Idealisme Masa Silam

Hai, masa depan. Jangan bersembunyi di balik takdir orang. Patahkan segera bila memang tak tepat dalam naskahnya. Jangan takut aku menangis karenanya, aku tak akan malu menapakinya. Bukankah di depan Tuhanmu aku sudah mengakuinya?

Masa depan, dulu aku mengira kau adalah rencana yang mesti disusun begitu sempurna. Dengan daya yang tak sedikit, dengan alir air mata yang tumpah menyangga luka, dengan segala yang ternyata hanya dampak ketidakinginan mengulang kesalahan lama. Terlampau dalam aku menguburnya diam-diam, menjadikan harap pada yang tak sepatutnya diraih dengan cara berpunggungan dengan pemilik kuasa. Kini, cerita sudah diobrak-abrik penyesalan. Masihkah ada ruang perbaikan?

Sendiri adalah makanan sehari-hari. Aku tak pernah sudi menggantinya dengan ramai yang berduyun-duyun melamar kemari. Sadari sebenarnya ada satu angan rahasia sejak lama untuk memiliki rak sepatu, agar ada tempat menaruh dua kaki yang lesu. Lalu lemari besi untuk menggantung sendi-sendi yang terlalu sering dipaksa berlari tanpa henti. Lantai kayu untuk membaringkan tulang reyot di bawah atap yang bila malam menyoroti kantung mata dengan purnama. Tapi ternyata aku tak butuh itu semua. Cukup satu hati yang mengajak lelah berterus-terang ketika langit masih kelam, tapi bulan sudah samar menghilang. Dan tak satupun, termasuk segala ilmuku yang tahu, siapa ia. Di mana sedang berpijak. Atau kapan akan berjumpa.

Masa depan, bila bagimu aku terburu-buru, bila kau tahu niat itu bergeser terlalu jauh, beritahu aku. Tak apa, aku tak akan marah. Tegar sudah disiapkan untuk lebih tabah. Sebab tak lagi ada waktu untuk mengulang-ulang kepayahan diri membawa seluruh aku pada dunia yang semu.

Tolong, bantu katakan pada Tuanmu, hancurkan saja apapun yang tak Ia sukai. Bila memang harus, sakit separah apa, aku bersedia. Bunuh saja.

©Fasih Radiana

Jarak yang Kubawa Pulang

Bu.
Apa kabar?

Lama kupikir aku adalah yang paling kuat.
Lama kukira aku adalah yang paling sabar.
Lama kurasa akulah yang tiada.

Ayah.
Sedang apa?

Belum lama sepertinya, aku diberi selembar hitam-putih berukuran 3×4; usang, robek separuhnya.
Belum lama kiranya, aku sombong tak akan pernah bertanya mengapa kau di sana; entah, di mana.
Belum lama ternyata, aku tak kuasa ingin mengubah segumpal darah dalam dagingku.

Tapi tak bisa, batinku.
Tapi tak mungkin, lirihku.
Tapi tak boleh, kata-Nya.

Barangkali, jarak yang kubawa pulang tak sampai waktu untuk menemuinya kembali.
Barangkali, sudah kosong sampai tujuan.
Barangkali.


Kali ini aku ingin mengulang segala dari nol. Lalu bertanya bagaimana caranya.
Aku ingin terbang ke masa yang sudah lama kutinggalkan sendirian. Tapi tak bisa kan?
Seandainya saja, seandainya saja.

Segala fiksi jadi tampak begitu nyata mengambang begitu saja di permukaan. Atau justru realita mengumpat layaknya khayal yang semu.

Seandainya jarak tak pernah punya ukuran waktu untuk sampai pada pertemuan di titik yang kita inginkan. Mungkin saat ini aku memilih untuk tidak mengenali siapalah diri yang dikalahkan oleh takdir. Sebab aku tahu, aku tahu itu aku.

