Melupa Luka, Melawan Kenangan

www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn
Rasa-rasanya rasa tak lagi terasa. Tinggal asa yang dipaksa bergelantungan tinggi-tinggi agar lengan tak bisa memecah rencana. Membelah harap yang diusung sejak lama. Tahukah kau bahwa dalam dada debar begitu kencang saling tikam angan dengan silam. Begitu sesaknya tak bisa kucapai meski dengan tengadah berlama-lama. Sebab hujan yang basah adalah perangaimu, begitu dibilang kosokbalen dari daun gugur di musim kemarauku.

Kita adalah dua yang terlampau beda dari ujung kaki sampai kepala.
Bukan telak karenanya, tapi fatalmu yang terlalu berisik mengobrak-abrik sahaja. Tahunan dua dinding saling tikai, baku hantam dalam diam-diam menyusun dendam. Aku yang tak betah berlama-lama tanpa damai pula tak mampu memasung luka. Ruam-ruam bekas angka dua telah menjalari bahagia, merobek-robek cita-cita. Kau pun tak sanggup jadi benang jahit pasca operasi sesar. Apalagi ia, anggak-agul, angkuh kali padahal sudah jelas jadi tersangka. Bila saja melupa tak sesulit si buntung meraih bintang, sudah pejam segala dari ingatan.
Kau.
Dia.
Dirinya.
Semula kukira, melupa luka tak harus dengan cara membenci kenangan. Tapi ternyata, kita mesti siap jadi prajurit di garis paling depan. Melawan apapun yang menghambat masa depan.

Cinta, Apakah Jodoh?

Aku berebut udara dengan malam. Semakin tinggi bulan merambat, makin tebuka lebar bola mataku yang hitam pekat. Napasku hidup dalam hening. Ia tidak, sama sekali tidak suka bising. Lalu menularkannya dalam bentuk kecintaanku pada hampa. Keramaian yang paling pas untuk kusapa hanyalah seraut wajah angin kosong dalam senja. Tak ada yang lain. Aku hanya suka yang itu. Tidak dengan lampu pijar, tidak juga dengan lalu-lalang, apalagi huru-hara.
Kau tahu betul, aku sudah menjabar diri terlampau panjang dan sering membuatmu jadi terkantuk-kantuk dengan kalimat yang itu-itu saja. Kamu tetap bersetia meski sebenarnya sudah hapal dengan baris yang sama. Tapi sempat aku berpikir, bagaimana kalau seandainya saja suatu saat aku bosan bercerita? Dan lebih memilih diam. Apa mampu kau memahamiku seperti saat ini?

Siapa yang berani berujar bahwa penulis adalah ia yang hatinya selembut sutra? Tak ada kurasa. Aku salah satu yang akan bilang tidak kalau memang ada yang begitu mengira. Dan kau pastilah orang pertama yang mengiyakan kilahanku. Sebab kau tahu aku tak seromantis tulisan-tulisanku. Aku sama sekali bukan wanita layaknya rima-rima yang menggantung penuh cinta pada tiap-tiap mata yang membaca.

more quote www.fasihrdn.tumblr.com

Ketimbang berbicara menyoal hati yang jatuh pada cinta, aku lebih suka disuguhi harapan yang diperjuangkan habis-habisan. Bahkan meski kehilangan adalah bayarannya. Aneh memang, akulah paradoks. Akrab disapa penulis cinta. Tapi bahkan  sepotong hati pun aku tak yakin seutuhnya punya.

Tempo hari kudengar ada yang berdecak kebingungan. Mengapa kau kutunjuk jadi satu-satunya yang mengisi sela-sela jemari. Padahal pernah kau remuk jantungku sampai nyaris tak mau lagi berdenyut. Padahal yang lain mengantre ingin aku tersenyum balik padanya, pertanda ada pintu baru yang membuka. Membolehkan diri masuk untuk sekadar menyapa, siapa tahu bisa sampai membangun cinta.

Kurinci satu sampai dua kalimat saja. Aku bisa dengan gamblang membaca setiap garis wajah sejak lama. Sejak umur masih belasan. Sejak kegiatan pramuka masih jadi kudapan. Atau meniup suling paduan suara adalah kegiatan luar biasa. Dan kawan masih mudah kali kugandeng tangannya. Tapi kau adalah yang pertama direkam oleh pijak mata yang pertama. Detik yang pertama. Aku masih bisa mengingatinya.

Pernahkah mendengar istilah cinta pada pandangan pertama? Omong kosong. Cinta selalu bertumbuh. Kalau datang sekejap pastilah lesap dengan begitu cepat. Tapi setelah retina berkenalan dengan cahaya di matanya, aku percaya bahwa setiap mata punya ketertarikannya sendiri pada kelopak yang dianggap pasangannya.

Atau pernahkah setelah kau selesai membincangkan seseorang dengan penciptanya, tiba-tiba ia datang dalam nyata? Membawakan segelas cokelat buatan tangannya? Padahal kau hanya berkisik dengan telingamu sendiri, tapi ia yang kau sebut-sebut ternyata mendengarnya? Aku masih suka heran sendiri siapalah ia sebenarnya. Untuk apa masih berkeliaran dalam jarak yang begitu panjang di hadapanku. Dalam medan waktu yang bergeser satu-dua detik dari jam dinding di ruangan tempatku berjejak mondar-mandir menagak rindu.

Aku berebut udara dengan malam. Semakin tinggi bulan merambat, makin tebuka lebar bola mataku yang hitam pekat. Napasku hidup dalam hening. Ia tidak, sama sekali tidak suka bising. Lalu menularkannya dalam bentuk kecintaanku pada hampa. Keramaian yang paling pas untuk kusapa hanyalah seraut wajah angin kosong dalam senja. Tak ada yang lain. Aku hanya suka yang itu. Tidak dengan lampu pijar, tidak juga dengan lalu-lalang, apalagi huru-hara.

Kau tahu betul, lebih dari yang lainnya. Lebih dari siapa saja. Kau adalah yang pertama setelah tembok-tembok pembatas tangis dengan tawa yang sudi kubagikan cerita dari sendok tua. Dengan cinta atau tanpanya, kau tetap saja sudah menawan seluruh trauma lama. Kau kembalikan dengan jenjam sahaja. Meski kadang erak malah membuatmu menjadikan aku amuk, lalu kita sama-sama muak di tempat. Maka diamlah di sana dengan doa yang tak pernah tutup dalam bicara. Agar bisa kau bawa aku keluar dari udara yang selalu sesak untuk kuirup lebih lama….

Walau tak satupun yang bisa menjamin, bahkan kau, apalagi aku. Siapalah masa depan.



040915~Bukan jodoh, bila hanya cinta yang menjadi tumpuannya. Tak akan berjodoh, bila tak ada usaha dengan doa sebagai pelengkapnya.

Hari Ke-22: Celengan Rindu

Ada waktu untuk dipersiapkan merindukanmu. Lalu jatuh tempo pada saat yang tidak kuketahui. Biar selama ini kautabung amarah dan kekecewaan pada setiap yang tak pernah bisa diucapkan, lalu kembali datang sehabis tenang berhasil kautaklukan. Seolah-olah semua baik-baik saja, padahal kamu hanya menabungnya di suatu tempat yang bahkan kamu lupa jalan kembali ke sana. Dan perlahan kamu melupakannya begitu saja. Tapi tidak lagi bisa kali ini. Kamu sudah bersama dengan keterbukaan yang mesti dipeluk erat-erat. Bersamaku, tak ada lagi tabungan yang hilang lalu suatu saat dibuka untuk dihitung kembali. Tidak ada.
Biar tuntas saat ini juga. Biar lunas sekarang juga. Aku mau kita tak menyimpan celengan usang untuk suatu yang bisa dijelaskan secepatnya. Boleh saja kamu bilang, begitulah caramu merenungkan diri. Introvert atau apalah sebutan untuk orang-orang yang tertutup. Tapi tidak. Kamu bukan orang yang semacam itu. Kamu hanya lupa siapa dirimu, seperti apa wujud aslinya, sampai kamu benar-benar lupa bahwa kamu memang sedang melupakan dirimu. Kamu hanya tidak sadar telah dibiasakan diam. Iya, dibiasakan untuk memendam demi tidak terjadinya pertikaian.
Padahal kamu ingin bicara, padahal kamu doyan bercerita, padahal kamu suka sekali tertawa. Jadilah yang seperti itu. Ikuti kata hatimu. Benarkah seperti ini yang kamu inginkan? Benarkah seperti itulah cara yang membuatmu nyaman? Bukankah berkali-kali kujabar bahwa denganku kamu bebas menjadi apapun, menjadi siapapun yang kau mau? Tak perlu kauumbar seperti apa tangis kecilmu, atau lelehan air mata yang tiba-tiba berjatuhan. Tak perlu kaukatakan pada yang lain dengan apa kamu membahasakan kesedihan. Tak juga perlu kautunjukkan sederet tawa yang tak juga bisa berhenti hanya karena lelucon garing. Menabunglah, Sayang. Tapi untuk sesuatu yang bisa membuatmu merasa menjadi manusia yang dimanusiakan. Yang bisa saja salah jalan. Yang bisa juga buta arah. Yang terkadang cemburu berlebihan, yang sering kali ingin diperhatikan.

