Tak Ada Namamu dalam Tulisanku

Kupikir mudah melesapkan dusta dalam luka. Kurasa sebenarnya mudah saja segala kembali seperti semula, seperti sedia kala: waktu hujan bukan disebut-sebut sebagai bisik kenangan atau pelangi yang dianggap sebagai bias ingatan. Hanya terkadang aku menoleh, lalu mengangguk menyanggupi memoar menari-nari di perutku. Mendesak sampai ginjal berhenti melumat kunyahanku. Aku terbawa arus alir nadi, darah tak lagi bebas membersihkan diri. Aku kalap. Hilang sudah detak dalam jantung. Berubah jadi gemetar. Menubruk sampai sumsumku ambruk, pecah satu per satu segala tenang dalam dadaku. Aku hilang. Tak peduli kau sedang apa. Tak mau peduli kau sedang apa. Tak benar-benar peduli kita ini siapa.
Kupikir bukan hal rumit memaafkan ketidaktepatan jarum waktu mempertemukan kau dan aku. Kurasa sebenarnya tidak sulit menghitung kembali dari titik nol, bahkan bukan tidak mungkin kita menitinya melalui sepanjang garis minus.
Toh, kau dan aku telah lebur menjadi kita. Toh, semua luka sudah kita habisi bersama-sama. Dengan air mata lalu tawa yang kembali lagi menjadi cinta.

Perasaan itu begitu sederhana. Saking sederhananya, kau tak akan pernah sanggup menjabar dengan bukti yang berjejer-jejer sekalipun. Perasaan itu begitu sederhana. Sampai aku tak akan pernah mampu mengurainya, bahkan dengan abjad yang kuciptakan sendiri. 
Sesederhana ketidakingintahuanku pada alasan sebab mengapa aku seperti ruji yang terpasang melingkar begitu rapi pada roda yang terkadang membawanya terlalu cepat melaju, atau terlalu lamban bergerak, atau justru diam begitu saja di satu petak. Bahkan tak bisa ditolak oleh siapapun, perkara apa cinta tak pernah punah dibahasakan dengan ‘cinta’, mengapa tak bosan bicara menyoal cinta padahal jelas-jelas tahu tak ada satu orang pun yang akan mampu menemukan di mana batasan cinta, dengan cara apa sebenarnya hati menyusun perasaannya hingga ia bisa disebut dengan cinta.
Sesederhana sepanjang larik dalam lirikku, tak akan kau temui namamu di dalam barisnya, pada setiap kalimatnya. Tak akan kaubaca namamu dari ujung kata sampai titik menghabisi setiap baidnya. Tapi kau tahu, kau tahu semua ini teruntuk siapa.

Jarak yang Kubawa Pulang

Bu.
Apa kabar?

Lama kupikir aku adalah yang paling kuat.
Lama kukira aku adalah yang paling sabar.
Lama kurasa akulah yang tiada.

Ayah.
Sedang apa?

Belum lama sepertinya, aku diberi selembar hitam-putih berukuran 3×4; usang, robek separuhnya.
Belum lama kiranya, aku sombong tak akan pernah bertanya mengapa kau di sana; entah, di mana.
Belum lama ternyata, aku tak kuasa ingin mengubah segumpal darah dalam dagingku.

Tapi tak bisa, batinku.
Tapi tak mungkin, lirihku.
Tapi tak boleh, kata-Nya.

Barangkali, jarak yang kubawa pulang tak sampai waktu untuk menemuinya kembali.
Barangkali, sudah kosong sampai tujuan.
Barangkali.


Kali ini aku ingin mengulang segala dari nol. Lalu bertanya bagaimana caranya.
Aku ingin terbang ke masa yang sudah lama kutinggalkan sendirian. Tapi tak bisa kan?
Seandainya saja, seandainya saja.

Segala fiksi jadi tampak begitu nyata mengambang begitu saja di permukaan. Atau justru realita mengumpat layaknya khayal yang semu.

Seandainya jarak tak pernah punya ukuran waktu untuk sampai pada pertemuan di titik yang kita inginkan. Mungkin saat ini aku memilih untuk tidak mengenali siapalah diri yang dikalahkan oleh takdir. Sebab aku tahu, aku tahu itu aku.

Di persimpangan waktu, 2014

Teruntuk Kamu, Lelaki Terhebat

Kalau selarik doa adalah wujud cinta, barangkali kata tak lagi ada gunanya. Sebab ia hanya seperti bunga yang dirangkai untuk menunggu kapan waktunya layu. Dan aku hanya dalam anganmu, dalam kalimatmu, dalam aksara-aksara yang sulit sekali kueja; aku hanya pengobat pilu. Bukan yang namanya kausebut dalam doa.
Sadari aku tak pernah benar-benar berada di hatimu. Malam ini aku membisu dan segala sesuatu yang mengarah padaku bukanlah perkara baru. Mata yang tak pernah punya waktu untuk berdusta, tak ada cinta dalam tatapnya. Mengapa tak kaukatakan saja sejak dulu, bahwa aku dan kamu hanyalah dua bahu yang saling berungkuran. Dekat tapi tak saling melihat. Dekap tapi tak pernah mengerat.
Pernah sesekali kautanyakan padaku, alasan aku tetap mendoamu padahal aku tahu betul rayumu hanyalah palsu. Bukan aku yang memaksa betah berlama-lama hanya untuk satu harap agar kau tetap dalam bahagia. Bukan pula aku yang meminta untuk tak bergeser, meski nyatanya gerak dalam air mata terus saja melaju cepat. Meneteskan perihnya berbicara tanpa telingamu, menjatuhkan sakitnya mendengar tanpa ucapmu.

more quote www.fasihrr.tumblr.com


Aku berhenti pada satu titik. Saat tanganku tak lagi mampu bertengadah, saat tahajjud tak lagi jadi penenang kala fajar pecah. Ingatkan aku, bahwa tak ada lagi kita di antara kau dan aku. Ingatkan aku, sebab aku masih sulit membeda antara sekarang dengan dulu.

Kalau sulit bagimu bersabar dan melebihkan porsi memahami hati yang pernah kaulukai, mengapa dekati lagi? Lalu ketakutan atas kegagalan sebelum ini jadi alasan untuk undur diri begitu saja. Pergilah semaumu. Apa pernah aku menahanmu? Bahkan kubiarkan kamu mencari sejatimu, di manapun kau mau, bahkan pada masa lalu. Ingat?
Maafkan aku yang masih bisa mengingat dengan begitu detail setiap kalimat yang kaudustakan waktu itu, maafkan aku yang bisa tiba-tiba saja mengungkit apa yang semestinya tak lagi jadi bahan pembicaraan. Seharusnya bukan lagi memutari waktu lalu, tapi menjadikan pertemuan setelah ini sebagai jamuan baru. Seperti kita yang tak pernah mengenal lebih dulu. Begitu?
Tapi aku tak mampu bila menyusun yang telah runtuh itu dengan jemariku sendiri. Aku tak mampu membangun kembali yang telah roboh dengan kekuatanku sendiri. Aku tak sanggup jika tak dibarengi usahamu. Paham?

tweet me @fasihrdn

Berkali-kali aku marah sendiri, antara hati dengan harga diri yang sudah tak kukenali lagi. Sebabmu, aku meluruhkan seluruh ego. Tapi sungguh, sebenarnya akulah yang sudah mati. Sudah mati….

Coba ceritakan padaku sebelum berakhir seperti waktu itu. Alasan aku menginjakkan kaki di ruanganmu. Sebab apa kau berbaik hati padaku, memberi satu harap yang mungkin saja kau tak bermaksud untuk itu. Hanya aku yang mengartikannya kurang teliti. Coba jelaskan padaku, di bagian yang hilang itu … ada kisah apa yang mengantarmu kembali ke kotaku. Jogja. Padahal aku sudah ingin berjarak dari kota ini; kota yang terlalu banyak mencitrakan kedamaian, kota yang terlalu sering jadi tempat persinggahan, kota yang selalu memberi jejak kenangan. Tak bisakah kau menegaskan apa yang kaulakukan? Sekiranya menyimpan yang tak bisa disuratkan. Bicaralah, sebelum aku membawa kembali diri memasukimu terlalu jauh; aku takut kembali jatuh. (13April2014)
Tapi sekarang aku sudah kadung jatuh, tak bisa bangun. Tak sanggup berdiri. Sudah jatuh. Sudah itu lalu kamu pergi (lagi), seenaknya sendiri.



170514 – Teruntukmu, Mas. Terserah suka atau tidak, aku telanjur menuliskan namamu. Di sini, di seluruh sisi hati. Kau boleh muak karena sebelummu, aku sudah lebih dulu. Ini bukan untuk memakimu, bukan. Bukan agar semua orang tahu, kaulah pelaku yang menghancurkan hatiku. Tapi agar kamu tahu, betapa hebatnya kamu. Sungguh, kamu boleh membenciku. Pergilah ke tempat yang benar-benar kautuju.

Menjauhlah dariku, seperti maumu. Tapi tolong, mendekaplah lebih dekat pada-Nya, yang akan selalu ada untukmu.

Bepergianlah sesukamu, dengan siapapun inginmu. Tapi kumohon, pulanglah … pulanglah jika suara azan sudah terdengar memanggilimu.

Kamu boleh tidak mengingat aku, tapi kuharap tak sedetikpun kamu melupakan-Nya, yang memberimu kekuatan begitu dalam. Kekuatan yang sama besarnya diberikan untuk merasakan kamu.

Kuizinkan kamu menyakitiku, sesuka hatimu. Tapi kumohon untuk kesekian kali, jangan berhenti mencintai dhuhamu, jangan lupa bayar hutangmu, puasamu, sedekahmu … jangan bosan dengan tadarusmu, jangan pernah berhenti melakukan apapun untuk tujuan akhirmu: Surga.

Remah Bulan

Cakrawala, mengapa kau habisi rembulan? Apa salahnya, mengapa kau tega….

Coba kau tengok ia, masihkah senyum merekah terangi legam?

Atau rupanya sakit keras, memilih purna tugas. Begitu parasnya jadi tampak lebih tua dari umurnya. Sudah seberapa lama menjejal malam dengan cahaya. Demi langit, demi kau, Sayang. Demi bumi yang tak kesepian.

Coba kau intip ia, barangkali butuh engkau menggantikannya.




080314~Memungut serpihannya….

Cermin(ku)



Boleh, aku bercerita sebelum kututup dengan catatan akhir tahun? Sedikit saja, soal hatiku yang terus saja mengeja kata rindu padahal setiap hari bertemu. Apa sebenarnya yang memikat darimu? Mungkin, aku tak butuh sesuatu yang membuatku terpikat, sebab berkali-kali kulihat, kulekati lakumu, aku selalu saja bertanya, apa seperti itu diriku?

Pernah aku tercenung sendiri, aku seperti penonton yang menunggu-nunggu tirai teateryang masih tertutup itu dibuka dan menyaksikan apa yang kunanti-nanti. Drama dengan ending yang memukau.
Dulu, ah, tidak, sering kali, aku membayangkan ada seseorang yang membawaku keliling Kota Yogyakarta. Sederhana saja, aku hanya ingin memutarinya bersama entah siapa. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu….

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku menginginkan ada seseorang yang mengajakku mencumbu alam. Menciumi embun yang jatuh membasahi dedaunan, memeluk udara dalam-dalam, merasakan betapa nikmat Tuhan begitu menyuguhkan ketenangan. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu….

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku mendambakan seseorang yang memberitahuku betapa dunia nyata begitu nikmat untuk kusantapi bersamanya. Bukan aku yang melulu pada maya. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu….

Dulu, ah, tidak, sering kali aku bertanya. Apa aku tak mau mencicipi rasanya menjadi wanita yang begitu takut kehilangan orang yang ia cintai? Apa betul, aku tak tertarik menjadi wanita yang selalu ingin tahu keadaan seseorang yang penting baginya? Apa hanya akan terus menjadi wanita yang acuh-tak-acuh pada cinta hanya sebab begitu mudah baginya menunjuk yang baru. Tapi yang lebih membuatku takut dan menuliskan satu tanda tanya besar : Apa tidak ada seseorang yang bisa membuatku merasa bergantung padanya, membutuhkan bantuannya untuk menelan rindu bersama, atau mengeja lelah lalu merebah di bahunya. Apa tak ada yang bisa membuatku merasa harus menjadi wanita seperti pada umumnya, bukan yang bisa melakukan segalanya dengan dirinya sendiri. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu….

Dulu, ah, tidak, sering kali aku berdoa menemui sosok seperti ayah dalam diri seseorang. Seseorang yang akan menggantikan peran ayah nantinya. Seseorang yang layak kuhormati, kuikuti jejaknya, kurapalkan doa-doa untuknya. Seseorang yang bisa menjadi siapapun dalam waktu apapun. Bukankah pasangan yang baik adalah yang bisa menjadi sahabat, guru, kekasih, dan bisa menempatkan diri dalam berbagai situasi. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu….

