bibir merahnya. Sempurna.
            Malam dengan lampu-lampu terang di sepanjang jalan setapak. Melangkah dengan keangkuhan yang tersembunyi di balik sederet senyum manis yang memusatkan setiap sudut pandang. Karpet merah terlihat lebih meriah, di lalui d’orsay dengan bunga berwarna putih menutupi mata kaki seorang putri yang melambaikan tangannya pada rupa-rupa manusia yang haus akan keindahan.
            “Terimakasih,” kataku lembut pada seorang pria dengan tuxedo jacket berwarna putih yang memberanikan diri memberi satu bucket mawar merah.
            Malam dengan sederet pujian panjang, sebelum kembali datang hujan. Aku kembali, duduk berjuntai. Kali ini dengan cemilan yang baru saja ku beli di mini market dekat rumah. Ada bintang yang sedang bersapaan dengan bulan. Lalu yang lain bersenda-gurau membarengi dentang jam yang berbunyi setiap satu jam sekali. Musik klasik sedari tadi menghasilkan bunyi-bunyian berirama andante, padahal biolanya tak berdawai. Bagaimana mungkin bisa mencipta suara yang mengelok di telinga?
            Aku menuju ruang tengah. Duduk di tepi ruangan, aku memang lebih suka menepi. Ada jemari-jemari lembut yang membelai wajah satu sama lain. Tangan yang lain saling erat menggenggam dalam dekapan. Pelukan panjang yang hanya bisa ku rasakan dengan mata yang memandang, meliar sendirian.
            Sebegitu kejamnya kehidupan sampai tak mengijinkan aku yang berada di sana. Seperti mereka yang sedang bermesraan dengan alasan yang sama, cinta. Aku masih memperhatikan, dua anak adam yang meredam bahasa. Cukup dengan satu tatap mata saja semua juga paham. Ada cinta yang meraung-raung di antaranya. Bahagia, seperti tak lagi peduli ada masalah-masalah besar di luar sana. Tak peduli lagi petir menyambar-nyambar. Sudah larut malam, bukankah seharusnya segera pulang?
            Aku kembali ke kamar. Butuh istirahat panjang, aku lelah. Tapi malam terlalu dingin tanpa secangkir kopi hangat. Sepertinya aku masih punya sebungkus kopi oleh-oleh dari Toraja bulan lalu. Kopi hitam pekat tanpa gula, sempurna. Seperti menikmati hidup mewah tanpa cinta, terlalu sempurna mungkin.
            “Sudah malam, sayang. Istirahat lah.”
            Aku nyaris tersedak. Masih bisa menyuguhkan kalimat-kalimat semacam itu tengah malam begini.
            “Iya, aku juga akan tidur kalau kamu tidur.”
            Rasanya ingin ku rebut handphone yang menempel di telinganya. Ingin ku ambil paksa dari genggaman tangannya. Mengganggu pikiranku saja, batinku. Apa masih jaman, bermesraan tengah malam? Apa masih jaman, mengingatkan seseorang untuk segera tidur?
            Aku menelan ludah. Meninggalkan secangkir kopi yang masih mengebulkan aroma pekat di atas meja. Tidak perlu lagi kopi untuk menghangatkan, sudah panas sendiri dibuatnya. Aku masih bergidik geli mengingat suara-suara tadi. Kantuk tiba-tiba hilang, aku memilih untuk keluar. Menghela napas panjang, menari di antara udara yang bebas ku hisap tanpa berebut dengan siapapun. Semua sudah masuk ke alam bawah sadar, tinggal aku yang terjaga. Terjaga dari kerinduan atas belaian, kasih sayang yang tidak pernah bisa ku sentuh dengan ketulusan.

