Idealisme Masa Silam

Hai, masa depan. Jangan bersembunyi di balik takdir orang. Patahkan segera bila memang tak tepat dalam naskahnya. Jangan takut aku menangis karenanya, aku tak akan malu menapakinya. Bukankah di depan Tuhanmu aku sudah mengakuinya?

Masa depan, dulu aku mengira kau adalah rencana yang mesti disusun begitu sempurna. Dengan daya yang tak sedikit, dengan alir air mata yang tumpah menyangga luka, dengan segala yang ternyata hanya dampak ketidakinginan mengulang kesalahan lama. Terlampau dalam aku menguburnya diam-diam, menjadikan harap pada yang tak sepatutnya diraih dengan cara berpunggungan dengan pemilik kuasa. Kini, cerita sudah diobrak-abrik penyesalan. Masihkah ada ruang perbaikan?

Sendiri adalah makanan sehari-hari. Aku tak pernah sudi menggantinya dengan ramai yang berduyun-duyun melamar kemari. Sadari sebenarnya ada satu angan rahasia sejak lama untuk memiliki rak sepatu, agar ada tempat menaruh dua kaki yang lesu. Lalu lemari besi untuk menggantung sendi-sendi yang terlalu sering dipaksa berlari tanpa henti. Lantai kayu untuk membaringkan tulang reyot di bawah atap yang bila malam menyoroti kantung mata dengan purnama. Tapi ternyata aku tak butuh itu semua. Cukup satu hati yang mengajak lelah berterus-terang ketika langit masih kelam, tapi bulan sudah samar menghilang. Dan tak satupun, termasuk segala ilmuku yang tahu, siapa ia. Di mana sedang berpijak. Atau kapan akan berjumpa.

Masa depan, bila bagimu aku terburu-buru, bila kau tahu niat itu bergeser terlalu jauh, beritahu aku. Tak apa, aku tak akan marah. Tegar sudah disiapkan untuk lebih tabah. Sebab tak lagi ada waktu untuk mengulang-ulang kepayahan diri membawa seluruh aku pada dunia yang semu.

Tolong, bantu katakan pada Tuanmu, hancurkan saja apapun yang tak Ia sukai. Bila memang harus, sakit separah apa, aku bersedia. Bunuh saja.

©Fasih Radiana

Bila Jodoh Berinisial Engkau

Lebur aku pada purnama di bulan ke sembilan, pada mata yang membulat di separuh petang lampu pijar. Petak yang tidak akan bisa dirujuk ulang. Angka demi angka dijejer beranak-pinak: merenggangkan ruang, mendekatkan bayang. Segala debur debar ubahnya jadi buih yang menjijikkan. Kita sama-sama tahu menyoal apa-apa yang tak kunjung selesai. Tapi tak lagi punya cara menghabiskanya. Sudah terlalu kenyang untuk melumat paksa, tapi sayang bila dimuntahkan begitu saja.
Jarak tak bisa menaksir rindu yang luber menjadi deras hujan di sepanjang jalan. Yang bermunculan justru kenangan berbau amis dan secarik memoar berlapis tangis. Cinta, mengapa berlarian seperti kerumunan semut yang diguncang jemari keriput? Tapi sesendok gula tak ikut di-lap basah, dibiarkannya berserak seolah memang sengaja disiapkan untuk selalu dirubung lagi.
Waktu terlalu samar untuk bisa ditaksir kapan akan tiba semula, atau hilang tak berbekas. Aku selalu nihil dalam bermain dadu, kau pun tak punya daya mengocok kartu. Kita sama-sama dipaksa buta dalam satu waktu. Tapi cinta, apakah selalu harus terasa seperti kali pertama? Setelah seluruhku diisap harga dan kau tak pernah lunas membayarnya. Jika tak pernah ada jalan pintas menuju pulang, kita mesti patungan untuk sampai di pulau sebrang.
Semisal yang kusebut dengan “engkau” masih berinisial tanpa nama, apa mungkin aku kan lebur lagi pada purnama di bulan yang lain, di mata yang separuh menghilang pada pekat senja? Engkau, yang tak kutahu seberapa sering menyebut-nyebut namaku dalam doa. Aku, yang tak juga menemukan cinta menjadi seutuh purnama.

Yogyakarta, 24 Mei 2016
Fasih Radiana

Hari Ke-22: Celengan Rindu

Ada waktu untuk dipersiapkan merindukanmu. Lalu jatuh tempo pada saat yang tidak kuketahui. Biar selama ini kautabung amarah dan kekecewaan pada setiap yang tak pernah bisa diucapkan, lalu kembali datang sehabis tenang berhasil kautaklukan. Seolah-olah semua baik-baik saja, padahal kamu hanya menabungnya di suatu tempat yang bahkan kamu lupa jalan kembali ke sana. Dan perlahan kamu melupakannya begitu saja. Tapi tidak lagi bisa kali ini. Kamu sudah bersama dengan keterbukaan yang mesti dipeluk erat-erat. Bersamaku, tak ada lagi tabungan yang hilang lalu suatu saat dibuka untuk dihitung kembali. Tidak ada.
Biar tuntas saat ini juga. Biar lunas sekarang juga. Aku mau kita tak menyimpan celengan usang untuk suatu yang bisa dijelaskan secepatnya. Boleh saja kamu bilang, begitulah caramu merenungkan diri. Introvert atau apalah sebutan untuk orang-orang yang tertutup. Tapi tidak. Kamu bukan orang yang semacam itu. Kamu hanya lupa siapa dirimu, seperti apa wujud aslinya, sampai kamu benar-benar lupa bahwa kamu memang sedang melupakan dirimu. Kamu hanya tidak sadar telah dibiasakan diam. Iya, dibiasakan untuk memendam demi tidak terjadinya pertikaian.
Padahal kamu ingin bicara, padahal kamu doyan bercerita, padahal kamu suka sekali tertawa. Jadilah yang seperti itu. Ikuti kata hatimu. Benarkah seperti ini yang kamu inginkan? Benarkah seperti itulah cara yang membuatmu nyaman? Bukankah berkali-kali kujabar bahwa denganku kamu bebas menjadi apapun, menjadi siapapun yang kau mau? Tak perlu kauumbar seperti apa tangis kecilmu, atau lelehan air mata yang tiba-tiba berjatuhan. Tak perlu kaukatakan pada yang lain dengan apa kamu membahasakan kesedihan. Tak juga perlu kautunjukkan sederet tawa yang tak juga bisa berhenti hanya karena lelucon garing. Menabunglah, Sayang. Tapi untuk sesuatu yang bisa membuatmu merasa menjadi manusia yang dimanusiakan. Yang bisa saja salah jalan. Yang bisa juga buta arah. Yang terkadang cemburu berlebihan, yang sering kali ingin diperhatikan.