Tahukah bahwa semuamu terlalu gamblang di ujung mataku. Tanpa indra peraba, aku bisa melihatnya dengan begitu jelas. Aku bisa menghitung jumlah setiap dengusanmu per detik, atau berapa kali kamu mengedipkan mata, tersenyum lalu tiba-tiba garis-garis di wajahmu berubah pucat pasi. Bahkan terlalu detail untuk seorang pemula yang baru hitungan satu-dua tahun menjamahi napasmu. Berbahagiakah selama ini? Sudahkah puas berteriak? Sudah legakah menangis? Sudahkah? Atau memang belum pernah kau jajal satu per satu rasanya.
Biarlah sesiapa bicara menyoal kita yang lebih kerap beradu ketimbang merindu. Apalah artinya bila kamu bahkan tak bisa tahu yang mana yang benar-benar dari hatimu, atau hanya bisik-bisik kecil logikamu. Aku rela mendengar amarahmu setiap hari hanya demi membentuk celengan yang baru. Mengeluarkan kita dari bayang-bayang perpisahan yang tertunda karena rajinnya setiap orang menabung rasa sakit. Yang sewaktu-waktu bisa pecah di satu titik temu yang melelahkan.
Sudah mengertikah mengapa aku masih juga giat memaksamu tergopoh menaiki posisi tertinggi? Sudah pahamkah mengapa aku tak juga berhenti membuatmu mencapai klimaks? Aku hanya ingin kamu marah. Aku hanya ingin kamu bicara. Aku hanya perlu kamu jujur bahwa beginilah adanya. Bahwa mungkin setelah Ibumu, akulah yang tidak akan pernah bisa kau bohongi begitu saja.
Bagaimana bisa kamu membahagiakan aku, sedang kamu saja bukan orang yang mudah memilih untuk berbahagia? Apa sebenarnya yang kamu tahu tentang kebahagiaan? Apa itu definisi bahagia bagimu? Jangan membual, aku tahu bahkan kamu bingung menjawab bahagia seperti apa yang kamu mau. Atau jangan-jangan, bahagia yang kamu tahu artinya itu hanyalah kebahagiaan bagi orang lain. Bukan kebahagiaan versi kalimatmu? Rasakan, Sayang. Barangkali, ada yang hilang bertahun-tahun ini….
www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn
Kini akan ada jarak yang begitu panjang memisahkan bola mata. Aku tak lagi bisa menjaga, seperti kamu yang tak lagi dapati aku mengetuk pintu. Tapi masih ada doa di setiap jengkal kepala yang merunduk pada tanah. Maka jarak yang tersisa di antara kita hanyalah Tuhan. Bukankah begitu dekat?
Seperti doa yang sampai pada langit lalu Tuhan menyampaikan kabar lewat udara. Kamu pasti tahu betul bisikku lebih merdu ketika Tuhan menggenapkan parau pita suara. Yang tak akan bisa disentuh angin sekalipun kuikuti arah lajunya. Maka bukankah satu-satunya cara menabung rindu setelah ini adalah dengan menyelaraskan frekuensi di antara kita? Peringatkan aku menyoal cinta yang setia, maka kutunjukkan padamu seperti apa kekuatan doa.
220215~ Coba pejamkan kelopak mata, biar giliran mata lain yang membuka dirinya: mata batin. Rasakan aku di sana sedalam udara yang tersesap, sepanjang embus yang terlepas.

Satu Tahun yang Lalu, Boleh Kutulis (lagi) Surat Untukmu?

Boleh kutulis surat (lagi) untukmu? Kiranya kau masih bisa mengingat ada apa satu tahun yang lalu. Tepat di tanggal dan bulan yang sama, aku menulis surat yang syarat akan luka sebab cinta. Padamu, masa lalu, kukirimkan kembali hari ini.

