Menjinjing Takdir

Harusnya kuyakinkan diri seribu kali lebih aktif bahwa Kau telah mengemas takdir dalam lauh mahfuzh. Sempurna. Tak punya cacat di satu tanda baca pun. Aku saja yang mengabai. Aku saja yang tak pandai meneliti ada abjad apa yang kurang titik dan koma. Malah mengurusi hal-hal yang tidak patut dikunjungi berkali-kali. Harusnya aku jauh lebih paham, sebab dua puluh tahunku tak sesingkat kurun waktumu. Siapapun itu.
Dipersiapkan lebih hebat tapi malah berontak. Katanya tak kuat. Katanya tak ingin, tak sanggup, tak mau, tak … tak … tak … terlalu bising dengan kata tidak.
Lalu manusia macam apa yang tidak menuruti titah kitabnya. Kalau Allah mengikuti prasangka hamba-Nya, tak ingatkah nuranimu menginginkan sesuatu seberat apa tanggungannya dunia-akhirat? Katamu tempo hari, sejak masa masih dalam periode madya. Kau mengungguli waktu lebih dini. Menggauli hari lebih malam sampai habis datang pagi. Lalu, kau pikir bisa seenaknya sendiri? Kau kira tak ada uji materi? Kau anggap segala mudah begitu saja? Padahal nyata-nyata di depan sana lebih besar perkara akan menyapa, mengajakmu bicara, lalu mulai menampar-nampar sampai habis daya diganti air mata.

Mana mungkin menang dengan taktik serupa. Tak ada yang egaliter bila tujuannya adalah pembeda. Pasti yang lebih sahaja lebih pula panjang jarak langkah dengan capaiannya. Tak mungkin seia-sekata dengan yang ngorok lebih lama. Pastilah yang kokoh itu disusun dari beton dua puluh tujuh kali lipat lebih banyak ketimbang rumah reot di pinggir kali Jakarta. Mustahil hapal seisi Kamus Besar Bahasa Indonesia beserta sinonimnya kalau aku tak paksa mata menjejal kata per kata sampai mual dibuatnya. Sudah jelas kan mengapa “man jadda wa jadda” harus diikat kuat lima senti dari pelipismu? Biar dekat dengan otakmu, lalu sampai merangsuk ke hati melalui terjemahan jendelanya: sepasang kornea berpupil ras Asia.

www.fasihrdn.tumblr.com
Percayalah, Sayang. Mimpi yang kau cetak tebal di halaman depan buku catatanmu akan membawamu melesat sampai ke sana. Ke tempat yang ingin kau tuju. Maka salahkah bila Allah sokong IQ selevel Albert Einsten untuk mereka yang terobsesi pada inovasi tingkat mahir? Atau Allah modali panjang hati bagi ia yang bercita-cita menjadi Ibu asuh di panti? Mulai tahu kan mengapa banyak sengketa perihal ini dan itu ditaruh begitu saja di pundakmu? Menjeratmu pada pasal demi pasal yang berakhir di meja hijau buatan massa penganut hukum rimba.
Sudah ada gambar di tiap-tiap petak. Setiap ciptaan-Nya bebas mencomot salah satu atau lebih dari preferensi yang disuguhi. Tinggal bersungguh-sungguh atau tidak. Lalu seleksi alam menindak lanjuti gerak pada setiap babak. Percayalah, Sayang. Setiap fase punya hak kepemilikan. Tak perlu khawatirkan angin di pinggir pantai selagi masih menjejaki kaki bukit. Ada yang tidak perlu kau sambar dengan sesumbar, biar jam dinding putuskan kapan hujan menyudahi mendung pada senja. Lalu pelangi berbaris setengah melingkar dengan sendirinya, tanpa aba-aba.
Selalu ada waktu yang tepat untuk bertemu pada kelayakan yang sah. Biar mulut-mulut bercelutak semaunya dari pintu ke pintu, kalau Kun Fayakun sudah dijadikan sabda, maka membisulah satu kota.
Harusnya kuyakinkan diri seribu kali lebih aktif bahwa Kau telah mengemas takdir dalam lauh mahfuzh. Sempurna. Tak ada yang kebetulan. Semua serba magis di luar jangkauan logika manusia. Hanya keterbatasanku saja yang kian tampak mengambang di air muka. Maafkanlah hamba-Mu. Maafkanlah aku.
Bismillah jadi tanda dimulainya kembali perjanjian persetujuan beriktikad santun antara hati dengan mimpi. Yang sudah, biarlah jadi petuah. Jangan sampai dibawa ke masa depan. Bismillah….
140915, 00:29~Segala yang hebat berasal dari keberhasilannya menaklukkan rimbun takdir yang ia pikir mengikir, padahal membentuk otot-otot pondasi pola pikir. Percayalah, Sayang. Tak ada yang lebih baik dari percaya pada-Nya.


Salam,
Fasih Radiana

Surat Rahasia untuk Tuhan


Yogyakarta, 250415: 01.59
Allah. Semusim sudah semua yang dunia lemparkan di mukaku meluka. Semestinya sudah sembuh. Malah semakin parah. Seharusnya sudah tidak mengancam air mata meuncurkan diri. Malah menderas tiap kali, tanpa ingin kuingati. Wanita itu ternyata masih bersemayam membenamkan pundakku. Menenggelamkan kepalaku.

Tak bisa kusebutkan identitasnya dengan benar. Aku belum mampu mengungkap abjad-abjad lengkap yang menyusun namanya. Nciz. Entah, inspirasi dari mana, tapi begitulah pedengannya. Jangan bertanya siapa ia, bukannya aku tak bisa membeberkan secara rinci. Tapi tidak mau. Belum, barangkali. Kalau setiap pertanyaan selalu satu paket dengan jawaban, maka yang sanggup mempertemukan keduanya adalah waktu. Simpan dulu di kantongmu, seperti jabatan: semua ada tahapannya.

Nanti akan jatuh tempo giliranku mengagak-agihkan seluruhnya, dari ujung rambut sampai tepi kuku jemari kakinya. Bermula dari mana papilaku bisa mencecapi garis hidup wanita yang menyebut dirinya dengan, “Nyonya Besar”. Atau aku saja yang berlebihan menyebutkan titelnya.

