Ajari Aku Mencintaimu dari Awal

Setelah khianat, kukira pemaafan adalah damai. Kupikir ikhlas bisa begitu mudah datang dengan sendirinya. Ternyata cinta tak bisa kembali sedia kala. Kau telah kehilangan aku, yang mencintaimu sejak tatapan pertama.


Nafsu dunia ajarkan sesuatu yang nyata, sepersekian detik saja hasrat memeluk tubuh, air mata mesti bersiap melepaskan dirinya. Kehilangan dirimu dahulu hanya sebab mata batin yang terlalu unggul memilah raga adalah penghinaan, bagi wanita muda yang terbiasa tanpa siapa-siapa. Kini, setelah kabar lamar dalam genggam dunia, akhirat jadi patokan. Tak kubiarkan sedikit pun udara menguasai perasaan bahwa pasti adalah kita. Masih ada kemungkinan-kemungkinan patahnya takdir bila tak cukup ajek menggema.

Bila saja, persis aku adalah rusukmu yang hilang, biar seluruhnya geladir sampai sah dibuat galir lincir ijab-kabul.

Setelahnya, boleh kiranya kau mulai ajari aku mencintaimu dari mula. Mengembalikan yang pernah kau paksa pangkas rata. Habis tak tersisa, kecuali geram merungus dendam yang tak ada puasnya. Ajari aku mengampuni impresi jejas yang tak juga reda. Ajari aku mengenalimu sebagai wajah anyar yang mengeratku sampai ke surga, bukan sekadar lelaki muda yang sedang dimabuk asmara, buta tujuan, dan tak punya cara membangun bahagia. Sungguh, ingin kulihat sendiri, seperti apa sesal menggugah seseorang menjadi sahaja.

Ajari aku membawa diri hijrah dari luka sukma,
memaafkan memar memoar,
melupakan engkau yang dahulu.

Ketidaktahuanku adalah Engkau

Gampang bagimu, gamang untukku.
Kekanakan bagimu, kejam untukku.

Bahasaku tak cukup sederhana, tenang yang kau minta tak akan tiba. Barangkali pil paradoks memenuhi ambang batas puji dan caci, cinta dan benci, pulang dan pergi, kau dan aku. Seperti drama, katamu dahulu. Dan perangaiku perang dalam damaimu. Tapi keangkuhan mengetuk matamu, memeluk bisuku. Bukan aku yang tidak mengerti dampak dari ketidakpahamanmu atas hati. Hanya saja pantomimmu gagal kujabar. Hingga kini. 
Paksa adalah jalan pintas.
Bagimu, mudah untuk terbang dari satu tapak bekas musim dingin menuju daun gugur.
Mengiyakan adalah luruh; jadi aku di tepi udara sesakmu. Tapi tak cukup tegar dalam tegas, basah dalam kemarau.
Kau dan aku bukan lagi.

Sepanjang apa puisi yang mau kau baca. Selagi jemari masih bisa menulis engkau. Sekeras apa ingin kudengar, gigilmu dalam gemeretak gigi yang berjajar rapi. Meski tampaknya usai kini aku menatap. Diammu adalah tanda tanya. Tapi jawab bagimu. Selesaikan diriku dengan jamuan rupa baru yang terpotret di beda bilang.
Sebab apa yang kau tangkap, adalah apa yang tidak pernah aku lempar.
Siapa yang kudekap, adalah engkau yang menghilang.
Karena ketidaktahuanmu adalah aku.
Yogyakarta, 4 Mei 2016.

Surat Rahasia untuk Tuhan


Yogyakarta, 250415: 01.59
Allah. Semusim sudah semua yang dunia lemparkan di mukaku meluka. Semestinya sudah sembuh. Malah semakin parah. Seharusnya sudah tidak mengancam air mata meuncurkan diri. Malah menderas tiap kali, tanpa ingin kuingati. Wanita itu ternyata masih bersemayam membenamkan pundakku. Menenggelamkan kepalaku.

Tak bisa kusebutkan identitasnya dengan benar. Aku belum mampu mengungkap abjad-abjad lengkap yang menyusun namanya. Nciz. Entah, inspirasi dari mana, tapi begitulah pedengannya. Jangan bertanya siapa ia, bukannya aku tak bisa membeberkan secara rinci. Tapi tidak mau. Belum, barangkali. Kalau setiap pertanyaan selalu satu paket dengan jawaban, maka yang sanggup mempertemukan keduanya adalah waktu. Simpan dulu di kantongmu, seperti jabatan: semua ada tahapannya.

Nanti akan jatuh tempo giliranku mengagak-agihkan seluruhnya, dari ujung rambut sampai tepi kuku jemari kakinya. Bermula dari mana papilaku bisa mencecapi garis hidup wanita yang menyebut dirinya dengan, “Nyonya Besar”. Atau aku saja yang berlebihan menyebutkan titelnya.

Kalau kamu membaca tulisan—yang sudah mirip dengan manuskrip—sejarah ini, yang kau jejal di matamu barulah prolog. Mungkin jika huruf punya 26 abjad, ini baru satu tipe huruf “A”, padahal ada banyak jenis huruf “a”. Sedetil itu. Saking tekunnya aku meneliti renyutnya. Kalau yang lain berlomba-lomba dengan riset karya ilmiah, aku memilih menyelisik watak dari setiap gerigi ujung gigi yang tertata rapi. Saking seringnya, sampai-sampai aku hafal betul masing-masing batang tubuh punya kepiawaian sejak lahir untuk menggelapkan sisi yang mana dan menerangkan bagian yang apa. Secara kasatmata sama persis seperti guna shadding dan tintin—yang tak pernah absen di-request oleh wanita mutakhir abad ke-21 agar terlihat memiliki gagang hidung yang lebih menonjol seperti bule, atau tulang pipi yang lebih tinggi. Memainkan peran gelap dan terang demi tercapainya suatu keseimbangan dalam proporsi wajah yang bagi mereka banyak cacat di sana sini. Padahal justru jadi simbol kurang percaya diri. Mungkin, kurang percaya penciptanya, aku bilang mungkin. Tak terkecuali parasmu, lekukmu, lakumu, bahkan isi kepalamu yang kadang mondar-mandir atau beku, bahkan seringkali berjalan ke belakang, lama-lama hengkang.

www.fasihrdn.tumblr.com


Allah. Engkau Maha Tahu terdiri dari potongan apa saja yang sampai saat ini menguasai hati. Bukan hati yang  terletak dalam rongga perut sebelah kanan atau lebih tepatnya di bawah diafragma. Tapi serepih hati di dalam dada. Dalam ejaan arab ia bernama qalbu (khalbu), tapi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ia disebut dengan kalbu: pangkal perasaan batin; hati yang suci. Suci sendiri artinya adalah bersih; bebas dari cela; bebas dari noda; bebas dari dosa. Tapi Allah, aku bukan para nabi yang maksum. Bisa kiranya Kau toleransi kepayahanku dalam hal mengendalikan? Ah, Kau pastilah tenggang rasa atas kecengenganku dalam mewaspadainya: ia yang membawaku jatuh dalam kebobrokan iman. Plongah-plongoh menanggapi qada dan qadar.

Kalau kuhitung hanya dengan deret nomor bagian akhir menurut perhitungan matahari dalam penanggalan Anno Domini atau yang lazim disebut kalender Masehi, sudah bergeser dua digit. Atau boleh jadi, memang baru dua angka. Sederhananya, sejak tahun 2013. Dua tahun, kuulang, jika hanya kutaksir dari dua bilangan akhir. Tanpa bulan, tanpa tanggal. Iya, dua tahun, perlu berapa puluh kali kujabar dengan sabar. Kalau menyenangkan pastilah kuujar lebar-lebar dengan penegasan kata “baru”, bukannya “sudah”. Bisalah kau tebak-tebak sendiri, apa kiranya yang kurasakan selama dua tahun belakangan ini. Hidup yang menyedihkan. Seperti tanpa Tuhan. Sepi, senyap, seperti raga tanpa roh.

Aku sudah keluar orbit. Tanpa sadar. Atau pura-pura tidak sadar. Tidak lagi berotasi di jalur lintasan yang dibuat Tuhan sebagai acuan. Aku memecuti kudaku tanpa rute. Buta arah. Menyalahi Peraturan Baris-Berbaris, banjarku mencong sana-sini. Menjengul begitu saja dari shaf solat berjamaah di masjid sebelum salam terakhir. Bagaimana mungkin bisa terjadi revolusi mundur?

Bukankah jauh lebih terhormat menjadi mantan pembunuh berdarah dingin ketimbang mantan kyai besar yang diagung-agungkan? Tapi lihat baik-baik, jangan seperti aku. Lahir dengan kulit kuning langsat, lalu tumbuh dengan wajah kusam, nyaris pucat pasi. Mau berfoto dengan ekspresi apapun juga tetap tampak buruk rupa dalam lensa, lensa mata maupun kamera.

Kalau harus kurunut dengan cermat, tak kan habis kaupahami hanya dalam waktu satu-dua pekan, triwulan, caturwulan … bahkan sampai pancaroba membuat resistensimu melemahkan tubuh, mengeluarkan cairan lengket berwarna hijau—ingus—sekaligus meriang sambil batuk-batuk nyaris kanker paru-paru pun tetap saja tak akan katam. Bagaimana mungkin? Kujejaki bumi sejak 20 tahun silam dan mau kauselami hanya dalam semalam. Yang benar saja. Mungkin aku butuh kertas berlembar-lembar dan kau mesti berbetah-betah mengkhidmatinya. Atau aku perlu membuat novel sekuel seperti milik Dewi Lestari “Supernova” agar sampai diangkat ke layar lebar menandingi film fenomenal “Harry Potter”—seri satu sampai tujuh—mahakarya J.K. Rowling.

Allah. Maafkan hamba yang sudah berceletuk ngalor-ngidul tanpa alur sampai subuh membangunkan dengkur. Allah, aku sakit parah. Parahnya lagi aku justru ingin ada virus yang menyerang serebrum sampai masuk menggerogoti memoar yang semakin hari semakin tak pantas untuk diingati. Biar amnesia sekalian. Dan aku bebas dari kenangan. Kenangan inferior yang mutunya benar-benar rendahan. Persembahan dari nyonya besar untuk perjamuan (tiap) makan malam. 

Pantas saja aku selalu kekenyangan bahkan tanpa karbohidrat sehat semacam umbi-umbian.

Allah. Tubuh yang menyatu dengan tanah dan dahi beserta tujuh anggota lain yang menyentuh bumi jadi saksi. Bahwa aku memang nyata-nyata Kausayangi. Dan bertatap kata denganmu di satu pertiga menuju fajar adalah kesempatan yang tak pernah ingin kulewatkan. Aku tak perlu membeli perangko agar suratku sampai tepat waktu. Sebab surat ini akan Kaujawab lebih dulu dari surat lain yang diantar lewat kantor pos. Kumohon, percepat tenggatnya untuk melupakan nama yang justru lebih fasih kueja ketimbang namaku sendiri.

Hambamu yang penuh dosa,
Fasih Radiana

Kosa Kata yang Hilang: Tulus

Sudah kutemukan. Sore ini. Memelas. Wajahnya menagih untuk bersegera dipungut dari perasingan. Di sepinggiran rerintik hujan. 
Yang lalu menderas, menggenang di ujung jalan berlubang. Bersama kenangan yang berenang-renang ke tepian. Padahal sudah lama sekali—mati-matian kugempur dengan segala cara. Tapi nihil. Aku selalu gagal dalam melangis tangis. Karenamu. Turunan hawa yang katanya paling subtil seantero jagad. Padahal lamat-lamat kutelanjangi seisi dadamu, sekujur tubuh tak akan luput dari segala sesuatu yang artifisial: ecek-ecek.

Sudah kutemukan. Semalam tadi. Garang. Raut rupanya membenarkan diri: siapalah ia sesungguhnya. Meminta dijumput dalam jingga kemerahan yang sudah lunas dilahap alam.


Aku terkekeh. Meski tak sampai bising di telingamu. Sambil memeluki lututku yang masih terus terguncang ledak tawa. Bukan karena kamu lucu. Bukan juga sebab aku mulai tidak waras. Tapi sudah satu setengah tahun takdir begitu menggelikan. Tapi bukan salah tulisan Tuhan, mana ada predestinasi yang meleset. Padahal sudah terang-terangan angin menjabar kabar. Aku saja yang terlalu bodoh berseloroh dengan seseorang yang cakap kali mengabai.

Kalau lelaki yang nyaris 1460 hari mencecapimu saja alpa mengenaimu, apalagi aku yang baru sekelap mata mengintaimu. Kupikir mulanya kau adalah bidadari jelmaan yang diturunkan dari asilium. Tapi lambat laun kau tak ubahnya seperti si kulit hitam yang memaksa diri suntik vitamin-C demi kulit kuning langsat bak putri keraton. Sudahlah. Apa bedanya dengan aku?

Jebolan Sekolah Teknik Menengah bertransformasi menjadi dara yang gemulai menunggangi heels belasan sentimeter, dengan seraut wajah yang sarat dengan bersolek: pipi ranum; bulu mata lentik; dan bibir seperti bekas menenggak anggur merah.

Tapi tidak, bantahnya—sorot mata lain di lintas jejak tapak.

Yang terlihat nyata muncul menyembul justru kulit kusam penuh noda, wajah pucat-pasi seperti pengidap kanker stadium akhir, dan  flat shoes yang terdengar setengah diseret.

“Itu kamu,” ujarnya sambil menyodorkan cermin besar berukuran pintu.

Sudah kutemukan. Baru saja. Polos. Paras lugunya ingin mengambil posisi semula. Berharap diperankan kembali menjadi tokoh utama. Merayu dengan tersipu, menawar-nawar ragu padaku.

Was-was kalau aku tak acuh padanya. Kalau aku tiba-tiba sengiang naik-pitam. Menghina kenaifan seseorang yang pernah dikhianati sejenisnya. Aku menghela napas panjang. Ke mana saja selama ini? Bukankah tak ada yang salah dengan luka. Tidak juga dengan menjadi cela karena tak mampu berbaik-baik saja pada kengawuran olah rasa. Aku rasa juga begitu.

Cinta mana bisa tanpa hitung-hitungan. Ia tetap baku pada logika. Ia tetap mesti selaras dengan gravitasi, menuju yang paling hakiki. Mana boleh dimaafkan tanpa perjanjian ulang. Dan mana kusangka, ternyata tak hanya perlu dengan satu faksi. Ia butuh kedua belah pihak untuk dimurnikan kembali kadarnya dengan media netral: keikhlasan. Kalau salah satunya tak terpenuhi, maka mushil direstorasi. Sedang kau enggan menyelesaikannya dengan kepala dingin. Padahal kau tahu betul lantaran siapa ia nekat berkelukur darah menyulut air mataku sampai beku.

At Loops Cafe Jogja dan “Filosofi Kopi” milik penulis kenamaan Dewi Lestari

Dan sudah kuhabiskan satu tempo sampai bosan dengan reaksionerku sendiri. Yang terus saja menolak hilang ingatan. Memori justru berjalan mundur. Semakin lama semakin menusuk sungsum.

Sudah kutemukan. Di batas waktu. Diriku sendiri. Penat-tenat dengan segala yang memutari medan yang itu-itu lagi. Meminta tolong dengan bersujud-sujud di pangkuan hujan. Memohon lepas dari masa silam. Kau, pergilah. Aku sudah jengah mengupayakan hati untuk patos-asih pada laku yang tak tahu diri.
Terduduk di sudut kafe dengan gerimis yang tak lagi bisa disebut rerintik, membuatku mulai mengerti. Bahwa lebih baik tulus dalam membenci ketimbang berpura-pura mengasihi: padanya yang lalai pada hak orang lain. Apalagi dalam konstelasi cinta. Dan angka dua—sebut saja khianat—serta orang ketiga—sebut juga penggoda—tidak lagi punya kelayakan atas keutuhan afeksi yang murni.
Maka jika kuingat kembali rumus fisika sederhana bahwa aksi sama dengan re-aksi. Sekarang, aku tak mengapa bilasaja memang harus ada satu jiwa yang beroposisi denganku. Aku tak lagi kudu berfilantropis padamu, kan?



Karena membenci tanpa ketulusan hanya akan membuat seseorang memakan kebenciannya sendiri. Biar deras hujan yang mengguyur perlahan….



Dariku,
Yang berusaha mengikhlaskan kekhilafanku sendiri.
31 Maret 2014


Pembacaan puisi : My Soundcloud – @Fasihrdn

Biar Bukti yang Membangun Cinta

Lelehan air mata yang suka tiba-tiba menderas begitu saja adalah bukti bahwa luka itu masih juga menertawakan kepayahanku menerima takdir Tuhan. Mengikhlaskan satu masa yang direnggut tepian jingga, menggenangkan sisa hujan berbayang petang. Dan kesulitanku dalam memaafkan diri atas ingata-ingatan tentang satu ruang yang kauabaikan, yang kaudustai, yang sudah bisa disebut khianat oleh alam. Perlukah aku menceritakan ulang episode yang itu?
Baru saja, aku membaca tulisan panjang berjudul, “Aku Memilih Pergi karena Aku Mencintaimu.” Dan berhasil membuat bulu-kudukku merinding sembari gemeretak gigiku makin kacau. Pernah aku menyuruhmu pergi untuk kembali pada wanita yang sudah lama bermain-main takdir di hatimu. Jauh sebelum aku menemukan bola matamu kosong di remang purnama malam itu. (170913)
Aku sudah melipat-lipat kenangan dengan begitu rapi, tapi memoar memaksa diri untuk bermunculan keluar dari sarang, membobol besi-besi yang susah payah kupasang di setiap celah dengan parang. Sudah itu lalu aku bisa apa?
www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn

Itulah jawaban mengapa kala itu bukan aku yang meninggalkanmu hanya sebab aku merasa kau cabik-cabik harga dirinya dengan menyimpan dua nama di hatimu. Aku mempersilakan derapmu bepergian untuk menuju yang sehati-sejati, berlarian mencari sampai lelah sendiri. “Aku mencintaimu” hanyalah pernyataan simbol kepedulian tak terbatas. Patutkah aku menahanmu di sela-sela jemariku yang ternyata bagimu tak begitu pas untuk ukuran tanganmu. 
Saat itulah waktu yang tepat untuk mengajakmu memainkan puzzle. Kalau kamu terlalu lamban memutuskan maka aku berhak memberimu jangka waktu kan? Karena membiarkanmu memilih sendiri siapa yang akan kamu tuju di saat kamu semestinya menjaga kesucian janji justru seperti menggantung diri. Aku seperti sedang bunuh diri. Tapi aku sudi menanti keputusan yang sudah kutahui sahutannya sejak dini. Karena aku telah memastikan segalanya berputar sesuai poros. Akan ada penjelasan atas apa yang tidak bisa kuselesaikan sendiri. Ada Tuhan yang menggerakkan tangan, kaki, juga hati. Ada doa yang begitu hebat menjalar sampai ke nadi. Selanjutnya biar suratan yang membawamu kembali kemari, kalau memang akulah yang paling tepat melengkapi, kalau kitalah yang ditunjuk Tuhan saling menggenapi.
Ya, setidaknya (dulu) aku tahu persis seberapa seluruhku merelakanmu meski dengan layuh-luyu.
Sudah ingat bagian yang itu? Sudah coba kau ubrak-abrik dengan jeli satu adegan yang singkat tetapi begitu lama untuk digentaskan. Bagimana kamu diam-diam menggandeng yang lain, betapa lihainya bermain petak-umpet denganku. Dan tidak hanya satu-dua kali kau meminta maafku, berkali-kali pula kumaafkan. Tapi bahkan maaf tak akan pernah sanggup mendaur ulang perasaan. Sekalipun maaf dibicarakan dengan air mata, tak pernah bisa mengubah satu babak yang telanjur usang.
Tidak, Sayang. Aku tidak sedang menukasmu dengan tuduhan lawas menyoal itu-itu saja. Masih juga perkara serupa. Masih sebab angka dua. Bukankah suatu kesalahan besar selama ini aku berusaha mensutradarai bilangan Tuhan? Membaginya dengan nomor ganjil. Memangkas habis semua upayamu mengganjar kesalahan di masa silam. Bukankah semestinya aku berhenti saja di putaran ini? Tapi ikhlas belum juga menemuiku seperti janjinya. Atau aku saja yang tidak menyadari ternyata ia sudah sering mencoba menyapaku tempo hari, tetapi aku terus menyangkalnya. Aku menepis, melempar, mendorongnya hingga jatuh berserak.
www.fasihrdn.tumblr.com
Tolong, jangan membacanya mentah-mentah. Ini bukan somasi untuk bersegera meminang, meski memang semestinya menyegerakan menghalalkan yang dibilang itu cinta. Tapi yang lebih mendalam dari semua itu adalah kesiapan. Coba uraikan per kata, terselip apa di balik biji di setiap kata. Sudahkah cawis menghalau curiga. Sudahkah katam saling pahami sampai ke tapak hati. Sudahkah tanggap menyeka air mata, atau sudahkah benar-benar satu-satunya di setiap detak detik bahkan di tempat yang paling redam diam dan tersembunyi. Sudah aku sajakah? Sudah kita sajakah?
Jingga tak pernah muncul lagi setelah Jogja kehilangan muara langit. Setelah air mata satu tahun yang lalu tak juga kembali pada sangkarnya. Senyum membeku di sudut bibir dan aku seperti memainkan peran ganda. Mencintaimu dengan luka yang mengendap senyap. Tak juga lenyap. Tak pernah bisa enyah. Justru semakin menganga, semakin meradangi gelap-terang jatuh menampar-nampar muka.
Betapa kerasnya aku mencoba melupa, tapi bulir-bulir keringat menolaknya. Memuntahkan seluruh isi kepala. Bisa kau bayangkan ia membusuk di setiap sekat tulangku. Pula kurasakan nyaringnya telingamu pada gaung jejas yang menggema. Kita sama-sama sedang butuh perekat yang lebih erat dari sebuah genggam. Tuhan.




250215~Apa tak bisa kita mulai saja kembali dari awal? Biar kubukakan lewat pintu yang lain. Biar kembali pada purnama yang baru. Seolah-olah tak pernah ada kita sedari dulu.

Dan Bila Kau adalah Keseimbangan

Aku masih bisa merasakannya. Masih mengingati diri penuh air mata mendoa(mu) dari sini; dalam teduhnya sujud dini hari.
Aku tak pernah senang hiruk-pikuk keramaian kota, kecuali memutarinya bersamamu.
Aku tak pernah suka bising dunia nyata, kecuali mendengarnya denganmu.
Aku tak pernah bisa bercerita menyoal kerapuhan yang berdiam di dadaku, kecuali dengan bola matamu.
Entah, sebab kau memang bagian dari doa yang makbul ataukah hanya aku yang memaksakan kamulah orang itu—seseorang yang memang Tuhan izinkan berbagi bagian dari tubuhnya untuk menjadi separuhku.

Sudah lama kiranya, aku mengacak-abul kosa-kata. Kujadikan serangkaian kalimat cinta. Kujabar dengan begitu sempurna. Sejak tahunan lalu, sebenarnya aku tak pernah mengerti aku ini bicara apa. Semua hanya seperti kutipan film “Supernova” karya penulis kenamaan Dewi ‘dee’ Lestari yang sedang gencar ingin ditonton jutaan orang. Meski aku terlihat berada dalam batas ekuilibrium atau keseimbangan yang begitu baik-baik saja, nyatanya selalu dibersamai dua sisi koin yang bersebrangan.


Terkadang aku ada tetapi meniada. Sering kali aku tiada tapi begitu lekat dirasa. Kau tak akan pernah mampu menembus batas langit untuk menemui “bintang jatuh” ketika tak berada dalam frekuensi yang pas. Jatah pikir paling tinggi yang akan membuat logikamu jungkir-balik. Entah mana yang perlu didahulukan; dicintai atau mencintai. Kurasa, perlu keduanya sekaligus bebarengan.

Aku pernah begitu tegar dalam sendiri yang sabar, sebelum engkau menjamuku dengan peluk berjam-jam.
Aku pernah begitu tabah pada biasa yang jengah, sebelum engkau meramu rindu dalam jarak satu-dua mili.
Aku pernah begitu enggan ditemani sesiapa, sebelum engkau melucuti hatiku, tubuhku, segalaku pelan-pelan.

Sampai tiba aku bertanya:
Engkaukah?

151214~Lalu siapa yang sanggup menjawab….

Denganmu, Kita Baik-Baik Saja Kan?

more quote www.fasihrdn.tumblr.com
Tak perlu kau minta, aku akan selalu melakukannya. Merevisi diri berkali-kali. Demi napasmu yang memenuhi seluruh ruang di hati. Meski tahu betul ada yang tak setuju dengan lekatnya jemari kelingking mencecap janji (lagi). Bisakah gelas pecah itu utuh kembali? Sanggupkah kita baik-baik saja sampai semua selesai?
Kali ketiga aku memberimu gagang pintu tanpa kunci. Masuklah. Barangkali kau lebih paham bagian mana yang perlu direnovasi. Kusebut waktu ini kesempatan terakhir sebelum akhirnya kita sama-sama tahu, sejatikah? Masih sejauh mana aku menggandeng kegelisahanku untuk kulumat bersamamu. Kau ganti yang perlu diperbaiki dengan doa yang kembali berujar dari setiap putaran tasbihku. Maka berdoalah pula sesering mungkin, berusahalah sebanyak mungkin. Meski tak selalu tampak di matamu, aku tak pernah hilang meski dalam bayang.
Aku ingin menangis, ah, setiap aku ingin menangis … bolehkah berhambur ke dalam pelukmu?
Sehangat apa dekapmu membasuh peluhku. Bosankah dengan ceritaku yang menggebu dengan kalimat itu-itu lagi. Sayang, jangan pernah beritahu mereka selemah apa ketika aku denganmu. Meski aku kerap berbalik badan memutar-mutar lagi kisah lama seperti kaset rusak. Tapi tak pernah terbesit untuk bepergian mencari yang lain, atau berbalas luka denganmu.
tweet me @fasihrdn
Lebihkan sabarmu dalam menasihati(ku). Jangan lelah seperti aku tak pernah kehabisan daya saat menanti(mu). Kau tahu, terkadang aku lelah, ingin sendiri, meski kini bagiku sendiri adalah bebarengan denganmu. Lalu biarkan aku berteriak pada Jogja, kubilang, “Usir aku, Jogja!”. Sebab masih saja sering digentayangi masamu yang telah usai. Yang nyatanya lebih hapal jalan menuju tempat-tempat yang asik untuk diduduki berdua saja. Sumpah, aku ingin melupa. Tentang satu nama yang tak juga hilang dari kepala. Aku ingin bebas dari hati yang tak juga lepas. Aku tahu, semestinya sebaik mungkin mempersiapkan masa depan, bukan malah mundur ke belakang; mengingat yang menyakitkan. Tapi lagi-lagi, kutemui diri dalam dilema. Bagaimana lagi caranya agar tenang tanpa takut kehilangan. Perlukah aku mundur perlahan? Lalu meninggalkan hati untuk diganti dengan yang lebih baik membersamai(mu). Tidak, kau juga bilang tidak kan?
Tuan, coba baca segalaku dengan saksama. Adakah keikhlasan dari ketulusanku masih juga belum cukup sempurna? Baiknya kau lengkapi ruh dari seluruh raganya.
Pernahkah kau perhatikan kerut di keningku? Terkadang ia lelah membuatmu marah. Sempatkah memperhatikan bekas sembab di mataku? Melingkari bola mata. Ia sering meminta satu kecup pertanda kau akan menjaga segala tetap baik-baik saja. Lengan yang tak akan lepas mengerat, jemari yang semakin kuat menggenggam. Lalu kukatakan, aku bersedia menjadi rumah tempatmu merebah resah.
310814~Kalau sampai pada waktunya kita bertemu dengan sesuatu yang menyulitkan diri, menggelisahkan jiwa … jangan berhenti. Kau dan aku tahu apa yang tak mudah diraih adalah yang akan mengubah dirinya jadi paling indah. Fighting! 

Kau Tahu Mengapa Aku Tak Suka Kenangan

Ia kejam. Bila kau tak benar-benar paham cara mengingatinya.

Pada daun yang gugur di musim hujan, ada jalan memutar untuk lebih dekat menuju rumah singgah. Agar terlindung dari gigil gemetar sebab tetesnya makin deras mengguyur mata kaki. Kau tahu mengapa aku lebih memilih melaju sampai menemui rumah singgah berikutnya. Karena aku tak pernah punya waktu menoleh ke arahmu, masa yang telah kutinggali.
Pada mata sendu yang mengaku sudah berlayar jauh dari waktu, aku melihat diri dalam diri yang lain. Tersenyum, tapi air matanya bercerita. Mengisah soal hidup yang angker pada suatu masa, di langit dari jari telunjuk pada senja dalam jingganya. Tapi menikmati malam jadi pilihan untuk menghitung bintang yang berjejer dengan kemungkinan-kemungkinan untuk bersegera menjadi pagi. Kau tahu mengapa aku lebih suka menyuguhkan tatap tegas tanpa pengulangan. Ia jelas. Ia tak pernah membiarkan bola matanya mengubrak-abrik air mata yang telah membeku. Ia tak pernah patuh pada semu. Ia tak pernah suka merindu.
Padanya, diriku yang sudah jatuh tempo. Aku tak pernah menggali memori untuk kukhidmati kembali masaku yang telah habis. Karena ia begitu suci. Bukan untuk kutawar berkali-kali. Bukan untuk kurangkum menjadi suatu kisah lama yang terungkap begitu saja. Biar menguap, menjadi asap dari kayu-kayu pada batang yang rapuh, tumbang tahunan lalu. Kau tahu mengapa aku memperbarui mula dari setiap kata. Memperbaiki akhir dari setiap paragraf.
www.fasihrdn.tumblr.com
Padamu, aku tak suka. Kau tahu mengapa.