Tahukah bahwa semuamu terlalu gamblang di ujung mataku. Tanpa indra peraba, aku bisa melihatnya dengan begitu jelas. Aku bisa menghitung jumlah setiap dengusanmu per detik, atau berapa kali kamu mengedipkan mata, tersenyum lalu tiba-tiba garis-garis di wajahmu berubah pucat pasi. Bahkan terlalu detail untuk seorang pemula yang baru hitungan satu-dua tahun menjamahi napasmu. Berbahagiakah selama ini? Sudahkah puas berteriak? Sudah legakah menangis? Sudahkah? Atau memang belum pernah kau jajal satu per satu rasanya.
Biarlah sesiapa bicara menyoal kita yang lebih kerap beradu ketimbang merindu. Apalah artinya bila kamu bahkan tak bisa tahu yang mana yang benar-benar dari hatimu, atau hanya bisik-bisik kecil logikamu. Aku rela mendengar amarahmu setiap hari hanya demi membentuk celengan yang baru. Mengeluarkan kita dari bayang-bayang perpisahan yang tertunda karena rajinnya setiap orang menabung rasa sakit. Yang sewaktu-waktu bisa pecah di satu titik temu yang melelahkan.
Sudah mengertikah mengapa aku masih juga giat memaksamu tergopoh menaiki posisi tertinggi? Sudah pahamkah mengapa aku tak juga berhenti membuatmu mencapai klimaks? Aku hanya ingin kamu marah. Aku hanya ingin kamu bicara. Aku hanya perlu kamu jujur bahwa beginilah adanya. Bahwa mungkin setelah Ibumu, akulah yang tidak akan pernah bisa kau bohongi begitu saja.
Bagaimana bisa kamu membahagiakan aku, sedang kamu saja bukan orang yang mudah memilih untuk berbahagia? Apa sebenarnya yang kamu tahu tentang kebahagiaan? Apa itu definisi bahagia bagimu? Jangan membual, aku tahu bahkan kamu bingung menjawab bahagia seperti apa yang kamu mau. Atau jangan-jangan, bahagia yang kamu tahu artinya itu hanyalah kebahagiaan bagi orang lain. Bukan kebahagiaan versi kalimatmu? Rasakan, Sayang. Barangkali, ada yang hilang bertahun-tahun ini….
www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn
Kini akan ada jarak yang begitu panjang memisahkan bola mata. Aku tak lagi bisa menjaga, seperti kamu yang tak lagi dapati aku mengetuk pintu. Tapi masih ada doa di setiap jengkal kepala yang merunduk pada tanah. Maka jarak yang tersisa di antara kita hanyalah Tuhan. Bukankah begitu dekat?
Seperti doa yang sampai pada langit lalu Tuhan menyampaikan kabar lewat udara. Kamu pasti tahu betul bisikku lebih merdu ketika Tuhan menggenapkan parau pita suara. Yang tak akan bisa disentuh angin sekalipun kuikuti arah lajunya. Maka bukankah satu-satunya cara menabung rindu setelah ini adalah dengan menyelaraskan frekuensi di antara kita? Peringatkan aku menyoal cinta yang setia, maka kutunjukkan padamu seperti apa kekuatan doa.
220215~ Coba pejamkan kelopak mata, biar giliran mata lain yang membuka dirinya: mata batin. Rasakan aku di sana sedalam udara yang tersesap, sepanjang embus yang terlepas.

Hari Ke-20: Telepon Genggam

more quote www.fasihrr.tumblr.com

Dan sepagi tadi aku tertidur, mungkin sudah lama tak kaudengar aku mendengkur.
Sebab jarak sudah jadi pengukur, tetapi dalam doa, kitasetidaknya, akumasih begitu akur. Masih hafal bagaimana cara mengalur rindu berangsur-angsur. Menyimpan rasa yang begitu jujur, diam di tempatnyamasih dengan doabak bahadur yang baru mau muncul pada waktu yang sudah Tuhan atur. Meski bilur membujur, mengaduk-aduk sampai cabur; sampai air mata jatuh bercucur. Aku tetap jadi seseorang yang berharap doanya makbul. Sebab hakikat tertinggi dari cinta adalah doa. Begitu bukan? Tak perlu sebuah jawaban, ini bukan suatu pertanyaan.
Dan sepagi dini kau mengetuk telingaku dengan getar dalam telepon genggamku.
Aku terkesiap bukan sebab aku tahu waktu sudah memburuku untuk segera membasuh wajah yang lusuh, tapi digit-digit yang tertera dalam layar yang sudah lama tak tersentuh. Ada angka-angka yang tak asing, yang sepertinya dulu begitu sering membuat teleponku berdering. Kamu?
tweet me @fasihrdn
Soal hati, kita tidak pernah diberitahu apa yang akan ia rasakan bahkan untuk satu detik mendatang. Aku mengingat, kamu melalai. Kau berisyarat, aku mengabai. Siapa yang bisa sangka-sangka? Dan kalau tetiba kamu mengingatku, sampaikan pada Allah. Sebab mungkin itu pesan yang kubisikkan pada-Nya untuk kaurasakan. Bila pertemuan belum disempatkan, biar Tuhan jadi pihak ketiga dalam urusan kerinduan. Dan kita saling berhamburan dalam pelukan setelah dihalalkan. Entah dengan siapa kita nanti, biar perasaan ini menyingkir dengan sendiri. Sebab ilmuku terlalu sedikit untuk paham teori jodoh. Pengetahuanku teramat dangkal untuk bicara perkara jodoh. Bukankah lebih baik membiarkan segala diatur atas kehendak Allah?
Dan sepagi dini tadi aku menemukan telepon genggamku dalam dua fungsi: pengingat dan pengenang.
Aku yang memang seharusnya cepat-cepat bangun dari ingatan-ingatan layaknya kenangan. Dan kamu melakukannya, membangunkan aku dari tidur panjang; dari mimpi yang tinggal bayang-bayang. Apabila rindu ini jatuh pada waktu yang salah dalam perasaan yang salah-kaprah, aku berharap segalanya dibenarkan oleh Allah melalui sesuatu yang absah. Sebab hatiku ini jadi begitu lemah bila berbenturan dengan rindu, maka perasaan itu selalu kujadikan perbincangan dengan Tuhan; dengan doa, setelah sujud dalam solat.
200214~Dan sepanjang hari ini, ingin kutemui pagi seperti tadi.