Kalau kamu membaca tulisan—yang sudah mirip dengan manuskrip—sejarah ini, yang kau jejal di matamu barulah prolog. Mungkin jika huruf punya 26 abjad, ini baru satu tipe huruf “A”, padahal ada banyak jenis huruf “a”. Sedetil itu. Saking tekunnya aku meneliti renyutnya. Kalau yang lain berlomba-lomba dengan riset karya ilmiah, aku memilih menyelisik watak dari setiap gerigi ujung gigi yang tertata rapi. Saking seringnya, sampai-sampai aku hafal betul masing-masing batang tubuh punya kepiawaian sejak lahir untuk menggelapkan sisi yang mana dan menerangkan bagian yang apa. Secara kasatmata sama persis seperti guna shadding dan tintin—yang tak pernah absen di-request oleh wanita mutakhir abad ke-21 agar terlihat memiliki gagang hidung yang lebih menonjol seperti bule, atau tulang pipi yang lebih tinggi. Memainkan peran gelap dan terang demi tercapainya suatu keseimbangan dalam proporsi wajah yang bagi mereka banyak cacat di sana sini. Padahal justru jadi simbol kurang percaya diri. Mungkin, kurang percaya penciptanya, aku bilang mungkin. Tak terkecuali parasmu, lekukmu, lakumu, bahkan isi kepalamu yang kadang mondar-mandir atau beku, bahkan seringkali berjalan ke belakang, lama-lama hengkang.

www.fasihrdn.tumblr.com


Allah. Engkau Maha Tahu terdiri dari potongan apa saja yang sampai saat ini menguasai hati. Bukan hati yang  terletak dalam rongga perut sebelah kanan atau lebih tepatnya di bawah diafragma. Tapi serepih hati di dalam dada. Dalam ejaan arab ia bernama qalbu (khalbu), tapi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ia disebut dengan kalbu: pangkal perasaan batin; hati yang suci. Suci sendiri artinya adalah bersih; bebas dari cela; bebas dari noda; bebas dari dosa. Tapi Allah, aku bukan para nabi yang maksum. Bisa kiranya Kau toleransi kepayahanku dalam hal mengendalikan? Ah, Kau pastilah tenggang rasa atas kecengenganku dalam mewaspadainya: ia yang membawaku jatuh dalam kebobrokan iman. Plongah-plongoh menanggapi qada dan qadar.

Kalau kuhitung hanya dengan deret nomor bagian akhir menurut perhitungan matahari dalam penanggalan Anno Domini atau yang lazim disebut kalender Masehi, sudah bergeser dua digit. Atau boleh jadi, memang baru dua angka. Sederhananya, sejak tahun 2013. Dua tahun, kuulang, jika hanya kutaksir dari dua bilangan akhir. Tanpa bulan, tanpa tanggal. Iya, dua tahun, perlu berapa puluh kali kujabar dengan sabar. Kalau menyenangkan pastilah kuujar lebar-lebar dengan penegasan kata “baru”, bukannya “sudah”. Bisalah kau tebak-tebak sendiri, apa kiranya yang kurasakan selama dua tahun belakangan ini. Hidup yang menyedihkan. Seperti tanpa Tuhan. Sepi, senyap, seperti raga tanpa roh.

Aku sudah keluar orbit. Tanpa sadar. Atau pura-pura tidak sadar. Tidak lagi berotasi di jalur lintasan yang dibuat Tuhan sebagai acuan. Aku memecuti kudaku tanpa rute. Buta arah. Menyalahi Peraturan Baris-Berbaris, banjarku mencong sana-sini. Menjengul begitu saja dari shaf solat berjamaah di masjid sebelum salam terakhir. Bagaimana mungkin bisa terjadi revolusi mundur?

Bukankah jauh lebih terhormat menjadi mantan pembunuh berdarah dingin ketimbang mantan kyai besar yang diagung-agungkan? Tapi lihat baik-baik, jangan seperti aku. Lahir dengan kulit kuning langsat, lalu tumbuh dengan wajah kusam, nyaris pucat pasi. Mau berfoto dengan ekspresi apapun juga tetap tampak buruk rupa dalam lensa, lensa mata maupun kamera.

Kalau harus kurunut dengan cermat, tak kan habis kaupahami hanya dalam waktu satu-dua pekan, triwulan, caturwulan … bahkan sampai pancaroba membuat resistensimu melemahkan tubuh, mengeluarkan cairan lengket berwarna hijau—ingus—sekaligus meriang sambil batuk-batuk nyaris kanker paru-paru pun tetap saja tak akan katam. Bagaimana mungkin? Kujejaki bumi sejak 20 tahun silam dan mau kauselami hanya dalam semalam. Yang benar saja. Mungkin aku butuh kertas berlembar-lembar dan kau mesti berbetah-betah mengkhidmatinya. Atau aku perlu membuat novel sekuel seperti milik Dewi Lestari “Supernova” agar sampai diangkat ke layar lebar menandingi film fenomenal “Harry Potter”—seri satu sampai tujuh—mahakarya J.K. Rowling.

Allah. Maafkan hamba yang sudah berceletuk ngalor-ngidul tanpa alur sampai subuh membangunkan dengkur. Allah, aku sakit parah. Parahnya lagi aku justru ingin ada virus yang menyerang serebrum sampai masuk menggerogoti memoar yang semakin hari semakin tak pantas untuk diingati. Biar amnesia sekalian. Dan aku bebas dari kenangan. Kenangan inferior yang mutunya benar-benar rendahan. Persembahan dari nyonya besar untuk perjamuan (tiap) makan malam. 

Pantas saja aku selalu kekenyangan bahkan tanpa karbohidrat sehat semacam umbi-umbian.

Allah. Tubuh yang menyatu dengan tanah dan dahi beserta tujuh anggota lain yang menyentuh bumi jadi saksi. Bahwa aku memang nyata-nyata Kausayangi. Dan bertatap kata denganmu di satu pertiga menuju fajar adalah kesempatan yang tak pernah ingin kulewatkan. Aku tak perlu membeli perangko agar suratku sampai tepat waktu. Sebab surat ini akan Kaujawab lebih dulu dari surat lain yang diantar lewat kantor pos. Kumohon, percepat tenggatnya untuk melupakan nama yang justru lebih fasih kueja ketimbang namaku sendiri.

Hambamu yang penuh dosa,
Fasih Radiana

Kosa Kata yang Hilang: Tulus

Sudah kutemukan. Sore ini. Memelas. Wajahnya menagih untuk bersegera dipungut dari perasingan. Di sepinggiran rerintik hujan. 
Yang lalu menderas, menggenang di ujung jalan berlubang. Bersama kenangan yang berenang-renang ke tepian. Padahal sudah lama sekali—mati-matian kugempur dengan segala cara. Tapi nihil. Aku selalu gagal dalam melangis tangis. Karenamu. Turunan hawa yang katanya paling subtil seantero jagad. Padahal lamat-lamat kutelanjangi seisi dadamu, sekujur tubuh tak akan luput dari segala sesuatu yang artifisial: ecek-ecek.

Sudah kutemukan. Semalam tadi. Garang. Raut rupanya membenarkan diri: siapalah ia sesungguhnya. Meminta dijumput dalam jingga kemerahan yang sudah lunas dilahap alam.


Aku terkekeh. Meski tak sampai bising di telingamu. Sambil memeluki lututku yang masih terus terguncang ledak tawa. Bukan karena kamu lucu. Bukan juga sebab aku mulai tidak waras. Tapi sudah satu setengah tahun takdir begitu menggelikan. Tapi bukan salah tulisan Tuhan, mana ada predestinasi yang meleset. Padahal sudah terang-terangan angin menjabar kabar. Aku saja yang terlalu bodoh berseloroh dengan seseorang yang cakap kali mengabai.

Kalau lelaki yang nyaris 1460 hari mencecapimu saja alpa mengenaimu, apalagi aku yang baru sekelap mata mengintaimu. Kupikir mulanya kau adalah bidadari jelmaan yang diturunkan dari asilium. Tapi lambat laun kau tak ubahnya seperti si kulit hitam yang memaksa diri suntik vitamin-C demi kulit kuning langsat bak putri keraton. Sudahlah. Apa bedanya dengan aku?

Jebolan Sekolah Teknik Menengah bertransformasi menjadi dara yang gemulai menunggangi heels belasan sentimeter, dengan seraut wajah yang sarat dengan bersolek: pipi ranum; bulu mata lentik; dan bibir seperti bekas menenggak anggur merah.

Tapi tidak, bantahnya—sorot mata lain di lintas jejak tapak.

Yang terlihat nyata muncul menyembul justru kulit kusam penuh noda, wajah pucat-pasi seperti pengidap kanker stadium akhir, dan  flat shoes yang terdengar setengah diseret.

“Itu kamu,” ujarnya sambil menyodorkan cermin besar berukuran pintu.

Sudah kutemukan. Baru saja. Polos. Paras lugunya ingin mengambil posisi semula. Berharap diperankan kembali menjadi tokoh utama. Merayu dengan tersipu, menawar-nawar ragu padaku.

Was-was kalau aku tak acuh padanya. Kalau aku tiba-tiba sengiang naik-pitam. Menghina kenaifan seseorang yang pernah dikhianati sejenisnya. Aku menghela napas panjang. Ke mana saja selama ini? Bukankah tak ada yang salah dengan luka. Tidak juga dengan menjadi cela karena tak mampu berbaik-baik saja pada kengawuran olah rasa. Aku rasa juga begitu.

Cinta mana bisa tanpa hitung-hitungan. Ia tetap baku pada logika. Ia tetap mesti selaras dengan gravitasi, menuju yang paling hakiki. Mana boleh dimaafkan tanpa perjanjian ulang. Dan mana kusangka, ternyata tak hanya perlu dengan satu faksi. Ia butuh kedua belah pihak untuk dimurnikan kembali kadarnya dengan media netral: keikhlasan. Kalau salah satunya tak terpenuhi, maka mushil direstorasi. Sedang kau enggan menyelesaikannya dengan kepala dingin. Padahal kau tahu betul lantaran siapa ia nekat berkelukur darah menyulut air mataku sampai beku.

At Loops Cafe Jogja dan “Filosofi Kopi” milik penulis kenamaan Dewi Lestari

Dan sudah kuhabiskan satu tempo sampai bosan dengan reaksionerku sendiri. Yang terus saja menolak hilang ingatan. Memori justru berjalan mundur. Semakin lama semakin menusuk sungsum.

Sudah kutemukan. Di batas waktu. Diriku sendiri. Penat-tenat dengan segala yang memutari medan yang itu-itu lagi. Meminta tolong dengan bersujud-sujud di pangkuan hujan. Memohon lepas dari masa silam. Kau, pergilah. Aku sudah jengah mengupayakan hati untuk patos-asih pada laku yang tak tahu diri.
Terduduk di sudut kafe dengan gerimis yang tak lagi bisa disebut rerintik, membuatku mulai mengerti. Bahwa lebih baik tulus dalam membenci ketimbang berpura-pura mengasihi: padanya yang lalai pada hak orang lain. Apalagi dalam konstelasi cinta. Dan angka dua—sebut saja khianat—serta orang ketiga—sebut juga penggoda—tidak lagi punya kelayakan atas keutuhan afeksi yang murni.
Maka jika kuingat kembali rumus fisika sederhana bahwa aksi sama dengan re-aksi. Sekarang, aku tak mengapa bilasaja memang harus ada satu jiwa yang beroposisi denganku. Aku tak lagi kudu berfilantropis padamu, kan?



Karena membenci tanpa ketulusan hanya akan membuat seseorang memakan kebenciannya sendiri. Biar deras hujan yang mengguyur perlahan….



Dariku,
Yang berusaha mengikhlaskan kekhilafanku sendiri.
31 Maret 2014


Pembacaan puisi : My Soundcloud – @Fasihrdn

Profesi Ibu Rumah Tangga, Sederhanakah Ia?



Keinginan saya memang menjadi ibu rumah tangga. Karena saya begitu tahu bahwa bekerja di luar rumah tak pernah bisa disambi dengan mengurus semua urusan rumah, tidak sama, berbeda pola. Pikiran-pikiran itu memenuhi saya sudah cukup lama. Sudah sejak Saya masih dikategorikan sebagai remaja.  Dengan pendidikan yang tetap mumpuni karena untuk mencetak penerus yang baik pun butuh andil seorang Ibu yang cerdas. Ibu rumah tangga harus multitalent kan? Lalu ada yang salah dari saya yang sekolah di beda-beda jurusan? Hehe, abaikan kalimat terakhir.
Dari dini hari sampai pagi lagi, bukankah harus ada satu orang yang memimpin seisi rumah agar tetap teratur? Bagaimana jika sistem itu cacat sedikit saja? Kira-kira siapakah korbannya? Siapa yang akan dirugikan di sana? Berhasilkah saya, jika saya adalah “orang besar” yang dihormati dan dibanggakan di mana-mana, tetapi keluarga kecil saya ternyata tidak bisa memaknai hakikat “keluarga” yang seutuhnya? Sederhanakah tugas seorang Ibu Rumah Tangga? Sesederhana setiap mata yang mencela prodi Tata Rias dan Kecantikan, katanya, kuliah hanya datang lalu praktik make up. Tanpa profesi Ibu rumah tangga, saya rasa sistem di dalam rumah tidak akan berjalan dengan baik. Pun ada, hanyalah sekian persen saja. Bisa dihitung dengan jari telunjuk.
Masih salahkah? Apa? Uang?

