Melupa Luka, Melawan Kenangan

www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn
Rasa-rasanya rasa tak lagi terasa. Tinggal asa yang dipaksa bergelantungan tinggi-tinggi agar lengan tak bisa memecah rencana. Membelah harap yang diusung sejak lama. Tahukah kau bahwa dalam dada debar begitu kencang saling tikam angan dengan silam. Begitu sesaknya tak bisa kucapai meski dengan tengadah berlama-lama. Sebab hujan yang basah adalah perangaimu, begitu dibilang kosokbalen dari daun gugur di musim kemarauku.

Kita adalah dua yang terlampau beda dari ujung kaki sampai kepala.
Bukan telak karenanya, tapi fatalmu yang terlalu berisik mengobrak-abrik sahaja. Tahunan dua dinding saling tikai, baku hantam dalam diam-diam menyusun dendam. Aku yang tak betah berlama-lama tanpa damai pula tak mampu memasung luka. Ruam-ruam bekas angka dua telah menjalari bahagia, merobek-robek cita-cita. Kau pun tak sanggup jadi benang jahit pasca operasi sesar. Apalagi ia, anggak-agul, angkuh kali padahal sudah jelas jadi tersangka. Bila saja melupa tak sesulit si buntung meraih bintang, sudah pejam segala dari ingatan.
Kau.
Dia.
Dirinya.
Semula kukira, melupa luka tak harus dengan cara membenci kenangan. Tapi ternyata, kita mesti siap jadi prajurit di garis paling depan. Melawan apapun yang menghambat masa depan.

Bila Jodoh Berinisial Engkau

Lebur aku pada purnama di bulan ke sembilan, pada mata yang membulat di separuh petang lampu pijar. Petak yang tidak akan bisa dirujuk ulang. Angka demi angka dijejer beranak-pinak: merenggangkan ruang, mendekatkan bayang. Segala debur debar ubahnya jadi buih yang menjijikkan. Kita sama-sama tahu menyoal apa-apa yang tak kunjung selesai. Tapi tak lagi punya cara menghabiskanya. Sudah terlalu kenyang untuk melumat paksa, tapi sayang bila dimuntahkan begitu saja.
Jarak tak bisa menaksir rindu yang luber menjadi deras hujan di sepanjang jalan. Yang bermunculan justru kenangan berbau amis dan secarik memoar berlapis tangis. Cinta, mengapa berlarian seperti kerumunan semut yang diguncang jemari keriput? Tapi sesendok gula tak ikut di-lap basah, dibiarkannya berserak seolah memang sengaja disiapkan untuk selalu dirubung lagi.
Waktu terlalu samar untuk bisa ditaksir kapan akan tiba semula, atau hilang tak berbekas. Aku selalu nihil dalam bermain dadu, kau pun tak punya daya mengocok kartu. Kita sama-sama dipaksa buta dalam satu waktu. Tapi cinta, apakah selalu harus terasa seperti kali pertama? Setelah seluruhku diisap harga dan kau tak pernah lunas membayarnya. Jika tak pernah ada jalan pintas menuju pulang, kita mesti patungan untuk sampai di pulau sebrang.
Semisal yang kusebut dengan “engkau” masih berinisial tanpa nama, apa mungkin aku kan lebur lagi pada purnama di bulan yang lain, di mata yang separuh menghilang pada pekat senja? Engkau, yang tak kutahu seberapa sering menyebut-nyebut namaku dalam doa. Aku, yang tak juga menemukan cinta menjadi seutuh purnama.

