Sisa Hujan Semalam

3 views
Tak berjejak. Padahal jelas-jelas aku menapak. Tapi hanya tinggal dedaunan yang mengkerak berserak. Menggenang di atas luka. Sendirian di tepian. Bersama kenangan yang tak akan jadi pengingat waktu lalu. Mungkin saja kau sama angkuhnya seperti hujan. Membiarkannya basah sendirian. 
Seperti sisa hujan semalam. Butirannya masih menggantung, menunggu angin menyentuhkan ujungnya pada dahan ranting. Berjatuhan lalu lengang. 
Masih di sudut mata yang sama. Sembab tak mau mengungkap sebab. Membiarkan embun bergulat dengan pikirannya sendiri. Sesuka hati. Tentang aku dan hujan semalam, ada apa di antaranya? Mengguratkan kesepian. Bukan, bukan tentang sunyi yang mengelilingi. Hanya karena hening yang sedikit mengering, lalu aku tertawa nyaring. Sedikit gila, mungkin.
Lalu aku tetap membiarkan sisa hujan menetes di balik air mataku yang sedari tadi merembes. Tak cukupkah meliar semalaman? Menghabiskan jeritan bersama kilat yang menyingkap kejadian, yang tak pernah jadi kenyataan. Menyelap dalam pengap yang begitu lekat dengan pekat. Membiaskan dingin sisa angin yang bermukim. Tak cukupkah guyuran hujan semalam? 
Yang membingkai aku dan sisa hujan semalam. Kamu dengan semua torehan kelabu memilukan. Kamu, dengan luka di ujung rindu. Kamu, bersama semua yang semu dengan kalimat-kalimat ambigu. Selagu hujan dengan hujatan angin lalu.
Lalu hanya segelintir dari sisa hujan yang mengalir. Hanya sangkar mata membulat dengan kenangan-kenangan yang terus saja bermunculan. Ada bayangmu menjejalkan rasa yang berpaud pada sendu, masih dengan rindu. Lalu hujan membuatnya melayang berantakan tak keruan. Ada seraut wajahmu yang meriak tak kunjung hilang terbuang. Tapi hujan menjatuhkan aku dalam genangan yang salah. Menangkap jari-jari yang mendamba ingin bicara. Beriring nama yang selalu kuurai dengan dawai yang berjuntai merumbai. Mengeja setiap hurufnya bergantian dengan degup jantung yang biasa kuhitung detak per detiknya.
Sisa hujan semalam meninggalkan jejak kata yang selalu ingin kuteruskan dengan cinta. Pasir teduh menyapu kabut dalam keluh yang bimbang. Tersembunyi derum lautan dari arah hujan semalam, aku di mabuk gigil angin. Saling berbisik dengan keluhan angin, merinding sendiri lalu menangis tak henti-henti. Terisak meneriakkan sesak yang melengking di dalam dada. Berisik yang teredam terlalu lama.  
Lalu kini bagiku, pertemuan yang tak pernah kuizinkan menjadi suatu perpisahan dengan berbagai macam alasan.  Sisa hujan semalam, aku tak pernah mau mengubahnya jadi sederet kenangan.

PEMBACAAN PUISI SISA HUJAN SEMALAM klick this!

171012~Sisa hujan semalam seperti cinta yang masih selalu terbayang.