Yogyakarta Tak Lagi Istimewa

Ramai para penulis mengatakan, “Pergilah merantau, agar tahu untuk apa pulang.”

Bising aku kala itu, ketika Jogja mengkhianati, untuk bersegera pergi jauh darinya. Sesak aku tak mampu menyesap udaranya dalam-dalam. Lalu kutanam dengan cepat, Jogja bukan lagi tempat yang hening tuk ditinggali. Terlampau silau lampu mobil merengek di tengah jalan-jalan kecil. Terlalu rimbun kafe-kafe bertumbuh menghilangkan kesederhanaan warung lesehan-nya. Ah, Jogja yang kuhirup puluhan tahun bau humus selesai hujan deras menyapa tanah. Mengapa kini aku yang kau khianati, justru ingin berbalik badan, memelukmu?

Aku terbiasa sendiri, namun tidak selain di rumahmu: Jogja.

Ingatkah, telapak kakiku sering menjamah rumput di semak belukarmu? Dan kau yang mengotori sela jemari dibasuh nostalgia. Sempat rasanya aku muak padamu, yang tak mampu kueja keistimewaannya sebab mempersilakan ribuan kepala asing masuk tanpa permisi. Mengubrak-abrik keluguanmu.

Siapa sebenarnya, dirimu yang menolak ditinggalkan? Atau menghasut hati dibalut kalut saat pergi darimu.

Pernah aku melangkah mundur, membiarkan mereka saja yang berbahagia merasakanmu untuk tersenyum tanpa menghitung waktu. Dan aku yang merasa memilikimu, menggunting memoar di tepi sungai. Biar mengalir dibawa arus.

Ternyata para pujangga itu benar adanya, kekhusukan cinta dirasa ketika kepergian adalah jarak di antaranya. Merenggangkan tubuh, merapatkan doa. Meluaskan tatap, menyempitkan harap.

Lalu benar mengapa kau disebut-sebut sebagai bumi yang istimewa di negeri ini. Sebab sesakmu tetap dirindukan, yang kecewanya selalu mengikhlaskan. Jogja, kudengar kabar, kau pula merindukan aku?

Kapan kita bisa saling memecah rindu? Merengkuh bait puisi yang gelisahnya didekap doa, yang air matanya justru menjadi cinta bagi bola mata di lain kota.

Kapan kita kembali menghitung bintang dini hari? Mengucap tasbih pada “Tuan” yang sama. Menderet mimpi dari lirihnya sunyi.

Kutunggu, dengan tabah.

Kau yang tak hanya membuka bingkis memoar lalu membungkusnya kembali.

Kunanti, dengan sabar.

Kau yang bukan hanya menawar angan lalu melipatnya lagi dengan rapi.

Sebab kini aku telah menunjukmu, menjadi satu nama yang kuulang-ulang dalam kayuh doa.

Pulang.

Bila Jodoh Berinisial Engkau

Lebur aku pada purnama di bulan ke sembilan, pada mata yang membulat di separuh petang lampu pijar. Petak yang tidak akan bisa dirujuk ulang. Angka demi angka dijejer beranak-pinak: merenggangkan ruang, mendekatkan bayang. Segala debur debar ubahnya jadi buih yang menjijikkan. Kita sama-sama tahu menyoal apa-apa yang tak kunjung selesai. Tapi tak lagi punya cara menghabiskanya. Sudah terlalu kenyang untuk melumat paksa, tapi sayang bila dimuntahkan begitu saja.
Jarak tak bisa menaksir rindu yang luber menjadi deras hujan di sepanjang jalan. Yang bermunculan justru kenangan berbau amis dan secarik memoar berlapis tangis. Cinta, mengapa berlarian seperti kerumunan semut yang diguncang jemari keriput? Tapi sesendok gula tak ikut di-lap basah, dibiarkannya berserak seolah memang sengaja disiapkan untuk selalu dirubung lagi.
Waktu terlalu samar untuk bisa ditaksir kapan akan tiba semula, atau hilang tak berbekas. Aku selalu nihil dalam bermain dadu, kau pun tak punya daya mengocok kartu. Kita sama-sama dipaksa buta dalam satu waktu. Tapi cinta, apakah selalu harus terasa seperti kali pertama? Setelah seluruhku diisap harga dan kau tak pernah lunas membayarnya. Jika tak pernah ada jalan pintas menuju pulang, kita mesti patungan untuk sampai di pulau sebrang.
Semisal yang kusebut dengan “engkau” masih berinisial tanpa nama, apa mungkin aku kan lebur lagi pada purnama di bulan yang lain, di mata yang separuh menghilang pada pekat senja? Engkau, yang tak kutahu seberapa sering menyebut-nyebut namaku dalam doa. Aku, yang tak juga menemukan cinta menjadi seutuh purnama.

