Mengkhianati Jogja

Kini usang aku dibuat asing, kala udara tak lagi berembus semesra dahulu. Bukan lagi Engkau yang menyapa segaris senyum selepas duka. Namun bayang, berbekal isak dari tawa. Lama aku tak menuliskan keping wajahmu. Menyusun lipatan bersimbol masa depan. Digandeng langit seusai sabit memecah merah. Pula sumbang suara-suara masa silam nyaring tertangkap netra. Karenanya, silau siluet senja tak lagi bergaris nila. Hanya angin dibalut ringkuk punggung bertulang tajam, melepas petang ke tepian.

 

Apa kabar?

 

Hening yang dirindukan cahaya, sepanjang bumantara melesapkan angan-angan. Aku kah ia, gadis kecil yang menuliskan jingga? Anak perempuan yang sudah beranjak dewasa mencoba menghirup harap di sela jari manisnya. Masihkah dinding pembatas ruang mendengar desah air mata? Takdir mana yang dipetik ranting basah sisa hujan semalam?

Apakah Kau masih bisa menjawabnya, Jogja? Pertanyaan demi pertanyaan yang kian membingungkan. Setelah usai jabat jemari melunturkan tinta hitam pada daun gugur yang kucuri dari kampung sebelah. Kau yang menghilang bukan? Memilih untuk tak lagi sederhana. Bukan aku yang berkhianat. Menanggalkan kenangan yang tinggal sepah diisap kuning kunang-kunang.

 

Siapa sebenarnya, yang lebih luka. Ia yang meninggalkan atau ia yang ditinggalkan?

 

…meninggalkan sebab tak lagi mampu menggurat pertanyaan.

…ditinggalkan karena diamnya tak pernah menghadirkan jawaban.

 

Jadi, kau tahu siapa sebenarnya, yang lebih luka. Ia yang meninggalkan atau ia yang ditinggalkan?

 

Batam,

Fasih Radiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*