Melepas Doa

Siapa sebenarnya ia? Yang Kau pilih sebagai pembentuk rasa kangen tanpa perlu risaukan hujan dalam kemarau, penghasil kilat pembelah langit dan gemuruh petir menggaungi kuping. Mengajariku untuk terus menerus berbuah sujud dalam tengadah yang ia barengi dengan peluk pertanda dengannya, hidup memang untuk selalu menemui takdir demi takdir-Mu. Siapa kiranya yang sebetulnya Kau relakan melucuti pikiranku, mengalahkan semua rasa, menjadikan tubuh sebagai pengobat ngilunya masa yang sudah punah.

Membentuk nasibnya sendiri serupa dalam firman-Mu bahwa tiada perubahan tanpa diri yang berevolusi. Tapi luput menilik perkataan-Mu yang lain. Tapi lupa banyaknya ceceran khianat dan dosa berserak tak acuh pada kematian yang bisa saja datang lebih dulu. Tahunan kucari dinding pembatas antara sadar dan harapan yang besar. Berkali-kali mencoba memendekkan lagi jarak sujud dengan doa. Tapi ternyata, tanpa rela membuka genggam, seseorang tak akan pernah bisa menerima bingkisan rahasia selanjutnya.

Tadinya kukira, jalan liku penuh tanjakan sudah benar diupayakan. Kemarin kupikir, langkah kaki yang derapnya makin bising sudah sampai di depan pintu kaca, sudah kupegang gagangnya, tinggal kugeser saja engselnya. Tiba-tiba kurasa, Tuhan datang menghadiahkan kemampuan meluruhkan diri; mengasingkan hati dengan luka-luka yang mesti diselesaikan tanpa melipat apa yang ada di hadapan.
Sebuah tanda tanya besar tergantung pada celah jendela besi. Dalam ruang yang minim sinar matahari. Tirai yang tak pernah diganti, dan nyaringnya udara dari kipas di atas meja usang penuh debu. Sebuah pernyataan melibatkan kekhusukan pengakuan dalam rembesan air mata yang membisukan puluhan tahun sebelumnya. Yang sabarnya kian gusar, yang nalarnya sudah nanar.
Darimana kau tahu ini hanyalah drama di musim semi? Padahal nyata-nyata panasnya menyayat-nyayat ingatan. Lalu gemingnya malah hasilkan hujan di awal bulan. Siapa yang memberitahu ada serentetan apa di antara kau dan aku. Di antara diam dengan diam; tawa berlanjut tawa; waktu demi waktu.
Bila mimpi menyimpan pertanda, biar Ia yang sibak untuk apa segala. Empat musim tumpah di kota penuh tanya. Melemahkan tempurung kaki yang terlampau jauh diajak pergi. Menguliti kelopak mata yang terlalu sedikit dalam pejam. Melumpuhkan jemari yang terlalu banyak menyusun abjad.
Aku dipaksa menempuh gurun salju di tanah gersang, tanpa boots, tanpa jaket kulit setebal bed cover, tidak juga dengan sarung tangan bludru motif macan tutul. Melewati sisa daun gugur yang mulai hijau kembali, tapi patah uratnya diinjak kaki. Sampai tak dapat dibedakan lagi, menuju atau melarikan diri.
Kata ilmuwan agama, jika ada bimbang menelisip di lipatan kulit, jangan semakin dijepit. Lepaskan. Bukan mengablur nama, bukan juga meretas rasa. Tapi pergilah, jauh, sendiri. Bila jauh berarti jarak tempuh, kita pasti tak satu alur pikir. Jauh tak mesti menyoal kilometer. Jauh itu sebuah kedalaman, hati dan jiwa saja yang paham lewat manakah akal membuka pikirannya, memasuki alam bawah sadarnya. Lalu ikhlas menjatuhkan diri.
Pertanyaan semudah, “siapa sebenarnya ia? Yang Kau pilih sebagai pembentuk rasa kangen tanpa perlu risaukan hujan dalam kemarau, penghasil kilat pembelah langit dan gemuruh petir menggaungi kuping. Mengajariku untuk terus menerus berbuah sujud dalam tengadah…” dijawab gugusannya sendiri.
Kau tahu?
Apa yang jauh dari kata adalah rindu yang membumbung sampai ke langit ke tujuh. Menubuh dalam doa yang utuh.

Kau mau tahu?
Diamlah di sana sampai Allah menghampirimu. Dalam sabar,
pada doa.

©Fasih Radiana, self reminder di atas tanah Jawa berinisial Yogyakarta, 06 Oktober 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*