Hari Ke-18 dan 19: Kalau Rindu Masih Kerap Menyita Hati

Aku hanya bisa meminta ampun pada Tuhan, sebab rindu masih juga berbisik mengganggu. Aku hanya sanggup menjaganya dengan doa. 
Andai bisa, surat ini kulipat dan kujadikan pesawat-pesawatan lalu kuterbangkan bersama hembus angin yang entah bermuara ke mana. Biar tak lagi mengendap di dadaku. Atau kubungkus dengan koran, biar jadi bacaan setiap mata. Boleh juga, kumasukkan dalam karung, biar hancur tertusuk-tusuk tajamnya abu gunung kelud yang menghujani Yogyakarta beberapa waktu lalu.
Apa lagi kiranya yang bisa kuperbuat kalau rindu masih juga kerap datang menyita hati….
Kau pun tahu, diam-diam doaku menjalar tak henti, terus jadi nyanyian sampai kutahu ada yang doanya lebih merdu dariku.



Dua surat dalam dua rindu yang menjadi satu,
Fasih Radiana

Hari Ke-12: Peringatan Keras Untukmu, Rindu!

Aku tak punya kuasa atas rasa rindu. Allah, peluk aku untuk satu kerinduan yang bukan milikku….

Peringatan keras untukmu, jangan lagi muncul untuk mengganggu….
Kembalilah pada penciptamu, Rindu. Kumohon jangan berkeliaran di hatiku.

Ingin kuusir yang datang terus-menerus mengutuk satu nama yang masih juga kerap membuat jatuh pada rindu. Bukan lagi hakku untuk menyemai satu perasaan sakral yang pernah jadi kudapanku setiap hari, dulu. Aku tak bisa apa-apa kecuali menyampaikannya padamu, Tuhan. Jadi, ambillah semua rasa yang mengerami hatiku, sebab aku tak mampu menjaganya sendiri.
Ah, maafkan aku yang tak bisa menjaga rindu sehingga kerap lalu-lalang kalang kabut ingin memasuki hatimu. Maafkan aku yang tak bisa mendidik rindu dengan baik, sehingga ia kerap bermain-main di teras hatimu.

Sudah hari ke-12 di bulan kedua dalam tahun yang baru. Semestinya tak dapat lagi kurasa rindu menggaungi telingaku. Seharusnya tak bisa lagi kuraba cinta yang diam-diam masih terus mengintai dalam jarak. Masa lalu sudah jatuh, mustahil untuk direngkuh. Bisa Kau bantu aku untuk menjauh?
Ketika cinta bukan lagi aku, biarkan aku tetap mengingatkan kamu untuk memperingatkan aku bahwa kita tak punya kendali atas hati yang terus mencari atau berhenti….
Kalau cintamu sudah bukan lagi milikku, biarkan doa ini tetap sampai padamu kala aku merindu….