Di persimpangan waktu, 2014

Kutulis dalam Doa

Kiranya kau bertanya mengapa selalu kuselipkan kata “doa” dalam baris yang berlapis-lapis?

more quotes www.fasihrr.tumblr.com

Aku tak bisa menemui diri menepi dalam sunyi, kecuali hening menghantarku pada lantunan rindu. Ia berirama merdu, suaranya tak memecah telinga tapi mengaung ke seluruh jiwa. Bahkan jiwamu, barangkali ikut pula merasakannya. Saat aku meminta pekat malam segera memberi damba pada yang haus meronta, mengenang fajar yang lama sudah tak dijumpa. Ada cinta dalam sebingkis doa.

follow me @fasihrdn on twitter

Kalau sampai detik ini ternyata bagiku ketidaksempurnaanmu masih jadi sebab sempurnaku, bukan lantas aku bisa memelukmu semauku, bukan berarti kau langsung sah begitu saja menjadi penghuni di hatiku. Tapi hanya dalam doa aku menuliskan segala harap tentang hati yang kadung luka. Hati yang sudah jatuh dari segala arah. Hati yang setia pada bahagia miliknya, lewat air mata yang ditumpahkan pada garis katulistiwa. Menembus cakrawala, membelah laut yang memerah karena bias purnama. Ada bahagia membaur pada tetes air mata, dalam selarik doa.
Dan bagian yang tak bisa kuurai selalu melibatkan Tuhan di dalamnya. Jangan tutup matamu hanya sebab masa lalu yang tak juga kembali ke pelukmu. Membuatmu membenci cinta, apa kau kira hidup hanya sebatas itu saja? Perumpamaan yang pas akulah yang lebih tahu rasanya lara memantik separuh jiwa. Apa tak belajar dari lukaku, mengapa tak mencoba memaafkan dirimu? Mengapa mesti membuka duka baru … peluk saja wanitamu dalam doa. Pelajari kesakitannya agar bisa kau perbaiki retak di dadanya. Kalau memang perlu, aku ikut mendoa untuk kau berdua.
Karena doa tak pernah melihat kepada siapa….
kepada yang mencintainya atau yang melukainya.

“Broken Home” Bukan Alasan Mengabaikan Tuhan

Ada yang bilang menyimpang dari aturan adalah tuntutan kehidupan. Hidup yang katanya kejam, tidak menempatkan dirinya pada yang namanya keadilan. Bukankah memang begitu cara Tuhan menguji kesabaran dalam penantian?
“Ayah Ibuku sudah lama bercerai, aku hanya dihidupi oleh seorang Ibu yang harus mondar-mandir banting tulang sendirian.”
Alasan pertama membenci kehidupan. Membenci semua pria sebab ibunya ditinggalkan. Buat apa lagi lelaki menggenapi? Toh, nyatanya Ibuku bisa hidup sendiri.
“Ibuku berselingkuh sebab katanya Ayah tak bisa membuatnya bahagia.”

Alasan mengapa aku mempermainkan keadaan. Memainkan peran untuk menggandeng jemari yang berbeda setiap hari. Aku bisa merengek kesana-kemari sesuka hati. Meminta ini-itu pada lelaki mana pun. Bukankah Ibu adalah panutan? Bukankah begitu yang Ibu ajarkan?
“Ayahku pemabuk berat, setiap hari memukuli Ibuku. Lebam di sekujur tubuhku pun jadi saksi bisu.”
Alasan sebatang rokok adalah penghilang pilu. Ada rasa yang melegakan di setiap hisapannya. Menghilangkan pekat yang membayangi setiap pukulan yang selalu berdentam-dentam di telingaku. Sabu-sabu jadi pilihan kedua, aku bisa menghirup ketenangan di balik kegetiran. Aku bisa merasakan kehidupan yang bebas tanpa masalah yang selalu saja jadi hidangan.
“Ayah dan Ibuku hanya seorang pemulung. Bisa apa untuk mencukupi kebutuhanku? Kami tinggal di gubuk kecil yang terbuat dari triplek, aku bahkan tak bisa meluruskan kakiku sendiri.”
Alasan aku lebih suka menepi, sendiri. Dicaci maki sudah jadi makanan sehari-hari hanya karena aku seorang yang fakir miskin. Begitu mudah semua menghina, melempariku dengan tatapan “jijik”. Aku benci orang tuaku, sebab mereka membuatku malu. Aku tidak layak belajar, aku juga tidak ingin belajar di sekolah. Aku tidak punya fasilitas seperti yang dimiliki teman-teman. Aku benci orang tuaku sebab mereka bukan yang pandai mencetak lembaran uang.
“Aku seorang penghuni panti asuhan, tak pernah mengenal kasih sayang orang tua,” atau “Orang tuaku pebisnis yang sukses, setiap hari bergelut dengan kehidupan yang bergelimang harta. Mencari uang adalah ambisi, lalu aku hanya disuguhi materi.”
Alasan mengapa aku mencari perhatian dari sana-sini. Dengan cara apapun akan kulakukan demi mendapatkan kasih sayang dari segala penjuru. Bahkan menjadi yang tak mengenal “adat-istiadat”. Aku tak peduli, yang penting aku bisa menjadi pusat perhatian.
Bagian yang mana ceritamu? Yang seperti apa kehidupan meletakkan kamu pada satu cerita yang bisa disebut “broken home”? Yang seperti apa kiranya? Seperti apa kamu menikmatinya?