Jemarimu menyeretku pada jarum jam di putaran yang tak kutahu kapan pernah bertemu. Diksi baru dari gaya bahasa lama. Mengajakku mengukur petak dengan berjalan mundur. Memanggili kenanganmu sendiri. Jemu aku pada polahmu. Padamu, kau tahu mengapa aku tak sudi menoleh ke belakang, berbalik badan.
Kenangan bukan untuk kaulumat bersama masa depan. Bukan untuk kausuap dengan sendok tua dari masa silam. Kau tahu mengapa aku tak pernah mengajarkan padanya—hati yang leleh dalam darah—untuk mengaduk-aduk yang pernah jadi kudapan. Sebab ia bisa mengubah sederhana menjadi begitu rumit. Jejak rapat yang merenggang. Kau tahu mengapa, aku tak suka padamu, bunga kata dari percakapan satu abad yang lalu.
Aku mengingat dan kamu mengenang. Tolong, bedakan.

Maka kuingatkan kembali. Kamu salah bila menjadikannya ruang untuk berbenah. Ia tak pernah memberi jalan untuk pulang, jaraknya terlalu panjang. Kalau kau bilang ia penghantar kebaikan, omong kosong. Sebab ia bukan tempat untukmu belajar. 

Lalu jika nanti kau dan aku adalah bagian dari kenangan, jangan pernah mengingat-ingat aku, meski barang sebentar. Sebab sudah kuberitahu padamu, mengapa aku tak suka kenangan. 
180714~Aku tak perlu menjadi bayang-bayangmu kan, kenangan? Aku memilih undur diri bila itu terjadi.

Posesif

Aku bukan tipe wanita yang posesif, Sayang. Boleh kau tanyakan pada ia yang sempat membarengi langkahku. Aku tak pernah merasa memiliki. Itu prinsip yang sejak lama kuteguhkan dalam diri.
Aku bukan tipe wanita posesif, Sayang. Coba saja tanyakan pada ia yang pernah menjadi bagian dariku sebelummu. Aku tak pernah mencemburui siapapun, kecuali sedikit sekali dan sebentar saja. Sebab aku tak pernah merasa berhak memiliki. Itu prinsip yang selalu kumasukkan dalam hati.
Aku bukan tipe wanita posesif, Sayang. Bisa kau tanyakan pada ia yang dulu memenuhi hari-hariku. Jangankan cerewet soal ini-itu. Bertanya sedang apa pun tidak. Kuberi seluas-luasnya kebebasan untuk bepergian ke  manapun, bahkan tanpa aku. Aku juga tak suka sama sekali dijejali pertanyaan sedang apa, di mana, bersama siapa, sudah makan atau belum, dan pertanyaan-pertanyaan klise lainnya. Sungguh, kalau memang peduli, jangan hanya bertanya. Langsung saja menemuiku, membawakan makanan, memberikan hadiah sekalian. Itu prinsip yang sejak awal kuterapkan, tak perlu memelas perhatian. Aku tak membutuhkannya.
Jangankan kepada lelaki yang baru hitungan jari kukenali, kepada orang tuaku pun, aku tak pernah meminta barang sedikit saja perhatian. Tak perlu mencari-cari. Aku bukan wanita semacam itu. Silakan bertanya pada orang tuaku, berapa kali mereka tahu-menahu aku sakit. Kalau masih bisa kusembuhkan, kulakukan sendiri.
Bukan sebab aku angkuh, bukan juga rangah merasa bisa melakukan segala tanpa sesiapa. Tapi ini menyoal habits, Sayang. Kebiasaan yang diajarkan kedua orang tuaku membuatku tumbuh menjadi wanita yang malu jika meminta sesuatu—semacam perhatian—kepada siapapun juga. Bukankah perhatian akan berdatangan dengan sendirinya jika seseorang memang layak diperhatikan? Sebab itu, aku selalu mendapatkannya tanpa harus mencari apalagi merengek ke sana-ke mari, tetapi membaikkan diri dan akulah yang dicari untuk diberi.
Sayangnya, ada lelaki lancang tetiba memasukiku tanpa aba-aba, tanpa peringatan, tak juga dengan permisi. Mengkoyak seluruhku. Aku hilang kendali.