Menggantung Rindu

Aku mau kau tak memaku sembilu
sakit di dadamu itu mengendapkan pilu
Kau tahu?
degupmu dalam debar seperti sukar
menghela dengan sengal tak beraturan
lalu begitu rasa ku sakit mengulum rindu
Apa yang sebenarnya membuatmu tetap kekeuh
menyapa dalam kebisuan
Yang kau redam kadang justru jadi yang paling nampak di permukaan
Tak jarang diam nyaring dalam abjad-abjad yang bising
atau hanya aku saja yang abnormal
mendengar yang tak kau bisikkan
merasa yang tak kau katakan
Aku menjawab apa yang tak pernah jadi pertanyaan
bertanya yang tak bisa kau jelaskan
Perasaanmu itu….
menggantung dalam kantuk
mengutuk dalam gerutu
renjana di balik aku dan kamu

“How can I forget someone who gave me so much to remember.”

Untuk Seseorang; dalam Bayang-Bayang

Suara merdu menderang, aku bernyanyi sembarang. Hanya sekadar ingin kamu senang. Seperti kamu yang selalu membuatku jadi semakin tenang saat matahari sudah mulai berenang, nyaris tenggelam sampai petang menjelang. Meski benang merah masih saja kusut, berurut menyulut ragu dalam katup mulut. Tapi setidaknya, hari ini untukmu. Setidaknya untuk hari ini…..
Aku masih serupa kemarin, seperti kemarinnya lagi. Masih menanti di sini. Duduk berjuntai berlayar mendengar derai ombak pantai yang bercerai. Dalam bayang petang, aku ingat ada yang datang menjelang. Bagai terompah kuda yang pijar, kau pangeran dari istana negeri dongeng yang memeluk resah dalam gemetar. Melewati sekelebat sunyi, terusik riak senyummu yang membuai. Burung kecil yang menunggu-nunggu induknya kembali dari balik fajar. Tak akan lengah menanti yang tak pasti.
Begitu hari ini, semua tetap jadi yang paling kau nanti. Menyibak hati, mengintip dari balik sanubari. Kalimatku ini bukan sembarang baid dalam sepi. Abjadku ini bukan prasasti yang untuk disusun dalam lemari. Sebab setiap malam berganti, cintaku mendaki dalam sunyi. Mendoa tak henti-henti, untuk hari ini sampai nanti. Sebab kata-kata telah habis terurai, yang paling suci akan terus kujaga dalam air mata di waktu bersunyi. 
Bukan untuk menangisi, tapi membingkai lelahmu yang mungkin saja sering melambai-lambai terkulai. Hey, kemarilah mendekat dalam dekap! Sebab hangat memang datang saat senja mulai senyap. Sudah lama sekali rasanya, kau bercampur hibur dalam tidur; bunga tidur. Di setiap malam dalam mimpiku, kau berjalan melembur. Begitu sepertinya cinta mulai bertabur menghambur. 
Sudah lama sekali rasanya, kau membisu dalam khayalku. Sudah lama ya, digenggam tanganmu seperti nyata di bawah bulan purnama. Sayang, lihatlah!
Bulannya sudah tidak bulat sempurna seperti kau masih dalam pelukan. Seperti temaram terbungkam mega, kau dan aku bagai larut dalam jarak yang dibentangkan angin lalu. Tak bisa menembus ruang dan waktu.
Hey, tersenyumlah meski denyut hatimu mengungkap gelisah. Tersenyumlah meski penyebabnya bukan lagi tawaku. Tersenyumlah, sebab aku ingin hari ini menjadi yang paling berarti. Meski bukan aku yang mengubah gerimis jadi pelangi. Meski bukan aku yang mendamai di hati, aku tetap menantimu dalam sederet senyum yang mengiringi. Mengiringi langkahmu selagi masih belum tersisih, selagi pintu rumahmu belum terkunci. Tersenyumlah, meski ternyata di bab terakhir ceritamu, bukan aku yang bisa melengkapi. Bukan aku yang menggenapi, bukan aku yang kaurestui.
301012~Untukmu, kalimat yang tersirat seperti semburat langit jingga; artikulasi yang menyimpan banyak makna. Temukan sendiri yang tersembunyi.

Sendiri Mencintaimu


Mengakar dalam genang di lengkung jalan yang menyimpang. Menukik pikir yang menyampaikan rindu membisu. Resahku menggila. Aku bukan lagi seperti seluruh aku.

Begitu caranya menggiling senja pada peradaban masa kini. Ramai yang melambai-lambai mengundang jerit dalam sepi. Sesumbar pada hambar yang menampar. Terlanjur menjangkar susah benar disangkal. Sampai aku hilang akal.
Andai cinta selalu datang lewat mata, mungkin mudah untukku mengubah perasaan. Sayang, cinta datang tak mesti karena siapa. Sebab nyatanya cinta bukan satuan yang bisa dihitung, bukan pilihan yang bisa begitu saja ditunjuk.

follow me @fasihrdn
Dan aku menemukan kebenaran dalam kesalahan yang pernah kamu lakukan. Menemukan kebenaran dalam kesalahan yang baru saja ku lakukan. Jatuh lebih dalam, menjatuhkan diri. Heran, kamu terus saja membuatku makin ingin bertahan dalam keadaan yang masih selalu berkutat pada keajaiban dan pengharapan. Apa alasannya? Mengapa terdengar begitu licik dalam riuh gemericik? Padahal aku tahu, kamu hanya sedang berpelik. 
Aku marah, gerah sendiri. Aku sedih, perih sendiri. Aku begini, kamu juga tak peduli.
Mungkin kata mereka aku gila, mencinta tanpa pernyataan. Sebab cintaku memang tanpa pertanyaan. Kalau cinta itu buta, memang. Sebab datang tanpa alasan dan bisa pergi tanpa penjelasan. Kalau hidup adalah dua pilihan tersakiti atau disakiti. Maka aku memilih jadi yang tersakiti. Sudah, itu pasti.
Cinta, memang hanya Tuhan yang akan mendatangkan yang bisa memalingkan. Cinta, hanya kuasa Tuhan yang mengendalikan yang membolak-balikkan perasaan.
Tapi tahu kah aku yang tak pernah peduli seberapa lama kau ingin menjauh pergi dariku, tak tahu kah? Aku akan terus menunggu. Aku hanya ingin merasakan sebelum akhirnya menjadi penyebab kehilangan. Hanya ingin menjalani tanpa basa-basi. Sampai suatu hari kau memilih satu hati yang bagimu paling serasi. Sesederhana itu sebenarnya, hanya ingin menjaga selagi belum benar-benar ada yang selalu mengingatkanmu tentang apa itu cinta.
Aku tahu resiko mencintaimu adalah luka pada akhirnya. Tapi ini bukan luka yang menyakitkan ketika kau lah penyebabnya. Seperti aku yang tak peduli tentang kejadian masa mendatang. Tentang aku yang menjadi bagian dari tulang rusukmu atau berakhir sendirian. Sebab untukku, cinta itu bukan melulu tentang pengorbanan tetapi keikhlasan. Begitu kan?
181012~Aku suka menjadi korban dalam kisah terselubung yang kerap menyita air mata untuk meragu. Untukmu, aku menikmatinya.