Yogyakarta, 24 Mei 2016
Fasih Radiana

Pergilah dari Jogja(ku)

more quote www.fasihrdn.tumblr.com | @fasihrdn
Mbak, barangkali kaulah mata pertama yang dapat mengartikan sekumpulan tulisan-tulisanku ini. Sebab kaulah yang paling tahu secarik kertas yang tak lagi suci ini kupersembahkan tanpa perangko tepat teruntuk dirimu yang masih juga lalu-lalang dalam jemariku. Surat-surat ini boleh dibaca siapapun. Kau pernah bilang, tidak suka aku menuliskan dirimu. Ah, siapa pula yang tahu yang kupanggili dengan sebutan “Mbak” adalah dirimu. Kini kutemui jawabannya. Kau begitu takut kekasih barumu tak sengaja menemukan abjad-abjadku menggantung di gemeretak giginya.
Mbak, hari Selasa, lewat tengah malam, kau nekat menghubungi seseorang yang dulu begitu kau cintai. Mungkin hati kecilmu pun masih merasakannya. Tahunanmu dengannya. Hanya karena kamu menemui kekasih barumu—yang ternyata berprofesi sebagai Angkatan Darat—mengonfirmasi permintaan pertemananku di salah satu jejaring sosial.

Boleh kudeskripsikan bagaimana ekspresi wajahmu, gelagat lakumu, sehingga kamu begitu kelimpungan dan “wadul” pada mantan lelakimu bahwa aku berkawan dengan kekasih barumu. Agar apa kiranya, Mbak? Padahal ia sudah lebih dulu tahu. Sebab aku tak pernah menyembunyikan apapun seperti kamu yang piawai bermain petak-umpet. Tapi tahukah bahwa akan ada satu titik pertemuan. Entah di dinding yang mana kamu akan ketahuan?
Lalu paginya kamu bertanya padaku. Apa yang harus kau lakukan agar aku berhenti mengusik hidupmu. Salahkah aku berteman baik dengan kekasih barumu seperti aku membolehkan kamu diam-diam “bersahabat” dengan mantan lelakimu dulu? Tidak. Kecuali kamu takut seluruh rahasia akan terbongkar begitu saja. Kamu salah besar jika berpikir aku akan banyak bicara demi membalaskan kesakitanku. Sebab Tuhan tak pernah mengizinkan aku untuk mendobrak apa yang telah kaususun dengan begitu rapi. Tuhan hanya membiarkan aku tahu. Cukup dengan itu.
Kujawab baik-baik pertanyaanmu. Aku ingin kamu pergi meninggalkan kotaku. Pergilah dari Jogjaku dan jangan pernah kembali meski satu detik saja. Pergi dan bawa seluruhmu. Atau perlukah aku mengadu pada Jogja agar ia sendiri yang akan membuatmu angkat kaki.
Tapi apa jawabanmu? Kamu tidak mau. Kamu tidak mampu.
Kalau begitu, bair waktu yang menentukan kapan semestinya kakimu tak lagi mampu berpijak seenaknya di sini, berkeliaran seperti milik sendiri. Biar ia yang memberitahu padamu, ada adat sekental apa di Jogja yang membesarkan tenang di puncak gunung sampai tepi lautnya.
Kuberi sedikit bocoran. Tak pernah ada “khianat” dalam langgamnya. Berhati-hatilah, berkawan dengan Jogja. Tentramnya hanya berlaku pada yang menenangkan.
Salam,
Dariku dan Jogja
12-14 Mei 2015

Bila Kau Bukan Takdirku

Dan sejauh ini aku bilang aku mencintaimu. Lalu dengan itu kau mengaku mencintai seluruhku. Sejatikah?
Ada ruang dalam rongga dadaku, ia bilang kau tidak.
Ada lubang dalam embus napasku, ia bilang kau tidak.
Ada belulang dalam tubuhku, ia pun bilang kau tidak.

Dan sejauh ini kuucap rindu berkali-kali, lalu dengan itu kau membubuh rindu ke segala pintu. Abadikah?

