Romantika Cinta: Kau, Aku, dan Dia

3 views
Ada satu nama yang enggan mengubur dirinya. Ia membelungsing sampai gendang telinga. Pada buku usang dalam lembar yang tak ingin kubuka ulang. Tergurat seraut wajah perempuan yang meminta untuk terus saja diusik ingatan. Apa yang kau mau, Sayang? Adakah kiranya yang ingin kausampaikan? Kuharap ada waktu untuk sekadar menyapa dalam temu yang tak disengaja. Kau dan aku dalam satu ruang lalu saling bercerita soal perasaan. Luka dari sebab cinta serupa, atau cinta dari luka yang sama.
Aku tak sudi hilang harga rupa dalam lara yang tak kunjung menemui redanya. Sudah lama aku memaafkan air matamu yang membawa pergi kekasihkukekasihmu sebelumkudalam rerintik hujan sore waktu itu. Demi selaksa senyummu ia menyalahkan dirinya dengan mendusta, demi sembuhnya batinmu ia mencabut udara di tenggorokanku. Demi matamu yang tak lagi sembab sebab duka, ia membubuh cabuh dalam gemuruh sampai gaduh seluruh hatiku hancur luluh. Dan aku jadi santapan utama nestapa kala kausungkawa. Masih tersimpan rapi dalam memori, kau yang tetap tak acuh malah menjujuh hujat sampai nyeriku layuh. 
Barangkali, bagimu aku hanyalah bocah yang tak tahu apa-apa soal hidup atau perkara kehilangan yang begitu memilukan. Nyonya tak perlu risau, cecunguk ini sudah mulai paham tentang keberadaan perempuan berhati mulia yang bijaknya begitu rupawan. Maafkan aku yang lupa soal kasta di antara kita.
Lalu....


Lelaki kemarin sore kembali datang membawa tanda tanya. Cinta yang dibungkus lembar baru jadi jamuan makan malam dengan lilin yang menggambarkan romantika kisah para raja. Dengan sendok-garpu tertata rapi di meja yang disusun ala eropa. Lalu satu set bunyi-bunyian khas orchestra dengan lelaguan klasik memaksa jemari mengikuti galur lekuk tubuh di masa silam.
Ah, kamu?
Berani meletakkan jemari dalam genggam gelas yang meretak nyaris pecah? Belajarlah untuk meminum airnya tanpa tumpah ruah. Sebab yang semestinya adalah anugerah itu sudah pernah kaubelah dengan sebilah bantah. Jangan kira aku terima begitu saja, setelah lemahku kau jadikan tempat ternyaman untuk berbuat salah. Meski sejak dulu aku betah berlama-lama menantimu pulang dengan pintu yang mencangah, kita tetap saja betul-betul perlu bebenah. Duh, Tuanku, jangan tetiba jadi lengang tercengang. Kita, bukan hanya kau seorang.

14042014~Bukankah kisah ini begitu indah, Sayang? Apalagi yang kausesalkan?