Perlukah bertanya siapa orangnya? Atau di mana saja letak posisi sumsumku bergeser lalu berjatuhan dengan perlahan.
Aku bukannya posesif, Sayang. Siapalah wanita ini, berani-beraninya mengatur polamu. Tapi aku tak suka melihat wanita lain lebih pandai membuatmu tersenyum ketimbang aku. Aku tak bisa mendengar tawamu lebih renyah dengan yang lain daripada dibuat olehku. Sungguh, aku tak sudi ada wanita lain menatap lama-lama seraut wajahmu.
more quote www.fasihrr.tumblr.com | follow me @fasihrdn
Aku bukannya posesif, Sayang. Aku hanya ingin tahu saja di mana kamu berada, sedang apa, dan kalau boleh tahu, dengan siapa. Bukan ingin membuntutimu, apalagi memintamu menghubungiku sepanjang waktu. Bukan itu. Aku hanya perlu kabar darimu agar tak terus-menerus kutunggu. Jangan kira aku tak mengerti kamu mulai terganggu dengan itu, aku tahu betul kamu butuh ruang untuk melejitkan potensi, memperbanyak relasi, dan menikmati duniamu sendiri. Begitu sulitkah meluangkan waktu barang satu menit saja untuk berbicara soal jadwalmu, membuatku tak perlu merasa jadi wanita dungu yang mencari-cari tahu keberadaanmu setiap waktu, apa harus selalu aku yang mencecarmu dengan kalimat tanya yang itu-itu juga?
Ah, haruskah kuulangi berkali-kali bahwa kamu punya satu kesalahan besar waktu itu, menjejakiku dengan dusta. Tak wajarkah jika aku masih bisa merasakan getir begitu takut kaubohongi kembali, diam-diam bermain dadu di belakangku. Menyampaikan rindu pada masa lalu. Meskipun semestinya kautahu, kesalahan hanya terjadi satu kali. Kalau terjadi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, itu bukan lagi sebuah kesalahan. Itu adalah pilihan.
Sungguh, aku bukannya posesif, Sayang. Tapi denganmu terkadang aku jadi ingin bermanja, sebentar saja. Sesekali jadi suka mengeluhkan ini-itu. Tapi kaubilang, aku tak dewasa, begitu kiranya aku jadi sungkan mengungkap kerinduan, enggan bilang sedang ingin diperhatikan. Lalu merasa hina karena tetiba kehilangan harga. Mengapa jadi ingin ditanyai apa-apanya?
Ingin sekali rasanya berhenti sejenak dari rutinitas ini: mencintaimu. Lalu mengintaimu tak lagi jadi kebiasaan baruku. Aku ingin menjadi aku yang dulu, sebelum kau ubrak-abrik prinsipku. Tenang, Sayang. Kalau kau tak suka dengan ini, sedang kuusahakan untuk tak lagi ingin tahu semuamu. Kucoba berhenti mengeja semua huruf di jejaring sosialmu. Beri ruang untuk waktu, barangkali ia sendiri yang akan menghapusku.
120714~Tapi kuberi standing applause buatmu, Sayang. Membuatku akhirnya merasakan betapa resahnya menjadi wanita. Membuka kedok keangkuhan yang kubungkus dengan apa yang kusebut prinsip. Nyatanya, aku masih juga bisa merasa lemah atas kepayahanku menjaga yang kukira kehebatanku selama ini.

Surat Terbuka untuk Calon Presiden Rumah Tangga(ku)

Sungguhlah aku tak patut menuliskan suara hati ini teruntuk kau, yang belum kuketahui benar atau tidaknya akan menjadi masaku di waktu yang akan datang. Tapi izinkan aku menulis surat ini teruntuk engkau, sebagai seseorang yang kuperjuangkan, kuusahakan, dan kumasukkan dalam barisan doa di setiap malam nyaris menjadi pagi.
Bukan aku meragukanmu, Sayang. Ini hanya menyoal waktu untuk percaya pada apa yang pernah kau jadikan dusta. Mahluk berinisial “adam” yang konon katanya memang sulit sekali bersetia. Atau aku saja yang terlalu takut untuk seutuhnya kembali percaya.
Bukan aku mencurigaimu setiap waktu, Sayang. Ini hanya bagian dari ketakutanku atas memoarmu yang barangkali, masih kerap lalu-lalang di pikiranmu, di sengal napasmu, di jejakmu, di sudut hatimu yang tak kuketahui. Sungguh, aku tak bermaksud untuk mencemburui masamu yang telah lalu. Ini hanya perkara gelisah yang mestinya kau peluk erat-erat agar tak berlama-lama tunduk pada prasangka.
Bukan aku tak yakin pada kesungguhanmu saat ini, Sayang. Ini hanyalah debu sisa-sisa luka yang masih belum bersih juga. Bantulah aku, meniup serdak yang mulai mengkerak. Jangan biarkan aku menggigil sendirian pada harap yang masih separuh kugenggam.
Kau tahu, pada masamu yang telah lalu. Aku seperti orang asing yang dipungut lalu diasingkan kembali.
Bukan aku bermaksud selalu mengungkitnya kembali, bila aku mulai membicarakannya lagi. Tolong, pahamkan aku bahwa aku yang salah mengira. Aku yang salah menduga. Hanya aku yang berlebihan mengartikannya.
Jadi….
Bisakah bersetia pada satu nama dalam doamu, namaku saja. Meski sungguh, dalam doaku pun kuminta Allah selalu mendekapmu lebih erat dari cinta yang kupunya, lebih dekat pada perintah-Nya ketimbang padaku yang sebatas wanita biasa.
Dalam keterbatasanku, Mas, kuharap mampu memenuhi celahmu yang diam-diam ternyata rapuh juga dalam ketakutan melewati batasan waktu yang terus saja mengejarmu. Meski katamu, cinta tak pernah butuh alasan. Tapi pada alasan apapun itu, aku mencintaimu sebab kamulah alasanku.
Salam,
Fasih Radiana



010714~Ini bukan surat berisikan kegalauanku, Sayang. Ini surat teruntuk apa yang baru saja kukenali kembali, seluruhmu. Bantu aku.