Menggenggam untuk Melepaskan

3 views
Sedari tadi aku hanya bisa memandangi layar dengan mata berkunang. Sama seperti aku yang baru saja menatap matamu lekat-lekat malam ini. Sakitnya terlalu tenang untuk meluncurkan air mata. Kamu terlalu hebat menyakitku, sebab aku masih bisa tersenyum tenang dengan kesakitan itu. Kamu terlalu kuat untuk membuatku melupa. Saat ini aku menulis sambil memejamkan mata, aku seperti kehilangan kata. 
Padahal air mata sudah menggantung, tapi Tuhan seperti menahannya. Mungkin tak mengizinkan kamu melihat kesedihan di balik diamku yang membisu.
Kamu datang untuk mengantar kepergian. Padahal aku ingin menangis di pelukmu, mungkin saja air mata bisa menahanmu lebih lama. Tapi kalimat beraroma luka itu terlalu hening untuk menjadikannya air mata. Baru kali ini kesakitanku tak menghasilkan tetesan yang meruncing. Apa karena sudah kadung habis tempo hari?
Kamu pasti ingin segera membacanya, apa yang menjadikanku diam meredam semua kata. Sebenarnya aku ingin bersuara, tapi bahasa seperti sudah lelah menguraikannya. Semalam ini aku hanya ingin merasakan tenang yang kau hadirkan lewat sebuah tatapan. Padahal matamu terlalu sayu untuk menatapku tajam. Tapi aku masih tidak sanggup membalasnya, lebih baik melihat bintang yang bertebaran. Tak 'kan ada jawaban dari sebuah pertanyaan, aku hanya ingin Tuhan saja yang mengatakan. Entah, kapan....
Kamu mencipta kenangan untuk suatu perpisahan. Seharusnya aku menangis kan? Lelaki mana yang bisa melihat wanita menangis apalagi karena dirinya? Seharusnya aku menagis di depanmu! Tapi aku sudah berjanji, Mas. Tak akan menangis di hadapanmu. Seperti yang kau mau, hanya akan ada senyuman yang tanpa tepian. Tentu saja dari ketulusan, itu senyuman paling dalam, teramat dalam. Sebab sebenarnya di sela-selanya ada yang terluka. Tapi suaramu membenamkannya menjadi senyum yang tak 'kan ada tepiannya.

follow me @fasihrdn

Aku menunggu-nunggu kalimat terakhirmu. Tapi ternyata kamu tak juga mengatakannya, pertalian itu, sebut saja dengan rencana pernikahan yang kamu sembunyikan itu. Padahal aku ingin mendengarnya sendiri dari mulutmu....

Entah,  padahal malam ini seharusnya jadi yang paling menyakitkan. Ditinggal orang tuaku, berurut lalu kamu. Tapi mengapa lukanya seperti samar-samar menghilang saat kamu yang melakukannya? Saat kamu berada di dekatku, meski bukan untuk mendekapku. Aku hanya ingin mendegarmu, bukan lagi dengan kedua telingaku. Tapi dengan satu hatiku. Kamu melukaiku dengan cinta yang tak 'kan bisa menjadi bahagia. Tapi mengapa aku seperti mendengar bisikan Tuhan, yang bilang bahwa nanti ada waktunya untuk berbahagia. Ada yang menari-nari dalam pikiranku. 
Sepanjang jalan aku merapal baid-baid doa. Dua kali aku melihat bintang jatuh. Apa betul seperti itu yang namanya bintang jatuh? Membuat hatiku gaduh mengadu. Tapi bukan untuk mengeluh, hanya ingin merasakan kebahagiaanmu. Meski bukan denganku.
Padahal kamu bermaksud mengakhiri apa yang tak sengaja bermula. Tapi aku seperti baru saja memulainya. Seharusnya aku membencimu, ternyata aku memang bukan pembenci yang sempurna. Cukup membencimu dengan cinta saja ... cinta yang tak sempurna, tak akan pernah jadi sempurna.
Aku paham, Mas. Tahu betul arti kalimat-kalimatmu yang seperti susah payah diuraikan. Tapi aku tetap akan melanjutkannya meski sendirian. Sebab berkali-kali aku mencoba menghentikannya, justru membuatku makin lebar membuka hatiku. Tersenyumlah, seperti aku yang sudah baik-baik saja di genggamanmu yang sementara. Aku tak akan mengharapkan apapun, hanya tak bisa menghilangkan satuan-satuannya. Entah sampai kapan, aku tetap mencintaimu sendirian. 
Sampai Tuhan mengabarkan kepastian.

160912~Bukit Bintang terlalu indah untuk suatu perpisahan yang begitu menyakitkan.