Memoar


Cerita tahunan lalu, bertemu pada satu titik yang bernama rindu.

“Betapa kalian tak perlu tahu untuk apa aku bersembunyi. Kebodohan yang tak akan pernah kuulangi. Menyia-nyiakan tawa kalian. Melewatkan cerita-cerita kalian. Kalian tahu? Kalian mesti tahu; doaku tak pernah lepas untuk kebahagiaan kalian, kawan.”

Sudah tahunan lalu, sebelum waktu menjadi alasan menggeser langkah-langkah kecil kita berjalan berlainan arah. Ternyata aku salah asumsi. Aku yang menepi. Aku yang memutuskan untuk pergi. Apriori yang kadung menjejak dalam benak. Kalian yang melupa, bukan aku yang mengasingkan diri.

Lalu barusan aku menyesal. Aku sadar memori tak bisa dibunuh begitu saja, aku mendengar. Aku mendengar lagi cerita-cerita masa kecil yang tak kan ada habisnya untuk dikuak kembali. Seperti diputarkan kaset lagu zaman dulu; kusimak betapa merdunya tawa renyah yang tumpah di meja makan. Kalian asyik bercerita mengingat kenangan. Memutar lagi kisah yang nyaris kuakhiri, kuhapus, dan tak ingin kuingat lagi. Menyembul ke permukaan; rasa yang tak perlu dipertanyakan. Sebab kita memang tak membutuhkan pernyataan untuk sebuah kasih sayang, bukan? Kali ini aku kenyang, tapi masih haus akan satuan kisah lalu.

Aku diam mengkhidmati, memandangi lekat-lekat senyum yang berderet lacak. Menahan tangis yang gemetar di bibir. Aku kehilangan kata. Menahan gigil yang tiba-tiba merelung ke sumsum; merangsuk sampai ke tulang rusuk. Tentu saja, kebersamaan tak pernah bisa ditukar dengan apapun. Kebahagiaan yang tak bisa kujabarkan kecuali dengan senyum serupa. Ada ketenangan yang meralip tak berkesudahan; di sini, di hati. Ah, masih bisa kuingat dengan jelas; tawa, tangis, amarah. Bukankah begitu hakikatnya?

Entah apa kita ini, yang jelas meski tanpa suara, aku selalu ada. Dan kalian tak pernah luput dalam doa.

Late post
240713~Sepulang dari reuni SD; menumpahkan rindu yang kutahan bertahun-tahun lamanya. Bertemu kepingan kisah masa lalu. Love you, girls

Surat Izin Jatuh Cinta

Aku bagai trobadur yang jadi pecandu lagu asmara. Ah, kamu menyebar serbuk nebula dalam titik khayal tertinggi. Aku benar-benar dalam batas ekuilibrium. Rasanya ingin menghentikan jarum waktu. Berlama-lama dalam euforia, merasakan febulasi yang berangsur-angsur menjadi enigma.

Mendesak Tuhan segera memberitahu rencana terhebatnya, sebenarnya aku ini teruntuk siapa?

Indolensi mengejawantah jadi dogma yang tak bisa diganggu gugat. Angan-angan yang katanya wajib menjadi agunan di masa depan. Tentu saja, hati tak sudi sekadar tetirah dalam kuasi. Ingin abid di dalamnya. Kau dan aku yang selamanya bukan lagi sebuah wacana.

Begitu seharusnya kita saling memperjuangkan ikatan lewat akad yang tak berkesudahan. Hidup berkelanjutan dalam pendopo sampai lanjut usia; sampai habis masa jabatan. Lalu mengisahkan fragmen cerita cinta pada anak cucu kita. Sebagai patrinomium yang tak ternilai harganya.

Aku bukan hanya sekadar berimaji. Melantur kesana-kemari. Membicarakan jemari yang saling berpautan saling mengisi. Padahal nyatanya aku masih juga sendiri. Siapa bilang aku menutup hati? Aku hanya sedang mawas diri. Berjaga-jaga jangan sampai melanggar inhibisi.

Hanya tak ada yang sanggup mendengar lirihnya doaku yang berharap kau memang terlahir untukku. Pun aku tercipta untuk melengkapi rusukmu.