Sudah retak tepiannya, kosong di tengah-tengahnya, apa masih juga hancur seluruhnya? Rusak bukan alasan untuk menghancurkan diri. 
Padahal Tuhan mengintai setiap tindakan yang tak terekam mata manusia. Bukan alasan, menyebut diri sendiri sebagai penyandang gelar “Broken Home” lalu bisa seenaknya menyilangkan aturan. Bukankah justru berbahagia? Tuhan mengajarimu menyandarkan tubuh hanya kepada-Nya. Bukankah seharusnya senang? Sebab hidup hanya sekadar pilihan dari tantangan Tuhan.
Bukan salah keadaan menempatkan kamu pada satuan, hanya kamu saja yang belum bisa mengendalikan. Tuhan hanya mengirim pesan sebagai sinyal menuju kebahagiaan. Kalau kamu bisa membaca pesan Tuhan dengan saksama, kalau kamu bisa melewatinya tanpa meninggalkan Tuhan.
Bukankah Tuhan adalah sutradara paling baik menuliskan skenario dengan ending tak terduga? Bahagia memang kerap muncul belakangan. Bersabarlah, maka Tuhan akan merengkuhmu dalam balutan doa-doa yang menjadi akhir penantian dari segala kesedihan.

#Tiba-tiba pengen nge-posting hasil pengamatan Saya yang sudah lama lalu-lalang di pikiran, semoga bisa sedikit membuka hati dan pikiran siapa saja yang membaca, ya 🙂


Salam,
Fasih Radiana

Jaga Kita Sampai Nanti, Sampai Mati

Jadi, aku hanya perlu bukti bahwa kau tetap di sini, menetap di hati. Sampai segalanya Tuhan sendiri yang menghabisi. Sebab kita sudah membuat janji, tak ‘kan pernah saling melepaskan genggam kecuali Tuhan sendiri yang menginginkannya.
Kalau ada ketakutan dalam hatiku, mengintip melalui celah-celah masa lampau. Kau tahu, Sayang? Hanya sebab aku merasa begitu takut membuatmu merindukan yang selain aku. Bukan aku meragukan cintamu, hanya saja, terkadang aku jadi begitu manusiawi. Menginginkanmu selalu berada di sini, padahal, katamu, kau hanyalah manusia yang seharusnya kugantungkan semua harapan bukan padamu kan? Tapi pada Tuhan yang menggenggam takdir untukku. Maaf, jika aku telanjur mengindahkan mimpi-mimpiku di sampingmu. Maaf, jika aku salah meletakkan semua beban di pundakmu, lalu kamu merasa berat karena itu….
Ingin rasanya memelukmu agar kau tahu betapa kau tak perlu khawatirkan apapun sebab apapun yang terjadi aku ada di sekitar hatimu. Sebab sesulit apapun denganmu, aku tak ‘kan mungkin begitu saja pergi meninggalkanmu.