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku berkhayal bisa membelah diri. Lalu kupacari diriku sendiri, sebab tak pernah kujumpai jemari yang begitu pas kecuali jariku sendiri. Bukankah tak ada yang bisa memahami kita, kecuali kita sendiri? Bukankah sebaik-baik pendengar adalah telingamu sendiri? Jadi, aku ingin membersamai diriku sendiri. Aku yang begitu sulit dipahami, aku yang terlalu sibuk dengan duniaku sendiri, aku yang meletakkan harga diri di tingkat paling tinggi, aku yang katanya wanita tapi lebih sering mengisyaratkan hati dengan logika bukan perasaan, dan segalaku yang tak kan pernah bisa begitu mudah didalami. Jadi, kupikir, begitu mengasyikkan jika aku membersamai diriku sendiri. Kupikir tak kan pernah terjadi, sebelummu….

Menjadi seperti anak kecil itu mengasyikkan, bukan?
Mungkin, setiap tulisankuyang katanyamenjadi satu celah inspirasi bagi para pembaca setiaku, membuat sebagian orang berpikir ini-itu soal diriku. Tapi denganmu, seperti yang pernah kukatakan sebelum hari ini … biarkan aku menjadi diriku yang lain, yang hanya bisa kuubah saat sedang bersamamu. Aku yang terlihat angkuh, tapi ternyata begitu rapuh. Pola pikir yang bijak tapi ternyata begitu sulit memecahkan masalahnya sendiri. Langkahku yang begitu kokoh, tapi ternyata jejaknya begitu lelah. Senyum yang berjejer rapi tapi ternyata menawan tetes air mata di pipi. Semua itu, aku yakin terkadang kamu pun merasakannya. Dan jadilah apa yang kau mau di hadapku sebab aku tahu betapa lelahnya menjaga figurmu. Bersamaku, kamu bebas menjadi semaumu.
Setuju?
311213~Coba tanyakan lagi pada dirimu, Sayang. Mengapa aku begitu mudah memaklumi lakumu? Sebab aku pernah berada di posisimu. Sebab aku pernah menjadi semuamu. Aku pernah.

Kau; Jadilah Teman Hidupku

Apa berlebihan bila aku merindumu setiap waktu?

Baru sehari aku tanpamu, sudah merasa jadi orang yang paling awam soalmu. Jujur saja, aku justru takut jadi pecandumu. Aku begitu takut tak bersinggungan dengan pelukmu. Aku tahu, Aku betul-betu tahu sedalam apa aku jatuh di sudut hatimu. Di sana, aku tak bisa bertahan sendirian. Aku yang tiba-tiba jadi begitu lemah tanpa genggammu, aku yang jadi lelah bila melangkah tak di jejakmu.

Ternyata ada rindu yang datangnya setiap hari; ingin denganmu setiap waktu. Lalu dengan cara apa lagi melunasinya, sebab pun kuhabiskan seharian bersamamu tak juga membuat rindunya luruh dalam ruang yang sama. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa berjarak, sedang renjana mengutuk purnama bila tak terang di rengkuhku. Ah, lalu bagaimana caranya aku mengisi sepi saat diam-diam kau menggeser langkahmu menjauhiku. Untuk alasan apapun, Sayang … jangan menoleh ke arah manapun kecuali kembali menatapku.
www.fasihrr.tumblr.com

Pernahkah sejenak saja kau renungkan betapa aku gelisah menunggumu menjadi yang sah untuk kucintai sejak pagi sampai dini hari? Katamu dalam lirik lagu, kan kaujelang bahagia bersamaku. Tapi bisakah barang sebentar, kau coba yakinkan aku ketika ragu tiba-tiba mengganggu? Maukah memaklumiku yang sewaktu-waktu mengais-ngais masa lalumu, sebab terkadang ada luka menyayat-nyayat dadaku mengingat-ingat dirimu yang dulu.
Tak perlu berjanji untuk menetap di sisi. Aku sadar betul kau tetap manusia biasa. Kita hanya bisa berencana, selebihnya kuasa Tuhan yang berbicara. Aku sadar betul, berkali-kali kuingatkan pada hatiku untuk tidak terlalu bergantung di jarimu. Hanya saja ternyata sulit bagiku tak berada di dekatmu. Pun semisal jarak dibentang, lalu kita bersebrangan, jangan pernah jauhkan juga hatimu. Jadi, jangan pernah hentikan hal-hal kecil yang kau lakukan denganku. Sebab yang sederhana itu … awal mula dari “kita”.