Masih ada ragu, kataku.
Masih juga menyimpan pilu, batinku.
Sayang.
Aku tak pernah suka mendengar sebutan itu membumbung sampai ke gendang telingaku. Skeptis bahwa itu salah satu bukti seseorang benar-benar merasakannya mengaliri rusuknya.
Tapi denganmu aku bersetia menunggu “sayang”-mu mencumbui pendengaranku.
I love you.
Aku jejap dengan kalimat yang katanya romantis. Aku geli dengan bualan yang terlalu dini untuk bisa dipercaya keberadaannya di dalam hati.
Tapi bersamamu aku selalu merindu “I love you“-mu menjejali gemeretak dalam gigilku.
Dan sejauh ini aku hanya ingin menapaki langkahmu sampai benar-benar berhenti di satu petak yang kusebut takdir. Meski jauh sebelum hari menjadi terlalu dingin, pertemuanku denganmu sudah kunikmati sebagai bagian dari takdir.
Ada bagian di semuaku meyakini seutuhmu. 
Di waktu bersamaan, aku was-was kalau saja ternyata segala milikku tak juga pas menggenapimu.
Sayang, dengarkan aku. Bila saja jodoh bukan di genggamku menyela jemarimu. Bila saja aku bukanlah akhiran dari bait puisimu, atau ternyata kita tak pernah dituliskan untuk menua di atap yang satu … bibirku akan semakin lihai mendoamu, lalu akan ada tangan yang semakin lama bertengadah sampai fajar nyaris pecah. Biar patah takdir-takdir yang barangkali salah.

Sebab setiap kali kauakhiri dialogku, kulumati kalimat-kalimat rindu sampai habis waktu menunjukkan pukul tujuh. Setiap kali kuakhiri ceritamu, kaukunyah kata demi kata cinta sampai habis ruang subuh.

041114~Kubuang jauh-jauh larik di awal tulisanku, bantu aku menghapusnya biar tak ada celah bagi yang lain memasuki kau dan aku. I Love you.



Salam, 
Fasih Radiana

Ajari Aku Membahagiakan Kita

Salah.
Kalau aku mengira dengan cinta, kau akan begitu saja percaya.
Lalu berbahagia.

Salah.
Kalau aku berpikir dengan setiaku, kau akan begitu saja percaya.
Lalu berbahagia.

Salah.
Kalau aku merasa dengan kesalahan masa silam, kau tak bisa begitu saja kupercaya.
Lalu tak pernah berbahagia.
more quote www.fasihrdn.tumblr.com
Sudah sejauh ini, Sayang. Tapi ragu masih kerap lalu-lalang di antara kau dan aku. Sebab yang itu-itu lagi: masa lalumu, atau lakuku yang bagimu ternyata pilu. Aku lupa, kapan terakhir aku merajuk. Ingatkah kapan terakhir kali kau tiba-tiba diam dan aku pulang dengan kita yang terlibat dalam prasangka. Kita yang menyimpan amarah. Kita yang menyembunyikan kecemburuan, atau kita yang tetiba jadi saling mengasing.
Tak bahagiakah denganku, Sayang?

Terlalu dini menyampaikan ini. Bahwa sebenarnya aku benci mengatakannya. Mencintaimu. Yang awalnya kupikir hanya egoku membahagiakan diri. Nyatanya aku tak perlu kamu memberiku bahagia, terlalu pedih merasakanmu terluka dan sering aku tak mampu mengartikannya. Yang mulanya kukira hanya hatiku yang begitu rapuh tanpamu. Nyatanya aku bisa jadi begitu ampuh saat kau sedang jatuh. Aku paham, Sayang. Kita sedang berusaha menyatukan dua kebiasaan yang berbeda. Kita sedang mencoba menyelipkan jemari yang berukuran beda, meletakkannya pada genggam yang tak kan bisa dilepaskan oleh apapun; siapapun. Kau tahu, Sayang? Memang tak mudah untuk dua kepala, dua hati, dua raga, dua pola, dan segala yang dua untuk melebur dalam satu jiwa.
Tapi sekali lagi, ingatkah bahwa perlahan ada yang samar-samar mulai tak lagi tampak di permukaan? Aku tak lagi amuk bepergian sendiri. Kau tak lagi sesering dulu meredam ribut di dadamu.
Tak bahagiakah denganku, Sayang?
Aku takut mendengarnya. Karena pernyataan sebelum ini sudah menjadi jawaban bagiku. Bukankah sebenarnya mudah bagi kita memahami tanpa berbicara secara rinci? Sebab kau sendiri yang bilang, ada bagian yang sama persis. Meski nyatanya kita tetap sama-sama butuh pengulangan kata yang tegas. Agar tak salah mengira-ngira. Agar tak salah tuduh rasa. Agar lebih mudah membahasakan kekecewaan. 
Kalau begitu maki aku sepuasmu, Sayang. Sekarang juga. Sampai remah-remah amarah tak lagi merumah. Biar aku meramah. Biar aku bisa memelukmu erat-erat. Biar aku juga merasakan degup yang terdengar begitu kencang meski hanya dengan membacamu. Biar kau tahu, seberapa dalam aku mencintaimu.
Lalu, tak bahagiakah aku denganmu, Sayang?
Meski kerap kali kupertanyakan mengapa dulu kaulakukan: menghabisi air mataku. Meski masih sering kujumput lagi kisah bekas luka lama, sampai bosan membumbung di gendang telingamu. Butuhkah jawaban dariku. Berbahagiakah aku denganmu?
Ajari aku cara yang paling pas untuk meyakinimu. Maka ajari aku memasuki tulangmu. Merangsuk ke sumsummu. Ajari aku membahagiakan kata ganti dari kau dan aku: kita.