Katamu, semestinya kita perbaiki bersama. Jadi, ingatkan aku, peringatkan aku ketika aku salah memperlakukanmu. Ingatkan aku yang masih sering lupa untuk menjaga lelahmu. Lalu ajari aku untuk mengerti semuamu, sebab aku wanita yang terkadang juga tak bisa paham keinginanmu. Ajari aku untuk bersabar menunggumu. Ajari aku untuk menjadi seseorang yang selalu kau butuhkan setiap waktu. Genggam tanganku, Sayang. Sebab dalam keadaan apapun, aku yang tak bisa apa-apa ini hanya akan selalu ada untukmu.
Bersamamu saja sudah membuat segalanya jadi lebih sempurna. Berbagi waktu, celoteh sederhana, tatap mata dan segaris senyum yang diam-diam kumainkan di balik punggungumu. Bahagia, memang begitu sederhana bila kau di dekatku. Darimu kutemukan hakikat merindu. Bahwa rindu bukan sebab berapa jauhnya jarak, bukan soal seberapa lama tak bertemu. Tapi sebab dalamnya cintaku padamu. Sebab kamu yang selalu menyuguhkan ketenangan di sini, di sudut hati. Yang tak bisa kutukar dengan apapun, kecuali kebersamaan yang tak pernah ingin kuakhiri.
Aku tidak akan menjadi siapapun yang kamu dambakan. Aku hanya akan meningkatkan kualitas dalam diriku tanpa mengurangi sedikit pun aku di dalamnya. Sebab itu, aku menunggu seseorang yang mau melengkapi kekuranganku dan bersedia kulengkapi dengan kelebihanku. Lalu, jadilah kita satu tim yang solid, yang bisa bekerja sama dengan baik. Dan aku yang akan menjadi penguat saat lelah mengganggumu. Lalu jadilah tempat ternyaman untuk berlindung saat gelisah menyapaku. Sekarang tinggal bagaimana kau menjagaku, hatiku, seluruhku, untuk tetap bertahan denganmu. Pun begitu denganku yang berusaha menjadi sejatimu.
Dan dalam doa, aku meminta pada Tuhan, semoga bahagia denganmu tak akan pernah menemui akhirnya.
251113~Kutemui hidupku dalam setiap langkah kakimu, kutemui aku dalam dirimu.

Dan Kau….


Mengubah kebiasaanku yang lebih tenang tanpa siapapun, jadi kelimpungan saat tak ada kamu di sekitarnya.

Meski tak kubuka dengan suara, tak kutulis dengan kalimat tanya untuk tahu jawabannya. Semestinya tahu dengan sendirinya. Apa kau buta? Tak bisa membaca peta yang susah payah kugambari sendiri. Atau kau pura-pura? Tak mau meraba jejak menuju hatiku yang mulai meluka sendirinya.


Ah, kini galau jadi teman sehari-hari. Padahal kau tak peduli sama sekali. Beritahu aku caranya membuatmu merindukan aku setiap waktu. Lalu kaugeser ia dari lini waktumu. Masa lalu yang tak perlu kauharap kembali ke pelukmu. Tak juga sadarkah dirimu telah mengusik hatiku; Mengubahnya jadi sembilu.


Lalu setiap menit sampai habis malam kusambangi ponselku hanya untuk melihat apa kau menghubungiku. Akan kutunggu kau ajak aku bicara meski tanpa tatap muka, sebelum merjan pecah dini hari. Apa kau tahu bagaimana rasa sesak saat harus menahan diri untuk tidak merindukan seseorang yang (bukan) siapa-siapaku …
lalu aku hanya bisa memandangi segalamu dari balik layar yang mulai bosan melihatku terus-terusan menatapnya hanya karena ingin tahu keberadaanmu. Kau tahu apa yang lebih menyakitkan dari cinta tak berbalas? Adalah cinta yang jatuh tidak tepat waktu.

