Epilog

Izinkan aku menulis tanpa engkau ketahui bahwa setiap rimanya tak sedangkal huruf-huruf yang tersusun secara acak. Tak hanya engkau, tiap-tiap mata tak kuberikan kesempatan menguliti setiap abjadnya. Izinkan aku menyampaikan perasaan terima kasih ini melalui pesan yang tak akan bisa kuselesaikan kalimatnya dengan bicara. Aku tak ingat seperti apa bola mata itu bergerak dalam pertemuan pertama dulu, tapi aku mengingati ...

Read More »

Surat Cinta Bulan Oktober: Jogja Tertinggal di Matamu

Jogja. Aku masih punya sekepal dendam yang ingin kubenturkan pada waktu lalu. Biar pecah menyerak. Lalu dirubung rayap. Habis tak berjejak pada bekas tapak di tanah becek berbau humus sisa hujan tiap malam. Siapa pula yang suka di-ganduli kegelisahan penghasil obrolan bergolak uring-uringan. Memoar yang selalu menjadi Ifrit, berbisik nyaring di telinga mengajakku untuk selalu kembali pada kesalahan yang sudah aus tahunan lalu. ...

Read More »

Sebuah Perjalanan Rahasia: Saya Membaca Karena Menulis (Bagian 1)

Tulisan kali ini saya persembahkan khusus untuk para pembaca. Sekaligus ucapan terima kasih. Dari kornea itu, sepanjang larik sederhana saya jadi manfaat. Lalu membuat saya haru—lebih tepat disebut cengeng—hanya karena sebuah tulisan yang kecil, begitu besar kegunaannya. Meski dengan mencuri-curi waktu, meski dengan tidur lebih malam, saya akan teruskan entah sampai kapan. Agar tak henti jadi kudapan bagi yang membutuhkan ...

Read More »

Menjinjing Takdir

Harusnya kuyakinkan diri seribu kali lebih aktif bahwa Kau telah mengemas takdir dalam lauh mahfuzh. Sempurna. Tak punya cacat di satu tanda baca pun. Aku saja yang mengabai. Aku saja yang tak pandai meneliti ada abjad apa yang kurang titik dan koma. Malah mengurusi hal-hal yang tidak patut dikunjungi berkali-kali. Harusnya aku jauh lebih paham, sebab dua puluh tahunku tak ...

Read More »

Cinta, Apakah Jodoh?

Aku berebut udara dengan malam. Semakin tinggi bulan merambat, makin tebuka lebar bola mataku yang hitam pekat. Napasku hidup dalam hening. Ia tidak, sama sekali tidak suka bising. Lalu menularkannya dalam bentuk kecintaanku pada hampa. Keramaian yang paling pas untuk kusapa hanyalah seraut wajah angin kosong dalam senja. Tak ada yang lain. Aku hanya suka yang itu. Tidak dengan lampu ...

Read More »

Perlukah Belajar Menjadi Orang Tua atau Sudah Alamiah Pasti Bisa?

Kali ini izinkan saya berbagi sedikit cerita. Tulisan yang sebenarnya amat kompleks, tetapi saya sederhanakan. Ya … sederhana saja sudah begitu panjang. Tulisan ini alarm bagi saya sendiri. Yang begitu berambisi menjadi orang tua teladan. Bisakah? Entahlah, saya pun masih dalam proses belajar. Mengajari diri saya sendiri untuk disiapkan menjadi pendidik anak-anak titipan Tuhan. Saya anak tunggal, tidak pernah mengenal ...

Read More »

Bila Cinta adalah Kata Hati, Biar Tuhan jadi Tuannya

Februari … Maret … April … Mei … Juni. Bukankah waktu tak mengenal ampun? Ia bergerak tak peduli kau memintanya untuk tetap tinggal. Kalau kuhitung dengan jari telunjuk, ini adalah bulan ke lima kau dan aku menggantung jarak, meluapkan waktu. Baru sebentar ternyata. Apalagi jika diukur lebih detil beserta hari demi harinya. Tapi tidak hanya aku yang merasa sepertinya sudah ...

Read More »

Dariku yang Penuh Doa

Kali ini lupakan dulu menyoal rima, diksi, atau segala pelengkap sastra. Aku ingin bicara tanpa kalimat-kalimat mutiara. Biarkan aku menjabar kita layaknya puzzle yang sudah tergenapkan oleh keping terakhirnya. source: www.fasihrdn.tumblr.com or tweet me @fasihdn Boleh kumulai dari bagaimana aku rela menjatuhkan diri untuk bangkit bersamamu? Kita berangkat dari dua sudut yang berlawanan, anggaplah kau dari sisi minus dan aku berjalan dari arah kanan: plus. ...

Read More »

Pergilah dari Jogja(ku)

more quote www.fasihrdn.tumblr.com | @fasihrdn Mbak, barangkali kaulah mata pertama yang dapat mengartikan sekumpulan tulisan-tulisanku ini. Sebab kaulah yang paling tahu secarik kertas yang tak lagi suci ini kupersembahkan tanpa perangko tepat teruntuk dirimu yang masih juga lalu-lalang dalam jemariku. Surat-surat ini boleh dibaca siapapun. Kau pernah bilang, tidak suka aku menuliskan dirimu. Ah, siapa pula yang tahu yang kupanggili ...

Read More »

Surat Rahasia untuk Tuhan

Yogyakarta, 250415: 01.59 Allah. Semusim sudah semua yang dunia lemparkan di mukaku meluka. Semestinya sudah sembuh. Malah semakin parah. Seharusnya sudah tidak mengancam air mata meuncurkan diri. Malah menderas tiap kali, tanpa ingin kuingati. Wanita itu ternyata masih bersemayam membenamkan pundakku. Menenggelamkan kepalaku. Tak bisa kusebutkan identitasnya dengan benar. Aku belum mampu mengungkap abjad-abjad lengkap yang menyusun namanya. Nciz. Entah, inspirasi ...

Read More »