Meski masih kutunggui Tuhan mengabul doaku untuk bisa berjabat denganmu, saat ini aku tak benar-benar ingin menikam masa lalu kita. Iya, kita. Sebab meski kau bersikukuh tak pernah bersangkutan denganku, nyatanya kita tetap terhubung pada sehelai benang merah. Lalu Tuhan merekam segala kejadian. Kalau bisa kuminta satu saja adegan dari kita di beda ruang, maka kamu tak kan bisa mengelaknya. Kita adalah satu bagian dari ruang yang terpisah kala itu, saat lukaku terlalu pantas untuk dijadikan bahan tertawaan.
www.fasihrdn.tumblr.com | path: fasihradiana
“…maka jika ia bukan pemberani, jadilah kamu satria,” kataku tempo hari. Tapi nyatanya sulit sekali rasanya melupa. Berkali-kali kucoba untuk memaafkan tapi aku tak kunjung juga berhasil menjadi “Ksatria”.
Ini bukan menyoal siapa yang salah dan benar. Ini perkara damai yang masih juga mengambang di batas angan. Sedang kamu tetap juga tak mau menyelesaikannya dengan bicara. Padahal aku sudah bersiap lebih terluka dengan kenyataan dari mulutmu dengannya. Tapi sudahlah, Mbak.
Hanya aku saja yang belum mampu berbaik hati memaafkan diri. Dengan kerumitan yang memaksa kukhidmati perlahan, pelan-pelan. Terakhir kali, biarkan aku menuliskan syair yang pas untuk keangkuhanmu atas takdir dan kepayahanku menerimanya:
Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Bawalah rahasiamu yang tak ingin kutahui.
Pergilah Kau, Sherina.

Biar aku belajar mengeja ikhlas dengan benar. Biar aku paham bahwa tak segala mesti kutahu. Ada hal-hal yang Tuhan tak izinkan seseorang untuk tahu, bukan sebab Tuhan merahasiakan kebenaran, tetapi justru karena Tuhan sengaja menahan kesakitan yang lebih dalam.
Biar Februari kali ini jadi penghabisan. Sampai ikhlas menemui sendiri tuannya. Akan kujaga diayang Tuhan titipkan padakuyang pernah jadi seseorang terbaik mengisi kehidupanmu, melengkapi hatimu. Begitu?
Untuk segala yang masih membayang, barangkali aku lupa bahwa satu cara paling mujarab atas penyelesaian suatu perkara memang hanya mengembalikan segala pada pemilik tunggalnya: Allah. Dan aku menyerahkannya. Segala yang masih jadi tanda tanya. Segala yang masih abu-abu. Segalamu yang bisu. Kuucapkan terima kasih atas pertemuan tanpa tatap mata.
Salam,
Fasih Radiana

Bila Kau Bukan Takdirku

Dan sejauh ini aku bilang aku mencintaimu. Lalu dengan itu kau mengaku mencintai seluruhku. Sejatikah?
Ada ruang dalam rongga dadaku, ia bilang kau tidak.
Ada lubang dalam embus napasku, ia bilang kau tidak.
Ada belulang dalam tubuhku, ia pun bilang kau tidak.

Dan sejauh ini kuucap rindu berkali-kali, lalu dengan itu kau membubuh rindu ke segala pintu. Abadikah?

Masih ada ragu, kataku.
Masih juga menyimpan pilu, batinku.
Sayang.
Aku tak pernah suka mendengar sebutan itu membumbung sampai ke gendang telingaku. Skeptis bahwa itu salah satu bukti seseorang benar-benar merasakannya mengaliri rusuknya.
Tapi denganmu aku bersetia menunggu “sayang”-mu mencumbui pendengaranku.
I love you.
Aku jejap dengan kalimat yang katanya romantis. Aku geli dengan bualan yang terlalu dini untuk bisa dipercaya keberadaannya di dalam hati.
Tapi bersamamu aku selalu merindu “I love you“-mu menjejali gemeretak dalam gigilku.
Dan sejauh ini aku hanya ingin menapaki langkahmu sampai benar-benar berhenti di satu petak yang kusebut takdir. Meski jauh sebelum hari menjadi terlalu dingin, pertemuanku denganmu sudah kunikmati sebagai bagian dari takdir.
Ada bagian di semuaku meyakini seutuhmu. 
Di waktu bersamaan, aku was-was kalau saja ternyata segala milikku tak juga pas menggenapimu.
Sayang, dengarkan aku. Bila saja jodoh bukan di genggamku menyela jemarimu. Bila saja aku bukanlah akhiran dari bait puisimu, atau ternyata kita tak pernah dituliskan untuk menua di atap yang satu … bibirku akan semakin lihai mendoamu, lalu akan ada tangan yang semakin lama bertengadah sampai fajar nyaris pecah. Biar patah takdir-takdir yang barangkali salah.