Dan aku kehilangan gramatika. Aku pulang tanpa kata. Aku pergi tanpa bicara. Aku merapuh sendirian. Bukankah kautahu di mana letak lebih dan kurangku? Tak bisakah kaumemahaminya lebih dalam? Tak maukah kaumempelajarinya lebih detail? Seperti serbuk yang beterbangan, aku butuh uluran tangan untuk memungutnya satu per satu.

Kumohon, kembalikan aku pada satu titik sebelum pertemuan itu. Lalu biarkan aku tak pernah mengenalmu. Bukankah lebih baik begitu?

Atau biarkan saja aku menikmati letihku sendiri. Mengikuti alur Tuhan. Bukankah kita tak pernah diberitahu lebih dulu apa yang terjadi satu detik mendatang? Bukan tidak mungkin, akulah rusukmu yang hilang.



250913~Kau baca, tapi kau tak pernah tahu semua ini untukmu.



Sophisticated; Friksi dalam Hati

Desakan dalam dada, katanya ingin cinta pergi saja. Tapi rupanya bagi hati, cinta adalah bonanza.

Kali ini aku takut kaumengerat apa yang belum boleh kuinjak. Aku takut perasaan yang memenuhi ruang di jiwa ternyata galat semata. Padahal serebrum sudah mati-matian mengatrisi perasaan yang mulai agitasi. Konvensi yang tak pernah jadi kesepakatan antara kau dan aku, ternyata bertemu dalam ekamatra.

Ah, betapa ramai sekali di hati menjabarkan esensi. Mengelaborasi satuan rasa yang membelah diri. Apa tidak salah menyerahkan naluri pada intuisi yang belum tentu tepat bidik? Apa pantas membiarkannya terus berkeliaran? Sedang aku tahu betul ada yang sedang membelungsing. Tak henti menginsinuasi gerak hati.

tweet me on @fasihrdn

Lalu dengan takzim aku memintanya undur diri dari sini; evokasi yang mulai membuatku takut sendiri. Kalau-kalau yang berani menelusup hati ternyata sekadar imitasi. Eklektik; masih memilih sana-sini. Atau barangkali, nomadik; berpindah kesana-kemari.

Sudah kutanyakan ini berkali-kali, tapi tak juga menghasilkan konklusi. Sebab sepertinya suatu hal yang muskil, mengeksekusi paksa rasa yang genjah; begitu mudah menyebar. Yang orang bilang itu cinta. Apa mungkin begitu saja akan abdikasi dari hati. Apa mungkin?

Sedari tadi aku bicara padamu tentang bisikan nurani. Aku memintamu tak lagi menggegai seperti anoksik yang makar; bertipu muslihat. Apa bicaraku sedari tadi terlalu rumit untuk kau pahami? Sebenarnya aku hanya takut mengakui; ternyata hati tak pernah bisa memilih pada siapa ia kalah, menyerahkan diri.

Lalu kecuali menunggu Tuhan merestui, apa lagi yang kucari?

Teruntuk Kamu; Lelakiku di Masa Depan

Kali ini Tuhan menjatuhkan cinta lewat sederet bahasa yang diam. Aku terperangah. Bingung, mau tersenyum atau menangis. Dan ternyata keduanya bebarengan menghias rupa. Di depan layar yang selalu membuatku meluncurkan nyanyian tanpa nada. Tapi berirama sama seperti bahagia. Hanya saja kau tak kan bisa melihatnya dengan kasatmata. Sebab bahagiaku ini jatuh tetes lewat air mata.

Ini cinta yang tak perlu jemari untuk menggenggamnya. Ini cinta yang tak meminta lengan memeluknya. Ini cinta yang tak menggunakan mata untuk menatap setiap gerak-geriknya. Ini cinta yang tak membuka mulut untuk menyuarakannya. Ini cinta yang tak menjanjikan ikatan selamanya. Sebab ini cinta yang merindu lewat doa. Ini cinta yang menunggu Tuhan menyatukannya. Ini cinta?