Tak peduli dibilang primordial, aku keukeuh enggan bergandeng tangan. Sudah malu dibuat masa lalu. Terus terang saja, hubungan tanpa penghulu bagiku sudah obsolet. Bualan yang hanya interim; sementara saja. Lebih terpuji bagiku tak punya kekasih, tapi dinanti calon suami.

Jangan pikir aku wanita yang hanya bisa menunggu tanpa berusaha. Bahkan setiap malam menjelang pagi, kurapal sampai meralip. Meminta izin pada Tuhan untuk meranum di hatinya; mencintainya secara gamblang. Tak peduli hipokondria sering singgah sebab begitu takut kehilangan apa yang telanjur merangsuk makin dalam. Katamu, aku hanya perlu berharap pada Tuhan. Meminta Tuhan menguatkan hibat yang tersemat.

Seperti kataku tempo hari, sampai Tuhan benar-benar merestui, begitu bukan?

Sophisticated; Friksi dalam Hati

Desakan dalam dada, katanya ingin cinta pergi saja. Tapi rupanya bagi hati, cinta adalah bonanza.

Kali ini aku takut kaumengerat apa yang belum boleh kuinjak. Aku takut perasaan yang memenuhi ruang di jiwa ternyata galat semata. Padahal serebrum sudah mati-matian mengatrisi perasaan yang mulai agitasi. Konvensi yang tak pernah jadi kesepakatan antara kau dan aku, ternyata bertemu dalam ekamatra.

Ah, betapa ramai sekali di hati menjabarkan esensi. Mengelaborasi satuan rasa yang membelah diri. Apa tidak salah menyerahkan naluri pada intuisi yang belum tentu tepat bidik? Apa pantas membiarkannya terus berkeliaran? Sedang aku tahu betul ada yang sedang membelungsing. Tak henti menginsinuasi gerak hati.

tweet me on @fasihrdn

Lalu dengan takzim aku memintanya undur diri dari sini; evokasi yang mulai membuatku takut sendiri. Kalau-kalau yang berani menelusup hati ternyata sekadar imitasi. Eklektik; masih memilih sana-sini. Atau barangkali, nomadik; berpindah kesana-kemari.

Sudah kutanyakan ini berkali-kali, tapi tak juga menghasilkan konklusi. Sebab sepertinya suatu hal yang muskil, mengeksekusi paksa rasa yang genjah; begitu mudah menyebar. Yang orang bilang itu cinta. Apa mungkin begitu saja akan abdikasi dari hati. Apa mungkin?

Sedari tadi aku bicara padamu tentang bisikan nurani. Aku memintamu tak lagi menggegai seperti anoksik yang makar; bertipu muslihat. Apa bicaraku sedari tadi terlalu rumit untuk kau pahami? Sebenarnya aku hanya takut mengakui; ternyata hati tak pernah bisa memilih pada siapa ia kalah, menyerahkan diri.

Lalu kecuali menunggu Tuhan merestui, apa lagi yang kucari?

Penghabisan!

Kali ini bukan puisi
Bukan juga prosa, hanya aku yang sedang berbicara
Untuk kau dengar, untuk kau nikmati setiap ucapannya

Pejamkan matamu, kubilang pejamkan matamu!
kau bisa mengeja setiap hurufnya
kau artikan apa yang tersembunyi di dalamnya
tentang apa aku berkata
untuk apa aku bersuara
siapa sebenarnya kita?

Senja masih sama, masih mengurai warna jingga
dan aku masih saja mencintai garis yang memecah cakrawala
kau tahu? bisa jadi kita selesai sebentar lagi
kita habis di makan waktu
kau dan aku yang tak kan bisa lagi saling rindu

Follow me @FASIHRDN

Kau pikir, aku sedang bicara soal apa?
Cinta?
Bukan, ini tentang kita yang habis di makan waktu
Kita yang tak tahu berakhir pada detik ke berapa

Kau kira, sedari tadi aku bicara soal apa?
Cinta?
Bukan, ini tentang kita yang masih bernyawa
yang barangkali, selesai sebentar lagi.


030513~Aku tak pernah lupa untuk mencintaimu lagi dan lagi. Sebab barangkali, sebentar lagi maut menghampiri.

Rindu Hujan Masa Kecil

Siapa yang tidak merindukan dirinya di waktu lalu? Membuka lembaran-lembaran yang usang penuh dengan tawa lepas dari seorang anak kecil. Melihat dirinya bermain-main dengan hujan, menari di bawah guyuran hujan. Aku selalu suka dengan hujan. Ayah selalu mengajakku menunggu pelangi datang setelah hujan.


         “Aaaaaa aaaaa! Aaaaaa!” Aku berteriak-teriak saat Ayah menyiprati air hujan ke muka polosku.

Lalu Ibu menyiapkan teh hangat dan pisang goreng yang selalu kumakan dengan olesan madu. Kata Ibu, begitu caranya makan pisang goreng yang enak. Tadinya kupikir rasanya akan aneh, tapi setelah Ibu menyuapiku, aku jadi ketagihan dan terus meminta digorengkan pisang setiap hujan turun. Jingga memang tak ada habisnya untuk diceritakan. Selalu menyelipkan tawa renyah seorang bocah.

follow me @fasihrdn
Aku membuka lembar berikutnya, ada wajah lugu yang memamerkan deretan giginya yang rapi dengan dua pita di rambutnya. Memakai rok bewarna merah kesukaannya. Rok yang hanya ia gunakan di saat-saat tertentu saja. Katanya, kalau memakai baju harus urut dari yang paling jelek sampai yang paling bagus. Sampai akhirnya rok dengan pita-pita di bagian depan itu selalu tertindih baju-baju yang lain. Jadi lupa untuk dipakai. Aku tersenyum konyol, mengingat pikiran anak kecil memang sederhana.



Aku rindu hujan masa kecil, saat semua yang kutertawakan hanya badut-badut yang memainkan bola-bola di tangannya. Saat yang kutangisi hanya karena tidak dibelikan permen atau boneka. Saat semua yang lalu-lalang di benak hanya sesuatu yang sederhana. Bukan hal-hal yang perlu menyeka air mata lebih dalam, atau luka yang ditorehkan dengan sengaja. Aku selalu suka hujan masa kecil, saat aku berlarian di bawahnya lalu beringsut kaget saat petir menyambar-nyambar. Bukan hujan yang merintik pelan dengan hujatan masa kini. Atau hujan dengan tiupan angin yang begitu kencang, membawa luka yang mengendap di sekujur tubuh; meliarkan air mata yang tak ada habisnya. Sebab kehidupan ternyata jauh lebih kejam ketika aku tahu banyak hal.


Itu alasan mengapa aku tidak mau menjadi besar. Aku hanya ingin melakoni kehidupan anak kecil yang begitu jujur. Bermain karena ingin, tersenyum karena ingin, tertawa karena  ingin … saat semua terasa begitu mudah untuk dilangkahi. Saat yang ia tahu di dunia ini hanya ada orang-orang yang selalu menyayangi, bukan membenci.

Sebab terkadang yang paling membahagiakan memang ketika seseorang tidak tahu apa-apa.

250413 – Jogja, kota yang penuh kehangatan sebelum preman-preman menyerang. #loh #nggak #nyambung :p

Sahabat Selamanya

Ciptaan: Arya Kamandanu Yudistira, Fasih Radiana

Seperti purnama pada malam
kau datang membawa tenang
memancarkan sinar terang
menghapus bimbang

selagu gemericik hujan
kau mengalirkan irama kedamaian
mendawaikan gelak canda
kita mengembara dengan tawa

Bridge:
Di bawah cakrawala
janji kita untuk selamanya
kasih sayang serupa sang surya
menghangatkan jiwa
dan air mata menjelma bahagia

Reff:
Aku bahagia
denganmu aku setia
sahabat itu kita
ceria tanpa luka
cerita penuh gelora
selamanya

Download Sahabat Selamanya DI SINI

Kau dan Aku, Satu!

Melebihi cinta seorang kekasih
aku datang melebur sedih
menciptakan ramai dalam sepi
menepis gundah dan sakit hati

Jangan ragu merapuh dalam pelukku
Kita satu, kau dan aku menyatu
Jangan lupa untuk merindu
saat jemu menghampirimu

Kau dan aku menggenggam dan bersentuhan
untuk suatu pertemuan kita saling berpelukan
tentang hujan dalam terik siang
bersama kita tetap tertawa
Selamanya….

perpisahan bukan halangan
hanya menyisakan ruang-ruang
tentang sebuah kenangan
yang tak kan hilang dalam ingatan

040313~Syair lagu untuk kehangatan, cinta, perbedaan, kebersamaan, dan kebahagiaan yang tak kan bisa dituliskan dalam puisi sepanjang siang dan malam. Sebuah salam perpisahan, untuk kebersamaan yang luar biasa panjang. Tak kan pernah padam kobaran cinta tentang cerita masa sekolah. Aku tahu, kita ini satu.