Si pemilik rindu,
Fasih Radiana

Hari Ke-11: Kubawa “Kamu” Menuju-Mu; Rindu

Follow my heart @fasihrdn

Ketika hati kecil mengungkap pendapatnya, sekeras apapun mencoba melawan, ia tak kan menghasilkan sebuah ketenangan. Sedalam apa aku menyembunyikan perasaan, akan muncul juga ke permukaan. Kebohongan tak kan pernah bisa bertahan meski mati-matian diusahakan untuk terus ditutup-tutupi kebenarannya. Apalagi soal “rasa” yang suka salah-kaprah dalam penyampaiannya, dalam menjaga dan memeliharanya.
Aku tak perlu mengingat keburukan untuk membencimu. Sebab waktu itu, aku tak mencari kebaikan untuk mencintaimu.
Kata banyak orang, cara ampuh untuk melupakan sakit hati dari cinta adalah dengan mengingat keburukannya. Tapi barangkali ada cara yang lebih baik daripada sebuah kebencian. Adalah dengan mengubah perasaan cinta menjadi pertemanan yang saling mengingatkan pada kebaikan.
More quotes www.fasihrr.tumblr.com
Cara paling baik untuk sebuah penyesalan adalah dengan sebuah perbaikan, bukan tangisan. Apa yang kita rasakan sekarang mungkinlah seperti pesakitan yang tak juga menemui ujungnya. Hulu yang tak sampai pada hilirnya. Tapi tak sadarkah, nyata-nyata Tuhan menyelundupkan ketenangan hanya dengan mengingat saja. Sebenarnya apa lagi, apa yang lebih indah dari suara hati yang menyebut-nyebut rindu pada pelukan-Nya. Apalagi yang ingin kaurasa, kecuali ketenangan yang datang dari cinta-Nya. Soal suatu kehilangan; barangkali bersyukurlah karena pernah sempat memiliki. Bukankah segala hal di dunia hanya titipan dari yang mencipta? Aku bertanya lagi pada hati sendiri. Perkara takdir; bukan hal mudah untuk menerima yang tidak kita inginkan. Bukankah segala kejadian mutlak kuasa Tuhan? Tentu saja, setelah berusaha, berdoa, dan tawakal.
Kunikmati sekali lagi tentang sebuah memori, kukhidmati sendiri. Kurenungkan berkali-kali, berhari-hari. Sebab cinta selalu punya cara untuk membuat air mata kembali jadi senyuman. Meski hanya dengan sebuah jejak rekam. Kusebut ia kenangan. Tapi biar kutitipkan segala ingatan tentangmu pada Tuhan. Kubiarkan ia beterbangan mencari muaranya. Kubiarkan ia terbawa angin malam, bermukim dalam doa-doa penuh keheningan. Bersama alam aku menunggu waktu yang tepat untuk dua jiwa yang disatukan, entah dengan siapa.
Jauh lebih baik bagiku, bila Allah saja yang memilihkan di mana hatiku berlabuh. Untuk terakhir kali, entah kapan. Meski aku paham betul, soal hati tak kan bisa kaubohongi meski dalam hati. Tapi barangkali, bisa kautahan sendiri, entah dengan cara apa.
Kalau cinta yang kusimpan rapat-rapat mulai tampak ke permukaan, aku berlindung pada cinta Tuhan yang menyelamatkan. Cinta bagiku masih seperti gumpalan awan yang entah, mau berubah jadi hujan atau terang. Seperti apa kiranya ia menjadikan dirinya, barangkali, terserah kehendak Tuhan. Kubawa ke sudut paling dalam. Yang tak tampak kasatmata, yang tak terlihat parasnya. Agar kita bisa sama-sama saling memelihara jiwa sebelum luka—sebab cinta yang salah dibina—merusak segala. Aku tak (akan) bisa menyimpulkan takdir Tuhan. Bahwa … aku tak bisa menjelaskan banyak hal yang urusannya bersinggungan dengan hati. Siapapun tahu, segumpal daging yang disebut hati itu pusatnya segala hidup dari hidup.
Maka kuserahkan segala yang jadi kehendak-Mu. Kupasrahkan segala yang tak bisa kucegah dan tak bisa kukembalikan.
110214~Kalau aku mulai resah karena kamu menyergap tiba-tiba, ingatkan aku, ke mana semestinya kubawa rindu  kembali pulang. Menuju Tuhan.