Sebab setiap lariknya kutulis dengan cinta yang kutahan mati-matian; pun seharusnya kau begitu pula bertahan dan kita saling mempertahankan. Mungkin jarak dan waktu membiarkan kau dan aku beradu dalam rindu yang sedikit lebih haru. Sebab selalu kusemat disepertiga waktu; sebelum dini hari. Aku enggan berbantah mulut, menepis cemburu yang tak semestinya melesap masuk ke rongga dada. Aku ini siapa?

Semoga kau bukan yang suka mencabar; menawar hati lewat puisi. Mencecar siapa saja dengan puji bertubi-tubi. Mengkoyak gejolak yang muncul di mana saja. Dengan mudah membawa nama Tuhan demi cinta yang hanya singgah sebentar; sanggrah. Bercelangap mengungkap rasa yang nyatanya langsung lesap sekejap. Kita bukan lagi anak muda yang kerap mengumbar rasa bukan?

Kau dan aku pasti punya sebingkis kisah masa lalu. Mungkin sebungkus rindu yang berujung pilu bertalu. Mungkin juga setumpuk cinta yang ternyata sesaat saja mendamba. Yang sejumput itu, tak akan terulang kembali pada kita kan?

Kau pasti mengerti betapa sulit aku menyusun denyut nadi agar kembali rapi. Kau mungkin juga paham betapa lama aku berdiri menstabilkan posisi. Dan aku juga tahu, kau tak akan menggoyahkan apa yang kadung rangup; aku yang tersaruk berantuk dengan hatimu.

Lalu kini jadi waktu yang tepat untuk mengasah rasa. Mengaduk-aduk yang buruk jangan sampai jadi ambruk. Lalu jangan lupa sertakan Tuhan dalam setiap rindu yang membukut kalbu. Sebab di antara kau dan aku perantaranya hanya Tuhan, bukan?

12:45 AM 220413~Teruntuk kamu, lelakiku di masa depan. Jangan pernah menoleh ke belakang. Lalu kamu yang menjatuhkan hatimu tepat di hatiku, teruskan cintamu memperjuangkan yang mungkin saja memang ditakdirkan menjadi milikmu.

Cinta Titipan Tuhan

Postingan kali ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pembaca, dan teman-teman beberapa bulan terakhir. Waktu saya gencar menulis pernyataan bahwa saya memutuskan untuk tidak lagi menjalin hubungan kecuali sebuah pernikahan (nanti). Kalau cinta tiba-tiba datang bukan keinginan saya, dan tidak akan saya tepis dari hati, tapi suatu hubungan seperti pacaran tetap tidak akan saya lakoni. Sebab yang bisa disebut pria hanya dia yang sudah siap menikahi 🙂

Karena seharusnya cinta yang sejati diletakkan di tempat yang suci. Menyatu karena Tuhan, dan dipererat oleh iman. 

Bukan hal mudah membiarkan hati berkelana sendiri. Aku hanya bisa mengendalikan diri, tapi urusan hati hanya Tuhan Sang Maha Pengendali. Aku hanya bisa menahan hati untuk tidak memiliki apa yang belum menjadi hak yang direstui. Aku hanya mencoba bertahan dengan senyum yang tiada henti meski luka kerap mampir kemari. 

Sebab kamu datang membawa kunci yang kubuang di tengah lautan. Mengapa bisa kau temukan? Apa mungkin Tuhan yang memberikan? 

Aku harap kamu bukan yang akan sudi melukai, seperti mereka yang memainkan perasaannya yang menyimpang dari Tuhan. Aku hanya akan duduk menunggu rindu yang gaduh berubah jadi syahdu sebab Tuhan menitipkannya padamu. Bukan aku yang mengizinkan seraut wajahmu terbayang setiap malam, dan aku hanya menjadikannya bulir-bulir doa yang berkeliaran di sepertiga malam terkahir. Perasaan yang bukan kuasa manusia itu hanya coba kuredam dalam diam. Kubahasakan dengan air mata yang menjuntai baid-baid doa. Demi Tuhan, aku hanya wanita seperti layaknya manusia biasa.