131014~Maka kuajari kau caranya membahagiakan aku: cintai saja, seperti tak pernah kaukenali wanita selain aku.

Wanita di Sudut Mata

Kudengar kabar lewat lirik-lirik beriring akustik. Kudengar suaranya memecah kerinduan. Kudengar bicaranya masih juga meluruhkan kegundahan. Kudengar darimu, bacaan yang kaumainkan menyendu, mengharu, masihkah aku mencintaimu?

Kubaca kalimatnya penuh gurat luka. Seorang wanita jelmaan terista lama. Kubaca syairnya berlagu babur; kacau; tak beratur. Barangkali, masih awam soal gramatika. Atau kau masih merasa laranya mengablur di dada? Menyesakkan remang dalam gaung suara masa di pinggir kota. Satu nama yang membuat mataku enggan menatap lama-lama. Lejar terabar satu jiwa yang katanya paling mulia dalam sabar. Apa kiranya seorang hawa yang meniadakanmu membaca nyeriku jauh lebih keras menjerit?

www.fasihrr.tumblr.com
:Mbak

Bolehkah aku terheran-heran, geleng-geleng kepala, atau mengelus-elus dada. Mengetahui ada yang kecewanya tak jua mereda, padahal sudah dikembalikan segala. Ia bilang tak bisa, ia kata tak ada lagi balik sukma seperti sedia kala, lalu apa?
Dengar, coba dengar dengan hatimu.
Boleh kutanyakan kembali, apa benar kau seorang wanita? Yang pandai bersabar, yang mulia dalam cinta, yang hatinya dijaga demi surga.
Dengar baik-baik, coba dengarkan dengan lebih berhati-hati.
Perkara hati apa masih kaugugat dengan sesenggukan dan mata sembab. Perkara hati apa masih kaurasakan kehampaan mengisi udara kosong dalam dadamu. Mengaliri nadimu, darah bekas luka yang digores seorang pria … yang katanya, ia mencintaimu.
Dengarkan lagi, coba resapi sampai air mata bukan lagi sebab sakit hati.
Ada wanita di sudut sana sempat menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk menghapus air matanya sendiri. Demi cinta yang bermekar di ruang lain, ia berbantahan dengan logika dan hatinya. Kau dengar? Di tempat lain, jauh dari sangkar matamu, ada wanita lain yang mendamai dalam jenggala. Meski gamang dalam petang, ia berani memecah gelombang. Tak bisa kau dengar?

Mbak, berhentilah menyakiti wanita itu. Yang sampai detik ini masih saja mendengar kau bermain-main hati. Mbak, tolonglah wanita itu. Biar ia tenang melepas, biar ia rela meridho. Biar ia tak lagi mengganggu benakmu hanya sebab satu pria yang sama. Sungguh, biarkan ia menghabisi dirinya sendiri. Biar pergi dan terhapus hujan masa lalu.


ditulis 200414 – Backsound : Puisi “Aku Baik-Baik Saja

Berhenti Mencari Cinta

Aku mencari-cari cinta, di tempat yang sama, di waktu yang berbeda. Padamu jua aku kembali, pun aku masih meragukan kesungguhanmu. Tapi aku selalu berusaha menyelami matamu. Adakah dusta masih bergelayutan di pelupuknya, Sayang?
Aku mencari-cari diriku, di sana. Di tempat yang kau jadikan bahan untuk berdusta. Di waktu yang tidak tepat, barangkali, aku masih begitu mencintaimu, Sayang. Atau enggan mengucap selamat tinggal, meski begitu ingin. Sungguh, aku tak bisa memalingkan diri dari keganjilanmu yang tak juga seutuhnya menggenapiku. Berjanjilah, kali ini tak akan pernah terjadi perpisahan meski wanita yang pernah kauletakkan di pelipismu itu kembali kepadamu. Atau lebih baik kita sudahi saja, sebelum kau lagi-lagi menjalin di belakangku. Sebelum aku menemui kamu yang mengulang perkara itu. Soal cinta lama yang bisa saja bersemi kembali suatu saat nanti. Apa betul kau tak akan lagi menoleh ke belakang?
more quote www.fasihrr.tumblr.com or follow me @fasihrdn
Aku mencari-cari, siapalah sebenarnya yang perlu kulengkapi. Engkaukah? Bisa kaurasakan ketakutanku menjalar jadi gusar yang tak kunjung selesai. Maka jangan berhenti meyakinkan aku, Sayang. Demi Tuhan, gelisah masih kerap mengundang air mata. Mengajaknya meluncur jadi bulir yang mengisyaratkan luka. Sungguh, aku ingin mengikatmu di sela jemariku agar tak bepergian lagi dengan yang lainnya. Bisa kaujabarkan bagaimana ketakutanku ini begitu mengganggu, jadi, izinkan aku untuk memintamu terus-menerus menjejaliku dengan cinta yang membuatku percaya. Akulah satu-satunya.
Aku berhenti mencari. Meski belum sepenuhnya kutemui diriku memenuhi seluruh ruang di hatimu. Lalu pergilah, bila memang tak kautemukan sejatimu bersamaku. Aku rela melepasmu dengan doa….


280614~Berhentilah, di tempat yang ingin kaudiami selamanya. Dan pergilah, jika bukan aku yang ingin kaujadikan tempatmu berpulang.

Izinkan Aku Bercerita, Jogja

www.fasihrr.tumblr.com

Sebab itu aku memilih untuk merunduk di balik sujud dengan tangis meluruh tumpah ruah, kubiarkan menetes di atas sajadah(mu). Biar malaikat menghapus bulirannya agar tak tampak oleh mata hujan yang meruncing dengan bising, biar malaikat meredam gemetar di dadaku; geram yang dibahasakan dengan begitu sempurna. Lalu “Baik-baik saja” memang selalu jadi tonggak paling pas untuk kekuatan yang nyaris tumbang. Aku tak punya cara lain, kecuali dengan mendoa.
Izinkan aku menulis, aku mohon….

Sedari jauh kau bilang aku tak boleh lagi berucap lewat sastra yang sarat akan siratan surat. Katamu, jangan sampai ada luka lagi karena abjad-abjad yang kubiarkan menari dengan lenggoknya, sesuka hati kesana-kemari. Bukankah tak ada yang paham apa yang kuutarakan melalui satu-dua baid ini, Mas? Dan yang kupanggili dengan sebutan “Mas”, siapalah yang tahu itu adalah engkau, lelaki yang pandai kali mengajariku soal perasaan: hati yang menguat di setiap sepertiga malam. Kalau maksudmu adalah dia—wanitamu—untuk kaujaga hati dan perasaannya, sungguh, kalau kaubaca kalimatku ini, Mbak … izinkan aku menulis. Hanya sekadar tulisan, sepanjang lariknya hanyalah kata, apalah artinya bagimu? Maka tak perlulah kaubaca dengan saksama. Tak semestinya dihayati, kecuali menghasilkan pemikiran yang lebih bijaksana. Atau haruskah aku memohon padamu, mau dengan cara yang bagaimana lagi agar membuatmu percaya bahwa rima di dalam syairku bukanlah untuk kaumaknai setiap hurufnya. Cukup izinkan saja aku menulis setelah puas menangis. Boleh kan?

