Kosa Kata yang Hilang: Tulus

Sudah kutemukan. Sore ini. Memelas. Wajahnya menagih untuk bersegera dipungut dari perasingan. Di sepinggiran rerintik hujan. 
Yang lalu menderas, menggenang di ujung jalan berlubang. Bersama kenangan yang berenang-renang ke tepian. Padahal sudah lama sekali—mati-matian kugempur dengan segala cara. Tapi nihil. Aku selalu gagal dalam melangis tangis. Karenamu. Turunan hawa yang katanya paling subtil seantero jagad. Padahal lamat-lamat kutelanjangi seisi dadamu, sekujur tubuh tak akan luput dari segala sesuatu yang artifisial: ecek-ecek.

Sudah kutemukan. Semalam tadi. Garang. Raut rupanya membenarkan diri: siapalah ia sesungguhnya. Meminta dijumput dalam jingga kemerahan yang sudah lunas dilahap alam.


Aku terkekeh. Meski tak sampai bising di telingamu. Sambil memeluki lututku yang masih terus terguncang ledak tawa. Bukan karena kamu lucu. Bukan juga sebab aku mulai tidak waras. Tapi sudah satu setengah tahun takdir begitu menggelikan. Tapi bukan salah tulisan Tuhan, mana ada predestinasi yang meleset. Padahal sudah terang-terangan angin menjabar kabar. Aku saja yang terlalu bodoh berseloroh dengan seseorang yang cakap kali mengabai.

Kalau lelaki yang nyaris 1460 hari mencecapimu saja alpa mengenaimu, apalagi aku yang baru sekelap mata mengintaimu. Kupikir mulanya kau adalah bidadari jelmaan yang diturunkan dari asilium. Tapi lambat laun kau tak ubahnya seperti si kulit hitam yang memaksa diri suntik vitamin-C demi kulit kuning langsat bak putri keraton. Sudahlah. Apa bedanya dengan aku?

Jebolan Sekolah Teknik Menengah bertransformasi menjadi dara yang gemulai menunggangi heels belasan sentimeter, dengan seraut wajah yang sarat dengan bersolek: pipi ranum; bulu mata lentik; dan bibir seperti bekas menenggak anggur merah.

Tapi tidak, bantahnya—sorot mata lain di lintas jejak tapak.

Yang terlihat nyata muncul menyembul justru kulit kusam penuh noda, wajah pucat-pasi seperti pengidap kanker stadium akhir, dan  flat shoes yang terdengar setengah diseret.

“Itu kamu,” ujarnya sambil menyodorkan cermin besar berukuran pintu.

Sudah kutemukan. Baru saja. Polos. Paras lugunya ingin mengambil posisi semula. Berharap diperankan kembali menjadi tokoh utama. Merayu dengan tersipu, menawar-nawar ragu padaku.

Was-was kalau aku tak acuh padanya. Kalau aku tiba-tiba sengiang naik-pitam. Menghina kenaifan seseorang yang pernah dikhianati sejenisnya. Aku menghela napas panjang. Ke mana saja selama ini? Bukankah tak ada yang salah dengan luka. Tidak juga dengan menjadi cela karena tak mampu berbaik-baik saja pada kengawuran olah rasa. Aku rasa juga begitu.

Cinta mana bisa tanpa hitung-hitungan. Ia tetap baku pada logika. Ia tetap mesti selaras dengan gravitasi, menuju yang paling hakiki. Mana boleh dimaafkan tanpa perjanjian ulang. Dan mana kusangka, ternyata tak hanya perlu dengan satu faksi. Ia butuh kedua belah pihak untuk dimurnikan kembali kadarnya dengan media netral: keikhlasan. Kalau salah satunya tak terpenuhi, maka mushil direstorasi. Sedang kau enggan menyelesaikannya dengan kepala dingin. Padahal kau tahu betul lantaran siapa ia nekat berkelukur darah menyulut air mataku sampai beku.

At Loops Cafe Jogja dan “Filosofi Kopi” milik penulis kenamaan Dewi Lestari

Dan sudah kuhabiskan satu tempo sampai bosan dengan reaksionerku sendiri. Yang terus saja menolak hilang ingatan. Memori justru berjalan mundur. Semakin lama semakin menusuk sungsum.