Dan berkali-kali aku menatanya kembali. Yang sebab kedatanganmu membuatnya berantakan. Aku mencoba mengusir segala prasangka. Aku berbalik arah dan berpaling dari jerat hati, tapi sekali lagi aku kalah. Tuhan selalu punya cara untuk menjatuhkan apa yang Dia inginkan tepat di hati seseorang. Aku percaya, cinta dengan niat yang baik akan berakhir di peraduan yang baik pula. Aku hanya bisa mengendalikan situasi, bukan perasaan yang terus menelusup ke relung hati. 

Aku membiarkannya beterbangan mencari muara. Mengaliri setiap sungai mencari hilirnya sendiri. Aku tak akan menahan siapapun, meski kamu datang kemari bukan untuk menaklukan hati. Meski ini hanya perasaanku sendiri. Aku hanya terus memperkuat iman untuk cinta yang semakin erat dalam lekat. Aku percaya, dari lorong-lorong yang gelap akan menemui terik matahari. 

Sesmestinya cinta tak saling menyakiti tapi menjadikannya abadi. Cinta yang melibatkan Tuhan di dalamnya tak kan tega membiarkannya jadi sangsi, tapi menyambungnya dengan tali yang suci. Cinta yang mengatasnamakan Tuhan bukan untuk bersentuhan tapi untuk menguatkan iman. Di situ kita diuji, kita sedang diuji untuk jauh lebih teliti. Aku menyemat cinta dalam penantian panjang, sebab aku tak butuh pernyataan darimu, kecuali yang jawabannya adalah keridhoan dari Tuhan. 

Aku seperti dipertemukan cinta di titik paling tinggi, Tuhan sedang menguji kan?

260313~Kita bisa tahu mana cinta yang berlandaskan iman atau mana yang nafsu. Kita bisa bedakan mana yang cinta Tuhan dan mana yang sebatas cinta manusia.

Siapa bilang mudah? Tapi sekali lagi, tidak susah untuk mereka yang sama-sama punya iman. Jatuh cinta bukan suatu kesalahan, tapi jadi salah ketika diberlakukan dengan cara yang kurang pas. Jangan dikira saya bisa menulis seperti ini nggak pakai acara galau dulu ya, gelisahnya singgah berhari-hari. Tapi kalau nggak buru-buru diatasi bisa terjatuh kembali. Sekali lagi wahai anak muda, cinta itu fitrah dan naluri. Kita tidak perlu menutup hati, tidak perlu melupakan dan menafikkan apa yang terjadi di hati. Biarkan saja cinta menyebar di koridor hati, cukup bubuhi cintamu dengan iman yang tidak kalah kuatnya dengan perasaan. Semoga diberi kemudahan dalam penantian untuk menunggu penyatuan dari Tuhan.

Semoga menjadi inspirasi membuka hati dan pikiran 🙂

Salam,
Fasih Radiana

Apa Ada yang Lebih Setia dari Tuhan?

