Suatu Saat Nanti

3 views

Aku diam. Seperti tradisi, memang selalu begitu. Terus saja begitu. Empat huruf itu dan diam. Sebenarnya bukan diam tanpa arti. Hanya melawan, atau yang lebih sederhana, menahan sakit yang menghimpit. Bukan, bukan karna dia, apalagi kamu. Justru sebab aku, karna perasaanku makin liar . Pasrah. Kali ini saja pasrah, tunggu, tidak. Tak bisa begitu saja untuk menerima yang tidak seharusnya diterima. Aku harus, harus menyatakannya. Bukan sebuah ungkapan, tapi membuat yang belum ada jadi nyata. Sebelum menyesal nantinya, atau kadung dicaci. Tunggu, aku memang harus melakukannya. Apa yang tak ingin ku jalani, tapi harus. Memang begini kodratnya. Sudah tenanglah, lihat, lihat ada waktunya untuk mengurai senyum. Tunggulah, kamu tau, aku melakoni semua. Yang tak mampu di lewati pun ku hadapi, percayalah, tak perlu kamu tau. Cukup saja menunggu, ada waktunya kalian tau. Nanti, sebentar lagi.