111213 : 03.33 ~Aku masih mengingatnya; katamu, jangan pernah tinggalkan aku meski ternyata aku tak seperti yang kau mau. Sebab (jika pun) kecewa bukan alasan untuk meninggalkan, bukan?

Jadilah Kau Segalaku, Bawa Aku Bersamamu

Dan aku hadir bukan untuk menggelisahkan hatimu. Pun kau datang bukan untuk menyakitiku kan? Untuk apa sebenarnya titik itu, yang kupijak tepat di hadapanmu. Yang ternyata menjadi awal mula segala rasa. Dan aku tak pernah mau mendalaminya. Tak pernah ingin memaknainya lebih teliti, aku tak pernah meminta kau membuka intuisi. Bisik kecil yang merambat ke segala arah, lalu ia mendiami ruang-ruang hampa dalam hatiku.
Tapi toh, nyatanya aku hanya bisa memandangi biasmu, membaca namamu di lini waktuku, dan mencoba mengingat-ingat wajahmu. Padahal di sana, kau tak pernah mencoba mengeja kembali abjad-abjad yang menyusun namaku. Meskipun kau dan aku masih dalam satu gerak laju, bertemu di ruang semu, tapi, aku tak pernah tahu dengan siapa lagi kau berbagi cerita. Membagiku….

Jujur saja, aku lelah jatuh cinta. Aku lelah mencintai yang salah. Aku lelah tak juga menemukan jemari yang pas dijariku. Aku lelah ditemukan oleh ia yang ternyata aku bukanlah rusuknya. Jadilah kau yang membuat semua lelahku berakhir. Jadilah kau seseorang yang membuatku berhenti di situ, berhenti di rengkuhmu. Punsemisal aku jatuh cinta lagilain waktu, itu hanya aku yang kembali mencintaimu. Dan terus begitu sampai berakhir waktuku. Jadikan aku yang paling pas di tulangmu. Sebab kecocokan hati tak pernah bisa dipelajari, tapi dipahami.
Kau melukis gradasi dalam hidupku, membelokkan cahayanya ke mataku, membuatnya jadi pelangi. Bersediakah kau … bersediakah menenangkan hatiku, berusaha memahamiku, menyambut kepedihanku, membuat sedihku luruh sebab kaumengubahnya jadi bahagia.

Lalu di tempat itu, kauhabisi rinduku dengan syahdu. Lagi, di tempat yang sama, kaulunasi senyumku dengan haru.


Andai ada mesin pendeteksi hati, mungkin kau bisa langsung mengerti betapa dalam benakku tak pernah lepas dari bayangmu. Betapa sulitnya aku menjinakkan hati yang mulai tak terkendali. Yang selalu ingin ada kamu mengitari semuaku, yang selalu saja menujumu. Yang enggan berjauh-jauh darimu, diam-diam menyimpan cemburu pada siapapun yang berada di sekelilingmu. Lalu egoku memainkan peran, memikirkan apa yang tidak perlu. Andai aku tahu isi di dalamnya; hatimu. Dan kemana pun langkahmu, aku menunggu. Mendoakanmu dari kejauhan. Aku menunggumu. Kembali pulang, membawa cinta baru.
Ajak aku bermesraan dengan alam, biar melebur pada kedamaian. Biar kusesapi sendiri cinta yang membuatku takut kalau-kalau ia semakin akut. Biar kucoba tenangkan riak gelombang di jantungku, yang gelisah tak tahu waktu. Ajak aku bergandengan dengan alam, biar kutarik dalam-dalam napas lewat udara yang membawa embun pagi. Bawa aku bersamamu, jangan pernah biarkan siapapun mencurinya darimu; hatiku.

16-171013~Catatan rindu yang tak sempat kutulis di bukumu sudah lunas di ujung senja. Panggil aku jika kau merasa pilu mulai mengganggu, biar kuajari kau caranya mengubah hampa jadi tenang di dadamu.