Cinta yang Kau Bagi

Terlarangkah?
Hey, siapa yang suka luka? Aku sudah melumatnya ratusan kali. Tapi sepertinya semua orang menginginkan kebahagiaan. Tapi tak ‘kan tercipta pelangi tanpa rintik hujan kan? Karena tak ‘kan ada yang terlambat sampai akhirnya jauh tertambat.
Lalu kau menghapuskan luka dan mengingatkan aku tentang bahagia yang tertunda. Semua jadi berbeda ketika kamu berada di sekitaran yang sama. Denganmu, aku selalu jadi baik-baik saja.
Setiap kamu merasa degupmu makin kencang, maka di situ aku semakin kuat dengan cinta yang tak ‘kan pernah usai. Terus berada dalam jemarimu tanpa detik dalam jeda waktu. Tapi kuasa mana lagi yang bisa ditandingi kalau takdir Tuhan sudah mampir kemari? Menunjukkan diri….
Begitu katamu mengingatkan aku lagi. Begitu juga kataku yang masih berbisik dalam lirih. “Masih sama, masih selalu kamu. Masih mengintai namamu.”
Lalu Tuhan yang akhirnya akan mempertemukan jawaban di peraduan malam. Aku denganmu atau kau dengan segala kebisuanmu. Rahasia yang tak pernah aku tahu.
Kau adalah sempurna di atas ketidaksempurnaanku. Sebab mimpiku hanya satu, setiap malam hanya kamu. Mengapa selalu kamu?
Inginku juga hanya kamu, kamu dengan melihat semua yang bahagia ada dalam dirimu. Siapa juga yang memintamu berbahagia denganku? Lalu begini saja caraku mencintai. Cukup dengan tersenyum bersiap kalau-kalau saat itu tiba, kau pergi. Bukan untukku lagi, bahkan meski dengan berbagi sekeping hati.
Kecuali cinta yang masih sama, masih mengendap diam-diam. Seluruhnya sudah kumainkan dalam dawai biola tanpa suara. Seperti mendengar petikan gitar tanpa senar. Serumit itukah? Berhenti! Rasanya mual memuntahkan gumpalan, aku mau pulang! Menghentikan putaran waktu yang mengelilingi setiap mimpi. Karena ternyata lelah juga hidup dalam mimpi, lelah juga berambisi tanpa misi.
Sebab sepertimu yang mampir tanpa permisi, lalu pergi tanpa bukti dari segala janji.
Lalu sebenarnya kau hanya tak bisa membagi, mana yang peduli mana yang mesti kau sakiti. Tapi pasti suatu saat nanti, saat kau menyadari di balik ceritamu yang bersembunyi tak ‘kan pernah terjadi lagi cerita yang lain. Saat itu juga kau menarikku dengan jemari yang masih seperti ini, samar-samar memiliki.

Terkadang aku ingin berlari menghamburkan diri ke dalam pelukmu, lalu menetap di situ. Tak mau berlalu. Tak akan membiarkanmu pergi dariku. Bukankah kau sendiri yang membiarkan celah makin membuka jalannya? Tidakkah kau menyadarinya, bukankah kau yang selalu merapuh dalam tubuh? Membuatku mengikuti jejak tapak yang makin tampak di depanku. Menjadi api yang menyalakan kobar dalam debar yang sengaja kau umbar. Juga kau dengan sabar menyambut lembut keluhanku. Tak mengertikah yang seperti itu membuatku terbiasa bermanja? Lalu kau meneruskannya, dengung dari gitar yang mekar. Begitu kau menghabisiku; sesuka hatimu menuang risau tanpa hirau. Padahal, di sini aku kadung candu. Tak pernah kan mau tahu? Sengau yang berbau pada rindu, memburu ragu dalam belenggu. Aku, mungkin saja bagimu angin lalu.
Bagiku, kesempatan hanya datang satu kali. Sebab waktu tak akan berputar dua kali. Tapi untukmu, kesempatan pasti akan datang berkali-kali, tak akan berhenti. Akan terus terbuka lagi dan lagi. Datanglah kemari kalau sewaktu-waku luka meresapi. Mampirlah ke sini saat perangai bertikai, biar aku yang membidai sayat gigil dalam gemeretak gigimu. Pulanglah kembali kalau tiba-tiba kalut di dadamu makin pilu. Ketuk saja tiga kali, seketika itu seukir senyum menyambut tumpah ruah. Ketuk pintu kau kembali; aku masih menghitung sunyi meski dengan cinta yang terbagi.
241012~Saat kau menuju jalan pulang, aku masih menunggumu dengan tenang.

Jangan Pernah Pergi Dariku

Kamu mencipta rindu dengan jarak yang menetap. Dalam satu waktu, aku bisa jadi yang paling ingin berada di dekatmu. Aku tak ingin melepaskan apa yang tak bisa benar-benar kugenggam. Aku ingin menetap di ruang-ruang hatimu, meski tahu bukan untuk selamanya.
Sebab sedari tadi aku hanya mau kamu ada di sini, di dekapku. Selalu begitu, itu saja.
Aku bukan pujangga yang pandai berkata, kadang aku mencintai tanpa suara. Sebab aku sudah tenang melihatmu dari kejauhan dan merasakan kamu seperti cinta yang selalu diam-diam. Sakit satu kali dan selamanya akan jauh lebih baik, dibanding sakit berkali-kali, setiap hari. Tapi mengapa aku tetap bertahan menikmati apa yang masih terus saja menggerogoti, mungkin sebab kamu yang melakukannya. Yang mengindahkan luka dengan entah, benar atau salah, Cinta.

Kamu membuatku pintar memelihara rasa sakit yang setiap detik semakin melilit. Kamu mengajariku menyembunyikan air mata di balik tawa. Dan kamu mengubah sesak yang merambat makin menjalar melebar itu menjadi suatu pertanda, mungkin saja aku tak bisa bertahan tanpa bualan. Tanpa kamu yang selalu saja bilang bahwa aku dan kamu akan selalu jadi aku dan kamu, bukan kita. Mungkin saja aku memang sudah terlanjur tidak bisa tanpa ada kamu di sini. Sebab sepertinya aku ingin selalu terbangun di manapun kamu berada.
Aku bukan yang mudah menjelaskan, it’s too complicated to turn off my feeling and erase all memories. Dan kamu justru seperti membuatku makin tak bisa melepaskan apa yang tak pernah ingin kulesapkan. 
Dan entah sampai kapan aku harus menahan apa yang tidak ingin kamu perjuangkan. Sebenarnya, buat apa melanjutkan perasaan yang tak terbalaskan? Sebenarnya, untuk apa menyembunyikan apa yang terus saja hanya tersimpan. Kadang aku lelah meredam, memendam. Kadang aku tak hanya ingin diam, tapi katamu kita bukan pilihan.
Lalu dengan apa lagi aku harus menyampaikan rindu yang menajam menerjang tak mau hilang?




260912~Just feel complete when you’re by my side. So simple, you know? But unfortunately, we’re complicated.

Cinta Sebelum Hari Ini

Bukankah sebelum hari ini kau bukan yang ramah menyapa? Bukankah sebelum hari ini kau bukan yang pandai memuji? Bukankah sebelum hari ini……..
Apa yang menarikmu datang kemari. Meraba abjad dalam kalimat. Mengubrak-abrik yang sudah kususun rapi. Bukankah sebelum hari ini aku berjanji, langkahku sudah berhenti mengikuti. Bukankah kau juga tahu itu, Sayang?
Lalu apa yang membuatmu mengumpulkan serpihan yang terluka? Seperti begitu bahagia membaca kesakitan seorang wanita.
Pekat bias dingin melengking membuat bibirku tak henti menggigil. Sengai menyenggak gemetar di dada. Aku tak sanggup berebut embun di pagi hari. Sisa-sisa suara tadi malam meraung-raung, menjalang lalu lalang di pikiran. Di lorong serupa kemarin kaumemungut belulang yang sengaja kubuang dalam petang. Bukankah sebelum hari ini kita bagian yang terasing? Bertarung di balik punggung.