Cinta Titipan Tuhan

Postingan kali ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pembaca, dan teman-teman beberapa bulan terakhir. Waktu saya gencar menulis pernyataan bahwa saya memutuskan untuk tidak lagi menjalin hubungan kecuali sebuah pernikahan (nanti). Kalau cinta tiba-tiba datang bukan keinginan saya, dan tidak akan saya tepis dari hati, tapi suatu hubungan seperti pacaran tetap tidak akan saya lakoni. Sebab yang bisa disebut pria hanya dia yang sudah siap menikahi 🙂

Karena seharusnya cinta yang sejati diletakkan di tempat yang suci. Menyatu karena Tuhan, dan dipererat oleh iman. 

Bukan hal mudah membiarkan hati berkelana sendiri. Aku hanya bisa mengendalikan diri, tapi urusan hati hanya Tuhan Sang Maha Pengendali. Aku hanya bisa menahan hati untuk tidak memiliki apa yang belum menjadi hak yang direstui. Aku hanya mencoba bertahan dengan senyum yang tiada henti meski luka kerap mampir kemari. 

Sebab kamu datang membawa kunci yang kubuang di tengah lautan. Mengapa bisa kau temukan? Apa mungkin Tuhan yang memberikan? 

Aku harap kamu bukan yang akan sudi melukai, seperti mereka yang memainkan perasaannya yang menyimpang dari Tuhan. Aku hanya akan duduk menunggu rindu yang gaduh berubah jadi syahdu sebab Tuhan menitipkannya padamu. Bukan aku yang mengizinkan seraut wajahmu terbayang setiap malam, dan aku hanya menjadikannya bulir-bulir doa yang berkeliaran di sepertiga malam terkahir. Perasaan yang bukan kuasa manusia itu hanya coba kuredam dalam diam. Kubahasakan dengan air mata yang menjuntai baid-baid doa. Demi Tuhan, aku hanya wanita seperti layaknya manusia biasa.

Dan berkali-kali aku menatanya kembali. Yang sebab kedatanganmu membuatnya berantakan. Aku mencoba mengusir segala prasangka. Aku berbalik arah dan berpaling dari jerat hati, tapi sekali lagi aku kalah. Tuhan selalu punya cara untuk menjatuhkan apa yang Dia inginkan tepat di hati seseorang. Aku percaya, cinta dengan niat yang baik akan berakhir di peraduan yang baik pula. Aku hanya bisa mengendalikan situasi, bukan perasaan yang terus menelusup ke relung hati. 

Aku membiarkannya beterbangan mencari muara. Mengaliri setiap sungai mencari hilirnya sendiri. Aku tak akan menahan siapapun, meski kamu datang kemari bukan untuk menaklukan hati. Meski ini hanya perasaanku sendiri. Aku hanya terus memperkuat iman untuk cinta yang semakin erat dalam lekat. Aku percaya, dari lorong-lorong yang gelap akan menemui terik matahari. 

Sesmestinya cinta tak saling menyakiti tapi menjadikannya abadi. Cinta yang melibatkan Tuhan di dalamnya tak kan tega membiarkannya jadi sangsi, tapi menyambungnya dengan tali yang suci. Cinta yang mengatasnamakan Tuhan bukan untuk bersentuhan tapi untuk menguatkan iman. Di situ kita diuji, kita sedang diuji untuk jauh lebih teliti. Aku menyemat cinta dalam penantian panjang, sebab aku tak butuh pernyataan darimu, kecuali yang jawabannya adalah keridhoan dari Tuhan. 

Aku seperti dipertemukan cinta di titik paling tinggi, Tuhan sedang menguji kan?

260313~Kita bisa tahu mana cinta yang berlandaskan iman atau mana yang nafsu. Kita bisa bedakan mana yang cinta Tuhan dan mana yang sebatas cinta manusia.