Aku menghelanya. Merasakan angin menyelap tulangku. Menikmati angin yang menembus ruas-ruas dalam rusukku. Terus menghela dengan mata terpejam dalam lengkungan di bibirku. Aku bisa merasakan urat-urat dalam bibirku seperti tertarik, tulang rusuk yang naik turun dan hati yang menemukan kebahagiaan yang begitu sederhana. Kenikmatan yang jarang tersentuh selama ini, merasakan yang tak perlu kucari. Yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma untuk manusia. Udara.
Aku memandanginya. Merasakan sesuatu yang runcing jatuh tepat di mataku. Mendesirkan segala gundah yang makin merangah. Aku meliarkan pandangan, mencari-cari pasangannya. Di mana ia bersembunyi; satuan yang lain. Tak bisa lepas menghitung berapa banyak lapisannya mewarnai setiap gerak bola mata. Menggenapkan jingga dengan senjanya. Analogi kebaikan yang selalu ada di balik suatu keburukan. Hanya kadang tak menampakkan dirinya. Seperti kegagalan yang selalu satu paket dengan keberhasilan, atau selagu kepedihan dengan tawanya. Hujan dan pelangi.
Aku menyekanya. Mengusap dengan jemari-jemari yang makin terlihat rapuh dalam peluh yang terus jatuh. Merasakan bahuku naik-turun tanpa lelah. Tubuhku terguncang semakin hebat, napas panjang bahkan tak bisa menghentikannya. Lalu aku memeluknya, tersenyum untuk kesekian kalinya. Merasakan kedahsyatan nikmat Tuhan. Yang selama ini dianggap simbol kelemahan, ternyata justru menjadi penguat terakhir yang selalu membuatku bisa berdiri saat keadaan memaksaku untuk terus jatuh. Air mata.
Aku menggumam. Terus tanpa putus, aku berbincang dengan-Nya. Membicarakan banyak hal yang tak bisa kuceritakan pada siapa saja. Aku memang tak pernah melihat, tak bisa mendengar suara-suara menggema melalui telinga. Tapi aku selalu menemukan sosok-Nya di setiap langkah dalam hentakan kakiku. Aku tak perlu bertanya di mana Dia berada, aku tak pernah meragukan sedikit pun tentang cinta-Nya. Yang setia terjaga untukku, yang merasakan kesedihan meski disembunyikan di tempat paling dalam. Yang sering dilupakan sebab tak tampak kasatmata, padahal justru yang paling nyata adanya. Tuhan.
Saat bingung kemana mesti melangkah, kakiku melangkah ke rumah Tuhan. Saat tidak tahu lagi mesti berbicara pada siapa, aku berdoa pada Tuhan. Mungkin kalau satu detik saja Tuhan menjauhkan jarak, aku hilang. Aku bisa saja berjalan sendirian tanpa iringan, aku bisa saja merasakan tanpa suatu sentuhan. Tapi siapa yang bisa bertahan tanpa bantuan Tuhan?

Mungkin kamu bilang, aku kalimat yang penuh bualan. Tapi bagiku berbicara tentang Tuhan tak perlu catatan, tak butuh sanjungan. Tuhan itu penenang, merekatkan yang lepas berjatuhan. Tuhan itu indah tanpa perlu kutahu bentuk dan rupanya. Tuhan itu kunci yang membuka segala peluang untuk bersedih atau bahagia. Untuk kalah atau menang, untuk jatuh cinta atau terluka.
Berbahagialah aku, sebab sering mendapat izin dari Tuhan untuk menjajal kekuatan melalui ujian dan menjejal luka yang berujung pada ketenangan yang tiada akhiran. Berbahagialah aku, sebab sering dijatuhkan untuk menjadi lebih kuat setiap matahari menjelang lebih siang. Berbahagialah aku, selalu diletakkan dalam keadaan yang terkadang tak bisa kutaklukan atau perasaan yang sering kutakutkan. Sebab Tuhan memberi pengertian tentang kekuatan dan perjuangan. Kebahagiaan yang tersemat dalam setiap penantian, senyuman yang terletak di antara air mata. Dan Tuhan menjawab segala keresahan.
Berbahagialah kamu, meski sakit menghujam kejam dalam setiap kezaliman yang datang. Berbahagialah kamu yang mengenal Tuhan dan datangilah Tuhan-Mu di setiap malam, selagi bulan masih sempat menerangi legam. Bersujud dan menangislah dalam pelukan Tuhan, berbahagialah karena Tuhan tak pernah membiarkan siapapun jatuh sendirian.
Tuhan ingin kita tahu, bahwa yang paling dibutuhkan manusia hanyalah iman dengan segala cinta di tepiannya. Sebab sebenarnya kita hanya bagian terkecil dari satuan alam yang kadang enggan menemukan dan merasakan kebahagiaan yang Tuhan selipkan di sela kepahitan.
Jangan pernah berhenti mengingat Tuhan, maka Tuhan akan mengerahkan seluruh kekuatan untuk membuatmu bertahan dalam keadaan yang datang tanpa bisa diprediksikan. Jangan pernah berhenti mencari, lihat, dan temukan bahwa ternyata kebahagiaan yang kaucari selama ini sudah berada tepat di depanmu.
240313~Sedalam luka yang mampir kemari, sebanyak itu pula aku mesti berbahagia 🙂