Hay, strangers! Follow me @fasihrdn

Kau seperti mendesakku dalam ancaman mematikan. Menyandra cerita untuk kaunikmati majasnya. Membuka bingkisan dalam kiasan. Kaumemutari iringan yang kusembunyikan pada sebuah malam. Mengurai yang teruntai gemulai. Mengais-ngais rasa yang sudah menipis, kutepis dengan bengis. Padahal sebelum hari ini, bukankah seperti sengaja mengikis? Mengapa jadi seperti magis. Membuatku terkesiap tak siap bagaimana mesti bersikap. Tiba-tiba jadi lincah menyuarakan sederet rindu yang tumpah ruah.
Bukankah sebelum hari ini kita saling membuang tatap? Lalu sekarang aku dibuat gagap gelagapan, bisu mengantar sembilu. Bukankah sebelum hari ini aku menderu akan segera berlalu?
Beruntun Tuhan mendatangkan kejadian serupa keajaiban. Bukankah sebelum hari ini angin menjerit. Menukik sampai terik tak lagi berkutik. Dalam petang kaumenyusupkan kegaduhan. Dalam ruang yang terulang, tubuhku terguncang. Sejenak mengenang bimbang yang pernah kauselipkan diam-diam. Desah napas tersumbat, isyaratku disentuh saat tak lagi utuh. Bukankah sebelum hari ini engkau menebar jala api, untuk membakar yang mulai mengakar. Terpaut jarak terlampau jauh, lebih mudah untuk saling menuduh. Saling angkuh dalam gaduh. Berdebat dalam diam yang membunuh.
Bukankah jauh lebih nikmat mengikat lara? Kau dan aku mengudara, menancapkan gema yang menceritakan luka dalam butiran hujan. Bukankah sebelum hari ini kau meletakkan aku pada hujatan?
Menggertak ngeri, aku terperanjat dalam simpul belati. Merintih lirih berharap tak menggemakan ironi pada misteri yang makin mendaki, mencari tempat untuk bersembunyi. Gedebak-gedebuk jantungku sibuk berkecamuk. Berdegup mulai mengamuk. Rancau-kacau-balau. Bukankah sebelum senyummu melengkung, aku sudah tak lagi terkungkung?
Bukankah sebelum hari ini, aku sekedar menggambar tanpa sesumbar? Bukankah aku tak pernah bilang ingin membilang? Lalu kau tiba-tiba datang saat separuhnya sudah menghilang. Sudah kutebang agar tenang sendirian. Bukankah sebelum hari ini aku tak mau melanjutkan cinta terlarang? Cinta sebelum hari ini adalah luka esok hari. Atau luka sebelum hari ini ternyata cinta esok hari.
Siapa yang tahu terjadi apa esok pagi, lalu ada apa setelah hari ini?
120912~Kesakitan Seorang Wanita