Kau bilang, aku boleh menulis asal bukan perkara yang berpaut denganmu, atau dia, atau kalian, atau kita. Ini soal aku, kau pikir ini soal apa? Ini soal hatiku yang sesak dan butuh ruang untuk melepaskan. Lalu dengan apa lagi aku mencurah kalau bukan lewat suara yang mengisyaratkan jiwa? Aku tak butuh perlakuan istimewa, sungguh, kau boleh percaya atau tidak, aku tak menginginkan kau pahami naluriku sebagai seorang wanita. Aku hanya mampu membasuh duka lewat bahasa, salahkan aku yang tak sanggup memenuhi permintaanmu untuk menghentikan jemari.
follow me @fasihrdn
Tanpa aku sadari, ternyata kalimatmu melesat begitu cepat dan mengendap di ujung kepala. Aku tak bermaksud jadi pembangkang, tak mengindahkan suaramu yang mengaung keras mengitari atma. Ketika bagimu ia pantas dijaga hatinya, sepersekian detik kemudian aku berusaha membantumu untuk menjaganya. Aku benar-benar sudah menahan dahaga untuk tak melentikkan sederet sajak-sajak berbicara. Sudah kujajal tak kujejal penatku dengan aksara, tapi aku tak bisa menahan apa yang sudah jadi kebutuhan. Sedang tangisku saja tak cukup ahli dalam mencipta ketenangan. Percayalah, tak ada yang tahu-menahu udang jenis apa di balik batu yang kuletakkan di atas pusara. 
Kamu—pembaca setia—tak mengerti apa yang sedari tadi kulibatkan sejak awal paragraf sampai titik-koma di akhir pemilihan kata. Begitu kan? 
Yogyakarta, titip memoar yang kobar di bawah purnama: Jaga ia dari atas sana.
Kota penenang jiwa yang menyisakan seabrek kenangan. Barangkali sudah penuh sesak dengan para pendatang. Biar aku yang pergi, biar aku yang tahu diri, biar aku yang menepi. Ah, Jogja. Ketika tetiba mulai merasa lelah seperti ini, ingatkan aku bahwa butuh kesabaran yang lebih kuat untuk kebahagiaan yang lebih hebat….
Jangan biarkan aku bermanja pada siksa. Jangan pernah biarkan aku lena bersama getir nestapa. Tolong, jangan biarkan prasangka menguasai seisi rangka dalam raga. Aku tak ingin kecewa jadi alasan untuk sebuah kepergian dan berhentinya kepedulian. Bahwa semestinya ketika aku memutuskan untuk berani mencintai dan menyayangi seseorang, yang pertama harus kupersiapkan adalah kekuatan hati untuk memaafkan. Sebab ia selalu butuh pertahanan melalui maaf yang dilakukan berulang-ulang.
240414~Maafkan aku menulis lagi….

