Satu Tahun yang Lalu, Boleh Kutulis (lagi) Surat Untukmu?

4 views
Boleh kutulis surat (lagi) untukmu? Kiranya kau masih bisa mengingat ada apa satu tahun yang lalu. Tepat di tanggal dan bulan yang sama, aku menulis surat yang syarat akan luka sebab cinta. Padamu, masa lalu, kukirimkan kembali hari ini.

Meski masih kutunggui Tuhan mengabul doaku untuk bisa berjabat denganmu, saat ini aku tak benar-benar ingin menikam masa lalu kita. Iya, kita. Sebab meski kau bersikukuh tak pernah bersangkutan denganku, nyatanya kita tetap terhubung pada sehelai benang merah. Lalu Tuhan merekam segala kejadian. Kalau bisa kuminta satu saja adegan dari kita di beda ruang, maka kamu tak kan bisa mengelaknya. Kita adalah satu bagian dari ruang yang terpisah kala itu, saat lukaku terlalu pantas untuk dijadikan bahan tertawaan.
www.fasihrdn.tumblr.com | path: fasihradiana
"…maka jika ia bukan pemberani, jadilah kamu satria," kataku tempo hari. Tapi nyatanya sulit sekali rasanya melupa. Berkali-kali kucoba untuk memaafkan tapi aku tak kunjung juga berhasil menjadi "Ksatria".
Ini bukan menyoal siapa yang salah dan benar. Ini perkara damai yang masih juga mengambang di batas angan. Sedang kamu tetap juga tak mau menyelesaikannya dengan bicara. Padahal aku sudah bersiap lebih terluka dengan kenyataan dari mulutmu dengannya. Tapi sudahlah, Mbak.
Hanya aku saja yang belum mampu berbaik hati memaafkan diri. Dengan kerumitan yang memaksa kukhidmati perlahan, pelan-pelan. Terakhir kali, biarkan aku menuliskan syair yang pas untuk keangkuhanmu atas takdir dan kepayahanku menerimanya:
Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Bawalah rahasiamu yang tak ingin kutahui.
Pergilah Kau, Sherina.

Biar aku belajar mengeja ikhlas dengan benar. Biar aku paham bahwa tak segala mesti kutahu. Ada hal-hal yang Tuhan tak izinkan seseorang untuk tahu, bukan sebab Tuhan merahasiakan kebenaran, tetapi justru karena Tuhan sengaja menahan kesakitan yang lebih dalam.
Biar Februari kali ini jadi penghabisan. Sampai ikhlas menemui sendiri tuannya. Akan kujaga diayang Tuhan titipkan padakuyang pernah jadi seseorang terbaik mengisi kehidupanmu, melengkapi hatimu. Begitu?
Untuk segala yang masih membayang, barangkali aku lupa bahwa satu cara paling mujarab atas penyelesaian suatu perkara memang hanya mengembalikan segala pada pemilik tunggalnya: Allah. Dan aku menyerahkannya. Segala yang masih jadi tanda tanya. Segala yang masih abu-abu. Segalamu yang bisu. Kuucapkan terima kasih atas pertemuan tanpa tatap mata.
Salam,
Fasih Radiana

Comments are closed.

Author: 
    author