Hakikat Perempuan

Kali ini aku murni bener-bener mau curhat. Nggak perlu pakai kata-kata yang dirajut dengan sajak dan rima. Cukup lewat celah-celah rasa. 
Barusan, “mantan” dateng ke rumah. Tepat saat aku baru saja merebahkan tubuh. Pukul 21.40? Sungguh, kekanak-kanakan sekali. Entah polos atau bodoh. Yang jelas itu nilai minus dariku. Dan menjadi salah satu kesalahan terbesarnya. “Tidak Tahu Waktu.” Justru menguatkan keputusan untuk mengakhiri suatu hubungan yang menurutku tidak sehat. Aku pikir sudah berkali-kali datang ke rumah (dulu) sampai harus diusir dulu baru mau pulang. Aku rasa kamu terlalu muda untuk menggandeng tanganku. Pikiranmu benar-benar masih sebatas “remaja labil” yang suka hura-hura. 
Alasanmu datang kemari ternyata ingin memastikan apa masih bisa kembali menjalin. Apa aku masih menyimpan secuil cinta untuk kaunikmati. Tapi maaf, aku tegas tak akan memberi celah untuk berharap. Caramu mencintaiku tak sepadan dengan pikiranku yang terlampau jauh ke depan. Aku tak seperti wanita-wanitamu yang lain, yang dulu-dulu. Bukan perempuan yang sekadar ingin memiliki “pacar” untuk dibagi perhatian. Bahkan aku lebih menikmati kesakitan karena sendirian daripada harus terus meladeni hasrat “anak muda” yang kelewat batas. 
Ada tidak ya, lelaki seperti “Rangga” dalam film ada apa dengan cinta? Diamnya membuat wanita “jengkel”. Raut angkuhnya mencipta ragu apa benar dia manusia. Tapi jauh dibalik itu, ternyata dia lelaki yang sempurna.  Di mana bisa kutemukan lelaki sejenis itu? Mandiri? Ha-ha cukup, aku bosan berkhayal menemukannya di sini.
Yang aku butuhkn sekarang bukan lagi cinta kanak-kanak. Walaupun belum paham betul apa itu cinta, tapi percayalah aku bagian dari ketulusan. Kamu selalu menuntut banyak hal dan aku masih selalu dianggap kurang pengertian. Kalau begitu, carilah yang lebih mengerti rasa sepi yang merajah dadamu. Kamu bilang kamu kesepian kan?
Kamu “sok” ingin merubah rangah yang merambah ditubuhku. Tapi sayang, tujuanmu bukan benar-benar ingin sifat cuekku memudar demi kebaikanku. Tapi untuk kamu nikmati perubahannya, untuk kamu rasakan, bukan resapi.
Aku ingin berhenti, berganti posisi. Harusnya aku yang diajari cara terbaik berjalan melalui lintasan yang terjal menjungkal. Bukan selalu aku yang berteriak mengingatkan. Mengertilah aku lelah, seharusnya seseorang dipertemukan oleh Tuhan untuk memeluk resah. Aku muak menyanding cinta yang terus-menerus ingin balasan. Mana ada yang sepertiku, merasakan tanpa minta dipedulikan? Atau aku yang kelainan?
Mana ada yang seperti air mataku? Meruncing beriring jerit yang melengking. Sumpah, sekarang ini air mata merembes deras tak tahu waktu. Di mana lelaki-Mu, Tuhan? Seseorang yang datang bukan untuk meminta perhatian, bukan yang memberi untuk sebuah balasan. 
Aku bosan terus-menerus yang mengingatkan. Aku ini bukan wanita kebanyakan. Bukan meminta lelaki yang hanya punya waktu mengurusi kekasihnya. Apa tidak punya pekerjaan lain? Memalukan. Hidup hanya sebatas memikirkan tentang cinta. Bukankah butuh satuan yang lain?
Aku pernah merasakan apa yang kamu jalani saat ini, Sayang. Terpaksa melepaskan seseorang yang masih sangat ingin dipertahankan. Tapi aku perempuan yang tak hanya menggunakan indra perasa, tapi juga logika. Untuk apa mempertahankan yang tidak bisa lagi diperjuangkan? Bukannya jauh lebih sopan merelakan yang kamu cinta untuk menemukan yang jauh lebih sempurna? Ini bukan omong kosong, bahkan aku pernah harus merasakan luka yang datang bertubi-tubi beberapa hari sebelum ulang-tahunku. Diduakan lalu ditinggalkan tanpa alasan yang menguatkan. Tapi aku bukan kamu, hey, para lelaki yang diperbudak oleh rasa sampai-sampai kehilangan logika. Aku membiarkannya pergi dengan seseorang yang mungkin lebih sempurna mencintainya. Aku yang seorang wanita saja bisa, mengapa kamu tidak?
Di mana lelaki yang tahu aturan, yang tak ‘kan menjejalkan rasa bosan? Karena aku bisa menjadi yang bermekaran paling indah seperti bunga mawar, tapi bisa berubah serupa duri dalam tangkainya. Aku masih percaya, bahwa Tuhan sudah mengikatkan kehidupan yang penuh kejutan. Aku masih menunggu-nunggu, melihat kesana-kemari. Di mana yang jauh lebih tinggi dari hargaku? Karena aku tak mungkin terus-menerus hidup untuk meluruskan. Sesekali aku ingin juga merasakan diberi ketenangan, diajari caranya bertahan melawan arus kehidupan. 
Sekali lagi aku tegaskan. Jangan coba-coba mencintaiku kalau kamu belum yakin bisa jauh lebih baik dari aku. Bukankah begitu hakikatnya? Wanita mana yang ingin menghabiskan waktunya hanya untuk memperbaiki retakan? Perempuan seperti apa yang mau terus-menerus memberi penjelasan tentang kehidupan. 
Aku juga mau dipertemukan dengan seseorang—yang setidaknya—membarengi langkahku. Bukan yang terus berada di belakangku, minta ditunjukkan jalan menuju Tuhan. Sekali lagi dan berakhir malam ini. Aku berjanji akan berhenti memperbaiki lelaki. Mungkin sudah waktunya aku undur diri dari pekerjaan semacam ini. Sekarang saat yang tepat untuk meminta pada Tuhan, aku benar-benar sudah menjadi perempuan seutuhnya. Yang ingin tuntunan. Yang ditakdirkan mengikuti perintah lelaki. Bukan yang memberi aturan. Aku ini perempuan!
100912~ 23.43