Siapa bilang mudah? Tapi sekali lagi, tidak susah untuk mereka yang sama-sama punya iman. Jatuh cinta bukan suatu kesalahan, tapi jadi salah ketika diberlakukan dengan cara yang kurang pas. Jangan dikira saya bisa menulis seperti ini nggak pakai acara galau dulu ya, gelisahnya singgah berhari-hari. Tapi kalau nggak buru-buru diatasi bisa terjatuh kembali. Sekali lagi wahai anak muda, cinta itu fitrah dan naluri. Kita tidak perlu menutup hati, tidak perlu melupakan dan menafikkan apa yang terjadi di hati. Biarkan saja cinta menyebar di koridor hati, cukup bubuhi cintamu dengan iman yang tidak kalah kuatnya dengan perasaan. Semoga diberi kemudahan dalam penantian untuk menunggu penyatuan dari Tuhan.

Semoga menjadi inspirasi membuka hati dan pikiran 🙂

Salam,
Fasih Radiana

Apa Ada yang Lebih Setia dari Tuhan?

Aku menghelanya. Merasakan angin menyelap tulangku. Menikmati angin yang menembus ruas-ruas dalam rusukku. Terus menghela dengan mata terpejam dalam lengkungan di bibirku. Aku bisa merasakan urat-urat dalam bibirku seperti tertarik, tulang rusuk yang naik turun dan hati yang menemukan kebahagiaan yang begitu sederhana. Kenikmatan yang jarang tersentuh selama ini, merasakan yang tak perlu kucari. Yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma untuk manusia. Udara.
Aku memandanginya. Merasakan sesuatu yang runcing jatuh tepat di mataku. Mendesirkan segala gundah yang makin merangah. Aku meliarkan pandangan, mencari-cari pasangannya. Di mana ia bersembunyi; satuan yang lain. Tak bisa lepas menghitung berapa banyak lapisannya mewarnai setiap gerak bola mata. Menggenapkan jingga dengan senjanya. Analogi kebaikan yang selalu ada di balik suatu keburukan. Hanya kadang tak menampakkan dirinya. Seperti kegagalan yang selalu satu paket dengan keberhasilan, atau selagu kepedihan dengan tawanya. Hujan dan pelangi.
Aku menyekanya. Mengusap dengan jemari-jemari yang makin terlihat rapuh dalam peluh yang terus jatuh. Merasakan bahuku naik-turun tanpa lelah. Tubuhku terguncang semakin hebat, napas panjang bahkan tak bisa menghentikannya. Lalu aku memeluknya, tersenyum untuk kesekian kalinya. Merasakan kedahsyatan nikmat Tuhan. Yang selama ini dianggap simbol kelemahan, ternyata justru menjadi penguat terakhir yang selalu membuatku bisa berdiri saat keadaan memaksaku untuk terus jatuh. Air mata.
Aku menggumam. Terus tanpa putus, aku berbincang dengan-Nya. Membicarakan banyak hal yang tak bisa kuceritakan pada siapa saja. Aku memang tak pernah melihat, tak bisa mendengar suara-suara menggema melalui telinga. Tapi aku selalu menemukan sosok-Nya di setiap langkah dalam hentakan kakiku. Aku tak perlu bertanya di mana Dia berada, aku tak pernah meragukan sedikit pun tentang cinta-Nya. Yang setia terjaga untukku, yang merasakan kesedihan meski disembunyikan di tempat paling dalam. Yang sering dilupakan sebab tak tampak kasatmata, padahal justru yang paling nyata adanya. Tuhan.
Saat bingung kemana mesti melangkah, kakiku melangkah ke rumah Tuhan. Saat tidak tahu lagi mesti berbicara pada siapa, aku berdoa pada Tuhan. Mungkin kalau satu detik saja Tuhan menjauhkan jarak, aku hilang. Aku bisa saja berjalan sendirian tanpa iringan, aku bisa saja merasakan tanpa suatu sentuhan. Tapi siapa yang bisa bertahan tanpa bantuan Tuhan?

Mungkin kamu bilang, aku kalimat yang penuh bualan. Tapi bagiku berbicara tentang Tuhan tak perlu catatan, tak butuh sanjungan. Tuhan itu penenang, merekatkan yang lepas berjatuhan. Tuhan itu indah tanpa perlu kutahu bentuk dan rupanya. Tuhan itu kunci yang membuka segala peluang untuk bersedih atau bahagia. Untuk kalah atau menang, untuk jatuh cinta atau terluka.
Berbahagialah aku, sebab sering mendapat izin dari Tuhan untuk menjajal kekuatan melalui ujian dan menjejal luka yang berujung pada ketenangan yang tiada akhiran. Berbahagialah aku, sebab sering dijatuhkan untuk menjadi lebih kuat setiap matahari menjelang lebih siang. Berbahagialah aku, selalu diletakkan dalam keadaan yang terkadang tak bisa kutaklukan atau perasaan yang sering kutakutkan. Sebab Tuhan memberi pengertian tentang kekuatan dan perjuangan. Kebahagiaan yang tersemat dalam setiap penantian, senyuman yang terletak di antara air mata. Dan Tuhan menjawab segala keresahan.
Berbahagialah kamu, meski sakit menghujam kejam dalam setiap kezaliman yang datang. Berbahagialah kamu yang mengenal Tuhan dan datangilah Tuhan-Mu di setiap malam, selagi bulan masih sempat menerangi legam. Bersujud dan menangislah dalam pelukan Tuhan, berbahagialah karena Tuhan tak pernah membiarkan siapapun jatuh sendirian.
Tuhan ingin kita tahu, bahwa yang paling dibutuhkan manusia hanyalah iman dengan segala cinta di tepiannya. Sebab sebenarnya kita hanya bagian terkecil dari satuan alam yang kadang enggan menemukan dan merasakan kebahagiaan yang Tuhan selipkan di sela kepahitan.
Jangan pernah berhenti mengingat Tuhan, maka Tuhan akan mengerahkan seluruh kekuatan untuk membuatmu bertahan dalam keadaan yang datang tanpa bisa diprediksikan. Jangan pernah berhenti mencari, lihat, dan temukan bahwa ternyata kebahagiaan yang kaucari selama ini sudah berada tepat di depanmu.
240313~Sedalam luka yang mampir kemari, sebanyak itu pula aku mesti berbahagia 🙂

Dear God, I’m not a Loser

Meski berkali-kali Kau menjatuhkan, aku tak akan pernah berada dalam kesedihan. Bukankah Engkau memang menciptakan kekuatan baja mengelilingi retakan di sekujur tubuhku? Meski cacian dilempar ke mukaku, aku tak akan pernah menyerahkan impian-impian yang susah payah kuperjuangkan. Bahkan meski berkali-kali sakit merumah di dadaku, aku tak akan pernah membiarkan siapapun juga mengambil alih hidupku.

Aku tahu, Engkau sengaja mengujiku. Ingin tahu seberapa besar keinginanku untuk menang. But I’m not a loser, God.
Meski Kau sengaja menyengalkan napas, aku tak akan begitu saja terhempas. Aku tak pernah meminta satuan semacam perhatian, sebab hal-hal semacam itu bukan tabiatku. Aku lakukan sendirian sampai titik darah penghabisan. Akan tetap kulakukan meski Kau masih juga mendorongku untuk jatuh lebih dalam, aku lebih percaya itu bagian dari penundaan. Kebahagiaan, dan semua yang belum Kau kabulkan pasti sudah Kau susun dengan begitu sempurna di akhir cerita.

Meski Kau membawa seribu alasan untuk membuatku meninggalkan-Mu, tak kan pernah membuat jalanku menyimpang. Sebab aku tahu Kau tebing paling kokoh, Kau tetap menjadi bahu paling nyaman, atau peluk paling hangat untuk kuberdiam. Maka, teruskanlah membuatku merasa ingin mencicipi kematian. Karena sampai separuh nyawaku pun Kau ambil, aku tetap jadi yang paling hebat bertahan. Meski sendirian, meski sendirian….

Iya, meski semua orang melihatku dengan hinaan, atau meludahiku dengan penuh kebencian aku tetap tak akan pernah menyilangkan aturan. Ketahuilah, Tuhan…. aku hamba-Mu yang paling percaya dengan keajaiban dan naskahmu; skenario Tuhan yang begitu sempurna.

For Musikalisasi puisi KLICK THIS!