Dariku yang durhaka,
Fasih Radiana

Memoar


Cerita tahunan lalu, bertemu pada satu titik yang bernama rindu.

“Betapa kalian tak perlu tahu untuk apa aku bersembunyi. Kebodohan yang tak akan pernah kuulangi. Menyia-nyiakan tawa kalian. Melewatkan cerita-cerita kalian. Kalian tahu? Kalian mesti tahu; doaku tak pernah lepas untuk kebahagiaan kalian, kawan.”

Sudah tahunan lalu, sebelum waktu menjadi alasan menggeser langkah-langkah kecil kita berjalan berlainan arah. Ternyata aku salah asumsi. Aku yang menepi. Aku yang memutuskan untuk pergi. Apriori yang kadung menjejak dalam benak. Kalian yang melupa, bukan aku yang mengasingkan diri.

Lalu barusan aku menyesal. Aku sadar memori tak bisa dibunuh begitu saja, aku mendengar. Aku mendengar lagi cerita-cerita masa kecil yang tak kan ada habisnya untuk dikuak kembali. Seperti diputarkan kaset lagu zaman dulu; kusimak betapa merdunya tawa renyah yang tumpah di meja makan. Kalian asyik bercerita mengingat kenangan. Memutar lagi kisah yang nyaris kuakhiri, kuhapus, dan tak ingin kuingat lagi. Menyembul ke permukaan; rasa yang tak perlu dipertanyakan. Sebab kita memang tak membutuhkan pernyataan untuk sebuah kasih sayang, bukan? Kali ini aku kenyang, tapi masih haus akan satuan kisah lalu.

Aku diam mengkhidmati, memandangi lekat-lekat senyum yang berderet lacak. Menahan tangis yang gemetar di bibir. Aku kehilangan kata. Menahan gigil yang tiba-tiba merelung ke sumsum; merangsuk sampai ke tulang rusuk. Tentu saja, kebersamaan tak pernah bisa ditukar dengan apapun. Kebahagiaan yang tak bisa kujabarkan kecuali dengan senyum serupa. Ada ketenangan yang meralip tak berkesudahan; di sini, di hati. Ah, masih bisa kuingat dengan jelas; tawa, tangis, amarah. Bukankah begitu hakikatnya?

Entah apa kita ini, yang jelas meski tanpa suara, aku selalu ada. Dan kalian tak pernah luput dalam doa.

Late post
240713~Sepulang dari reuni SD; menumpahkan rindu yang kutahan bertahun-tahun lamanya. Bertemu kepingan kisah masa lalu. Love you, girls

Sophisticated; Friksi dalam Hati

Desakan dalam dada, katanya ingin cinta pergi saja. Tapi rupanya bagi hati, cinta adalah bonanza.

Kali ini aku takut kaumengerat apa yang belum boleh kuinjak. Aku takut perasaan yang memenuhi ruang di jiwa ternyata galat semata. Padahal serebrum sudah mati-matian mengatrisi perasaan yang mulai agitasi. Konvensi yang tak pernah jadi kesepakatan antara kau dan aku, ternyata bertemu dalam ekamatra.

Ah, betapa ramai sekali di hati menjabarkan esensi. Mengelaborasi satuan rasa yang membelah diri. Apa tidak salah menyerahkan naluri pada intuisi yang belum tentu tepat bidik? Apa pantas membiarkannya terus berkeliaran? Sedang aku tahu betul ada yang sedang membelungsing. Tak henti menginsinuasi gerak hati.

tweet me on @fasihrdn

Lalu dengan takzim aku memintanya undur diri dari sini; evokasi yang mulai membuatku takut sendiri. Kalau-kalau yang berani menelusup hati ternyata sekadar imitasi. Eklektik; masih memilih sana-sini. Atau barangkali, nomadik; berpindah kesana-kemari.

Sudah kutanyakan ini berkali-kali, tapi tak juga menghasilkan konklusi. Sebab sepertinya suatu hal yang muskil, mengeksekusi paksa rasa yang genjah; begitu mudah menyebar. Yang orang bilang itu cinta. Apa mungkin begitu saja akan abdikasi dari hati. Apa mungkin?

Sedari tadi aku bicara padamu tentang bisikan nurani. Aku memintamu tak lagi menggegai seperti anoksik yang makar; bertipu muslihat. Apa bicaraku sedari tadi terlalu rumit untuk kau pahami? Sebenarnya aku hanya takut mengakui; ternyata hati tak pernah bisa memilih pada siapa ia kalah, menyerahkan diri.

Lalu kecuali menunggu Tuhan merestui, apa lagi yang kucari?

Kunamai Kau dengan Rindu



Satu. Rindu. Cuma itu.

Kamu pun tak perlu tahu seberapa sering aku menyimpan rindu untukmu dan aku mulai gelisah karena itu. Bagiku ini hanya soal waktu yang belum berpihak padaku. Belum saatnya membagi resah berdua denganmu. Tak perlu risaukan aku, ini memang hanya soal rindu.

Satu. Rindu. Dan terus saja begitu.

Seperti barisan kata yang sederhana untuk kamu baca, ini memang hanya sebab aku merindukan apa yang sudah lama kutahan sendirian. Entah salah atau benar, aku tetap saja merasa rindu itu kian hebat berakrobat. Sepertinya jadi ngilu waktu aku hanya bisa berucap rindu pada hatiku tanpa kamu dengar betapa melengkingnya di telingaku.

Apa rindu tak meraung-raung di telingamu?

Satu. Rindu. Aku menunggumu.

Lama-lama jadi siksa. Tapi tetap hanya bisa kutahan mati-matian. Sebab aku enggan mengganggumu. Kecuali menunggu, aku hanya bisa melihatmu dalam bayang-bayang yang kuciptakan sendiri. Siapa bilang menunggu itu membosankan? Menunggumu akan selalu jadi hal yang menyenangkan. Terkadang aku ingin menjemputmu, ah, aku ini siapa?

Satu. Rindu. Jangan pernah meninggalkan aku.

Kamu begitu hebat menyemat azmat dalam purnama. Bahkan dalam rindu yang sedikit mengheningkan jiwa, kamu tetap jadi satu yang masih juga kurindu. Sudah berapa kali kusebut satu kata itu, rindu dan rindu. Tapi tak kunjung habis rinduku malah semakin menyerbu. Kamu perlu tahu bahwa aku tetap selalu berusaha tangguh tanpamu.

Satu. Rindu. Menetaplah selamanya bersamaku.

Entah seperti apa wujudnya. Yang jelas, aku mulai membutuhkanmu setiap satuan waktu bergeser menjauhiku. Hanya kamu tak pernah tahu betapa sulitnya menahan ini semua tanpamu. Dan kunamai kau dengan rindu; rasa yang entah bagaimana caranya merangsuk makin dalam. Sebab ternyata diam-diam aku selalu menunggumu pulang kemari. Ke pelukku.

Satu. Rindu. Apa kau pun begitu?

Lalu bisakah kau jelaskan?


Sebenarnya bagian mana yang bisa kurindukan darimu? Bahkan menatapmu pun aku tak pernah. Bagian mana yang harus kurindukan darimu? Bahkan saling bertegur sapa pun tak pernah. Bagian mana lagi yang mesti kurindukan darimu? Padahal kita belum pernah bertemu….

Lalu, bagaimana bisa rindu begitu kuat menggema di degup jantungku? Bagaimana mungkin rindu begitu luas menyebarkan diri? Bisakah kau jelaskan… sebab apa aku merindumu. Padahal kamu hanya hidup dari kotak khayalku. Dan aku bertahan dari bayang-bayangmu. Bisakah kau jelaskan?


130613~Sepucuk rindu ini untukmu. Bacalah kalau kau punya waktu.