Lebih Baik Bunuh Diri

Kamu orang yang paling tahu. Aku perempuan yang paling sering ingin mati. Aku hanya punya satu alasan. Bertahan di tempat yang membuatku terus ingin melarikan diri. Aku hanya punya satu alasan, untuk meneruskan mimpi.
ME-MOM-DAD and My Niece

Orangtuaku.

Klise memang, tapi toh, itu fakta yang ada. Aku hanya ingin Tuhan melipat gandakan umurnya. Melindungi mereka dari segala jenis kejahatan dunia. Jangan sampai ada secuil bakteri menyelinap masuk tubuhnya. Karna semua juga tahu, aku hanya punya mereka, hanya mereka saja.
Logikanya, aku memilih untuk mati. Kalau saja satu-satunya alasanku menghilang terbuang. Aku lebih baik undur diri daripada harus sendiri menikmati.
Dan memang akhirnya hanya kau yang paling tahu, Kau. Bagaimana aku lebih memilih untuk mati gantung diri.

Selamat Pagi, Cinta ♥

follow me @fasihrdn


Selamat pagi matahari, sepertinya sudah siap merajai hari ini. Aku masih jatuh cinta setiap bangun pagi; mencintai yang mencintaiku. Sepertinya kupu-kupu mengajakku menari melangkahi embun yang bergutasi di balik dedaunan, sinarmu menelusup lewat celah yang tak tampak. Memaksa mataku untuk lebih lebar terbuka, menyapa dengan senyum tanpa akhiran.

Selamat pagi matahari, membuka tirai jendela bertemu denganmu lagi. Selagu kicau burung yang memerdu syahdu di hening yang damai. Seperti cintaku yang makin tenang di peluknya. Saat kau kembali ke peraduanmu, dia datang menghangatkan aku. Dan kuharap begitu seterusnya.
Selamat pagi matahari, menghela napas panjang membuat rusukku naik turun. Searoma mawarku yang memerah terbias cahaya, seikat mawarku makin terlihat megah dengan cinta melekat di setiap kelopaknya. Sama seperti cinta di hatiku; makin ranum setiap bujuk rayu menyentuhku.

from my Dewa
Selamat pagi matahari, aku ingin kamu menghangatkan mawarku. Jangan biarkan mawarku layu, sebab duri dalam mawarku akan menjadi yang paling marah. Hey, kamu yang mengaku mencintaiku. Aku ingin kamu terus melanjutkan setia menjagaku. Jangan biarkan aku menangis sendiri, sebab hatiku sama seperti duri dalam mawarmu yang sudah jadi milikku. Akan berbalik menyakiti jika tak berhati-hati.