Kosa Kata yang Hilang: Tulus

Sudah kutemukan. Sore ini. Memelas. Wajahnya menagih untuk bersegera dipungut dari perasingan. Di sepinggiran rerintik hujan.  Yang lalu menderas, menggenang di ujung jalan berlubang. Bersama kenangan yang berenang-renang ke tepian. Padahal sudah lama sekali—mati-matian kugempur dengan segala cara. Tapi nihil. Aku selalu gagal dalam melangis tangis. Karenamu. Turunan hawa yang katanya paling subtil seantero jagad. Padahal lamat-lamat kutelanjangi seisi dadamu, sekujur ...

Read More »

Profesi Ibu Rumah Tangga, Sederhanakah Ia?

Keinginan saya memang menjadi ibu rumah tangga. Karena saya begitu tahu bahwa bekerja di luar rumah tak pernah bisa disambi dengan mengurus semua urusan rumah, tidak sama, berbeda pola. Pikiran-pikiran itu memenuhi saya sudah cukup lama. Sudah sejak Saya masih dikategorikan sebagai remaja.  Dengan pendidikan yang tetap mumpuni karena untuk mencetak penerus yang baik pun butuh andil seorang Ibu yang ...

Read More »

Biar Bukti yang Membangun Cinta

Lelehan air mata yang suka tiba-tiba menderas begitu saja adalah bukti bahwa luka itu masih juga menertawakan kepayahanku menerima takdir Tuhan. Mengikhlaskan satu masa yang direnggut tepian jingga, menggenangkan sisa hujan berbayang petang. Dan kesulitanku dalam memaafkan diri atas ingata-ingatan tentang satu ruang yang kauabaikan, yang kaudustai, yang sudah bisa disebut khianat oleh alam. Perlukah aku menceritakan ulang episode yang ...

Read More »

Hari Ke-22: Celengan Rindu

Ada waktu untuk dipersiapkan merindukanmu. Lalu jatuh tempo pada saat yang tidak kuketahui. Biar selama ini kautabung amarah dan kekecewaan pada setiap yang tak pernah bisa diucapkan, lalu kembali datang sehabis tenang berhasil kautaklukan. Seolah-olah semua baik-baik saja, padahal kamu hanya menabungnya di suatu tempat yang bahkan kamu lupa jalan kembali ke sana. Dan perlahan kamu melupakannya begitu saja. Tapi ...

Read More »

Satu Tahun yang Lalu, Boleh Kutulis (lagi) Surat Untukmu?

Boleh kutulis surat (lagi) untukmu? Kiranya kau masih bisa mengingat ada apa satu tahun yang lalu. Tepat di tanggal dan bulan yang sama, aku menulis surat yang syarat akan luka sebab cinta. Padamu, masa lalu, kukirimkan kembali hari ini. Meski masih kutunggui Tuhan mengabul doaku untuk bisa berjabat denganmu, saat ini aku tak benar-benar ingin menikam masa lalu kita. Iya, ...

Read More »

Tak Ada Namamu dalam Tulisanku

Kupikir mudah melesapkan dusta dalam luka. Kurasa sebenarnya mudah saja segala kembali seperti semula, seperti sedia kala: waktu hujan bukan disebut-sebut sebagai bisik kenangan atau pelangi yang dianggap sebagai bias ingatan. Hanya terkadang aku menoleh, lalu mengangguk menyanggupi memoar menari-nari di perutku. Mendesak sampai ginjal berhenti melumat kunyahanku. Aku terbawa arus alir nadi, darah tak lagi bebas membersihkan diri. Aku ...

Read More »

Jarak yang Kubawa Pulang

Bu.Apa kabar? Lama kupikir aku adalah yang paling kuat.Lama kukira aku adalah yang paling sabar.Lama kurasa akulah yang tiada. Ayah.Sedang apa? Belum lama sepertinya, aku diberi selembar hitam-putih berukuran 3×4; usang, robek separuhnya.Belum lama kiranya, aku sombong tak akan pernah bertanya mengapa kau di sana; entah, di mana.Belum lama ternyata, aku tak kuasa ingin mengubah segumpal darah dalam dagingku. Tapi ...

Read More »

Dan Bila Kau adalah Keseimbangan

Aku masih bisa merasakannya. Masih mengingati diri penuh air mata mendoa(mu) dari sini; dalam teduhnya sujud dini hari. Aku tak pernah senang hiruk-pikuk keramaian kota, kecuali memutarinya bersamamu. Aku tak pernah suka bising dunia nyata, kecuali mendengarnya denganmu. Aku tak pernah bisa bercerita menyoal kerapuhan yang berdiam di dadaku, kecuali dengan bola matamu. Entah, sebab kau memang bagian dari doa ...

Read More »

Sebenar-Benarnya Cinta

“Tidak bisa disebut dengan cinta, sebelum terjadi sebuah akad yang sah,” kataku. Kalau ada pria yang bilang ia mencintaiku, maka itu hanya sebuah pengakuan. Karena janji setinggi apa, atau rayu sesyahdu lelaguan tak bisa jadi suatu pembuktian atas sebuah ucapan, kecuali dalam ijab qobul. Selama apapun bersama, itu bukan cinta.Sedekat apapun berpeluk, itu bukan cinta.Sebab cinta terjadi setelah sebuah pernikahan. ...

Read More »

Bila Kau Bukan Takdirku

Dan sejauh ini aku bilang aku mencintaimu. Lalu dengan itu kau mengaku mencintai seluruhku. Sejatikah? Ada ruang dalam rongga dadaku, ia bilang kau tidak. Ada lubang dalam embus napasku, ia bilang kau tidak. Ada belulang dalam tubuhku, ia pun bilang kau tidak. Dan sejauh ini kuucap rindu berkali-kali, lalu dengan itu kau membubuh rindu ke segala pintu. Abadikah? Masih ada ...

Read More »