Sudah kutemukan. Di batas waktu. Diriku sendiri. Penat-tenat dengan segala yang memutari medan yang itu-itu lagi. Meminta tolong dengan bersujud-sujud di pangkuan hujan. Memohon lepas dari masa silam. Kau, pergilah. Aku sudah jengah mengupayakan hati untuk patos-asih pada laku yang tak tahu diri.
Terduduk di sudut kafe dengan gerimis yang tak lagi bisa disebut rerintik, membuatku mulai mengerti. Bahwa lebih baik tulus dalam membenci ketimbang berpura-pura mengasihi: padanya yang lalai pada hak orang lain. Apalagi dalam konstelasi cinta. Dan angka dua—sebut saja khianat—serta orang ketiga—sebut juga penggoda—tidak lagi punya kelayakan atas keutuhan afeksi yang murni.
Maka jika kuingat kembali rumus fisika sederhana bahwa aksi sama dengan re-aksi. Sekarang, aku tak mengapa bilasaja memang harus ada satu jiwa yang beroposisi denganku. Aku tak lagi kudu berfilantropis padamu, kan?



Karena membenci tanpa ketulusan hanya akan membuat seseorang memakan kebenciannya sendiri. Biar deras hujan yang mengguyur perlahan….



Dariku,
Yang berusaha mengikhlaskan kekhilafanku sendiri.
31 Maret 2014


Pembacaan puisi : My Soundcloud – @Fasihrdn

Profesi Ibu Rumah Tangga, Sederhanakah Ia?



Keinginan saya memang menjadi ibu rumah tangga. Karena saya begitu tahu bahwa bekerja di luar rumah tak pernah bisa disambi dengan mengurus semua urusan rumah, tidak sama, berbeda pola. Pikiran-pikiran itu memenuhi saya sudah cukup lama. Sudah sejak Saya masih dikategorikan sebagai remaja.  Dengan pendidikan yang tetap mumpuni karena untuk mencetak penerus yang baik pun butuh andil seorang Ibu yang cerdas. Ibu rumah tangga harus multitalent kan? Lalu ada yang salah dari saya yang sekolah di beda-beda jurusan? Hehe, abaikan kalimat terakhir.
Dari dini hari sampai pagi lagi, bukankah harus ada satu orang yang memimpin seisi rumah agar tetap teratur? Bagaimana jika sistem itu cacat sedikit saja? Kira-kira siapakah korbannya? Siapa yang akan dirugikan di sana? Berhasilkah saya, jika saya adalah “orang besar” yang dihormati dan dibanggakan di mana-mana, tetapi keluarga kecil saya ternyata tidak bisa memaknai hakikat “keluarga” yang seutuhnya? Sederhanakah tugas seorang Ibu Rumah Tangga? Sesederhana setiap mata yang mencela prodi Tata Rias dan Kecantikan, katanya, kuliah hanya datang lalu praktik make up. Tanpa profesi Ibu rumah tangga, saya rasa sistem di dalam rumah tidak akan berjalan dengan baik. Pun ada, hanyalah sekian persen saja. Bisa dihitung dengan jari telunjuk.
Masih salahkah? Apa? Uang?

Saya tidak naif dan munafik. Saya dan keluarga kecil saya nanti butuh dana ini dan itu. Dari papan, sandang, lan pangan, lalu belum lagi pendidikan sampai urusan kesehatan.
Saya rasa hanya pecundang yang takut kekurangan biaya hidup. Pun nanti jika gaji suami saya pas-pasan, bisakah mencari uang tambahan di luar kantor? Tak bisakah saya mengerjakan sesuatu di rumah yang menghasilkan pundi-pundi uang? Tak bisakah saya berdoa, bersujud siang-malam, meminta Allah memperlancar rezeki keluarga kami? Bisa. Sangat bisa.
Hanya orang-orang yang tidak percaya pada keajaiban, ketangguhan, kebesaran, keadilan, kasih-sayang, dan kesempurnaan Allah yang bilang bahwa dengan menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah kesalahan. Apalagi jikalau hanya menyangkut urusan finansial.
Mari saya tunjukkan contoh kecil. Adakah suami-istri yang bekerja dan kedua-duanya mempunyai penghasilan besar tetapi tetap kekurangan? Banyak. Tapi adakah hanya bekerja serabutan tapi ternyata serba kecukupan? Ada. 
Bolehkah Saya simpulkan?
“Cukup” hanya akan ada di hati orang-orang yang bersyukur dan pada mereka yang dekat dengan Allah. Yang jauh dari keduniawian. Yang percaya bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang mampu mengurus segala kehidupan.
Lalu pedulikah saya atas perkataan orang yang bilang bahwa cita-cita saya HANYA seperti itu?
Saya tidak punya keinginan yang dilihat secara garis vertikal. Tidak begitu tertarik memiliki jabatan, pangkat, eksistensi tinggi, atau segala jenis ke arah atas. Kalaupun saya punya keinginan lebih dari seorang Ibu rumah tangga, adalah motivator. Lewat apa saja, bahkan sekadar coretan di facebook saja asal manfaat akan saya lakukan berulang-ulang, akan saya teruskan sampai ke mana-mana. Karena senyum lega pembaca adalah salah satu bagian dari kebahagiaan yang entah didatangkan Allah lewat angin apa. Saya ingin bermanfaat, meski kecil, meski sedikit, meski hanya dengan kata-kata usang semacam ini. Semua boleh berpendapat. Semua boleh menyanggah. Beginilah saya ingin hidup. Beginilah cara saya bersyukur. Beginilah cara saya memandang hidup melalui garis horizontal yang saya harap bisa merengkuh dunia-akhirat.
Catatan Kecil, Fasih Radiana, 11 Maret 2015.

Biar Bukti yang Membangun Cinta

Lelehan air mata yang suka tiba-tiba menderas begitu saja adalah bukti bahwa luka itu masih juga menertawakan kepayahanku menerima takdir Tuhan. Mengikhlaskan satu masa yang direnggut tepian jingga, menggenangkan sisa hujan berbayang petang. Dan kesulitanku dalam memaafkan diri atas ingata-ingatan tentang satu ruang yang kauabaikan, yang kaudustai, yang sudah bisa disebut khianat oleh alam. Perlukah aku menceritakan ulang episode yang itu?
Baru saja, aku membaca tulisan panjang berjudul, “Aku Memilih Pergi karena Aku Mencintaimu.” Dan berhasil membuat bulu-kudukku merinding sembari gemeretak gigiku makin kacau. Pernah aku menyuruhmu pergi untuk kembali pada wanita yang sudah lama bermain-main takdir di hatimu. Jauh sebelum aku menemukan bola matamu kosong di remang purnama malam itu. (170913)
Aku sudah melipat-lipat kenangan dengan begitu rapi, tapi memoar memaksa diri untuk bermunculan keluar dari sarang, membobol besi-besi yang susah payah kupasang di setiap celah dengan parang. Sudah itu lalu aku bisa apa?
www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn

Itulah jawaban mengapa kala itu bukan aku yang meninggalkanmu hanya sebab aku merasa kau cabik-cabik harga dirinya dengan menyimpan dua nama di hatimu. Aku mempersilakan derapmu bepergian untuk menuju yang sehati-sejati, berlarian mencari sampai lelah sendiri. “Aku mencintaimu” hanyalah pernyataan simbol kepedulian tak terbatas. Patutkah aku menahanmu di sela-sela jemariku yang ternyata bagimu tak begitu pas untuk ukuran tanganmu. 
Saat itulah waktu yang tepat untuk mengajakmu memainkan puzzle. Kalau kamu terlalu lamban memutuskan maka aku berhak memberimu jangka waktu kan? Karena membiarkanmu memilih sendiri siapa yang akan kamu tuju di saat kamu semestinya menjaga kesucian janji justru seperti menggantung diri. Aku seperti sedang bunuh diri. Tapi aku sudi menanti keputusan yang sudah kutahui sahutannya sejak dini. Karena aku telah memastikan segalanya berputar sesuai poros. Akan ada penjelasan atas apa yang tidak bisa kuselesaikan sendiri. Ada Tuhan yang menggerakkan tangan, kaki, juga hati. Ada doa yang begitu hebat menjalar sampai ke nadi. Selanjutnya biar suratan yang membawamu kembali kemari, kalau memang akulah yang paling tepat melengkapi, kalau kitalah yang ditunjuk Tuhan saling menggenapi.
Ya, setidaknya (dulu) aku tahu persis seberapa seluruhku merelakanmu meski dengan layuh-luyu.
Sudah ingat bagian yang itu? Sudah coba kau ubrak-abrik dengan jeli satu adegan yang singkat tetapi begitu lama untuk digentaskan. Bagimana kamu diam-diam menggandeng yang lain, betapa lihainya bermain petak-umpet denganku. Dan tidak hanya satu-dua kali kau meminta maafku, berkali-kali pula kumaafkan. Tapi bahkan maaf tak akan pernah sanggup mendaur ulang perasaan. Sekalipun maaf dibicarakan dengan air mata, tak pernah bisa mengubah satu babak yang telanjur usang.
Tidak, Sayang. Aku tidak sedang menukasmu dengan tuduhan lawas menyoal itu-itu saja. Masih juga perkara serupa. Masih sebab angka dua. Bukankah suatu kesalahan besar selama ini aku berusaha mensutradarai bilangan Tuhan? Membaginya dengan nomor ganjil. Memangkas habis semua upayamu mengganjar kesalahan di masa silam. Bukankah semestinya aku berhenti saja di putaran ini? Tapi ikhlas belum juga menemuiku seperti janjinya. Atau aku saja yang tidak menyadari ternyata ia sudah sering mencoba menyapaku tempo hari, tetapi aku terus menyangkalnya. Aku menepis, melempar, mendorongnya hingga jatuh berserak.
www.fasihrdn.tumblr.com
Tolong, jangan membacanya mentah-mentah. Ini bukan somasi untuk bersegera meminang, meski memang semestinya menyegerakan menghalalkan yang dibilang itu cinta. Tapi yang lebih mendalam dari semua itu adalah kesiapan. Coba uraikan per kata, terselip apa di balik biji di setiap kata. Sudahkah cawis menghalau curiga. Sudahkah katam saling pahami sampai ke tapak hati. Sudahkah tanggap menyeka air mata, atau sudahkah benar-benar satu-satunya di setiap detak detik bahkan di tempat yang paling redam diam dan tersembunyi. Sudah aku sajakah? Sudah kita sajakah?
Jingga tak pernah muncul lagi setelah Jogja kehilangan muara langit. Setelah air mata satu tahun yang lalu tak juga kembali pada sangkarnya. Senyum membeku di sudut bibir dan aku seperti memainkan peran ganda. Mencintaimu dengan luka yang mengendap senyap. Tak juga lenyap. Tak pernah bisa enyah. Justru semakin menganga, semakin meradangi gelap-terang jatuh menampar-nampar muka.
Betapa kerasnya aku mencoba melupa, tapi bulir-bulir keringat menolaknya. Memuntahkan seluruh isi kepala. Bisa kau bayangkan ia membusuk di setiap sekat tulangku. Pula kurasakan nyaringnya telingamu pada gaung jejas yang menggema. Kita sama-sama sedang butuh perekat yang lebih erat dari sebuah genggam. Tuhan.




250215~Apa tak bisa kita mulai saja kembali dari awal? Biar kubukakan lewat pintu yang lain. Biar kembali pada purnama yang baru. Seolah-olah tak pernah ada kita sedari dulu.

Hari Ke-22: Celengan Rindu

Ada waktu untuk dipersiapkan merindukanmu. Lalu jatuh tempo pada saat yang tidak kuketahui. Biar selama ini kautabung amarah dan kekecewaan pada setiap yang tak pernah bisa diucapkan, lalu kembali datang sehabis tenang berhasil kautaklukan. Seolah-olah semua baik-baik saja, padahal kamu hanya menabungnya di suatu tempat yang bahkan kamu lupa jalan kembali ke sana. Dan perlahan kamu melupakannya begitu saja. Tapi tidak lagi bisa kali ini. Kamu sudah bersama dengan keterbukaan yang mesti dipeluk erat-erat. Bersamaku, tak ada lagi tabungan yang hilang lalu suatu saat dibuka untuk dihitung kembali. Tidak ada.
Biar tuntas saat ini juga. Biar lunas sekarang juga. Aku mau kita tak menyimpan celengan usang untuk suatu yang bisa dijelaskan secepatnya. Boleh saja kamu bilang, begitulah caramu merenungkan diri. Introvert atau apalah sebutan untuk orang-orang yang tertutup. Tapi tidak. Kamu bukan orang yang semacam itu. Kamu hanya lupa siapa dirimu, seperti apa wujud aslinya, sampai kamu benar-benar lupa bahwa kamu memang sedang melupakan dirimu. Kamu hanya tidak sadar telah dibiasakan diam. Iya, dibiasakan untuk memendam demi tidak terjadinya pertikaian.
Padahal kamu ingin bicara, padahal kamu doyan bercerita, padahal kamu suka sekali tertawa. Jadilah yang seperti itu. Ikuti kata hatimu. Benarkah seperti ini yang kamu inginkan? Benarkah seperti itulah cara yang membuatmu nyaman? Bukankah berkali-kali kujabar bahwa denganku kamu bebas menjadi apapun, menjadi siapapun yang kau mau? Tak perlu kauumbar seperti apa tangis kecilmu, atau lelehan air mata yang tiba-tiba berjatuhan. Tak perlu kaukatakan pada yang lain dengan apa kamu membahasakan kesedihan. Tak juga perlu kautunjukkan sederet tawa yang tak juga bisa berhenti hanya karena lelucon garing. Menabunglah, Sayang. Tapi untuk sesuatu yang bisa membuatmu merasa menjadi manusia yang dimanusiakan. Yang bisa saja salah jalan. Yang bisa juga buta arah. Yang terkadang cemburu berlebihan, yang sering kali ingin diperhatikan.

Tahukah bahwa semuamu terlalu gamblang di ujung mataku. Tanpa indra peraba, aku bisa melihatnya dengan begitu jelas. Aku bisa menghitung jumlah setiap dengusanmu per detik, atau berapa kali kamu mengedipkan mata, tersenyum lalu tiba-tiba garis-garis di wajahmu berubah pucat pasi. Bahkan terlalu detail untuk seorang pemula yang baru hitungan satu-dua tahun menjamahi napasmu. Berbahagiakah selama ini? Sudahkah puas berteriak? Sudah legakah menangis? Sudahkah? Atau memang belum pernah kau jajal satu per satu rasanya.
Biarlah sesiapa bicara menyoal kita yang lebih kerap beradu ketimbang merindu. Apalah artinya bila kamu bahkan tak bisa tahu yang mana yang benar-benar dari hatimu, atau hanya bisik-bisik kecil logikamu. Aku rela mendengar amarahmu setiap hari hanya demi membentuk celengan yang baru. Mengeluarkan kita dari bayang-bayang perpisahan yang tertunda karena rajinnya setiap orang menabung rasa sakit. Yang sewaktu-waktu bisa pecah di satu titik temu yang melelahkan.
Sudah mengertikah mengapa aku masih juga giat memaksamu tergopoh menaiki posisi tertinggi? Sudah pahamkah mengapa aku tak juga berhenti membuatmu mencapai klimaks? Aku hanya ingin kamu marah. Aku hanya ingin kamu bicara. Aku hanya perlu kamu jujur bahwa beginilah adanya. Bahwa mungkin setelah Ibumu, akulah yang tidak akan pernah bisa kau bohongi begitu saja.
Bagaimana bisa kamu membahagiakan aku, sedang kamu saja bukan orang yang mudah memilih untuk berbahagia? Apa sebenarnya yang kamu tahu tentang kebahagiaan? Apa itu definisi bahagia bagimu? Jangan membual, aku tahu bahkan kamu bingung menjawab bahagia seperti apa yang kamu mau. Atau jangan-jangan, bahagia yang kamu tahu artinya itu hanyalah kebahagiaan bagi orang lain. Bukan kebahagiaan versi kalimatmu? Rasakan, Sayang. Barangkali, ada yang hilang bertahun-tahun ini….
www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn
Kini akan ada jarak yang begitu panjang memisahkan bola mata. Aku tak lagi bisa menjaga, seperti kamu yang tak lagi dapati aku mengetuk pintu. Tapi masih ada doa di setiap jengkal kepala yang merunduk pada tanah. Maka jarak yang tersisa di antara kita hanyalah Tuhan. Bukankah begitu dekat?
Seperti doa yang sampai pada langit lalu Tuhan menyampaikan kabar lewat udara. Kamu pasti tahu betul bisikku lebih merdu ketika Tuhan menggenapkan parau pita suara. Yang tak akan bisa disentuh angin sekalipun kuikuti arah lajunya. Maka bukankah satu-satunya cara menabung rindu setelah ini adalah dengan menyelaraskan frekuensi di antara kita? Peringatkan aku menyoal cinta yang setia, maka kutunjukkan padamu seperti apa kekuatan doa.
220215~ Coba pejamkan kelopak mata, biar giliran mata lain yang membuka dirinya: mata batin. Rasakan aku di sana sedalam udara yang tersesap, sepanjang embus yang terlepas.

Satu Tahun yang Lalu, Boleh Kutulis (lagi) Surat Untukmu?

Boleh kutulis surat (lagi) untukmu? Kiranya kau masih bisa mengingat ada apa satu tahun yang lalu. Tepat di tanggal dan bulan yang sama, aku menulis surat yang syarat akan luka sebab cinta. Padamu, masa lalu, kukirimkan kembali hari ini.

Meski masih kutunggui Tuhan mengabul doaku untuk bisa berjabat denganmu, saat ini aku tak benar-benar ingin menikam masa lalu kita. Iya, kita. Sebab meski kau bersikukuh tak pernah bersangkutan denganku, nyatanya kita tetap terhubung pada sehelai benang merah. Lalu Tuhan merekam segala kejadian. Kalau bisa kuminta satu saja adegan dari kita di beda ruang, maka kamu tak kan bisa mengelaknya. Kita adalah satu bagian dari ruang yang terpisah kala itu, saat lukaku terlalu pantas untuk dijadikan bahan tertawaan.
www.fasihrdn.tumblr.com | path: fasihradiana
“…maka jika ia bukan pemberani, jadilah kamu satria,” kataku tempo hari. Tapi nyatanya sulit sekali rasanya melupa. Berkali-kali kucoba untuk memaafkan tapi aku tak kunjung juga berhasil menjadi “Ksatria”.
Ini bukan menyoal siapa yang salah dan benar. Ini perkara damai yang masih juga mengambang di batas angan. Sedang kamu tetap juga tak mau menyelesaikannya dengan bicara. Padahal aku sudah bersiap lebih terluka dengan kenyataan dari mulutmu dengannya. Tapi sudahlah, Mbak.
Hanya aku saja yang belum mampu berbaik hati memaafkan diri. Dengan kerumitan yang memaksa kukhidmati perlahan, pelan-pelan. Terakhir kali, biarkan aku menuliskan syair yang pas untuk keangkuhanmu atas takdir dan kepayahanku menerimanya:
Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Bawalah rahasiamu yang tak ingin kutahui.
Pergilah Kau, Sherina.

Biar aku belajar mengeja ikhlas dengan benar. Biar aku paham bahwa tak segala mesti kutahu. Ada hal-hal yang Tuhan tak izinkan seseorang untuk tahu, bukan sebab Tuhan merahasiakan kebenaran, tetapi justru karena Tuhan sengaja menahan kesakitan yang lebih dalam.
Biar Februari kali ini jadi penghabisan. Sampai ikhlas menemui sendiri tuannya. Akan kujaga diayang Tuhan titipkan padakuyang pernah jadi seseorang terbaik mengisi kehidupanmu, melengkapi hatimu. Begitu?
Untuk segala yang masih membayang, barangkali aku lupa bahwa satu cara paling mujarab atas penyelesaian suatu perkara memang hanya mengembalikan segala pada pemilik tunggalnya: Allah. Dan aku menyerahkannya. Segala yang masih jadi tanda tanya. Segala yang masih abu-abu. Segalamu yang bisu. Kuucapkan terima kasih atas pertemuan tanpa tatap mata.
Salam,
Fasih Radiana

Tak Ada Namamu dalam Tulisanku

Kupikir mudah melesapkan dusta dalam luka. Kurasa sebenarnya mudah saja segala kembali seperti semula, seperti sedia kala: waktu hujan bukan disebut-sebut sebagai bisik kenangan atau pelangi yang dianggap sebagai bias ingatan. Hanya terkadang aku menoleh, lalu mengangguk menyanggupi memoar menari-nari di perutku. Mendesak sampai ginjal berhenti melumat kunyahanku. Aku terbawa arus alir nadi, darah tak lagi bebas membersihkan diri. Aku kalap. Hilang sudah detak dalam jantung. Berubah jadi gemetar. Menubruk sampai sumsumku ambruk, pecah satu per satu segala tenang dalam dadaku. Aku hilang. Tak peduli kau sedang apa. Tak mau peduli kau sedang apa. Tak benar-benar peduli kita ini siapa.
Kupikir bukan hal rumit memaafkan ketidaktepatan jarum waktu mempertemukan kau dan aku. Kurasa sebenarnya tidak sulit menghitung kembali dari titik nol, bahkan bukan tidak mungkin kita menitinya melalui sepanjang garis minus.
Toh, kau dan aku telah lebur menjadi kita. Toh, semua luka sudah kita habisi bersama-sama. Dengan air mata lalu tawa yang kembali lagi menjadi cinta.

Perasaan itu begitu sederhana. Saking sederhananya, kau tak akan pernah sanggup menjabar dengan bukti yang berjejer-jejer sekalipun. Perasaan itu begitu sederhana. Sampai aku tak akan pernah mampu mengurainya, bahkan dengan abjad yang kuciptakan sendiri. 
Sesederhana ketidakingintahuanku pada alasan sebab mengapa aku seperti ruji yang terpasang melingkar begitu rapi pada roda yang terkadang membawanya terlalu cepat melaju, atau terlalu lamban bergerak, atau justru diam begitu saja di satu petak. Bahkan tak bisa ditolak oleh siapapun, perkara apa cinta tak pernah punah dibahasakan dengan ‘cinta’, mengapa tak bosan bicara menyoal cinta padahal jelas-jelas tahu tak ada satu orang pun yang akan mampu menemukan di mana batasan cinta, dengan cara apa sebenarnya hati menyusun perasaannya hingga ia bisa disebut dengan cinta.
Sesederhana sepanjang larik dalam lirikku, tak akan kau temui namamu di dalam barisnya, pada setiap kalimatnya. Tak akan kaubaca namamu dari ujung kata sampai titik menghabisi setiap baidnya. Tapi kau tahu, kau tahu semua ini teruntuk siapa.

Jarak yang Kubawa Pulang

Bu.
Apa kabar?

Lama kupikir aku adalah yang paling kuat.
Lama kukira aku adalah yang paling sabar.
Lama kurasa akulah yang tiada.

Ayah.
Sedang apa?

Belum lama sepertinya, aku diberi selembar hitam-putih berukuran 3×4; usang, robek separuhnya.
Belum lama kiranya, aku sombong tak akan pernah bertanya mengapa kau di sana; entah, di mana.
Belum lama ternyata, aku tak kuasa ingin mengubah segumpal darah dalam dagingku.

Tapi tak bisa, batinku.
Tapi tak mungkin, lirihku.
Tapi tak boleh, kata-Nya.

Barangkali, jarak yang kubawa pulang tak sampai waktu untuk menemuinya kembali.
Barangkali, sudah kosong sampai tujuan.
Barangkali.


Kali ini aku ingin mengulang segala dari nol. Lalu bertanya bagaimana caranya.
Aku ingin terbang ke masa yang sudah lama kutinggalkan sendirian. Tapi tak bisa kan?
Seandainya saja, seandainya saja.

Segala fiksi jadi tampak begitu nyata mengambang begitu saja di permukaan. Atau justru realita mengumpat layaknya khayal yang semu.

Seandainya jarak tak pernah punya ukuran waktu untuk sampai pada pertemuan di titik yang kita inginkan. Mungkin saat ini aku memilih untuk tidak mengenali siapalah diri yang dikalahkan oleh takdir. Sebab aku tahu, aku tahu itu aku.

Di persimpangan waktu, 2014

Dan Bila Kau adalah Keseimbangan

Aku masih bisa merasakannya. Masih mengingati diri penuh air mata mendoa(mu) dari sini; dalam teduhnya sujud dini hari.
Aku tak pernah senang hiruk-pikuk keramaian kota, kecuali memutarinya bersamamu.
Aku tak pernah suka bising dunia nyata, kecuali mendengarnya denganmu.
Aku tak pernah bisa bercerita menyoal kerapuhan yang berdiam di dadaku, kecuali dengan bola matamu.
Entah, sebab kau memang bagian dari doa yang makbul ataukah hanya aku yang memaksakan kamulah orang itu—seseorang yang memang Tuhan izinkan berbagi bagian dari tubuhnya untuk menjadi separuhku.

Sudah lama kiranya, aku mengacak-abul kosa-kata. Kujadikan serangkaian kalimat cinta. Kujabar dengan begitu sempurna. Sejak tahunan lalu, sebenarnya aku tak pernah mengerti aku ini bicara apa. Semua hanya seperti kutipan film “Supernova” karya penulis kenamaan Dewi ‘dee’ Lestari yang sedang gencar ingin ditonton jutaan orang. Meski aku terlihat berada dalam batas ekuilibrium atau keseimbangan yang begitu baik-baik saja, nyatanya selalu dibersamai dua sisi koin yang bersebrangan.


Terkadang aku ada tetapi meniada. Sering kali aku tiada tapi begitu lekat dirasa. Kau tak akan pernah mampu menembus batas langit untuk menemui “bintang jatuh” ketika tak berada dalam frekuensi yang pas. Jatah pikir paling tinggi yang akan membuat logikamu jungkir-balik. Entah mana yang perlu didahulukan; dicintai atau mencintai. Kurasa, perlu keduanya sekaligus bebarengan.

Aku pernah begitu tegar dalam sendiri yang sabar, sebelum engkau menjamuku dengan peluk berjam-jam.
Aku pernah begitu tabah pada biasa yang jengah, sebelum engkau meramu rindu dalam jarak satu-dua mili.
Aku pernah begitu enggan ditemani sesiapa, sebelum engkau melucuti hatiku, tubuhku, segalaku pelan-pelan.

Sampai tiba aku bertanya:
Engkaukah?

151214~Lalu siapa yang sanggup menjawab….

Sebenar-Benarnya Cinta

“Tidak bisa disebut dengan cinta, sebelum terjadi sebuah akad yang sah,” kataku.

Kalau ada pria yang bilang ia mencintaiku, maka itu hanya sebuah pengakuan. Karena janji setinggi apa, atau rayu sesyahdu lelaguan tak bisa jadi suatu pembuktian atas sebuah ucapan, kecuali dalam ijab qobul.

Selama apapun bersama, itu bukan cinta.
Sedekat apapun berpeluk, itu bukan cinta.
Sebab cinta terjadi setelah sebuah pernikahan.

Sayang, sejauh ini bagiku kau hanya seperti lelaki yang mengaku-ngaku mencintaiku. Ah, kusebut dengan belajar mencintaiku. Maka jadilah ia, lelaki yang benar-benar mencintaiku. Bahwa bersamamu, kau jamin wanita ini berbahagia dunia-akhirat.

Fasih Radiana, 301114

Bila Kau Bukan Takdirku

Dan sejauh ini aku bilang aku mencintaimu. Lalu dengan itu kau mengaku mencintai seluruhku. Sejatikah?
Ada ruang dalam rongga dadaku, ia bilang kau tidak.
Ada lubang dalam embus napasku, ia bilang kau tidak.
Ada belulang dalam tubuhku, ia pun bilang kau tidak.

Dan sejauh ini kuucap rindu berkali-kali, lalu dengan itu kau membubuh rindu ke segala pintu. Abadikah?

Masih ada ragu, kataku.
Masih juga menyimpan pilu, batinku.
Sayang.
Aku tak pernah suka mendengar sebutan itu membumbung sampai ke gendang telingaku. Skeptis bahwa itu salah satu bukti seseorang benar-benar merasakannya mengaliri rusuknya.
Tapi denganmu aku bersetia menunggu “sayang”-mu mencumbui pendengaranku.
I love you.
Aku jejap dengan kalimat yang katanya romantis. Aku geli dengan bualan yang terlalu dini untuk bisa dipercaya keberadaannya di dalam hati.
Tapi bersamamu aku selalu merindu “I love you“-mu menjejali gemeretak dalam gigilku.
Dan sejauh ini aku hanya ingin menapaki langkahmu sampai benar-benar berhenti di satu petak yang kusebut takdir. Meski jauh sebelum hari menjadi terlalu dingin, pertemuanku denganmu sudah kunikmati sebagai bagian dari takdir.
Ada bagian di semuaku meyakini seutuhmu. 
Di waktu bersamaan, aku was-was kalau saja ternyata segala milikku tak juga pas menggenapimu.
Sayang, dengarkan aku. Bila saja jodoh bukan di genggamku menyela jemarimu. Bila saja aku bukanlah akhiran dari bait puisimu, atau ternyata kita tak pernah dituliskan untuk menua di atap yang satu … bibirku akan semakin lihai mendoamu, lalu akan ada tangan yang semakin lama bertengadah sampai fajar nyaris pecah. Biar patah takdir-takdir yang barangkali salah.

Sebab setiap kali kauakhiri dialogku, kulumati kalimat-kalimat rindu sampai habis waktu menunjukkan pukul tujuh. Setiap kali kuakhiri ceritamu, kaukunyah kata demi kata cinta sampai habis ruang subuh.

041114~Kubuang jauh-jauh larik di awal tulisanku, bantu aku menghapusnya biar tak ada celah bagi yang lain memasuki kau dan aku. I Love you.



Salam, 
Fasih Radiana