Saya tidak naif dan munafik. Saya dan keluarga kecil saya nanti butuh dana ini dan itu. Dari papan, sandang, lan pangan, lalu belum lagi pendidikan sampai urusan kesehatan.
Saya rasa hanya pecundang yang takut kekurangan biaya hidup. Pun nanti jika gaji suami saya pas-pasan, bisakah mencari uang tambahan di luar kantor? Tak bisakah saya mengerjakan sesuatu di rumah yang menghasilkan pundi-pundi uang? Tak bisakah saya berdoa, bersujud siang-malam, meminta Allah memperlancar rezeki keluarga kami? Bisa. Sangat bisa.
Hanya orang-orang yang tidak percaya pada keajaiban, ketangguhan, kebesaran, keadilan, kasih-sayang, dan kesempurnaan Allah yang bilang bahwa dengan menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah kesalahan. Apalagi jikalau hanya menyangkut urusan finansial.
Mari saya tunjukkan contoh kecil. Adakah suami-istri yang bekerja dan kedua-duanya mempunyai penghasilan besar tetapi tetap kekurangan? Banyak. Tapi adakah hanya bekerja serabutan tapi ternyata serba kecukupan? Ada. 
Bolehkah Saya simpulkan?
“Cukup” hanya akan ada di hati orang-orang yang bersyukur dan pada mereka yang dekat dengan Allah. Yang jauh dari keduniawian. Yang percaya bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang mampu mengurus segala kehidupan.
Lalu pedulikah saya atas perkataan orang yang bilang bahwa cita-cita saya HANYA seperti itu?
Saya tidak punya keinginan yang dilihat secara garis vertikal. Tidak begitu tertarik memiliki jabatan, pangkat, eksistensi tinggi, atau segala jenis ke arah atas. Kalaupun saya punya keinginan lebih dari seorang Ibu rumah tangga, adalah motivator. Lewat apa saja, bahkan sekadar coretan di facebook saja asal manfaat akan saya lakukan berulang-ulang, akan saya teruskan sampai ke mana-mana. Karena senyum lega pembaca adalah salah satu bagian dari kebahagiaan yang entah didatangkan Allah lewat angin apa. Saya ingin bermanfaat, meski kecil, meski sedikit, meski hanya dengan kata-kata usang semacam ini. Semua boleh berpendapat. Semua boleh menyanggah. Beginilah saya ingin hidup. Beginilah cara saya bersyukur. Beginilah cara saya memandang hidup melalui garis horizontal yang saya harap bisa merengkuh dunia-akhirat.
Catatan Kecil, Fasih Radiana, 11 Maret 2015.

Satu Tahun yang Lalu, Boleh Kutulis (lagi) Surat Untukmu?

Boleh kutulis surat (lagi) untukmu? Kiranya kau masih bisa mengingat ada apa satu tahun yang lalu. Tepat di tanggal dan bulan yang sama, aku menulis surat yang syarat akan luka sebab cinta. Padamu, masa lalu, kukirimkan kembali hari ini.

Meski masih kutunggui Tuhan mengabul doaku untuk bisa berjabat denganmu, saat ini aku tak benar-benar ingin menikam masa lalu kita. Iya, kita. Sebab meski kau bersikukuh tak pernah bersangkutan denganku, nyatanya kita tetap terhubung pada sehelai benang merah. Lalu Tuhan merekam segala kejadian. Kalau bisa kuminta satu saja adegan dari kita di beda ruang, maka kamu tak kan bisa mengelaknya. Kita adalah satu bagian dari ruang yang terpisah kala itu, saat lukaku terlalu pantas untuk dijadikan bahan tertawaan.
www.fasihrdn.tumblr.com | path: fasihradiana
“…maka jika ia bukan pemberani, jadilah kamu satria,” kataku tempo hari. Tapi nyatanya sulit sekali rasanya melupa. Berkali-kali kucoba untuk memaafkan tapi aku tak kunjung juga berhasil menjadi “Ksatria”.
Ini bukan menyoal siapa yang salah dan benar. Ini perkara damai yang masih juga mengambang di batas angan. Sedang kamu tetap juga tak mau menyelesaikannya dengan bicara. Padahal aku sudah bersiap lebih terluka dengan kenyataan dari mulutmu dengannya. Tapi sudahlah, Mbak.
Hanya aku saja yang belum mampu berbaik hati memaafkan diri. Dengan kerumitan yang memaksa kukhidmati perlahan, pelan-pelan. Terakhir kali, biarkan aku menuliskan syair yang pas untuk keangkuhanmu atas takdir dan kepayahanku menerimanya:
Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Bawalah rahasiamu yang tak ingin kutahui.
Pergilah Kau, Sherina.

Biar aku belajar mengeja ikhlas dengan benar. Biar aku paham bahwa tak segala mesti kutahu. Ada hal-hal yang Tuhan tak izinkan seseorang untuk tahu, bukan sebab Tuhan merahasiakan kebenaran, tetapi justru karena Tuhan sengaja menahan kesakitan yang lebih dalam.
Biar Februari kali ini jadi penghabisan. Sampai ikhlas menemui sendiri tuannya. Akan kujaga diayang Tuhan titipkan padakuyang pernah jadi seseorang terbaik mengisi kehidupanmu, melengkapi hatimu. Begitu?
Untuk segala yang masih membayang, barangkali aku lupa bahwa satu cara paling mujarab atas penyelesaian suatu perkara memang hanya mengembalikan segala pada pemilik tunggalnya: Allah. Dan aku menyerahkannya. Segala yang masih jadi tanda tanya. Segala yang masih abu-abu. Segalamu yang bisu. Kuucapkan terima kasih atas pertemuan tanpa tatap mata.
Salam,
Fasih Radiana

Bila Kau Bukan Takdirku

Dan sejauh ini aku bilang aku mencintaimu. Lalu dengan itu kau mengaku mencintai seluruhku. Sejatikah?
Ada ruang dalam rongga dadaku, ia bilang kau tidak.
Ada lubang dalam embus napasku, ia bilang kau tidak.
Ada belulang dalam tubuhku, ia pun bilang kau tidak.

Dan sejauh ini kuucap rindu berkali-kali, lalu dengan itu kau membubuh rindu ke segala pintu. Abadikah?

Masih ada ragu, kataku.
Masih juga menyimpan pilu, batinku.
Sayang.
Aku tak pernah suka mendengar sebutan itu membumbung sampai ke gendang telingaku. Skeptis bahwa itu salah satu bukti seseorang benar-benar merasakannya mengaliri rusuknya.
Tapi denganmu aku bersetia menunggu “sayang”-mu mencumbui pendengaranku.
I love you.
Aku jejap dengan kalimat yang katanya romantis. Aku geli dengan bualan yang terlalu dini untuk bisa dipercaya keberadaannya di dalam hati.
Tapi bersamamu aku selalu merindu “I love you“-mu menjejali gemeretak dalam gigilku.
Dan sejauh ini aku hanya ingin menapaki langkahmu sampai benar-benar berhenti di satu petak yang kusebut takdir. Meski jauh sebelum hari menjadi terlalu dingin, pertemuanku denganmu sudah kunikmati sebagai bagian dari takdir.
Ada bagian di semuaku meyakini seutuhmu. 
Di waktu bersamaan, aku was-was kalau saja ternyata segala milikku tak juga pas menggenapimu.
Sayang, dengarkan aku. Bila saja jodoh bukan di genggamku menyela jemarimu. Bila saja aku bukanlah akhiran dari bait puisimu, atau ternyata kita tak pernah dituliskan untuk menua di atap yang satu … bibirku akan semakin lihai mendoamu, lalu akan ada tangan yang semakin lama bertengadah sampai fajar nyaris pecah. Biar patah takdir-takdir yang barangkali salah.

Sebab setiap kali kauakhiri dialogku, kulumati kalimat-kalimat rindu sampai habis waktu menunjukkan pukul tujuh. Setiap kali kuakhiri ceritamu, kaukunyah kata demi kata cinta sampai habis ruang subuh.

041114~Kubuang jauh-jauh larik di awal tulisanku, bantu aku menghapusnya biar tak ada celah bagi yang lain memasuki kau dan aku. I Love you.



