Wanita di Sudut Mata

10 views

Kudengar kabar lewat lirik-lirik beriring akustik. Kudengar suaranya memecah kerinduan. Kudengar bicaranya masih juga meluruhkan kegundahan. Kudengar darimu, bacaan yang kaumainkan menyendu, mengharu, masihkah aku mencintaimu?

Kubaca kalimatnya penuh gurat luka. Seorang wanita jelmaan terista lama. Kubaca syairnya berlagu babur; kacau; tak beratur. Barangkali, masih awam soal gramatika. Atau kau masih merasa laranya mengablur di dada? Menyesakkan remang dalam gaung suara masa di pinggir kota. Satu nama yang membuat mataku enggan menatap lama-lama. Lejar terabar satu jiwa yang katanya paling mulia dalam sabar. Apa kiranya seorang hawa yang meniadakanmu membaca nyeriku jauh lebih keras menjerit?

www.fasihrr.tumblr.com
:Mbak

Bolehkah aku terheran-heran, geleng-geleng kepala, atau mengelus-elus dada. Mengetahui ada yang kecewanya tak jua mereda, padahal sudah dikembalikan segala. Ia bilang tak bisa, ia kata tak ada lagi balik sukma seperti sedia kala, lalu apa?
Dengar, coba dengar dengan hatimu.
Boleh kutanyakan kembali, apa benar kau seorang wanita? Yang pandai bersabar, yang mulia dalam cinta, yang hatinya dijaga demi surga.
Dengar baik-baik, coba dengarkan dengan lebih berhati-hati.
Perkara hati apa masih kaugugat dengan sesenggukan dan mata sembab. Perkara hati apa masih kaurasakan kehampaan mengisi udara kosong dalam dadamu. Mengaliri nadimu, darah bekas luka yang digores seorang pria ... yang katanya, ia mencintaimu.
Dengarkan lagi, coba resapi sampai air mata bukan lagi sebab sakit hati.
Ada wanita di sudut sana sempat menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk menghapus air matanya sendiri. Demi cinta yang bermekar di ruang lain, ia berbantahan dengan logika dan hatinya. Kau dengar? Di tempat lain, jauh dari sangkar matamu, ada wanita lain yang mendamai dalam jenggala. Meski gamang dalam petang, ia berani memecah gelombang. Tak bisa kau dengar?

Mbak, berhentilah menyakiti wanita itu. Yang sampai detik ini masih saja mendengar kau bermain-main hati. Mbak, tolonglah wanita itu. Biar ia tenang melepas, biar ia rela meridho. Biar ia tak lagi mengganggu benakmu hanya sebab satu pria yang sama. Sungguh, biarkan ia menghabisi dirinya sendiri. Biar pergi dan terhapus hujan masa lalu.


ditulis 200414 - Backsound : Puisi "Aku Baik-Baik Saja"