(Menuju) Tujuh Belas; Membilang Ulang atau Berpulang

17.
Jadi angka yang paling dinanti tuan dan putri. Mereka yang katanya disebut dewasa di angka tujuh belas. Katanya, sudah layak menjadi alamas. Tapi mengapa mesti tujuh belas?
17.
Ingatkah ada pertemuan yang katanya bukan sebuah kebetulan pada Selasa malam di bulan ke sembilan? Bisa kurunut kembali, kronologi jejak remang di halaman luas salah satu gedung universitas itu bukanlah suatu permintaan atas kedatangan satu sama lain, tetapi menjadi waktu yang pas untuk awal mula sederet kejadian.
17.
Aku yang langguk soal hati dalam garis stabil, kukuh kali bilang tak akan jatuh dalam cinta. Kontras dengan lelaki yang samar parasnya dibias bulan, sedang mencari-cari pintu keluar dari masanya yang telah lalu. Kau yang barangkali kadung duka bicara hubungan dan aku yang teguh pada kesetimbangan. Perasaan bukan lagi perkara sepele ketika Tuhan membuka jalan, membatasi perkiraan, atau menggeser angan jadi bungkus kebimbangan. Bulan yang merayap diam-diam, seketika jadi bising hujan.
17.
Sehabis malam itu pagiku direnggut kelut-kemelut. Tujuh belas jadi jejeran angka yang selalu ingin kutemui di tempat serupa, pada waktu yang sama, dalam lingkar senada. Agar bisa kuambil kembali yang dirampas paksa, segala yang baik-baik saja sudah tak lagi ada di sana. Mengapa kau tega menukar teduhku dengan gaduhmu?
17.
Lalu jadi deretan bilangan yang tak berumus: 17, 5, 6, 19, 20, 25…
17.
Aku masih bisa mengurai satu persatu kausa semara. Sampai kata membujur sajak-sajak tak berima. Sudah lelah dalam lengah. Jenuh melenguh keluh, kau dan aku jadi sama-sana membuhul kelukur. Jauh lebih santun aku membisu; undur diri dari hadapanmu. Biar tulus yang menjawab waktu.
17.
Pertemuan itu bukan suatu kebetulan, katamu berkali-kali. Juga saat ber(p)ulang di pertemuan pertama setelah suatu perpisahan yang tidak lama. Tujuh belas jadi angka lawas yang diperbarui. Kala janji tanpa bukti mendadur mimpi, aku jadi sedikit takut kalau-kalau kau membawaku pada setia yang salah lagi. Tapi rupanya kau hebat membangat hati, memasuki rongga sukma yang mulai meruam kebiruan. Lebam kedinginan.
17.
Apa masih kurang? Yang kemarin, apa masih kurang? Nyaris menuju tujuh belas yang kesekian … dan kau masih juga tak memberi kepastian di masa mendatang. Kau, masih saja memberiku ruang untuk bertanya ada apa di masa silam.
Iya atau tidak, begitu sederhana mengapa mesti menunggu aku merebas air mata….


160414~Jelaskan saja apa yang mesti kuketahui secara rinci, sebab aku tak sudi kehilangan dua kali hanya karena membagi hati sekali lagi.

Beri Aku Waktu

Beri aku waktu, Sayang. Beri aku waktu untuk mengenal seluruhmu. Mengenal masa lalumu, ah, tapi, jadi percuma jika kamu tak pernah mau mengenalkannya padaku. Aku justru merasa semakin asing, dengan pikiran-pikiran kotor yang membelungsing. Pernahkah mencoba untuk menelusup masuk ke hatiku, sekadar merasakan betapa retakan di hatiku sudah nyaris jadi kepingan yang berserak. Sebab dua nama yang kaujaga di hatimu membuat hatiku tersiksa di dalam sana. Aku wanita, Sayang. Tak pandai membagi hati untuk dicintai dalam waktu bersamaan. Aku ini wanita, Sayang. Tak mungkin sudi kau ajak berbagi hati. Aku ini seorang wanita yang begitu rapuh hatinya bila disentuh dengan luka.

Beri aku waktu, Sayang. Beri aku waktu untuk memahami kurang dan lebihmu. Sebab aku orang baru yang perlu kauberi pengertian, bahwa kau tak suka ini dan itu. Atau kamu yang senang dengan ini dan itu. Apa salahnya berbicara lebih dalam soal keseriusan? Aku belajar darimu, pun kaubisa mengambil yang baik dariku. Kita buang yang mengganggu. Kita singkirkan yang menghalangi. Kita isi apa yang masih kosong, dan kita kurangi apa yang berlebih. Kita daki apa yang perlu dicapai di atas sana. Kita langkahi apa yang harus dilewati di depan sana. Bukan aku yang dengan diriku dan kamu dengan dirimu. Bukankah jauh lebih mudah bila menjadi kita?
Beri aku waktu, Sayang. Beri aku waktu untuk sabar menunggumu. Menantimu menjadikan aku bagian darimu. Bagian terpenting dalam hidupmu. Beri aku waktu, Sayang. Beri aku waktu menjadi yang terbaik bagimu.

190114~Beri aku cinta yang jujur sampai waktu sendiri yang menghabisinya.