Salam, 
Fasih Radiana

Ajari Aku Membahagiakan Kita

Salah.
Kalau aku mengira dengan cinta, kau akan begitu saja percaya.
Lalu berbahagia.

Salah.
Kalau aku berpikir dengan setiaku, kau akan begitu saja percaya.
Lalu berbahagia.

Salah.
Kalau aku merasa dengan kesalahan masa silam, kau tak bisa begitu saja kupercaya.
Lalu tak pernah berbahagia.
more quote www.fasihrdn.tumblr.com
Sudah sejauh ini, Sayang. Tapi ragu masih kerap lalu-lalang di antara kau dan aku. Sebab yang itu-itu lagi: masa lalumu, atau lakuku yang bagimu ternyata pilu. Aku lupa, kapan terakhir aku merajuk. Ingatkah kapan terakhir kali kau tiba-tiba diam dan aku pulang dengan kita yang terlibat dalam prasangka. Kita yang menyimpan amarah. Kita yang menyembunyikan kecemburuan, atau kita yang tetiba jadi saling mengasing.
Tak bahagiakah denganku, Sayang?

Terlalu dini menyampaikan ini. Bahwa sebenarnya aku benci mengatakannya. Mencintaimu. Yang awalnya kupikir hanya egoku membahagiakan diri. Nyatanya aku tak perlu kamu memberiku bahagia, terlalu pedih merasakanmu terluka dan sering aku tak mampu mengartikannya. Yang mulanya kukira hanya hatiku yang begitu rapuh tanpamu. Nyatanya aku bisa jadi begitu ampuh saat kau sedang jatuh. Aku paham, Sayang. Kita sedang berusaha menyatukan dua kebiasaan yang berbeda. Kita sedang mencoba menyelipkan jemari yang berukuran beda, meletakkannya pada genggam yang tak kan bisa dilepaskan oleh apapun; siapapun. Kau tahu, Sayang? Memang tak mudah untuk dua kepala, dua hati, dua raga, dua pola, dan segala yang dua untuk melebur dalam satu jiwa.
Tapi sekali lagi, ingatkah bahwa perlahan ada yang samar-samar mulai tak lagi tampak di permukaan? Aku tak lagi amuk bepergian sendiri. Kau tak lagi sesering dulu meredam ribut di dadamu.
Tak bahagiakah denganku, Sayang?
Aku takut mendengarnya. Karena pernyataan sebelum ini sudah menjadi jawaban bagiku. Bukankah sebenarnya mudah bagi kita memahami tanpa berbicara secara rinci? Sebab kau sendiri yang bilang, ada bagian yang sama persis. Meski nyatanya kita tetap sama-sama butuh pengulangan kata yang tegas. Agar tak salah mengira-ngira. Agar tak salah tuduh rasa. Agar lebih mudah membahasakan kekecewaan. 
Kalau begitu maki aku sepuasmu, Sayang. Sekarang juga. Sampai remah-remah amarah tak lagi merumah. Biar aku meramah. Biar aku bisa memelukmu erat-erat. Biar aku juga merasakan degup yang terdengar begitu kencang meski hanya dengan membacamu. Biar kau tahu, seberapa dalam aku mencintaimu.
Lalu, tak bahagiakah aku denganmu, Sayang?
Meski kerap kali kupertanyakan mengapa dulu kaulakukan: menghabisi air mataku. Meski masih sering kujumput lagi kisah bekas luka lama, sampai bosan membumbung di gendang telingamu. Butuhkah jawaban dariku. Berbahagiakah aku denganmu?
Ajari aku cara yang paling pas untuk meyakinimu. Maka ajari aku memasuki tulangmu. Merangsuk ke sumsummu. Ajari aku membahagiakan kata ganti dari kau dan aku: kita.


131014~Maka kuajari kau caranya membahagiakan aku: cintai saja, seperti tak pernah kaukenali wanita selain aku.

September – Non Fiksi

September bukan jadi waktu pilihanku untuk menemuimu. Ingatkah bagian itu?
Yang saat itu aku merasa begitu percaya diri tak mungkin jatuh cinta lagi. Apalagi dengan pria di hadapanku. 17 September 2013. Tepat hari Selasa pukul delapan malam aku menjejak dalam keraguan di tengah remang pada keramaian salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Kuterjemahkan air mancur di halaman Gedung Rektorat sebagai titik hatiku tanpa sadar luruh perlahan. Aku masih bisa merasakan purnama pertengahan bulan jadi saksi bisu atas jatuh temponya keangkuhanku.
“Halo? Kamu di mana? Sini dong, aku di depan air mancur, banyak orang nih aku nggak lihat kamu….” Sembari memarkir motor, aku menelepon salah satu teman yang katanya sudah berada di samping air mancur.
Namanya Elis. Satu kelas denganku. Sebenarnya aku enggan datang kemari, tapi gosip yang beredar, jika tidak mengikuti program School Development Program (SDP) maka sertifikat OSPEK tidak dikeluarkan. Apalah daya mahasiswa baru, dibohongi juga tak tahu. Dan derap langkahku berhenti pada satu titik. Cukup kaget karena ternyata yang hadir begitu sedikit.

“Nama saya Fasih Radiana, program studi ….” Baru saja duduk, sudah tiba giliranku memperkenalkan diri. Dengan percaya diri, aku banyak bicara soal diriku. Karena pemandu SDP kelompokku memang menyuruh kami bercerita bahkan sampai ke persoalan pribadi. “Alhamdulillah, saya nggak punya pacar dan nggak mau pacaran lagi,” kataku dengan tegas.

“Ya sekarang … nanti kalau sudah jalan kuliah sekian bulan pacaran lagi,” pemandu yang belum kutahu namanya itu menanggapi pernyataanku.

Tapi kujawab sekali lagi dengan begitu jelas bahwa aku tidak lagi tertarik pada urusan anak muda semacam cinta. Lalu dibantah lagi oleh lelaki itu, dia pikir aku trauma karena patah hati. Aku terkikih dalam hati. Belum pernah cinta merusak hidupku. Belum pernah cinta jadi tuanku. Belum pernah cinta mengusik jiwaku sampai seperti remaja lainnya yang bisa gila hanya karena ditinggal kekasihnya. Aku memang sedang dalam kondisi yang begitu stabil, mungkin lebih dari itu.


“Oke, berarti sekarang giliran saya yang memperkenalkan diri. Ada yang sudah tahu nama saya?” Tanya lelaki berjaket coklat yang berada tepat beberapa jengkal dariku. Ada salah satu anggota kelompok yang ternyata sudah tahu namanya. “Sebelumnya saya minta maaf karena kemarin ada acara di Lombok, jadi baru bisa mendampingi hari ini. Emm… digantikan siapa kemarin? Tapi sudah diberitahu kalau hari ini kumpul kan?” Lelaki itu melanjutkan.

Aku jadi ingat, kalau mbak-mbak pemandu kemarin semakin membuatku malas mengikuti program yang sampai sekarang aku masih juga tidak paham apa manfaatnya. Galak, ketus, dan perempuan. Hahaha. “Oke, ada yang tahu jabatan saya di BEM itu apa? Karena biasanya sih, pada nggak tahu.” Lelaki yang aku lupa namanya itu bertanya lagi. Penting ya aku tahu jabatanmu apa? Batinku. “Wakil Ketua,” jawab lelaki di sudut lain. Oh, My God. Sempat-sempatnya tahu-menahu perkara itu.

“Sebelum saya memberitahu tugasnya apa, ada yang mau ditanyakan dulu?”
“Apa penyebab putus? Kapan putus?” Tanyaku asal-asalan, daripada tidak bertanya sama sekali.
“Salah paham karena sama-sama lelah,” jawab lelaki yang ternyata baru putus lima bulan yang lalu. Klise, batinku. Dasar, anak muda.

Aku pulang dengan membawa tugas baru. Entah, aku tak begitu paham dengan tugasnya. Tugas dari dosen sudah menumpuk, masih harus ditambah dengan apalah ini namanya.

—————————————————————————————–
September bukan jadi waktu pilihanku untuk dipertemukan denganmu. Ingatkah bagian itu?

Bulan Maret aku berangan-angan merambati gunung di negeriku. Lalu seseorang yang tak kukenali siapa menawarkan pendakian yang sudah lama kunantikan. Tuhan, adakah jawaban dari sebuah keinginan melalui cara semacam ini?

22:01 17 Sep – fasihradiana: Maaf mas, mau tanya. Itu yang ndaki gunung pada angkatan atas ya?
22:04 17 Sep – Mas BEM: campuran kok, anak TI 2012 juga ada.
22:05 17 Sep – Mas BEM: kamu boleh kok ajak temen. Gimana? Boleh sama ortu?
22:05 17 Sep – Mas BEM: duuuh, dp nya promosi blog nih….
22:06 17 Sep – fasihradiana: Boleh sih, boleh, tapi cari temen dulu. Malu kalau sendiri, hehe. Hahahaha, yaudah ganti deh.
22:06 17 Sep – Mas BEM: itu si Elis diajak … haduh sensi.
22:08 17 Sep – fasihradiana: Haha, ya nanti. Nggak sensi kok.
22:09 17 Sep – Mas BEM: Sendiri juga gapapa nambah relasi….
22:09 17 Sep – fasihradiana: Ntar kaya orang ilang….
22:10 17 Sep – Mas BEM: yee… belum apa-apa udah pesimis.

Mengapa juga lelaki itu menyelipkan informasi tambahan setelah memberitahu tugas SDP, mengapa mesti gunung? Aku selalu bilang suka dengan gunung, tapi belum pernah menjamahinya sama sekali. Payah. Beruntung ada Whatsapp yang jadi media bersahabat, untungnya aku termasuk mudah bersosialisasi di dunia maya. Iya, bukan dunia nyata. Jadi, Tuhan, bolehkah aku menjejaki puncak merbabu? Ah, aku tak yakin ayah dan ibu mengizinkan, apalagi pergi bersama orang-orang yang belum kukenal dengan baik. Tapi aku ingin. Tapi terlalu banyak kata tapi yang menghambat lajuku. Kalau Tuhan ridho, pasti akan segera kucumbuhi kau, Merbabu.

16:18 18 Sep – Mas BEM: udah ke JEC nya?
16:21 18 Sep – fasihradiana: Udah mau pulang, mau hujan.
16:24 18 Sep – Mas BEM: Ini juga saya baru mau pulang dari MUGA. Ati2….
16:27 18 Sep – fasihradiana: sama2, enak ya pulang.
16:41 18 Sep – Mas BEM: ye, pulang dari SMK, tapi ke kampus lagi…
16:42 18 Sep – fasihradiana: Ngapain?
16:49 18 Sep – Mas BEM: Rapat Teknovest
16:54 18 Sep – fasihradiana: Oooo. flashdisknya diambil kapan?
16:56 18 Sep – Mas BEM: ya kapan bisa ketemu?
16:57 18 Sep – fasihradiana: Ya kapan ya. Emang rapat di mana?
16:59 18 Sep – Mas BEM: di BEM
17:01 18 Sep – fasihradiana: O
17:02 18 Sep – Mas BEM: a o a o
17:07 18 Sep – fasihradiana: Zzzzz aku di kampus kok. Kalau mau ambil, ambil aja, kalau nggak sempet ya kapan2, haha. Flasdisk-nya kupakai dulu.
17:09 18 Sep – Mas BEM: di mana kamu dek
17:09 18 Sep – fasihradiana: KPLT
17:09 18 Sep – Mas BEM: ada apa?
17:11 18 Sep – fasihradiana: Bikin tugas
17:14 18 Sep – Mas BEM: sampai jam? ya nanti tak ke sana…
17:15 18 Sep – fasihradiana: Sampai jam 7 kayaknya
17:17 18 Sep – Mas BEM: Ok

Entah bagaimana bisa bertepatan dengan temanku yang baru saja meminta ditemani ke pameran komputer di Jogja Expo Center, tapi yang jelas beberapa detik setelahnya lelaki yang aku lupa wajahnya itu mengirim pesan di whatsapp, “Hari terakhir pameran, ada yang mau ke sana?” Dari kalimatnya, siapapun tahu itu pesan broadcast, bukan yang hanya ditujukan untukku. Tapi pada akhirnya, akulah yang membantu mahasiswa tingkat akhir yang sedang melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta itu, begitu kan?

18:30 18 Sep – Mas BEM: di sebelah mana?
18:34 18 Sep – Mas BEM: dek
18:34 18 Sep – fasihradiana: Di deket TV mas.

“Loh, kamu kok bisa kenal sama Mas itu?” Tanya Mbak Novi, kakak kelasku di sekolah. Yang kini jadi kakak tingkat satu fakultas, tetapi di jurusan yang berbeda.
“Pemandu SDP-ku, Mbak.” Jawabku singkat.
“Hati-hati, loh….” Perempuan berkacamata itu membuatku penasaran, what’s wrong? “Kenapa?” Aku ingin tahu.
“Mas itu lagi deket sama dua temen kelasku sekaligus. Tapi dua-duanya di PHP,” jelasnya.
“Oh, jadi dia Pemberi Harapan Palsu, to?” aku terkikih, “santai aja, Mbak. Cuma sebatas pemandu dan anak buah, nggak akan lebih. Nggak doyan, hahahaha,” lanjutku.

Jangan pikir aku awam menyoal kaum adam. Aku hapal betul tabiat berbagai macam jenis pria. Dan tak terbesit meski sedetik, untuk menengok barang sebentar siapa dia.

alamat TUMBLR ganti, www.fasihrdn.tumblr.com

Aku bukan mereka yang bisa kauambil begitu saja perasaannya. Hatiku tak selembut mereka untuk berpikir lebih keras ketimbang logika. Meski kamu tak bermaksud menjejaliku dengan berbagai macam modus anak muda, aku tetap mesti waspada. Jangan sampai pertahanan yang kususun begitu rapi selama ini hancur dengan mudah di tangan lelaki yang bisa menyakitiku kapan saja.