Sebab setiap kali kauakhiri dialogku, kulumati kalimat-kalimat rindu sampai habis waktu menunjukkan pukul tujuh. Setiap kali kuakhiri ceritamu, kaukunyah kata demi kata cinta sampai habis ruang subuh.

041114~Kubuang jauh-jauh larik di awal tulisanku, bantu aku menghapusnya biar tak ada celah bagi yang lain memasuki kau dan aku. I Love you.



Salam, 
Fasih Radiana

Denganmu, Kita Baik-Baik Saja Kan?

more quote www.fasihrdn.tumblr.com
Tak perlu kau minta, aku akan selalu melakukannya. Merevisi diri berkali-kali. Demi napasmu yang memenuhi seluruh ruang di hati. Meski tahu betul ada yang tak setuju dengan lekatnya jemari kelingking mencecap janji (lagi). Bisakah gelas pecah itu utuh kembali? Sanggupkah kita baik-baik saja sampai semua selesai?
Kali ketiga aku memberimu gagang pintu tanpa kunci. Masuklah. Barangkali kau lebih paham bagian mana yang perlu direnovasi. Kusebut waktu ini kesempatan terakhir sebelum akhirnya kita sama-sama tahu, sejatikah? Masih sejauh mana aku menggandeng kegelisahanku untuk kulumat bersamamu. Kau ganti yang perlu diperbaiki dengan doa yang kembali berujar dari setiap putaran tasbihku. Maka berdoalah pula sesering mungkin, berusahalah sebanyak mungkin. Meski tak selalu tampak di matamu, aku tak pernah hilang meski dalam bayang.
Aku ingin menangis, ah, setiap aku ingin menangis … bolehkah berhambur ke dalam pelukmu?
Sehangat apa dekapmu membasuh peluhku. Bosankah dengan ceritaku yang menggebu dengan kalimat itu-itu lagi. Sayang, jangan pernah beritahu mereka selemah apa ketika aku denganmu. Meski aku kerap berbalik badan memutar-mutar lagi kisah lama seperti kaset rusak. Tapi tak pernah terbesit untuk bepergian mencari yang lain, atau berbalas luka denganmu.
tweet me @fasihrdn
Lebihkan sabarmu dalam menasihati(ku). Jangan lelah seperti aku tak pernah kehabisan daya saat menanti(mu). Kau tahu, terkadang aku lelah, ingin sendiri, meski kini bagiku sendiri adalah bebarengan denganmu. Lalu biarkan aku berteriak pada Jogja, kubilang, “Usir aku, Jogja!”. Sebab masih saja sering digentayangi masamu yang telah usai. Yang nyatanya lebih hapal jalan menuju tempat-tempat yang asik untuk diduduki berdua saja. Sumpah, aku ingin melupa. Tentang satu nama yang tak juga hilang dari kepala. Aku ingin bebas dari hati yang tak juga lepas. Aku tahu, semestinya sebaik mungkin mempersiapkan masa depan, bukan malah mundur ke belakang; mengingat yang menyakitkan. Tapi lagi-lagi, kutemui diri dalam dilema. Bagaimana lagi caranya agar tenang tanpa takut kehilangan. Perlukah aku mundur perlahan? Lalu meninggalkan hati untuk diganti dengan yang lebih baik membersamai(mu). Tidak, kau juga bilang tidak kan?
Tuan, coba baca segalaku dengan saksama. Adakah keikhlasan dari ketulusanku masih juga belum cukup sempurna? Baiknya kau lengkapi ruh dari seluruh raganya.
Pernahkah kau perhatikan kerut di keningku? Terkadang ia lelah membuatmu marah. Sempatkah memperhatikan bekas sembab di mataku? Melingkari bola mata. Ia sering meminta satu kecup pertanda kau akan menjaga segala tetap baik-baik saja. Lengan yang tak akan lepas mengerat, jemari yang semakin kuat menggenggam. Lalu kukatakan, aku bersedia menjadi rumah tempatmu merebah resah.
310814~Kalau sampai pada waktunya kita bertemu dengan sesuatu yang menyulitkan diri, menggelisahkan jiwa … jangan berhenti. Kau dan aku tahu apa yang tak mudah diraih adalah yang akan mengubah dirinya jadi paling indah. Fighting! 