Yogyakarta, 24 Mei 2016
Fasih Radiana

Ketidaktahuanku adalah Engkau

Gampang bagimu, gamang untukku.
Kekanakan bagimu, kejam untukku.

Bahasaku tak cukup sederhana, tenang yang kau minta tak akan tiba. Barangkali pil paradoks memenuhi ambang batas puji dan caci, cinta dan benci, pulang dan pergi, kau dan aku. Seperti drama, katamu dahulu. Dan perangaiku perang dalam damaimu. Tapi keangkuhan mengetuk matamu, memeluk bisuku. Bukan aku yang tidak mengerti dampak dari ketidakpahamanmu atas hati. Hanya saja pantomimmu gagal kujabar. Hingga kini. 
Paksa adalah jalan pintas.
Bagimu, mudah untuk terbang dari satu tapak bekas musim dingin menuju daun gugur.
Mengiyakan adalah luruh; jadi aku di tepi udara sesakmu. Tapi tak cukup tegar dalam tegas, basah dalam kemarau.
Kau dan aku bukan lagi.

Sepanjang apa puisi yang mau kau baca. Selagi jemari masih bisa menulis engkau. Sekeras apa ingin kudengar, gigilmu dalam gemeretak gigi yang berjajar rapi. Meski tampaknya usai kini aku menatap. Diammu adalah tanda tanya. Tapi jawab bagimu. Selesaikan diriku dengan jamuan rupa baru yang terpotret di beda bilang.
Sebab apa yang kau tangkap, adalah apa yang tidak pernah aku lempar.
Siapa yang kudekap, adalah engkau yang menghilang.
Karena ketidaktahuanmu adalah aku.
Yogyakarta, 4 Mei 2016.

Pergilah dari Jogja(ku)

more quote www.fasihrdn.tumblr.com | @fasihrdn
Mbak, barangkali kaulah mata pertama yang dapat mengartikan sekumpulan tulisan-tulisanku ini. Sebab kaulah yang paling tahu secarik kertas yang tak lagi suci ini kupersembahkan tanpa perangko tepat teruntuk dirimu yang masih juga lalu-lalang dalam jemariku. Surat-surat ini boleh dibaca siapapun. Kau pernah bilang, tidak suka aku menuliskan dirimu. Ah, siapa pula yang tahu yang kupanggili dengan sebutan “Mbak” adalah dirimu. Kini kutemui jawabannya. Kau begitu takut kekasih barumu tak sengaja menemukan abjad-abjadku menggantung di gemeretak giginya.
Mbak, hari Selasa, lewat tengah malam, kau nekat menghubungi seseorang yang dulu begitu kau cintai. Mungkin hati kecilmu pun masih merasakannya. Tahunanmu dengannya. Hanya karena kamu menemui kekasih barumu—yang ternyata berprofesi sebagai Angkatan Darat—mengonfirmasi permintaan pertemananku di salah satu jejaring sosial.