—————————————————————————-

17:04 20 Sep – Mas BEM: Assalamualaikum, bagaimana aktivitas hari ini?
17:09 20 Sep – fasihradiana: Waalaikumsalam. Alhamdulillah, capek.
17:25 20 Sep – Mas BEM: semangat buat yang mau makrab.
17:26 20 Sep – fasihradiana: wooo aku nggak ikut makrab
17:43 20 Sep – Mas BEM: loh, kenapa dek?

Kenapa? Karena ada acara penting yang harus kuhadiri hari itu juga. Aku tersenyum. Sudah paham mengapa bisa lelaki itu banyak menelan korban PHP. Oh, atau lebih bijaknya kusebut banyak wanita yang merasa diberi harapan palsu olehnya. Denganku yang baru tiga hari mengenal saja, sudah mulai intensif berkomunikasi meski hanya lewat media handphone. Apalagi yang sudah cukup lama mengenalnya. Untungnya aku lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) yang notabene muridnya adalah laki-laki. Sudah kenyang dengan hal-hal semacam ini.

Halo, para pria. Kuberi sedikit pemahaman menyoal hati wanita. Ia begitu rapuh dengan rayu. Ia akan jatuh karena waktu. Ia bisa luruh hanya sebab merasa nyaman dengan bicaramu. Iya, cukup dengan menaklukan pendengarannya, wanita bisa dengan mudah diluluhkan seluruhnya.

Halo, kaumku, para wanita yang begitu peka pada rasa. Kuberi sedikit penjelasan perkara watak pria. Jangan kira kebaikannya teruntukmu saja. Jangan pikir perhatiannya melibatkan rasa. Jangan salah meletakkan hati. Baik-baiklah menempatkan posisi atau kau akan merasa disakiti.

alamat TUMBLR ganti, www.fasihrdn.tumblr.com

18:27 22 Sep – fasihradiana: Mas, muncak enak pakai sepatu atau sendal gunung to?
19:13 22 Sep – Mas BEM: sendal gunung dek… tapi kalau km punyanya sepatu gunung dipake saja
19:19 22 Sep – fasihradiana: nggak punya dua-duanya
19:21 22 Sep – Mas BEM: ya pakai punya saya gapapa dek… pasti kebesaran.
19:23 22 Sep – fasihradiana: ya dikecilin
19:24 22 Sep – Mas BEM: sebentar, memang adek mau?
19:24 22 Sep – fasihradiana: heeee ya mana bisa dikecilin? Adekmu nambah satu to mas.
19:26 22 Sep – Mas BEM: bisa, kan ada talinya… em… nggak tahu Fasih… maaf
19:27 22 Sep – fasihradiana: hmmm, alas sandalnya kan gede to, Mas. Maaf apa ini?
19:28 22 Sep – Mas BEM: Kan talinya kuat… gapapa Fasih 🙂
19:28 22 Sep – fasihradiana: ya besok bawa, tak coba, haha.
19:29 22 Sep – Mas BEM: Ok, ya maaf kalau saya salah manggil dek ke kamu, Fasih….

Salah? Bagian mana yang salah? Bukankah aku memang lebih muda? Sangat wajar jika dipanggil “Dek”. Kecuali kuterjemahkan dalam arti yang berbeda. Dan aku merasa begitu beruntung, menjadi wanita yang lebih rasional ketimbang wanita pada umumnya. Aku tak begitu khawatir bila ada pria yang barangkali tak berniat mengganggu, tetapi ternyata tetap saja mengusik kalbu.
—————————————————————————–

September bukan jadi waktu pilihanku untuk menemukanmu, lalu ditemukan olehmu. Ingatkah bagian itu?

September 2013
September jadi saksi. Siapalah aku ini, tak berdaya jika Tuhan menginginkan aku mati di genggamnya dalam jemari. Seangkuh apa seorang wanita menutup diri, ia tetap akan membuka juga borgol tanpa kunci. September jadi pintu. Aku memasuki wilayahku sendiri. Terduduk setelah berlari dari risiko jatuh hati. Lalu September jadi ruang tunggu. Sanggupkah aku mengikhlaskan masamu yang lalu. Berkenalan kembali denganmu yang baru. September jadi era yang paling baik untuk merindu. Dan September kali ini adalah angka satu yang menggenapi 365 hariku, berlalu melecuti waktu untuk sampai pada haru.

Siapa yang tahu, masih ada aku di dekapmu. Masih ada kamu di ujung mataku. Jadi, kaulah awal dari segala. Kubilang, segala. Sebab luka dan cinta bermula darimu, September.

17 September 2014~Meski nyatanya tak segalanya beriringan dengan sempurna, tapi sampai saat ini masih bisa kau dan aku temui: Kita.



Kau Tahu Mengapa Aku Tak Suka Kenangan

Ia kejam. Bila kau tak benar-benar paham cara mengingatinya.

Pada daun yang gugur di musim hujan, ada jalan memutar untuk lebih dekat menuju rumah singgah. Agar terlindung dari gigil gemetar sebab tetesnya makin deras mengguyur mata kaki. Kau tahu mengapa aku lebih memilih melaju sampai menemui rumah singgah berikutnya. Karena aku tak pernah punya waktu menoleh ke arahmu, masa yang telah kutinggali.
Pada mata sendu yang mengaku sudah berlayar jauh dari waktu, aku melihat diri dalam diri yang lain. Tersenyum, tapi air matanya bercerita. Mengisah soal hidup yang angker pada suatu masa, di langit dari jari telunjuk pada senja dalam jingganya. Tapi menikmati malam jadi pilihan untuk menghitung bintang yang berjejer dengan kemungkinan-kemungkinan untuk bersegera menjadi pagi. Kau tahu mengapa aku lebih suka menyuguhkan tatap tegas tanpa pengulangan. Ia jelas. Ia tak pernah membiarkan bola matanya mengubrak-abrik air mata yang telah membeku. Ia tak pernah patuh pada semu. Ia tak pernah suka merindu.
Padanya, diriku yang sudah jatuh tempo. Aku tak pernah menggali memori untuk kukhidmati kembali masaku yang telah habis. Karena ia begitu suci. Bukan untuk kutawar berkali-kali. Bukan untuk kurangkum menjadi suatu kisah lama yang terungkap begitu saja. Biar menguap, menjadi asap dari kayu-kayu pada batang yang rapuh, tumbang tahunan lalu. Kau tahu mengapa aku memperbarui mula dari setiap kata. Memperbaiki akhir dari setiap paragraf.
www.fasihrdn.tumblr.com
Padamu, aku tak suka. Kau tahu mengapa.

Jemarimu menyeretku pada jarum jam di putaran yang tak kutahu kapan pernah bertemu. Diksi baru dari gaya bahasa lama. Mengajakku mengukur petak dengan berjalan mundur. Memanggili kenanganmu sendiri. Jemu aku pada polahmu. Padamu, kau tahu mengapa aku tak sudi menoleh ke belakang, berbalik badan.
Kenangan bukan untuk kaulumat bersama masa depan. Bukan untuk kausuap dengan sendok tua dari masa silam. Kau tahu mengapa aku tak pernah mengajarkan padanya—hati yang leleh dalam darah—untuk mengaduk-aduk yang pernah jadi kudapan. Sebab ia bisa mengubah sederhana menjadi begitu rumit. Jejak rapat yang merenggang. Kau tahu mengapa, aku tak suka padamu, bunga kata dari percakapan satu abad yang lalu.
Aku mengingat dan kamu mengenang. Tolong, bedakan.

Maka kuingatkan kembali. Kamu salah bila menjadikannya ruang untuk berbenah. Ia tak pernah memberi jalan untuk pulang, jaraknya terlalu panjang. Kalau kau bilang ia penghantar kebaikan, omong kosong. Sebab ia bukan tempat untukmu belajar. 

Lalu jika nanti kau dan aku adalah bagian dari kenangan, jangan pernah mengingat-ingat aku, meski barang sebentar. Sebab sudah kuberitahu padamu, mengapa aku tak suka kenangan. 
180714~Aku tak perlu menjadi bayang-bayangmu kan, kenangan? Aku memilih undur diri bila itu terjadi.

Posesif

Aku bukan tipe wanita yang posesif, Sayang. Boleh kau tanyakan pada ia yang sempat membarengi langkahku. Aku tak pernah merasa memiliki. Itu prinsip yang sejak lama kuteguhkan dalam diri.
Aku bukan tipe wanita posesif, Sayang. Coba saja tanyakan pada ia yang pernah menjadi bagian dariku sebelummu. Aku tak pernah mencemburui siapapun, kecuali sedikit sekali dan sebentar saja. Sebab aku tak pernah merasa berhak memiliki. Itu prinsip yang selalu kumasukkan dalam hati.
Aku bukan tipe wanita posesif, Sayang. Bisa kau tanyakan pada ia yang dulu memenuhi hari-hariku. Jangankan cerewet soal ini-itu. Bertanya sedang apa pun tidak. Kuberi seluas-luasnya kebebasan untuk bepergian ke  manapun, bahkan tanpa aku. Aku juga tak suka sama sekali dijejali pertanyaan sedang apa, di mana, bersama siapa, sudah makan atau belum, dan pertanyaan-pertanyaan klise lainnya. Sungguh, kalau memang peduli, jangan hanya bertanya. Langsung saja menemuiku, membawakan makanan, memberikan hadiah sekalian. Itu prinsip yang sejak awal kuterapkan, tak perlu memelas perhatian. Aku tak membutuhkannya.
Jangankan kepada lelaki yang baru hitungan jari kukenali, kepada orang tuaku pun, aku tak pernah meminta barang sedikit saja perhatian. Tak perlu mencari-cari. Aku bukan wanita semacam itu. Silakan bertanya pada orang tuaku, berapa kali mereka tahu-menahu aku sakit. Kalau masih bisa kusembuhkan, kulakukan sendiri.
Bukan sebab aku angkuh, bukan juga rangah merasa bisa melakukan segala tanpa sesiapa. Tapi ini menyoal habits, Sayang. Kebiasaan yang diajarkan kedua orang tuaku membuatku tumbuh menjadi wanita yang malu jika meminta sesuatu—semacam perhatian—kepada siapapun juga. Bukankah perhatian akan berdatangan dengan sendirinya jika seseorang memang layak diperhatikan? Sebab itu, aku selalu mendapatkannya tanpa harus mencari apalagi merengek ke sana-ke mari, tetapi membaikkan diri dan akulah yang dicari untuk diberi.
Sayangnya, ada lelaki lancang tetiba memasukiku tanpa aba-aba, tanpa peringatan, tak juga dengan permisi. Mengkoyak seluruhku. Aku hilang kendali.

Perlukah bertanya siapa orangnya? Atau di mana saja letak posisi sumsumku bergeser lalu berjatuhan dengan perlahan.
Aku bukannya posesif, Sayang. Siapalah wanita ini, berani-beraninya mengatur polamu. Tapi aku tak suka melihat wanita lain lebih pandai membuatmu tersenyum ketimbang aku. Aku tak bisa mendengar tawamu lebih renyah dengan yang lain daripada dibuat olehku. Sungguh, aku tak sudi ada wanita lain menatap lama-lama seraut wajahmu.
more quote www.fasihrr.tumblr.com | follow me @fasihrdn
Aku bukannya posesif, Sayang. Aku hanya ingin tahu saja di mana kamu berada, sedang apa, dan kalau boleh tahu, dengan siapa. Bukan ingin membuntutimu, apalagi memintamu menghubungiku sepanjang waktu. Bukan itu. Aku hanya perlu kabar darimu agar tak terus-menerus kutunggu. Jangan kira aku tak mengerti kamu mulai terganggu dengan itu, aku tahu betul kamu butuh ruang untuk melejitkan potensi, memperbanyak relasi, dan menikmati duniamu sendiri. Begitu sulitkah meluangkan waktu barang satu menit saja untuk berbicara soal jadwalmu, membuatku tak perlu merasa jadi wanita dungu yang mencari-cari tahu keberadaanmu setiap waktu, apa harus selalu aku yang mencecarmu dengan kalimat tanya yang itu-itu juga?
Ah, haruskah kuulangi berkali-kali bahwa kamu punya satu kesalahan besar waktu itu, menjejakiku dengan dusta. Tak wajarkah jika aku masih bisa merasakan getir begitu takut kaubohongi kembali, diam-diam bermain dadu di belakangku. Menyampaikan rindu pada masa lalu. Meskipun semestinya kautahu, kesalahan hanya terjadi satu kali. Kalau terjadi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, itu bukan lagi sebuah kesalahan. Itu adalah pilihan.
Sungguh, aku bukannya posesif, Sayang. Tapi denganmu terkadang aku jadi ingin bermanja, sebentar saja. Sesekali jadi suka mengeluhkan ini-itu. Tapi kaubilang, aku tak dewasa, begitu kiranya aku jadi sungkan mengungkap kerinduan, enggan bilang sedang ingin diperhatikan. Lalu merasa hina karena tetiba kehilangan harga. Mengapa jadi ingin ditanyai apa-apanya?
Ingin sekali rasanya berhenti sejenak dari rutinitas ini: mencintaimu. Lalu mengintaimu tak lagi jadi kebiasaan baruku. Aku ingin menjadi aku yang dulu, sebelum kau ubrak-abrik prinsipku. Tenang, Sayang. Kalau kau tak suka dengan ini, sedang kuusahakan untuk tak lagi ingin tahu semuamu. Kucoba berhenti mengeja semua huruf di jejaring sosialmu. Beri ruang untuk waktu, barangkali ia sendiri yang akan menghapusku.
120714~Tapi kuberi standing applause buatmu, Sayang. Membuatku akhirnya merasakan betapa resahnya menjadi wanita. Membuka kedok keangkuhan yang kubungkus dengan apa yang kusebut prinsip. Nyatanya, aku masih juga bisa merasa lemah atas kepayahanku menjaga yang kukira kehebatanku selama ini.