Bisakah Kau Kembalikan Hatiku?

Dan aku tak sanggup menyelesaikan ini sendirian. Perasaan yang menggantung di sengal napasku. Aku tak tahu caranya menyelesaikan perasaan yang tumbuh begitu cepat. Pun aku tak mampu memeliharanya dengan tanganku sendiri. Bukankah butuh sentuhanmu juga?

Ah, sudahlah!
Ingin kuakhiri segera apa yang tak berprogres dengan baik. Ingin kuubah koma menjadi titik. Atau tanda tanya yang semakin sering jadi tanda baca dalam tulisanku, sebaiknya kuganti dengan tanda seru. Siapa bilang aku galau? Kalaupun begitu, bukankah tidak merebut jalur udaramu? Tidak merenggut arah pandangmu? Lalu, boleh-boleh saja kan kurasakan sendiri segala yang membangar makin sangar. Toh, apa pedulimu soal hatiku yang meruam kebiruan? Saking dinginnya melebam di dada.
Padahal sudah kuajak kau untuk berbalik badan dan membuang segala resah, tapi sepertinya kau malah suka melihatku dirundung gelisah. Sudah kuisyaratkan lukanya tak bisa kukendalikan, tapi kau justru senang menatapku yang makin sering kesakitan. Hanya itukah cara yang kau tahu untuk menjamuku, Tuan?
Sakit, kau tak pernah tahu, kau tak pernah mau tahu keadaan yang bersembunyi di balik punggungku. Yang serupa deret senyum itu menyamarkan air mata yang nyaris tumpah ruah. Betapa aku menahannya mati-matian. Bukankah sudah kubilang, aku baik-baik saja, meski tak digenggam siapapun juga?
Kubiarkan sakitnya menjalar sesuka hati. Biar aku saja yang menangis sendiri. Sebab aku tahu kau tak mungkin mau menangis bersamaku kan? Tak sudi mendengar rintih-pedih dalam lirihku. Katanya, memang lebih baik kujaga saja rasa yang tumbuh tak beraturan, meliar seperti ilalang. Biar tak semakin liar menjalang.
Sebaiknya kukembalikan milikmu, tapi, bisa kauputar roda waktu dan mengembalikan juga semuaku? Termasuk separuh hati yang tertawan pelan-pelan, menjadi rindu yang mengendap diam-diam, yang tertinggal di matamu dan tak mau lagi kembali padaku. Lalu, kukembalikan milikmu sampai habis tak tersisa.

www.fasihrr.tumblr.com
Lalu bagaimana mungkin aku menghapusmu jika tak kaubiarkan aku lepas dari ingatanku. Terus-menerus dalam medan magnetmu. Sedang kau bermain-main dengan arusmu, tanpa aku. Aku hanya bisa mengitarimu di sela semak belukar, terjatuh sendiri, bangkit lagi, lalu kautiupkan angin dari arah manapun yang kau mau, membuatku tersungkur lagi dan terus begitu kauulangi. Ah, lalu bagaimana bisa aku pergi jauh darimu sedang ada bagianmu menyelip disakuku. Ada yang bergetar-getar menggoda jemariku untuk meraba apa yang sebenarnya tak ingin kubaca. Tapi tetap saja membuatku terus meneliti dengan begitu hati-hati sampai ke ujung layar, ada siapa di dalamnya.
Bukankah lebih baik aku meletakkannya kembali digenggammu, biar kausimpan untuk yang lain. Biar tak lagi ada kamu dalam benakku. Biar tak bisa lagi kuingat namamu. Biar tak ada alasan untukku menunggumu.
09-10 Oktober 2013~Bukankah lebih bijak kauurus dulu hidupmu, baru kaumenawarkan diri untuk mangasuh hatiku? Meski jujur saja, tak bisa kubantah hatiku berbisik menginginkanmu.

Aku (pasti) Merindukanmu

Aku bisa merasakan gemetar di dadaku. Gemeretak gigiku saat gigil menyergap sekujur tubuhku. Aku rindu; aku rindu sahabatku. Aku pasti merindukanmu.
Kecuali kalian, siapa lagi yang selalu tertawa di balik senyumanku, siapa lagi? Siapa yang juga menangis tersedu-sedu melihat air berkunang di ujung mataku. Kita menghabiskan waktu dengan saling menggenggam lalu sekarang kita tak lagi berjalan beriringan. Aku tahu, ini bukan akhir dari ikatan tanpa akad yang kita semat diam-diam dalam hati. Kita hanya berjalan dengan derap langkah yang menyebar, tapi kita masih satu kan?
Aku pikir baru kemarin kita saling sapa, berkenalan, dan saling bersalaman. Tapi sepertinya waktu begitu cepat menggeser jemari-jemari yang terikat untuk menentukan sendiri jalannya. Kalian tahu? Kalian pasti tahu, tanpa kalian aku ini siapa? Mana mungkin bisa bertahan di tempat yang asing di kelilingi hujatan dan makian. Sebab kita saling menguatkan, kita ini satu jiwa kan?
Lalu berakhir dengan doa yang tak kan ada habisnya. Seperti cinta milik kita yang tak kan ada ujungnya. Meski tak lagi bersua, aku yakin dalam doa pun kalian bahagia. Jangan pernah benar-benar pergi dari tawa kita yang terbahak, atau jangan pernah berhenti untuk saling mengisi. Meski ruang tak lagi membuat kita saling bertatap muka, tapi bukankah tak pernah ada batas gerak dalam persahabatan?
Aku pasti merindukanmu. Aku pasti merindukan sederet tawa yang tak pernah peduli pada setiap kata mereka, yang menghina. Aku pasti merindukan tatap mata yang hadir lewat ketulusan. Aku pasti menggigil sendiri tanpa pelukan kalian.
Dalam panjatan, semua impian kalian mesti jadi kenyataan. Dan saat waktu berada dalam satu garis lurus, kita dipertemukan lagi dengan genggaman yang lebih erat. Kita tak kan pernah saling melupa….


290913~Teruntuk kamu, sejauh apapun langkahmu dariku, seberapa lama pun kita berpisah, “Sahabat; tak pernah punya tanggal kedaluwarsa.”

Dan Kau….


Mengubah kebiasaanku yang lebih tenang tanpa siapapun, jadi kelimpungan saat tak ada kamu di sekitarnya.

Meski tak kubuka dengan suara, tak kutulis dengan kalimat tanya untuk tahu jawabannya. Semestinya tahu dengan sendirinya. Apa kau buta? Tak bisa membaca peta yang susah payah kugambari sendiri. Atau kau pura-pura? Tak mau meraba jejak menuju hatiku yang mulai meluka sendirinya.


Ah, kini galau jadi teman sehari-hari. Padahal kau tak peduli sama sekali. Beritahu aku caranya membuatmu merindukan aku setiap waktu. Lalu kaugeser ia dari lini waktumu. Masa lalu yang tak perlu kauharap kembali ke pelukmu. Tak juga sadarkah dirimu telah mengusik hatiku; Mengubahnya jadi sembilu.


Lalu setiap menit sampai habis malam kusambangi ponselku hanya untuk melihat apa kau menghubungiku. Akan kutunggu kau ajak aku bicara meski tanpa tatap muka, sebelum merjan pecah dini hari. Apa kau tahu bagaimana rasa sesak saat harus menahan diri untuk tidak merindukan seseorang yang (bukan) siapa-siapaku …
lalu aku hanya bisa memandangi segalamu dari balik layar yang mulai bosan melihatku terus-terusan menatapnya hanya karena ingin tahu keberadaanmu. Kau tahu apa yang lebih menyakitkan dari cinta tak berbalas? Adalah cinta yang jatuh tidak tepat waktu.

Dan aku kehilangan gramatika. Aku pulang tanpa kata. Aku pergi tanpa bicara. Aku merapuh sendirian. Bukankah kautahu di mana letak lebih dan kurangku? Tak bisakah kaumemahaminya lebih dalam? Tak maukah kaumempelajarinya lebih detail? Seperti serbuk yang beterbangan, aku butuh uluran tangan untuk memungutnya satu per satu.

Kumohon, kembalikan aku pada satu titik sebelum pertemuan itu. Lalu biarkan aku tak pernah mengenalmu. Bukankah lebih baik begitu?

Atau biarkan saja aku menikmati letihku sendiri. Mengikuti alur Tuhan. Bukankah kita tak pernah diberitahu lebih dulu apa yang terjadi satu detik mendatang? Bukan tidak mungkin, akulah rusukmu yang hilang.



250913~Kau baca, tapi kau tak pernah tahu semua ini untukmu.