Berhenti Mencari Cinta

Aku mencari-cari cinta, di tempat yang sama, di waktu yang berbeda. Padamu jua aku kembali, pun aku masih meragukan kesungguhanmu. Tapi aku selalu berusaha menyelami matamu. Adakah dusta masih bergelayutan di pelupuknya, Sayang?
Aku mencari-cari diriku, di sana. Di tempat yang kau jadikan bahan untuk berdusta. Di waktu yang tidak tepat, barangkali, aku masih begitu mencintaimu, Sayang. Atau enggan mengucap selamat tinggal, meski begitu ingin. Sungguh, aku tak bisa memalingkan diri dari keganjilanmu yang tak juga seutuhnya menggenapiku. Berjanjilah, kali ini tak akan pernah terjadi perpisahan meski wanita yang pernah kauletakkan di pelipismu itu kembali kepadamu. Atau lebih baik kita sudahi saja, sebelum kau lagi-lagi menjalin di belakangku. Sebelum aku menemui kamu yang mengulang perkara itu. Soal cinta lama yang bisa saja bersemi kembali suatu saat nanti. Apa betul kau tak akan lagi menoleh ke belakang?
more quote www.fasihrr.tumblr.com or follow me @fasihrdn
Aku mencari-cari, siapalah sebenarnya yang perlu kulengkapi. Engkaukah? Bisa kaurasakan ketakutanku menjalar jadi gusar yang tak kunjung selesai. Maka jangan berhenti meyakinkan aku, Sayang. Demi Tuhan, gelisah masih kerap mengundang air mata. Mengajaknya meluncur jadi bulir yang mengisyaratkan luka. Sungguh, aku ingin mengikatmu di sela jemariku agar tak bepergian lagi dengan yang lainnya. Bisa kaujabarkan bagaimana ketakutanku ini begitu mengganggu, jadi, izinkan aku untuk memintamu terus-menerus menjejaliku dengan cinta yang membuatku percaya. Akulah satu-satunya.
Aku berhenti mencari. Meski belum sepenuhnya kutemui diriku memenuhi seluruh ruang di hatimu. Lalu pergilah, bila memang tak kautemukan sejatimu bersamaku. Aku rela melepasmu dengan doa….


280614~Berhentilah, di tempat yang ingin kaudiami selamanya. Dan pergilah, jika bukan aku yang ingin kaujadikan tempatmu berpulang.

Pada Masa yang Lalu….

Tolong, berhenti mengikuti jejakku. Aku lelah menjadi bayangmu. Kau tahu, aku bukan pengingat memoar. Aku tak mungkin tinggal di situ, dalam sajak kenangan. Atau rintik hujan yang jadi nyanyian di pinggir kota.
Tolong, berhenti mengikuti jejakku. Kau tak pernah tahu dalamnya luka yang kurawat sendirian ini, melibatkan deras air mata, meski masih dipenuhi cinta. Aku bukan robot, Sayang. Ada bagian terkecil dari hati yang berisik berbisik, ia rapuh, ia begitu lemah, ia nyaris mati setelah dihancurkan berkali-kali.
Tolong, berhenti mengikuti jejakku. Berhentilah di sana, di tempat yang tak kuketahui. Aku enggan menemukan wajahmu menggurat lara di masaku yang akan datang. Padamu, masa yang telah lalu. Berhentilah mengejarku. Biarkan aku pergi, biarkan aku bepergian dari semua kenangan; darimu.

Bila Cinta(mu) Tak Sempurna, Ajari Aku Bersetia

Jangan berbaik hati padaku, aku tak pandai berintuisi soal rasa yang mencuat-cuat kalang-kabut. Siapa kamu, berani-beraninya singgah dalam mimpiku. Bila cintaku padanya tak sempurna, aku tak berharap kamu melengkapinya. Berhentilah di tempatmu berdiri, jangan menjejakiku lagi. Aku bisa mengatasi kesakitanku sendiri.
Dan bagaimana bisa kau membiarkan aku dicintai lelaki lain di tempat yang tidak kauketahui?

Hingga letih sampai pada mataku, menjatuhkan peluh dalam tangis sembilu, kau masih juga enggan menilikku.

Kalau begitu, bukankah lebih baik aku bersamanya saja, Sayang? Ia melindungiku dari tangis yang mengiris-iris. Ia paham betul bagaimana caranya membuat tawaku jadi begitu renyah. Ia menjagaku dengan kepastian sedang kau masih juga betah memberiku keraguan. Bayang-bayang akan sebuah rencana kepergian. Jangan diam saja, beritahu aku, pantaskah aku bertahan atau memang jauh lebih baik kutinggalkan? Kau ingin aku berlaku seperti apa, Sayang?

Jangan coba-coba memainkan peran saat memang ada lowongan jadi pahlawan. Kau pikir semudah itu mencintaiku? Bila cintaku tak sempurna, aku tak ingin nantinya kau juga yang dilindas lara. Aku tetap tak sanggup mendua, meski nyatanya ada bayangmu lalu-lalang berlarian di pikiran.
Lagi pengen diromantisin! Bukan diduain.
Lalu bila cintanya utuh sempurna untukku, Sayang … apa yang akan kaulakukan?

Bila tak pernah kau buat aku percaya, sanggupkah aku terus meluka?

Bila segala lakuku sia-sia, bisakah aku terus menjaga?

Bila aku bukan satu-satunya, mampukah aku bersetia?

Bila saja aku bukan siapa-siapa, untuk apa ada kita?

Bila bukan aku tujuanmu, pergilah temui yang baru, yang memenuhimu.





060514~Bila cinta tak sempurna, akankah ada bilangan yang pecah menjadi dua?

Dan Kau….


Mengubah kebiasaanku yang lebih tenang tanpa siapapun, jadi kelimpungan saat tak ada kamu di sekitarnya.

Meski tak kubuka dengan suara, tak kutulis dengan kalimat tanya untuk tahu jawabannya. Semestinya tahu dengan sendirinya. Apa kau buta? Tak bisa membaca peta yang susah payah kugambari sendiri. Atau kau pura-pura? Tak mau meraba jejak menuju hatiku yang mulai meluka sendirinya.


Ah, kini galau jadi teman sehari-hari. Padahal kau tak peduli sama sekali. Beritahu aku caranya membuatmu merindukan aku setiap waktu. Lalu kaugeser ia dari lini waktumu. Masa lalu yang tak perlu kauharap kembali ke pelukmu. Tak juga sadarkah dirimu telah mengusik hatiku; Mengubahnya jadi sembilu.


Lalu setiap menit sampai habis malam kusambangi ponselku hanya untuk melihat apa kau menghubungiku. Akan kutunggu kau ajak aku bicara meski tanpa tatap muka, sebelum merjan pecah dini hari. Apa kau tahu bagaimana rasa sesak saat harus menahan diri untuk tidak merindukan seseorang yang (bukan) siapa-siapaku …
lalu aku hanya bisa memandangi segalamu dari balik layar yang mulai bosan melihatku terus-terusan menatapnya hanya karena ingin tahu keberadaanmu. Kau tahu apa yang lebih menyakitkan dari cinta tak berbalas? Adalah cinta yang jatuh tidak tepat waktu.

Dan aku kehilangan gramatika. Aku pulang tanpa kata. Aku pergi tanpa bicara. Aku merapuh sendirian. Bukankah kautahu di mana letak lebih dan kurangku? Tak bisakah kaumemahaminya lebih dalam? Tak maukah kaumempelajarinya lebih detail? Seperti serbuk yang beterbangan, aku butuh uluran tangan untuk memungutnya satu per satu.

Kumohon, kembalikan aku pada satu titik sebelum pertemuan itu. Lalu biarkan aku tak pernah mengenalmu. Bukankah lebih baik begitu?

Atau biarkan saja aku menikmati letihku sendiri. Mengikuti alur Tuhan. Bukankah kita tak pernah diberitahu lebih dulu apa yang terjadi satu detik mendatang? Bukan tidak mungkin, akulah rusukmu yang hilang.



250913~Kau baca, tapi kau tak pernah tahu semua ini untukmu.