Boleh kudeskripsikan bagaimana ekspresi wajahmu, gelagat lakumu, sehingga kamu begitu kelimpungan dan “wadul” pada mantan lelakimu bahwa aku berkawan dengan kekasih barumu. Agar apa kiranya, Mbak? Padahal ia sudah lebih dulu tahu. Sebab aku tak pernah menyembunyikan apapun seperti kamu yang piawai bermain petak-umpet. Tapi tahukah bahwa akan ada satu titik pertemuan. Entah di dinding yang mana kamu akan ketahuan?
Lalu paginya kamu bertanya padaku. Apa yang harus kau lakukan agar aku berhenti mengusik hidupmu. Salahkah aku berteman baik dengan kekasih barumu seperti aku membolehkan kamu diam-diam “bersahabat” dengan mantan lelakimu dulu? Tidak. Kecuali kamu takut seluruh rahasia akan terbongkar begitu saja. Kamu salah besar jika berpikir aku akan banyak bicara demi membalaskan kesakitanku. Sebab Tuhan tak pernah mengizinkan aku untuk mendobrak apa yang telah kaususun dengan begitu rapi. Tuhan hanya membiarkan aku tahu. Cukup dengan itu.
Kujawab baik-baik pertanyaanmu. Aku ingin kamu pergi meninggalkan kotaku. Pergilah dari Jogjaku dan jangan pernah kembali meski satu detik saja. Pergi dan bawa seluruhmu. Atau perlukah aku mengadu pada Jogja agar ia sendiri yang akan membuatmu angkat kaki.
Tapi apa jawabanmu? Kamu tidak mau. Kamu tidak mampu.
Kalau begitu, bair waktu yang menentukan kapan semestinya kakimu tak lagi mampu berpijak seenaknya di sini, berkeliaran seperti milik sendiri. Biar ia yang memberitahu padamu, ada adat sekental apa di Jogja yang membesarkan tenang di puncak gunung sampai tepi lautnya.
Kuberi sedikit bocoran. Tak pernah ada “khianat” dalam langgamnya. Berhati-hatilah, berkawan dengan Jogja. Tentramnya hanya berlaku pada yang menenangkan.
Salam,
Dariku dan Jogja
12-14 Mei 2015

Yogyakarta

Ah, Jogja. Hanya di kota ini aku bisa menuang rindu lewat sederet kata. Meski bukan kau yang jadi bahan bicaraku, tapi kau adalah tempatku pulang. Meski aku sangsi apa yang harus kuketikkan seluruhnya di sini agar bisa kaujamahi riwayatku. Atas apa yang belasan tahun suguhkan bersamaan dengan menuanya kotaku.

more quote www.fasihrdn.tumblr.com
Entah, Jogja yang mengenalkan aku padamu. Atau kau yang memperkenalkan padaku, siapa Jogja. Kota yang sudah berusia 258 tahun, tetapi selalu menyuguhkan cerita baru dalam memoar lawasku. Ah, seberapa dalam sebenarnya aku memahamimu? Adalah aku yang terlalu miskin bahasa. Tak punya banyak perbendaharaan kata. Bukankah kita lahir di bulan serupa? Oktober. Bukankah semestinya aku begitu dekat di seluruhmu, Jogja? Lalu ke mana sajakah aku selama ini? Aku yang terlalu angkuh, rapuh, atau tak acuh atas keberadaanku menapakimu belasan tahun….


Sayang, berapa lama kiranya kau menggandeng wanitamu untuk sampai ke kotaku? Lalu, boleh kutebak seberapa sering kamu mengucap puitis teruntuk dirinya (dulu) di sepanjang jalan Jogjaku? Sebaik apa kamu menghapal jalan-jalan tikus untuk sampai tujuanmu jika kotaku sedang dilanda macet, atau sebanyak apa tempat yang kausinggahi bersamanya hanya dalam kurun waktu beberapa tahun saja. Lalu aku masih diam di tempat. Aku masih mengurung diri di dalam jendela yang kubiarkan tirainya setengah terbuka. Sampai usang di makan rayap. Aku masih terus gagap.

Pernah kau mendengar dari bibirku, “Aku ingin pindah.” Lalu kau selalu mengulang tanya selagu “mengapa?”. Apa yang membuatku ingin pergi dari kota yang semua orang ingin singgah dan menetap berlama-lama menikmati keindahannya? Kau. Ya, kau membuat aku cemburu buta. Tanpa permisi membawa diri mengelilingi sudut kotaku. Bersamanya. Masih perlu kuulang kembali landasan apa kiranya yang paling sering membuat kakiku ingin segera lari dari kotaku sendiri? Sebab aku tak sudi menjejak di bekas tapak jemari lain.
tweet me @fasihrdn
Jogja, kau jadi saksi selain purnama. Tengadahku dalam doa dijemput seorang pria tanpa nama. Membawaku mencari satu rahasia yang tak juga terungkap keberadaannya. Benarkah ia yang sering kulupa seraut wajahnya menjadi penghubung antara aku dengannya? Pria tanpa rupa.
Jogja, beritahu aku isyarat Tuhan. Agar aku tak salah jalan menuju gang pemberhentian. Dan kau, beri aku pemahaman dari separuh kepercayaan yang belum jadi sebuah perjanjian. Untuk apa aku bertahan dan tetap menjadikan Jogja tempatku berpulang.
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgia
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu….

Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati

Kau bilang, aku gagal menjadi pemilik Jogja. Tentu saja, sebab kau jauh lebih dulu lancar menghapal ejaan hurufnya. Meski aku yang nyata-nyata lebih dini menjabat tangannya. Kau bilang, aku tidak berhasil menjadi bagian dari Jogja. Tentu saja, sebab kau lebih dulu mengelilinginya saat aku masih berusaha memutari diriku. Kini, ajak aku mengelilingi Jogja. Kubawa kau memasuki dirimu.

180814~Bila aku seistimewa Jogja, pelukanmu tentu senyaman ia: Yogyakarta.

Izinkan Aku Bercerita, Jogja

www.fasihrr.tumblr.com

Sebab itu aku memilih untuk merunduk di balik sujud dengan tangis meluruh tumpah ruah, kubiarkan menetes di atas sajadah(mu). Biar malaikat menghapus bulirannya agar tak tampak oleh mata hujan yang meruncing dengan bising, biar malaikat meredam gemetar di dadaku; geram yang dibahasakan dengan begitu sempurna. Lalu “Baik-baik saja” memang selalu jadi tonggak paling pas untuk kekuatan yang nyaris tumbang. Aku tak punya cara lain, kecuali dengan mendoa.
Izinkan aku menulis, aku mohon….

Sedari jauh kau bilang aku tak boleh lagi berucap lewat sastra yang sarat akan siratan surat. Katamu, jangan sampai ada luka lagi karena abjad-abjad yang kubiarkan menari dengan lenggoknya, sesuka hati kesana-kemari. Bukankah tak ada yang paham apa yang kuutarakan melalui satu-dua baid ini, Mas? Dan yang kupanggili dengan sebutan “Mas”, siapalah yang tahu itu adalah engkau, lelaki yang pandai kali mengajariku soal perasaan: hati yang menguat di setiap sepertiga malam. Kalau maksudmu adalah dia—wanitamu—untuk kaujaga hati dan perasaannya, sungguh, kalau kaubaca kalimatku ini, Mbak … izinkan aku menulis. Hanya sekadar tulisan, sepanjang lariknya hanyalah kata, apalah artinya bagimu? Maka tak perlulah kaubaca dengan saksama. Tak semestinya dihayati, kecuali menghasilkan pemikiran yang lebih bijaksana. Atau haruskah aku memohon padamu, mau dengan cara yang bagaimana lagi agar membuatmu percaya bahwa rima di dalam syairku bukanlah untuk kaumaknai setiap hurufnya. Cukup izinkan saja aku menulis setelah puas menangis. Boleh kan?

Kau bilang, aku boleh menulis asal bukan perkara yang berpaut denganmu, atau dia, atau kalian, atau kita. Ini soal aku, kau pikir ini soal apa? Ini soal hatiku yang sesak dan butuh ruang untuk melepaskan. Lalu dengan apa lagi aku mencurah kalau bukan lewat suara yang mengisyaratkan jiwa? Aku tak butuh perlakuan istimewa, sungguh, kau boleh percaya atau tidak, aku tak menginginkan kau pahami naluriku sebagai seorang wanita. Aku hanya mampu membasuh duka lewat bahasa, salahkan aku yang tak sanggup memenuhi permintaanmu untuk menghentikan jemari.
follow me @fasihrdn
Tanpa aku sadari, ternyata kalimatmu melesat begitu cepat dan mengendap di ujung kepala. Aku tak bermaksud jadi pembangkang, tak mengindahkan suaramu yang mengaung keras mengitari atma. Ketika bagimu ia pantas dijaga hatinya, sepersekian detik kemudian aku berusaha membantumu untuk menjaganya. Aku benar-benar sudah menahan dahaga untuk tak melentikkan sederet sajak-sajak berbicara. Sudah kujajal tak kujejal penatku dengan aksara, tapi aku tak bisa menahan apa yang sudah jadi kebutuhan. Sedang tangisku saja tak cukup ahli dalam mencipta ketenangan. Percayalah, tak ada yang tahu-menahu udang jenis apa di balik batu yang kuletakkan di atas pusara. 
Kamu—pembaca setia—tak mengerti apa yang sedari tadi kulibatkan sejak awal paragraf sampai titik-koma di akhir pemilihan kata. Begitu kan? 
Yogyakarta, titip memoar yang kobar di bawah purnama: Jaga ia dari atas sana.
Kota penenang jiwa yang menyisakan seabrek kenangan. Barangkali sudah penuh sesak dengan para pendatang. Biar aku yang pergi, biar aku yang tahu diri, biar aku yang menepi. Ah, Jogja. Ketika tetiba mulai merasa lelah seperti ini, ingatkan aku bahwa butuh kesabaran yang lebih kuat untuk kebahagiaan yang lebih hebat….
Jangan biarkan aku bermanja pada siksa. Jangan pernah biarkan aku lena bersama getir nestapa. Tolong, jangan biarkan prasangka menguasai seisi rangka dalam raga. Aku tak ingin kecewa jadi alasan untuk sebuah kepergian dan berhentinya kepedulian. Bahwa semestinya ketika aku memutuskan untuk berani mencintai dan menyayangi seseorang, yang pertama harus kupersiapkan adalah kekuatan hati untuk memaafkan. Sebab ia selalu butuh pertahanan melalui maaf yang dilakukan berulang-ulang.
240414~Maafkan aku menulis lagi….

Hari Ke-18 dan 19: Kalau Rindu Masih Kerap Menyita Hati

Aku hanya bisa meminta ampun pada Tuhan, sebab rindu masih juga berbisik mengganggu. Aku hanya sanggup menjaganya dengan doa. 
Andai bisa, surat ini kulipat dan kujadikan pesawat-pesawatan lalu kuterbangkan bersama hembus angin yang entah bermuara ke mana. Biar tak lagi mengendap di dadaku. Atau kubungkus dengan koran, biar jadi bacaan setiap mata. Boleh juga, kumasukkan dalam karung, biar hancur tertusuk-tusuk tajamnya abu gunung kelud yang menghujani Yogyakarta beberapa waktu lalu.
Apa lagi kiranya yang bisa kuperbuat kalau rindu masih juga kerap datang menyita hati….
Kau pun tahu, diam-diam doaku menjalar tak henti, terus jadi nyanyian sampai kutahu ada yang doanya lebih merdu dariku.



Dua surat dalam dua rindu yang menjadi satu,
Fasih Radiana

Aku Baik-Baik Saja #Akurapopo Part 1


Ada yang hilang dari hidupku. Kamu … bersama hati yang sudah kuserahkan di genggammu.

Ada yang pergi dari hatiku. Kamu … bersama cinta yang sudah kupercayakan di jarimu.

Ada yang terbang dari semuaku. Kamu … bersama segala yang sudah kuakhiri di janjimu.

Aku tidak ingin menghilang.

Aku tidak ingin pergi.

Aku tidak ingin terbang.


Sebab aku sudah hancur.

Sebab aku sudah hancur.

Sebab aku … sudah …

Aku takut berjalan diikuti bayang-bayang. Aku takut tersenyum dengan air mata yang bergelantungan. Aku takut tak bisa lagi merasakan cinta, sebab aku begitu takut semua terulang. Aku takut tak bisa hidup tenang. Aku tak punya cara untuk mengembalikan diriku, sebab kamu sudah terlalu jauh membawaku masuk mengikuti jejakmu. Dan kauhapus jejak itu begitu saja. Begitu saja….



Kau kirim sendiri untukku, lalu kau jadikan sebuah lagu. Palsu?


Aku ingin marah.
Aku ingin marah.
Aku harus marah biar benci mengantarkan aku pada lupa, bukan lagi luka.


Dan dengan apa aku harus merobek-robek semua kata dari ucapmu. Dengan cara seperti apa aku bisa bertahan seolah segalanya masih begitu sempurna.

Aku baik-baik saja. Aku (pasti) baik-baik saja. Dan aku (memang) baik-baik saja.


Kupikir omong kosong, ketika ada yang bilang bahagiamu adalah bahagiaku, meski tak bersamaku.

Kupikir omong kosong, ketika ada yang bilang senyummu adalah senyumku, meski nyatanya pilu.

Kupikir omong kosong, ketika ada yang bilang tawamu adalah tawaku, meski tangis menggebu-gebu.


Tapi ternyata….


Kurasa benar, kupastikan kamu baik-baik saja maka dengan itu aku membaik.

Kurasa benar, kupastikan kamu kuat maka dengan itu aku merasa tenang.

Kurasa benar, kupastikan kamu bisa berdiri tegak maka dengan itu aku bisa berjalan tenang. 
Kurasa benar, kupastikan kamu sedang bahagiameski bersamanyamaka dengan itu aku ikut tersenyum.


Sebab segala yang sudah melekat dan ikut kaubawa pergi itu, akan terus di sana. Iayang sudah kuberi padamu waktu itumungkin tak mau lagi kembali padaku.

Aku masih begitu percaya cinta yang Tuhan beri tak akan pernah menyakiti. Aku masih begitu percayameski tak bisa kurasakan lagicinta tak akan kemana-mana. Ia hanya seperti bermain petak-umpet, bersembunyi untuk ditemukan kembali. Nanti, di waktu yang pas, di tempat yang benar dan dengan cara yang tepat.


Aku baik-baik saja. Aku (pasti) baik-baik saja. Dan aku (memang) baik-baik saja.





250114~Sesuatu yang mesti kauuji adalah keikhlasan melepaskan. Dan yang perlu kauuji lebih baik lagi adalah kebesaran hati meski hidup memberimu sakit yang terus saja terulang-ulang kembali.



Salam,
Fasih Radiana

DOWNLOAD PEMBACAAN PUISI AKU BAIK-BAIK SAJA DI SINI!

Oktober, Aku, dan Merbabu

Berbagi pengalaman mengesankan, menceritakan kisah singkat yang meninggalkan kenangan, jadi … kali ini hanya seperti sebongkah batu yang kugenggam lalu kulempar tepat di hadapanmu, biar tahu rasa sakitnya merajam sampai ke ubun-ubun. Serius, kali ini hanya ceritaku dengannya; Merbabu.
Sebelumnya….
05 Oktober 2013, 23.53
Ah, Bintang!
kau tahu anginmu lancang mencalang
ada getir di tiap jengkal kaki
beringsut lukaku meninggi
gemeretak gigiku lenyap bebarengan tulangku senyap
Padahal demi kau, Merbabu
tak acuh aku pada pilu
pada genggam yang belum satu
sudah lepas dalam sembilu
Ah, Bintang!
anginmu makin buas menerkam
membawa tanah kemarau di musim hujan
Padahal demi kau, Merbabu
aku menembus batas hembus yang kukecup
sebelum embun bergutasi
tapi malah kauhabisi napasku dengan keji

Padahal demi kau, Merbabu.
Demi kau, aku….

08 Oktober 2013; 20.24—Maaf, tertunda ya, ceritanya, saya kecelakaan dulu, tadi—dasar, langganan kecelakaan. Betapa Allah masih begitu mencintai saya, menyelamatkan saya dari kejadian yang biasanya tidak bisa terselamatkan. Sekujur tubuhku penuh luka, tak terkecuali di sini; sudut hati.

Beberapa tahun terakhir, saya ingin mendaki gunung. Sebab mendaki hatimu aku tak mampu, aku pilih mendaki merbabu. Ah, gombal. Abaikan celotehnya orang yang sedang mabuk darah dan memar meruam-ruam menjalar sampai ke hati. Stop, serius ya, beberapa kali diajak mendaki, tapi waktu belum mengizinkan. Sampai akhirnya saya lupa dengan keinginan saya untuk merayap di sela-sela semak sambil memandangi jurang ke arah bawah. Awal bulan Agustus, saya merapikan lagi mimpi-mimpi dan keinginan saya. Saya tulis di notepad, diurutan ke-52, ada tulisan “mendaki gunung”. Lalu sepertinya Allah membuka jalan untuk saya, 17 September 2013 ada yang menawari untuk naik gunung. Hmm, awalnya saya tidak yakin. Pertama, sejak resmi menjadi mahasiswi, saya tidak pernah lagi mencicipi hangatnya kolam renang (satu-satunya olahraga yang masih setia dengan saya). Kedua, saya nggak yakin sama yang ngajakin ndaki. Bukan, maksudnya saya belum mengenal medan, belum mengenal orang-orang di dalamnya. Kalau saya hilang di gunung kan repot, cari yang begini nggak ada lagi. Tapi sepertinya, lagi-lagi Allah membuat saya bergerak di luar kendali. Membuat saya berjalan menuju keinginan saya yang nyaris saja saya lupakan.
Singkat cerita, akhirnya saya berhasil meyakinkan orang tua saya bahwa jiwa dan raga saya mampu. Oktober yang saya cintai berhasil dengan sabar membawa saya sampai ke tanggal lima. Ternyata, dunia begitu sempit. Ada kakak sepupu saya (tetangga desa pula) yang juga ikut. Baguslah, batinku. Paling tidak, ada yang saya kenal dari ketujuhbelas orang yang terdiri dari berbagai jurusan dan angkatan dari Universitas Negeri Yogyakarta.
Dalam perjalanan Jogja – Magelang ada satu hal yang membuat saya dag-dig-dug. Saya ngantuk, lalu hampir saja nggeledak. Entah, apa bahasa Indonesianya, sebut saja hampir jatuh. Jalan menuju basecamp begitu berlikuseperti rasa yang berkelok-kelok mengaliri nadiku, merambat ke sumsumkubanyak kerikil dengan jalan menanjak. Motor saya nggak kuat! Mungkin masih lebih kokoh hati saya yang terguncang atas kehadiranmu, ya. Akhirnya, harus bolak-balik karena motor saya nggak bisa menanjak sampai area parkir. Senja mulai turun, saya dan rombongan sampai juga di basecamp (berasa cerita liburannya anak SD deh), pemandangan yang disuguhkan begitu menawansenja, jingga, langit, gunung, kabutdibarengi hela napas panjang yang mengepulkan kegelisahan. Kubuang jauh-jauh semua hal yang membawa hati pada keterpurukan, di sini, bukan waktunya untuk bergundah-gulana.

Berhubung pakai timer, jadi kurang pas, tapi kalau tersenyum bersama semua jadi tampak sempurna 🙂

Perjuangan di mulai!

Tapi berhubung saya kehabisan kosa-kata, bersambung dulu, ya … atau kau bisa melanjutkan ceritaku? Menggenapi keganjilan tulisanku? Atau mengisi kekosongan di hatiku.



Diketik, 08-09 Oktober 2013 dan masih berkelanjutan, entah, akan kuselesaikan kapan tulisan yang tak juga menemui akhirnya. Lalu, Fasih, kapan kau juga akan menyelesaikannya; perasaan yang kaugantung terkatung-katung di udara.






05-06 Oktober 2013; Edelweiss tak perlu diam-diam kaupetik untuk jadi lambang cinta abadi di antara kau dan aku. Sebab yang sejati letaknya di sini; hati.