Hari Ke-22: Celengan Rindu

3 views
Ada waktu untuk dipersiapkan merindukanmu. Lalu jatuh tempo pada saat yang tidak kuketahui. Biar selama ini kautabung amarah dan kekecewaan pada setiap yang tak pernah bisa diucapkan, lalu kembali datang sehabis tenang berhasil kautaklukan. Seolah-olah semua baik-baik saja, padahal kamu hanya menabungnya di suatu tempat yang bahkan kamu lupa jalan kembali ke sana. Dan perlahan kamu melupakannya begitu saja. Tapi tidak lagi bisa kali ini. Kamu sudah bersama dengan keterbukaan yang mesti dipeluk erat-erat. Bersamaku, tak ada lagi tabungan yang hilang lalu suatu saat dibuka untuk dihitung kembali. Tidak ada.
Biar tuntas saat ini juga. Biar lunas sekarang juga. Aku mau kita tak menyimpan celengan usang untuk suatu yang bisa dijelaskan secepatnya. Boleh saja kamu bilang, begitulah caramu merenungkan diri. Introvert atau apalah sebutan untuk orang-orang yang tertutup. Tapi tidak. Kamu bukan orang yang semacam itu. Kamu hanya lupa siapa dirimu, seperti apa wujud aslinya, sampai kamu benar-benar lupa bahwa kamu memang sedang melupakan dirimu. Kamu hanya tidak sadar telah dibiasakan diam. Iya, dibiasakan untuk memendam demi tidak terjadinya pertikaian.
Padahal kamu ingin bicara, padahal kamu doyan bercerita, padahal kamu suka sekali tertawa. Jadilah yang seperti itu. Ikuti kata hatimu. Benarkah seperti ini yang kamu inginkan? Benarkah seperti itulah cara yang membuatmu nyaman? Bukankah berkali-kali kujabar bahwa denganku kamu bebas menjadi apapun, menjadi siapapun yang kau mau? Tak perlu kauumbar seperti apa tangis kecilmu, atau lelehan air mata yang tiba-tiba berjatuhan. Tak perlu kaukatakan pada yang lain dengan apa kamu membahasakan kesedihan. Tak juga perlu kautunjukkan sederet tawa yang tak juga bisa berhenti hanya karena lelucon garing. Menabunglah, Sayang. Tapi untuk sesuatu yang bisa membuatmu merasa menjadi manusia yang dimanusiakan. Yang bisa saja salah jalan. Yang bisa juga buta arah. Yang terkadang cemburu berlebihan, yang sering kali ingin diperhatikan.

Tahukah bahwa semuamu terlalu gamblang di ujung mataku. Tanpa indra peraba, aku bisa melihatnya dengan begitu jelas. Aku bisa menghitung jumlah setiap dengusanmu per detik, atau berapa kali kamu mengedipkan mata, tersenyum lalu tiba-tiba garis-garis di wajahmu berubah pucat pasi. Bahkan terlalu detail untuk seorang pemula yang baru hitungan satu-dua tahun menjamahi napasmu. Berbahagiakah selama ini? Sudahkah puas berteriak? Sudah legakah menangis? Sudahkah? Atau memang belum pernah kau jajal satu per satu rasanya.
Biarlah sesiapa bicara menyoal kita yang lebih kerap beradu ketimbang merindu. Apalah artinya bila kamu bahkan tak bisa tahu yang mana yang benar-benar dari hatimu, atau hanya bisik-bisik kecil logikamu. Aku rela mendengar amarahmu setiap hari hanya demi membentuk celengan yang baru. Mengeluarkan kita dari bayang-bayang perpisahan yang tertunda karena rajinnya setiap orang menabung rasa sakit. Yang sewaktu-waktu bisa pecah di satu titik temu yang melelahkan.
Sudah mengertikah mengapa aku masih juga giat memaksamu tergopoh menaiki posisi tertinggi? Sudah pahamkah mengapa aku tak juga berhenti membuatmu mencapai klimaks? Aku hanya ingin kamu marah. Aku hanya ingin kamu bicara. Aku hanya perlu kamu jujur bahwa beginilah adanya. Bahwa mungkin setelah Ibumu, akulah yang tidak akan pernah bisa kau bohongi begitu saja.
Bagaimana bisa kamu membahagiakan aku, sedang kamu saja bukan orang yang mudah memilih untuk berbahagia? Apa sebenarnya yang kamu tahu tentang kebahagiaan? Apa itu definisi bahagia bagimu? Jangan membual, aku tahu bahkan kamu bingung menjawab bahagia seperti apa yang kamu mau. Atau jangan-jangan, bahagia yang kamu tahu artinya itu hanyalah kebahagiaan bagi orang lain. Bukan kebahagiaan versi kalimatmu? Rasakan, Sayang. Barangkali, ada yang hilang bertahun-tahun ini....
www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn
Kini akan ada jarak yang begitu panjang memisahkan bola mata. Aku tak lagi bisa menjaga, seperti kamu yang tak lagi dapati aku mengetuk pintu. Tapi masih ada doa di setiap jengkal kepala yang merunduk pada tanah. Maka jarak yang tersisa di antara kita hanyalah Tuhan. Bukankah begitu dekat?
Seperti doa yang sampai pada langit lalu Tuhan menyampaikan kabar lewat udara. Kamu pasti tahu betul bisikku lebih merdu ketika Tuhan menggenapkan parau pita suara. Yang tak akan bisa disentuh angin sekalipun kuikuti arah lajunya. Maka bukankah satu-satunya cara menabung rindu setelah ini adalah dengan menyelaraskan frekuensi di antara kita? Peringatkan aku menyoal cinta yang setia, maka kutunjukkan padamu seperti apa kekuatan doa.
220215~ Coba pejamkan kelopak mata, biar giliran mata lain yang membuka dirinya: mata batin. Rasakan aku di sana sedalam udara yang tersesap, sepanjang embus yang terlepas.