Perlukah Belajar Menjadi Orang Tua atau Sudah Alamiah Pasti Bisa?


Kali ini izinkan saya berbagi sedikit cerita. Tulisan yang sebenarnya amat kompleks, tetapi saya sederhanakan. Ya … sederhana saja sudah begitu panjang. Tulisan ini alarm bagi saya sendiri. Yang begitu berambisi menjadi orang tua teladan. Bisakah? Entahlah, saya pun masih dalam proses belajar. Mengajari diri saya sendiri untuk disiapkan menjadi pendidik anak-anak titipan Tuhan.

Saya anak tunggal, tidak pernah mengenal anak kecil, tidak pernah menyentuh anak kecil, tidak pernah bersama anak kecil. Jujur saja saya memang terlalu kaku kalau disuruh bermain dan berpura-pura menanggapi anak-anak tertawa, tersenyum, atau seperti layaknya guru TK yang pandai bermain dengan anak kecil. Tapi saya tahu persis bahwa saya termasuk pengamat yang cermat. 
Saya punya keponakan perempuan umur lima tahun. Saya amati perkembangannya … yang mencolok adalah semakin seringnya ia berbohong. Semakin saya perhatikan, lama-lama saya paham bahwa anak ini sering dimarahi ketika berbuat salah tanpa diberitahu bagaimana cara membenarkannya. Atau jarangnya anak tersebut diberi ruang dan waktu untuk menyampaikan pendapat dan uneg-unegnya. Karena seringkali, ketika ia berbuat suatu kesalahan, anak ini menutupinya. Takut jujur. Kalau bisa barang bukti ia buang, maka ia buang. Kalau bisa orang lain tidak tahu, bagaimana caranya ia akan tutupi dengan akal pikir sesuai usianya. Ah, tidak. Malahan lebih canggih dari anak seusianya. Beberapa kali saya memergokinya. Dan berkali-kali itu pula ia memohon pada saya untuk tidak memberi tahu orang tuanya. 
Sore ini, saya lagi-lagi ditinggal berdua. Lalu tiba-tiba ia menghampiri saya yang sedang mumet mengurus surat-surat proyek akhir, keponakan saya bilang, “Mbak, air putihnya tumpah, aku nggak tahu….” dan blablabla berbagai macam alasannya. Barusan saya memang mendengar pintu dapur dibuka, mungkin anak ini mencari serbet, tapi tidak ketemu. Karena air yang tumpah banyak sekaligus tepat di depan televisi. Mau tidak mau, saya pasti tahu. Makanya ia bilang pada saya sebelum saya tahu lebih dulu.
Saya segera mengambil kain lap lalu membersihkan air yang tumpah cukup banyak itu. Setelah setengah kering, saya mengambil kain lap yang baru. Saya berikan pada ponakan saya ini. Saya menyuruhnya mengelap lantai yang sebenarnya sudah nyaris kering. Ia agak terkejut, tapi tetap melaksanakannya dengan gestur tubuh yang ogah-ogahan. Saya menungguinya sampai selesai.
Sepele mungkin, tapi sadar atau tidak, banyak orang tua yang jika menemui hal semacam ini hanya bisa mengomeli anaknya. Dengan omelan yang lebih panjang dari rel kereta, sambil orang tua itu sendiri yang membersihkan/membenarkan apa yang salah dilakukan anaknya, entah karena merasa anaknya belum bisa mengatasinya atau malas kalau anaknya yang membersihkan nanti malah tambah kotor ke mana-mana.
Lalu bagian mana yang mendidik? Mengajarinya perkara tanggung jawab? Lalu siapa yang malas kalau begini? Si anak atau orang tua yang suka mengomel tanpa benar-benar mengajarinya segala sesuatu yang benar. Yang ada, anak yang sering diomeli saja bukannya tahu di mana letak kesalahan dan cara membenahi, malah bosan mendengar ocehan orang tuanya. Ia tidak benar-benar tahu mengapa ia dimarahi. Namanya juga anak-anak. Bahkan umur lima tahun pun karakter sudah mulai terbentuk. Tapi masih cukup mudah untuk diubah ketimbang saya yang sudah berkepala dua. Nanti, kalau anak sudah tumbuh dewasa lalu menjadi anak yang tidak sesuai dengan ekspetasi orang tua, anak lagi yang salah. Pernahkah kita yang dewasa introspeksi diri, merefleksikan diri sudahkah menjadi teladan bagi yang lebih muda?
Maka saya rasa, perlunya belajar menjadi orang tua. Pelajaran yang tidak akan pernah kita temui di bangku sekolah manapun. Padahal sering kali kita pikir, kita ini hebat, kita rajin, kita ini pintar, kita berprestasi, kita soleh/ah ahli ibadah … ternyata sering luput dengan masalah yang tidak sepele tapi sering kali disepelekan, pelajaran yang tidak pernah ada, perkara yang dianggap enteng: belajar menjadi orang tua. 
Ini jadi salah satu alasan saya ingin menikah muda. Bukan perkara menikahnya, tapi hidup yang sesungguhnya.  Di saat kitalah yang membuat kesepakatan aturan-aturan yang berlaku di rumah yang kita sendiri kepala keluarganya. Apa yang kurang baik saat kita menjadi anak, tinggalkan. Apa-apa yang baik saat kita menjadi anak, lanjutkan dan terapkan kembali ke generasi selanjutnya. Karena ketika ada sesuatu yang tidak pas, maka pembuat aturan yang mungkin saja kurang tepat dalam membuat aturan, atau bisa jadi kurang konsisten menerapkan aturannya.

Berkali-kali kepada banyak sekali anak muda usia kisaran 17 tahun sampai 27 tahun yang saya introgasi, belum siap menikah karena urusan finansial. Atau masih belum siap melepas masa lajang yang bebas tanpa larangan adat-istiadat. Banyak juga yang mengaku sering melihat perkara-perkara rumah tangga yang membuat mereka takut berkeluarga sendiri. Padahal kalau mau ditanya, sampai kapanpun, saya rasa kalau tidak segera dipelajari dan disiapkan maka tidak akan pernah ada manusia yang siap. Sayangnya, anak muda zaman modern ini hanya berkutat pada urusan ekonomi. Pergi pagi pulang pagi demi materi untuk memenuhi pesta pernikahan semalam, sehari. Tapi lupa mempersiapkan diri menjadi istri, menjadi suami, menjadi orang tua bagi turunannya nanti.

Lain waktu, saya akan tuliskan lebih rinci permasalahan-permasalahan yang jarang ditilik para calon orang tua dan barangkali yang sudah jadi orang tua. Kalau kita terlambat memperbaiki diri untuk menjadi anak-anak yang unggul dalam prestasi maupun olah pribadi, setidaknya kita masih punya peran penting untuk menjadi pemutus generasi yang lemah karakter.

Yogyakarta, 12082015
Fasih Radiana

Published by

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *