Yogyakarta

Ah, Jogja. Hanya di kota ini aku bisa menuang rindu lewat sederet kata. Meski bukan kau yang jadi bahan bicaraku, tapi kau adalah tempatku pulang. Meski aku sangsi apa yang harus kuketikkan seluruhnya di sini agar bisa kaujamahi riwayatku. Atas apa yang belasan tahun suguhkan bersamaan dengan menuanya kotaku.

more quote www.fasihrdn.tumblr.com
Entah, Jogja yang mengenalkan aku padamu. Atau kau yang memperkenalkan padaku, siapa Jogja. Kota yang sudah berusia 258 tahun, tetapi selalu menyuguhkan cerita baru dalam memoar lawasku. Ah, seberapa dalam sebenarnya aku memahamimu? Adalah aku yang terlalu miskin bahasa. Tak punya banyak perbendaharaan kata. Bukankah kita lahir di bulan serupa? Oktober. Bukankah semestinya aku begitu dekat di seluruhmu, Jogja? Lalu ke mana sajakah aku selama ini? Aku yang terlalu angkuh, rapuh, atau tak acuh atas keberadaanku menapakimu belasan tahun….


Sayang, berapa lama kiranya kau menggandeng wanitamu untuk sampai ke kotaku? Lalu, boleh kutebak seberapa sering kamu mengucap puitis teruntuk dirinya (dulu) di sepanjang jalan Jogjaku? Sebaik apa kamu menghapal jalan-jalan tikus untuk sampai tujuanmu jika kotaku sedang dilanda macet, atau sebanyak apa tempat yang kausinggahi bersamanya hanya dalam kurun waktu beberapa tahun saja. Lalu aku masih diam di tempat. Aku masih mengurung diri di dalam jendela yang kubiarkan tirainya setengah terbuka. Sampai usang di makan rayap. Aku masih terus gagap.

Pernah kau mendengar dari bibirku, “Aku ingin pindah.” Lalu kau selalu mengulang tanya selagu “mengapa?”. Apa yang membuatku ingin pergi dari kota yang semua orang ingin singgah dan menetap berlama-lama menikmati keindahannya? Kau. Ya, kau membuat aku cemburu buta. Tanpa permisi membawa diri mengelilingi sudut kotaku. Bersamanya. Masih perlu kuulang kembali landasan apa kiranya yang paling sering membuat kakiku ingin segera lari dari kotaku sendiri? Sebab aku tak sudi menjejak di bekas tapak jemari lain.
tweet me @fasihrdn
Jogja, kau jadi saksi selain purnama. Tengadahku dalam doa dijemput seorang pria tanpa nama. Membawaku mencari satu rahasia yang tak juga terungkap keberadaannya. Benarkah ia yang sering kulupa seraut wajahnya menjadi penghubung antara aku dengannya? Pria tanpa rupa.
Jogja, beritahu aku isyarat Tuhan. Agar aku tak salah jalan menuju gang pemberhentian. Dan kau, beri aku pemahaman dari separuh kepercayaan yang belum jadi sebuah perjanjian. Untuk apa aku bertahan dan tetap menjadikan Jogja tempatku berpulang.
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgia
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu….

Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati

Kau bilang, aku gagal menjadi pemilik Jogja. Tentu saja, sebab kau jauh lebih dulu lancar menghapal ejaan hurufnya. Meski aku yang nyata-nyata lebih dini menjabat tangannya. Kau bilang, aku tidak berhasil menjadi bagian dari Jogja. Tentu saja, sebab kau lebih dulu mengelilinginya saat aku masih berusaha memutari diriku. Kini, ajak aku mengelilingi Jogja. Kubawa kau memasuki dirimu.

180814~Bila aku seistimewa Jogja, pelukanmu tentu senyaman ia: Yogyakarta.

Published by

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *