Ini Aku, Tanpa Kepura-puraan

76 views

Mari, sekarang waktunya mengenal siapa penulis celotehan bertempo galau meninggi. Perkenalkan, Ini Aku yang tanpa kepura-puraan, Radiana, Fasih.
Part I
www.fasihrdn.tumblr.com | IG: @fasihrdn

Untuk kamu yang awal mengenalku lewat dunia maya, kamu pasti menilai Fasih adalah perempuan romantis, perhatian, lemah lembut. Ya, dilihat dari karya dan semua tulisanku yang pandai bersilat kata. Merantai kalimat itu bagian dari hela napasku. Mewakili senyum dan sedihku. Semuanya kutumpahkan di sana dengan kuas kesedihan atau tinta kebahagiaan. Berbaur jadi satu. Beradu padu dengan goresan yang tersemat karena luka, atau bisa jadi sebab cinta.  

Sebaliknya, yang mengerti aku secara langsung terlebih dulu akan bilang, Fasih adalah perempuan yang suka membelokkan aturan, nekat, banyak tingkah, bahkan tak jarang bertindak tolol menjatuhkan lelucon seadanya. Aku juga yang biasa melemparkan kalimat ambigu penuh kritikan, benar-benar tak tahu adat. Tak akan ada yang menyangka, aku telah menciptakan lebih dari 300 puisi. Aku tahu, bagi mereka yang mengenalku bukan dari dunia maya, akan susah percaya tangan kiriku ini memproduksi ratusan lembar bait-bait memilukan.

Itu sebab kamu akan menemui kejadian janggal, ketika malam tiba aku diserbu abjad galau, memenuhi dinding-dinding dunia maya dengan suara pilu. Tapi paginya, kautemui aku dengan air muka bahagia. Tapi untukmu—entah, belum kutemui sampai saat ini—yang bisa meraba seluruhku, kan kautemui diriku yang begitu rapuh tapi tangguh. Ah, kamu boleh percaya atau tidak. Kan kaudapati betapa sulitnya memahami—yang mana—aku sebenarnya.

Part II

Mahir berdansa dengan kata. Atau mengurai hati lewat karya sederhana. Itu aku dari dua perbedaan sudut pandang. Dan yang mengenalku dari sekian banyak pose (banyak yang sudah dihilangkan dari media sosial, follow instagram: @fasihrdn) di hadapan lensa kamera. Mereka bilang, Fasih adalah perempuan gila. Ekstrem, mungkin tomboy tapi sering bisa berubah menjadi yang sangat gemar merias diri dengan berbagai raut rupa yang berubah-ubah karena goresan make up (yang asal-asalan), yang aneh, yang kalem, atau yang menjijikkan sekalipun. Ya, lagi-lagi tangan kiriku bekerja mengabdi pada seni. Entah, yang seperti itu bisa disebut dengan seni atau tidak. Yang jelas, kulakukan karena atensiku merias diri sangat tinggi melambung, yang mungkin lebih terfokus di lingkar mata. Karena mata yang paling jujur mengucap nada, tak mungkin mendustai keadaan segenting apapun. Mata juga sarang air suci yang kerap meluncur saat lara jiwaku kambuh, atau nyeri di jantungku kumat. Karena mata menbuatku buta. Dan karena mata, aku menemukan banyak cinta dari berbagai luka. 
Part III

Pembacaan Puisi: @Fasihrdn

Dan terakhir, yang mengenalku (lebih dulu) sebagai pendengar keluh kesah. Mereka bilang, Fasih adalah perempuan dengan kedua telinga yang tak terlalu berfungsi normal. Karena selalu saja angkat bicara saat ada yang terluka. Suka sekali ikut campur urusan manusia, bahkan tidak peduli kenal atau tidak. Katanya, aku ini mudah sekali berbaur pada masalah. Tentu saja begitu, sebab percaya atau tidak, "masalahmu" termasuk bagian dari langkahku.

Fasih adalah perempuan paling keras kepala yang sok kenal, terbuka, dan suka sekali masuk ke dalam hidup seseorang untuk ikut ambil peran dalam masalah mereka. Ya, kali ini bibirku yang main kata, menjelaskan makna. Dan anehnya, selalu tepat sasaran. Entah, seperti selalu mujur. Tapi tak jarang justru ikut terkena masalah juga karena ikut campur urusan orang. Aku (memang) suka masalah karena ia mengikat hati dan pikiran untuk bekerja dua kali lebih pandai. Harus cepat bertindak atau kalah telak. Sering juga, aku gregetan sendiri melihat mereka yang malu-malu mengungkap perasaan, di pendam mau sampai kapan? tak akan menyatu kurasa, kecuali disatukan. Dan aku kerap bersanding dengan cinta dua hati. Bukan, bukan aku yang bercinta. Tapi mereka yang—entah—pemalu atau bodoh. Yang gengsi bilang cinta. Dan lagi-lagi aku merasa harus ikut ambil peran. Yaps, pernah gagal tapi lebih sering berhasil. Itu aku dari sudut pandang yang lain lagi.

Part IV

Halo, Merbabu!
Let's go, mobil listrik! 
Just relax and enjoy your life.

Dan saat sudut-sudut pandang itu menyatu pada titik tengah, semua jadi rancu. Bingung mau mendeskripsikan Fasih Radiana itu seperti apa. Dan dari aku, kubilang, aku ini hanya perempuan tengil serupa bunglon. Aku bukan seperti layaknya kalian yang punya ciri khas, sedih memang. Tapi aku tak perlu merasa minder kan? Karena aku memang mudah menyesuaikan diri dalam tingkatan apapun, keadaan bagaimana pun, dengan siapapun. Aku mampu menjadi apa yang aku mau, sesuka hatiku, semauku, terserah aku. Tanpa menghilangkan unsur "Fasih" di dalamnya. 

Ini aku, suka atau tidak beginilah aku dan akan terus seperti ini sampai habis hela napasku nanti 🙂